Ollow, apa kabar kalian?
Baik? Saya? Ya begitulah, masih sangat rumit, tapi tetap di jalani. Bunuh diri kan perbuatan tidak terpuji. #apadeh
Lama sekali saya tidak update, mungkin anda-anda semua sudah lupa dengan fict abal saya ini.
Syukur-syukur ada yang masih niat baca, saya terharu ngeliat email dari sini, jadi saya balik. Semoga kembalinya saya bisa mengobati rasa rindu kalian ke Neji atau Tenten, atau saya. :D
Sebenarnya ini hanya cek, maaf kalo nanti ke-publish dengan format acak-acakan. Sekali lagi hanya cek.
~END~
"Something Sweet"
Pairing : Neji-Ten
Rated : T
Genre : Drama-Romance
Warning : Saya newbie, typo (double es), OOC mungkin, and many more. Mohon bimbingan!
Don't like? Baca aja dulu mungkin anda berubah menjadi like.
Kalau masih tidak like monggo close tabnya. :D
Sebelumnya di Something Sweet.
"Ya, mulai sekarang kau Ten Tian, harus selalu bersamaku, kau mendengarku?" Neji mempersempit jarak diantara mereka berdua, menyecap rasa manis bluberry pada bibir Tenten, sementara Tenten hanya bisa menutup matanya bingung harus berbuat apa, apa ini sebuah kemajuan atau apa? Entahlah Tenten tidak tau, jalani saja biarkan semuanya mengalir apa adanya.
"Ten,,"
"I, iya yah?" Tenten sesegera mungkin memalingkan wajahnya ke arah pintu berharap Azuna tidak melihat kejadian tadi. "Hari ini kau sekolah kan?" Azuna memicingkan matanya tau apa yang terjadi barusan. "Oh iya," Tenten langsung melangkah keluar kamar tanpa mempedulikan Neji lagi, sementara Neji kembali mendapat tatapan Awas-Kau-Neji-Hyuga secara tidak sengaja dari Azuna.
...
Tenten tidak habis pikir bagaimana caranya Neji bisa membawa seragam sekolah di dalam mobilnya, apa jangan-jangan semua ini sudah di rencanakan? Si cantik Neji jangan-jangan bersandiwara supaya bisa menginap di rumahnya? Ahh konyol, mana mungkin lelaki seperti Neji melakukan hal bodoh begitu. Mungkin hanya kebetulan.
"Kita sudah sampai kuping panda." Tenten langsung melirik Neji kesal, sejak kapan panggilan itu dimulai? "Ihh Neji-kun aku tidak mau di sebut kuping panda," Tenten merengek, terlanjur sangat kesal setelah kejadian ciuman tadi pagi sampai sekarang Neji selalu memanggilnya kuping panda, apa maksudnya. "Tadinya ku pikir kau lebih mirip banteng, tapi tidak lucu jika kau di panggil telinga banteng, ini tidak sama dengan telinga banteng." Neji menunjuk cepol Tenten, penjelasan Neji tadi membuat Tenten memegangi cepolnya, telinga banteng, BANTENG?, Tenten mengatur pernafasannya sebelum Neji memanggilnya dengan nama lain yang lebih parah lebih baik Tenten menerima kuping panda dengan senang hati. Tenten mengangguk-angguk pasrah.
Tenten membelalakan matanya saat sadar di luar para fans Neji sudah mengerubuni mobilnya, tangan yang tadi memegangi cepolnya terjatuh begitu saja dengan lesu. "Ingat nanti kau pulang denganku." Ucap Neji dia membuka pintu mobilnya tanpa melirik Tenten lagi. sementara Tenten menelan ludahnya kuat-kuat mungkin dia tidak akan sampai pada jam pulang, bahkan sebelum dia masuk kelaspun Tenten mungkin sudak dilarikan ke rumahsakit lebih dulu karena di cakar habis-habisan oleh fans Neji. Tenten kembali membetulkan penampilannya, dia kembali menyemangati dirinya sendiri bukankah dari dulu ini yang dia inginkan? Bukankah dia ingin dekat dengan Neji, lalu setelah dekat dia menyerah begitu saja? Tidak mungkin, seorang Tenten Mitsashi tidak selemah itu. Tenten meyakinkan hatinya lalu membuka pintu mobil dengan percaya diri.
Para wanita di depannya secara serentak memundurkan badan mereka, sekilas Tenten melihat ekspresi kaget dari mereka tapi tidak mempedulikannya sama sekali, mata Tenten langsung menangkap tiga warna rambut sahabatnya, kakinya langsung melangkah tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya lagi.
Ekspresi dari ketiga sahabatnya tidak jauh berbeda dari para fans Neji, membuat Tenten memutar bola matanya tidak percaya. "Ka, ka, ka, a, a,a a, ehh " Sakura membuka mulutnya gagap, Tenten memandang gadis pink itu dengan tatapan bingung apa melihat dia dengan Neji bersama bisa menimbulkan orang-orang terkena penyakit jantung? "Kau," ucap Tenten menebak-nebak Sakura mengangguk mengiyakan. "Ne, ne, ne,,," "Neji?" Sakura kembali mengangguk, membuat Tenten mengerti apa yang akan di tanyakan oleh sahabatnya itu.
"Ya, kami berangkat bersama," Tenten melangkahkan kakinya "Ehh dia menginap di rumahku," Tenten bisa mendengar tarikan nafas berat dari Hinata, gadis itu hampir saja menjatuhkan badannya kalau Sakura dan Ino tidak segera menarik Hinata mengikuti Tenten.
...
"Ceritakan bagaimana Neji bisa menginap di rumahmu Ten," Ino menatap Tenten serius, "Dan kenapa wajah Neji bisa seperti itu?" Sakura menambahkan, "Emh, egh, Neji-nii tidak berbuat apapun padamu kan Tenten-chan?" Hinata memegangi tangan Tenten gemetar. Tenten hanya membalas tatapan ke tiga sahabatnya bergantian.
"Aku tidak tau kenapa wajahnya begitu,," ucapan Tenten belum selesai saat Ino kembali berbicara, "Mana mungkin tidak tau Ten, dia menginap di rumahmu," Ino memperbesar suaranya, Tenten mengangkat bahunya tanda benar-benar tidak tau. "Ayolah Ten," Sakura meminta penjelasan. "Aku tidak tau dia datang ke rumahku dengan tampang babak belur!" Tenten tidak sengaja berteriak karena kesal, membuat geng Sasuke tanpa Neji memandangnya penuh selidik. Tenten mengatur nafasnya heran karena seharian ini banyak sekali yang membuat emosinya naik turun. Ketiga sahabatnya yang merasa bersalah karena telah memaksa Tenten hanya bisa menunduk meminta maaf.
...
Tenten membanting pintu lokernya gusar, saat dia ingin berbagi pada ketiga sahabatnya saat Tenten ingin menceritakan seberapa kacaunya perasaannya sekarang, ketiga sahabatnya malah terkesan tidak peduli, terkesan mementingkan apa yang diri mereka ingin tau.
"Sudah ku katakan sahabat itu hanya membuat runyam keadaan," Tenten mencari sumber suara, mata coklat Tenten menemukan Neji di depan lokernya, dari mana Neji tau Tenten sedang memikirkan sahabatnya? "Kau tau dari mana?" Tenten membuka mulutnya penasaran "Orang tidak selamanya harus terlihat untuk tau." Neji melirik Tenten sekilas lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Tenten sendiri.
Orang tidak selamanya harus terlihat untuk tau? Perkataan Neji terus terdengar berulang di telinga Tenten, tadi saat Tenten berteriak pada teman-temannya mereka sedang berada di kelas belakang tempat biasa geng Sasuke berkumpul, itu berarti Neji berada tidak jauh dari sana. Dan perkataan Neji terakhir menunjukan bahwa orang memang tidak perlu terlihat untuk tau, jadi selama ini Neji selalu ada, selama ini Neji peduli pada mereka?
...
"Lee sudah keluar dari rumahsakit, dia lebih memilih pulang kerumah," Sakura menjawab pertanyaan Hinata yang menanyakan kabar Lee, mereka berempat berjalan masing-masing suasananya menjadi canggung setelah kejadian mengesalkan saat istirahat tadi. Mereka bertiga tau kalau Tenten sedang marah dan begitulah jika salah satu dari mereka marah yang lainnya akan membiarkan sampai amarahnya reda. Ino dan Sakura saling lirik mencari jalan keluar agar mereka tidak terus-terusan berdiam diri begitu, sampai akhirnya mereka ingat kalau sekarang adalah minggu dimana mereka rutin menginap dan menghabiskan waktu bersama.
"Hei guys, kemarin aku membeli empat pasang daster motifnya manis sekali, sudah kupilihkan untuk kalian masing-masing, jadi jangan lupa ya nanti malam di rumahku, Hinata ingat rumahku bukan rumah Sakura," Ino membuka percakapan sembari mengingatkan Hinata agar tidak salah rumah lagi, sering kali Hinata ceroboh mendatangi rumah. "Tidak akan, aku ingat rumah Ino-chan kan? Aku juga baru selsai belajar membuat kue baru, nanti kita membuat kue bersama ya!" Hinata menimpali, semburat merah di pipinya selalu setia bersemu setiap dia tersenyum. Tenten masih dengan dunianya sendiri, dia masih kesal dan begitulah saat dia kesal dia akan mengunci bibirnya rapat-rapat. "Dan aku akan membawa oleh-oleh dari Kaasan untuk kalian semua," Sakura memeluk tangan Tenten dan Hinata yang ada di dekatnya senyumannya mengembang seakan dengan cara itu suasana di antara mereka akan menghangat kembali.
Mereka sudah menunggu Tenten berbicara tapi yang di tunggu masih setia dengan tampang tidak pedulinya, hal yang paling di benci dan di takuti oleh Sakura, Ino dan Hinata dari Tenten, benci karena mereka tidak suka saling diam dan takut kalau sampai Tenten marah besar dan tidak mau berbicara lagi pada mereka. Tenten baru sadar mereka telah sampai di parkiran, Tenten juga baru ingat kalau Neji tadi mengajaknya pulang bersama, atau lebih tepatnya memaksa untuk pulang bersama.
"Aku akan langsung ke rumahmu Ino, tapi aku harus menemui Neji dulu, sebentar," Tenten memandang mereka satu persatu lalu melangkahkan kakinya ke tempat Neji memarkir Land Rover putihnya. Ucapan pertama dari mulut Tenten semenjak istirahat tadi mampu membuat tiga gadis itu berpelukan bahagia, bersyukur setidaknya Tenten tidak menolak ikut menginap bersama dan itu berarti Tenten masih peduli pada mereka bertiga.
...
Neji melangkahkan kakinya gusar mencari-cari dimana Tenten, kelas terakhirnya berjalan lama sekali, terkutuklah guru Gai yang sempat-sempatnya bercerita panjang lebar mengenai kekonyolannya selama masih SMA. Neji sekarang kehilangan Tenten, dan gadis itu malah pergi lebih dulu, apa Tenten tidak mendengar ucapannya tadi? Apa Neji kurang jelas? Neji melangkah tergesa-gesa menuju parkiran berharap dia masih bisa menemukan Tenten.
Kedua alis Neji menaut saat mata abu-abunya menemukan sosok yang di carinya, Tenten berdiri di depan mobilnya anteng menendang-nendang batu kecil di kakinya. Tanpa pikir panjang Neji langsung melangkah menghampirinya menarik lengan Tenten agar segera masuk ke dalam mobil, Tenten menahan tarikan Neji sekuat dia bisa membuat Neji memandangnya tajam tanda protes.
"Aku pulang bersama Ino, kami akan menginap, jadi kau tidak usah mengantarku pulang," Dahi Neji berkerut menahan amarah, kenapa gadis ini tidak menurut saja apa yang Neji katakan, Neji ingin menjaganya itu saja, setidaknya untuk sekarang Tenten tidak perlu berada di luar rumahnya, tapi apa tadi gadis itu bilang? Menginap? Itu sama saja dengan bunuh diri. Bagaimana kalu Sakon dan kelompoknya menculik Tenten? Bukan maksud Neji merendahkan Ino atau apapun hanya saja rumah Ino adalah,, rumah yang tidak di awasi seperti rumah Azuna, setidaknya tidak akan ada yang berani menculik Tenten di dalam rumahnya sendiri yang di pagar tinggi-tinggi dan di awasi 24 jam karena merupakan rumah seseorang yang penting, dan Neji harus memastikan Tenten pulang kedalam rumahnya agar di jalan tidak ada yang berani macam-macam setidaknya Neji bisa melawan.
"Tidak ada yang namanya menginap, kau harus pulang denganku sekarang," Neji membuka pintu mobilnya, "Neji-kun aku melakukan apa yang ingin ku lakukan, jangan memaksa, siapa kau?" Tenten berusaha melepaskan cengkraman tangan Neji, "Bukankah sudah ku bilang mulai sekarang kau harus berangkat dan pulang bersamaku," Neji memandang lurus ke mata Tenten berharap Tenten menuruti apa yang di katakan oleh Neji.
"O, ow, sepertinya kita mengumpankan orang yang salah," Sakura berucap, matanya memperhatikan gerak gerik Neji dan Tenten, ada perasaan menyesal karena dulu dia berniat menjodohkan Neji dan Tenten. Kalau begitu mereka berempat tidak akan bebas, ini sama saja dengan membebaskan Hinata dan menggantinya dengan Tenten, Hinata yang juga ikut melihat kejadian itu hanya bisa meringis merasa bersalah.
"Sejak kapan ayahku membayarmu untuk menjadi bodyguard-ku? Berhenti bersikap aneh dan semaumu sendiri Neji-kun," Tenten membalas tatapan tajam Neji, ada perasaan tidak rela di atur seperti itu oleh Neji, "Kau sudah mengetahuinya dari dulu sikapku yang semaunya, jadi tidak bisakah kau menurut saja?" "Aku pulang bersama mereka," Tenten menarik lengannya keras kepala tidak peduli dengan jarinya yang mulai terasa dingin.
"Kau pulang bersamaku, ke rumahmu." Neji pun masih dengan keras kepala memaksakan kehendaknya tanpa peduli seberapa kencang cengkramannya pada tangan Tenten. "Aku menginap di rumah Ino," Tenten mengedip-ngedipkan matanya yang mulai berair, Neji mengalihkan pandangannya ke arah tiga gadis yang sedang memperhatikan mereka, sial, Neji mengumpat. Kenapa ekspresi Tenten selalu saja bisa mengacak-acak pertahanannya. "Aku akan mengantarmu,," Tenten menarik lengannya gusar, kenapa lelaki bersurai panjang di depannya ini tidak menyerah saja, "Kedepan rumahnya." Neji melepaskan cengkramannya lalu melangkah ke sisi mobil lainnya, Tenten melangkah menuju teman-temannya berusaha tetap terlihat tenang di depan mereka semua.
Tenten menyadari tatapan khawatir dari ketiga sahabatnya, "Dia melarangmu menginap?" Ino bertanya takut-takut, "Tenten-chan maafkan Neji-niisan," Hinata mulai berkaca-kaca, Sakura tidak bicara dia hanya menatap Tenten khawatir dengan mata merah menahan air mata. "Aku baik-baik saja, tidak usah cemas begitu, dia tidak melarangku, dia kekeh ingin mengantarku sampai ke depan rumah Ino, tenang saja. Sampai nanti," Tenten melambaikan tangannya berpamitan, dia melangkah mantap tanpa menoleh lagi.
"Kenapa bisa setenang itu? Kenapa dia tidak pernah bersikap seperti kita? Kenapa dia tidak memberi pelukan sampai nanti?" Sakura membuka pintu mobil sesenggukan, air matanya tidak bisa di tahan lagi. Hinata ikut masuk ke dalam mobil menenagkan Sakura, mereka pergi lebih dulu dengan pikiran masing-masing.
...
Mobil Neji sudah sampai di depan rumah Ino sejak tadi, tapi Tenten belum juga beranjak keluar, ada hal yang ingin dia tanyakan pada Neji terkait perkelahiannya kemarin yang entah dengan siapa. Pertanyaan ketiga sahabatnya membuat Tenten semakin penasaran kenapa Neji sampai babak belur begitu dan kenapa harus rumah Tenten? Kenapa tidak ke apartemennya atau ke mansion Hyuga? Apa kejadian semalam ada hubungannya dengan SMA Horikoshi?
"Neji-kun dini hari tadi itu, kau sebenarnya kenapa?" Tenten memperhatikan ekspresi Neji, lelaki itu malah memalingkan wajahnya menghindari pertanyaan Tenten. Tenten membuang nafasnya kesal, ternyata sedekat ini pun tidak berarti Neji mau berbaagi dengan Tenten, tidak berarti Tenten penting dalam hidup Neji. Tenten keluar dari mobil Neji tanpa berbasa basi lagi, kepalanya sudah terlalu pusing, dia ingin menangis ingin sekali.
Selama ini dalam pikiran Tenten hanya Neji, Neji, Neji saja tapi sebaliknya dalam pikiran Neji mungkin tidak ada sama sekali nama Tenten kenapa semenyesakan itu? Tenten memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. "Mungkin sekaranglah waktunya menyerah Ten." Tenten mengingatkan dalam hatinya sendiri, tidak perlu melukai diri sendiri untuk orang lain yang tidak peduli padamu. Tenten menahan tangisnya tidak ingin tiga sahabatnya khawatir, selama ini Tenten tidak pernah menangis di depan mereka dan sekarang pun tidak boleh, tidak boleh.
Tenten mengetuk pintu rumah Ino sambil mengusap air matanya yang terlanjur jatuh, sekuat tenaga ia menahan tangis kecewanya. "Kediaman Yamanaka," Sakura yang membuka pintu, senyumannya menghilang saat kedua matanya melihat raut wajah Tenten. Sekuat apapun Tenten menahan tangisannya tidak bisa di bendung lagi, dia memeluk Sakura erat tidak mau jika gadis pink itu melihat wajahnya yang sedang menangis. Sakura yang kaget dengan pelukan tiba-tiba Tenten malah ikut-ikutan menangis, perasaannya campur aduk, rasa khawatirnya berkali lipat di banding saat Hinata atau Ino yang menangis.
"Ten, apa yang terjadi?" Sakura mencoba menenangkan Tenten dengan mengusap punggung gadis bercepol dua itu. "Apa Neji yang membuatmu menangis? Dimana dia sekarang?" Tenten menggelengkan kepalanya tidak mau jika Sakura menyusul Neji. "Jangan menangis, ayo masuk kedalam." Sakura membawa Tenten ke kamar Ino sambil terus berusaha menenangkannya.
...
"Ten, kau kenapa?" Ino yang sedang bersenda gurau dengan Hinata tiba-tiba menghentikan kegiatannya, matanya berkedip tidak percaya saat dia melihat tangisan di wajah Tenten, gadis pirang itu segera melemparkan barang-barang yang memenuhi sofa ungunya agar Tenten bisa duduk sementara Hinata segera enuangkan segelas teh untuk Tenten.
"Aku, aku tidak kuat lagi, aku mau menyerah saja," Tenten berbicara tidak jelas karena tangisannya tidak mau berhenti. "Tidak kuat apanya? Dan menyerah untuk apa?" Sakura memegangi kedua pundak Tenten yang bergetar, "Maafkan aku, maaf Hinata," Tenten mengalihkan pandangannya ke arah Hinata, membuat Hinata membulatkan matanya kaget karena namanya di panggil, "Kenapa minta maaf padaku Tenten-chan?" Hinata memegang jemari Tenten yang gemetar.
"A, aku, tidak bisa menjaga Neji, aku tidak kuat lagi Hinata. Aku tidak bisa mengembalikan Neji seperti dulu lagi,, aku,," "Ssst,,,,," Ino menghentikan perkataan Tenten matanya sudah berair karena ikut merasa sedih. "Sudah Ten tidak usah bicara lagi, apapun yang terbaik untukmu kami tidak akan melarangnya, kami juga tidak suka jika kau di sakiti, begitupun Hinata. Mulai sekarang jangan pernah mencampuri hal yang ada sangkut pautnya dengan Neji, biarkan dia hidup semaunya sendiri. Kita semua sudah mengingatkannya." Tenten semakin sesenggukan, dia kembali terpikir perasaan sayangnya pada Neji, apa memang akan berakhir seperti ini saja?.
"Perasaan sayangku pada Neji-kun,," Tenten tidak bisa berkata-kata lagi Hinata memeluk Tenten erat, tau bagaimana rasa dari sebuah perasaan yang tiak terbalas, belum, belum terblalas, Hinata yakin jika Neji juga mempunyai perasaan yang sama pada Tenten, hanya saja belum terlihat.
...
Tenten menarik selimut ungu milik Ino, sudah satu jam setengah dia berbaring di kasur Ino. Sementara Ino dan sakura sedang sibuk di bawah membantu Hinata membuat kue, Tenten terlalu malas untuk melakukan hal lain selain berbaring membisu meratapi nasib buruknya.
"Haha jidat lihat buatanmu jelek sekali," Ino memperlihatkan adonan kue yang sudah di bentuk Sakura, membuat Hinata tersenyum miris prihatin dengan kemampuan Sakura membentuk adonan. "Aku yang makan, puas." Sakura tidak mau kalah, dia kembali membentuk adonan kue yang sudah di buat oleh Hinata, pikiran Sakura kembali pada Tenten, bagaimanapun Tenten tidak boleh di biarkan merana seperti itu. "Apa sebaiknya kita ajak Tenten keluar? Dia harus menjernihkan pikirannya, mungkin jalan-jalan keluar sebentar bisa membantu," Sakura menyuarakan idenya membuat Ino dan Hinata menghentikan kegiatan mereka, "Ah, kita perlu teh hijau untuk di minum bersama kue ini, sayangnya persediaan teh ku habis, jadi, ajak Tenten keluar sambil membeli teh, siapa yang akan keluar?" Ino menatap Hinata dan Sakura bergantian. "Aku saja, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Tenten-chan," Hinata memberi suara, Ino dan Sakura berpandangan seakan dengan begitu mereka bisa bertukar pendapat. "Baiklah, tapi jangan membicarakan sepupu cantikmu hinata." Ino akhirnya mengiyakan, Hinata mengangguk setuju lalu berlari menuju kamar Ino.
...
"Tenten-chan, apa kau tertidur?" Hinata menghampiri Tenten yang sedang berbaring dengan hati-hati takut jika Tenten sudah tidur. Tenten membuka matanya perlahan seakan itu bisa menjawab pertanyaan Hinata.
"Emh, a, aku ingin mengajak Tenten-chan keluar sebenarnya, tapi kalau Tenten-chan tidak mau, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri," Hinata tersenyum lebar, dua matanya menyipit membuat Tenten tidak kuasa jika harus menolak, akhirnya dengan susah payah Tenten bangun dari tidurnya, lalu melangkah ke kamar madi.
"Tenten-chan aku serius, kalau kau masih lemas isti,,,"
"Aku antar, tunggu sebentar Hinata." Tenten memotong ucapan Hinata, membuat gadis berambut indigo itu menutup mulutnya rapat-rapat.
"Tenten-chan ternyata Naruto-kun itu sangat suka ramen, aku bahkan sering sekali memergokinya sedang memakan ramen akhir-akhir ini," sepanjang perjalanan mereka pergi berbelanja Hinata tidak henti-hentinya membicarakan Naruto, raut wajahnya terlihat bahagia sekali. Berlawanan dengan Tenten yang menatap lurus tanpa ekspresi, biasanya Hinata sangat peka terhadap suasana di sekitarnya tapi kali ini, sepertinya "Naruto-kun-nya" terlalu mendominasi.
Tenten menghentikan langkahnya, membuat Hinata yang mengaitkan tangannya ke lengan Tenten ikut berhenti.
"Berhenti memanggilku dengan suffix, aku tidak suka." Hinata memblatkan matanya, Tenten melangkah begitu saja seakan tidak terjadi apa-apa karena dia memang merasa dia tidak melakukan apa-apa yang membuat Hinata tersinggung. Berbeda dengan Hinata matanya memerah karena merasa bersalah dan juga sakit hati. Hinata mengikuti langkah Tenten dengan perlahan, dari dulu, dan sering sekali rasanya Tenten melarang Hinata memanggilnya dengan tambahan suffix tapi tidak pernah sesakit ini. Hinata kembali mengingat kalau Tenten tidak dalam mood baik, tapi tetap saja tadi itu rasanya sakit.
Tenten menghirup udara malam dalam-dalam berharap dia bisa mengembalikan moodnya, demi Tuhan Tenten hanya ingin moodnya kembali normal. Tadi itu seharusnya Tenten tidak bicara begitu pada Hinata, mengingat temannya itu suka sekali menangisi hal yang bahkan tidak perlu di tangisi.
"Tenten-chan!" Tenten membalikan badannya saat dia mendengar teriakan Hinata. Mata Tenten membulat menyadari kejadian dihadapannya, dia berlari sekuat tenaga menghampiri Hinata.
TBC
Ahh terimaksaih sekali, yang sudah mem-fav fict ini.
Terharu.
Saya sedang dalam mode malas, semalas-malasnya. Di tambah tugas kampus yang makin banyak + modem ngadat. Hweee
Mohon maaf sekali lagi, kalau ada yang menunggu fict ini sampe "bulukan" maaf ya.
Kalau responnya baik, kalau ada yang masih niat baca ini. Akan saya lanjut, kalau tidak yahh mau bagaimana lagi.
T.T
Baiklah, saatnya saya menghilang, sampe nanti, jan lupa review ya readers!
