Akhirnya nyampe chapter 4 juga.. habis saya nulisnya pas ada waktu aja nih, kalo gak ada yaa.. gak nulis

Oke, tanpa banyak basa-basi langsung saja di bacaaa…

"Move On ? Can I ?"

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku/GaaSaku

Rated : T

Genre : Romance,Hurt/Comfort

Warning : Typo(s), Gaje, OOC, Cerita pasaran, Alur cepat dan sebagainya

.

.

.

'Chapter 4 : Melepasmu.. '

*Taman Kota

Seperti biasanya di hari weekend, Gaara mengajak pergi Sakura dan kali ini tempat tujuan mereka adalah taman kota. Hari ini cuaca terlihat cukup mendung, namun tak terlihat mendung sedikit pun pada wajah keduanya. Mereka pun mencari tempat duduk yang masih kosong di taman itu. Setelah mendapatkan tempat duduk, mereka memulai perbincangan mereka dengan perbincangan ringan. Sampai Gaara bertanya sesuatu yang membuat wajah cerah Sakura menjadi terlihat mendung.

"Sakura, sebenarnya siapa masa lalu mu sampai kau amat sulit melupakannya?" pertanyaan Gaara membuat luka di masa lalu Sakura kembali terkelupas, luka dalam yang tadinya telah tertutup sebagian. Kini luka yang belum sepenuhnya sembuh itu kembali terbuka.

Sakura hanya diam, mata hijau emeraldnya mulai terlihat berkaca-kaca. Ia terpaksa mengingat kembali segala sesuatu yang sebenarnya ingin ia lupakan. 'Aku amat penasaran, pemuda macam apa yang bisa membuat seorang gadis keras kepala seperti Sakura menjadi gadis yang melankolis seperti ini' iner Gaara berucap.

"K-ke-kenapa k-kau menanyakannya?" ucap Sakura terbata-bata menahan buliran air yang akan tumpah dari matanya. "Karena, sepertinya aku hanya bayang-bayang masa lalu mu Sakura," jawab Gaara. Sakura hanya menatap mata Gaara, meminta penjelasan atas ucapannya.

"Aku sudah mengetahui hal ini, sejak awal hubungan kita, namun aku membiarkannya karena ku pikir kau akan melupakan masa lalumu sejalan dengan hubungan kita nanti. Tapi sepertinya kau tidak menyadari akan hal itu, bahwa kau hanya menganggapku sebagai bayang-bayang masa lalumu. Kau mau berpacaran denganku hanya untuk melampiaskan segala perasaan yang kau pendam selama ini akibat masa lalu mu itu, apa tebakan ku benar Sakura?" Gaara mengakhiri penjelasannya pada Sakura.

"Ma-maaf, Gaara! Maaf, kalau kau memang sikap ku pada mu seperti itu. Aku sama sekali tidak bermaksud, menghancurkan hatimu Gaara. Maaf.. aku hanya seorang penipu. Aku telah menipu perasaanmu, bahkan aku juga menipu perasaan ku. Aku pikir, aku bisa melupakan dia, dan itu berhasil selama beberapa bulan. Tapi saat dia kembali lagi kedalam hidupku, ternyata perasaan itu kembali lagi, dia tak pernah bisa untuk aku lupakan Gaara.. hiks.. hiks.." jelas Sakura panjang lebar, dan di akhiri dengan tangisnya yang tertahan.

"Tak ada yang salah di sini Sakura, kau ataupun Sasuke tak ada satu pun yang salah. Tapi aku yang salah, karena menjadi dinding penghalang diantara kalian. Maka seharusnya aku yang pergi," ucap Gaara sedih. Sakura amat terkejut dengan ucapan Gaara sebelumnya, dan Sakura semakin sedih. "Aku sudah menduganya, kau dan Sasuke, kalian tidak terlihat sedikit pun seperti sepasang sahabat. Kalian lebih cocok disebut sebagai sepasang kekasih," tambah Gaara lagi. "T-tapi, Sasuke tidak pernah mencintaiku Gaara. Aku hanya dianggap sebagai sahabatnya, tidak lebih," Sakura mencoba menjelaskan.

"Sayangnya, aku sudah membuktikannya sendiri. Kau tahu sikapku yang tiba-tiba menjadi posesif, itu ada alasanya. Aku sedang mencoba mengetes perasaannya sebenarnya. Akibat hal itu, sewaktu di kelas ia seperti menjaga jarak dariku dan menjadi lebih dingin terhadapku. Caranya melihatmu, berbicara denganmu, sikapnya padamu, semua itu sudah cukup meyakinkan ku, untuk melepasmu padanya Sakura," ucap Gaara.

Dan tangisan Sakura pecah, bahkan Gaara berani melakukan hal bodoh seperti itu hanya untuknya. Ia amat malu akan dirinya sendiri saat ini. "Ku pikir 5 bulan lebih sudah cukup untuk hubungan kita, Sakura. Terima kasih atas semua kasih sayang, sikap baikmu, dan terima kasih karena aku pernah menduduki posisi pertama di hatimu, walau hanya sebentar. Kau akan tetap menjadi adik kesayanganku, aku menyayangimu Sakura," ucap Gaara sambil memeluk Sakura erat.

Sakura hanya bisa menangis dalam diam pada dada bidang Gaara, ia tak percaya ternyata akan menyakitkan seperti ini berpisah dengan Gaara. "Hiks.. terimakasih.. Gaara, kau mau menemaniku selama 5 bulan ini hikss... kau pasti akan mendapatkan yang lebih baik daripadaku. Terima kasih kakakku, hiks.." Sakura buka suara sambil mengeratkan pelukannya pada Gaara.

*Keesokan Harinya

Sakura terlihat tidak bersemangat sama sekali untuk pergi ke kampus hari ini. Wajahnya yang biasanya terlihat cerah, kini terlihat sangat berantakan. Terlihat matanya yang masih bengkak akibat menangis semalaman. Tenten yang melihat keadaan Sakura saat ini sudah tahu, Sakura sudah putus dengan Gaara –lebih tepatnya Gaara yang memutuskannya- dan Tenten hanya memberi Sakura waktu sendiri.

Sakura yang tak berniat untuk pergi ke kampus pun memutuskan untuk pergi ke atap kampus seorang diri, dia ingin mencari sedikit ketenangan disana. Sesampainya di atap kampus, Sakura meletakan tas selempang yang ia bawa, dan mendudukan dirinya. Ia menekukan kakinya dan menyembunyikan kepalanya dalam tekukan kakinya.

'Hiks.. hiks..' Dan terdengar lah tangis yang berasal dari Sakura, ia masih bingung dengan hatinya sendiri. Ia amat sedih telah putus dengan Gaara, tapi ia tak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Sasuke sekarang. Ia tidak mau lagi terjebak seperti dulu, tapi ia juga tak mungkin menjauhi Sasuke secara tiba-tiba. Terlalu asyik dengan pikirannya sendiri, Sakura tak menyadari kedatangan orang lain.

"Kau terlihat jelek saat menangis," suara baritone yang sangat di kenalnya, membuatnya tersadar. Secara reflek Sakura memeluk Sasuke dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Sasuke. Sasuke pun memeluk balik Sakura yang tengah rapuh itu. "Keluarkan semua kekesalan mu, kekecewaan mu pada ku Sakura. Pukul aku, kalau itu bisa membuatmu lebih baik,"ucap Sasuke.

"Aku membenci mu Uchiha Sasuke! kau menyebalkan! kau itu bodoh! Kau membuatkku terluka, kau itu tak bertanggung jawab! hiks.. Seenaknya membuat seorang gadis jatuh hati padamu, memacari teman dekat gadis itu, dan meninggalkan gadis itu dengan harapan palsu. Lalu kau muncul lagi dihadapnnya, hiks.. Kau pikir menyenangkan memiliki perasaan seperti ini hah? hiks.." Sakura mengeluarkan semua unek-uneknya selama 8 tahun lebih itu pada sambil memukul dada bidang Sasuke.

"Bahkan sekarang Gaara sudah memutuskan ku, hiks.. Apa aku hanya kau anggap sebagai sahabatmu? Tak adakah kesempatanku untuk mennjadi lebih dari sahabatmu Sasu-hmmphh.." ucapan Sakura terputus saat Sasuke mengecup bibirnya lembut. "Diam dan dengar ucapanku baik-baik Sakura!" perintah Sasuke sesaat ia melepaskan kecupannya pada Sakura.

"Aku sudah tahu akan perasaan mu yang sebenarnya jauh sebelum kau menyadarinya bahkan, namun saat itu aku hanya seorang bocah umur 12 tahun. Aku belum mengerti apa itu cinta, Sakura. Dan aku memiliki alasan mengapa aku memacari Hinata saat itu. Tou-san dengan Tou-san Hinata adalah partner kerja saat itu, dan saat itu Hinata tengah mmenderita sakit yang sangaulan serius. Saat itu, ia tengah menderita kanker otak dan keinginan terakhirnya adalah, bisa berpacaran dengan ku. Dan Tou-san Hinata memohon pada Tou-san ku, maka jadilah aku memacari Hinata, dan hubungan itu hanya bertahan selama 2 bulan karena, sebulan sesudah pengumuman kelulusan Hinata… meninggalkan dunia ini di Inggris," jelas Sasuke panjang lebar.

"Lalu kenapa kau tidak mencari ku lagi?" Tanya Sakura yang telah berhenti menangis. "Saat itu, Tou-san sedang kebanjiran kerja, jadi kami sekeluarga harus ikut bersama dengannya berpindah-pindah rumah, dan baru kembali ke Jepang saat aku SMA," jelas Sasuke lagi. "Dan aku sudah tahu akan putusnya hubungan kalian, karena sebelum Gaara pergi ke taman kota bersama mu, ia menanyakan terlebih dahulu padaku akan keputusan yang baiknya ia ambil. Tapi aku hanya menjawab terserah pada kalian, karena ini hubungan kalian," tambah Sasuke lagi.

"Lalu, bagaimana sekarang?" Tanya Sakura. "Kalau aku maunya kau menjadi pacarku," jawab Sasuke singkat dengan wajah yang datar. "A-apa?" Sakura masih belum bisa mencerna semua ucapan Sasuke barusan. "Tadi kau bertanya bagaimana sekarang, ya ku jawab," balas Sasuke santai. "Ahh, ayolah Sasuke tadi kau bicara apa? Aku tidak menyimaknya dengan benar tadi," Sakura memohon pada Sasuke untuk mengulang perkataanya tadi.

"Simak dengan baik-baik, aku tidak akan mengiulanginya lagi. Tadi aku bertanya, apakah kau mau menjadi pacarku Haruno Sakura?" ucap Sasuke tanpa keraguan sedikit pun, Sakura yang mendengar pernyataan Sasuke tadi hanya bisa diam seribu bahasa. Sakura tak tahu harus menjawab apa. "Tidak perlu di jawab sekarang Sakura, kau itu baru putus kemarin. Dan aku cukup tahu diri oke?" tambah Sasuke saat ia melihat wajah bingung ddari Sakura.

"Ya, akan ku pikirkan nanti. Aku masih mau disini, kamu mau menemani ku kan?" Sakura berkata sambil tersenyum manis. "Ya, apapun untuk mu Sakura," Sasuke sambil balas tersenyum pada Sakura. "Nah, kalau kamu tersenyum seperti itu terlihat lebih tampan tauu.." ucap Sakura sambil mencubit hidung Sasuke gemas. "Haha.. Akhirnya kamu mengakuinya juga. Padahal di SD dulu kamu mati-matian berkata kalau aku itu jelek," balas Sasuke sambil menjitak pelan kening Sakura.

"Yayaya.. terserah kamu saja yah, capek kalau meladeni Uchiha bicara. Karena akhirnya mereka yang pasti menang," balas Sakura pasrah. "Itulah prinsip Uchiha, Mereka selalu bisa mendapatkan apa yang mereka mau," ucap Sasuke penuh rasa bangga. "Hn," balas Sakura singkat. "Plagiat!" "Bodoh!" "Jidat!" "Kepala ayam!"

Dan segala macam ejekan lainnya keluar dari mulut masing-masing yang sepertinya tak mau mengalah satu sama lain. Mereka kembali mennghabiskan waktu di atap berdua selama beberapa waktu kedepan.

.

.

.

"Sakura!" merasa namanya dipanggil, Sakura pun membalikan tubuhnya dan langsung diserang dengan pelukan erat dari sahabat lamanya. "Ino! Lama tak bertemu denganmu pig!" ucap Sakura mengakhiri pelukan erat dari Ino. "Apa yang kau lakukan di sini forehead?" Tanya Ino. "Aku sedang menunggu," jawab Sakura singkat. "Menunggu? Gak capek nunggu mulu?" sindir Ino. "Hey, pink," tak lama terdengar suara baritone yang Sakura tunggu dari tadi, Sakura dan Ino pun menengok ke arah suara baritone itu.

"Sasuke? Kau menunggu Sasuke, Sakura?" Tanya Ino bingung. Sakura pun menghampiri Sasuke dengan senyum merekah di wajahnya, "Hahh.. lama sekali heh, bagaimana penerbanganmu?" Tanya Sakura to the point. "Lumayanlah," jawab Sasuke singkat. "Sasuke! Apa kabar ? lama tak bertemu denganmu," Sapa Ino pada Sasuke. "Oh, aku baik Ino," balas Sasuke sambil menyeringai kecil, yang dibalas anggukan oleh Ino.

"Jadi, sejak kapan hubungan kalian ini hah?" Tanya Ino. "Sekitar setahun lebih," Jawab Sakura singkat. "Wah, siap naik pelaminan nih," goda Ino. "Kau tinggal tunggu undangan," jawab Sasuke santai. "Kau ini,"balas Sakura sambil mencubit pelan tangan Sasuke. "Aw, itu sakit tau!" Sasuke mengadu, yang hanya dibalas senyuman perdamaian dari Sakura.

"Hahh, sudahlah kalian ini. Bagaimana nanti kalau kalian menikah?" ucap Ino melerai keduanya. "Hey, Sakura Move On nya gagal nih.." goda Ino lagi. "Hahaha.. gak jadi move on tepatnya" balas Sakura.

Yang Maha Kuasa, menciptakan setiap manusia sepasang, dan apabila sang manusia telah bertemu dengan pasangannya, akan ada jalan yang tidak terduga yang Tuhan berikan pada kedua insan itu. Walaupun di awal terlihat sulit, tapi kita tak pernah tahu apa yang ada di akhir bukan?

Kalau memang jodoh, pasti tak akan pernah pergi jauh-jauh dari kita kok..

-End-

Inilah akhir fic saya yang berjudul 'Move On ? Can I ?

Maaf kalo alurnya kecepetan!

Makasih yang sudah ikutin dari fic awal :D