"Aku sudah muak menjadi anggota keluarga Kagamine."

Di tempat yang belum perlu kita ketahui, di waktu yang belum perlu kita ketahui, sepasang laki-laki dan perempuan sedang mengobrol. Salah satu dari mereka mengerutkan dahi, menunjukkan betapa kesal perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya sekarang.

Orang yang duduk di sampingnya sembari melipat tangan bertanya, "Kenapa?"

"Memang benar ini keluarga yang kaya. Memang benar juga apapun yang kita inginkan akan jadi kenyataan. Tapi... apa keluarga ini bisa disebut sebagai keluarga?"

"Apa yang kau tidak suka dari keluarga ini?"

"Kepala keluarga yang angkuh. Anggota keluarga yang serakah. Pembantu yang melayani dengan wajah terpaksa. Orangtua yang menatap anaknya sebagai penghasil uang—dan kau masih bertanya apa yang tak aku suka, ***?"

"..."

Orang yang duduk di samping rekan bicara yang baru saja usai bicara, orang yang mendengar keluh kesah sang teman mengobrol yang menghirup tehnya secara terburu-buru itu hanya menatap wajah amarah orang di sebelahnya dalam diam.

"Kau yang terlahir di keluarga ini seharusnya lebih mengerti dari siapapun, ***. Keluarga Kagamine ini kekurangan sesuatu. Keluarga busuk ini tidak memiliki hal utama yang seharusnya dimiliki oleh sebuah keluarga—"

"—cinta."


— (iii) —


Vocaloid © Yamaha, Crypton.

Satu boneka telah terjatuh—Kagamine Lenka.
Lonceng pertanda permainan dimulai telah berdentang.
Nah, para detektif, para manusia yang sedang menyaksikan pertunjukan bonekaku dari bangku penonton,

Sejauh mana kalian akan mendekati kebenaran?

Saat Boneka Menari —

EPISODE 03
11 Desember 2012, 13:15 - 13.45
— Question of the First Marionette —


(Rin) —


"Lenka!"

Manusia adalah makhluk yang lemah—tak peduli sekuat atau sekeji apa pun mereka di luar, pada nyatanya, semua makhluk hidup bernama manusia merupakan sosok yang rapuh. Aku tahu itu. Semua orang... tahu akan hal itu.

Itu adalah hal masuk akal yang diketahui oleh semua manusia di muka bumi.

Mama pun bukan pengecualian.

Tepat pada jam satu siang lewat lima belas menit, wanita dewasa yang telah melahirkan aku ke dunia tersebut terjatuh ke lantai, terbatuk-batuk dan berteriak kesakitan, berusaha mati-matian untuk menghirup oksigen yang seolah tak mau masuk ke dalam paru-parunya.

Walau ia adalah sosok menyebalkan yang sering aku bohongi dan bahkan—silakan panggil aku durhaka—terkadang aku anggap bodoh, tetap saja, pada akhirnya, ia adalah ibuku. Ia adalah wanita yang melahirkan dan membesarkanku hingga sekarang.

Anak macam apa yang tak akan berlari dan berteriak sekencang mungkin saat tahu bahwa wanita pertama yang mengajarimu cinta kasih akan segera—telah meninggalkan dunia ini?

"Mama! Mama!"

Aku menjerit seperti anak bayi.

Ya—dengan batang permen rasa jeruk yang terjepit di antara bibirku serta jerit tangis yang hanya meneriakkan panggilan manja kepada sosok wanita yang sekarang terbujur kaku di lantai, tak ada kata lain yang cocok untuk menggambarkan wujudku yang menyedihkan ini.

Mustahil.

... Ini tidak mungkin terjadi.

Kami datang ke tempat ini, ke Vila Boneka yang terkutuk ini setelah enam tahun terpisah hanya dengan tujuan untuk mendengar kata-kata peninggalan Kakek yang tak mampu kami datangi pemakamannya satu bulan yang lalu.

Memang, Mama adalah seorang wanita serakah yang sudah berencana untuk meminta bagian apabila Paman Leon—sebagai anak tertua Kakek setelah kematian Paman Ren—dinyatakan sebagai ahli waris, tapi tetap saja...

Apa menerima kematian dengan cara seperti ini adalah hal yang wajar? Jelas tidak, 'kan? Mau dipikir bagaimana pun juga—ini tidak masuk akal! Benar-benar tidak masuk akal!

Kenapa Mama harus mati?!

"Mamaa!"

Tak peduli berapa kali aku menggoyang tubuhnya, tak peduli berapa kali aku memanggil namanya, sosok tubuh yang terbujur kaku di atas permadani berbulu halus itu tak akan pernah bisa memberikan jawaban.

Mulut yang selalu memarahiku, mulut yang selalu menyuruhku untuk berhenti menghisap permen itu... tak akan pernah lagi... memperdengarkan suaranya.

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Karena itu, aku yang selama ini tak pernah memberikan kasih sayang selayaknya seorang anak, merasa tak lebih dari orang bodoh biasa.

Walau aku tahu kelak Mama akan meninggalkan dunia ini, aku tak pernah sekali pun berniat menunjukkan afeksiku. Aku bahkan tak ingat kapan aku terakhir kali memberikannya hadiah, atau hanya sekadar mengucapkan bahwa sebenarnya aku berterima kasih karena ia telah melahirkanku ke dunia.

Semuanya... sudah terlambat.

Tak ada lagi kesempatan berikutnya. Waktu di mana aku hanya mampu menyesal akan apa yang tidak pernah aku lakukan telah datang, dan aku hanya bisa duduk diam menangis.

Karena—di dalam paru itu, tak ada lagi napas tersisa.
Di dalam jantung itu, tak ada lagi detak tersisa.
Di dalam tubuh itu, tak ada lagi nyawa yang tersisa.

"... maaf, Rinto, Rin. Bisa kalian mundur sebentar?"

Aku menoleh dengan sorot mata dipenuhi amarah dan rasa sedih. Orang macam apa yang berani-beraninya menyuruh anak yang menangisi kematian ibunya untuk menyingkir?!

Pemilik suara, yang walau terdengar tegas tetap saja dipenuhi nada getir tersebut adalah Paman Leon.

Aku membuang tatapan kesal ke tanah, tak mampu memandang mata beliau, berharap ia tak membaca apa yang baru saja aku pikirkan dari ekspresi wajahku.

"Pak Shirafuji, aku tahu memeriksa mayat bukanlah bidangmu... tapi, tolong... periksa mayat Lenka. Ia memang adik yang bodoh. Meski begitu ia tetap... adikku yang berharga."

"... Pak Leon..."

"Setidaknya, beri tahu aku... penyebab kematiannya."

Sang pria dewasa yang memakai jas dokter yang putih bersih itu menarik napas perlahan, sebelum akhirnya mengangguk dengan berat, "... baik. Akan kulakukan."

Ia berlutut, menyelip di antara aku dan Papa yang menyingkir sedikit ke samping. Aku terus menatap ke arahnya yang mendekati tubuh Mama, memastikan bahwa ia tidak akan melakukan hal-hal aneh yang menganggu tidur terakhir beliau.

Dengan hati-hati, Pak Shirafuji menyentuh daerah sekitar leher dan pergelangan tangan Mama, memastikan apakah denyut nadi di sana masih terasa atau tidak.

Raut kekecewaan dengan jelas menambah berat ekspresi wajah Pak Shirafuji. Tak mampu membendung dorongan kedua yang membuat kekuatan di kakiku menghilang seketika, aku kembali menangis, bersama dengan lutut dari kaki yang lunglai menghantam lantai.

"Jadi... Mama... benar-benar sudah..."

Terdiam sejenak, Pak Shirafuji lalu menyentuh dagu Mama yang menghadap ke samping. Aku awalnya bingung akan apa yang ingin ia lakukan, namun di detik berikutnya, aku langsung paham makna dari perbuatannya.

"Maaf."

Dengan tangan kurusnya, Pak Shirafuji yang seolah meminta izin pada sang mayat, membuka mulut Mama yang terkatup secara perlahan, sembari mendekatkan hidungnya ke sana, mengendus aroma di dalam mulut beliau tanpa berkata.

"... bau almond."

"..."

Aku tahu.

Dari dua kata yang menyatakan aroma macam apa yang tercium dari mulut Mama, aku langsung mengerti. Dalam detik itu juga, sel-sel di dalam otakku langsung bergerak demi memahami apa yang telah terjadi—

Hal ini sudah muncul berkali-kali di serial komik detektif yang selalu aku baca. Sebuah pengetahuan sederhana, pengetahuan trivia yang aku dapatkan dari hobi membaca buku di kala senggang.

Bau almond yang keluar dari mulut korban. Hal itu cuma bisa berarti satu hal

"Racun mematikan yang mengacaukan fungsi sel dalam menerima oksigen, pembawa maut yang hanya memerlukan 200 miligram untuk membunuh seseorang dalam hitungan menit—"

Tanpa perlu kalimat lebih lanjut keluar dari mulut Len yang berkata sembari mengelus dahinya yang berkeringat dingin, aku langsung mengucapkan nama dari sang dewa kematian yang ia deskripsikan dengan suara pelan,

"Kalium... sianida."

Bercampur bersama isak tangis tangis, nama dari racun maut yang telah mencabut nyawa wanita yang paling berharga dalam hidupku tersebut terdengar dengan nada yang bergetar yang menyedihkan.

"... kalau begitu—" Papa langsung melihat ke arah sekumpulan cangkir teh berisi teh hitam yang tersusun dengan rapi di atas meja kaca, "Tehnya sudah diracuni?!"

Walau tak menyebut nama, arah dari sorot penuh kebencian yang keluar dari mata Papa sudah cukup untuk menyatakan segalanya. Mama mati karena racun, dan satu-satunya sumber dari racun tersebut jelas, adalah dari teh yang baru saja ia minum.

Siapa lagi yang menyiapkan teh bila bukan Nyonya Rumah sendiri?

"Kak Lily... apa kau yang melakukannya? Apa kau... yang telah... membunuh Lenka...?"


(Len) —


Aku tidak ingin percaya.

Namun tak peduli seberapa banyak aku memberontak dari kejadian yang terjadi di depan mataku, mau tak mau, aku harus mengakuinya—ini semua adalah benar. Ini semua... adalah kenyataan.

Walau aku tak begitu mengingat sosok Bibi Lenka karena sudah tak berjumpa selama lima tahun, tapi tetap saja... mati dengan cara seperti ini... bukanlah hal yang bisa aku terima begitu saja.

Ia telah mati. Ia dibunuh... menggunakan racun.

Sudah tak ada lagi yang perlu diragukan. Boneka yang dimaksud oleh orang yang memanggil dirinya OPERA di puisi yang ia lantunkan di video itu menunjuk sembilan orang yang ada di dalam Vila Boneka ini sekarang.

Korban pertama—Kagamine Lenka.

Bibi Lenka... tewas seketika setelah diracuni dengan kalium sianida.

Orang pertama yang dicurigai, sudah jelas, adalah wanita penyandang gelar nyonya rumah yang bertugas dalam mengurusi hal-hal rumah tangga di Vila Boneka ini—ibuku, Kagamine Lily.

"A-aku tidak tahu! Sejak kalian datang, aku sama sekali belum masuk ke dalam dapur! Aku bahkan tidak ikut membuat teh! Kalau kau tidak percaya, silakan tanya ke Len atau para pelayan!"

Ibu membantah tuduhan dengan segera. Wajah yang stres akibat keadaan yang sangat tegang—apalagi dengan kematian Bibi Lenka yang sangat membingungkan, menambah jumlah kerutan di dahinya. Ia sangat ketakutan sekarang.

Yuuma, pelayan berambut merah muda yang terus berdiri di belakang Ibu, langsung mendukung majikannya dengan cepat. Ia berkata dengan lantang,

"... Iya. Sejak tuan-tuan sekalian datang sampai di sini, Nyonya Lily belum satu kali pun masuk ke dapur. Semua teh dan hidangan makan siang hari ini... semuanya dibuat oleh dua orang pelayan yang ada di sini—saya, dan Miku."

Yuuma mengatakan kalimat tersebut atas dasar kesetiaannya sebagai seorang pelayan. Jangankan keraguan, aku bahkan yakin ia tidak memikirkan bahwa hal itu justru akan membuat dirinya sendiri dicurigai.

"Kalau begitu, cuma kalian berdua yang bisa meracuni Lenka, 'kan?! Tapi bisa saja kau berbohong, dan sebenarnya kalian bertiga bekerja sama untuk melakukan semua ini!"

Teriakan Paman Rinto menggema di ruang tamu.

Wajah ketakutan terlihat dengan jelas di wajah Miku, kala aku mengintip ke belakang demi melihat reaksinya.

Aku mencoba mengiriminya senyum lembut penuh cinta agar ia lebih tenang, walau hasilnya mendekati nol. Walau mungkin sebenarnya karena 'senyum lembut' yang aku berikan tidak benar-benar lembut.

Bagaimana bisa aku tersenyum seperti biasa di situasi seperti ini?

... Dasar Yuuma sialan. Aku tidak masalah kalau kau mau membuat dirimu sendiri dituduh, tapi tolong jangan bawa-bawa Miku. Dia tidak sekuat dirimu, tahu.

Bola mataku melirik ke arah sekitar, mencoba untuk memastikan sekali lagi kondisi ruangan ini.

Ibu dan Paman Rinto sedang berdebat keras, dengan Ibu terus-menerus mengeluarkan sumpah atas nama kehormatan keluarga Kagamine atau semacamnya untuk menghindari tuduhan.

Aah, iya. Aku tahu, Ibu.

Kau bukan pelakunya. Ini bukan karena kasih sayang orangtua anak, tapi karena pemikiran deduksi sederhana biasa—pelakunya tidak mungkin sengaja membuat dirinya sendiri dicurigai.

Lagipula, Ibu tidak memiliki kesempatan untuk memasukkan racun. Karena seperti katanya tadi, ia bahkan tidak pernah masuk ke dapur sebelum teh itu dibuat.

Paman Leon mencoba menenangkan Rin yang masih menangis, sedangkan Pak Shirafuji mengelus dahinya, terduduk di atas sofa dengan ekspresi tenggelam dalam depresi berat.

Ekspresi wajah Yuuma sama sekali tak berubah.

Dibandingkan ia, justru Miku yang terlihat jelas menunjukkan ketakutan. Tak peduli meski aku mengiriminya senyum penenang jiwa (gagal) untuk membuatnya tenang berkali-kali (semoga aku tidak dianggap gila), ia tetap memasang wajah takut dan cemas.

Sebagai tuan—bukan, sebagai kekasih yang baik, aku tak bisa membiarkannya.

Walau situasinya tak tepat dan tak pantas, tapi mungkin, ini adalah salah satu momen yang paling tepat untuk mencoba bersikap keren di hadapan kekasihku tercinta.

Sekali lagi, mataku bergerak.

Ke arah mayat Bibi Lenka yang terkapar di atas permadani mahal berbulu tebal. Ke arah cangkir yang terletak di depan sofa yang sebelumnya diduduki oleh beliau. Ke arah sendok perak mungil yang masih terendam di dalam teh hitam.

Aku mulai berpikir, dan mulai berkata—

"Sebelum Paman Rinto menuduh Ibu atau para pelayan yang melakukannya, biarkan aku mengatakan satu hal."

Berdiri dari posisi duduk di atas sofa, aku mendekat dan berdiri di depan cangkir teh hitam yang dihisap oleh Bibi Lenka sebelumnya. Mengangkat cangkirnya secara perlahan, aku memerhatikannya dari jarak yang lebih dekat.

Nah, Miku. Dengan ini seharusnya kau bisa lebih tenang, 'kan?

"... Tunggu dulu, Tuan Muda. Jangan-jangan Anda—"

Setelah mengangkat sendok perak kecil yang ada di dalam cangkir dan menaruhnya di atas meja, tanpa keraguan—aku langsung meminum, dan menelan semua teh di dalam cangkir Bibi Lenka dalam sekali teguk.

"...!"

"Tuan Muda!"

"Len! Apa yang kau lakukan?!"

Mengabaikan raut takut dan khawatir yang tampak baik pada wajah Miku atau pun Ibu, aku menaruh cangkir tersebut kembali ke atas meja dengan sedikit hantaman, membuat cangkir dan alasnya mengeluarkan suara beling yang beradu, dan menatap tajam ke arah Paman Rinto yang terkejut akan apa yang aku lakukan.

"Sekarang Paman mengerti? Tak ada racun di dalam teh ini."

"... kalau barusan..."

Paman Leon berbicara dengan suara pelan. Aku melirik ke arahnya. Ia yang masih mengelus pundak Rin secara perlahan, berkata padaku dengan sorot mata khawatir.

"... Kalau di dalam teh yang barusan kau minum benar-benar mengandung racun, apa yang akan kau lakukan?"

Untuk menanggapi pertanyaan Paman Leon, aku memanggil pelayan yang ada di belakang Ibu, dan bertanya dengan suara yang keras dan lantang, "Yuuma, dari bahan apa semua sendok di vila ini terbuat?"

"Semua sendok dan garpu yang ada di Vila Boneka ini, semuanya terbuat dari perak asli."

"... ah."

Wajah Rin menunjukkan bahwa ia mengerti apa yang aku maksudkan. Walau masih dirundung kesedihan, gadis yang ternyata memiliki kecerdasan (mungkin) lebih tinggi dariku itu pasti langsung menyadarinya.

Para orang dewasa—dan Miku—masih menatap dengan bingung. Aku menahan diri untuk tak tersenyum sok pintar karena memang tak sepantasnya aku melakukannya di saat seperti ini, dan mulai menjelaskan.

"Kalium sianida akan beroksidasi begitu bersentuhan dengan logam seperti perak, membuatnya menjadi berkarat. Namun di sendok yang ada di dalam cangkir teh Bibi Lenka, sama sekali tak ada setitik pun jejak karat."

Dengan kata lain—aku langsung tahu bahwa tak ada racun di dalam teh ini saat melihat sendok perak kecil yang ada di dalamnya itu. Paman Leon menunjukkan sedikit ekspresi kagum, sedangkan Paman Rinto masih dirundung kebingungan.

"Kalau begitu, darimana racun yang membunuh Lenka datang?!"

... kalau itu... aku masih belum mengetahuinya. Menanggapi tuntutan jawaban Paman Rinto, satu-satunya yang bisa aku lakukan hanyalah mengangkat bahu lemah.

"... aku tidak tahu. Kecuali kita memeriksa reaksi setiap benda yang pernah Bibi Lenka sentuh, kita tidak akan tahu. Dan jelas... tanpa bantuan polisi, kita juga tidak bisa melakukannya."

Pada akhirnya, aku hanyalah seorang 'mantan' pelajar, bukan detektif. Aku mungkin memiliki pengetahuan luas masalah kimia atau fisika, dan pandai dalam merangkai kata, tapi deduksi dan analisa di tingkat yang lebih lanjut dari ini sama sekali bukan keahilanku.

"Le—Tuan Muda."

Miku, setelah para orang dewasa mulai menjauh, mendekat ke arahku dan berbicara dengan suara kecil. Wajah takut dan cemasnya sudah menghilang, tapi sepertinya dia belum benar-benar lega.

"Ada apa, sayang?"

"Say—bagaimana kalau yang lain dengar?! Ehm, yang ingin saya katakan, kenapa Tuan Muda sampai harus melakukan hal seperti itu?! Kalau terjadi apa-apa bagaimana?!"

Aku mencoba bersikap lucu dengan memanggilnya mesra, tapi sepertinya situasi ini benar-benar berat sehingga lawakan seperti itu justru malah merusak suasana.

Wajahnya bahkan tidak memerah.

Aku menghela napas panjang.

"... aku tidak akan melakukannya kalau tidak yakin, Miku."

"Tetap saja—"

"—apa kau meragukan kekasihmu sendiri?"

"Ngg... t-tidak, bukannya aku meragukan Tuan Muda atau apa, tapi kalau terjadi sesuatu yang di luar dugaan, saya... tidak tahu harus melakukan apa..."

Ah, Miku memang manis.

Aku mengangguk pelan, meminta maaf sambil menepuk kepalanya pelan, "Sudah, sudah. Yang penting aku tidak apa-apa, 'kan? Kembalilah ke mode pelayan yang baik dan berdiri di belakangku seperti biasa."

"... baik."

Mendudukkan diri kembali ke atas sofa dua orang yang aku duduki sendiri, aku menutup mata dan menarik serta satu kali lagi, menghela napas panjang dengan lirih, berharap segala beban segera terlepas bersama napas itu.

... sayang sekali, realita tidak sebaik itu.

Di puncak gunung seperti ini, sinyal ponsel juga tak akan sampai, ya...

Aku berpikir, mengerutkan dahi. Ini benar-benar keadaan yang berbahaya. Kalau dugaanku tepat dan vila ini benar-benar menjadi arena 'permainan' si OPERA ini, maka—

"Yuuma, hubungi ambulans—tidak... bisa kau coba hubungi polisi dengan telepon rumah?"

"Baik, Tuan Muda."

Pelayan berambut merah muda tersebut menunduk hormat sebelum berbalik dan berjalan menuju telepon rumah yang berada di pojok—sebenarnya setiap—ruangan.

"Untuk sementara kita pindahkan Lenka ke kamarnya dulu. Aku tidak rela membiarkannya dalam kondisi seperti ini hingga polisi datang."

Jangan, itu akan merusak lokasi kejadian perkara—adalah apa yang sebenarnya ingin aku katakan untuk menanggapi saran Paman Rinto, namun dengan segera langsung aku menelan kembali kalimat yang tersangkut di tenggorokan.

Di sini, daripada menyelesaikan kasus, memberikan rasa hormat kepada orang yang mati jauh lebih penting.

"Benar... Miku, tolong antar mereka ke kamar yang sudah dipersiapkan sebelumnya."

aku memberi perintah dengan suara pelan pada pelayan yang berdiri di belakangku. Tanpa menunggu jeda, sang gadis berambut toska langsung memberikan jawaban cepat.

"B-baik."

Mengangguk ringan, Miku, dengan langkah kaki yang seolah terikat erat dengan rantai kecemasan, berjalan perlahan, mengantar Paman Rinto dan Pak Shirafuji yang menawarkan diri untuk membantu menggotong tubuh Bibi Lenka.

Ini adalah dunia nyata.

Walau orang yang memanggil dirinya OPERA itu menganggap bahwa semua ini adalah permainan kecil untuk menentukan pewaris berikutnya, apa yang terjadi saat ini, di vila ini, adalah kenyataan.

Orang yang mati tak akan bisa hidup lagi. Orang-orang yang ada di sini adalah orang-orang yang berharga bagiku, bukan karakter fiktif yang baru aku kenal di saat cerita dimulai.

Apa yang terjadi di sini... jelas berbeda dengan cerita novel serta buku-buku misteri yang sering aku baca.

Aku hanya seorang anak SMA yang baru mengecap aroma ijazah beberapa bulan yang lalu. Wawasanku mengenai kejahatan tak lebih dari apa yang ditampilkan di novel dan cerita misteri pada umumnya.

Karena itu, tanpa berkata apa-apa, aku hanya membiarkan paman dan dokter pribadi kakek itu untuk mengangkut mayat Bibi Lenka ke kamar yang seharusnya ia tiduri malam ini.

Rin...

Aku menatap sosok sepupu perempuanku yang masih menangis sesunggukan, memeluk lututnya sendiri di atas sofa, mencoba ditenangkan oleh sang paman yang tak memberikan hasil apa-apa.

Ini pasti berat untuknya.

"Nyonya, Tuan Muda."

Sosok pelayan kebanggaan kami yang berlari kecil ke arah aku dan Ibu, menghadap kembali setelah mencoba melakukan sambungan telepon ke luar.

Jawaban sudah bisa diduga dari wajahnya.

"Untuk jaga-jaga, saya juga sudah memeriksa ke ruangan yang lain, tapi... semua telepon di rumah ini sudah dirusak."

Seolah bertambah satu kerutan, Ibu berkata dengan nada menggerutu yang ditelan kekalutan, "... apa kau bisa memperbaikinya?"

"Maaf atas ketidakmampuan saya," Yuuma berucap dengan nada penuh sesal, "Jika kabel yang putus, saya masih bisa menyambungkannya lagi. Tapi yang dirusak adalah bagian dalam telepon. Saya tidak bisa melakukan apa-apa."

Sial... kalau begini, bisa-bisa semuanya akan benar-benar mati terbunuh.

"Ada apa?"

Paman Leon, yang sedari tadi terus termenung sembari mencoba menenangkan Rin yang tak henti-hentinya menangis, secara tiba-tiba datang menghampiri dan memberikan pertanyaan. Aku menjelaskan situasi saat ini dengan sesimpel mungkin,

"Semua telepon di rumah ini telah dirusak—dan karena kita berada di puncak gunung, sinyal ponsel tidak akan sampai di sini... kita tidak bisa menghubungi polisi."

Memberikan anggukan kecil, Paman Leon memasang wajah ikut berpikir.

"... kalau begitu, satu-satunya cara cuma turun gunung, ya..."

"—biar aku saja."

Sontak, baik aku atau pun Paman Leon langsung menoleh.

Orang yang tanpa ragu mengatakan hal itu untuk menanggapi gumaman tak berarti Paman Leon adalah Paman Rinto. Sebelum aku memberikan protes, ia langsung menangkap puncak kepalaku.

"Kau sudah melakukan hal seberani tadi hanya untuk membuktikan kalau penghuni vila ini tidak bersalah... dan aku juga merasa bodoh sudah menuduh Ibumu. Anggap saja ini sebagai tebusan."

Meski ia baru saja kehilangan istri yang sangat ia cintai—Paman Rinto tersenyum. Tangannya terus mengelus kepalaku pelan. Dengan cengir lebar yang memamerkan deretan gigi putih bersih, ia berkata sekali lagi,

"Kau hebat, Len. Seandainya kau dan Rin bukan sepupu, aku pasti akan menjodohkan kalian sekarang juga."

maaf mengecewakanmu, Paman. Tapi saat ini aku sudah punya pacar. Dan pacarku itu adalah pelayan yang baru saja mengantarmu ke kamar barusan.

"Paman serius mau turun gunung?" aku berkata dengan sedikit nada ragu, "Entah, aku tidak yakin... untuk turun gunung saja bisa makan dua jam... bagaimana jika terjadi sesuatu?"

"—tenang. Percayalah pada pamanmu ini."


(Rin) —


Di mana... racunnya?

Tak peduli sebanyak dan sekeras apa pun aku berpikir, aku sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan racun—kalium sianida yang telah membunuh Ibu.

Berkat apa yang Len lakukan barusan, aku jadi teringat kembali akan kemampuan kalium sianida untuk beroksidasi dengan logam. Memang, tanpa alat atau bantuan dari kepolisian, aku tidak bisa memeriksanya secara pasti, tapi...

Meski begitu, aku tetap tak bisa diam saja.

Aku sudah menyentuhkan sendok perak di seluruh permukaan cangkir mau pun jari Mama—bahkan saat aku tak menemukan apapun, aku diam-diam mengoleskan jariku sendiri di tempat yang aku curigai, dan menjilatnya sendiri.

Aku agak frustasi, jadi jangan dipermasalahkan.

Berkat itu, aku tahu. Tak ada racun baik di dalam teh atau pun permukaan cangkir Mama.

Ini tidak masuk akal. Aku tahu bahwa kalium sianida dapat membunuh orang dewasa dengan berat badan normal dalam hitungan menit hanya dengan 200 miligram saja.

Tapi, masalahnya...

Dengan dosis begitu, korban tidak akan langsung tewas seperti Mama.

Memang benar, bahwa bila seseorang telah diracuni dengan kalium sianida, orang tersebut akan segera kesulitan bernapas. Tetapi, aku juga tahu—korban tidak akan langsung tewas, melainkan pingsan terlebih dahulu.

Kematian yang diakibatkan oleh kalium sianida dengan dosis minimum untuk membunuh—dengan kata lain, 200 miligram—baru akan terjadi melalui gagal jantung atau organ lain sekitar 40 menit setelah kehilangan kesadaran.

Tapi, Mama tewas seketika.

Mama hanya berteriak dan terlihat kesulitan bernapas dalam waktu tak lebih dari tiga menit, dan di saat yang sama kala ia kehilangan kesadarannya—ia langsung meninggal di tempat.

Jawaban dari misteri ini hanya satu: dosis kalium sianida yang masuk ke tubuh Mama melebihi 200 gram. Bisa saja dua sampai tiga kali lipat dari itu. Namun, hal itu justru menimbulkan misteri baru:

Dengan jumlah racun sebanyak itu, bagaimana bisa semuanya masuk ke dalam mulut Mama, tanpa ia sadari, dan tidak meninggalkan sisa?

Mama menelan racunnya sendiri? Mana mungkin. Mama tidak mungkin bunuh diri. Itu adalah jawaban terkonyol yang pernah ada, dan seperti kataku tadi, tak ada bekas racun di tangan Mama.

Lalu... bagaimana?

Bagaimana caranya si pelaku—OPERA membuat Mama menelan dosis besar kalium sianida, tanpa ia sadari, dan tanpa meninggalkan bekas?! Lagipula, apa hal itu mungkin dilakukan?!

Pelaku tidak mungkin mencekokinya! Maksudku, saat itu terjadi, semua orang ada di ruang tamu ini, dan semuanya terlihat dengan jelas! Ini bukan seperti kejahatan terjadi di saat mati lampu atau sejenisnya!

Tak ada mungkin pelaku bisa melakukannya diam-diam!

Lalu apa?! Memangnya pelaku menembakkan kapsul berisi bubuk kalium sianida menggunakan ketapel langsung ke mulut Mama?!

Bagaimana... bagaimana...?!

Sial...!

Mama...

Aku... tidak tahu.

... Apanya yang detektif?

Pada akhirnya, aku cuma gadis biasa yang senang membaca komik misteri. Walau terkadang aku bisa memecahkan kasus di dalam dunia fiksi itu dengan otakku sendiri, begitu dihadapkan dengan kasus nyata yang membunuh keluargaku... kenapa... aku tidak bisa melakukan apa-apa?

Mungkin ini sebabnya mereka bilang detektif sebisa mungkin tidak boleh mengurus kasus yang melibatkan anggota keluarganya sendiri?

Ini... konyol.

Kepalaku sakit.

Permen di dalam mulutku pun kini hanya menyisakan batang plastiknya saja yang aku gigiti seperti orang kelaparan, menyebabkannya bengkok tak berbentuk.

Ah. Aku ingin lagi. Apa kira-kira Len masih punya, ya...?

"—kalau begitu, aku akan turun gunung dan memanggil polisi kemari. Tolong jangan kemana-mana sebelum aku kembali. Dan, ah... tolong jaga Rin baik-baik."

"... eh?"

"... iya. Kau juga berhati-hatilah di jalan, Rinto."

Len dan ibunya... dari celah pintu yang memisahkan aula utama dan ruang tamu, aku bisa melihat mereka, berdiri di depan pintu besar vila ini, sedang berbicara pada seseorang.

Walau tak bisa melihatnya dengan jelas, telingaku mendengarnya dengan pasti... mereka baru saja menyebut nama Papa. Dan lagi, aku yakin kalau aku mendengar suara Papa barusan.

Tunggu... jangan bilang...

Aku segera memutar kepala, melihat kembali orang-orang yang berada di dalam ruang tamu ini.

Pak Shirafuji, Paman Leon, dua orang pelayan itu, serta Bibi Lily dan Len yang berdiri di depan pintu utama—dari proses eliminasi sederhana, aku langsung menyadari kejanggalan dari situasi ini.

Papa... tidak ada.

Walau aku tahu, aku tetap bertanya,

"Paman Leon! Papa—ayahku... ke mana ayahku pergi?!"

"Eh? Rinto? He didn't say anything to you? Dasar adik ipar yang merepotkan. Bisa-bisanya membuat putrinya sendiri khawatir."

Pria dewasa bertubuh tinggi itu berdiri dan menepuk-nepuk kepalaku.

Aku sedang tak berniat mendengar bahasa Inggris kacau yang coba kau gunakan untuk menenangkanku itu, sialan!

"Calm down, my beautiful niece," lawakanmu malah menaikkan emosiku, tahu! "Ayahmu sedang turun gunung untuk memanggil polisi."

"... apa... tidak... sial... apa kau bodoh?! Kenapa kau tidak menghentikannya?!"

gawat... mulutku.

"Eh...? Rin?"

Tanpa meminta maaf pada Paman Leon yang berdiri tercengang akibat hujatan yang lolos dari mulutku tanpa sadar, aku segera memutar arah kaki dan bergerak, berlari secepat mungkin.

"Nona Rin, mau ke mana—ah!"

"MINGGIR!"

Menubruk sedikit bahu dari gadis pelayan yang sepertinya baru kembali dan hendak masuk ke ruang tamu, aku mempercepat langkah kaki, melewati koridor utama, menuju pintu besar di depan—

"Rin? Ada apa?"

Bisa-bisanya kau bertanya dengan nada ringan seperti itu... apa kau tidak tahu seberapa besar kebodohan yang sudah kau lakukan?!

"Papa?! P-papaku di mana?!"

"Paman Rinto? Dia sudah jalan ke tempat parkiran di samping vila untuk mengambil mobil," Len menunjuk ke arah yang ia maksud, "Paman Rinto akan turun gunung untuk menghubungi polisi."

"Len... kau... kenapa... kenapa kau membiarkan Papa pergi?!"

"Eh? Soalnya Paman Rinto sendiri yang menawarkan diri untuk melakukannya... aku tidak bisa menghentikan orang yang ingin menangkap pembunuh istrinya, 'kan?"

"Bukan itu, bodoh! Coba ingat lagi!"

"Ingat... apa?"

"Puisi itu! Puisi ramalan yang dikatakan oleh si OPERA itu! Apa kau tidak ingat?! Kau seorang jenius yang punya IQ lebih dari 140, 'kan?! KENAPA KAU TIDAK INGAT HAL SEKECIL ITU?!"

"Rin! Jaga sikapmu! Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?!" persetan dengan ocehan Bibi Lily, aku mencengkram kerah kemeja Len. Ekspresi yang seolah baru tersadar itu tampak di wajah bodoh Len.

"Tidak... tunggu dulu... jangan-jangan... apa yang sudah aku—"

"—kalau kau tidak ingat, akan aku katakan padamu: boneka yang mencoba kabur akan menerima akibatnya. Kau mengerti sekarang? KAU MENGERTI?!"

Tanpa berkata, pemuda pirang itu langsung menangkap tangan kananku, dan menarikku untuk berlari. Bibi Lily yang tercengang di belakang kami langsung berteriak,

"Ke mana kalian mau pergi?!"

Baik aku dan Len tidak memberikan jawaban.

Kami hanya berlari. Memaksa kaki untuk bergerak, terus melangkah dengan kecepatan tinggi seperti orang bodoh, terus berlari, di bawah langit kusam yang seolah siap untuk menangis kapan saja.

Tanganku sakit.

Genggaman Len terasa sangat keras. Walau terkadang aku refleks mengeluarkan suara kesakitan, Len tetap tak peduli dan terus berlari, menuju pagar vila, di mana mobil Papa diparkir—

"Pap—"

Aku bahkan tak sempat berkata.

Yang mampu aku lakukan hanyalah melihat sosok punggungnya yang berdiri di depan pintu mobil. Jangankan menyalakan mesin, ia bahkan belum memasukkan kunci.

Entah apakah ia mendengarku atau tidak, tapi tak peduli sebesar apa pun aku berteriak, ia tetap tak menoleh. Ia berdiri, merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci mobil.

Detik di mana pria yang membesarkanku itu memutar kunci untuk membuka pintu mobil kodok kesayangannya—

DUAAARR—!

sebuah ledakan terjadi.

Mobil yang membawa kami ke sini—telah menjadi bom raksasa, menjadi ledakan maut penghasil api yang menelan tubuh Papa.

Di depan mataku, di saat jarak di antara kami bahkan tak sampai sepuluh meter lagi, sosok mayat yang terbakar itu bagai menari karena kesakitan, menjadikan jeritan sebagai pengiring kematian.

"AAAAH—! AAAAAAA—! PANAAAS—! Hentikan...! HENTIKAAAN—! PANAS PANAS PANAS PANAS—!"

"PAPAA—!"

"Hentikan, Rin! Apa kau mau mati?!"

"Apa yang kau katakan?! Kalau begini, Papa yang akan mati! Sudah cukup aku harus menyaksikan kematian Mama... kenapa... kenapa Papa juga harus begitu?!"

"RIN! Tenanglah!"

Api terus berkobar, bersama dengan Papa yang berguling ke lantai, secara perlahan dimakan oleh bara, membakar habis rambut dan pakaiannya, merubah warna kulitnya menjadi hitam, menjadi abu, menjadi arang, menjadi perwujudan dari mimpi buruk.

"Air... benar... air...! Aku harus segera mengambilnya! Len, ayo cepat, kita ambil air untuk—"

"... percuma, Rin. Ayahmu... Paman Rinto... sudah tidak mungkin diselamatkan."

"Jangan... bercanda... Papaku... Papaku... kau mau menyerah sebelum mencoba?!"

Sebuah tetesan menghantam kepalaku.

... hujan?

Usai melirik langit sejenak, aku segera menolehkan kepalaku, melihat ke arah Papa satu kali lagi, mencoba untuk menatap sosok yang tak ingin aku percaya aku lihat.

Bagai dipanggil oleh asap dari api yang membakar hangus Papa—

—hujan deras langsung mendera.

Aku sudah tak perlu lagi mengambil air untuk menghilangkan api. Tuhan, yang entah kini harus aku anggap baik atau jahat atas mimpi buruk ini, memberikan bantuannya melalui langit.

Sosok yang menari sambil terbakar itu telah menghilang, digantikan oleh tubuh hangus yang terjatuh tak berdaya.

Len mengalihkan pandangannya.

Bersama dengan deru hujan yang menghantam tanah, bersama dengan langkah kaki di belakang kami yang berlari ke sini setelah mendengar bunyi ledakan, aku, secara perlahan, berjalan mendekati sosok Papa yang terbaring di tanah.

"Rin..."

"Papa... Papa...!"

Ini... sudah keterlaluan.

Aku bahkan tak bisa mengenali mayatnya lagi. Walau hujan deras sudah memadamkan api yang menghanguskan Papa, seluruh bagian tubuh Papa yang bisa terbakar sudah habis terbakar.

Kalau begini... aku bahkan tak perlu menunggu Pak Shirafuji mengeluarkan pernyataan setelah pemeriksaan lagi. Hanya dengan melihat ini saja, aku sudah tahu.

... Papa... sudah mati.

Sialan... sialan... sialan!

Aku... mengutuk langit.

Kenapa Kau tidak menurunkan hujan sedikit lebih cepat? Kenapa Kau tidak memberikan perlindunganmu kepada kedua orangtua yang membesarkanku? Kenapa Kau harus merebut mereka dalam waktu secepat ini...?

... tidak.

Percuma. Tidak ada gunanya mengutuk Tuhan. Ini semua bukan salah-Nya. Bila ada yang harus disalahkan, itu adalah orang yang ada di balik semua ini. Bila ada yang harus dibunuh, itu adalah orang yang merencanakan semua ini.

Aku akan menangkapmu.

Tak perlu menunggu polisi atau pun keputusan pengadilan. Selama kau masih ada di sini... sebelum boneka menari untuk kedua kalinya... sebelum kau berhasil menyelesaikan permainan gila ini...

... dengan kedua tanganku sendiri, aku akan membunuhmu—

"OPEEERAAAAAAAA—!"


BERSAMBUNG


Catatan Penulis:

Berkat Umineko, saya jadi paling demen sama scene teriak nama.

Untung banget saya pilih nama beneran, gak kayak SBB, karena teriak SERIGALAAAA entah kenapa gak enak banget dengarnya. Yah, walau masih gak seepik BEEAAATORIIICEEEE-nya Umineko yang kayaknya masih bakal nempel di kepala saya untuk beberapa tahun ke depan.

Masalah kenapa saya pake kalium sianida sebagai alat pembunuhan... anggap aja supaya saya bisa ngebuat Rin punya trait 'demen baca komik Conan'.

—dan akhirnya, setelah dua kematian beruntun untuk orangtua Rin, permainan sebenarnya baru bisa dimulai. Kira-kira siapa ya yang akan mati selanjutnya?

... eh? Kenapa Len tiba-tiba bisa lupa? Kenapa Rin mengenaskan banget?

Apakah ini semua sebuah pertanda bahwa Len adalah OPERA, dan Rin adalah detektif yang sebenarnya? Atau justru sebuah persiapan untuk twist luar biasa? Atau justru cuma ketidak kompetenan Elpiji sebagai penulis?

Nantikan di episode selanjutnya!

Dan, akhirnya, di episode ketiga ini, mari kita buka sesi permainan analisa SBM, OPERA vs. Pembaca! ... yang baru saya sadari sekarang, mungkin harusnya kemarin saya ngemasukin misteri sederhana selain pembunuhan, jadi bisa main dari awal...

Ah, btw, di SBM ini, yang ngebawa sesi ini adalah si OPERA. Nah, kepada villain-ku tercinta, silahkan!


SBM, OPERA vs. Pembaca #01 dan #02 —


To all of my precious audience,
Good afternoon.

Aku tak peduli kau membaca ini di pagi, siang, atau malam hari. I just want to say 'afternoon', karena kata itu jauh lebih keren daripada morning atau evening.

Kalau begitu, tanpa perkenalan yang sia-sia, inilah pertanyaan yang akan aku berikan pada kalian, para penonton yang bersedia untuk ikut bermain.

Pertanyaan pertama,
"Apa, siapa, dan bagaimana kasus Kagamine Lenka dapat terjadi?"

Pertanyaan kedua,
"Apa, siapa, dan bagaimana kasus Kagamine Rinto dapat terjadi?"

It would be annoying bila ada dari kalian yang merengek karena kekurangan petunjuk, jadi akan aku berikan beberapa additional hints, spesial untuk kalian:

Tak ada racun di cangkir, sendok, atau pun jari Lenka!
Karena pasti ada di antara kalian yang menganggap Lenka berpura-pura mati, akan aku katakan ini:

Tak peduli Kagamine Lenka hidup atau mati, ia benar-benar diracuni.

Sedangkan untuk kasus kedua,
Tak peduli Kagamine Rinto hidup atau mati, ia benar-benar terbakar.

Dan tentu saja,
Semua yang tertulis di dalam bold, setidaknya di sesi ini, adalah kebenaran.

Ah, kalian pasti bertanya-tanya, apa maksudku mengucapkan kata 'tak peduli hidup atau mati', bukan? Itu—bagi kalian yang percaya mereka mati, maka percayalah. Bagi kalian yang percaya mereka hidup, maka percayalah.

Why?

because in my world, the truth isn't only one.


Welcome to OPERA's biggest opera.