Hinata berjalan menuju halte bus, disepanjang perjalanannya ia sedang memikirkan banyak hal, saat itu memang sudah menunjukkan waktu senja, terlihat langit yang berwarna jingga dengan berhiaskan garis-garis merah di sekitarnya, membuat langit yang agak mendung itu menjadi sedikit berwarna. Hinata berhenti berjalan, ia mengadahkan kepalanya ke atas dengan mata yang terpejam, menghirup oksigen banyak-banyak kemudian menghembuskannya secara kasar. Jika dilihat dari dekat wajah ayu itu menunjukkan raut yang nampak lelah.
.
.
Wuuushh...
.
.
Hembusan angin menerbangkan helaian indigonya, matanya masih terpejam menikmati terpaan angin kewajahnya dan karena terlalu menikmati suasana tersebut, tiba-tiba langit menjatuhkan setitik air ke wajah gadis itu, dari yang awalnya hanya setetes tapi lama-lama menjadi ribuan tetes. Tanpa berpikir panjang Hinata langsung berlari menuju halte yang terletak hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi.
Suasana halte saat itu sangat sepi, mungkin hanya ada Hinata seorang di sana. Tapi jika dilihat lebih jelas lagi di samping tiang halte ada seorang pemuda yang memunggunginya.
Hinata sangat mengenal punggung itu, punggung yang lebar nan kokoh, punggung yang selalu ingin ia peluk, punggung seseorang yang akhir-akhir ini selalu muncul dipikirannya. Ya, disana ada Naruto yang sedang berdiri menatap tetesan air hujan dengan pandangan kosong.
"Tiba-tiba turun hujan, ya ?" Hinata mendekat mengulang ucapan pemuda di depannya saat itu. Mendengar suara lain dari arah belakang pemuda itu tersentak dan langsung menoleh ke pemilik suara. Naruto memandang Hinata secara intens. Hinata yang dipandang seperti itu jadi salah tingkah sendiri.
"Ke-kenapa kau memandangku seperti itu ?" Gugup itulah yang dirasakan gadis itu saat ini.
"..."
Tak mendengar jawaban dari pemuda didepannya, ia memilih diam dan mulai mengalihkan pandangannya ke samping.
"Selain suka mengikutiku, kau juga suka meniru ucapanku, ya !"
"Eh.." Tersentak dan Hinata mulai gugup lagi, matanya semakin bergerak gelisah. Melihat hal itu Naruto hanya menghela nafas.
.
.
Wuusshhh... Ctarr... Ctarrr...
.
.
Angin semakin berhembus kencang membuat udara di sana menjadi semakin dingin, ditambah suara kilat yang saling bersautan membuat tubuh Hinata bergetar karena takut dan kedinginan. Melihat tubuh Hinata yang bergetar, ia mulai melepas jas sekolah dan menaruhnya ke kepala Hinata.
.
.
Deg...
.
.
De Javu... dia pernah mengalami situasi ini, sepulang sekolah disaat senja, turun hujan dan lagi sesuatu yang membungkus kepalanya. Bukankah ini terlihat sama, tapi bedanya jika dulu mereka terjebak berdua di kuil namun sekarang mereka terjebak berdua di halte bus. Sadar dengan pemikirannya itu tiba-tiba pipinya memanas.
"Si-siapa yang mengikutimu... d-dan juga aku tidak meniru ucapanmu. A-aku tidak tahu jika dari tadi kau ada disini." Untuk menenangkan debaran jantungnya Hinata memilih menjawab petanyaan dari pemuda tadi.
Naruto mulai menaikkan sebelah alisnya "Jika benar seperti itu... kenapa cara bicaramu seperti orang gagap, heh ?"
"I-itu... a-aku... aku hanya menggigil karena kedinginan, ya.. karena kedinginan. Jadi karena itu mungkin suaraku menjadi gagap." Hinata menyangkal tuduhan itu dengan mata yang terus melirik ke arah lain agar tidak melihat mata blue sapphire di depannya itu.
"Terserah kau saja."
Naruto memasukkan tangannya kedalam saku celana kemudian menghadap ke depan kembali, melihat tetesan air hujan yang semakin deras. Mungkin hujan di sore itu tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Terbukti sudah hampir 2 jam mereka terjebak di halte itu, bus yang mereka tunggu juga tak kunjung datang.
Hinata semakin kedinginan ditambah cahaya di langit dengan suara keras yang saling bersautan itu, membuatnya semakin takut dan semakin bergetar hebat. Melihat tubuh Hinata yang sudah bergetar hebat, Naruto langsung menariknya berjalan menuju kursi yang berada di halte itu. Hinata yang ditarik begitu saja, hanya pasrah mengikuti kemana naruto membawanya pergi.
Duk... Naruto mendudukkan Hinata di atas kursi, perbuatan Naruto itu membuatnya tercengang. Tidak sampai disitu saja bahkan sekarang Hinata mulai membulatkan matanya karena tindakan lain dari pemuda itu.
.
.
Set...
.
.
.
Greb...
.
.
.
Naruto memeluknya, setelah sadar Hinata mendongak melihat wajah tampan pemuda itu. "A-apa yang kau lakukan." cicitnya.
Pemuda itu hanya diam melihat ke arah depan tanpa mempedulikan suara gadis dalam pelukannya itu. Tidak mendapat jawaban Hinata memilih diam.
Hening... itulah suasana yang tercipta diantara mereka. Mereka memilih diam dengan pemikirannya masing-masing. Hinata juga merasa enggan untuk memecahkan suasana seperti ini karena ini adalah momen langka yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Terjebak di halte bus karena hujan yang tak kunjung reda, ditambah lagi pemuda yang kau sukai itu memelukmu dengan cukup erat agar kau tak merasa kedinginan. Bukankah itu hal yang cukup romantis, tapi sayangnya mereka bukan sepasang kekasih.
'Benar juga itu tidak akan mungkin terjadi, bahkan Naruto-kun tidak ingin jika aku dekat dengannya, tapi mengapa perlakuannya ini seolah memberiku harapan lain.' Pikir Hinata lalu tersenyum kecut.
"Kenapa kau lakukan ini ?"
"Apa maksudmu ?"
"Kau seolah memberiku harapan untuk bisa lebih dekat denganmu."
"..."
"Setiap kali aku dalam masalah, kau selalu ada didekatku. Bahkan aku berpikir jika selama ini kau selalu peduli padaku. Hiks..." Hinata mulai terisak.
Naruto hanya diam mendengar isakan itu. Dalam hati ia juga merasa sesak saat melihat gadis itu menangis. Tapi karena ego yang terlalu tinggi membuatnya sulit mengungkapkan perasaannya selama ini.
'Ya, aku memang selalu peduli padamu dan juga aku selalu mengawasimu. Tolong hentikan tangisanmu itu, karena aku tidak suka melihat wajah manismu itu bersedih apalagi sampai menangis. Tapi untuk saat ini biarkan aku memahami perasaanku yang sesungguhnya, Hinata. Dan jika waktunya telah tiba aku akan menceritakan semua alasan mengapa aku berubah, tapi asal kau tahu Hinata perasaanku padamu ini tidak akan pernah berubah... sejak dulu sampai sekarang aku masih menyukaimu. Mungkin karena ego yang terlalu tinggi membuatku sulit untuk mengungkapkannya. Untuk itu, meskipun aku menyuruhmu pergi menjauh dariku... kumohon tetaplah disampingku, untuk meyakinkan perasaanku ini karena aku yakin hanya kau yang bisa mengubahku menjadi Naruto yang seperti dulu .' Batin Naruto dengan wajah sendu
"Aku tidak mengerti... Hiks... Jika kau menginginkanku menjauhimu... Hiks... Lantas mengapa kau lakukan semua ini."
"..."
Dari tadi pemuda itu hanya diam mendengar semua penuturan Hinata, tangannya terkepal erat dan rahangnya mulai mengeras. Dia tak tahan jika melihat Hinata menangis seperti ini apalagi itu karena ulahnya. Untuk itu ia pun melerai pelukannnya dan mulai bangkit berdiri.
Saat Hinata merasa pelukan itu terlepas, ia pun ikut berdiri dan menatap wajah pemuda itu yang entah mengapa terlihat semakin dingin. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Naruto berlari menerobos hujan yang masih meyisakan rintik-rintik kecil, meninggalkan Hinata di sana sendiri dengan pandangan kosong.
"Hahhh... selalu saja seperti ini. Dia selalu meninggalkanku sendiri." Keluh Hinata.
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
"Tadaima..." Naruto memasuki rumah dan melepaskan sepatunya kemudian meletakkannya di rak dekat pintu.
"Okaeri..." Terdengar balasan suara wanita dari dalam rumah dan disusul suara langkah kaki yang mulai mendekat. "Kau baru pulang ? Dan hei... Kenapa wajahmu kusut begitu ? Apa kau sakit ?" Tanya wanita bersurai merah itu bertubi-tubi dengan nada yang kentara akan kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja, Kaa-san. Kau tak perlu sekhawatir itu. Mungkin aku hanya kedinginan karena kehujanan tadi." Jawab pemuda itu untuk menghilangkan raut cemas dari wajah sang ibu.
"Masuklah ke dalam, akan kubuatkan coklat panas. Setelah itu kau mandi dan istirahat, agar tidak sakit."
"Hmmm."
Naruto pun hanya mengikuti perintah wanita bersurai merah itu. Naruto sangat menyayangi ibunya, setelah orang tuanya bercerai ia memilih tinggal bersama ibunya dan mengubah marganya menjadi Uzumaki, marga dari sang ibu Uzumaki Kushina. Sedangkan sang ayah Namikaze Minato saat ini berada di Tokyo tinggal bersama kakaknya Namikaze Menma yang sekarang menjadi guru olahraga di sekolahnya. Kushina masih menjaga hubungan baik dengan mantan suami dan anak sulungnya itu tapi tidak dengan Naruto hubungan mereka tidak cukup baik.
Naruto menaiki tangga satu persatu menuju kamarnya di lantai dua, kamarnya terlihat cukup rapi untuk seorang pemuda seusianya. Dinding kamar yang didominasi warna abu-abu kehitaman, dengan ranjang ukuran sedang yang terletak di tengah kamar, di pojok kamar terdapat lemari pakaian, juga ada beberapa rak yang isinya penuh dengan buku-buku, dan meja belajar yang terletak di dekat jendela.
Naruto mulai memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar, menuruti semua perintah ibunya tadi. Ia menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit di kamar mandi. Setelah itu ia mulai merebahkan diri ke ranjang menutup matanya sejenak untuk menghilangkan penat yang dirasakannya tadi.
.
.
.
Tok... tok... Cklek...
.
.
.
Terlihat dari arah pintu wanita paruh baya dengan surai merahnya itu membawa nampan dengan gelas yang megepulkan asap di atasnya. Kemudian berjalan menuju ranjang anaknya dan meletakkan nampan itu di atas nakas sebelah ranjang. Kushina mengira jika Naruto sedang tidur jadi dia menepuk pipi putranya itu secara halus agar terbangun.
"Hei... ayo bangun. Minumlah coklat panasmu, setelah meminumnya kau boleh lanjutkan tidurmu."
"Hm." Gumamnya. Setelah itu Kushina mulai meninggalkan kamar anaknya.
.
.
.
Tap... Tap... Tap...
.
Cklek... Blam...
.
.
.
Naruto langsung bangun setelah Kushina meninggalkan kamarnya. Langsung saja ia mengambil coklat panas itu, meniupnya lalu meminumnya. Setelah itu ia kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang. Dia masih ingat bagaimana ia meninggalkan Hinata di halte bus sendirian dengan keadaan yang kurang baik.
"Sial... kau memang brengsek Naruto !" Umpatnya.
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
Sementara di tempat lain, Hikari selaku ibu Hinata dibuat bingung bercampur cemas melihat keadaan putrinya. Bagaimana tidak, Hinata pulang dalam keadaan kacau, mata yang sembab, rambut kusut dengan seragam yang basah. Bahkan setelah megucapkan salam ia langsung berlari menuju kamarnya.
Di dalam kamar Hinata menangis dalam diam, dia tak menyangka jika Naruto akan meninggalkannya sendirian di halte tadi.
"Pria macam apa dia... meninggalkan seorang gadis yang menangis sendirian di halte karena ulahnya. Huh, benar-benar menyebalkan."
.
Tok... tok...
.
"Hinata... bolehkah ibu masuk ?"
Mendengar suara ibunya dari luar, Hinata buru-buru menghapus air matanya.
"Masuklah bu."
.
Cklek...
.
"Ibu membawakan ocha hangat untukmu. Minumlah !"
"Em... Arigatou. Aku akan meminumnya nanti. Maaf sudah merepotkan ibu."
"Emm... Apa kau baik-baik saja ? Ibu lihat kau dalam keadaan tidak baik ? Apa ada masalah ?"
"Aku baik-baik saja, bu. Mungkin karena kehujanan tadi kepalaku agak pusing."
"Benarkah ?" Hikari menyentuh kening putrinya untuk memastikan suhu badannya.
"Astaga... Kau demam. Tunggu sebentar ibu akan mengambil baskom dan air untuk mengompres demammu." Terlihat jelas jika Hikari sangat khawatir dengan putrinya itu. Ia pun langsung bangkit berdiri dan meninggalkan kamar putrinya.
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
Setelah beberapa menit ibunya kembali membawa nampan di atasnya terdapat mangkok berisi bubur, air putih, obat penurun panas dan juga baskom kecil berisi air. Ia menghampiri Hinata yang memejamkan mata.
"Sayang... Bangunlah ! Ibu membuatkan bubur untukmu, makanlah setelah itu minum obat dan kembalilah tidur. Ibu akan mengompresmu."
Hinata mulai bangun dari tidurnya dan mulai memakan bubur yang masih panas itu. Hanya beberapa suapan dia meletakkan mangkok itu ke atas meja dan mulai meminum obatnya. Ibunya tersenyum saat melihat putri kesayangannya itu sudah meminum obatnya. Ia pun mengambil handuk kecil dan mencelupkannya ke dalam baskom yang berisi air, kemudian memerasnya setelah itu ia menempelkan handuk itu ke dahi Hinata.
"Tidurlah ! Jika masih sakit besok tak perlu datang ke sekolah. Nanti ibu akan izinkan." Hikari membelai surai indigo putrinya itu dengan lembut.
"Ibu keluar dulu." Cupp... Setelah mengecup pipi putrinya yang tembam itu, Hikari pun beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar.
Hinata hanya melihat ibunya yang berjalan menjauh, setelah bayangan ibunya hilang di balik pintu. Ia mulai menatap langit-langit kamarnya dan bergumam "Hahhh... mungkin lebih baik besok aku tak datang ke sekolah." setelah itu ia mulai menutup matanya.
٭٭٭٭٭
Kisah remaja memang sulit untuk ditebak. Banyak yang mengatakan jika masalah dan perasaan mereka itu sangat rumit, padahal jika dilihat secara logika, hal itu sangatlah sederhana. Hanya saja sikap merekalah yang membuat semua itu menjadi rumit. Sama halnya dengan kisah Naruto dan Hinata ini, seandainya pemuda berkumis kucing itu mau menghilangkan egonya yang terlalu tinggi dan mulai menceritakan semua masalahnya kepada Hinata, sedangkan Hinata yang bisa bersikap lebih dewasa tanpa mengandalkan emosinya dan mau mengerti keadaan Naruto yang sekarang, mungkin masalahnya akan selesai, cukup sederhana memang. Tapi pemikiran tersebut tak berlaku bagi ke dua remaja itu, sikap remaja yang labil dan juga kekanakan membuat mereka enggan untuk mengerti satu sama lain. Benar-benar rumit, bukan !
.
.
٭٭٭٭٭
.
.
~To Be Continue~
.
.
R&R
