Halo, ini UnaOne mau ngebacot sedikit. Jadi sekarang banyak ff yang dihapus karena ffnya dibilang termasuk pelecehan seksual (mengusung ff rated M Yaoi) dan kebetulan sekali FF saya juga terbilang rated M bcs dari chapter awal sudah mulai ada adegan kekerasan. Yang awalnya saya mau buat FF ini menjadi rated M tetapi saya tidak membuatnya karena hal sensitif sperti ini.

FF Yaoi dengan rated M memang lumrah dan bukan hal sensitif (btw saya sudah masuk kedalam dunia perfanfiction-an dari 2015 lalu) tetapi ada juga beberapa author yang memakai Cast Underage(Dibawah 1999 smpk tahun 2000-an) yang membuat beberapa reader merasa geli dan melaporkan ff tersebut ke akun twt (kalian pasti tau siapa).

Saya ngaku kok, saya buat ff ini memang semua castnya Underage kecuali OngNiel, Walaupun ada adegan tak seonoh(pemerkosaan) yang dari awal saya pikirkan, saya hapus dan ganti menjadi yang lebih beradab. Untuk skinship ini cuma Ciuman (Hard Kiss, it's okay kan?) Dan tidak akan lebih seperti ya, grepe2 atau apalah namanya itu. Soalnya dibawah juga Winkdeep ciuman/EA.

Okay, manteman. Saya cuma nyaranin aja nih ya, kalau yang tidak suka Yaoi sebaiknya jangan baca. Saya meringis melihat banyak sekali ff yang di private oleh Author di Wattpad walaupun mereka tidak mengusung ff rated M dan tidak memakai cast Underage. Ditolong kesadarannya terima kasih.

UnaOne present

Badboys

Cast: WinkDeep! JinSeob! Samhwi! Ongniel! (Side: HakWoong Minhyunbin Guanho)

Rate: T

Lenght: Chaptered

Discalimer: Cuma minjem nama doang hehe

Warn! :Terlalu ngedrama, Kebayakan keju, Typo!

Chapter 04

Jihoon terbangun dari mimpi indahnya dikarenakan teriakan Daehwi yang menggema sampai otaknya. Tidak, sebenarnya dia sudah bangun tapi malas untuk sekedar merenggangkan tubuhnya.

"Mandi sana" titah Daehwi sambil melempar handuk yang lepas landas di wajah Jihoon.

Jihoon berteriak, Daehwi tertawa keras. Pemuda berpipi gembul itu merengut dan menatap benda persegi panjang di atas nakas, diambilnya dan langsung mengecek aplikasi yang kemarin ia acuhkan saja.

Matanya membulat diiringi teriakan(lagi) yang membuat teman hebohnya juga ikut berteriak.

"DAEHWI AKU HARUS APA!?"

"JANGAN BERTERIAK BODOH!"

Jihoon hanya merengut lucu dan memberikan Handphonenya kepada Daehwi.

"Wah.. Bae Jinyeong"

Daehwi mengangguk lucu, terus mengangguk sampai ide jahat menguasai dirinya.

"Sekali-sekali hehe" Batin Daehwi

Dia menyeringai kecil sambil melihat Jihoon yang masih sibuk mengambil baju sekolahnya di lemari.

Tangannya yang tak bisa diam, bergerak menekan huruf di keyboard, mengirimnya lalu tersenyum puas.

"Oh, aku turun duluan ya Jihoon"

Jihoon hanya mengangguk, tak sadar kalau teman hebohnya itu sudah menahan tawanya sedari tadi.

"Aduh lupa, aku harus mencharger" ucap Jihoon sambil mengangguk-ngangguk, dia mengambil Handphonenya yang berada di kasur.

Matanya yang bulat kembali membaca kilasan chatroom.

"Tunggu. Sepertinya ada yang tidak beres"

1

2

3

"LEE DAEHWI! AKAN KUBUNUH KAU!"

Bae Jinyeong

Ingin pergi denganku besok?

Terima atau iya

Park Jihoon

Call!

Daehwi yang sedang menguyah sarapan paginya tak kuasa menahan tawa sampai akhirnya dia tersedak.

Pemuda dengan surai hitam itu turun dari kamarnya-mendudukkan dirinya di kursi.

"Mau makan apa, tuan?" Tanya Maidnya

Bae Jinyeong tinggal bersama orangtuanya, kakaknya tertuanya dan para maid. Kakaknya sedang mengerjar studinya di London sekarang, jadi sekarang mereka tinggal bertiga.

"Susu dan pancake"

Maidnya mengangguk lalu melangkah pergi kearah dapur. Jinyeong memainkan handphonenya dan tersenyum simpul melihat Linenya.

"Aku tau itu bukan kau" gumamnya pelan.

Mana mungkin Park Jihoon mengiyakan permintaan tololnya? Jinyeong menggelengkan kepalanya dan lagi-lagi tersenyum.

"Jangan bermain Handphone saat berada di meja makan, Jinyeong" sahut ibunya yang tiba-tiba datang dan disusul ayahnya.

Bae Jinyeong hanya merotasi matanya jengah lalu menurut seperti anak kucing.

"Kenapa tiba-tiba ingin mengeluarkan siswa lagi?" Buka ayahnya sambil menumpahkan sirup maple ke pancake yang baru saja disajikan para maid.

Jinyeong hanya mengedikkan bahunya acuh dan memakan sarapannya dengan santai.

"Jawab pertayaan ayahmu, Jinyeong" sahut ibunya kembali sambil menatap tajam dirinya.

"2 tahun yang lalu kau berhenti dari kegiatan anehmu ini, dan Woo Jinyoung? Bukannya dia sahabat kecilmu?"

TRANG!

"Jangan ucapkan namanya disini, Tuan Bae"

Atmosfir keluarga itu mendadak tegang-Jinyoung menghentakkan garpunya dengan keras.

"Bae Jinyeong, sopanlah sedikit"

Ibunya memengang tangan Jinyeong-berusaha meredakan amarah anak lelakinya itu. Tapi anaknya hanya mendelik kearahnya dan menepis tangannya kasar.

"Untuk apa aku sopan dengan dia, ibu?" Sahut Jinyeong sambil menunjuk kearah ayahnya.

"Kudengar kau dekat dengan seseorang ya?" tanya Tuan Bae sambil menatap anaknya dalam.

Ini bagian yang tidak disukai Bae Jinyeong dengan ayahnya.

"Jangan macam-macam" tegas Jinyeong dingin. Tangannya mengepal kuat sampai buku-buku kukunya memutih.

"Anak dari Park Jimin, kan? Park Jihoon? Salah satu siswa terpintar disekolah, eh?" Lanjut Tuan Bae sambil tersenyum tipis, pria itu merapikan dasinya dan ikut berdiri yang membuat Jinyoung mendecih pelan.

Dia sudah muak kelakuan ayahnya. Membatasi dirinya dengan orang lain, lalu tidak boleh dekat dengan orang asing.

Kemarin Jinyoung dekat dengan pemuda manis bernama Kenta, bahkan mereka sudah dalam tahap saling 'suka' tapi ayahnya mengirim pemuda itu ke jepang. Jinyoung marah besar kala itu, selama sebulan tak ingin melihat ayahnya.

Dan sekarang giliran Jihoon? Bahkan dia belum ada pendekatan dengan pemuda itu, dan ayahnya ingin memisahkan lagi? Mana bisa Jinyeong biarkan kali ini.

"Jika kau macam-macam dengannya, aku tak kan memaafkanmu"

Jinyeong langsung bergegas pergi keluar rumah, tak peduli dengan teriakan ibunya yang menggema sampai luar, dia terlalu marah sekarang.

"Sial..."

Sementara ayahnya terdiam beberapa detik lalu tertawa keras dan mendapat pukulan dari sang istri.

"Hey, kenapa anak kita semakin sensitif setiap harinya?"

"Itu semua karena kamu!"

Ibunya dan ayahnya hanya tersenyum arti-memasang niat baik di hati.

"Kita beritau nanti saja ya, sayang?"

Seongwoo melangkahkan kakinya kearah rumah Jihoon. Iya, mereka bertiga bertetangga walaupun rumah Seongwoo agak berjauhan dari rumah Jihoon dan Daehwi.

TOK TOK

Ibunya Jihoon menyambut Seongwoo sambil menyuruhnya masuk.

"Kamu sudah makan, nak?" Tanya ibu Park, Seongwoo mengangguk sambil tersenyum. Langkah kakinya mendekat kearah Jihoon dan Daehwi yang saling melempar tatapan tajam. Oke, itu cuma Jihoon.

"Hey, ada apa?" Tanya Seongwoo sambil mengerutkan keningnya bingung.

"Haha, dia marah padaku hyung" jawab Daehwi dengan tenang tanpa tau Jihoon sudah meledak-ledak dikursinya.

"Hyung! Masa Daewhi menjawab chatku dengan Jinyeong!" Sembur Jihoon, Seongwoo hanya terkejut mendengarnya.

"Kau dekat dengan Bae Jinyeong?" Seongwoo membulatkan matanya sambil melempar pertayaan yang membuat Jihoon mendengus.

"Aku? Dekat? Bae Jinyeong? Tak akan pernah" jawabnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah.

"Tapi tadi malam Bae Jinyeong ngechat Jihoon. Katanya mau diajak pergi gitu, hyung." Ucap Daehwi sambil cekikian, dia mengambil Handphone Jihoon dan memberi tau Chatroomnya kepada Seongwoo

Seongwoo hanya menggelengkan kepalanya lucu dan tertawa pelan.

"Kudoakan kalian langgeng ya"

"HYUNGGG!"

Mereka akhirnya pergi ke sekolah bertiga, Hyeongseob tidak bisa ikut karena katanya dia ada yang ngantar. Baru saja mereka sampai didepan pagar, lagi-lagi kerumunan itu ada didepan mata mereka.

"Siapa? Mereka lagi ya?" Mereka bertiga masuk kedalam kerumunan itu

"Mobil Park Woojin?" Batin mereka bertiga.

Pintu mobil itu tiba-tiba terbuka, membuat mereka bertiga berlonjak kaget. Woojin keluar dan berlari kecil-membuka pintu mobil satu lagi.

Dan bertapa terkejutnya Jihoon, Daehwi dan Seongwoo, yang keluar dari mobil Woojin adalah

"AHN HYEONGSEOB!?"

Pemuda manis itu hanya pasrah dirinya ditarik oleh ketiga temannya ini, dia merutuki kecerobohannya yang mengiyakan ajakan pergi bersama dengan Woojin.

Woojin hanya tersenyum melihat lucunya wajah Hyeongseob yang ditarik-tarik, dia tetap ikut-mana tau dia dibutuhkan nanti.

Ketiga temannya itu membawanya ke taman belakang lalu mendudukkan Hyeongseob di bangku. Jihoon mengacak pinggang, Daehwi memicing curiga sedangkan Seongwoo menggaruk kepalanya bingung-tak tau harus berekspresi apa.

"A-aku b-bisa j-jelaskan" ucap Hyeongseob terbata. Dia menatap ketiga temannya satu persatu.

"Cepat jelaskan" paksa Jihoon sambil tersenyum. Senyum mematikan-bagi Hyeongseob.

"J-jadi a-anu.."

"Kami berpacaran" itu bukan Hyeongseob tetapi Woojin yang mengatakannya sambil mengenggam tangan 'kekasih' barunya itu.

"APA!?"-Jihoon

"TUNGGU DULU! KAU APA?" -Daehwi

"Kau melangkahiku,Hyeongseob" -Seongwoo

Hyeongseob hanya menunduk malu dan menyenggol tangan Woojin.

"Iya, benar. Kami berpacaran. Resmi kemarin, iya'kan Seobie?"

Hyeongseob mengangguk lucu, wajahnya sudah memerah padam. Jihoon dan Daehwi masih syok ditempat sedangkan Seongwoo hanya merengut sedih.

"Kenapa kau tak bilang? Aku sedih" ucap Seongwoo sambil mengeluarkan mimik sedih andalannya, Hyeongseob langsung berlari kecil dan mengenggam tangan Seongwoo dengan erat.

"Bukan maksudku seperti itu, hyung..."

"Aku bercanda" Ucap Seongwoo sambil tertawa kecil. Dia mengelus pelan rambut Hyeongseob dan menatap Woojin.

"Awas kalau dia lecet. Jangan sakiti Hyeongseob kami, janji?" Woojin mengangguk cepat. Mana mungkin dia menyakiti kesayangannya?

"Benar, jangan lakukan hal-hal aneh kepada Hyeongseob!" Daehwi memeluk Hyeongseob sayang sambil memicing tajam kearah Woojin.

"Aku memberikanmu kesempatan, tapi jangan biarkan Hyeongseob sedih" sahut Jihoon dingin. Sepertinya dia belum menerima Hyeongseob berpacaran dengan Woojin.

Hell, Woojin itu badboy. Di tahun pertama sekolah dia mematahkan punggung seseorang yang tak sengaja menyenggol dirinya. Lalu melempar bola basket sampai terkena seorang guru magang yang akhirnya trauma. Lalu membully seorang anak berkaca mata yang akhirnya keluar dari sekolah, dan kalian mau tau? Dia adik sepupunya Seongwoo! Tapi Seongwoo sudah memaafkan Woojin.

Mana mau Jihoon kalau Woojin hanya mempermainkan perasaan Hyeongseob?

"Jin-ah. Aku pergi dulu ya?" Ucap Hyeongseob sambil tersenyum manis.

Manis sekali sampai Woojin ikut tersenyum. Lama sekali mereka memandang sampai teman-temannya harus menarik lengan Hyeongseob-untuk memutus pandangan pemuda kasmaran itu.

Setelah mereka berempat pergi. Pundak Woojin ditepuk keras, sangat keras sampai dia hampir terjatuh.

"Fxck.." umpatnya.

"Sial, aku kalah start" ucap si pemilik rambut pink dan bergigi kelinci.

"Aku bahkan baru mengantar Daehwi kemarin dan kau sudah berpacaran? Kau harus memberi tauku caranya, hyung" sahut si bule. Dia kesal kenapa hyungnya cepat sekali sedangkan dia baru saja memulai?

"Kalian saja yang terlalu lama" jawab Woojin kalem sambil meninju kuat bahu Daniel-sebagai balas dendam, sedangkan Jinyeong hanya diam dan menghela nafas.

"Aku bahkan baru mengajaknya pergi" guman Jinyeong.

"Siapa?" Tanya Daniel yang mendengar Jinyoung bergumam tadi.

"Park Jihoon ya?" Tanya Samuel sambil mencolek-colek pipi Bae Jinyoung.

Jinyeong hanya mendelik tajam kearah Samuel-tak suka pipinya dijadikan bahan mainan anak itu, Samuel hanya nyengir.

"Akhirnya kita melepas status jomblo"

"Kalian saja, aku sudah punya"

"Diam kau"

Iya, keempat badboy ini belum pernah berpacaran kecuali Woojin-dia punya mantan. Karena mereka saling terbuka-jadi mereka membeberkan rahasia masing-masing. Termasuk suka mereka berempat dengan goodboy disekolah.

Pasti sudah ketebak mereka mengincar siapa'kan?

Seseorang yang bersembunyi dibalik pintu gudang itu tersenyum seram.

Tak sadarkah mereka kalau ada yang merekam percakapan mereka?

"Ini akan menarik.."

Daehwi berada di atap sekolah-sedang menyegarkan pikirannya yang belakangan ini kacau, tebak karena siapa?

Ya, karena adik kelas bule yang suka sekali menjahilinya, yang kemarin rela mengantar pulang Daehwi sampai kerumah dengan selamat.

Kejadian itu masih membekas di pikirannya, perasaan hangat membuncah ketika Samuel mengantarnya pulang, padahal dulu dia benci sekali dengan adik kelas itu.

"Daehwi?"

DEG

Itu suara Samuel. Dia membalikkan badannya, menyambut adik kelas itu dengan senyuman kecil saat Samuel menyodorkannya susu pisang serta burger kesukaannya.

"Kata Hyeongseob sunbae, kau belum makan, jadi disuruh berikan ini." Daehwi menerima susu itu dan meminumnya dalam diam, sedangkan burgernya cuma ia pandang-tak berniat untuk memakannya.

"Kau tak iri?"

Daehwi mengerutkan keningnya bingung sambil menoleh ke arah Samuel, adik kelasnya itu masih setia memandang langit luas yang berada di atasnya.

"Iri dengan siapa?" Tanya Daehwi sambil ikut duduk disamping Samuel. Matanya juga ikut memandang hamparan luas langit diatasnya.

"Iri dengan temanmu yang pacaran?"

"Hyeongseob, ya?"

Samuel hanya mengangguk dan menoleh menatap Daehwi. Dia tertegun, kenapa Daehwi sangat cantik jika dilihat dari samping?

"Iri? Aku tidak tau" jawab Daehwi sambil membalas tatapan Samuel yang sedari tadi menatapnya intens.

Mereka saling bertatapan. Saling memberi tatapan memuja. Mata keduanya memusat memberikan tatapan kasih sayang.

"Kenapa menatapku?" Tanya Daehwi pelan setelah memutus kontak itu dengan cepat.

"Kau cantik, hyung" jawab Samuel sambil mengelus pelan pipi Daehwi, membuat panas menjalar ke pipinya.

"Aku lelaki, Samuel!"

Samuel hanya tertawa kencang dan membuat Daehwi merengut lucu.

Biarkan mereka saling mendekatkan diri dan melupakan permusuhan konyol diantara mereka.

TET~

Bunyi bel sekolah membuat siswa di kelas 3-A bersorak, kecuali pemuda yang masih saja membaca buku pelajarannya, dia hanya menghela nafas panjang.

Siswa-siswa yang lain sudah pergi meninggalkan kelas, sedangkan dirinya masih membereskan buku pelajarannya.

"Ong Seongwoo!"

Merasa namanya dipanggil, Seongwoo menegakkan kepalanya dan menatap lawan biacaranya.

"Iya? Ada apa?" Tanya Seongwoo ke Jonghyun-orang yang memanggilnya.

"Disuruh Daniel ke parkiran" Seongwoo menepuk keningnya pelan, teringat dengan ajakan Daniel kemarin malam.

Dia mengangguk dan segera keluar dari kelas. Tidak, dia tidak akan mengikuti kemauan beruang itu, memangnya Daniel siapanya Seongwoo? Pacar juga tidak.

Seongwoo membetulkan letak kacamatanya dan memicing pelan, dia bisa melihat Daniel yang sedang duduk didepan mobil sambil bermain Handphone dari lantai 3 sekolahnya, dia pikir ini kesempatan bagus untuk kabur.

Jadi dia berlari ke belakang sekolah, berniat pergi dari pintu belakang. Karena jika dari pintu depan Daniel akan melihatnya.

Seongwoo tersenyum senang ketika dia sudah keluar dari kawasan sekolah, sepertinya niat kaburnya sudah hampir sempurna jika saja mobil berwarna hitam tidak berhenti disampingnya.

Langkah kakinya berhenti. Kepalanya ia tolehkan kesamping.

"Apa dia berhenti karenaku?" Batinnya.

Karena sang pemilik mobil tak kunjung keluar, Seongwoo kembali berjalan sebelum tangannya ditarik paksa serta dirinya yang tiba-tiba sudah ada di mobil mewah ini.

"Yak! Apa-apaan.." teriakannya mereda setelah melihat tatapan tajam dari sang pengemudi, Seongwoo berdehem pelan dan memalingkan wajahnya.

"Kenapa kabur? Sudah kubilang jangan kabur, kan?" Sederet kata-kata itu membungkam mulut Seongwoo. Dia diam tak berkutik, seperti jika ia bergerak sekali saja maka pemuda disampingnya akan memperkosanya.

Dia seperti ada dikandang beruang. Beruang galak.

"Jawab aku Ong Seongwoo" perintah pemuda itu sambil menarik dagu Seongwoo-agar melihat dirinya, mau tak mau Seongwoo harus melihat jika tak mau sesuatu terjadi padanya.

"D-daniel a-aku..." ucapan Seongwoo terputus ketika Daniel mendekat padanya. Sangat dekat sampai pipinya bersentuhan dengan kepala Daniel, dia memejam matanya erat.

"Jangan kabur lagi, mengerti?" Suara berat milik Daniek membuat Seongwoo mengangguk dan membuka matanya. Ternyata Daniel hanya memakaikan dirinya selfbelt.

"Apa tadi aku berharap lebih?"

"Jihoon sayang~~ yuhu~~"

Jihoon bergidik ngeri. Dia baru saja keluar kelasnya dan tiba-tiba seorang pemuda bongsor datang kepadanya.

"Seonho! Jangan seperti itu" tegur pemuda tampan yang disamping Seonho. Jihoon memusatkan atensinya ke kedua pemuda dihadapannya.

"Ada apa, anak ayam?" Tanya Jihoon sambil menatap jengah Seonho yang sedang memakan jajanannya, mata Jihoon juga melirik-lirik pemuda yang disampingnya.

"Jangan lupa beritau Eomma kalau aku akan menginap dirumah Guanlin hyung"

Jihoon itu berperan sebagai kakaknya Seonho soalnya mamanya Seonho percaya kalau Jihoon bisa ngejagain Seonho.

Biar diperjelas. Seonho itu sepupunya Jihoon.

Jihoon mencubit keras pipi Seonho sampai dia mengaduh sakit.

"Guanlin hyung... sakit!" Adu Seonho. Guanlin langsung menepuk pelan tangan Jihoon yang masih bertengger manis di pipi kekasihnya.

Jihoon hanya terdiam, menatapi perlakuan Guanlin kepada Seonho, matanya berbinar.

"Hyung.. kasihan Seonho" ucap Guanlin sambil mengusap-usap pelan pipi Seonho yang memerah akibat ulah Jihoon.

Jihoon hanya tertawa kencang dan menepuk pelan kepala Seonho sayang. Apakah ini terlihat fake?

"Maaf. Iya kau sudah berulang kali berkata seperti itu, aku ingat kok" elak Jihoon. Seonho hanya mangut-mangut dan permisi untuk pulang.

Guanlin tetap mengusap-usap pipi Seonho dan tangan satunya mengenggam tangan Seonho lembut. Jihoon yang melihatnya hanya tersenyum walaupun agak perih juga melihatnya.

Haruskah kubilang kalau Jihoon pernah suka dengan Guanlin?

"Jihoon hyung..."

Hyeongseob dan Woojin yang baru keluar kelas tak sengaja melihat kejadian tadi. Dia tau Jihoon mempertahankan senyumnya disana walaupun hatinya berontak. Hyeongseob tau bagaimana keadaan Jihoon.

Bagaimana dulu Jihoon sangat memuja Guanlin tetapi Guanlin lebih memilih Seonho. Dan Jihoon bisa apa? Dia tak mungkin menjadi egois dan merusak hubungan orang lain.

Melihat orang yang ia sayang bahagia, itu sudah cukup baginya.

Woojin hanya terdiam melihat raut wajah Hyeongseob, tangannya bergerak untuk mengechat seseorang.

"Ayo sayang"

Hyeongseob memandang wajah Woojin. Dia merengut kecil, tak tega meninggalkan Jihoon yang masih terdiam disana.

"Mama kamu bilang harus pulang cepat kan?"

Hyeongseob terdiam dan mengangguk pelan, Woojin berhasil mengajaknya pulang.

"Tapi Jihoon..."

Woojin tersenyum dan memengang pipi Hyeongseob dengan lembut.

"Dia tak akan kesepian"

Hyeongseob tentu bingung dengan maksud kekasihnya. Sebelum dia melihat seseorang yang berlari diujung barat. Senyumnya mengembang, refleks tangannya memengang lengan Woojin.

"Terima kasih"

Jihoon menunduk, perasaan yang tadi ia tahan memuncak. Kenangan yang dulunya ia tutup rapat, keluar dan mengalir dengan kencang di otak Jihoon.

Senyuman Guanlin. Tatapannya. Perlakuan lembutnya.

Semua kenangan itu seakan mengejek Jihoon, membuat setan dalam dirinya terus-menerus berkata bahwa Seonho-lah alasan kenapa Guanlin tak bersamanya.

Jihoon menekan kepalanya yang terasa berat, dia memukul kepalanya keras seakan itu akan menghilangkan kenangan yang berlomba-lomba masuk.

Tapi pukulan itu berhenti karena sebuah tangan yang menarik lengan kurus itu.

"Hentikan, Park Jihoon"

Suara itu membuat Jihoon mendongak, air matanya langsung tumpah ruah-berlomba-lomba keluar.

Pemuda itu menatapnya sedih, sungguh dia tak tahan melihat Jihoon menangis seperti ini.

"Sakit Baejin... hiks"

Jihoon sudah tak peduli dengan rasa bencinya dengan Jinyeong. Dia tak peduli kalau ini akan menginjak harga dirinya yang setinggi langit.

Dia sudah lelah.

Jihoon menarik pelan baju Jinyeong sehingga adik kelasnya itu berada dipelukannya, Jihoon mengeratkan pegangannya dan menangis keras di pundak pemuda Bae itu.

Jinyeong terpaku beberapa saat sebelum kedua tangannya bergerak mengusap pelan punggung Jihoon yang bergetar.

"A-apa -a-aku b-oleh hiks.. e-egois s-sekali ini s-saja hiks.."

Pemuda Bae itu hanya terdiam dan mengepal tangannya diam.

"Guanlin ya?" Batinnya miris.

Jihoon melepaskan pelukannya dan menutup wajahnya yang memerah.

"Maaf bajumu.."

Jinyeong menggeleng pelan, dia mengusap pelan pipi Jihoon.

"Tak apa" jawabnya.

Mereka terdiam beberapa saat. Jihoon masih saja mengatur nafasnya yang tersendat-sendat sedangkan Jinyeong menatapnya lamat.

Setelah Jihoon merasakan dirinya sudah tenang, ujung bibirnya menaik, merangkai sebuah tersenyum tulus ke Jinyeong.

"Terima kasih"

Jinyeong tak tau kenapa setelah Jihoon mengatakan hal tersebut, kakinya berjalan mendekat, membuat kaki Jihoon berjalan mundur sampai akhirnya terpojok dengan dinding kelas, Jihoon sudah mendorong bahu pemuda Bae tetapi dia tetap bergerak maju dan menaikkan dagu si mungil.

Sangat pelan dan lembut.

Seakan Jinyeong terlalu takut memegang tubuh Jihoon sedikit saja, maka Jihoon akan pecah layaknya kaca.

Tak ada lagi cekalan dilengannya atau dagu yang ditarik kasar seperti awal pertemuan mereka. Tak ada juga umpatan demi umpatan yang dikeluarkan Jihoon karena kebanjingan atau kebrengsekan seorang Bae Jinyoung.

Semua sirna ketika bibir Jinyeong mendarat dibibirnya, kecupan lembut yang membawa ratusan kupu-kupu diperutnya terbang keluar. Tangan Jinyeong mulai mengelus pelan pipi Jihoon- yang satunya bergerak kebelakang tengkuk Jihoon-memperdalam ciuman mereka.

Harusnya dia menendang kaki Jinyoung atau menjambak rambutnya sampai putus karena keberanian Jinyoung yang telah menodai bibir yang Jihoon simpan selama hidupnya.

Tapi yang dia lakukan hanya terdiam dan membiarkan bibir Jinyoung melumat pelan-melecehkan bibirnya. Berkali-kali sehingga membuat Jihoon terlena.

Setelah itu Jinyeong melepaskan ciuman mereka. Dia menatap pemuda didepannya dan mengusap bibir yang membengkak itu

"Lupakan Guanlin dan terima aku"

Satu kalimat itu sukses membuat Jihoon menatap Jinyeong tak percaya.

Jinyeong yang ia benci yang pernah membully Eiuwoong, membuatnya masuk rumah sakit, membuat Haknyeon-kekasihnya ikut membolos demi menjaga Eiuwoong.

Jinyeong yang ia benci yang pernah bertengkar dengan Kwon Hyunbin, kakak kelasnya dikarenakan sepupu kesayangannya- Hwang Minhyun berpacaran dengan Hyunbin, kekanakan sekali.

Banyak sekali kebajingan seorang Bae Jinyoung. Merokok, menindas, mengolok para guru, berteriak didepan kepala sekolah dan? Tentu saja mengeluarkan Woo Jinyoung.

Lalu Bae Jinyeong yang sangat Jihoon benci ini tiba-tiba datang dan bersedia menjadi bahu ketika Jihoon tak tau ingin bersandar kemana lagi.

Hatinya merasa bimbang.

Pikirannya kacau.

Jalan mana yang harus Jihoon pilih?

Mengikuti ajakan Jinyeong agar melupakan Guanlin?

Atau

Mengikuti setan didalam dirinya untuk merusak hubungan Guanlin dan Seonho?

TBC

AYO! SAYA SUDAH KIBARKAN BENDERA KONFLIK DISINI MWEHEHE!

Jadi disini Jihoon itu pernah suka sama Guanlin tapi Guanlin lebih milih Seonho. Tapi Jihoon masih belum bisa Move-on. Jadi jalan yang mana Jihoon pilih?

Papa mama Baejin ada rencana apa dengan anaknya? Hayo tebak kenapa mereka ketawa-ketiwi liat anaknya marah. Baejin mainnya nyosor mulu. Mana ngegas anak org yg belum move on lagi.

Samuel sama Daehwi CIEEE CIEEE mulai suka CIEEE CIEEE. Gimana nih kemajuan dari love-hatenya SamHwi? Nanti saya jahatin ga ya hubungan mereka?/ketawasetan(1)

OngNiel di chapter depan banyak nih, kan mau kencan gitu. Ditunggu ya Ongnielnya. Saya lemes nulis bagian Danielnya, ga kuku saya tuh :(

Jinseob udah pacaran CIEE PEJE LAH PEJE/plak(2). Dichapter depan mau tau bagaimana Ujin nyatain cinta?

Guanhonya gimana nih? Bagaimana hubungan Guanho? Maaf saya buat Guanlin jadi pho. Btw I'm lowkey PanWink shipper. Mweheheehe/ketawasetan(2)

Oiya makasih banget ya untuk koreksinya BeauAnn. Saya lupa kalau Jinyeong ngoreksi namanya dari kemarin *bow*

Ffnya udah nembus 100 followers ya? :)) dan benar sekali ini ff rasa sinetron buahaha.

Ditunggu chapter depannya. Jangan lupakan Reviewnya! Thank u!

Dadah~ See you soon~

Unaone