'Apa arti semua ini, Senja?'

Shikamaru menguap malas sembari berjaln menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Pemuda yang selalu memasang ekspresi bosan tersebut tampak santai padahal pelajaran tengah berlangsung. Maklum saja, pemuda nanas ini merupakan anggota osis yang kebetulan hari ini sedang mendapat tugas untuk menggantikan Anko-sensei sang guru kedispinan siswa yang tengah sakit.

Pemuda bermata kuaci itu mengarahkan sepasang iris emasnya disetiap sudut yang ia lalui. Kalau boleh jujur, ia ingin berteriak sambil mengatakan bahwa ia sangat sangat malas kepada sang ketua osis yang seharusnya mendapat tugas malah pergi seenak rambut anehnya. Huh

Err...Shika, kau terdengar ooc.

Sang Nara kembali menguap. Huh, tinggal satu tempat lagi maka ia bisa kembali bermesraan dengan mimpi cantiknya. Ya, Shikamaru telah mengecek segala penjuru sekolah dari halaman depan, atap, kantin, toilet, perpustakaan, ruangan klub bahkan ruang loker. Namun, masih ada satu lagi yang belum diperiksanya yang kerap kali dilupakan oleh sang guru bp dan yang lain.

Taman belakang sekolah.

Benar, tempat yang seharusnya menjadi yang pertama untuk dicurigai menjadi markas siswa berandal malah terabaikan begitu saja.

Alasannya?

Ya, karna halaman belakang sekolah mereka tempatnya sangatbjauh dibelakang gedung sekolah dan lumayan tak terawat dari luar. Mereka tak tau saja bagaimana indahnya tempat tersebut jika mereka berani masuk sedikit lebih dalam.

Shika mendengus. Jika diibaratkan dengan sesuatu, taman belakang sekolahnya bisa dikatakan sama seperti sosok manusia yang hanya menilai dari luar. Mereka hanya mengomentari fisik tanpa tau bagaimana dalamnya. Bagimana jiwanya.

Terdengar berlebihan?

Haha.

"Jadilah pacarku." samar-samar, Shikamaru dapat mendengar suara baritone yang dikenali. Langkahnya tetap seiritme tanpa petambahan kecepatan. Baginya, hal semacam ini telah lumrah untuk seusianya yang tengah dikuasi hormon labil tidak jelas.

Dengan langkah pasti tanpa curiga, ia tetap melanjutkan tugasnya. Kini, pandangannya terarah tepat pada dua adam yang tengah terlibat adegan intim. Ia tak terganggu. Lagipula, shika gay omong-omong.

Menyipitkan mata kuacinya, rambut raven tertangkap jelas. Ia mengira-ngira siapa yang beruntung terlibat adegan ekhem seperti itu dengan sang idola sekolah. Maklum, Sasuke berhati badak. Ia boleh diliat, tak boleh dipegang. Menurutnya, Sasuke tak kan tertarik oleh hal lain selain basket dan dirinya sendiri. Jadi berhak saja kan jika Shikamaru merasa penasaran juga oleh sosok yang berhasil mengalihkan sang pangeran.

Mendekatkan dirinya, siluet orange mulai memenuhi pandangan sang rusa.

Tap.

Tap.

Tap.

Shikamaru membatu. "Naru?" tanpa jawaban, sang rusa membalikkan badan dan melangkah menjauh. Meninggalkan sang matahari dengan sang idola sekolah. Berusaha menutup luka yang kini seolah menganga lebar.

Shika, kau tak sedang patah hati, kan?

Iya kan?

AKAMI

Disc: Mbah Massashi yang terhormat.

Rated: T+

Warn: shounen-ai, alur kecepatan, diksi membosankan. Penuh dengan drama picisan, eyd tak sesuai dan hal absurd lainnya

Don't read if you dislike a boy love, kay?

.

.

.

.

.

.

"Jangan berteriak, dobe!" ujar sang raven sembari mengusap sebelah telinganya-lebay. Ia mendengus. Serius, teriakan pemuda dihadapannya ini benar-benar membuat telinganya sakit. Ia jadi sangsi jika makhluk orange di hadapannya ini adalah seorang laki-laki.

Naruto menganga. Seingatnya, beberapa detik yang lalu Sasuke tengah ekhem-menembaknya-ekhem dengan suara yang asdfghjkl benar-benar seksi. Lalu, mengapa kini Sasuke malah membentaknya?!

Menyebalkan!

Naruto merenggut. Pemuda yang biasa disapa Naru ini terlihat begitu menggemaskan dengan bibir dipoutkan. Namun, hal tersebut tak senantiasa membuat Sasuke melunak. "Jangan memasang ekspresi sepeti itu, dobe! Kau kira kau itu imut, hn?" sasuke berbisik "give me your answere. Yes or yes?"

Si pirang terdiam. Dalam hati, ia mengomel parah. Memangnya, si raven ini ia suka padanya apa? Hm...iyasih dia suka, tapi kan gak kaya gini juga!

"Dasar teme! Kau bahkan tak kenal aku tapi sekarang berlagak sedang menembakku?!"

"Aku tau kau, dobe." tatapan sang raven mengintimidasi.

"Oh ya?" tanya Naruto sangsi.

"Hn." jawab Sasuke. "kau dobe, masalah selesai." lanjutnya sembari menyeringai.

Tik.

Tik.

Tik.

WHAT THE HECK!?

"Kau." tunjuk Naruto. "brengsek!" lanjutnya sembari memukul tangan kiri Sasuke yang memblokade langkahnya dan berlari meninggalkan sang raven yang kini tengah memandang punggungnya penuh minat plus seringai aneh yang terlihat mengerikan.

What are you thinking about, Sas?!

...…...

Naruto kalut luar biasa. Wajahnya semerah darah, hatinya berdegup tak karuan. Ia tau, Pemuda raven itu tak benar-benar menyukainya. Namun, tetap saja rasanya seperti terbang ke awan. Deru nafas sang pirang tak beraturan sesuai dengan ritme jantungnya. Kedua kaki tan-nya yang berbalut celana abu-abu diselojorkan. Pegal memang akibat berlari dengan kecepatan diatas rata-rata seperti itu tapi tak masalah. Hatinya kini lebih penting dari apapun.

Naruto tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Ia awalnya hanyalah seorang secret admirer lalu beberapa kejadian mulai merubah harinya. Ia sudah cukup puas dengan memandangi punggung sang pangeran dari jauh meski akalnya meminta lebih dari itu.

Lalu, jika yang dihadapinya seperti ini apa yang harus ia lakukan sekarang?

Pemuda pemilik iris seindah langit siang hari tanpa awan ini berteriak. Seolah mengabarkan jika hatinya sedang bahagia namun tak dipungkiri jika rasa cemas ada didalamnya. Iapun mempoutkan bibirnya dan mulai bergumam sesuatu. Pose yang terlampau 'kawai' untuk seukuran remaja laki-laki.

Brug!

Suara sesuatu mengejutkan Naruto. Ia mulai merinding. Ketakutannya tentang makhluk goib muncul lagi. "Yatuhan, Naru anak baik. Jangan ganggu Naru dengan makhluk makhluk astral itu, Yatuhan." ucapnya

"Siapa yang kau bilang makhluk astral, heh?" tanya seseorang meremehkan. Seketika, bungsu Namikazepun menolehkan kepalanya ke belakang.

"Shika?!"

"Hai princess mendokusei."

"Huh," Naruto menggerutu. "Menggangetkan saja sih! Kamu sedang apa?"

Shikamarupun melangkah mendekati Naruto dan duduk disampingnya. Pandangan sang rusa teduh. "Bermimpi."

Naruto memutar bola matanya malas, "Shika, ini masih jam pelajaran. Jangan bermimpi terussss."

"Senpai, princess."

"Prince, Shika. Prince. Bukan princess."

"Salahkan saja wajahmu yang lebih mirip princess dibanding prince." Shikamaru mengacak surai sang pirang. "Kamu sendiri, ngapain disini? Teriak segala lagi. Kuadukan Kyuubi tau rasa."

"Eh jangan!" Naruto panik. Bulir keringat terlihat jelas di pelipisnya. "Kalau aniki tau bisa habis Naru. Jangan yaaa, Shika kan baik. Buing buing."

Puppy eyes sang mentari memang mematikan!

"Hahaha." Shikamaru tertawa. "Kau memang tidak berubah, ya." ujarnya.

"Hei Shika." ucap Naruto. Shikamaru menoleh, lalu menaikan salah satu alisnya. "Pernah jatuh cinta tidak?" tanya sang pirang.

Hening.

Sejenak, kedua mata mereka terpaut satu sama lain.

Ada jeda lama sekali sebelum sang pemuda lebih tua mengangkat suara. "Kenapa?"

Naruto menghela nafasnya. "Hanya ingin tahu." jawab sang pemuda lebih muda. "Jantung Naru berdetak lebih seperti akan meledak jika berdekatan dengannya. Lalu, rasanya tenang sekali ketika melihat wajahnya." Naruto menerawang.

"Akupun merasakan hal yang sama." jawab pemuda nanas.

"Benarkah?" pandangan Naruto berbinar. "Ceritakan, dengan siapa?"

'Dengan pemuda kuning bodoh yang tak pernah peka'

"Shika? Are you okay?" tanya Naruto

"Huh, yes sure." Shikamaru terperanggah. "I'm just kidding, baby boy."

"Huhhhh! Siapa yang kamu bilang bayi sih?! Naru itu sudah besar tau!" ujar Naruto kesal.,bibirnya mengerucut.

"Tentu saja kau."

"Shika menyebalkan!"

"Senpai, princess. Shikamaru senpai."

"Whatever!"

"Jika seperti ini kau mirip perempuan yang sedang merajuk tau."

"IH KU DOAKAN KAU JADI RUSA YAAAA"

"HAHAHAHA"

...…...

Deidara menatap Kedua insan dibawah sana dengan seksama. Satu berambut raven, satu berambut pirang. Kedua memang kontras namun entah mengapa terlihat serasi. Ia mengenali keduanya. Adik sesepunya yang cantik dan sang pujaan sekolah.

Firasat Deidara benar. Ini pasti ada hubungannya dengan sang pangeran sekolah. Memang, tak ada yang mampu menolak kharisma pemilik kulit seputih porselen itu. Bahkan, adik kecilnya yang naif pun ikut terjerat olehnya. Meski samar, sebuah senyum simpul tersungging di bibirnya.

"Hei, Sasori." ucap Deidara sembari menatap sesosok wajah dalam ponsel pintarnya. "Apakah kubiarkan Naru dengannya atau tidak?"

"Apakah Naru kan baik-baik saja mengingat sikap sang pangeran yang kejam?" tanya lagi.

Hening.

Hening.

"Sasori..." Deidara menghela nafasnya. "Shikamaru menyayanginya." ujat Deidara. Anak rambut pirangnya bergoyang dihempa sang angin. "Akupun menyayanginya."

Deidara tersenyum. Ia memang sangat menyayangi sang adik. Meskipun sepupu, rasa sayangnya akan Naruto melebihi rasa sayangnya akan diri sendiri. Maklum, Deidara anak tunggal yang kesepian dan semenjak kehadiran Naruto, hari-harinya terasa menyenangkan. Wajar saja, jika iapun ikut memikirkan keadaan sang adik. Apalagi, kejadian traumatis dulu menghantuinya tiap kali ia mengetahui kedekatan sang adik dengan seseorang. Ia hanya ingin memperbaiki kesalahannya dulu dengan menjaga sang blonde dari hal hal yang dapat menyakitinya.

Foto pemuda berambut merah digenggamannya itu terlihat tersenyum. Tak hanya dia, bahkan kekasihnya yang kini menuntut ilmu jauh di britania sana ikut menyayangi pemilik iris sapphire yang indah itu. Tentu saja, kesupelan dan senyumannya yang menawan membuat siapapun luluh dalam sekali pandang.

"Menurutmu, siapa yang pantas kupercaya, Sas?" Deidara termenung. "Sasuke?" ada jeda tarikan nafas didalamnya. "Atau Shikamaru?"

Dan, hanya waktu yang dapat menjawab dengan siapa pada akhirnya sang blonde bersandar.

#tobecontinued

A/n: heyhooo...adakah yang menunggu kisah senja ini?xixixi. Maafkan obs, awalnya obs udh pesimis sama kisah ini tapi tiba tiba ada semangat lagi buat lanjutin. Hehe. Semoga para pembaca dapat puas yaaa maafkan kalo pendek dan banyak typos. Obs udh berusaha buat meminimalkannya kok. Obs buatnya dari hati, semoga kalian juga bacanya pake hati yaa cielah! Tetap berikan sarannya agar obs dapat memperbaiki diri terus. Dan...jangan lupa tinggalkan review! Arigatou^^

Ketjup, obs29