Yah, akhirnya semua urusannya selesai dan sekarang Chi punya banyak waktu buat melanjutkan fic ini.

Maaf kalau chap kemarin ngegantung. Soalnya Chi lagi nyiapin barang buat pindah rumah. Dan kini Chi sudah di rumah baru! \^o^/

Langsung saja.

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

...

"Sudah?" tanya Deidara sambil nenteng-nenteng handuk pada Ino yang baru keluar dari kamar mandi setelah memandikan Sakura.

"Apa?" tanya Ino balik secara brutal.

"Aku mau mandi!" jawab Deidara dengan brutal pula.

"Ya udah mandi sono!" Ino sewot.

"Un," ucap Deidara datar dan langsung ngeloyor ke kamar mandi.

...

Setelah Deidara keluar dari kamar mandi, Ino mengucir rambut Deidara yang sudah gak berbentuk lagi.

...

_skip_

"Ino!" panggil Deidara pada saat posisi mereka sudah seperti chappie yang lalu.

"Hm?" respon Ino.

"Ino!" panggilnya lagi.

"Hm?" jawab Ino lagi.

"Ino"

"..."

"In..."

"Bisakah kau langsung bicara saja hah!" bentak Ino. Membuat tangan Sakura langsung singgah ke telinganya sendiri.

"Eh, err, enggak! Aku bingung aja!" akhirnya Deidara ngomong.

"Kenapa?" kali ini Ino penasaran.

"Aku bingung! Gimana cara ngelanjutin fict ini! Gak ada ide tauk!" kata author yang nongol tiba-tiba. Dan mendapat sebuah hadiah berupa pengusiran paksa.

Oke. Lupakan.

"Aku bingung... kamu kok nggak kebagian pasien privat sih? Kemaren aja aku jumpa sama suster kayak kamu, dia punya pasien privat!" jelas Deidara.

"Ya masa' sih, segini banyaknya pasien di RSJK yang punya Dokter privat Cuma tiga?" sindir Ino.

"Ma... maksudnya?"

"Gak Cuma dokter! Suster juga punya pasien privat!" lanjut Ino.

"Jadi, kenapa kamu nggak kebagian?" sindir Deidara dengan di manyun-manyunin.

Ctakk... Ino menjitak Deidara dari belakang kepala Sakura.

"Dasar! Ya nggak mungkin lah aku nginep di RSJK! Aku kan mau sekolah!" Ino sewot.

"Eeh, oh iya! Aku lupa!" Deidara garuk-garuk kepala. Ino sweatdropp.

"Oh iya! Ini kan jam delapan pagi! Kamu gak sekolah?" tanya Deidara lagi. Ino buang muka.

"Ini 'kan hari Selasa sayang! Kau lupa kalau setiap hari Selasa dan Rabu aku masuk siang?" jawab Ino tanpa menoleh ke Deidara sama sekali.

Deidara mengumpat dalam hati. 'Lama amat sih syuting Doraemonnya! Kapan aku sembuhnya kalau gini un?' batinnya.

...

Tok... tok... tok... pintu diketuk (tumben normal).

"Buka pintu gih!" suruh Ino.

"Lha? Kok aku?" Deidara berusaha ngelak.

Dan akhirnya setelah pertarungan panjang, Deidara membukakan pintunya.

Aww, ternyata suster Hinata yang mengantarkan sarapan. Deidara menerimanya sambil senyum-senyum gaje. Hello~ Deidara! Ingat! Ini DeiSaku! DEISAKU! *author ngotot*

"Terima kasih..." kata Deidara,

"Sa... sama sama..." jawab Hinata sambil blush dan langsung pergi. Deidara menutup pintu.

...

Deidara kembali ke posisi awalnya. Dan membuka bungkusan yang diberikan Hinata tadi.

"Apa isinya?"

"Nasi bungkus," jawab Deidara.

"Yah, bosen. Apa isinya?" tanya Ino lagi.

"Kakap un," jawab Deidara sambil menatap nasi bungkus dihadapannya.

"Kakap?" Ino langsung berdiri dan merampas bungkusan yang ada di tangan Deidara sambil memberikan tatapan ini-punyaku-jangan-kau-ambil-un

_skip_

Ino dan Dei sudah berhasil menghabiskan nasi bungkus yang diberikan Hinata tadi.

"Oh iya, Dei-nii!" Ino membuka pembicaraan yang sudah digembok (?).

"Ya?" Deidara menjawab dengan manis.

"Seharusnya kau mencari cara untuk menyembuhkan pasienmu! Bukan malah santai-santai!" lanjut Ino.

Deidara merogoh kantongnya. Mengeluarkan hape aslinya. Sony Ericsson Xperia U1 Satio~ (hape impiannya author tuh).

Dia mencari sebuah nama di kontaknya. Dan... emm... Nenek Chiyo? Sejak kapan Nenek Chiyo jadi neneknya Deidara? Yah anggap saja begitu.

"Halo, nenek..." dan Deidara pun berbincang-bincang tentang ini-itu. Walaupun ujung-ujungnya jadi menggosip.

Tiit. Akhirnya pembicaraan selesai. Jarum pendek yang tadinya menunjuk angka sepuluh sekarang sudah pindah rumah (?) ke angka sebelas.

"Jadi gimana?" tanya Ino.

"Aku... aku gak ngerti bahasa nenek-nenek!" jawab Deidara sambil nyengir. Ino pun bergubrak-gubrak ria.

"Aku pergi," kata Ino sambil segera bangkit.

"Kemana?" tanya Deidara seperti tidak rela melepas Ino pergi.

"Ke tempat Sasuke. Dokter Itachi lagi belanja,"

"Hahag," Deidara berusaha menahan tawanya. "Ternyata ada shift belanjanya juga!" lanjutnya sambil membayangkan Itachi yang bawa-bawa kating.

Pintu tertutup.

"Huh, jadi gimana? Aku baru lulus juga!" umpat Dei dalam hati.

Deidara melirik Sakura. "Kenapa kau nunduk mulu sih?" tanya Dei. Tapi nggak dijawab. Kasian~ #Plakk

Deidara menatap hapenya lagi. Membuka FaceBook (Deidara punya fb? Mau donk author nge add~).

Dia mulai menulis di dinding nenek Chiyo. Akasuna no Chiyo (hah?).

'Nek, kirimin link nya aja! Biar gampang!' begitulah kira-kira isinya.

Tidak lama kemudian, wall itu dibalas. Berupa link yang aneh. Tapi yasudahlah, klik saja.

Deidara meng kliknya. Dan muncullah berbagai keterangan tentang obat-obatan delele. Dia mulai berdiri dan menuju ke luar ruangan, tidak lupa mengantongi hapenya. Takut dicolong.

"Hei, dokter Chouji!" panggil Deidara pada Chouji yang kebetulan lewat (akhirnya Chouji dapat peran).

"Ya?" jawab Chouji.

"Apakah disekitar sini ada rumah kaca?" tanya Deidara dengan sopan.

"Ada, deket kok! Masih di pekarangan rumah sakit ini" jawab Couji sambil membuka bungkus keripik kentang.

Deidara terlihat berfikir sebentar. "Baiklah, dimana?"

"Dari pintu depan RSJK, kau kearah kanan sampai ke pohon maple, trus belok kanan lagi! Sampai kau menjumpai pohon sakura yang sudah tua. Nah, kalau ada kaca-kaca, disitulah dia!" jelas Chouji panjang lebar.

Deidara tersenyum. "Arigatou, un!" ucapnya dan langsung berlari.

...

"Mana sih pohon maple nya?" tanya Deidara dalam hati sambil lihat kanan kiri.

Bukkh, tiba-tiba Dei bertarakan dengan seseorang. "Itachi-san?" ucap Deidara begitu mengetahui bahwa yang menabraknya adalah Itachi.

"Deidara? Kau mau kemana?" tanya Itachi lembut.

"Nyari rumah kaca. Tadi kata dokter Chouji melewati pohon maple. Eh," Deidara menghentikan kata-katanya begitu melihat tangan Itachi. Lebih tepatnya apa yang dipegangnya.

"Hahahah, un, dokter Itachi... haha..." Deidara tertawa terbahak-bahak. Ternyata dugaannya benar. Itachi pulang belanja bawa-bawa kating. LoL LoL LoL

Itachi Cuma bisa bermanyun-manyun ria. Sementara Deidara berusaha menghentikan tawanya.

"Heh, heh, ngomong-ngomong pohon maple nya mana yah?" tanya Deidara.

"Hahahaha..." kali ini Itachi yang tertawa.

"Lho kok..." "Huahaha..." Deidara sweatdropp melihat Itachi terbahak-bahak.

"Woyy! Aku mau ngomong!" teriak Deidara. Dan akhirnya Itachi berhenti tertawa. Walaupun masih ada puing-puing (?) nya.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Deidara tidak rela dirinya ditertawakan seperti itu.

"Dei-kun, coba kau lihat ke atas!" kata Itachi sambil menunjuk keatas. Dan sedetik kemudian kepala Deidara sudah mendongak melihat keatas. Mukanya memerah. Bukan karna blushing.

"Ah, ternyata aku sudah ada dibawah pohon maple nya toh un!" Deidara garuk-garuk kepala.

"Semoga berhasil menyembuhkan Sakura!" Itachi menepuk pundak Deidara pelan. Yang ditepuk masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sampai-sampai Itachi yang pergi terlupakan.

...

Sekarang perjalanan menuju pohon sakura. "Hheh, sakura... aku ingin sesekali mengajak Sakura ke pohon itu. Semoga dengan obat yang akan ku buat nanti dia akan sembuh!" Deidara senyum-senyum sendiri.

Tiba-tiba sehelai lembaran mahkota bunga sakura mendarat ke hidungnya. Dia mengambilnya. "Ah, itu dia pohonnya!" dan Deidara mempercepat langkahnya.

...

Deidara membuka pintu kaca itu. Kemudian berkeliling sebentar untuk melihat-lihat. "Lengkap juga ternyata!" kata Deidara sambil memetik tiga helai daun mint. Kemudian dia memetik daun-daun lainnya. Sesuai dengan resep di blog nya nenek Chiyo tadi.

Dia membawa bahan-bahan itu ke sebuah meja khusus. Kemudian mencampurkannya dengan alat yang dia lupa namanya (Deidara apa author yang lupa?).

"Ah, sepertinya ada yang kurang..." kata Deidara sambil memperhatikan ramuannya. Kemudian berkeliling diantara tanaman-tanaman obat itu lagi.

Dia mengeluarkan hapenya. Membuka situs yang tadi. "Ah, sakura? Kenapa pakai bunga sakura segala? Sebenarnya ini obat apaan sih? Kalau pake bunga sakura rasanya gimana coba?" Deidara ngeromet sendiri sambil terus membaca tulisan kecil-kecil itu.

"Ah, Cuma sehelai ternyata. Apa sih, kandungan bunga sakura itu? Cinta kali yak!" kali ini Deidara senyum-senyum sendiri sambil ngebayangin sakura yang dari semenjak mereka bertemu mukanya datar mulu.

Deidara keluar dan memetik sehelai kelopak bunga sakura. Dan kembali lagi.

Bunga itu digiling sehingga bercampur dengan bahan-bahan lainnya. Kemudian dia mengambil sendok dan memindahkan bahan-bahan itu ke saringan kecil dan menyiramnya dengan sedikit air panas.

Deidara melihat sekeliling. "Ini aku bungkus pake apa coba?" ucapnya sambil melihat kanan kiri. Kepalanya berhenti begitu matanya menangkap sesosok pohon teratai kecil. Kemudian dia berlari kesana dan memetik daun yang paling lebar dan kembali lagi ke meja tadi.

Deidara menuang air panas tadi ke sebuah cangkir. Kemudian dia merendam daun itu dengan penuh perasaan. "Ini hanya obat tradisional, Sakura. Jadi aku harap ini berhasil!" Deidara ngomong-ngomong sendiri sambil senyum-senyum sendiri. Author rasa sebentar lagi dia akan bertukar posisi dengan Sakura. Hahah, nggak kok.

Cklek. Pintu terbuka. Dokter Shikamaru ternyata.

"Hai Dei!" sapa Shikamaru ramah.

"Hai juga!" sambut Deidara. "Apa yang kau lakukan disini?" lanjutnya.

"Membuat obat untuk Hidan. Akhir-akhir ini dia terus-terusan mengganggu suster Konan. Jadi aku ingin membuatkan dia obat penenang," jelas Shikamaru. "Kalau kau?" tanyanya balik.

"Aku hanya menuruti resep yang diberikan nenekku. Dia bilang ini bisa menguatkan rahang untuk berbicara, hahah," Deidara kekeh sendiri saat membaca skenario yang itu. Begitu juga author yang senyum-senyum sendiri saat mengetiknya.

Deidara membungkus ramuan yang tadi. "Aku duluan!" kata Deidara sambil ngeloyor pergi.

...

Deidara membuka pintu kamar Sakura. Didapatinya Sakura dengan posisi duduk di tempat tidur.

"Sakura!" dia menghampiri Sakura dan mencium pipi Sakura. Kemudian berjalan ke arah meja kecil di sudut kamar.

Deidara mengeluarkan gelas kecil. Meletakkan isi daun teratai yang dibawanya tadi ke sebuah saringan kecil dan meletakkannya ke gelas itu.

Deidara membuka seluruh laci di meja itu. "Gak ada air putih!" ucapnya sambil menutup laci terakhir. Dei menarik nafas, dan mengeluarkannya (yaiyalah).

"Sebentar ya! Aku keluar dulu," lagi-lagi Deidara ngeloyor pergi.

Tap... tap... tap... suara sepatunya menggema di lorong rumah sakit yang tidak ada seorangpun disana. Dia menuju ke dapur rumah sakit.

Deidara membuka pintu itu pelan-pelan.

"Deidara~" sapa seorang suster berkacamata yang sudah di dapur sedari tadi.

Deidara mengangkat sebelah alisnya. "B-boleh aku minta air minum?" Deidara tergagap.

Suster yang bernama Karin itu melepas kacamatanya. Kemudian mengedipkan matanya. Menggoda Deidara. Yang digoda bikin poni lagi buat nutupin mata yang satunya.

"Ini..." kata Karin dengan centil sambil memberikan sebuah gelas berisikan air putih pada Deidara.

Deidara merapikan poninya kembali. Kemudian menerima gelas itu dengan senyum yang dipaksa. "Aku pergi!" Deidara langsung kabur dari ruangan laknat itu.

...

"Sakura..." ucap Deidara ketika pintu terbuka. Sakura tertidur. "Apa aku terlalu lama?" lanjutnya sambil tersenyum.

Dei menuangkan air itu ke saringan yang tadi. Dan mengambil airnya.

"Sakura... bangun! Hm," Deidara membangunkan Sakura dengan penuh perasaan (ceile).

"Engh~—ah," Sakura terbangun.

"Minum ini!" kata Deidara sambil memberikan gelas itu pada Sakura. Sakura meminumnya.

Baru tiga tetes Sakura meminumnya, dia langsung menjauhkan gelas itu. Deidara menerimanya.

"Kenapa nggak diminum?" tanya Deidara sambil mendekatkan gelas itu ke mulutnya. Kemudian meminumnya.

Deidara tersadar. Kemudian menjauhkan gelas itu. "Kenapa aku yang minum? Tapi... enak juga..." Deidara mendekatkan gelas itu lagi. Tapi sedetik kemudian dia memenjarakan gelas itu.

...

"Halo, nek! Kenapa tidak kau saja yang kemari! Bla bla bla..." Deidara menelpon neneknya lagi. Maklum kelebihan pulsa sih XD.

...

Keesokan harinya

"Loh, eh, loh, eh, ke-kenapa ada nenek disini?" tanya Ino yang masih berdiri terpaku di pintu kamar Sakura, sambil nunjuk-nunjuk gaje.

"Huh, iya Imoutou-chan! Soalnya aku bingung!" Deidara garuk-garuk kepala.

"Hem," nenek Chiyo berdehem ditengah-tengah aktivitasnya yang memeriksa keadaan Sakura. Deidara dan Ino langsung menatap nenek tua bangka itu. Eh, ada yang bawa handycam nggak? Ada batu terbang tuh!

"Deidara, hanya satu obat untuk anak ini!" lanjutnya.

"Apa?" tanya Deidara.

"Cinta!" jawab Nenek Chiyo sambil memamerkan giginya yang sudah busuk.

"M-maksudmu bagaimana?" Deidara bingung.

"Kau pikirkan saja sendiri! Ino! Antarkan aku pulang!" kata nenek Chiyo sambil narik tangan Ino keluar.

"Lha? Lha? Kok aku?" Ino nggak rela. Tapi akhirnya mau tidak mau dia harus mengantarkan nenek tercintanya itu pulang.

...

"Cinta? Aku... aku rasa aku sudah mencintainya sejak hari itu..." Deidara mengingat-ingat kejadian saat pertama kali mereka bertemu.

Deidara duduk disamping kanan Sakura yang terduduk di ranjang dan bersandar di tembok. Dia terus menatap hidung Sakura—karna dari samping yang keliatan idungnya doank.

"Sakura, aku tau ini saat yang tidak tepat. Tapi... sepertinya aku memang mencintaimu..." Deidara memeluk Sakura. Yang dipeluk hanya memasang ekspresi datar. Tapi matanya menunjukkan kebahagiaan^^

"Aishiteru... Sakura..." bisik Deidara ditengah pelukannya.

"Bicaralah, Sakura..." pinta Deidara.

"A... ah," Sakura berusaha. Tapi tidak bisa.

Deidara berfikir keras. Mencoba menelusuri pesan terakhir nenek Chiyo.

Bagaimana cara membuktikan cinta pada seseorang? Tentu saja...

Deidara menarik pipi Sakura agar mereka bertatapan. Kemudian tangannya pindah ke ubun-ubun Sakura.

Cup. Deidara mengecup bibir Sakura. Sakura meresponnya dengan baik. Sakura memeluk tubuh Deidara. Deidara juga begitu.

Ciuman itu terlepas. Deidara mengutuki dirinya yang bertindak seenaknya. Dia terus menggigiti bibirnya.

"Aishiteru mo, Deidara..." Sakura memeluk pinggang Deidara dan mengeluskan kepalanya ke dada bidang Deidara.

Deidara tersenyum. "Aku rasa, aku berhasil..." katanya sambil tersenyum dan mengelus-elus rambut Sakura.

"Aku harap kau bisa keluar dari sini... aku ingin mengajakmu ke suatu tempat... nanti malam," kata Deidara.

"Kemana?" tanya Sakura setelah melepas pelukannya.

"Kalau aku bilang, ya nggak kejutan jadinya un!" jawab Deidara. Dia menunjukkan senyum yang manis sambil mengeluarkan sebuah note.

Deidara membuka note itu. Dan membuat Sakura penasaran.

"Apaan sih itu?" tanya Sakura sambil ngelirik-lirik isi note itu.

"Sebentar, kau sudah waras kan?" tanya Deidara tanpa beban.

"Maksudmu?" Sakura nggak terima dengan pertanyaan Deidara tadi.

"Barusan aku menyembuhkan mulutmu! Aku belum menyembuhkan jiwamu!" Deidara berusaha membela dirinya.

Bletakk... jitakan maut mendarat di kepala Deidara. "Jadi apa maksud air yang kau berikan kemarin hah?" Sakura berusaha menahan amarahnya.

Deidara tertegun. Dia mengeluarkan hapenya dan membuka link yang kemarin. Membacanya dengan baik. Hingga dia menyadarinya.

"Eeh, ini resep yang untuk jiwanya ya?" Deidara garuk-garuk kepala. "Pantesan aku merasa lebih sehat dan gak pikun lagi. Sakura yang minum tiga tetes aja udah waras. Padahal penyakitnya udah akut," lanjutnya.

"Baiklah," Deidara mengambil note yang sempat terlupakan tadi. Dan mulai mencatat.

"Itu apa sih?" tanya Sakura lagi.

"Ini catatan perkembanganmu! Tak kusangka kau berkembang sangat cepat!" jawab Deidara. "Tapi aku harus memeriksa mu dulu! Aku juga belum yakin kalau obat itu manjur!" Deidara selesai mencatat dan mengantongi note itu lagi.

"Ah," Sakura merasa sakit di kepalanya. Dia meremas rambutnya sendiri.

"Sakura!" Deidara shock. Pandangan Sakura mulai berkunang-kunang. Dan akhirnya dia pingsan.

...

"Ah, sudah kuduga," Deidara meletakkan stetoskop nya ke samping Sakura yang tidak sadarkan diri.

"Kau belum sembuh total, Sakura!" Deidara mengeluarkan note nya lagi. Mencatat, dan mengantonginya lagi.

"Perasaan kayaknya aku tadi bikin obat untuk diriku sendiri deh!" Deidara masih kepikiran soal itu.

...

Deidara mengambil tasnya yang sedari tadi berada di bawah kolong ranjang Sakura. Mengeluarkan sebuah laptop dan duduk di lantai. Dia meraba kantongnya. Dan sesaat kemudian mengeluarkan sebuah modem terus mencolokkannya ke laptop.

"Gila nih nenek! Masih jam satu juga! Udah online!" gumam Deidara dalam hatu saat melihat nama neneknya (Akasuna no Chiyo) terpampang di daftar teman yang online di beranda fb nya. Kemudian dia membuka chatbox nya.

Saya nek!

Akasuna ada apa lagi?

Saya gimana nih?

Akasuna apa lagi?

Saya Sakura belom sembuh noh!

Akasuna emang apa yang sudah kau lakukan padanya?

Saya err

Akasuna yang benar saja! Tidak mungkin dia langsung sembuh total dalam sehari!

Saya :/ tapi tadi dia udah sempet ngomong. Bahkan kami sempet berantem!

Akasuna emangnya apa yang kau lakukan padanya?

Saya sudahlah, gak penting. Jadi aku harus apa?

Akasuna pikirkan sendiri

Akasuna sedang offline

"Ah, dasar! Seenaknya saja! Gimana coba caranya?" Deidara menatap layar laptopnya yang berisi status-status beserta komentarnya.

...

Sakura terbangun. "Hei! Ada Jinny! Berapa permintaan yang aku punya?" kata Sakura saat dia melihat Deidara.

"Hah? Jinny?"Deidara bingung sendiri.

"Jinny! Aku nawar yah! Aku pingin sejuta permintaan!" lanjut Sakura.

Deidara meraba kepalanya 'Bagus, sekarang aku harus jadi Jinny nya Sakura gara-gara model rambut ini!' ucapnya dalam hati.

"Yah, Sakura! Aku Jinny! Aku kabulkan seluruh permintaanmu sampai seminggu lagi. Tepatnya Rabu depan!" jawab Deidara dengan nada malas.

"Yeah, Jinny! Aku mau minta permen!" kata Sakura kekanak-kanakan. Sepertinya dia berbeda jauh dengan yang tadi.

"Permen?" Deidara meraba kantongnya. "Aku gak punya permen!" Deidara berusaha mengelak.

"Ah, Saku mau permen!" Sakura manyun-manyunin bibirnya.

Deidara terus menatap Sakura. Kemudian berdiri dan duduk disamping Sakura.

"Apa tidak ada permintaan yang lain?" Deidara berusaha agar Sakura tidak minta permen lagi. Sakura menggeleng.

"Hheuh, ya sudahlah. Sepertinya aku tau harus apa," Deidara menghela nafas. Kemudian membaguskan posisi duduknya yang agak merosot.

Dei menyentuh dagu Sakura. Kemudian menariknya dan menciumnya lagi. Sakura terlarut dalam ciuman itu. Sementara author senyum-senyum sendiri waktu ngetiknya.

Ciuman itu terlepas.

"Apa itu tadi?" tanya Sakura.

"Permen!" jawab Deidara seenaknya sambil cengar-cengir.

Sakura terdiam sebentar.

'Ah, gimana sih cara nyembuhin nih anak?' batin Deidara. Kemudian dia berdiri.

"Setelah gagal dengan yang alami, aku akan mencoba yang ilmiah," ucap Deidara sebelum akhirnya dia pergi keluar kamar itu. Meninggalkan Sakura yang sekarang sifatnya berlawanan dengan yang kemarin.

...

Deidara mesih mencampurkan cairan-cairan gaje yang berwarna-warni ria itu. Entah campuran apa saja author gak tau. Maklumlah, author kan masih kelas tiga esempe *promosi*.

Masker itu masih menempel di hidungnya. Soalnya kalau asap beracun itu dihirup, dia bakalan sesak nafas (bukannya pake masker malah makin sesak nafas o.O?) ya begitulah pokoknya. Dei memakai masker Cuma biar keliatan keren aja! Hehe

Deidara celingak-celinguk. Kemudian membuka maskernya. "Tidak ada kah air putih di sekitar sini? Haruskah aku berjumpa si merah berkacamata anaknya Grell itu?" Deidara ngomong sendiri. Sementara nun jauh disana Grell keselek gergajinya sendiri.

Dia meraba isi kantongnya. Benar-benar kantong ajaib. Semuanya ada. Dia mengeluarkan sebuah A*ua gelas.

"Dari mana asalnya benda ini? Perasaan aku gak pernah nyimpen barang beginian deh!" Dei bingung sendiri. "Tapi ya sudahlah. Kalau author sudah menulis yang seperti ini, turuti saja," lanjutnya sambil menusuk benda itu (males nyebut namanya).

Dei menuang air itu ke gelas ramuan racun tikusnya. Enggak ah, bukan racun tikus. Itu obatnya Sakura. Tapi lebih mirip racun tikus. Kemudian meminum sisanya. Berhubung dia juga haus.

Suara benturan sendok dan gelas itu terdengar jelas. Karena di ruangan ini—laboraturium—hanya ada dirinya dan cairan-cairan yang namanya aneh-aneh.

"Baiklah Sakura! Tinggal menunggu seminggu lagi. Maka aku akan menyembuhkanmu!" kata Deidara sambil menyimpan ramuan itu ke kulkas khusus. Obat ini memang harus di endapkan selama seminggu. Tepatnya sampai Rab u depan. Akhir dari masa kerjanya sebagai Jinny.

...

Cklek. Deidara membuka pintu kamar Sakura. Tapi Sakura tidak ada.

"Sakura?" panggil Dei. Tidak ada jawaban.

Dei menutup kembali pintu itu dan berlari di lorong itu. Mencari Sakura. 'Wah, sepertinya aku benar-benar salah ngasih obat!' batinnya ditengah berlari.

"Tayu-chan! Kau melihat Sakura?" tanya Dei pada Tayuya yang sedang bermain bersama Kimimaro. Tayuya menggeleng. Deidara melanjutkan langkahnya.

"Dokter~" sebuah panggilan menghentikan langkah Deidara. Dengan pelan dia berbalik kebelakang dan.

"Kya~ Tobi! Jangan sekarang!" teriakan Deidara menggema. Begitu si makhluk setengah siluman (lolipop) itu menyerangnya dan memeluknya.

Dei mendorong makhluk itu. Tapi ternyata Tobi lebih kuat. Dei berfikir keras untuk mendapatkan ide.

"Tobi! Suster Tayu punya permen banyak tuh!" kata Deidara sambil menunjuk kearah Tayuya. Yang ditunjuk kaget.

"Loh, eh, kyaa~ tidaaak!" kali ini teriakan Tayuya yang menggema. Dan Deidara tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia berlari ke lorong selanjutnya.

"Dei! Kubunuh kau! Aa~~" teriak Tayuya dari jauh. Deidara tidak menghiraukannya.

...

"Eh," Deidara melihat Itachi di depan sebuah pintu pasien. Kamar nomor 21. Sepertinya Itachi sedang berbicara dengan seseorang didalam sana.

Deidara mendekat. Itachi yang menyadarinya langsung menoleh ke arah Deidara.

"Dei-kun! Kemana saja kau?" tanya Itachi dengan nada seolah-olah dari tadi dia memeng menunggu Deidara.

"Aku? Barusan aku meracik obat. Ada apa?" tanya Deidara balik.

"Kau pasti tidak percaya ini!" jawab Itachi sambil tersenyum penuh misteri.

"Apa? Sakura dapat ranking satu?" ucap Deidara asal.

Itachi menunjuk ke kamar dengan bibirnya. Deidara pun melankah mendekati pintu dan melihat isi kamar itu.

Deidara merosot. Merosot. Hingga akhirnya dia berlutut di depan pintu itu.

"Sakura! Apa yang kau lakukan disitu hah?" teriak Deidara. Ternyata di dalam kamar Sakura sedang bermain bersama Sasuke. Itachi terkekeh.

Sakura melihat Deidara.

"Abis Jinny ngilang sih! Saku kan takut!" jawab Sakura dengan gaya ala anak-anak yang takut kena marah emaknya karena bermain sampai maghrib.

"Hahaha... Jinny! Tapi iya juga sih!" Itachi menyerakkan poni Deidara. Deidara hanya menghembus beberapa helai poni yang terjatuh di pipi kanannya.

"Baiklah, Sakura... apa lagi?" Deidara membaguskan posisinya. Kini dia sudah berdiri. "Yang sabar ya Dei! Ini resiko jadi dokter rumah sakit jiwa!" Itachi menepuk pundak Deidara. Dei hanya manyun-manyun saja.

"Aku mau tidur siang pakai bantal guling kayak Sasu!" jawab Sakura sambil menunjuk guling Sasuke yang bergambar Kyuubi itu.

Deidara melihat Itachi lagi.

"Bagaimana? Apa aku harus membeli?" tanya Deidara dengan tatapan aku-gak-punya-uang.

"Usahakan sendiri, Dei!" Itachi hanya cengir Kyuubi.

"Iya Sakura!" jawab Deidara sambil mengulurkan tangannya. Kamar tidur RSJK memang tidak menyediakan bantal guling. Kalau gulingnya Sasuke itu dibelikan Itachi. Berhubung Sasuke itu adalah adiknya Itachi satu-satunya. Lha? Author mau dikemanain? Saya kan adek Sasuke! Eh, eh, tuh Kusanagi kok bisa terbang sendiri? #GJ

Sakura segera turun dari tempat tidur Sasuke dan menyerang tangan Deidara.

"Aku pergi!" kata Deidara pada Itachi dan langsung pergi. Tidak banyak basa-basi lagi. Karena takutnya fic ini jadi berubah pair :D

...

"Ah, lorong ini..." Deidara merinding saat dirinya dan Sakura berada di depan lorong dimana ada Tobi dan Tayuya. Dia takut kalau Tayuya benar benar membunuhnya.

Dei melangkah pelan-pelan. Sekura yang tidak tau apa-apa hanya mengikuti saja.

Akhirnya lorong itu terlewati. "Heuh..." Deidara bernafas lega.

...

Sakura langsung naik ke tempat tidurnya begitu sudah sampai dikamar.

'Jangan ingat! Jangan ingat! Ayo! Lupakan! Lupakan!' batin Deidara. Berharap Sakura melupakan permintaannya yang tadi.

"Jinny? Mana gulingnya?" tanya Sakura dengan lugunya. Deidara menepuk jidatnya. 'Percuma saja! Jidatnya kan lebar!' batinnya.

"Heuh, aku kehabisan ide..." ucap Deidara pelan sambil melangkah ke tempat tidur. Naik keatas, dan membaringkan dirinya (yaiyalah) secara telentang. Hahah

Deidara menutup matanya perlahan. Baru tiga detik matanya tertutup, sesuatu yang hanyat menyentuh tangannya. Dia melihat kearah tangannya. Ternyata Sakura mengambil posisi tidur disampingnya sambil memeluk tangannya.

Deidara tersenyum. "Anak baik," gumamnya dalam hati. Dan dia mulai menutup matanya. Tidur siang.

TBC

Wah, sudah selesai chap empatnya! *matah-matahin jari*

Ini balesan riviewnya (halah, riview Cuma sebelas juga! Tapi gak apalah...

Oh-chan : tau aja dirimu! Hahay, *gaje*

Yovphcutez : makasii #hug

Fi Suki Suki : buntu ide(perasaan dari kemaren itu-itu mulu riviewnya)

Ditachi Uchiha : tau aja dirimu. Aku lagi kecanduan romens #jadikenapa

Deidei Rinnepero : oh *balesan gak penting*

Maria de Luna Angelica : Kau penurut yah—bletakk

(no name) : tolong sertakan nama anda. Btw ni siapa?

Rini ayu Lestari : add aja fb ku! *maksa* ada di propil :D

KasuHano HimaUlqui : hei! Kau ganti nama jadi Fun-Ny chan aja deh! Ya ya! *maksa—ditendang*

Nira : eh, tadi isi riviewnya apa ya? #bletakplentangplentong. Iya! Iya! Perintahmu adalah keinginanku XD

Jeevas Revolution : Riview anda amat sangat tidak penting #buangmuka #digampar

.

Trus, untuk KasuHano HimaUlqui, ini cuplikannya.

...

Deidara yang berumur delapan tahun ditinggal dirumah sendirian bersama Ino yang berumur lima tahun. Orang tua mereka sedang liburan ke luar negri (orang tua yang kejam!).

"Nii-kun! Nii-kun! Itu apa?" tanya Ino kecil sambil menunjuk sebuah pensil.

"Pensil," jawab Deidara datar.

"Trus! Kalo itu apa?" tanya Ino lagi sambil menunjuk buku.

"Buku," jawab Deidara dengan amat sangat tidak ikhlas samasekali.

Begitulah seterusnya Ino bertanya ini itu pada Deidara. Hingga akhirnya mata Ino tertarik dengan sebuah kaset yang covernya bergambar wanita berbaju putih terusan dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya.

"Ini apa?" tanya Ino sambil menunjukkan cover kaset itu.

"Itu kaset. Kau mau nonton?" kali ini Deidara yang bertanya.

"Mau! Mau!" Ino nganggik-ngangguk.

Deidara berdiri dari duduknya dan menghidupkan DVDnya.

.

Deidara mematikan lampu untuk tujuan penghematan. Opening film itu sudah dimulai. Masih dengan suasana yang damai. Dengan lugunya Ino memencet-mencet tombol remot tak bersalah yang terletak sembarangan. Membuat film itu ter skip sampai ke bagian intinya.

"Kyyaaa~" Deidara berteriak kuat saat wanita di film itu menunjukkan wajahnya. Ino yang tidak tau apa-apa hanya melongo saja. Sementara Deidara jatuh dari kursi yang didudukinya dan jidatnya kejeduk batang sapu yang kebetulan baru digunakannya dan diletakkan di sekitar situ.

Deidara tepar ditempat sementara Ino masih penasaran dengan benda di tangannya itu.

Keesokan harinya, orang tua mereka menghentikan acara liburan dan pulang dan melarikan Deidara ke rumah sakit.

.

Beberapa bulan kemudian, Deidara ditinggal sendirian di rumah. Kaa-sannya sedan belanja di supermarket bareng Ino, sementara tou-sannya kerja.

"Kami pulang!" kata kaa-sannya. Deidara hanya tersenyum garing dan masih terduduk di sofa ruang tamu itu.

"Kyaa!" teriak Deidara saat sebuah wajah yang—menurutnya—mengerikan langsung muncul didepan wajahnya. Ternyata itu Ino yang baru dibelikan topeng hantu-hantu.

Kaa-san langsung melarikan Deidara ke rumah sakit (lagi) sementara Ino cengar-cengir gaje.

Begitulah seterusnya. Setiap Ino memberikan wajah yang seram pada Deidara, Deidara harus dilarikan ke rumah sakit. Setidaknya sampai Dei berumur tujuh belas tahun. Setelah umur Deidara tujuh belas tahun, dia hanya meringkuk di sudut tembok saja kalau Ino melakukan itu.

Owari.

Hahah, gaje. Lumayan buat nambah-nambahin words.

Silahkan menunggu chap selanjutnya yang entah kapan apdetnya.

Sign,

TheyDara

Riview

V

V