Gadis berambut merah muda itu melangkah di lorong yang suram dengan keriangan yang kontras. Semester baru di tahun terakhir SMA sudah tiba, ujian masuk perguruan tinggi hampir di pelupuk mata, dan bulan depan tim basket Touou akan bertanding untuk yang terakhir kali.
Maksudnya, pertandingan basket terakhir di mana Akademi Touou menurunkan Daiki Aomine ke arena. Kalau tidak salah, mereka akan melawan SMA Shuutoku.
Karena setelahnya ujian-ujian menanti.
Ponsel berdering, panggilan dijawab.
"Momoi-san, aku punya tugas tambahan untukmu," ujar suara dari seberang.
Sang pemilik nama menjawab, "Tugas apa, Harasawa-sensei?"
Mendengarkan sejenak, berputar pada tumit dengan anggun—mengimitasi teknik pivot dari olahraga yang dicintai orang yang disukainya—Momoi berbalik arah. Sekolah sudah selesai beberapa jam yang lalu, ini hari Jumat di minggu pertama tahun ajaran, dan gadis itu melangkah sambil menyematkan sebuah pena ke telinga.
"Siap meliput, Sensei!"
.
.
.
.
.
Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei
.
.
.
.
.
A Sidestory of a Kuroko no Basuke fanfiction,
"By Means of a Miracle" (c) Roux Marlet
By Means of Being a Teacher (c) Roux Marlet
.
.
.
.
.
Crossover, Future Alternate Reality, Canon Pairs.
Chapter 4: The Ethics
.
.
.
.
.
"Aku mengerti... jadi selain satu orang itu, ada tiga orang ini?"
Satsuki Momoi mengamati sederet nama dan foto di laptopnya, ponsel dijepit di antara bahu dan telinga kanan.
"Aku hanya perlu mewawancara mereka? Oh, akan ada dua senior yang menemaniku. Kapan? Besok Senin? Siap!"
Gadis itu memutuskan sambungan, menutup laptopnya, dan memandang ke seberang rumah dari jendela kamarnya. Di halaman rumah sebelah, seorang pemuda berkulit gelap sedang bermain basket melawan dirinya sendiri.
"Semangat, Dai-chan," gumamnya entah pada siapa. Momoi mengeluarkan notes yang sudah menjadi kawan intelnya sejak masih SMP dan membolak-baliknya.
Mulai tahun ini dia magang di sebuah media sebagai wartawan. Sifat alamiahnya yang selalu ingin tahu dan menjurus kepo terhadap segala kelemahan lawan tim basket Aomine memicunya untuk bekerja memburu berita secara profesional suatu saat nanti. Dan notes-nya itu, yang separuh halamannya penuh catatan tentang basket, diisi juga oleh beberapa cuplikan berita yang baru-baru ini didapatkannya.
Sejauh ini, sepertinya berita yang paling fenomenal adalah yang baru akan ditugaskan kepadanya besok Senin pagi—mumpung jadwal kelasnya kosong. Mewawancara murid-murid seorang guru alien! Bayangkan itu. Momoi bahkan sudah punya judul untuk artikelnya.
Yang tidak dia duga adalah, ternyata dua dari tiga calon narasumbernya tidak bisa diwawancara hari itu. Meski kecewa, dia bersyukur karena ada satu yang bisa. Anak itu hanya dua tahun lebih muda darinya, seorang remaja laki-laki yang baru saja lulus SMP. Gurunya saat kelas tiga SMP itulah yang jadi sumber kehebohan—korban uji coba penelitian yang tidak manusiawi dan sudah meninggal.
Yuuma Isogai nama si narasumber. Dulunya ketua kelas 3-E yang unik dan misterius itu dan dalam minggu ini dicalonkan kembali menjadi ketua kelas oleh teman-teman SMA-nya. Anak yang ramah dan sopan, ditambah muka yang lumayan. Rasanya tepat kalau catatan mengenai teman-temannya kelas 3-E menyebutnya 'ikemen'. Tipe narasumber yang mudah diajak bekerjasama.
Tapi—tidak. Begitu senior Momoi menanyakan hal yang sangat sensitif dengan bahasa blak-blakan, raut kalem itu menggelap seketika. Mendadak bungkam bagai tiram. Momoi merasakan perubahan drastis dalam diri Isogai dari sinar matanya, dan betul saja—anak itu ambil langkah seribu sebelum wawancara mereka selesai.
Atau 'belum selesai' menurut kedua senior Momoi. Mereka masih payah dalam kode etik dan hanya peduli memotret sana-sini—bahkan yunior mereka lebih tahu tentang ini. Tapi sore itu cuaca sangat berangin dan hay fever Momoi mulai kambuh. Sudah sejak tadi dia bersin-bersin terus, jadi Momoi pulang setelah berkata,
"Kita ke sini lagi besok dan minta maaf dulu padanya."
Tapi kedua laki-laki yang sudah mahasiswa itu tidak pulang maupun memiliki niat yang sama. Karena Isogai menyebut kafe dan kerja paruh waktu dan dia hanya berjalan kaki—tepatnya berlari—ke sana, tidak makan waktu lama bagi dua manusia superkepo itu untuk menemukan tempatnya bekerja.
Satsuki Momoi menikmati teh hijau hangat dengan santai malam itu, mencoba mencari tahu tentang Yuuma Isogai / Hiroto Maehara / Megu Kataoka di internet, tanpa tahu nasib buruk yang menimpa kedua seniornya—mereka sudah kapok bertemu Karma Akabane dan masih harus satu kali lagi menderita oleh wasabi.
.
.
.
.
.
"Minggu lalu ponselmu hilang dicopet dan sekarang kamu diantar pulang naik sepeda motor oleh teman sekelasmu tanpa memakai helm?!"
"Maaf, Okaa-san..." Kepala berambut pucuk tertunduk. Sang Ibu yang konvensional menarik napas dalam-dalam; omelan lima detik saja membuatnya tersengal.
"Kalian baru enam belas tahun!"
Sang anak berusaha menjelaskan. "Ada kelompok wartawan mengejarku dari sejak pulang sekolah. Mereka ingin tahu tentang guruku saat SMP. Dan mereka..."
Nyonya Isogai mendesah keras. Diraihnya putra sulungnya itu lalu dipeluknya.
"Yang penting Yuuma pulang dengan selamat. Terima kasih, Kami-sama."
Dua orang adik mengamati dalam diam. Mereka semua ingat apa yang terjadi ketika terakhir kali keluarga mereka berurusan dengan sekelompok wartawan; tiga tahun yang lalu, saat kepala keluarga Isogai meninggal karena kecelakaan lalu lintas. "Meninggalkan tiga anak yang masih kecil dan seorang istri yang sakit-sakitan," lalu "Direnggutnya tulang punggung keluarga kecil yang harus berjuang untuk hidup." Beberapa bantuan tak terduga jadi mengalir pada mereka, tapi dengan cara yang sama sekali bukan kehendak mereka. Nyonya Isogai marah besar terhadap media saat itu hingga asmanya kambuh berminggu-minggu. Pada media yang mana, dia tidak tahu. Sejak saat itulah Yuuma bekerja paruh waktu meski dilarang sekolahnya, dan semua anggota keluarga Isogai tidak bisa dibilang tidak anti terhadap wartawan.
Seperti yang pernah dikatakan Hiroto Maehara; Yuuma Isogai itu miskin tapi elegan. Mana mau dia menadahkan tangan untuk minta-minta, menarik simpati orang dengan latar belakang keluarganya?
Dengan kejadian malam itu, Yuuma Isogai lagi-lagi berhutang budi pada Karma. Juga Maehara dan Kataoka. Ditambah Ogiwara. Tidak seperti yang orang bilang, kau tidak harus jadi kaya agar punya teman yang setia.
Jadi ketika dalam perbincangan keesokan paginya di kelas Maehara menyinggung soal Karma yang sekolah di SMA Kunugigaoka dan Ogiwara menimpali bahwa akan ada pertandingan basket dalam rangka penyisihan Inter High bulan depan, Isogai bilang bahwa dia akan menonton semua pertandingan mereka (meski aku tidak familier dengan basket, tambahnya dalam hati).
Ogiwara langsung bersemangat. "Kalau menilik subdistriknya, ada kemungkinan Nagatacho bertemu Kunugigaoka di penyisihan."
"Tapi kukira Karma tidak main basket?" ujar Isogai.
"Tidak, tapi Asano dan beberapa Five Virtuosos masuk tim basket," timpal Maehara.
"Dan kalau kita mengalahkan Kunugigaoka," Ogiwara berseru tertahan, "kita akan melawan Yousen."
Efek dramatis yang muncul setelahnya tidak seperti yang diharapkan, karena baik Maehara maupun Isogai tidak tahu seberapa tenarnya tim basket SMA itu.
"Yousen! Sekolahnya Atsushi Murasakibara, salah satu Generation of Miracles!"
"Ah, mereka," ucap Maehara sekenanya.
"Seberapa hebat sih, generasi keajaiban itu? Memangnya mereka main sulap di lapangan basket?" Isogai berkelakar.
"Makanya kau harus nonton, Isogai. Meskipun kami kalah, kau harus nonton pertandingan mereka, ya?" Ogiwara menepuk-nepuk bahu si ikemen.
"Oke, aku pasti nonton..."
"Kau mengucapkannya seolah-olah kita akan kalah, Ogiwara!" seru Maehara.
.
.
.
.
.
Sepulang sekolah di hari Selasa, Satsuki Momoi menemui Yuuma Isogai sendirian. Kedua seniornya sakit "sampai waktu yang tak dapat ditentukan". Masa bodoh, gadis itu menyampaikan permohonan maafnya mewakili mereka. Dicegatnya si ikemen di depan gerbang sekolah. Kalau ini telenovela, sudah pasti ada kembang-kembang berjatuhan dan efek angin yang membuat rambut panjang Momoi berkibar indah. Tapi kehidupan nyata bukan drama televisi.
"Aku sudah punya cukup bahan untuk menulis berita. Dan aku janji, tulisan ini akan seobyektif mungkin mewakili kelas kalian. Kalau boleh, aku ingin mewawancara dua temanmu di sini... Maehara-kun dan Kataoka-san. Tapi kalau tidak boleh... aku sudah berterima kasih."
Isogai melihat ketulusan di mata sang wartawan, dan, tanpa mengingat-ingat lagi kejadian hari kemarin, dia menoleh ke belakang sejenak sebelum berkata,
"Mereka sedang berjalan ke sini. Pertahankan pendapat kedua puluh empat temanku itu: Koro-sensei adalah guru kami yang berharga, dari lubuk hati kami sendiri. Aku yakin Maehara dan Kataoka bahkan Karma yang di Kunugigaoka akan mengatakan hal yang sama."
Maehara, yang tadi tertahan di depan papan pengumuman saking takjubnya akan fakta bahwa pengumuman anggota tim basket sudah tercantum—sehari setelah seleksi!—semakin kaget lagi karena namanya ada di dalam tim inti, bersama Ogiwara, bukan cadangan... Dia keluar dari sekolah dengan linglung, berteriak pada Isogai di depan gerbang bahwa dia lolos masuk tim inti basket dan sepak bola dan betapa satu tahun ke depan akan penuh dengan neraka latihan sampai malam, ketika dia menyadari sesosok gadis manis berambut merah muda yang sangat feminin sekaligus tampak kuat di sana.
Meremas gelang pemberian Okano di tangannya, Maehara berdoa dalam hati. Kami-sama, jangan beri pencobaan seberat ini... Hell, siapa cewek manis itu dan mau apa Isogai bersamanya?
.
.
.
.
.
"Sebentar lagi sudah ujian tengah semester, ya, Kataoka-san."
Si ikemen tidak merasa canggung berdua saja dengan Megu Kataoka di kursi penonton yang agak remang-remang. Pertandingan basket antara Nagatacho melawan Kunugigaoka akan dimulai sebentar lagi.
"Ya. Kau jadinya tidak ikut klub sama sekali, bukan, sih?"
Isogai menjawab, "Aku ikut klub memasak... hehe."
"Wow. Memasak? Kedengarannya keren sekali kalau cowok bisa memasak," puji Kataoka tulus. "Kenapa kau pilih memasak?"
"Suatu saat nanti aku akan membuka restoranku sendiri," sahut Isogai percaya diri. "Dan akan menyenangkan kalau juga aku kokinya."
"Impian yang bagus."
"Kataoka-san sendiri, kau mau jadi hikers?"
"Tidak, pecinta alam hanya hobi saja."
Selanjutnya Kataoka berbasa-basi, menanyakan kabar ibu Isogai, dan dijawab, baik.
"Are? Lihat ada siapa di sini..."
Suara malas yang familier itu membuat Isogai menoleh.
"Karma! Dan, eh, Nakamura-san."
"Wah, aku harus berpihak pada tim mana, nih?" ujar gadis berambut pirang itu, menyeringai, berhubung sekolahnya sendiri tidak bertanding di sini. "Halo, Kataoka. Kau nonton Maehara bertanding?"
"Begitulah..."
"Kasihan Maehara. Saat dia bertanding basket pertamanya, Okano juga ikut kejuaraan karate jadi tidak bisa saling mendukung," ujar Nakamura.
"Eh. Orang itu 'kan..." Sepasang mata Isogai terpaku pada si wartawan berambut merah muda di bangku penonton paling depan di seberang mereka. Apa dia mau meliput? Tapi kok ekspresinya serius sekali?
Isogai teringat betapa Maehara seperti terkena panah cupid ketika bertemu Satsuki Momoi pertama kali. Tembakan semi-formal dilancarkan tanpa bisa dicegah Isogai, tapi Momoi yang dua tahun lebih tua bilang dia sudah punya tambatan hati, dan Okano tidak jadi patah hati karena kena tikung yang keji. Belakangan baru diketahui bahwa Momoi bersekolah di Akademi Touou, di mana—seperti berulang kali disampaikan Ogiwara—salah satu Generation of Miracles, Daiki Aomine, bersekolah. Dan fakta tambahannya adalah, Momoi dahulu juga bersekolah di SMP Teiko dan adalah manajer tim basket saat Generation of Miracles sedang dalam puncak kejayaan.
Jadi mungkin saat ini Momoi sedang menganalisis semua tim yang berpotensi akan bertemu dengan Touou di perempat final. Melihat adanya Ogiwara yang berapi-api dan Maehara yang cepat belajar di Nagatacho serta kubu Asano yang ambisius dan antek-anteknya di Kunugigaoka, Isogai tidak tahu siapa yang akan maju ke babak berikutnya.
Yang jelas, Isogai sangat berterima kasih pada Momoi. Dia lega karena setelah terbitnya artikel yang ditulis oleh si wartawan di surat kabar terkenal, orang-orang tak lagi bertanya aneh-aneh. Kelihatannya Momoi mendapat banyak hal dari testimoni Itona Horibe dan Kaede Kayano, yang mengerti seluk-beluk sel antimatter dengan pengalaman mereka sebagai inang. Dari segi saintifik sudah ada penjelasan; dan testimoni Yuuma Isogai, "ketua kelas ikemen yang berbakti pada orang tua", diramu dengan hasil wawancara dengan Nagisa Shiota, "si calon penerus sang guru", dan pendapat teman-teman sekelas mereka membuat artikel itu sangat berkesan.
.
.
.
.
.
"Kau 'kan sudah tahu aku tidak akan kalah, Karma," ujar pemilik iris violet seusai pertandingan pada si rambut merah.
"Kau memang selalu minta ditonjok ya, Asano," timpal Maehara dengan nada kesal yang sengaja tidak disembunyikan. "Tapi, yah, selamat ya, Kunugigaoka menang."
"Masih ada Winter Cup," ujar Ogiwara optimis meski kalah di pertandingan pertama ini.
"Apa? Kita masih latihan lagi sampai semester satu berakhir?" Maehara kedengaran histeris.
"Tentu saja! Kalau tidak berlatih, kemampuan kita menumpul nantinya."
"Sepak bola, masih ada sepak bola, lho! Dan kau, Ogiwara, bagaimana kau bisa mengatur waktumu untuk lima klub?!" Maehara tetap berisik.
Sementara rombongan ichinen itu ribut sendiri, beberapa orang dalam rombongan kecil di belakang mereka juga bergerak.
"Kau lihat wajahnya tadi kan, Shin-chan? Hahaha, hahaha! Mana ada 'Yang bisa mengalahkanku hanya aku'?"
Rombongan itu mengenakan jersey dan seragam oranye—sepertinya tim yang bertanding di arena sebelah. Ogiwara berhenti mendadak dan Isogai nyaris menabraknya.
"Eh. Ada apa, Ogiwara?"
"Astaga... itu dia."
"Dia siapa?"
"Shintarou Midorima, salah satu—"
"Generation of Miracles?" tebak Maehara bosan. Ups, suaranya agak terlalu kencang sampai-sampai semua anggota tim Shuutoku menoleh ke arahnya. Menunduk malu dan ingin hilang ke dalam bumi, wajah Maehara tidak bisa lebih merah lagi.
"Mereka yang tadi bertanding di sebelah, ya," gumam Shintarou Midorima sambil berlalu. "Yang mana yang menang?"
"Kunu-sesuatu, namanya susah," sahut Kazunari Takao. "Mereka nanti kedapatan lawan Yousen, subdistrik barat."
"Touou juga masih akan melawan Seirin nantinya," imbuh Taisuke Otsubo sang kapten yang juga berada di tahun terakhir SMA.
Sementara itu Ogiwara heboh sendiri.
"Jadi di sebelah tadi ada Shuutoku lawan Touou?! Seandainya kita tidak sedang bertanding... wah, kalian harus melihat salah satu pertandingan mereka. Betul-betul luar biasa!"
Gakushuu Asano mengangkat alisnya tinggi-tinggi seolah berkata, "Kenapa anak ini?" dan Karma Akabane mengamati dengan tertarik.
"Dia fans tim basket SMP Teiko," Isogai menerangkan dengan suara pelan sementara Maehara meredakan kehebohan itu sebisanya.
"Aa~ Teiko, ya. Aku juga pernah dengar. Mereka terkenal bermain tanpa etika."
"Apa maksudmu, Karma?" Asano penasaran.
"Aku pernah dengar," si rambut merah mulai bercerita, "mereka menang sadis atas satu pertandingan dengan skor 111 lawan 11. Dan tembakan terakhirnya adalah bunuh diri, yang sengaja mereka lakukan agar angkanya bisa kembar semua. Sadis sekali, 'kan?"
"Memang sadis," sahut Ogiwara tiba-tiba. "Dan lawan mereka saat itu adalah SMP Meiko, sekolahku."
.
.
.
.
.
To be continued.
19.01.2017
