Tales of the Steel Flower Princess
Chapter 4: How about a little duel, Yin?
[Autumn, Changshan, 6.53 a.m.]
Sudah beberapa minggu aku tinggal bersama keluarga Zhao Yun dan mulai terbiasa dengan keadaan di sini. Setidaknya aku sudah memiliki beberapa pasang baju yang sama dengan orang-orang pada zaman ini pakai. Kalau aku terus pakai pakaian yang kugunakan saat aku tiba di sini, pasti orang-orang akan menganggapku aneh ataupun tanggapan aneh lainnya terlintas dibenak mereka. Kebetulan beberapa hari yang lalu aku berulang tahun dan aku sudah menginjak usia tujuh tahun.
Sekarang aku sedang duduk di sebuah batu besar tempat biasa Zhao Yun duduk sambil menungguku yang selalu datang terlambat. Tapi untuk kali ini, aku rasa malah dia yang terlambat hahaha! Akan kuberikan hukuman padanya saat ia datang! Aku tersenyum-senyum sendiri layaknya orang yang sudah gila. Hey! Tapi aku masih waras!
Aku duduk di atas batu itu, menikmati ketenangan dan udara sejuk pedesaan serta pemandangannya yang sangat indah. Kulihat beberapa orang petani keluar dari rumah dan pergi ke ladang gandum mereka atau ke kandang hewan yang mereka pelihara untuk memungut hasil sekaligus merawatnya. Wangi rumput yang lembut menusuk hidungku, beberapa biji dandelion yang berwarna putih terbang melintas dan salah satunya mendarat di rambutku. Aku tertawa kecil, mengambil bunga itu lalu melepaskannya ke udara agar ia bisa terbang bersama kawanannya dan pergi ke tempat yang cocok untuk tumbuh. Biji dandelion tadi mengingatkanku pada sebuah lagu dari penyanyi yang sangat aku sukai. Aku menarik nafas dan mulai menyanyikan liriknya sebisaku sambil menikmati pemandangan di hadapanku.
"Xiao xue li ba pang de pu gong ying
Shi ji yi li you wei dao de feng jing
Wu shei cao chang chuan lai chang de sheng yin
Duo shao nian hou ye hai shi hen hao ting...
Jiang yuan wang zhe zhi fei ji ji cheng xin
Yin wei wo men deng bu dao na liu xing
Ren zhen tou jue ding ming yu de ying bi
Que bu zhi dao dao di neng qu na li...
Yi qi zhang da de yue ding
Na yang qing xi
Da guo gou de wo xiang xin
Shuo hao yao yi qi lu xing
Shi ni ru jin
Wei yi jian chi de ren xing~"
Aku berhenti menyanyi lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Suasana pedesaan memang jauh berbeda dibanding suasana perkotaan. Suasana kota yang sangat berisik oleh klakson-klakson kendaraan, bunyi mesin dan lain-lain membuat kota Beijing menjadi sangat berisik, padat dan banyaknya kendaraan bermotor serta pabrik-pabrik menyebabkan polusi udara. Berbeda dengan desa yang suasananya jauh lebih tenang dan segar tanpa polusi. Wajar saja orang-orang desa hidupnya lebih lama, hahaha.
Aku memandang langit cerah yang membentang tanpa batas ini sambil merenungkan saat-saat yang kuhabiskan bersama orang tuaku sebelum aku terlempar ke zaman ini. Secara tidak sadar, aku merenung sampai tidak sadar bahwa beberapa menit sudah berlalu.
"Pagi, Xu-Xu!" Sahutan yang tak lain dari Zhao Yun menyadarkanku dari lamunanku.
"Ah, Yun-Yun." Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Pagi."
"Tumben benar kau bisa datang lebih duluan dariku." Ia tertawa.
"Huh, aku sudah menunggumu selama beberapa belas menit tahu!" Aku menyahut. "Sekarang kau harus dihukum."
"Eh? Kenapa aku harus dihukum? Aku tidak datang terlambat kok. Kau saja yang datangnya terlalu awal."
Memang benar sih...
"Baiklah...padahal tadi aku berniat untuk menghukummu." Aku melompat turun dari batu besar yang kududuki.
Ia malah tertawa terbahak-bahak. "Seribu tahun pun kau belum tentu bisa menghukumku karena alasan terlambat, Xu-xu! Aku selalu datang tepat waktu!" Ia tertawa puas dan bergaya layaknya seorang jendral yang baru saja menang perang. Dasar Yun-Yun.
Aku langsung mengacungkan tombak yang Zhao shu shu berikan sebagai hadiah saat ulang tahunku waktu itu.
"Wah... kelihatannya Xu-Xu ini mau menantangku ya?" Ia tersenyum menantang. "Baiklah, bagaimana kita adakan sebuah duel kecil, Xu-Xu?"
"Hah?!" Spontan saja aku cukup terjekut oleh perkataannya.
"Aku? Berduel dengan seorang ahli tombak seperti Yun-Yun? Wah... pastinya akan sangat menarik." Batinku.
Aku menerima tantangannya dan kami mengadakan duel persahabatan. Ia tertawa dan langsung mengambil... hah? Tongkat? Aku kira dia akan menggunakan tombaknya itu. Ya sudahlah, aku tidak peduli. Masing-masing dari kami mengambil posisi bertarung kami dan bersiap-siap untuk menyerang. Zhao Yun seperti biasa, terlihat sangat tenang dan bersemangat.
"Kita lihat seberapa jauh kau sudah berkembang, Xu-Xu." Ia menantang.
"Pasukanku, lihatlah Jiangjun kalian, Zhao Jiangjun, melawan sang Jiangjun wanita ternama di zaman ini, Yang Jiangjun!" Ia berseru sebelum membanting tongkatnya ke tanah sebagai tanda dimulainya duel. "Ayo!"
Kami berdua saling mendekati dan mengayunkan senjata kami saat jarak kami hanya tinggal satu meter.
Brak!
Suara benturan tombak dengan tongkat terdengar nyaring di udara. Kami saling tidak mau menyerah dan terus bertahan dalam posisi sekarang. Aku berusaha untuk mendorong Zhao Yun ke belakang tetapi tentu saja dia justru yang bisa mendorongku karena seorang laki-laki memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding seorang perempuan. Aku melompat mundur dan langsung mengendalikan keseimbanganku. Zhao Yun melihat kesempatan semacam ini tentu saja tidak melewatkannya sehingga ia langsung menerjang ke depan dan mengarahkan ujung tongkatnya ke arahku. Aku tidak sempat mengerakkan tombakku untuk menangkisnya sehingga aku lebih memilik untuk menunduk dan berguling menjauh darinya. Untung saja aku berhasil menghindar kalau tidak pasti ujung tongkat itu sudah menghantamku dan aku akan kalah telak dalam satu kali serangan.
"Ah, meleset." Ia berkata dengan tenang dan senyuman mengejek muncul.
Aku menghela nafas lega dan langsung berdiri lalu menerjang ke arah Zhao Yun. Ia terlihat tetap tenang saja dan tidak bergerak sedikitpun dari tempat ia berdiri sekarang. Aku siap menghajarnya dengan gagang tombakku ketika ia menunduk dan langsung mengarahkan tongkatnya ke arahku. Sekali lagi aku menghindar dengan cara melompat ke belakang.
"Trik yang sama takkan bekerja dua kali, Jiangjun (将军)! Weeee!" Aku meledeknya sambil menjulurkan lidahku.
"Oh ya?" Dan ia langsung berlari dengan cepat ke arahku begitu menyelesaikan kalimatnya. Ia kali ini melompat dan bersiap membanting tongkatnya ke arahku. "Terima ini!"
Aku langsung menahannya dengan gagang tombakku dan lagi-lagi, hal serupa terjadi lagi. Ia melompat mundur sedikit lalu menusuk-nusukkan tongkatnya ke arahku dengan cepat. "Waaaa!" Aku berusaha untuk menghindarinya tetapi malang, salah satu serangannya mengenai lenganku. Aku langsung terjatuh ke tanah dan meringis kesakitan. "Sa... sakit...,"
Zhao Yun langsung berlutut di hadapanku. "Waaa... maaf, Xu-xu! A-Aku tidak sengaja!" Zhao Yun berkata dengan panik. Ia menggenggam lenganku yang terkena serangan mautnya itu dan memeriksanya. "Aduh...gawat..sampai memar begini... maafkan aku, Xu-xu!" Ia lalu mengurut lenganku yang memar itu pelan-pelan.
"Aww!" Aku berteriak kesakitan dan ia langsung berhenti. Terlihat ekspresi khawatir itu masih terpasang di wajahnya.
"Ti-tidak... ini bukan apa-apa kok." Aku berbohong.
Sekali lagi ia meminta maaf padaku dan tentu saja, aku memaafkannya. Lagipula ia tidak menyangka jika salah satu serangannya itu akan mengenaiku. Ya biasalah...orang yang sudah keseruan berduel pasti akan terlalu bersemangat dan akhirnya ya begitulah.
"Kalau begitu, kita hentikan dulu ya duelnya. Aku tidak mau kau terluka lagi. Maaf tadi aku terlalu bersemangat."
"Tidak apa-apa kok, Yun-yun!" Aku tertawa kecil. "Tapi... kau lagi yang menang...," Aku mengembungkan pipiku.
"Wahahaha! Tentu saja! Kau akan perlu lebih dari seribu tahun untuk mengalahkan tuan Zhao Yun yang hebat ini!" Ia membanggakan dirinya dan tertawa penuh kemenangan. Aku langsung menjitak pelan kepalanya dan ia memegang kepalanya itu. "A-Aduh...,"
"Muh~! Aku akan membuatmu menelan kembali kata-kata itu!" Aku mengembungkan kedua pipiku sementara ia tertawa lagi. Kali ini, suara tawanya semakin kencang saja.
"Kenyataan, Xu-xu... jangan pernah melawan kenyataan...," Ia tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Aku kembali melayang sebuah jitakan ke dahinya sebelum akhirnya tertawa bersama.
To Be Continued...
Kaien-Aerknard: Woohooo~ Akhirnya Chapter 4 bisa di release juga XD tanpa basa-basi lagi, langsung saya tutup saja chapter ini! Duo Y!
Yin dan Yun: Mind to RnR, ge ge dan jie jie sekalian? #senyum lebar nan imut
~Finishing note~
1. Lirik yang dinyanyikan oleh Xu Yin judulnya adalah 'Pu Gong Ying De Yue Ding (蒲公英的约定)' yang berarti 'Dandelion's Promise'. Pu Gong Ying artinya Dandelion, de (的) artinya punya dan yue ding artinya janji. Lagu ini dinyanyikan oleh Zhou Jie Lun (周杰伦) alias Jay Chou.
3. Jiang Jun (将军) artinya Jendral. Marga si jendral disebutkan sebelum pangkatnya itu. Cara penyebutan marga lebih dahulu sebelum pangkat berlaku untuk semua jenis pangkat. Contoh Zhao jiang jun, Liu huang shu.
Author note: Akhirnya author punya waktu luang untuk meng-edit...hahaha ^^
{Published at 1 December 2012...edited at 2 December 2012...}
