LET ME IN (Chapter 4)
PDA Presents
A/N: I'm telling you. This is a warn. Prepare yourself for 5034 words #chill
.
.
.
I'm thinking of you in my sleepless solitude tonight
If its wrong to love you
Then my heart just won't let me be right
-oOo-
Jeonghan mengeratkan kain wol tipis yang membalut tubuh kurusnya malam itu. Yang dilakukannya sekarang adalah menunggu, menyandarkan punggung pada dinding penyekat antara lorong Mansion dengan kamar-kamar dibaliknya. Ada janji temu antara dirinya dan Seungcheol pukul 9 malam ini. Tapi hingga jarum jam menuju ke 10, pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Bersabarlah, Yoon Jeonghan... Sebentar lagi dia pasti datang."
Kalimat-kalimat berintuisi baik itu tak berhenti ia gumamkan. Tak ada yang membantunya merasa lebih baik kecuali tetap berpikiran positif.
Kaki rampingnya mulai terasa pegal setelah berdiri 1 jam diluar. Jeonghan memutuskan untuk duduk bersandar diambang pintu, menutup mata sejenak sambil memeluk lututnya yang dingin.
"Maaf, aku terlambat."
Suara berat itu terdengar terengah di awal, terlihat jelas pria dengan setelan mahal itu usai berlari untuk sampai ke lantai ini. Mata Jeonghan terbuka lebar, kedatangan Seungcheol membuatnya merasa seperti dihujani jutaan konfeti warna-warni. Jeonghan pikir ia hanya... bahagia.
"Kau tepat waktu, Dear."
Jeonghan mendekat, kemudian jemarinya mengusap kening Seungcheol yang sedikit berpeluh. Ia seakan lupa bagaimana dinginnya berdiri di lorong ini, jenuhnya menunggu seorang diri, atau kaki-kaki pegalnya yang sempat membuatnya mengeluh.
Pemuda berambut panjang itu tersenyum lembut, menghipnotis Seungcheol sesaat seolah dunia tak menyediakan lagi udara untuk ia hirup selain hembusan nafas Jeonghan yang semakin intens menerpa pori-pori wajahnya. Bibirnya dan bibir Jeonghan kini hanya menyisakan jarak 2 senti sebelum benar-benar menyatu.
"Jeonghan,"
Ciuman itu... Gagal.
Seungcheol menahan pinggul ramping Jeonghan untuk menunda ciuman mereka yang hampir terjadi diambang pintu.
"Sebaiknya kita masuk sebelum ada orang yang melihat."
.
.
.
Jeonghan terbangun setelah 30 menit -hampir- terlelap dibalutan selimut bersama Choi Seungcheol disampingnya. Mata kristalnya mengerjap pelan, dan siluet pertama yang ia lihat adalah pria dengan surai gelap dan paras tampan yang damai dalam tidurnya.
Mereka bercinta dengan lembut beberapa saat lalu. Jeonghan meminta untuk bersetubuh dengan alur yang pelan karena Seungcheol masih punya meeting penting besok pagi. Ia bisa saja melayani kekasihnya dengan lebih liar seperti biasa, namun tak adil jika Seungcheol harus kehilangan banyak energi sedangkan pria itu tak memiliki libur sama sekali meski penanggalan mengatakan jika besok adalah hari Minggu. Itu artinya, Jeonghan harus menghabiskan akhir pekannya sendiri tanpa Seungcheol, setidaknya setengah dari akhir pekan yang dimiliki pria itu karena mereka masih harus membaginya.
Membagi waktu untuk dirinya disini dan keluarga kecil Choi dirumah itu.
Jeonghan merapatkan pejaman matanya menahan pening yang tiba-tiba menyerang. Terkadang kenyataan itu datang menamparnya untuk sadar bahwa ia hanyalah orang ketiga di cerita ini, pemeran pembantu dalam drama roman picisan seorang Choi Seungcheol.
Jeonghan segera menyingkap selimut dan bangkit dari baringannya, yang berarti sama hal dengan menyingkirkan pemikiran-pemikiran gila tentang tersiksanya menjadi seorang antagonis di dunia nyata. Tak ada gunanya menangisi nasibnya yang malang karena bagaimanapun, Jeonghan juga pernah tertawa diatas tangisan orang lain. Mungkin istri Seungcheol pernah menangis disuatu malam karena pria itu jarang pulang kerumah mewah Choi terhitung sejak 2 bulan belakangan ini.
Jeonghan mengikat tali kimono sutranya sambil berjalan menuju counter dapur. Jam analog di dinding ruang tengah masih menunjukkan pukul 2 pagi. Sebenarnya Jeonghan punya beberapa jam untuk tidur sebelum menyiapkan sarapan dan mengantarkan Seungcheol pergi sampai diambang pintu. Tapi matanya sama sekali tak mengantuk dan Jeonghan juga ingat, ia masih memiliki tugas menulis laporan untuk kerja ilmiahnya minggu ini.
Tiba-tiba kekehan kecil meluncur begitu saja dari bibirnya, mengingat seorang pengusaha sukses berusia 35 tahun bernama Choi Seungcheol kini berselingkuh dengan mahasiswa biasa berusia 20 tahun. Ini terdengar sungguh... lucu. Jeonghan tertunduk menertawai statusnya sebagai selingkuhan pria kaya sambil berusaha menuang air dingin ke gelas kaca.
Dahaganya mulai terurai setelah meneguk seperempat gelas air. Namun sepertinya secangkir kopi adalah pendamping paling pas untuk menulis 2 lembar laporan saat dini hari. Jeonghan menuang 1 sendok kopi dan 2 sendok gula kemudian menyeduhnya dengan air panas dari dispanser. Asap kopi mengepul dari mug bergambar Perry Platipus kesayangannya, meniupkan aroma khas yang membuat Jeonghan bersenandung kecil sambil mengeluarkan beberapa alat tulis dari tasnya. Ia menarik kursi diruang makan dan mulai membuat garis pembatas pada kertas laporannya sebelum merangkaikan kata-kata.
Jeonghan menyelesaikan selembar essaynya hanya dalam waktu 15 menit. Sisa 1 lembar lagi dan mungkin setelah itu ia bisa pergi tidur atau menonton tv diruang tengah jika benar-benar tidak mengantuk. Ia tidak ingin menganggu tidur Seungcheol jika hanya ingin berbaring uring-uringan disamping kekasihnya. Yang ada, Jeonghan tak bisa menahan diri untuk tidak membelai wajah Seungcheol atau meniup-niup kecil telinganya.
Jeonghan kemudian terkekeh sambil memutar-mutar pena dijari, membayangkan wajah terganggu Seungcheol tiap kali tangan jahilnya menginterupsi tidur nyenyak pria itu. Semuanya akan berakhir ketika Seungcheol harus terbangun kemudian memeluk Jeonghan dengan posesif dan manja, mengunci tubuh ramping pemuda itu agar berhenti menganggu tidurnya. Meski dibalik selimut, Seungcheol sama sekali tak melanjutkan tidur melainkan menyambut ciuman-ciuman panas yang ditawarkan Jeonghan padanya.
Jeonghan mengingat semuanya dengan jelas, sangat jelas sampai-sampai ia bisa memutar kembali memori itu kapanpun ia menginginkannya.
Jam analog berdetak dimenit-menit menuju pukul 3 dan Jeonghan hampir menyelesaikan seluruh laporannya. Pemuda itu berhenti menulis sejenak untuk mengikat surai panjangnya kebelakang dan stretching ringan untuk meregangkan otot-ototnya. Saat Jeonghan memiringkan kepala ingin memijat pundak kanannya yang pegal, tiba-tiba dua tangan besar dan kokoh mendarat dikedua bahu Jeonghan dan bergerak memijatnya dengan telaten.
"Ahh..."
Jeonghan meringis kecil, Seungcheol menekan tepat dimana nyeri dipundaknya berasal dengan pijatan-pijatan yang lambat laun melemaskan persendian kakunya.
"Ahh... Berhenti, Dear... Mestinya aku yang melakukan ini padamu."
Tangan Jeonghan berusaha menghentikan pergerakan Seungcheol namun pria itu tidak mengindahkannya. Bibir Seungcheol kemudian mendekat untuk membisikan sesuatu tepat ditelinga kiri Jeonghan.
"Aku senang melihatmu serius saat belajar. Aku mencintaimu."
Light kiss dari Seungcheol mendarat lembut dipipi pucat Jeonghan, menyisakan rona kemerahan serta panas yang tiba-tiba menjalar diwajah pemuda feminim ini.
"Kau mau... kopi?"
Jeonghan sedikit terbata saat berusaha mengalihkan pembicaraan agar rasa gugup dan kikuknya sedikit berkurang.
"Ide bagus."
"Baiklah, akan kubuatkan un-..."
"Tidak usah. Aku minum sedikit punyamu saja."
Seungcheol kemudian menarik kursi disamping Jeonghan dan menyereput kopi dari mug Perry milik kekasihnya. Suhunya memang sudah tidak terlalu hangat namun meminum kopi milik Jeonghan dari gelas yang sama membuat Seungcheol berpikir ini adalah kopi ternikmat yang pernah ia cicipi.
"Bagaimana laporannya?"
"Sudah hampir selesai."
Jeonghan membalas senyum Seungcheol dan sebagai imbalan, ia mendapat usapan lembut diatas kepala dari pria disampingnya. Tuhan mendengar bagaimana senandung syukur Jeonghan jabarkan dalam hatinya tanpa henti karena Choi Seungcheol sekarang ada disini untuknya.
"Dear, sekarang masih pukul 3. Kenapa kau malah bangun dan menyusulku kesini? Hari ini kau masih punya meeting pukul 7."
Jari jemari Jeonghan bergerak lembut membersihkan areal mata Seungcheol yang masih terlihat lelah. Dan tepat, pria itu menguap kecil menandakan rasa kantuknya belum sepenuhnya pergi.
"Kutemani kau sampai kekamar."
"Bagaimana jika temani aku sampai diranjang?"
"Jangan memulai, Tuan Choi."
Seungcheol terkekeh sebelum menempatkan ciuman kilat dipucuk hidung kekasihnya.
"Sebenarnya, aku menyusulmu hanya untuk memberikan ini."
Pria bersurai gelap itu merogoh kantung piamanya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
Sebuah kartu beraksen silver dengan digit angka random dipermukaannya.
Atau dengan satu kesimpulan, Jeonghan tahu betul jika itu adalah kunci akses masuk ke Mansion pribadi milik Seungcheol.
"Sekarang, kau yang pegang kuncinya. Aku sengaja tak membuat duplikat apapun karena yang aku inginkan, tempat ini menjadi milikmu."
"Ma-maksudmu?"
Jeonghan terbata. Mansion mewah ini untuknya? Apa itu artinya Seungcheol akan pergi dan meninggalkannya bersama sebuah Mansion untuk dirinya sendiri? Seungcheol tak akan kembali kesini untuknya?
Persendiannya tiba-tiba terasa kaku, beku oleh rasa takut yang melumpuhkan jutaan serat nadi yang mengalirkan darah ditubuhnya.
"Ini adalah tempatmu. Dan aku akan senantiasa berkunjung untuk menjumpai kekasihku yang tinggal di Mansion ini. Kau yang akan menemaniku saat makan malam, mendengarkan setiap ceritaku, dan berada disampingku untuk menghabiskan malam yang panjang."
Jelas Seungcheol, mengusap tulang pipi Jeonghan dan menatap matanya penuh kesungguhan.
Mungkin, ribuan bintang telah meninggalkan langit Seoul dan bulan mulai menepi karena surya akan segera datang membawa fajar ke muka bumi. Namun Jeonghan percaya bila Tuhan selalu terjaga dibalik bentangan langit luas diatas mereka, menyaksikan bagaimana ia menitikan air mata karena perlakuan sederhana dari Choi Seungcheol untuknya.
Jeonghan mengalungkan tangannya dileher Seungcheol sedangkan pria itu melingkarkan sebuah pelukan dipinggangnya. Jeonghan mengecup bibir Seungcheol berulang kali tanpa tahu apa yang harus ia ucapkan selain kata;
"Terima kasih, Dear."
Terima kasih karena sudah mencintainya.
Terima kasih karena sudah mempercayainya.
Dan terima kasih karena sudah menganggapnya sebagai seseorang tempat berbagi suka dan duka bersama.
"Datanglah berkunjung kapanpun kau sempat dan temani aku setiap malam. Aku membutuhkanmu..."
Itulah yang selalu ingin Jeonghan ucapkan setiap detik, setiap nafasnya berhembus dan Choi Seungcheol datang mengisi ruang-ruang kosong dihatinya.
Jeonghan membutuhkan Seungcheol.
Cause I'm drowned in you
And I won't pull through without you by my side
.
.
.
Jeonghan menekan bel didepan gerbang tinggi menjulang yang membentengi kediaman Choi pagi itu. Mesin penjawab itu akhirnya berbunyi, monitornya menyala dan Seungho menyapanya dari seberang sana.
"Kau sudah siap?"
Jeonghan memamerkan senyum terbaiknya ke mini cam yang menghubungkannya langsung dengan Seungho.
"Akan kubukakan gerbangnya untukmu. Kau tunggu aku didalam ya, Jeonghan-ssi."
Bunyi beep terdengar beberapa kali dan pagar itu terbuka untuknya. Jeonghan mengucapkan permisi seadanya dan beranjak masuk. Di pintu depan, seorang kepala pelayan -Jeonghan kira begitu- menyambutnya dan berkata untuk menunggu Seungho diruang tamu.
Ini adalah Minggu pagi yang cerah dipukul 10, saat-saat paling tepat untuk menghabiskan akhir pekan ditaman bermain atau mampir ke arcade tengah kota bersama jagoan kecil kesayangannya, Choi Seungho. Jeonghan duduk dengan tenang diatas sofa sambil mengetik sebuah pesan singkat untuk Seungcheol, memberitahukan padanya bahwa ia dan Seungho akan berangkat sebentar lagi.
"Pagi, Jeonghan-ssi."
"Selamat Pagi, Seungho."
Jeonghan menyimpan handphonenya di saku jeans dan segera berdiri untuk menghampiri Seungho.
"Kau tampan sekali."
Puji Jeonghan, kemudian mengusap-usap pucuk kepala Seungho dengan gemas. Bocah 7 tahun itu terlihat senang dengan pujian Jeonghan namun tidak dengan perlakuan pemuda itu padanya.
"Kau terlalu memperlakukanku seperti anak kecil."
"Kau kan memang anak-anak."
"Tapi aku menyukaimu." Tegasnya, namun kemudian mengalihkan pandangan kearah lain. "Jadi, mengertilah sedikit." Sambungnya dengan nada sepelan mungkin.
Jeonghan menghela nafas dan mengulum segala kekhawatirannya dalam segaris senyum. Seungho tak pernah berubah, bahkan setelah berbulan-bulan berlalu dan mereka semakin dekat satu sama lain. Berapa kalipun ia, bahkan orang tuanya mencoba memberikan pengertian, Seungho hanya akan kembali pada pembenaran logikanya sendiri. Tak ada yang bisa merubahnya kecuali waktu. Jeonghan berharap Seungho berhenti berpikir soal cinta-cintaan yang mustahil dan mulai menerimanya sebagai Yoon Jeonghan, pemuda 20 tahun yang bahkan lebih pantas menjadi ibunya.
Terkadang ia ingin sekali membisikan ditelinga Choi kecil bahwa Yoon Jeonghan yang sekarang sudah menjadi kekasih Ayahnya, Choi Seungcheol. Namun seperti halnya menanam benih ditanah gandus, tunasnya tak akan pernah tumbuh dan yang ia lakukan selama ini hanya mengubur dalam-dalam semua rahasia tentang dirinya dan Seungcheol, tanpa berharap ada buah manis yang dapat dipetik dari hubungan mereka.
Jeonghan berjongkok dan membenarkan kancing bolero yang dikenakan Seungho. Tak banyak lisan yang dapat ia ucapkan selain "Kau sudah pamit dengan ibumu?"
Dan Seungho hanya menjawab dengan anggukkan pelan. Jeonghan tersenyum dan berdiri untuk menggandeng tangan kecil Seungho.
"Ayo, kita pergi."
"Tunggu, Yoon Jeonghan-ssi."
Suara tenor yang lembut mengalun menahan langkah Jeonghan dan Seungho.
Xiyeon.
"Ah, Nyonya... Choi."
Rasanya seperti ada belati yang menancap didada ketika Jeonghan menyematkan nama Choi saat memanggil Xiyeon. Bagaikan menelan sebuah pil pahit, kenyataan bahwa Xiyeon adalah istri sah Choi Seungcheol masih terlalu kelu untuk diakuinya.
"Terima kasih."
Bibir pucat itu tersenyum teduh, menyiratkan sebuah ketulusan yang dengan mudahnya sampai ke hati Jeonghan hingga pemuda itu membalasnya dengan anggukan, anggukan serta senyum yang lemah.
"Terima kasih sudah menyayangi Seungho."
Xiyeon mengulangnya sebelum tangan ringkih itu melambai kearah mereka.
"Kami pergi, Nyonya Choi. Sampai jumpa."
Meski Xiyeon tak tahu apa yang terjadi dibelakangnya, meski Xiyeon adalah wanita paling mulia yang pernah ia temui, meski Xiyeon adalah istri Choi Seungcheol...
Jeonghan tak akan pernah berhenti. Tidak setelah apa yang telah ia lakukan selama ini. Usahanya, air matanya, Jeonghan tak ingin menyianyiakan semua itu. Yang ia inginkan adalah kebahagian untuk dirinya, dan tak ada yang bisa mewujudkan apa yang ia impikan selama ini selain dirinya sendiri.
Jeonghan tetap bertekad menggantikan posisi Xiyeon suatu saat nanti.
.
.
.
Sedan Rolls Rocye yang ditumpangi Seungcheol berhenti didepan pintu masuk utama Hotel Hilton, tempat meeting keduanya berlangsung. Seorang ajudan menyambut kedatangan Seungcheol dan supir pribadinya membawa mobil itu pergi untuk mencari lahan parkir. Beberapa orang langsung mengiringi langkahnya menuju meeting room yang telah ditentukan sebelumnya.
"Selamat siang, Tuan Choi."
Pria berkulit tan menyambutnya pertama kali ketika memasuki ruangan, menjabat tangannya sebagai rekanan bisnis pada umumnya.
"Selamat siang, Tuan Kim."
Dan negosiasi antara perusahaannya dengam beberapa perusahaan lain pun berjalan sempurna tanpa hambatan. Seungcheol memenangkan deal dan proyek besar yang telah ia rancang tinggal menunggu waktu untuk segera terealisasi.
Saat meninggalkan ruang meeting, seseorang dibelakang menyusulnya dan mereka memulai obrolan didalam lift sebagai teman lama, kurang lebih.
"Selalu mengesankan seperti biasanya, Choi."
Mata Mingyu fokus pada lampu lift yang menyala di angka 9, masih ada waktu semenit sebelum mereka tiba di lantai dasar hotel.
"Terima kasih. Tapi aku bisa mendapat lebih banyak tambahan modal jika kau tidak mempengaruhi investasi mereka."
Seringaian kecil terpahat ketika Mingyu menunduk menahan tawa sarkastiknya, namun Seungcheol tetap konsisten pada sikap aristokratnya yang tenang dan penuh wibawa.
"Yoon Jeonghan-..."
"Kurasa kita tidak perlu membicarakannya."
Putus Seungcheol, yang malah membuat Mingyu semakin tertarik dengan perbincangan ini.
"Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Sebagai kakak iparnya, aku tak ingin masa depannya hancur hanya karena memiliki hubungan gelap dengan pria beristri sepertimu. Sadarlah, tak ada akhir bahagia untuk cinta karena nafsu sesaat seperti ini."
Sebelum Seungcheol sempat menjawab, pintu lift pun terbuka dan mereka sampai di lantai tujuan. Mingyu melangkah santai keluar tanpa menyisakan sepatah kata, meninggalkan Seungcheol yang kehilangan semua topeng ketenangannya dan berakhir membisu dengan tangan yang mengepal kuat.
.
.
.
Matahari sudah semakin tinggi dan sinar teriknya memaksa Jeonghan dan Seungho untuk rehat sejenak dibawah payungan atap cafe.
"Ice cream?"
"Aku ingin cola."
"Cola tidak baik untuk tubuhmu. Lagi pula jika Ayahmu tahu, dia pasti akan ma-..."
"Tidak ada Ayah disini."
Ah, benar.
Tidak ada Seungcheol disini. Apa itu membuatnya sedih? Maksud Jeonghan, sudah berapa lama Seungho tak bertemu Seungcheol karena diri...nya? Apa Jeonghan harus merasa bersalah untuk itu?
Namun bukan berarti Jeonghan harus memenuhi keinginan Seungho begitu saja. Tapi...
"Baiklah, hanya untuk hari ini."
Jeonghan menutup buku menunya setelah semua pesanan telah diputuskan. Mengelilingi taman kota dengan arum manis dan berhenti disetiap stasiun permainan membuat perut mereka terasa lapar.
Satu hal yang Jeonghan ketahui hari ini, Seungho suka dengan permainan yang menantang. Mereka harus mengulang beberapa arena ekstrim karena Seungho yang memintanya. Saat Jeonghan berteriak histeris ketika angin berhembus kencang diatas kincir tornado, Seungho terlihat begitu menikmatinya tanpa sedikitpun merasa takut. Ketika Jeonghan bertanya kenapa, bocah itu hanya berkata jika anak laki-laki harus lebih berani dibanding pacarnya.
Pacarnya?
Ah, sudahlah.
"Bagaimana sekolahmu?"
Jeonghan memangku kedua tangannya diatas meja, terlihat bersemangat untuk mendengarkan walau ia tidak berharap akan ada banyak kata yang keluar dari bibir Seungho.
"Baik, kurasa."
Seungho melipat serbet putih disisi kanan mejanya dan meletakkan beberapa jenis sendok diatas sana. Oh, table manner, pikir Jeonghan.
"Eum..."
Jeonghan mulai memikirkan topik yang tepat untuk dibahas. Seungho terlalu genius untuk diajak bicara soal Disney atau hal-hal menyenangkan lain seperti lelucon rumahan atau kartun favoritnya. Mungkin Seungho suka dengan beberapa game online terbaru, tapi sayangnya Jeonghan sama sekali tak mengerti soal itu.
"Kau... Apa ada gadis disekolah yang kau sukai, eum?"
"Bagaimana bisa."
"Maksudmu?"
"Ayolah Jeonghan-ssi, aku suka padamu. Bagaimana mungkin aku bisa suka pada orang lain."
Oh crap, Jeonghan yang salah. Memang tidak seharusnya ia menanyakan hal ini karena pada akhirnya, Seungho hanya akan mengulang jawaban yang sama seolah kalimat tersebut sudah terprogram dalam otak genjiusnya.
Jeonghan tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, pesanannya datang." Dan untunglah, dengan begini ia tidak perlu repot-repot mencari bahasan lain untuk mengalihkan pembicaraan.
Mereka berdua makan dengan tenang. Jeonghan berniat menukar steaknya yang telah dipotong untuk Seungho tapi bocah itu menolaknya. Saat Jeonghan bertanya, "Kenapa?"
"Aku tidak terlahir untuk dimanjakan seperti ini."
"Tapi semua anak pantas untuk diperlakukan manja oleh orang dewasa."
"Tidak, kecuali kau adalah orang tuaku."
Jeonghan tak punya lisan lagi untuk diucapkan. Bibirnya kaku, hatinya terasa ngilu. Ia mulai merasa setiap usahanya tidak akan pernah berhasil. Tak ada kesempatan untuknya menjadi orang tua pengganti dimasa depan. Setidaknya, itu yang selalu Jeonghan pikirkan jika kelak keajaiban itu datang dan Seungcheol menikahinya. Ia selalu bermimpi menjadi bagian dari keluarga Choi, yang bukan hanya memiliki Seungcheol sebagai suaminya tapi juga Seungho sebagai anaknya.
Tapi Seungho tidak bisa menerimanya sebagai seseorang itu. Mungkin dirinya memang tidak pantas...
"Mungkin jika ayahmu yang melakukannya, kau pasti dengan senang hati akan memakan steak dari piring ayahmu."
"Tapi Ayahku terlalu sibuk belakangan ini. Dia bahkan sudah tidak punya waktu untuk menjemputku sekolah apalagi mengantarkanku sampai ke tempat tidur. Setidaknya, kau lebih baik dari pada Ayah. Kau bukan orang yang hanya bisa mengajakku bicara lewat telfon seperti dirinya."
Seungho memakan satu persatu green peas dari tusukan garpunya. Kaki kecilnya berayun-ayun dan selama berbicara, ia hanya fokus pada makanannya dan tak pernah mencoba untuk menatap mata Jeonghan.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Jeonghan mengusap pucuk kepala Seungho dan kembali tersenyum, getir. Segetir hatinya yang tersayat oleh jutaan rasa bersalah yang tak dapat ia jelaskan. Untuk sesaat, Jeonghan mengakui bila keegoisannya telah menghancurkan kebahagiaan orang lain. Satu-persatu, barisan orang-orang yang menjadi korban dari obsesi gilanya mulai menampakkan diri. Dasom Noona, Xiyeon, Seungho, bahkan Choi Seungcheol sendiri.
Jeonghan telah merusaknya. Merusak orang yang sebaik, bersahaja dan sesempurna Seungcheol. Jeonghan tahu, selama ini Seungcheol adalah orang yang selalu mengutamakan keluarga diatas segalanya, apalagi Seungho. Seungho adalah prioritas Seungcheol. Tapi Jeonghan... Merebutnya.
Ada konsekuensi untuk setiap jalan yang kau pilih. Jika di kanan terdapat jurang dan kiri penuh jebakan, maka ada harga yang harus dibayar untuk bisa selamat sampai tujuan. Jeonghan mempertaruhkan banyak hal untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Mengorbankan mereka yang ada disekitarnya, bahkan membiarkan nuraninya mati terkubur bersama rasa takut yang sempat menahan langkahnya untuk mengejar Seungcheol.
Karena Jeonghan sudah berjalan sejauh ini, maka tak ada jalan untuk mundur apalagi kembali. Sudah terlambat untuk menyesal dan mengasihani orang lain. Jadi Jeonghan tetap pada keputusannya, menggenggam erat Choi Seungcheol danyuk menjadikan pria itu miliknya seutuhnya.
.
.
.
Jeonghan menghitung masih ada berapa kali petang yang harus dilalui sampai tiba di 4 Oktober. Dan 3 hari dari sekarang, ulang tahun ke 21-nya akan segera tiba dan Jeonghan tak pernah merasa seberdebar ini menanti momen pertambahan usia seumur hidupnya. Dirumahnya yang sederhana, tak pernah ada perayaan khusus dan Jeonghan memang tak begitu peduli tentang ritual potong kue dan meniup lilin. Ia sering mendapat kado dari Noona dan Ayahnya, teman dekatnya yang hanya berjumlah 1 orang -Seungkwan- dan beberapa pria pengaggum rahasia. Setidaknya itu yang tertulis disurat yang ia temukan di loker dan laci mejanya saat masa sekolah.
Tapi Jeonghan tak akan membahas apa saja yang telah diberikan Sehun di ulang tahunnya kala itu. Lagi pula, semua sudah berakhir. Kenangannya sudah mati, bersama raga yang terkubur dibawah nisan yang tak pernah Jeonghan kunjungi.
Jeonghan tidak pernah mau.
Malam sudah cukup larut untuk menimangnya ke alam mimpi, namun Jeonghan tak akan naik ke atas ranjang sebelum pintu Apartemennya terbuka dan Seungcheol tersenyum memeluknya disana. Sudah beberapa hari mereka tak bermalam berdua disini dan bagi Jeonghan, rasanya seperti melewati musim dingin sendirian sepanjang tahun.
Selama Seungcheol kembali kerumah bersama istri dan anaknya, maka mau tak mau Jeonghan juga harus kembali ke neraka itu, tempat dimana ia menumpang dirumah Mingyu yang tak pernah ia anggap sebagai kakak ipar. Ia dan Seungcheol sepakat untuk tidak menimbulkan lebih banyak kecurigaan dibenak orang sekitar. Terlebih Dasom noona yang selalu banyak bertanya kemana ia menginap selama beberapa kali dalam seminggu. Dan apartement Seungkwan adalah alasan yang paling tepat yang dapat Jeonghan temukan.
Jeonghan menekan angka 5 sebagai tombol pintas panggilan cepat, dan nama Seungkwan terpampang dilayar.
"Hey, kekasihmu belum pulang?"
Sebenarnya, tanpa Seungkwan bertanya pun semua sudah jelas. Jika Jeonghan sempat menelponnya tengah malam, itu artinya Seungcheol sedang tidak ada bersama pemuda brunette itu.
"Belum."
Jawab Jeonghan lemah, terlalu bosan menunggu dan hanya berbaring diatas sofa sambil memelintir ujung bantalnya.
Disebrang sana, Seungkwan hanya menggeleng maklum sambil menutup halaman majalahnya. Kepalanya kembali memikirkan hal-hal random seperti;
Apa salah jika dia bersikap seolah ia mendukung setiap tindakan sahabatnya?
Apa usahanya sudah cukup untuk memberitahu Jeonghan jika Seungcheol adalah orang yang salah untuk dicintai?
Apa ia tidak cukup baik sebagai sahabat yang seharusnya melarang Jeonghan memacari suami orang?
"Apa Dasom noona hari ini menelponmu?"
"Tidak."
"Serius?"
"Tidak salah lagi. Aku baru saja menutup telponnya 5 menit lalu. Kau tahu, hampir sejam aku harus mendengar semua gerutuannya karena ulahmu."
"Haha... Dia cerewet. Persis sepertimu."
Kekeh Jeonghan sambil mengingat-ingat bagaimana ekspresi Seungkwan saat mengomel dan mencocokannya dengan Dasom noona. Mereka mirip. Dan Jeonghan sungguh-sungguh menyayangi keduanya.
"Seungkwan, bagaimana menurutmu jika aku mengingatkan Seungcheol lagi soal ulang tahunku malam ini?"
"Untuk apa? Bukannya sejak awal kalian berhubungan dia sudah tahu?"
"Iya, dia tahu. Tapi kukira dia tidak begitu senang saat aku memberitahunya tentang tanggal ulang tahunku."
Dahi Seungkwan seketika mengernyit. "Kenapa?"
"Itulah yang ingin aku tahu. Kenapa."
"Mungkin hanya perasaanmu."
"Tapi firasatku berkata sepertinya Seungcheol akan sangat sibuk tanggal 4 ini. Dan aku takut... Takut dia tak akan punya waktu untukku dihari itu."
"Ayolah Jeonghan... Dia itu pengusaha sukses. Apa yang kau harapkan darinya soal ulang tahun?"
"Tak banyak. Hanya waktu intim berdua, kurasa. Seperti bercinta dengan sangat panas semalam suntuk mungkin?"
Kali ini Jeonghan tertawa keras menyadari apa yang barusan ia ucapkan benar-benar keinginan terbesarnya. Pikirannya sungguh menjadi liar jika itu menyangkut Seungcheol. Cinta memang sulit untuk dikendalikan, batinnya berbisik.
"Kau ini sungguh sudah gila, ya."
"Hanya Seungcheol yang tahu seberapa gilanya aku. Di ranjang."
Jeonghan terkikik lagi dan Seungkwan hanya bisa mendengus ditempatnya.
Dan suara bel diluar sepertinya menginterupsi obrolan mereka.
"Aku yakin itu pacarmu."
"Memangnya siapa lagi? Sudah ya, kita lanjutkan besok. Selamat malam."
"Malam. Oh, hey. Ingat, bilang padanya jangan main terlalu kasar. Kau masih punya jadwal kuliah besok pagi."
"Cerewet~"
Dan klik. Sambungan telfon mereka terputus dan Jeonghan langsung berlari sumringah menuju pintu. Seungcheolnya sudah datang.
"Selamat datang, Dear..."
.
.
.
So what you're trying to do to me?
It's like we can't stop, we are enemies
Well we get along when I'm inside you
You're like a drug that's killing me
I cut you out entirely
And I get so high when I'm inside you
-oOo-
Jeonghan mengontrol nafasnya dan mencoba untuk berdiri. Dengan kesadaran yang masih tersisa ia berusaha merubah posisi baru agar lebih memuaskan Seungcheol. Tangannya bertumpu pada ranjang dan menunggingkan bokongnya, sedikit melebarkan kakinya yang tegak diatas lantai untuk memudahkan Seungcheol menuntun penisnya masuk kedalam.
Seungcheol langsung memposisikan badan berdiri dibelakang Jeonghan dan meremat-remat bokong kekasihnya penuh nafsu sebelum memulai.
"Aahh..."
Seungcheol mendesah berat ketika penisnya kembali terjepit didalam dinding anal Jeonghan yang ketat dan hangat.
Jari jemari Jeonghan meremas spreinya kuat saat Seungcheol mempercepat gerakan pinggulnya. Tubuhnya terguncang dan teriakan-teriakan rancu tak dapat dielakkan. Kedua kelopak mata Jeonghan terpejam rapat, merasakan setiap detik kelamin Seungcheol menyodok prostatnya dengan brutal membuat perut bagian bawahnya bergejolak.
"Aaahh! Fuck... Fuck me, Seungcheol... Hyaahh..."
Jeonghan menyingkap kebelakang rambut panjangnya yang menjuntai menutupi wajah. Seungcheol membantu mengusap kening dan pelipisnya yang mengeluarkan banyak peluh, lalu menciumi perpotongan leher dan garis rahang kekasihnya penuh gairah.
"Oh God... Your big dick is...aahh... Thrusting deep... into me..."
Jeonghan terus saja meracau dan mendesah keras. Penis Seungcheol yang besar tak henti-hentinya menjamah lubang ketat Jeonghan dan cairan pre-cum pria itu sedikit demi sedikit keluar membasahi selangkangannya.
Gerakan Seungcheol semakin cepat dan liar, membuat guncangan pada tubuh Jeonghan menjadi tidak terkendali. Tangan Jeonghan berusaha mencapai pinggul Seungcheol dibelakangnya, mengisyaratkan pada kekasihnya untuk bergerak lebih pelan.
"Seungcheol... I can't take it... no more..."
Beberapa kali kaki Jeonghan yang gemetaran hampir terjatuh karena lemas, tapi Seungcheol kembali menahannya seolah semua belum cukup sampai disini. Mereka sudah klimaks setengah jam lalu namun permainan tak pernah berhenti hanya dalam satu kali putaran kecuali Seungcheol yang benar-benar kelelahan karena pekerjaannya di kantor.
Jeonghan memilih bertahan sebentar lagi agar Seungcheol benar-benar terpuaskan oleh tubuhnya. Tangan besar Seungcheol menopang Jeonghan yang kesulitan menegakkan kakinya dengan memegangi pinggul pemuda itu selagi penisnya terus menerobos anal Jeonghan dengan tempo yang semakin cepat.
"I'm almost...there... Aahh..."
"Ah! Ahh! Pelan-pelan...Seungcheol... Ahh!"
Seungcheol sungguh-sungguh bernafsu malam ini. Desahannya, bisikan-bisikan yang bernafaskan cinta, serta bibirnya yang terus menjamah mengecup punggung mulus Jeonghan dan meninggalkan banyak bekas kemerahan disana. Jeonghan turut kehilangan kendali meski terkadang birahi Seungcheol sulit untuk diimbangi karena ketahanan fisik mereka yang berbeda.
"Aaahhh!"
Seungcheol melepaskan spermanya didalam lubang anal Jeonghan. Ketika pelan-pelan ia mengeluarkan penisnya, saat itu juga sebagian cairan klimaksnya keluar membasahi selangkangan dan paha kekasihnya.
Jeonghan yang sudah tak memiliki tenaga kini langsung jatuh berlutut, tangannya berusaha meraih dan bertumpu pada ranjang agar tubuhnya tak sampai terbaring diatas lantai.
"Hah... Hah..."
Nafas mereka berdua memburu dengan dada yang naik turun cepat. Seungcheol mencoba membantu Jeonghan berdiri dan menuntunnya untuk naik keatas king-size bed mereka.
"Thank you, Mine... I love you."
Suara kecupan Seungcheol diatas kening Jeonghan terdengar berulang kali, menandakan begitu banyak ciuman sayang yang ia berikan selagi berbaring dan memeluk tubuh kekasihnya yang sudah mengkilap akibat peluh.
"Anytime, Dear..."
Balas Jeonghan, masih mengontrol nafasnya yang terengah-engah.
"Panas?"
Seungcheol mengusap kening Jeonghan yang masih meneteskan keringat kemudian menyingkap bed cover turun sebatas pinggang mereka.
Jeonghan hanya tersenyum dan mengagguk pelan. Ia masih begitu menikmati pelukan Seungcheol dan sentuhan-sentuhan gentle dari pria yang dicintainya. Tangan besar Seungcheol dengan lembut menyisihkan untaian rambut panjang Jeonghan kebelakang telinga, serta menyingkap poni yang menempel di kening dan pelipisnya.
Ciuman intim kembali Seungcheol tawarkan dan mereka menikmatinya dengan begitu pelan dan lembut, dimana Jeonghan tersenyum disela-sela bibir Seungcheol yang mengapit bibir atasnya dan menyesapnya penuh perasaan. Tak ada gerakan yang menuntut. Yang ada hanya bagaimana cara mereka menyalurkan perasaan sayang satu sama lain dengan bahasa tubuh yang romantis.
"Jam berapa sekarang?"
Jeonghan bertanya dan Seungcheol berusaha meraba meja nakas untuk mendapatkan jam weker didekat lampu tidur.
"10 menit lagi menuju pukul 3."
"Ah, jas dan kemejamu, Dear. Aku harus menyiapkannya sekarang."
Jeonghan hampir bangkit dari baringannya kalau saja Seungcheol terlambat menahan pemuda itu.
"Nanti saja, sayang."
"Hanya 5 menit, Dear... Atau 3 menit paling cepat."
Jeonghan mengelus rahang Seungcheol sebelum menyingkap bed covernya dan turun dari ranjang. Seungcheol terus memperhatikan Jeonghan sejak awal kekasihnya berjalan dengan tubuh telanjang, memakai kimono sutranya dibalik pintu, kemudian membuka lemari untuk menyiapkan setelan jas yang akan dikenakan Seungcheol pagi ini.
Tak ada kata lain yang mampu menggambarkan sosok itu selain indah dan sempurna. Ini adalah tempat yang paling nyaman untuknya 'pulang'. Bagi Seungcheol, hidup bersama Jeonghan membuatnya merasa benar-benar ada di 'rumah'.
Andai saja ia bisa pulang kepelukan kekasihnya setiap hari.
Tapi seketika, semua angan-angan Seungcheol musnah saat sekelebat bayangan Seungho dan Xiyeon melintas dibenaknya. Seungcheol kembali sadar ia sudah memiliki anak dan istri, keluarga yang setia menunggunya di rumah. Rumahnya yang sungguhan.
Hal ini membuatnya berpikir jika Jeonghan hanyalah semu yang datang bagaikan bunga tidur untuk sesaat. Seungcheol kira hidupnya sudah persis seperti panggung drama, bahkan lebih dramatis dari kisah-kisah fiktif manapun.
Tanpa sadar, langkah Seungcheol sudah membawanya pergi mendekati Jeonghan dan tangan kokohnya spontan melingkar dipinggang kekasihnya.
Seungcheol memeluk Jeonghan dari belakang, merebahkan kepalanya diatas bahu sempit itu.
Darling, I will be loving you 'til we're 70
Baby, my heart could still fall as hard at 23
I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Well, me—I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
"Aku mencintaimu."
Hanya kalimat sederhana itu yang mampu ia ucapkan. Seungcheol selalu berharap Jeonghan akan mengerti. Meski jutaan kali ia membuat pengakuan cinta, tentu masih tak cukup untuk mewakilkan seberapa banyak rasa sayang Seungcheol yang sesungguhnya untuk Yoon Jeonghan.
Tak ada alat yang mampu mengkalkulasikan perasaan cinta. Tak ada nominal pasti untuk mengukur seberapa besar cintanya pada Jeonghan. Bahkan tak ada satupun kata yang dengan kongkrit menjelaskan apakah perasaan ingin memiliki, mencumbu, dan ingin selalu bersama sehidup semati adalah semata-mata karena perasaan yang disebut cinta. Apa cinta benar-benar sekompleks itu?
Jeonghan hanya mengelus sekilas garis rahang Seungcheol kemudian kembali fokus memilih dan mencocokan setelan yang pas untuk kekasihnya.
"Bagaimana dengan dasi yang ini, Dear? Yang biru atau yang coklat?"
Jeonghan mengangkat dua potong dasi ditangan kanan dan kirinya untuk meminta pendapat Seungcheol.
"Asal kau yang pilih, yang mana saja pasti akan membuatku terlihat tampan."
"Huh, dasar Ahjussi parlente."
Cibir Jeonghan yang akhirnya mendapat balasan ciuman genit dari Seungcheol.
Seungcheol sadar, mungkin dirinya memang sedang memasuki masa puber kedua, fase alamiah dimana pria yang hampir menginjak kepala 4 merasakan lagi bagaimana manisnya jatuh cinta, juga bergejolaknya hormon testoteron layaknya remaja yang membuatnya ingin berlagak perlente didepan Jeonghan. Hanya didepan Jeonghan.
Jeonghan telah selesai memilih setelan yang pas dan sesuai keinginannya. Dengan Choi Seungcheol yang masih menggelayutinya dari belakang, Jeonghan menggantung kemeja, jas, celana dan dasinya di tempat yang berdekatan agar Seungcheol tinggal mengambil dan memakainya pagi ini.
"Beres!"
Jeonghan segera menutup lemari yang artinya, ia bisa fokus membalas pelukan kekasihnya dengan menumpukkan tangannya diatas tangan kokoh Seungcheol yang masih setia melingkar di pinggangnya.
Seungcheol sesekali berayun mengikuti irama dengungan lagu cintanya sambil menciumi puncak kepala Jeonghan.
"Dear..."
"Hmm?"
"Soal 4 Oktober-..."
"Maafkan aku, Jeonghan."
Maaf? K-kenapa? Untuk apa?
Batin Jeonghan terbata-bata dan perasaannya pun berkata ini bukan pertanda yang baik.
Ada jeda yang tertinggal sebelum sebuah tarikan nafas berat terdengar dari bibir Seungcheol. Jeonghan merasakan sebuah ciuman menyesap hangat perpetongan lehernya, kemudian suara rendah Seungcheol berbisik.
"Xiyeon juga berulang tahun tanggal 4 Oktober."
Dan kenyataan itu langsung menamparnya telak di muka.
Jeonghan membeku. Diam dan membisu.
Perasaan dingin tiba-tiba menjalar begitu saja keseluruh tubuhnya meski Seungcheol kini tengah memeluknya erat. Dadanya begitu nyeri hingga bernafas menjadi hal paling sulit untuk dilakukannya saat ini.
Seungcheol... Tidak akan ada untuknya?
Batin Jeonghan menjerit ketika membayangkan bagaimana Choi Seungcheol lebih memilih untuk tetap bersama istrinya ditanggal itu dan meninggalkannya sendirian.
And yet you're so far
Like a distant star
I'm wishing on tonight
I would give my all to have just one more night with you
.
.
.
To Be Continued
A/N:
Well, Chapter 5 is almost done. Sorry for such a loooooonnnggggg wait. Comment/review for next chapter!
