Juugo ditemani Genma pergi menemui Ayano. Misao membungkuk mempersilahkan keduanya masuk ke ruangan Ayano. Juugo cemas karena Ayano tampak pucat. Ia mendekati Ayano.

"Maafkan Ayah... Karena Ayah kau sampai seperti ini"

Ayano tersenyum memegangi tangan Ayahnya. "Aku baik-baik saja Ayah. Terimakasih ayah sudah menyelamatkan ku" kata Ayano tulus lalu berbalik melihat Genma. "Paman.. Apa paman akan mengirim Kazuma ke tempat pengasingan? Bukankah itu sedikit keterlaluan?"

Juugo terkejut. Ia tak tau tentang rencana Genma. Genma menghela nafas sesaat. "Kita tidak punya pilihan lain. Dia bisa membahayakan nyawa Ayah mu dan diri mu"

Ayano kembali teringat tatapan Kazuma yang penuh kebencian. Perkataan Genma memang benar. Mata Ayano berkaca-kaca. Genma melihat Ayano. Bagaimana pun ia tau perasaan Ayano pada Kazuma lebih dari perasaan seorang saudara hanya dengan melihat aksinya kemarin. Ia berdiri membelai lembut rambut Ayano.

"Tindakan mu sangat berbahaya. Kelak jangan pernah melakukan hal itu lagi" ujarnya lalu pergi dari ruangan Ayano. Juugo bingung. Ia mengikuti Genma dan bertanya mengenai rencana pengasingan Kazuma. Juugo tak setuju. Baginya Kazuma hanya emosi sesaat. Genma berkata "Orang yang mencoba membunuh mu adalah putra ku! Dia harus di hukum. Apa kau pikir orang lain akan diam saja jika melihat orang bersalah berkeliaran bebas. Sebagai seorang Ayah melakukan hal itu memang berat tapi sebagai seorang penegak hukum melakukan hal itu adalah sebuah kewajiban" ujar Genma lalu berjalan lagi. Juugo tak bisa berbuat apa-apa. Ia tau adiknya itu sangat keras kepala dan patuh pada peraturan. Percakapan keduanya ternyata didengar Ayano. Ayano terpukul. Ia bisa merasakan beratnya tindakan yang dilakukan pamannya itu. Misao masuk ke dalam mencoba menghiburnya. Ayano kembali bertanya.

"Apa kau tau kapan dia akan pergi?"

Misao menghela nafas. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Ayano. "Nona..."

"Katakan kapan mereka akan membawanya pergi?"

"Mereka akan membawa Tuan Kazuma pergi hari ini. Apa anda berniat menemuinya setelah apa yang terjadi semalam?"

"Ya aku harus menemuinya untuk yang terakhir kali. Dia harus pergi melihat Tsui Ling (pemakaman Tsui Ling)" kata Ayano. Misao kesal. "Nona sadarlah. Tuan Kazuma bisa membunuh anda kapan saja dia bukanlah tuan Kazuma yang dulu. Dimana akal sehat anda nona? Apa anda tidak bisa melihat bahwa perasaan anda tidak mungkin terbalas. Berhenti memikirkan dia. Lihatlah diri anda sendiri, anda hampir mati karena dia. Tapi apa dia perduli?"

Ayano ingin menyangkalnya tapi tak bisa. Semua perkataan Misao memang benar. Kazuma yang sekarang bukanlah Kazuma yang dulu ia kenal.

"Setidaknya meskipun aku tidak bisa menemuinya aku mohon bawalah dia menemui Tsui Ling untuk yang terakhir kalinya dan berikan ini padanya" Ayano menyodorkan amplop pemberian Tsu Ling untuk Kazuma. Ia meminta agar Misao memberikan amplop itu pada Kazuma.

"Tapi itu semua diluar kendali ku nona.."

Ayano tetap memohon pada Misao agar melakukan sesuatu untuk bisa membiarkan Kazuma melihat pemakaman Tsui Ling meskipun hanya sebentar. Misao putus asa. Ia menuruti permintaan Ayano lalu menelpon Nanjou untuk membawa Kazuma pergi ke pemakaman Tsui Ling tapi ia tak bisa menyerahkan amplop itu sekarang. Ia baru bisa menyerahkan amplop itu ketika Kazuma sudah berada dipengasingan. Ayano tak keberatan baginya yang terpenting sekarang Kazuma bisa melihat proses pemakaman Tsu Ling.

Nanjou serta haruto membawa Kazuma ke tempat pengasingan. Ia melihat Kazuma dengan tatapan sedih. Sahabatnya yang dulu ceria dan penyayang kini berubah menjadi menyedihkan dan menakutkan karena kematian Tsui Ling. Nanjou menerima telfon dari Misao. Awalnya ia tak setuju tapi ketika tau itu permintaan Ayano. Ia menyanggupinya.

"Sampai disana kau harus belok ke kiri" ujar Nanjou. Haruto bingung. "Kita mau kemana? Itu bukan arah yang akan kita tuju!" Haruto protes tapi Nanjou meminta untuk menuruti saja perkataannya sedangkan Kazuma hanya diam ia tampak tak peduli kemana mereka berdua ingin membawanya.

Beberapa saat kemudian ketiganya tiba di sebuah pemakaman. Nanjou meminta Haruto untuk membawa Kazuma keluar selanjutnya ia sendiri yang akan membawa Kazuma.

Haruto mengerti. Nanjou membimbing Kazuma melihat proses pemakaman Tsui Ling. Tubuh Kazuma bergetar. Ia menangis kemudian berteriak agar orang-orang itu berhenti menaburkan tanah. Kazuma semakin tak terkendali. Nanjou berusaha menahannya hingga orang-orang itu selesai melakukan pekerjaan mereka dan pergi dari situ.

"Kau pernah bilang tidak akan meninggalkan ku! Tapi kenapa kenapa..." Kazuma berteriak sambil terisak dibatu nisan Tsui Ling. Nanjou sedih melihatnya.

"Aku bersumpah akan membuat Juugo sama menderitanya dengan mu.. Dia akan merasakan rasanya kehilangan orang yang berharga untuknya lalu aku juga akan membunuhnya!" seru Kazuma. Nanjou mendekatinya. Ia resah. "Aku tau kau sangat kehilangan. Tapi apa kau sadar hanya untuk menolong mu nona bahkan berani mengambil tindakan yang membahayakan nyawanya? Apa kau tau kalau nona yang meminta ku untuk mengantar mu kesini? Dimana letak kesalahan nona? Kau juga tau jika tuan tidak pernah berniat membunuh Tsui Ling. Sadarlah Kazuma. Nona sangat mencintai mu. Ia sangat terpukul melihat keadaan mu.. Kau bukanlah satu-satunya orang yang paling menderita.. Apa kau tidak bisa melihat betapa menderitanya Nona? Jangan membuat diri mu lebih menderita lagi"

Kazuma tetkejut Mendengar perkataan Nanjou, namun Kazuma sedang gelap mata. Ia sudah tak peduli. Disela tangisnya Kazuma tertawa menyeringai. "Dia mati atau tidak itu tidak ada hubungannya dengan ku. Bagi ku dia adalah putri seorang pembunuh!"

Nanjou melihat kilatan kebencian yang amat besar terpancar dari mata Kazuma. Ia menghela nafas panjang.

"Pergilah... Pergilah dari sini.. Lupakan semua kenangan buruk mu.. Dan hiduplah bahagia.."

Kazuma tertegun. Nanjou menyuruhnya segera pergi dari situ. Nanjou sangat menyayangi Kazuma layaknya seorang adik. Ia tidak ingin Kazuma diasingkan karena bagaimana pun juga menurutnya itu tak adil untuk Kazuma. Kazuma tetap diam ditempat. Nanjou mengeluarkan senjatanya lalu menembakannya sebanyak 5 kali dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang kacau.

Haruto berlari ke arah Nanjou. Ia mendengar suara tembakan.

"Apa yang terjadi? Dimana tuan Kazuma?" Tanyanya kebingungan karena melihat Nanjou kembali sendirian.

"Dia sudah pergi menyusul kekasihnya."

"Apa kata mu? Apa kau gila? Bagaimana bisa kau membiarkan itu terjadi?"

Nanjou kesal dan membentak Haruto. "Jika orang yang sangat penting untuk mu sudah tak berada didunia ini apa kau bisa terus menjalani hidup mu? Aku yang akan bertanggung jawab mengenai hal ini" Haruto tertegun ia tak bisa berkutik.

Berita meninggalnya Kazuma telah tersebar dengan cepat. Nanjou sekarang sudah berada diruangan Genma. Ia bertanya dimana Jasad Kazuma. Nanjou menjawab bahwa setelah Kazuma bunuh diri ia menjatuhkan dirinya dan ikut terkubur bersama Tsui Ling. Genma sangat sedih. Ia marah.

"Bagaimana bisa kau membawanya kesana hah?" tanyanya emosi. Ia mencengkram kerah baju Nanjou.

"Aku membawanya atas permintaan nona. Maafkan aku Tuan" ujar Nanjou. Genma melepas cengkramannya.

"Keluar dari sini. Apa pun yang ku lakukan itu tak akan bisa membuat putra ku hidup kembali" Genma menangis dalam diam. Nanjou melihat itu ia merasa bersalah dan ikut sedih. Namun ia tak punya pilihan lain.

Sudah 3 hari lamanya dirawat dirumah sakit Ayano pun diperbolehkan pulang. Misao merapikan tempat tidur Ayano lalu menyiapkan air hangat untuk Ayano.

"Nona air hangatnya sudah siap" ujar Misao.

Ayano duduk terdiam ditepi ranjangnya sambil memandang keluar jendela dengan pandangan kosong. Misao berjalan mendekatinya. Ayano berbalik kehadapannya. "Aku ingin tau bagaimana kabarnya. Apa yang sedang dia lakukan sekarang?"

Misao bingung harus menjawab apa. Ia juga bingung bagaimana caranya memberitahu Ayano tentang kabar Kazuma yang dikiranya sudah meninggal 3 hari yang lalu. "Sebaiknya anda mandi dulu nona. Sebelum airnya dingin"

"Ya" jawab Ayano singkat. Beberapa menit kemudian Ayano keluar. Ia sudah selesai mandi. Misao menyiapkan baju untuknya lalu menyisir rambut Ayano. Ayano hanya diam saja seperti tak bernyawa. Seorang maid datang membawa makanan untuknya.

Maid itu meletakan makanan serta beberapa buah-buahan. Ia membungkuk lalu berkata "Nona aku turut berduka atas meninggalnya Tuan Kazuma"

"Degh" jantung Ayano berdegub kencang. Ayano mencondongkan tubuhnya ke arah maid itu. Misao terkejut. Ayano kembali bertanya pada maid itu memastikan pendengarannya tidak salah.

"Saya turut berduka atas meninggalnya tuan Kazuma" Maid itu mengulang perkataannya lalu pergi dari situ. Kali ini Ayano yakin pendengarannya tidak salah. Ia berbalik menatap tajam Misao.

"Apa itu benar Misao?"

"Nona.."

"Jawab aku! Apa Kazuma sudah meninggal?" tanyanya dengan perasaan marah, sedih, kecewa dan putus asa, semuanya bercampur jadi satu. Perasaan Ayano benar-benar kacau sekarang. Misao tak sanggup menjawab. Ayano segera pergi ke ruangan Juugo. Misao mengikutinya. Disitu juga ada Genma. Ia berteriak pada keduanya. Ia sudah tak peduli jika tindaknya itu dinilai tidak sopan.

"Ayah .. Paman.. Apa benar Kazuma meninggal?"

Juugo tak bisa menjawab. Genma membenarkan pertanyaan Ayano. Ayano jatuh terduduk. Air matanya keluar begitu saja dengan derasnya. Juugo sedih melihat reaksi putrinya. Ia meminta Misao serta Nanjou membawa Ayano pergi dari situ.

"Misao.. Kenapa.. Kenapa kau tidak bilang pada ku kenpa?" Ayano menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar terpukul. Nanjou dan Misao menghela nafas.

"Maafkan aku nona... Aku terpaksa melakukannya" batin Nanjou.

TBC