Bukan Cinderella

By: . Karoru . Charlotte . Cullen .

A Bleach FanFiction

Pairings : HitsuHina, HitsuRangi, IchiRuki, IshiOri

Disclaimer : Karna Karoru tau ga bakal ada yang percaya kalo Bleach itu punya Karoru, ya udah Karoru ngaku aja kalo Bleach akan tetap menjadi milik Kubo Tite-sensei..

Summary : "Saat itu, aku menyayanginya. Bahkan lebih dari kasih sayang seorang adik untuk kakak, aku mencintainya.." aku terdiam sejenak.

-Flash Back-

" Ada apa, Hinamori?" tanyanya lembut ke arahku. Aku menarik nafas sejenak lalu berjalan ke arah tempat tidurnya.

" Ada yang harus aku bicarakan kepada Unohana-san. Ini menyangkut Hitsugaya Toushirou-sama" kataku memulai pembicaraan

Chapter 3:

The Truth About You

Hinamori's P.O.V

"Apa yang mau kau katakan, Hinamori??" tanyanya lembut. Aku menarik nafas untuk menenangkan diri.

"Apakah aku boleh berhenti menjaga Hitsugaya-kun??" tanyaku dengan berat hati. Unohana-san tampak terkejut lalu wajahnya berubah menjadi kaku.

"Apa aku boleh tahu alasannya?" tanyanya tegas. Jantungku berdegup kencang tanda kalau aku gugup.

"Unohana-san pasti masih mengingat alasan kenapa kita meninggalkan kerajaan dulu." Jawabku.

"Jadi itu alasannya?" tanyanya. Aku mengangguk pelan. " Karena kau masih mencintainya? Begitukah, Hinamori?" tanyanya. Aku tidak menjawab. Unohana-san juga sudah tahu apa jawabanku, jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu. tetapi aku memberi satu anggukan kecil.

"Hinamori.. Mengapa kau tidak mengerti juga tentang peraturan untuk para peri??" Tanya Unohana-san padaku.

"Tentu saja aku mengerti, Unohana-san sudah pernah memberi tahuku tentang aturan itu.." kataku.

"Tentunya kau memahami apa arti dari aturan itu bukan, Hinamori Momo??" tanyanya dengan nada marah.

"Aku tahu" jawabku singkat. Takut untuk menatap mata hitam wanita yang sudah aku anggap seperti ibuku sendiri itu.

"Lalu aku harus menyuruh siapa untuk menjaganya??" tanyanya. Aku menggeleng pelan.

"Aku tidak tahu. Tapi aku tidak tahan lagi Unohana-san. Aku tidak bisa melupakannya.." Isakku. Wanita itu mendesah

"Aku akan memikirkannya lagi. Sementara ini. Kau harus tetap menjaganya." Katanya tegas. Aku hanya mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan kecil itu sambil berbisik "Gomennasai, Unohana-san". Akupun berlari keluar menuju satu-satunya tempat dimana aku bisa melepaskan semua kesedihanku. Danau Tsubaki yang terletak di tengah-tengah Kuchiki No Mori. Aku duduk dibawah sebatang pohon yang sangat rindang. Ditempat itulah aku pertama kalinya bertemu dengan Rukia-chan. Aku duduk di bawah sebuah pohon yang sangat rindang di pinggir danau itu. Aku memikirkan tentang keadaan Shirou-chan. Aku penasaran mengapa dia tidak bisa mengingatku. Lalu aku memutuskan untuk kembali ke Palace dan menanyakannya langsung pada Yamamoto-sama ataoupun Kurosaki-kun. Aku segera berganti wujud menjadi peri dan terbang menuju halaman belakang istana yang memang sepi. sesampainya di belakang istana aku langsung berubah kembali menjadi manusia kembali dan berlari menuju Great Hall. Tetapi aku ditahan oleh Isai-kun.

"Mau apa kau??" tanya Isai-kun tajam

"Aku hanya ingin melihat keadaan Hitsugaya-sama, apa tidak boleh, Isai-kun??" tanyaku dingin. Entah mengapa aku sedang merasa seperti ini, mungkin karena pembicaraanku dengan Unohana-san tadi.

"Apa kau diijinkan keluar masuk dengan bebas?" tanyanya lagi.

"Sekarang aku balik bertanya, apa aku harus punya kartu atau tanda khusus untuk masuk ke sini?" tanyaku

"Tapi kau harus punya izin!!" bentaknya

"DAN AKU MEMILIKINYA!! SEKARANG MINGGIR ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!!" bentakku. Dia tetap tidak bergeming sedikitpun. "Aku serius, Hisagi Shuuhei" aku tidak percaya bisa mengancamnya dengan keren!.

"Biarkan dia masuk, Hisagi-san" sebuah suara. Aku mendelik tajam dan melihat Kira-kun sudah ada di belakang pundak Isai-kun.

"Kira-kun benar. Biarkan aku masuk." Suaraku mulai tenang. Isai-kun mendesah lalu membukakan pintu. Aku mengucapkan kata 'Terimakasih' dengan nada menghina dan masuk ke dalam dengan berlari. Saat aku sedang berlari menuju Great Hall seseorang memanggilku aku berhenti dan menoleh. Seorang gadis berambut coklat sebahu, berwarna mata ungu, berjalan ke arahku.

"Apakah kau yang bernama Momo?" Tanya gadis itu. Aku mengangguk saja.

"Benar, aku Momo, ada perlu apa?" tanyaku bingung

"Aku Azumi, sepupu Hitsugaya-kun. Bisa kita bicara?" Tanya gadis bernama Azumi itu. aku mengangguk dan berjalan mengikutinya ke arah sebuah taman yang tidak aku kenali, kami duduk di salah satu bangku yang terletak di sekitar air mancur lingkaran berwarna putih yang anggun.

"Ada apa?" tanyaku penasaran.

"Sebelumnya, aku minta maaf, bukannya aku mencampuri masalahmu, Luina-chan dan Hitsugaya-kun, tetapi kau harus tahu ini." Katanya memulai pembicaraan.

"Memangnya ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Hitsugaya-kun?" tanyaku cemas. Azumi-sama memejamkan matanya.

"Antara ya dan tidak. Kau tahu siapa Hinamori itu?" tanyanya. Aku tersentak kaget.

"Ti-tidak, aku tidak mengenalnya" jawabku kaget. Karena aku menjawab terlalu cepat, tentu saja Azumi-sama tahu kalau aku berbohong, tetapi dia diam saja.

"Sejak Hitsugaya-kun terkena amnesia, dia selalu berteriak memanggil nama Hinamori itu jika malam hari sejak itu." Azumi-sama memulai ceritanya.

"APA??? Hitsugaya-kun amnesia?" tanyaku tidak percaya, kerongkonganku tercekat. Azumi-sama memandangku dengan pandangan heran.

"Kau tidak mengetahuinya?" Tanya Azumi-sama heran. Aku mengangguk dia mendesah lalu mulai berbicara lagi.

"Aku akan bercerita tentang masa lalu Hitsugaya-kun sejak dia ditinggal oleh Hinamori." Aku mengangguk lalu mendengarkan dengan seksama.

"6 tahun yang lalu, tepatnya saat Hitsugaya-kun berumur 17 tahun, dia sedang melatih kudanya di hutan sebelah utara, saat itu dia pergi sendirian. Padahal ojii-sama sudah melarangnya tetapi dia tetap saja pergi. Kau tahu kan bagaimana keras kepalanya Hitsugaya-kun, Momo-chan…"

Aku mengangguk..

"Tentu saja dia tetap pergi. Sebenarnya perasaanku sudah tidak enak ketika dia keluar dari gerbang, tetapi aku tetap diam, saja. Ternyata firasatku benar. Saat Hitsugaya-kun sedang memacu laju Kaido-kun, kuda putihnya, ada orang yang tidak dikenal menyerangnya. Aku tidak tahu darimana orang-orang itu berasal. Mereka menyerang Hitsugaya-kun.."

Aku terperanjat tetapi tetap tenang. Azumi-sama mulai menangis tetapi ditahannya.

"Lalu mereka mengikat kedua tangannya dan menutup matanya dengan kain dengan kasar. Lalu mereka tidak berhenti sampai disitu. Mereka…" kini Azumi-sama menangis. Aku menenangkannya.

"Kalau Azumi-sama tidak mau menceritakannya, aku tidak apa-apa." Kataku.

"Tidak, kau harus mendengarkan ini." Katanya keras kepala. Aku mengangguk walaupun aku mulai takut

"Mereka menjambak rambutnya lalu membenturkan kepalanya berkali-kali ke sebuah batu besar. Tentu saja Hitsugaya-kun tidak dapat melawan mereka. Dia hanya mengerang kesakitan dan darah mengalir dengan deras dari ubun-ubunnya. Lalu dia tidak sadarkan diri." Suaranya berubah lirih

"Aku, Luina-chan, Ayasegawa-san, Madarame-san, Hisagi-san, dan Kira-san menemukannya sudah bersimbah darah saat dia sudah tidak sadarkan diri. Aku pikir dia sudah meninggal, Aku menangis tetapi Luina tidak. Dia langsung meraih pergelangan tangan Hitsugaya-kun dan memeriksa denyut nadinya. Dia bilang nadinya melemah tetapi dia masih hidup. Kami semua langsung membawanya pulang dan pergi ke Divisi 4, divisi pengobatan." Jelasnya. Air mata masih mengalir dari kedua bola mata ungunya itu.

"Apa sebenarnya tujuanmu menceritakan ini padaku, Azumi-sama?" tanyaku

"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu, Momo-chan?" tanyanya. Aku mengangguk. "Kumohon, jangan buat Hitsugaya-kun mencoba untuk mengingat masa lalunya itu." ujarnya

"Mengapa?" tanyaku

"Keadaanya akan bertambah parah jika dia mencoba mengingat masa lalunya itu." jawabnya.

"Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku.

"Lindungi dia, berusahalah agar kau selalu ada di sampingnya. Setia mendampinginya. Hanya itu yang kuinginkan" katanya dengan nada memohon. Aku mengangguk.

"Asal kau tahu, sejak kejadian itu, Luina-chan sudah berubah, dia bukan lagi Luina-chan yang peka, keras kepala, dan ceria seperti yang dulu kukenal. Karena dia sangat takut akan kehilangan kakak satu-satunya itu, begitu pula Hisagi-san dan Kira-san. Mereka berubah menjadi sangat protektif terhadap Hitsugaya-kun. Karena itulah Hitsugaya-kun menjadi tidak bebas," Azumi terdiam sejenak

"Apalagi dengan adanya perang dengan Hueco Mundo yang dipimpin Aizen Sousuke, Ichimaru Gin dan Tousen Kaname itu. Tugas Hitsugaya-kun sebagai salah satu kapten menambah beban pikirannya. Aku takut kalau terjadi hal buruk lagi terhadap Hitsugaya-kun. Kumohon Momo-chan, hanyakau yang bisa aku percaya. Jaga Hitsugaya-kun.." pintanya.

"Tetapi Azumi-sama, apakah kau yakin?" tanyaku. Dia mengangguk.

"Tentu saja aku yakin, tidak ada yang sebaik kau." Katanya sambil tersenyum. Aku merunduk malu.

"Dan satu lagi Momo-chan." Tambahnya

"Apa itu?" tanyaku bingung

"Kumohon kau bisa maklum dengan sifat Luina-chan yang pemarah dan semakin keras kepala itu, sebenarnya dia juga tidak ingin seperti itu. Sejak kejadian itu, Luina-chan menjadi tipe protektif dan tidak dapat percaya kepada siapapun." Jelasnya.

"Bahkan padaku.." Air mata kembali menggenang di kedua pelupuk mata Azumi-sama. Aku menenangkannya lagi.

"Kau lihat gelang ini?" tanyanya sambil menunjukkan gelang berbandul bel di tangan kanannya. Gelang yang sangat lucu.

"Ini adalah hadiah dari Hitsugaya-kun saat aku berulang tahun yang 9. Tepatnya seminggu sebelum kejadian itu. Luina hanya 1 bulan lebih tua dariku. Ini adalah kenangan terakhir dari Hitsugaya-kun yang kukenal. Sekarang dia.."

"Aku tidak mengenal Hitsugaya-kun yang sekarang. Aku merindukan Hitsugaya-kun yang selalu tersenyum seperti dulu, Hitsugaya-kun yang selalu melindungiku dan Luina, aku merindukan Hitsugaya-kun yang dulu…" bisiknya lirih. Tangisannya terdengar sangat pelik. Aku hanya terdiam sementara dia terus menangis di pelukanku, membasahi baju Black Lolita milikku.

Selang beberapa saat tangisannya mulai reda dan langit mulai sore.

"Azumi-sama, bolehkah aku mengakui sesuatu?" tanyaku. Sudah seharusnya dia sudah tahu siapa aku sebenarnya.

"Ada apa?" suaranya parau.

"Aku ingin mengatakan ini pada Azumi-sama, tetapi kumohon jangan marah ataupun benci padaku setelah ini, aku melakukan ini demi kebaikan Hitsugaya-kun sendiri." Jelasku panjang lebar.

"Memangnya kenapa?" tanyanya bingung. Aku berjalan menuju air mancur dan saat aku seharusnya menabrak air mancur itu, aku malah terbang.

"Bagaimana bisa??" tanyanya bingung.

"Aku… Aku bukanlah manusia.." aku mengakuinya sekarang. Lalu cahaya mulai mengelilingiku dan aku berganti wujud, sepasang sayap sudah melekat di punggungku, baju black Lolita yang tadi kupakai telah berganti menjadi summer dress berwarna putih bercahaya. Rambut cepolku telah berganti menjadi rambut hitam yang tergerai bebas. Sorot matanya berubah menjadi sorot mata ketakutan

"Siapa-Siapa kau sebenarnya??" tanyanya panik.

"Hinamori Momo, peri dari Kuchiki No Mori. Merupakan salah satu peri di bawah kendali Unohana Retsu-san. Peri pelindung Hitsugaya Toushirou-sama yang merupakan sahabatku saat aku masih kecil, tepatnya saat dia berumur 10 tahun. Saat aku berpisah dengannya, aku masih berumur 9 tahun." Aku memulai ceritaku sambil terus melayang 30 cm di atas tanah. Aku akan meminta maaf pada Unohana-san nanti.

"Saat itu, aku menyayanginya. Bahkan lebih dari kasih sayang seorang adik untuk kakak, aku mencintainya.." aku terdiam sejenak.

"Saat itu aku belum bisa menggunakan kekuatan periku seperti sekarang, karena bakat peri mulai muncul ketika peri itu berusia 10 tahun." Jelasku. Wajahnya masih terlihat ketakutan tetapi mulai tenang.

"Awalnya aku tidak ingin pergi, tetapi aku tahu bahwa aku harus pergi karena cinta antara peri dan manusia merupakan hal yang terlarang. Aku betugas untuk membuat Hitsugaya-kun memilih salah seorang gadis di pesta dansa nanti. Pesta dansa kerajaan." Jelasku. Tentu saja aku menangis. Aku memang cengeng.

"Jadi… Kau ini sebenarnya adalah Hinamori itu?" Tanya Azumi-sama. Aku mengangguk sekali dan itupun sangat kecil.

"Kenapa kau tidak bicara jujur saja pada Hitsugaya-kun?" tanyanya.

"Aku tidak ingin memori masa lalu tentang aku ada di dalam pikirannya. Sebenarnya, aku sedikit lega karena amnesia itu. Karena memori itu sudah terhapus dengan baik. Tetapi bukannya aku menginginkan hal buruk itu terjadi.. Tentu saja tidak. Aku masih mencintainya sampai sekarang." Tambahku.

Aku harap Azumi-sama mau mengerti…

"Apakah Azumi-sama bisa mengerti keadaanku?" tanyaku. Azumi-sama terdiam lalu mengangguk sambil tersenyum.

"Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya. Yang terpenting adalah kau mau menjaga Hitsugaya-kun dengan tulus dan tidak akan berbuat macam-macam padanya. Tetapi kau harus berjanji padaku kau tidak akan mengecewakanku.." katanya dengan nada tulus.

"Benarkah??" tanyaku tidak percaya. Dia mengangguk

"Tentu saja. Sekarang cepat kembali berubah atau akan ada penjaga yang melihatmu." Katanya sambil tersenyum geli. Aku mengangguk lalu kembali berubah menjadi Momo. Pelayan berambut cepol yang memakai baju Black Lolita.

"Kumohon Azumi-sama, jangan beritahu siapapun tentang wujudku yang sebenarnya.." pintaku.

"Tentu saja, itu baru adil.." ujarnya.

"Arigatou, Azumi-sama.." ujarku sambil membungkuk.

"Daijoubu, Hinamori-chan.." ujarnya

"Ssssssttttt….. Jangan panggil aku Hinamori di sini. Kumohon.."

"Asal kau juga akan memangilku hanya dengan namaku saja, aku akan memanggilmu Momo.." ujarnya sambil nyengir.

"Baiklah Azumi-chan.. Ayo kita masuk ke dalam, aku yakin Hitsugaya-kun sudah bangun" ujarku pasrah

"Ayo aja, Momo nee.." jawabnya

"Momo nee???" tanyaku sambil kita berdua berjalan menuju kamar Hitsugaya-kun

"Apa tidak boleh?? Kau kan calon kakak iparku…" godanya. Wajahku spontan memerah.

"Azumi-chan!! Jangan bercanda!" Aku membuat suaraku agar terdengar seperti orang yang sedang marah, tetapi malah terdengar konyol.

Sesampainya di kamar Hitsugaya-kun ternyata dia sudah terbangun dan Luina-sama sedang menyuapinya.

"Mau apa kau?" Tanya Luina-sama masih dengan nada yang sadis.

"Gomen ne, Luina-sama. Aku hanya ingin melihat keadaan Hitsugaya-kun" ujarku sesopan mungkin, mengingat apa yang baru saja diceritakan Azumi-chan padaku.

"Dan kau sudah melihatnya. Dia sudah sadar. Apa ada keperluan lain?" tanyanya seperti dia menginginkan aku pergi dari sini

"Ya, ada yang ingin bertemu dengan anda." Kataku.

"Siapa?" dia tidak bisa menyembunyikan nada terkejut sekaligus penasaran dari suaranya.

"Dia" kataku sambil menunjuk ke belakang.

"Azumi?" tanyanya setelah melihat Azumi-chan.

"Yosh, Luina!!!!" seru Azumi-chan semangat, seperti pembicaraan tadi tidak pernah terjadi. Luina tersenyum kecil.

"Rupanya kau tetap tidak berubah, Azumi. Kapan kau datang?" tanyanya. Dia berdiri dan berjalan menuju Azumi-chan. Aku menyingkir dan mengambil alih posisi Luina-sama dan duduk di sebelah Hitsugaya-kun.

"Bagaimana keadaanmu, Hitsugaya-kun?" tanyaku lembut sambil duduk di kursi. Dia menoleh ke arahku lalu menjawab

"Lebih baik. Terimakasih untukmu." Katanya. Aku menggeleng

"Tidak, itu memang sudah tugasku." Ujarku sambil tersenyum.

"Mendekatlah Momo, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Perintahnya. Aku hanya mengangguk dan mendekatinya

"Ada apa, Hitsugaya-kun?" tanyaku lembut

"Jangan beritahu Luina ataupun Azumi tentang ini. Janji?" tanyanya

"Aku berjanji." Ujarku sambil membentuk tanda 'V' dengan jari telunjuk dan tengahku lalu aku tersenyum.

"Baiklah.." ujarnya. Aku nyengir.

-------------------------------------------------------To Be Continued-------------------------------------------------------------

Yosh Minna-san!!!!!! Karoru's back! gomen buat apdetnya lama... Modem dibantai sama dad, jadinya Karoru ga bisa makeeeeeeeee... T-T. Tapi sekarang Karoru dah bisa pake modem age... En Gomennnnn banget kalo nih chaptaa dikit.. Baru sembuh dari WB nih..

Oh ya! Enaknya ceritanya dibikin Happy Ending apa Sad Ending?? Kasi tau lewat review ya...

Arigatou..

. Karoru . Charlotte . Cullen .