All the characters here are Masashi Kishimoto's (except Kento and Kaiya), but the plot is mine. Terinspirasi dari beberapa kisah namun tidak plagiat. Jika ada kesamaan plot, sungguh bukan hal yang disengaja. No bash, just for fun. If you don't like this story just go back and don't read. I've warned you. Happy reading, everyone :)
.
Sasuke memandangi dirinya di cermin, tampan. Ia membenarkan dasi kupu-kupunya lalu merapikan jas hitam yang ia kenakan. Ia sampai memesan setelan khusus untuk hari ini, meski ini bukan hari bahagianya. Ia melihat pantulan lain dari seorang pria yang sedang duduk di satu sisi ruangan. Ia tampak gugup.
"Kau gugup?" tanyanya, setengah tersenyum.
Pria itu berdiri lalu berjalan mondar-mandir, kelihatan semakin gugup.
"Tenanglah, Neji. Santai saja," ucap Gaara tanpa berpaling dari ponselnya.
Neji menarik dan menghembuskan napas berkali-kali. "Kalian tidak paham," cerca Neji.
"Aku tidak pernah tahu kalau kau punya pacar. Tiba-tiba sudah menikah saja," kata Gaara, masih berkutat dengan ponselnya.
"Kami memang tidak berpacaran. Tapi aku sudah kenal lama dengannya," jelas Neji.
Gaara tampak tertarik, buktinya perkataan Neji berhasil memalingkan dirinya dari ponselnya. "Kau jatuh cinta diam-diam?" selidiknya.
Neji menatap kedua wajah junior yang sudah dia anggap seperti saudara itu. Neji tidak punya banyak teman, apalagi sahabat. Ia termasuk orang yang anti-sosial. Tapi ketika bertemu dengan dua junior di universitas fakultas kedokteran tempat mereka bertiga menimba ilmu, entah mengapa Neji merasa cocok dengan kedua orang ini. Mungkin karena ketiganya sama-sama anti-sosial. Semacam hanya mereka bertiga yang paham candaan-candaan sarkastik yang mereka lontarkan ke orang-orang. Neji bahkan tidak punya teman yang cukup dekat dari angkatannya, dia justru terlihat lebih sering bersama dua juniornya yang tak sengaja ia temui saat praktek kerja lapangan di sebuah rumah sakit. Saat itu Neji menjadi team leader dari kedua juniornya ini. Akhirnya mereka menjadi dekat dan tak terpisahkan hingga sekarang, setidaknya saat Neji belum menikah. Setelah ini mereka tidak akan bisa sedekat dulu lagi.
"Gadis ini sahabat dari sepupuku. Karena ayah dari sepupuku selalu menyuruhku untuk menemaninya pergi kemanapun, maka aku juga akan bertemu dengan sahabatnya itu karena mereka selalu bersama kemana-mana," jelas Neji. "Ya, awalnya memang biasa saja…"
"…lalu lama-lama jadi cinta," potong Gaara menggoda Neji.
Neji menggaruk lehernya. "Anggap saja seperti itu," jawabnya malu-malu.
Terdengar suara ketukan dengan cepat di pintu.
"Neji, kau sudah siap?" tanya seseorang dari balik pintu.
"Sudah!" jawab Neji.
Pintu terbuka lalu kepala seseorang melongok ke dalam, memindai ruangan. Ia kemudian masuk ke dalam dan menghampiri Neji. Ia melihat penampilan Neji dari atas sampai bawah kemudian merapikan dasi kupu-kupunya.
"Aku berani sumpah kau adalah pengantin pria paling tampan di dunia ini," katanya senang.
Neji tersenyum. "Terima kasih. Apakah Ino sudah siap?" tanyanya.
"Sudah, kok," jawab gadis itu.
"Aku ingin melihatnya," kata Neji sambil melangkah maju namun langsung ditahan oleh gadis itu.
"Tidak boleh! Itu pantang," kata gadis itu lantang. "Kau harus bersabar menunggunya di altar."
Sasuke dan Gaara tertawa, menarik perhatian Neji.
"Astaga, aku sampai lupa," kata Neji. Kemudian menarik tubuh gadis itu agar berdiri di depannya dan menggenggam kedua bahunya. "Perkenalkan, ini sepupuku, Hyuuga Hinata. Usianya dua tahun di bawah kalian."
Sasuke dan Gaara memperhatikan gadis di hadapan mereka. Ia mengenakan gaun putih selutut, high heels berwarna silver yang tak terlalu tinggi, rambutnya disanggul rendah dengan sedikit hiasan, dan riasan wajah yang natural. Gadis ini terlihat manis.
"Hinata, ini Uchiha Sasuke dan Sabaku Gaara."
Gadis bernama Hinata itu mengangsurkan tangan untuk menjabat Sasuke dan Gaara. "Halo," sapanya sambil tersenyum.
Sentuhan pertama Sasuke dan Hinata.
"Kalian benar-benar cuma sepupu? Mirip sekali, hanya berbeda warna rambut," tanya Gaara heran.
"Jelas saja kami mirip, ayah kami kembar," jawab Hinata.
Sasuke dan Gaara tampak terkejut. Mereka memang dekat dengan Neji, tapi hanya mengenal keluarga intinya saja. Tidak dengan paman dan sepupunya.
"Iya, benar. Nanti kalau kalian bertemu dengan seseorang yang mirip dengan ayahku, berarti itu adalah ayahnya Hinata," jelas Neji yang mendapat anggukan dari Hinata.
"Eh, ayo, kita harus bergegas," ajak Hinata. "Ayo, kalian berdua juga," kata Hinata pada Sasuke dan Gaara.
Mereka berempat berjalan keluar ruangan menuju venue. Neji memilih taman belakang rumahnya yang sangat luas sebagai tempat resepsi pernikahannya. Semua tamu undangan tampak sudah hadir dan menduduki kursi masing-masing. Udara hari ini cukup hangat namun matahari tidak bersinar terlalu terik. Hari yang sempurna. Sasuke memperhatikan Neji yang berdiri di altar dengan gugup, jauh lebih gugup ketimbang di kamarnya barusan. Namun ketika pengantin wanitanya berjalan menuju altar didampingi oleh ayahnya, kegugupan Neji digantikan dengan senyum bahagia. Sasuke belum pernah melihat Neji sebahagia itu.
Setelah janji suci pernikahan selesai dilakukan, semua tamu undangan bebas melakukan apa saja. Ada yang menikmati makanan, ada yang berdansa, ada juga yang berfoto bersama pengantin. Sasuke mencari-cari Gaara dan mendapatinya sedang mengobrol dengan seorang gadis, yang Sasuke yakini baru saja dikenal Gaara di sini. Ia menggeleng, kebiasaan, pikirnya.
"Minum?" tawar seseorang.
Sasuke melihat gelas berisi minuman sari buah di depannya lalu memalingkan pandangan kepada yang memberikannya. Sepupu Neji. Ia mengambil gelas itu. "Terima kasih," ucapnya.
Gadis itu kemudian duduk di sebelah Sasuke, menikmati minuman yang sama. "Temanmu dimana?" tanyanya.
Sasuke mengendikkan kepala ke arah tempat Gaara berdiri. Hinata mengikuti arah pandang Sasuke lalu berkata 'Oh' sebagai respon.
"Siapa nama istri Neji?" tanya Sasuke.
"Ino," jawab Hinata singkat sambil mencoba meraih buah di dalam gelas.
"Kata Neji dia sahabatmu," lanjut Sasuke.
Hinata kini memandangnya. "Iya, dari SMA. Aku senang sekali waktu Neji bilang ingin melamar Ino. Sebenarnya mereka sudah saling suka sejak lama, tapi tidak ada yang berani mengungkapkan lebih dulu. Rasanya tenang sekali melihat sepupu kesayanganmu menikah dengan seseorang yang sudah kau kenal dengan baik. Dan menyenangkan juga saat melihat sahabatmu menikah dengan anggota keluargamu. Semacam tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," jelas Hinata.
Sasuke mengangguk paham. Tidak perlu menghabiskan waktu lama-lama untuk mengenal calon pasangan. Wajar saja Neji bisa mengambil keputusan dengan cepat untuk menikah karena ia sudah mengenal calon istrinya dengan baik.
"Kau bisa berdansa?" tanya Sasuke tiba-tiba.
Hinata tersenyum lalu mengangguk. Mereka kemudian bergabung dengan tamu undangan lain yang sedang berdansa.
"Uchiha-san," panggil Hinata ketika mereka berdansa.
"Sasuke… panggil saja Sasuke."
.
Sasuke melirik jam tangan, sudah waktunya makan siang. Ia meregangkan otot-otot dan sedikit menguap. Pasien hari ini sepi. Ia kemudian berjalan malas keluar ruangan dan tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Oh, maaf," ucapnya spontan. Ia kemudian tampak kaget melihat siapa yang ia tabrak barusan. "Hinata?"
"Ah, Sasuke," sapa Hinata senang. "Sudah lama sekali."
Sejak pernikahan Neji, Sasuke tidak pernah lagi bertemu dengan Hinata. Tapi sedang apa dia di sini?
"Siapa yang sakit?" tanya Sasuke.
"Oh, tidak ada yang sakit. Aku menemani Ino cek kandungan, sepertinya dia hamil," jawab Hinata dengan kegirangan tertahan.
"Neji ada di sini? Dia tidak bilang."
Hinata menggeleng. "Neji sedang ada operasi penting, tidak bisa ditinggal. Dan di sana tidak ada dokter spesialis kandungan. Itu sebabnya dia menyuruh kami kesini."
Sasuke merespon singkat lalu tidak tahu lagi apa yang perlu dikatakan.
"Aku mau ke kantin. Kau mau ikut? Mungkin kita bisa minum kopi," ajak Sasuke.
"Maaf, aku tadi ke toilet sebentar dan sepertinya sudah terlalu lama meninggalkan Ino. Dia pasti mencariku sekarang."
Tampak sedikit kekecewaan di raut wajah Sasuke.
"Mungkin lain kali?" lanjut Hinata.
Sasuke tersenyum. Mereka kemudian bertukar nomor ponsel.
"Sampai jumpa, Sasuke," ucap Hinata lalu kemudian meninggalkan Sasuke.
"Sampai jumpa."
.
"Hey, sudah menunggu lama?"
Sasuke memalingkan pandangannya dari ponsel kepada seorang gadis yang berdiri di dekatnya sebelum mengambil tempat duduk di hadapannya. Padahal baru saja ia ingin mengirim pesan kepada gadis itu bahwa ia sudah sampai di tempat janji mereka dan sedang menunggunya.
"Baru saja," jawab Sasuke sambil tersenyum.
Tidak ada riasan, tidak ada dress mini yang ketat, tidak ada high heels yang membuatnya tinggi menjulang. Sasuke sempat memindai penampilan gadis itu hari ini. Ya, Sasuke memang tidak bilang mau mengajak kencan, cuma mengajaknya minum kopi. Mungkin itu sebabnya gadis ini tidak memikirkan soal penampilannya. Ia hanya mengenakan kaos putih polos lengan pendek dengan outer tanpa lengan berwarna pink soft, celana longgar di bawah lutut dan sepatu kets Adidas berwarna putih. Rambutnya ia kucir. Selalu berbeda setiap mereka bertemu.
Akhir pekan berikutnya mereka membuat janji untuk bertemu lagi. Kali ini Hinata mengenakan blus rajut longgar sepinggul berwarna merah, hotpants, dan Converse. Sepertinya Hinata memang tidak menganggap serius ajakan dari Sasuke. Namun entah mengapa, Sasuke justru merasa begitu nyaman. Gadis itu selalu tampil apa adanya, tertawa riang jika ada sesuatu yang lucu, menghabiskan seluruh makanannya tanpa takut gendut, bahkan tak peduli bagaimana perlakuan Sasuke terhadapnya. Biasanya setelah beberapa kali berkencan, seorang gadis akan bertanya bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Tidak sedikit juga yang menuntut tangannya ingin digenggam ketika jalan berdua. Namun Hinata, tak pernah sekalipun mempersoalkan itu semua. Lagipula bagaimana Sasuke mau menggenggam tangan gadis itu jika selalu saja ada makanan yang dipegangnya. Eskrim, roti isi, kentang goreng, dan lainnya. Sasuke cukup takjub melihat semua makanan itu sama sekali tak mempengaruhi bentuk tubuh Hinata yang…
"Hey, eyes up here, dude!" kata Hinata ketika merasa Sasuke melihat terlalu lama ke bagian bawah tubuhnya.
Sasuke nyengir karena tertangkap basah. Hinata menyuapkan sesendok eskrim ke mulut Sasuke, mencoba mengalihkan perhatian pria itu. Jujur sebenarnya Hinata cukup malu dengan bentuk tubuhnya meski banyak yang bilang semua gadis justru ingin memiliki tubuh seperti dirinya.
"Habis ini kita mau kemana lagi?" tanyanya pada Sasuke.
.
Sasuke berjalan mondar-mandir di pintu depan rumah Neji namun tak cukup berani untuk mengetuknya. Semalam Neji mengirim pesan kepadanya dan mengatakan bahwa pagi ini ia ingin bertemu dengan Sasuke. Karena itu, Sasuke terpaksa membatalkan janji dengan Hinata karena ia panik kalau Neji tahu ia sering pergi bersama Hinata. Ya… sebenarnya bukan masalah besar juga kalau Neji tahu. Tapi ia tidak cukup yakin Neji akan senang dengan hal ini. Bisa saja Neji menyuruh Sasuke ke rumahnya pagi ini untuk menghajar pemuda itu habis-habisan karena sudah berani berkencan dengan Hinata. Entahlah kalau selama ini yang mereka lakukan memang bisa disebut kencan.
Sasuke mengumpulkan keberanian lalu mengetuk pintu, seorang PRT yang membukanya, membuat Sasuke menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Ia diantar ke halaman belakang tempat Neji sedang minum teh bersama istrinya yang hamil muda. Tanpa sadar Sasuke kembali menahan napas.
"Ia sudah datang," kata Ino kepada Neji begitu melihat Sasuke muncul di pekarangan.
Sasuke bertatapan dengan Neji dan lelaki itu tersenyum. Neji tersenyum! Entah karena senang atau karena hal lain, Sasuke belum dapat memastikan.
"Akan kutinggal kalian berdua sekalian mengambilkan teh untuk Sasuke," kata Ino lagi sambil pamit dan meninggalkan Neji berdua saja dengan Sasuke.
"Sasuke, duduklah di sini." Neji menunjuk kursi kosong di sampingnya.
Ragu-ragu, Sasuke menuruti perkataan Neji. Ia mencoba menyamankan diri dan bersikap setenang mungkin. Ekspresinya datar seperti biasa namun dalam hatinya berkecamuk akan banyaknya spekulasi.
"Ada yang ingin kubahas denganmu. Namun ini bukan paksaan, kau boleh memikirkannya terlebih dahulu," Neji memulai.
Sasuke mengangguk sebagai respon dan mendengarkan dengan seksama.
"Ini soal Hinata."
Sasuke merasakan jantungnya hampir melompat dari tempatnya, namun ekspresi di wajahnya tetap tenang meski mulai memucat.
"Aku berjanji pada Paman Hiashi untuk mencarikan suami yang tepat untuk Hinata. Tapi selama ini aku tidak begitu mengenal pria-pria yang dekat dengannya. Ia tidak sering punya hubungan serius dengan seorang lelaki. Aku juga bertanya pada Ino, dan dia bilang Hinata pernah sesekali membahas tentang dirimu padanya."
Jika Neji memperhatikan dengan jelas, bulir-bulir keringat mulai memenuhi pelipis Sasuke.
"Sasuke…" panggil Neji serius.
Sasuke tidak menjawab namun Neji tahu ia sedang menyimak.
"Kau adalah salah satu orang baik yang aku kenal cukup dekat. Dan karena kau juga sudah kenal dengan Hinata, ya… mungkin kau…" Neji bingung memilih kata-kata yang tepat untuk disampaikan. "…mau memikirkan untuk menikahi Hinata." Akhirnya Neji berhasil menyelesaikan kata-katanya.
Entah Sasuke sadar atau tidak, sebuah senyuman kini tersungging di bibirnya. Ini tidak semenakutkan yang ia kira. Neji justru setuju jika Sasuke punya hubungan yang serius dengan Hinata.
"Aku akan menikahinya," janji Sasuke.
Neji tampak kaget. "Benarkah? Kau tidak mau memikirkannya terlebih dahulu?"
"Kau tahu, karena ini aku sampai membatalkan kencanku dengan Hinata. Sekarang aku akan menjemputnya."
Sasuke berdiri lalu meninggalkan Neji yang masih terlihat bingung. Ia ingin menghentikan Sasuke dan bertanya apa maksudnya dengan kencan bersama Hinata. Apa mereka memang sudah lama berkencan? Bagaimana mungkin Neji bisa tidak tahu?
Sasuke melangkah mantap ke depan pintu rumah Hinata dan mengetuknya tanpa ragu. Ia berharap yang membuka pintu adalah Hinata, bukan PRT seperti di rumah Neji barusan. Benar saja. Hinata membuka pintu dengan wajah cemberut. Sepertinya kesal karena Sasuke membatalkan janji tiba-tiba. Namun begitu melihat Sasuke yang berdiri di ambang pintu, raut wajahnya langsung berubah dan ia menggumam senang.
"Sasuke?" Hinata memandang pemuda itu, tak percaya bahwa orang yang sudah membatalkan janji dengannya kini berada di depan pintunya.
Sasuke menunjukkan sebuah cincin ke hadapan Hinata. "Maukah kau menikah denganku?" pintanya.
Saking senangnya Hinata melompat dan memeluk Sasuke. Sasuke menangkap Hinata dan membiarkan kakinya menggantung di udara.
Pelukan pertama Sasuke dan Hinata.
Hiashi ingin tahu ada kegaduhan apa di depan pintu dan melihat putrinya dipeluk dengan bebas oleh seorang pemuda. Ia berdehem, menarik perhatian dua muda mudi itu. Sasuke buru-buru menurunkan Hinata lalu menggumamkan maaf kepada ayahnya. Hiashi tampak tidak senang. Namun setelah menjelaskan maksud dari kedatangan Sasuke siang itu, Hiashi menerima Sasuke dengan tangan terbuka dan mengizinkan pemuda itu untuk meminang putrinya.
Tidak butuh waktu lama untuk pendekatan dua keluarga karena Hiashi tahu bahwa calon menantunya adalah teman baik keponakannya. Dan orang tua Sasuke juga tahu bahwa calon menantu mereka adalah sepupu dari sahabat anak mereka. Hanya dalam tiga bulan resepsi pernikahan pun diselenggarakan. Sasuke kini merasakan kegugupan yang pernah dialami Neji. Ia bahkan merasa jauh lebih gugup. Gaara dan Neji ada untuk mendampinginya, Ino juga ada meski sedang hamil besar.
Kegugupan itu tetap ia rasakan ketika berdiri di altar. Dia bahagia sekaligus gugup luar biasa. Ia sampai berkali-kali mengeringkan telapak tangannya yang berkeringat. Namun begitu melihat Hinata berjalan ke altar didampingi oleh ayahnya, Sasuke merasa mantap. Ia yakin inilah jalan hidupnya. Begitu ia menggenggam tangan Hinata setelah dilepas oleh ayahnya, dan ketika ia melihat senyum yang terukir di wajah calon istrinya, Sasuke yakin, wanita inilah yang akan mengisi kehidupannya dengan berbagai hal yang luar biasa. Keyakinan itu semakin besar saat ia mencium mempelai wanitanya.
Ciuman pertama Sasuke dan Hinata.
Di awal-awal pernikahan mereka habiskan dengan mencari rumah yang cocok untuk ditinggali. Sementara ini mereka tinggal bersama Fugaku dan Mikoto. Hiashi sama sekali tidak merasa keberatan meskipun kadang-kadang masih ingin berada di dekat putrinya. Begitu mendapatkan rumah idaman mereka langsung pindah dalam dua minggu.
Hinata benar-benar tahu cara menjadi ibu rumah tangga. Semua pekerjaan rumah ia kerjakan sendiri tanpa bantuan PRT. Ia beranggapan masih belum membutuhkannya. Saat Sasuke pulang tak jarang ia mendapati dapur yang berantakan seperti habis dilempar granat. Namun makanan juga tersedia di atas meja dan Hinata selalu sudah rapi dan bersih untuk menyambutnya. Masalah dapur bisa ia bereskan nanti, katanya. Meski awalnya tidak seenak masakan Mikoto namun Sasuke tak pernah protes. Ia selalu menghabiskan semua makanan yang sudah dimasak oleh Hinata. Dari hambar, asin, manis, pedas, gurih, semuanya pernah dicicipi oleh Sasuke. Semakin lama masakan Hinata semakin enak untuk dinikmati. Rasanya pas walau belum sempurna. Tapi Sasuke yakin suatu hari nanti rasa masakan Hinata akan setara dengan masakan ibunya.
Hinata selalu ada, bahkan di saat tersulit. Ia akan memangku kepala Sasuke dan membelai rambutnya saat Sasuke merasa penat setelah bekerja, ia akan bangun dan menemani Sasuke jika terjaga di malam hari, ia akan memeluk Sasuke dan mengelus-elus punggungnya sampai Sasuke tertidur, dan masih banyak lagi yang Hinata lakukan untuknya.
Setahun lebih setelah menikah, akhirnya Hinata mengandung. Sasuke hampir saja melompat kegirangan ketika menemukan hasil foto USG di dalam tas bekal makan siangnya. Hinata ingin memberinya kejutan, dan istrinya berhasil melakukannya. Begitu tiba di rumah ia langsung memeluk dan mengangkat Hinata tinggi-tinggi. Terlalu bahagia untuk berkata-kata dan ia pun tak bisa menemukan kata yang cocok untuk mengungkapkan kebahagiaannya.
Awal-awal kehamilan tidak banyak perbedaan yang dialami Hinata. Namun beranjak lima bulan banyak hal yang berubah. Hinata akan sering tertidur saat mereka sedang asyik mengobrol. Sasuke akan menggendong dan memindahkannya ke kamar. Memakaikannya selimut yang hangat saat cuaca sedang dingin. Terkadang ia juga sering terjaga di malam hari. Sasuke akan menemaninya sambil mereka menonton TV atau sekedar membahas persiapan kelahiran bayi mereka. Hinata mulai sering merasa pegal di kakinya dan Sasuke akan selalu memijatnya. Tak jarang Hinata akan tertidur saat melakukan itu semua. Pernah juga ketika sedang mengobrol tiba-tiba ia terdiam. Sasuke memandangnya heran dan bertanya.
"Ada apa, Sayang?"
Hinata masih diam lalu melihat jam di dinding. Sasuke mengikuti arah pandangnya dan kembali bertanya dengan menggenggam tangannya.
"Katakan saja kau mau apa, hmm?" Sasuke yakin Hinata sedang mengidam sesuatu.
"Aku ingin Red Velvet," jawab Hinata.
Sasuke kembali melihat jam, sudah hampir pukul sembilan malam. Apakah mungkin masih ada pastry yang buka di jam segini?
"Tunggu sebentar, biar aku beli."
Hinata ingin menahan Sasuke namun ia sudah bangkit untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia berkendara dengan ngebut, berharap masih bisa mengejar sebelum toko tutup. Ia melihat satu persatu pastry namun kebanyakan sudah pada tutup. Namun ia tetap menyusuri jalan, berharap masih ada yang buka. Sasuke segera memarkirkan mobilnya ketika melihat sebuah pastry yang sebenarnya sudah tutup namun masih ada karyawannya yang sedang bersiap-siap untuk pulang. Sasuke turun dari mobilnya dan menggedor-gedor pintu toko.
"Maaf, Tuan, kami sudah tutup," kata karyawan pastry.
"Tolong, istriku sedang hamil," pinta Sasuke.
Karyawan pastry tak tega dan akhirnya menerima kedatangan Sasuke untuk membeli sebuah cake Red Velvet yang syukurnya masih ada. Sasuke menggumamkan banyak terima kasih lalu buru-buru masuk ke mobil dan kembali ke rumah. Setibanya di rumah Sasuke langsung memotong cake tersebut untuk Hinata. Namun hanya satu potong saja yang dihabiskan olehnya. Ia bilang sudah cukup dan ingin pergi tidur. Sasuke mengangguk paham kemudian menyimpan sisa Red Velvet ke dalam kulkas. Mungkin Hinata ingin memakannya lagi besok. Tapi keesokan harinya Hinata bilang ia tidak mau lagi memakan cake tersebut. Melihatnya saja sudah membuat Hinata mual. Sasuke hanya bisa tertawa. Ini memang sudah cukup sering terjadi, namun Sasuke tak pernah marah. Ia bisa membawa sisanya ke rumah sakit dan memberikannya kepada perawat yang bertugas. Mereka selalu senang jika Sasuke membawakan sesuatu untuk mereka.
"Kami harap kau punya anak sebelas, Dokter," canda para perawat setiap mendapatkan makanan yang harusnya untuk Hinata namun ia malah mual setelah memakannya. Sasuke hanya balas tersenyum pada mereka.
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari terbangun di pagi hari dan memandangi istri dengan perutnya yang semakin membesar. Sasuke selalu menyukai momen ini. Ia akan memperhatikan Hinata yang mondar-mandir dari ranjang. Apalagi saat Hinata berdiri di dekat jendela yang terbuka. Dengan dress longgar dan rambutnya yang disanggul, sosoknya tampak begitu memukau. Tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah, meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Sasuke melompat dari ranjang dan segera membawa Hinata ke rumah sakit. Sepertinya ini adalah hari yang sudah mereka tunggu-tunggu.
Persalinan berjalan normal, Hinata juga baik-baik saja meski harus tinggal sehari untuk dirawat demi kepulihan. Saat perawat membawa anak mereka yang sudah dimandikan dan dibedong, Sasuke tak mampu mengalihkan perhatian dari buntalan kecil itu.
"Anak Anda laki-laki, Dokter. Selamat!" ucap perawat seraya menyerahkan bayi tersebut untuk digendong ayahnya.
Ayah. Sasuke sekarang sudah jadi seorang ayah. Ia menerima bayi mungil itu dengan hati-hati. Ia belum berpengalaman menggendong bayi namun tak kuasa untuk menolak bayi yang sekarang berada di tangannya. Sasuke takjub melihat si kecil. Matanya hitam legam seperti matanya, namun rambutnya biru keunguan seperti milik ibunya. Bayi itu tertawa, seperti menyadari bahwa itu adalah ayahnya. Sasuke terharu, rasanya ingin menangis bahagia saat jari telunjuknya digenggam oleh bayinya. Hidupnya kini sempurna. Bayinya sehat dan ASI-nya tercukupi.
Uchiha Kento, nama yang dipilih Sasuke untuk bayinya. Kehadirannya membuat rumah semakin ramai. Tangisnya di tengah malam, celotehnya di siang hari, tawa riangnya saat bermain. Sasuke terus mengikuti tumbuh kembang anaknya. Namun seperti kebanyakan anak laki-laki, mereka cenderung lebih dekat dengan ibunya. Sasuke iri. Saat tidur bertiga Kento selalu memeluk ibunya. Ia ingin dipeluk juga.
"Jangan khawatir," ucap Hinata suatu hari. "Anak laki-laki memang kebanyakan seperti itu. Semoga saja yang ini perempuan supaya dia lebih dekat padamu," lanjut Hinata sambil menepuk-nepuk pelan perutnya.
Sasuke tak paham apa maksudnya. Namun akhirnya ia mengerti, istrinya hamil lagi! Sempurna, hidup Sasuke semakin terasa sempurna ketika bayi kedua mereka lahir. Benar saja, kali ini perempuan. Rasanya seperti mengalami dejavu ketika mengingat kedua bayinya sangat mirip saat lahir. Sasuke bahagia luar biasa, benar-benar tidak tahu harus disampaikan dengan cara bagaimana.
Keduanya tumbuh sehat dan cerdas. Selalu akur meski sesekali bertengkar karena mainan. Namun keduanya saling menyayangi dan sulit untuk dipisahkan. Hinata benar, Uchiha Kaiya, putrinya, lebih sering bermanja-manja pada Sasuke. Namun Hinata tidak iri sepertinya. Karena saat Sasuke bekerja sudah pasti Kaiya akan menempel pada ibunya.
Sepuluh tahun yang indah dan penuh kebahagiaan. Bukan hanya bagi Sasuke tapi juga bagi istri dan kedua anaknya. Mereka sangat dijaga, dilindungi, dikasihi. Sasuke adalah suami siaga dan ayah yang baik. Jika anak-anak sakit ia sendiri yang akan menanganinya. Ia juga mengajarkan beberapa hal kepada Hinata untuk merawat anak-anak ketika mereka jatuh sakit. Saat akhir pekan Sasuke akan menemani anak-anak bermain saat Hinata sibuk mempelajari buku resep masakan untuk membuat makanan yang belum pernah mereka makan sebelumnya. Mereka selalu bergantian menerapkan disiplin dan membela ketika anak-anak berbuat nakal. Namun mereka tak pernah bertengkar karena hal itu.
Tapi karena satu hal, semuanya seakan jungkir balik. Sasuke memang berjalan menuju masa depan, namun seperti ada belenggu di kakinya yang terus mengingatkannya pada masa lalu. Sasuke perlahan mulai lupa, namun sepertinya waktu dua belas tahun belumlah cukup lama untuk melupakan enam tahun yang juga begitu istimewa. Ia hampir saja melepas belenggu tersebut saat sebuah telpon masuk merusak semuanya.
"Sasuke?"
"Sakura?"
"Kau masih ingat aku?"
"Bagaimana aku bisa lupa."
Sasuke terbangun dari tidurnya. Pukul empat pagi. Ia mengusap wajahnya dan menghembuskan napas. Sudah beberapa malam dia memimpikan hal yang sama. Awal perkenalannya dengan Hinata, pertama kali mereka berkencan, saat ia melamar Hinata, pernikahan mereka, lahirnya kedua anak dan bagaimana mereka membesarkan keduanya. Dan mimpi-mimpi itu selalu diakhiri dengan saat Sasuke menerima telpon dari Sakura. Setelah itu mimpinya berakhir dan ia pun terbangun. Inilah mengapa Sasuke memilih untuk terus terjaga, ia mulai terganggu dengan mimpi-mimpi itu. Bukan, bukan bagian yang ada Hinata dan anak-anaknya. Tapi bagian dia mengangkat telpon dari Sakura. Seakan-akan ada yang ingin memberitahunya bahwa itulah yang menyebabkan ini semua.
Seandainya saja Sasuke tak mengangkat telpon itu, maka tidak akan seperti ini. Seandainya pun Sasuke mengangkat telpon namun tak mengindahkan ajakan dari Sakura, semua ini tak akan terjadi. Terlalu banyak seandainya yang dipikirkan Sasuke, tapi semuanya sudah terlambat. Sekarang ia hanya perlu fokus pada kesembuhan Hinata, tapi kapan Hinata akan sadar?
Sudah hampir empat minggu, masih belum ada kemajuan apapun, tidak ada perubahan sama sekali. Bukan hanya resah, namun Sasuke mulai putus asa. Ia tidak akan letih menunggu sampai kapanpun itu, asalkan memang ada tersisa secercah harapan bagi Hinata untuk siuman. Masalahnya semua orang telah sepakat. Jika sudah lewat lima minggu dan Hinata masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran, maka mereka akan mulai berdiskusi untuk menentukan nasib Hinata selanjutnya. Saat percakapan ini terjadi Sasuke hanya diam. Ia tidak memberikan pendapat apapun, dia tidak mau jika rumah sakit lepas tangan akan Hinata. Dia tidak mau sungguh.
Sasuke merunduk, menumpukan kepala di kedua tangannya yang terlipat di sisi ranjang Hinata. Ia memejamkan mata, kemudian menangis.
.
Mungkin kesannya saya update cerita ini buru-buru, ya? Tapi ya anggap aja kayak baca satu buah buku. Kalo capek berenti, trus nanti lanjut lagi hahaha.
Haloo Bernadette Dei ^^ Buat yang nanya tentang Sakura, mungkin doi bakalan muncul lagi nanti. Makasih buat ve dan Carlyy yang udah mau berbagi cerita ^^ Kayaknya chapter lalu cukup menguras emosi ya. Jadinya di chapter ini saya buat santai-santai dulu. Dan selalu ada yang bisa nebak saya bakalan bikin apa. Ada yang mau nebak lagi kira-kira di chapter depan saya buat apa? I'll wait it on the review list ^^ Maacih buat semua pembaca :*
