Everyoneee~
This is the forth chapter of Everything I Own: 2012, and it's purely written of my imagination
It's basically made of a song with same title, as I recalled it correctly, performed by Vanessa Hudgens as a soundtrack of a movie called Bandslam.
But, due to some reason here and there, it turns out to being like this one.
Disclaimer: Hunter x Hunter and all its characters belongs to Yoshihiro Togashi sensei
Rating: T for possible swearing
Genre: Friendship, Adventure, Angst, Hurt/Comfort, Romance, etc
Warning: OOC-ness, Female Kurapika, Canon, Typos, Epic-ness, etc
Remember, this is not exactly like the English one
No free silent reader, pay with a review
Everything I Own: 2012
Chapter 4—Another Town
Kaoru Hiiyama
2012
Pagi hari yang cerah dan penuh dengan kesibukan di kota metropolitan bernama Yorkshin.
Kesibukan di kota itu nampaknya juga ikut mempengaruhi sepasang anak muda yang berada di hotel Wistakle dan memulai pagi mereka dengan perkenalan diantara mereka untuk kesekian kalinya, dan kali ini, Kurapika memutuskan untuk menggunakan nama palsunya yang pertama, Adia, karena satu dan lain hal.
Kurapika menghela nafas lelah, sambil mengurut dadanya, rutinitasnya berubah sejak hari dimana ia memutuskan untuk bertarung dengan sesosok manusia bernama Kuroro Lucilfer dan mengalami bencana besar yang menghilangkan suaranya, dan menghapus masa lalu pemuda itu.
Kalau dahulu ia bangun pagi, bersih-bersih, lalu memakai anting dan sarapan pagi, sekarang ia harus memulai setiap paginya dengan menjawab pertanyaan pemuda itu soal siapa dirinya dan bagaimana hubungan mereka, dan, berhubung ia kehilangan suaranya, maka ia harus menarasikan semua itu dalam bentuk tulisan, dan sekarang terjadi sebuah masalah:
Lembar terakhir notes-nya sudah berisi tulisan sejak kemarin.
Kuroro menoleh pada gadis berambut pirang yang duduk ditepi tempat tidur dengan kepala tertunduk itu, nampaknya perhatiannya tertuju bukan, terpusat pada sebuah benda kecil berwarna putih dengan bahan kertas yang berada dipangkuannya itu, sebab, sejak tadi ia terus memperhatikan gerak-gerik sang gadis namun ia tetap tak bergeming,
"Hei, Adia", sapa pemuda itu akhirnya, sambil memposisikan dirinya untuk duduk disamping sang gadis, merasa namanya dipanggil, gadis berambut pirang itu menoleh sedikit, namun ia kembali termenung meratapi notes kesayangannya sudah hampir habis terpakai,
"Ada apa denganmu?", tanya Kuroro tenang, Kurapika hanya menghela nafas pelan, mencoba untuk tak terlihat terlalu emosional, ia tak berkata apapun, hanya menyodorkan notes-nya kehadapan Kuroro, pemuda itu tersenyum,
"Kau mulai kehabisan benda ini?", katanya lembut, gadis itu menoleh, tidak habis pikir betapa pekanya pemuda itu, meski ia berharap yang terjadi adalah sebaliknya.
Kurapika mengangguk pelan,
"Hn, sepertinya aku benar", Kuroro membuat kesimpulan, dengan gestur yang membuat Kurapika tersenyum tipis, beberapa lama, namun kemudian ia mengerutkan keningnya, tepat saat ia mengingat bahwa ini semua terdengar konyol, benar-benar konyol, karena ia baru saja menurunkan tingkat kesinisannya pada manusia picik, licik, dan menyebalkan bernama Kuroro Lucilfer, yah, musuh besarnya, oh, itu tidak boleh di tolerir, tidak dalam hidupnya.
Kurapika menghela nafas kuat-kuat, ia menyesali sikap lembutnya pada pemuda itu, tapi semua sudah terjadi, dan ia tak mungkin mengulangnya lagi.
"Hei, bagaimana kalau kita sarapan pagi?", tawar pemuda itu ramah, Kurapika kaget sekali karena ia baru saja melamun, namun gadis itu beruntung karena ia tak mampu bersuara, sehingga ia tidak terdengar seperti orang bodoh yang baru tersentak dari lamunannya.
Gadis itu merasakan lapar yang cukup kuat untuk membuatnya terdengar konyol dengan perut keroncongan, ia lalu menatap Kuroro dengan pandangan penuh arti yang sebenarnya menunjukkan persetujuannya soal ide pemuda itu untuk makan bersama, dan karena ia sudah kehabisan kertas untuk ditulisi, maka Kurapika tak punya pilihan lain kecuali memakai tehnik isyarat mata, dan itu tentu karena ia juga tidak yakin pemuda itu adalah seorang pembaca gerakan bibir yang baik jika ia berniat menggunakan isyarat yang satu itu.
Begitulah, akhirnya pemuda itu bisa memahami maksud sang gadis dan mereka pergi ke sebuah restoran minimalis bernuansa retro tahun 80-an, untuk sarapan bersama.
Kedua orang itu sama-sama memandangi menu ditangan mereka masing-masing, kelihatannya mereka tidak begitu berselera, namun, berhubung sudah masuk, maka tak ada pilihan lain selain memesan,
"Hn, aku pesan continental breakfast saja, dengan black café, bagaimana denganmu?", Kuroro berujar sambil menutup buku menu-nya, Kurapika tersenyum dari balik buku tersebut, yang ia tidak tahu kenapanya,
"Adia", panggil pemuda itu, gadis itu merasa terpanggil dan menoleh pada orang yang memanggilnya,
"Ini", Kuroro berujar sambil menghamparkan buku menunya sendiri diatas meja, yang ia putar kearah Kurapika,
"Tunjuklah menu yang kau inginkan, biar aku saja yang memesankannya untukmu", pemuda itu berujar lagi, Kurapika terdiam selama beberapa saat karena terkejut atas apa yang baru saja didengarnya, nampaknya benaknya belum bisa menerima perlakuan baik Kuroro pada dirinya begitu saja, ia masih menyangkalnya, menyangkal kebaikannya, karena bagaimanapun juga, semua ini terlihat begitu semu bagi dirinya, sebab ia tahu, kalau Kuroro tak akan seperti ini jika bukan karena dia hilang ingatan.
Namun akhirnya ia pasrah juga, toh saat ini ia sedang lapar, dan kebetulan yang mengejutkan bahwa notes-nya habis, sehingga ia mau tidak mau harus menerima semua bantuan yang ditawarkan pemuda ini pada dirinya.
"Selamat pagi, sudah siap memesan?", tanya seorang pelayan, Kuroro tersenyum tipis padanya,
"Ya, dua continental breakfast, satu black café, dan satu Darjeling tea, terima kasih", katanya singkat, gadis pelayan itu mencatatnya dengan baik,
"Baiklah, tunggu sebentar", katanya sambil melenggang pergi, meninggalkan kedua orang tadi dalam keheningan semu selama beberapa saat.
"Hn, bagaimana kalau setelah ini kita pergi membeli buku catatan baru untukmu", Kuroro memulai pembicaraan mereka, Kurapika menghentikan aktivitas bersantapnya dan menoleh pada pemuda itu sambil tersenyum,
"Jadi menurutmu itu ide yang bagus?", tanya Kuroro singkat, Kurapika hanya mengangguk sambil tersenyum tipis,
"Baiklah, kalau begitu kita sepakat-", jawab Kuroro pelan, mungkin karena ia sedang bicara pada gadis bisu, lebih baik untuk tidak bersuara terlalu keras, menurutnya.
"Danchou?", ujar seorang pemuda berambut pirang pasir yang sepertinya sedang berjalan melalui meja keduanya, pemuda itu menoleh kearah Kuroro dan Kurapika yang sedang duduk berhadapan dan baru saja menghabiskan sarapan mereka,
"Adia, kau mengenalnya?", Kuroro berbisik pelan kearah Kurapika yang menggeleng perlahan sambil menenggak ludahnya,
Celaka, kenapa anggota Laba-laba bisa disini?, ia bertanya-tanya dalam hati,
"Namamu Kuroro Lucilfer bukan?", tanya pemuda itu lagi, dan Kuroro hampir saja menjawab 'ya' kalau saja Kurapika tidak segera bertindak, dengan berpura-pura hendak berdiri dan menuju tempat cuci tangan, namun pingsan begitu ia beranjak dari meja,
Duh, sakit, keluhnya dalam hati karena ia baru saja membiarkan dirinya jatuh terbanting diatas lantai, yang untungnya terbuat dari kayu,
"Adia!", seru pemuda berambut hitam itu, ia bergegas menuju tempat gadis itu dan mengangkat kepalanya untuk kemudian ia sandarkan di pangkuannya,
"Bisakah kita bicara lain waktu?", ia bertanya pada pemuda yang tadi menyapanya, Shalnark, pemuda itu, nampak keheranan meski ia yakin sekali kalau pemuda dihadapannya ini adalah Danchou-nya,
"Ya, tentu, mungkin besok, ditempat ini", katanya, namun Kuroro nampaknya terlalu sibuk dalam kepanikannya mengurusi gadis-nya, ia segera saja mengangkat tubuh gadis itu dan menggendongnya bridal style,
"Baiklah, temui aku besok, disini", katanya singkat, lalu pemuda itu membawa gadis ditangannya, dan bergegas menuju hotel tempat mereka menginap.
Kurapika, yang sebenarnya tidak pingsan sungguhan, bangun tak lama kemudian,
"Adia, kau baik-baik saja?", tanya pemuda itu, Kurapika mengangguk lemah, meski dalam hati ia mengutuk perbuatannya ini, karena bagaimanapun, Kurapika adalah seseorang yang sangat mengagungkan nilai moral, dan ideologi di kepalanya itu sangat bertentangan dengan apa yang baru saja dilakukannya, yaitu menipu, berpura-pura, dan sebagainya, sesuatu yang membuat Kurapika bahkan sanggup mempertanyakan dirinya sendiri.
Hening, ya, nampaknya keheningan tercipta begitu saja diantara mereka, karena baik Kurapika dan Kuroro sama-sama tidak memiliki bahan pembicaraan, ya, kecuali soal notes-nya, karena Kuroro berjanji akan membelikannya notes baru, dan sedikitnya Kurapika ingin menagih hal itu.
Gadis bermata biru itu berjalan kearah sang pemuda dengan membawa notes-nya yang sudah penuh, lalu ia menyodorkannya kehadapan pemuda itu,
"Hn, ada apa Adia?", tanya Kuroro lembut, gadis itu tak menjawab, hanya menyodorkan benda putih itu kehadapan Kuroro dan memberinya tatapan yang penuh arti, lantas, pemuda itu tersenyum tipis,
"Aku ingat, kita harus membeli buku baru untuk menggantikan bukumu itu kan?", tanya sang pemuda dengan tenang, gadis itu mengangguk tanpa senyuman, ya, kali ini, dan untuk seterusnya, ia memutuskan untuk tidak lagi bersikap bodoh dihadapan pemuda yang jelas-jelas merupakan musuh besarnya ini, Kuroro.
Yah, akhirnya mereka pergi ke sebuah toko buku, membeli notes baru untuk gadis itu.
"Yang ini bagaimana?", tanya Kuroro sambil menyodorkan sebuah buku bermodel simpel dengan sampul berwarna biru tua, Kurapika tersenyum, lalu mengangguk, namun sedetik kemudian ia mempertanyakan keputusannya, hei, bukankah tadi ia sudah memutuskan untuk tidak beramah-tamah dengan pemuda ini, lalu kenapa dia malah tersenyum? Oh, Kurapika sudah merasa kehilangan akal sehatnya saat ini.
Kurapika menghabiskan malam itu untuk menuliskan beberapa naskah, ya, besok pagi mungkin adalah waktu yang sangat tepat untuk pergi dari kota ini, ya, bagaimanapun dengan pertemuan tadi pagi, maka sudah pasti Laba-laba akan melacaknya, dan itu akan sangat berbahaya, untuk dirinya tentu, dan mungkin juga untuk pemuda yang sedang terlelap di tempat tidur di dekatnya ini.
Oleh sebab itulah, maka ia harus merancang beberapa naskah, yang besok pagi akan ia tunjukkan pada Kuroro sebagai pembuka ingatannya, atau lebih tepatnya sebagai keterangan paginya, ya, rutinitas barunya tentu.
Sementara di markas Laba-laba, Shalnark yang masih merasa yakin kalau orang yang ditemuinya di restoran sarapan pagi tadi adalah Kuroro, mencoba mencari tahu tentang keduanya, pemuda dan gadis itu, dan satu hal yang dapat ia duga muncul di situs hunter bagian pencarian orang: yaitu bahwa gadis bernama Adia tidak ada yang benar-benar memiliki penampilan seperti gadis yang pingsan tadi.
"Hei Shal, kau sedang mencari apa?", tanya Machi tiba-tiba yang sebenarnya muncul entah darimana pula,
"Heh, aku hanya sedang mencari informasi tentang orang", balas Shalnark kikuk, ia sebenarnya cukup terkejut dengan kehadiran Machi yang tiba-tiba,
"Orang? Tidak biasanya, apa ini ada hubungannya dengan menghilangnya Danchou?", wanita berambut violet itu berujar sinis, ia menatap Shalnark dengan matanya yang tajam, mencoba menggali informasi dari pemuda itu melalui ancaman yang biasa ia berikan, Shalnark, yang merasa terancam, menenggak ludahnya sendiri,
"Eh, itu...", ia berujar gugup, nampaknya usaha Machi sukses,
"Rupanya dugaanku benar ya, Shalnark?", Machi berkata lagi,
"I-iya, begitulah, hehe", Shalnark berusaha membela diri,
"Lalu, apa yang kau temukan?", ujar gadis itu dengan nada sinis,
"Tidak banyak, tidak ada malah, sepertinya gadis yang bersamanya pun tak memiliki identitas", Shalnark menjawab dengan nada tertekan,
"Oh, jadi tadi kau melihat Danchou bersama seorang gadis, seperti apa rupanya?", balas Machi lagi, entah kenapa ia ikut merasa penasaran dengan penemuan Shalnark tentang orang-yang-sepertinya-Danchou-mereka ini,
"Yah, seorang gadis berambut pirang pendek, dengan mata cerulean...", ujar Shalnark yang sepertinya terhenti karena ia tersentak oleh keterangannya sendiri, dilain pihak, Machi pun ikut mengerti tentang siapa sosok yang dimaksud oleh Shalnark ini,
"Mungkinkah...", gumam gadis itu pelan, ia tidak ingin membuatnya terdengar meyakinkan,
"Sepertinya kita memikirkan satu orang", balas Shalnark singkat, Machi mengangguk, sebab, hanya ada satu sosok dikepala mereka yang cocok dengan ciri-ciri tersebut dan memiliki kemungkinan untuk berada disekitar Danchou mereka,
Si pengguna rantai..., bisik keduanya dalam hati masing-masing.
Di tempat lain, tepatnya tempat Kuroro dan Kurapika menginap, keduanya bangun pagi, secara bersamaan (dimana itu merupakan hal yang sangat jarang terjadi), lantas, saat Kuroro mempertanyakan soal dirinya dan mereka, dengan mudah Kurapika mampu menjawabnya.
"Kenapa kita harus berangkat pagi-pagi sekali?", tanya Kuroro bingung, Kurapika, dengan buku barunya, menjawabnya,
"Aku sudah bilang kan, semalam ada telpon mengenai ibumu, jadi kita harus berangkat secepatnya", tulis gadis itu dalam buku barunya, entah kenapa ia merasa senang bisa memiliki buku baru,
"Hn, baiklah, aku mengerti", jawab Kuroro tenang, lalu keduanya pun memasuki kereta, dan menggunakan angkutan umum itu untuk pergi ke kota berikutnya.
A/N: HYAAAAAAA~~~ I UPDATE THIS! OMG!
It's almost like forever after the last time!
But I finally can update this, and I'm so happy!
Though, I'm not too satisfied with the result
But, I hope you guys could like it!
Happy Saturday!
