OH, MY UNICORN

Genre : Romance, Comedy

Rated : T

Main cast : Kim Joon Myeon, Zhang Yi Xing

Other cast : Kim Jong In

Length : Chaptered

Disclaimer :

Genderswitch. Adaptasi dari film Oh Baby!. Pemeran merupakan milik Agensi, Orang tua mereka, dan Tuhan.

.

.

.

Chapter 4 : Suho POV : Unicorn Lagi, Unicorn Lagi

.

.

.

Sudah menjadi tugasku melakukan pencatatan ulang mengenai tingkat ketidak disiplinan siswa setiap bulan. Ini adalah pekerjaan yang membanggakan, menurutku. Dengan begitu, aku jadi tahu bagaimana perkembangan kedisiplinan siswa di Performing Art School. Beruntung karena appa adalah kepala sekolah di sini. Jadi, saat aku melakukan tugas, aku bisa melakukannya di ruangan kepala sekolah.

Seperti siang ini. aku sedang menyusun laporan di komputer yang ada di ruang kepala sekolah. Aku memasukkan data ke sejumlah folder yang sudah aku buat, mencetaknya, membuat grafiknya, dan, kalau sempat, aku juga membuat laporan khususnya.

Appa sedang ada di kantor siang itu. Petugas kebersihan baru saja membawakan secangkir the hangat ke atas meja appa. Aku pun kembali ke rutinitasku sampai appa bangkit dari kursinya dan memintaku memanggilkan Jong dae seonsaengnim.

"Panggilkan Jongdae seonsaengnim!" katanya tegas dan berwibawa.

Aku meninggalkan pekerjaan untuk memanggil Jongdae seonsaengnim. Guru dengan wajah kotak itu berjalan gugup menuju meja appa. Aku tidak tahu lagi apa yang mereka bicarakan di sana. Saat ini, aku sudah tenggelam lagi ke dalam aktivitasku.

Hmh, coba lihat untuk bulan ini. tingkat pelanggaran yang terjadi di Performing Arts School meningkat. Kalau boleh kubilang, meroket. Semua gara-gara seseorang yang bernama Yixing itu. Yeoja yang tidak tahu tanggal berapa hari ini, harus pakai apa ke sekolah, dan harus datang jam berapa ke sekolah. Setiap hari, selalu saja ada tiket pelanggaran yang kurobek untuk yeoja itu. Dalam seminggu terakhir ini, aku sudah mengganti buku tiket pelanggaranku sebanyak tiga kali. Sebagian besar habis untuk si Yixing itu.

Aku sedang menulis pelanggaran-pelanggaran yang pernah dilakukan Yi Xing ketika terdengar appa juga menyerukan nama Yixing.

"Jadi, nama anak itu Yixing?" serunya. Dari nada bicaranya, terdengar sedikit ketegangan dan kekesalan.

"Ne, kyojangnim" jawab Jong dae seonsaengnim gugup.

"Sejak dia di sini, semua jadi kacau!" lanjut appa sambil menarik kain penutup papan statistik di dekat mejanya. Statistik yang terpampang di situ adalah buatanku. Dibuat berdasarkan nilai-nilai kuis seluruh siswa di sekolah ini. Dan, si Yixing adalah satu-satunya murid yang mendapatkan nilai F dari seluruh siswa di sekolah. Akhirnya, grafik yang muncul agak menurun dari grafik bulan sebelumnya. "Nilai rata-rata sekolah turun! Dia harus pindah"

Jongdae seonsaengnim berdiri dengan wajah pucat.

Keadaan hening sesaat. Biasanya, kalau appa sedang tegang seperti itu, tidak ada yang berani berbicara atau membantah. Aku pun buru-buru kembali ke pekerjaanku. Namun, saya tidak dapat memungkiri bahwa aku ingin mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi di dalam sana.

Tiba-tiba saja, terdengar langkah kaki dari arah belakangku. Seorang namja berusia sekitar 40-an berjalan dengan santai ke arahku, tersenyum, kemudian masuk ke ruangan appa. Wah, ini akan menjadi perseteruan yang menarik. Aku otomatis pura-pura mengetik supaya bisa konsentrasi mendengar apa yang terjadi di ruangan sebelahku. Ruangan itu tidak ditutup sekat apapun.

Namja yang baru masuk ke ruangan appa tadi bernama Mr Park. Menurut appa, dia adalah temannya semasa sekolah di Performing Arts School. Appa tidak suka orang itu sehingga aku pun ikut tidak suka pada orang itu. Terakhir aku melihat Mr Park, dia datang ke rumah kami dan membicarakan tentang kehadiran murid baru asuhannya. Menurut dugaan kuatku, murid itu adalah Yixing. Mereka sempat berargumen. Aku tidak tahu persis apa yang mereka debatkan. Yang pasti, appa menyebut-nyebut, "Ini tidak seperti dulu", "Ini bukan sekolah sembarangan", dan "Saya kepala sekolah di sini". Namun, tetap saja, Mr Park yang menang. Entah apa yang dia bicarakah.

Oh, mereka mulai bicara lagi.

"Menyerah, Kyuhyun-ah? Kata Mr Park memecah keheningan. Matanya menengok sekeliling. Sementara itu, appa mematung karena terkejut. "Enam belas tahun ruangan ini masih belum berubah juga. Sama seperti rambutmu" sindirnya.

Appa menghampiri Mr Park dengan geram. "Sedang apa kau di sini?"

"Lagi berpikir" jawabnya meremehkan. "Jangan-jangan, pembicaraan orang-orang itu benar. Kau belum sanggup menjadi kepala sekolah. Satu anak bermasalah, kau tidak bisa menghandlenya?"

Appa terdiam mendengar kata-kata Mr Park. Matanya tidak lepas menatap mata Mr Park yang bulat dan memancarkan aura permusuhannya.

"Keluar dari sekolah saya!" Ujar appa tegas.

"Kyuhyun-ah… ini sekolahku juga. Kau tentu tahu itu, kan?"

Mr Park menengok ke salah satu foto yang ada di dinding. Foto yang sering aku lihat setiap kali aku mendekati meja appa. Foto tua, warnanya hitam putih dan pinggirannya sudah menguning. Dalam foto itu, tiga orang pemenang berdiri di atas sebuah podium juara. Aku sangat yakin appa ada di podium juara ke dua. Namun, aku tidak tahu dan tidak mengenal sama sekali siapa yang ada di podium juara pertama dan juara ke tiga.

"Kau benar-benar harus ganti gaya" sambung Mr Park setelah puas memandangi foto tua itu.

Uhm, tunggu. Gaya? Kalau diingat-ingat tentang gaya, sepertinya yang juara satu di podium itu adalah Mr Park. Appa tetap mengenakan setelan rapi dan sopan sepertiku, yang menurut appa adalah setelan orang-orang penting seperti keluarga kerajaan dan sebagainya. Sementara itu, si juara satu mengenakan setelan urakan dan acak-acakan. Terkesan seperti orang yang berpenampilan mengikuti perkembangan zaman. Kelihatan sekali dia orang yang suka bersenang-senang, seperti si Mr Park ini—lagi pula, kalau dipikir-pikir, wajah di foto itu tidak jauh berbeda dengan wajah Mr Park—.

"Saya kepala sekolah terbaik yang pernah ada di Performing Arts School. Harap ingat itu" sahut appa dengan tegas, membuyarkan lamunanku tentang foto itu.

"Mwo?" Mr Park tersenyum meremehkan. "Kita lihat saja, kau mampu atau tidak membuat Yixing masuk standar anak-anak lain di sini. kalau tidak mampu, ya… mungkin kau tidak sehebat yang kau pikir"

Mr Park pun mengambil langkah keluar sambil tersenyum, membuat appa semakin geram.

"Lain kali, panggil saya dengan formal!" seru appa dengan marah. "Semua orang di sini menghormati saya!"

.

.

.

Meski aku bukan orang yang suka dengan ingar-bingar dunia hiburan, aku juga mempunyai cara sendiri untuk menghibur diri sendiri. Hal-hal yang dapat menghiburku adalah ketika ujian, membeli buku di toko buku, membaca novel-novel sastra, dan mengikuti forum-forum yang aktif dalam bidang keilmuan di internet.

Aku sering kali merasa bergairah ketika menanti ujian. Aku selalu menyiapkan materi-materi yang akan keluar dalam ujian. Rasanya menyenangkan sekali bisa membandingkan satu ujian ke ujian lainnya, membuat grafik perkembangan, dan mengevaluasi kemampuan diriku sendiri. Rasanya, memuaskan.

Aku juga sering mendatangi mal atau tempat-tempat gaul lainnya, seperti anak muda yang sebaya denganku. Aku sering mengunjungi toko buku, food court, lalu… ng… yah… yang pasti aku sering mengunjungi mal. Aku sering menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku, sama halnya dengan Baekhyun dan teman-temannya yang sering menghabiskan waktu mereka di toko sepatu dan pakaian.

Dan, kalau sudah surfing di internet, bisa dipastikan kalau aku akan lupa bahwa aku berada di dunia nyata. Aku aktif di berbagai forum—jangan heran kalau beberapa orang familier dengan nickname 'The Knight KJM 0522'. Dan, aku tidak pernah melewatkan berbagai isu, dalam maupun luar negeri. Ada isu yang menyenangkan, ada isu yang mendebarkan, dan ada pula yang menyebalkan.

Salah satunya adalah Unicorn. Dia adalah isu yang paling menyebalkan beberapa minggu terakhir.

Sejak "High school dance competition" digelar beberapa minggu lalu, masyarakat Korea sepertinya terkena demam Unicorn. Aku tidak mengerti efek apa yang dikeluarkan Unicorn dalam waktu yang sesingkat itu. aku memang belum pernah menyaksikan acara "High school dance competition", baik di TV maupun di studio—sebenarnya, sepupu-sepupuku yang kebetulan sedang berkumpul di rumahku, waktu itu mereka menontonnya, tapi aku sedang sibuk membuat hipotesis tentang senyawa-senyawa kimia. Namun, aku cukup heran mendengar kabar bahwa Unicorn tampil tidak lebih dari tiga puluh menit, tetapi popularitasnya menyebar lebih dari lima hari.

Aku sudah sangat bosan.

Beberapa forum mulai membahas kemunculan Unicorn. Beberapa netizen benar-benar mengaitkan fenomena ini secara ilmiah. Apakah Unicorn memang muncul secara mendadak ke dalam arena atau semua ini ada hubungannya dengan skrip dari sang sutradara? Ataukah kemunculan Unicorn memang permintaan dari sponsor?

Aku tidak peduli dengan pembicaraan secara ilmiah atau bukan. Apakah Unicorn itu manusia atau bukan, aku mulai tidak menyukainya. Kadang-kadang, orang-orang sering menghabiskan waktu mereka membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Sesuatu yang tidak memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa. Misalnya, seorang artis yang digosipkan telah putus dari kekasihnya, sementara si artis tidak mau mengakuinya. Atau soal skandal tentang hubungan kedua artis yang mulai terkuak karena mereka tengah berkencan di tempat ini saat tengah malam, tetapi malah dikonfirmasi lewat agensinya. Banyak orang yang terus-menerus membicarakan artis tersebut. Padahal, hey… saat itu sudah terjadi beberapa kali bencana dan jelas di luar sana banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan yang memadai.

Huh, dunia ini memang aneh! Hal-hal besar mulai dianggap remeh, sementara hal-hal kecil mulai menjadi perhatian.

Sepertinya, aku harus menghibur diri siang ini. aku harus pergi ke suatu tempat.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengganti pakaian rumahku dengan pakaian yang lebih pantas dan pergi ke mal terdekat. Aku menaiki taksi. Sepanjang perjalanan, di sisi-sisi jalan banyak sekali aku melihat billboard-billboard yang menampilkan Unicorn dengan topengnya yang menurutku sangat memuakkan. Ada juga billboard yang berisikan tentang jadwal grand final "High school dance competition" yang beberapa minggu lagi akan diselenggarakan.

Begitu aku tiba di mal pun, banyak anak kecil yang mengenakan topeng yang sama dengan topeng Unicorn. Apa-apaan ini? Sekarang, mereka mempunyai presiden baru atau apa? Kenapa sepertinya seluruh warga Korea sangat peduli pada Unicorn? Padahal, semua orang juga tahu, Unicorn masih berkemungkinan dilarang tampil di grand final karena dia tidak terdaftar di sekolah manapun.

Jangan-jangan, si Unicorn itu sudah tua. Mungkin umurnya sudah dua puluh tahunan dan wajahnya agak keriput. Karena itu, dia memakai topeng dan tidak terdaftar di sekolah manapun. Ya, pasti itu alasannya.

Aku menaiki escalator menuju toko buku di lantai dua. Belum juga aku sampai di sana, ada ramai-ramai di sebuah area permainan anak-anak. Karena penasaran, aku pun melangkahkan kaki ke sana dan melihat keramaian itu.

Apa? Unicorn ada di sana?

Yeoja dengan topeng dan jaket capuchon itu sedang bermain Dance Revolution bersama dengan, siapa itu… Luhan? Temannya Baekhyun? Baekhyun dan Xiumin juga terlihat berdiri di samping mesin Dance Revolution dengan wajah sumringah dan terus bertepuk tangan menyemangati sahabat mereka—Luhan— yang sedang beradu dance dengan Unicorn. Wah, ternyata sekarang Baekhyun dan teman-temannya mengenal dan akrab dengan Unicorn.

Beberapa saat kemudian, Luhan turun dari mesin dance dan berjalan dengan wajah tertekuk. Sementara itu, Unicorn mulai dikerubungi banyak orang untuk dimintai tanda tangan.

Lihat, fenomena itu benar-benar memuakkan. Bukannya aku benci dengan kehadiran Unicorn. Aku hanya tidak suka dengan euphoria berlebihan oleh penggemar Unicorn. Boleh-boleh saja Unicorn menjadi idola beberapa anak kecil supaya mereka mempunyai seseorang yang bisa dijadikan panutan. Tapi, kan Unicorn hanya tampil tidak lebih dari tiga puluh menit. Dan, jelas, Unicorn masih belum bisa memberikan kontribusi apa-apa.

.

.

.

TBC

.

.

.

Annyeong ^.^ Ketemu lagi dengan kekasih sahnya Sehun selain teteh Lulu author yang suka membuat chapter Suho POV yang sangat pendek -_-.

Maafkan otak author yang mikirnya selalu susah kalo bikin Suho POV hehe :D tapi author janji di beberapa chapter ke depan Suho POV bakalan panjang juga dengan Lay POV, cuman author belum tahu di chapter berapa. Jadinya ditungguin aja ya reader-deul.

Btw, kemaren ada yang bilang kalau ada kata yang typo ya? kemaren author baru ngecek, dan ternyata bener :D Thanks buat yang ngoreksi kemaren. Author baru sadar sumpah. Itu emang bener-bener typo, kok, sumpah. Wkwk…

Sampai jumpa di next chapter.. sebentar lagi Lay sama Suho bakalan akrab karena sesuatu hal, loh~~~