Naruto punya Masashi Kishimoto

Kenyataan yang Gak bisa di ubah

Haru no aoibara – 2014


Sediit kata dari Aoi buat yang Riview chap 3

hanazono yuri : yap memang anak mereka coba deh tes DNA

Guest : maaf mengecewakan. tapi ending Aoi sendiri juga maunya Sasusaku.

Uciha Ratih : Saku –Hika ya? Chap 6 depan ntar janji deng ngubek-ubek hubungan mereka

Buat yang udah Rivew lg Thanks banget : Biru Pink - Febri Feven – MuFlyn

Ternyata yang silent readernya lebih banyak (Terimakasih setidaknya mau membaca tulisan Newbie yang kaya begini. Thanks Senpai ).

.

.

Enjoy Reading

.

.

.

Sudah dua bulan lamanya sakura bersekolah tapi keadaan tidak sebaik seperti yang dipikirkannya. Sejak perkenalan awal banya yang mengerubunginya menanyakan tentang marganya. Namun semua jadi menjauhinya saat Hikari dengan tegas mengatakan bahwa aku hanya di titipkan di keluargannya. Hingga saat ini hanya Yoko dan Yukio sebagai kakak tingkat yang terkadang menemaninya di kantin sekolah. Akhir akhir ini Sakura merasa tak tenang karena banyak teman sekelasnya menyindirnya dan mengatainya. Tapi Sakura kecil tahu bahwa ia harus berbalas budi. Kadang ketika Sakura sering mengikuti Hikari ketika Hikari ingin pulang jalan kaki. Saat tahu hikari tidak membawa bekalnya sakura diam-diam memasukan bekal ke laci meja Hikari. Sepertinya sakura mulai menyayangi Hikari

Di sebuah gedung sekolah terdengar bunyi lonceng pergantian jam pelajaran. Kelas yang semula berisik kini menjadi tenang begitu seorang guru muda cantik berada di depan kelas. Konan sensei masuk ke kelas membawa setumpuk kertas kosang kemudian berdiri di depan papan tulis.

"Baiklah anak-anak, hari ini kalian tugas kalian adalah mengarang"

"Yaah"

"huuu"

Beberapa anak laki-laki menyuarakan ketidaksukaannya. " Setiap orang harus menulis selembar penuh karangan. Dan temanya adalah keluarga" Terlihat seorang anak perempuan berambut kuning cerah bekucir dua mengacungkan tangannya bersemangat

"Ya Ami, apa yang ingin kau tanyakan?"

"apa harus menceritakan tentang ayah dan ibu?"

"ya tentu saja. Nah sekarang kubagikan kertas. Satu jam lagi dua orang akan membacakan karangannya di depan kelas."

Dan begitu kertas di bagikan setiap anak masing-masing sudah berkutat dengan kertas mereka sendiri. Tapi di sisi dekat jendela ada seorang yang tidak melakukan apa yang teman-temannya lakukan. Dia sudah memegang pensilnya. Tapi kini dia hanya memandangi selembar kertas di hadapannya. Terkadang tatapannya menyapu ke arah gurunya lalu beralih kearah teman-temannya lalu di edarkan pandangannya menuju jendela kelas yang menampakan langit biru. Entah sudah berapa lama ia melakukan hal yang sia-sia itu. Sosok pink ini terluhat berpikir keras. Bukan karena dia tak menyukai pelajaran mengarang. Hanya saja yang menjadi masalah adalah objek yang akan di tulisnya. Ia tak tau akan menulis apa. Dan baru di sadarinya bahwa dia tak tau apa-apa

Saat sakura merasa teman-temannya sudah ada yang selasai dia segera memalingkan wajahnya dari jendela. Tak sengaja atau memang takdir Kamisama dua mata onyx saling bertubrukan. Hikari tengah memandangnya dengan raut yang tak bisa di artikan. Sakura yang merasa di tatap seperti itu sengaja menundukan kepalanya, genggaman pada pensilnya mengerat. Saat itu pula Hikari sudah tak menatapnya lagi. Sakura berfikir mungkin Hikari mengira dia pasti menulis tentang Tousan. Satu kenyataan lagi membuat Sakura gemetar. Meskipun dia punya Papa dan Tousan tapi pada kenyataanya Sakura tak memiliki subuah keluarga. Lagi pula setiap anak punya satu ayah dan ibu tapi mengapa Sakura punya dua ayah dan dua ibu. Mungkin perkataan hikari dan teman-teman sekolahnya ada benarnya. Bahwa Sakura tak lebih hanya anak angkat. Atau yang lebih buruk, anak haram.

"..ra"

"..kura"

"Sakura"

Sakura tersentak dari lamunannya ketika Konan memanggilnya. Reaksi sakura dibalas Konan dengan senyum tipis. "Bisa kau maju dan bacakan karanganmu sayang?" Sakura dengan terpaksa membawa kertasnya yang masih polos ke depan kelas. Semua mata mengarah padanya. Ini membuatnya sangat gugup. Sakura kini sudah berada di samping Konan.

"Keluarga itu..."

Hening, Sakura memutus perkataannya. Konan yang heran sedikit melongok ke kertas sakura. Ternyata kertas itu masih kosong. Sementara anak-anak masih menatap pada sakura. Tahu keadaan menjadi tidak mengenakan maka Konan segera mengambil tindakan tapi gumamam pelan dari sakura mengagetkan Konan

"aku tak punya keluarga"

Sayup sayup terdengar ocehan dan bisikan anak-anak di kelas tentang sakura.

TENG

TENG

TENG

Jam istirahat di mulai. Kini Sakura kecil tengah menuju kantin melewati taman sekolah. Langkahnya terburu-buru karena dia risih sedari tadi di pandangi oleh seisi sekolah. Sebelum dia mencapai belokan terakhir terdengar suara khas anak wanita tengah menyebut namanya.

"Hei kau tahu Uciha Sakura?"

"Oh gadis yang numpang itu ya?"

"ya katanya sih dia anak ha- " selanjutnya Sakura sudah tak mendengar apa-apalagi. Karena seseorang tengahmenutup telinganya sekarang. Saat menoleh dia mendapati Yukio yang sedikit lebih tinggi darinya. Sadar akan tatapan sakura yang minta penjelasan tentang kelanjutan perkataan dua anak tadi Yukio hanya menjawab "Kau harus percaya padaku. Apapun itu jangan selalu kau pendam dalam hati"

Di tempat lain Tenten sedang menaruh beberapa piring kotor dalam bak cucian, melihat suaminya yang baru pulang dari mengantar duo anak mereka tenten heran. Tak biasanya suaminya menelantarkan pekerjaanya dan memilih pulang setelah mengantar anak-anak.

"Kemana jas dan dasi mu itu tuan Hyuuga?" Tenten merasa dua tangan kekar memeluknya dari belakang. Erat dan nyaman. Dan Neji menyandarkan kepalanya di bahu istrinya. Tenten tahu, sangat tahu masalah apa yang sedang dipikirkan Neji. Sejenak Tenten menghentikan pekerjaannya.

"Kau sudah memberitahu ayah tentang ini?" Kedua tangan tenten bersandar pada pinggir bak cucian piring.

"..."

Tak ada tanggapan dari neji, sehingga tenten melanjutkan perkataannya

"Jika ayah tak bisa menerimanya maka..."

"maka ayah akan memaksa Hinata bercerai dan hikari akan jadi korbannya"

"tapi jika kau tak memberitahu tentang Sakura maka..." Sekali lagi kata-katanya terputus dan dilanjutkan oleh neji. "maka keberadaan sakura tak akan dianggap" mata tenten sedikit meredup mendengar jawaban sang suami "buah simalakama eh?"

"Hn, aku sedang menunggu waktu yang tepat"

.

.

.

.

Sudah empat bualan dan semua masih seperti biasanya. Hikari masih sering tak merespon sakura di luar rumah. Tapi di sisi lain Ikatan keluarga antara Sasuke Hinata dan Itachi makin dekat dengan hari ini sepulang sekolah. Hinata kaasan mengaja Sakura kecil ke sebuak toko baju yang terlihat tempat yang mahal. Hinata hanya mengajak sakura karena hikari memang sedang les. Jadi Hinata semenjak tadi mengubah-ubah gaun yang sakura pakai. Sakura yang diperlakukan bagai boneka tidak mempermasalahkannya. Karena dari awal Hinata sudah berkata bahwa dia ingin sekali punya anak perempuan yang bisa di ajak berbelanja. Lelah menjajal semua gaun itu akhirnya sakura bersuara.

"em.. Hinata kaasan apa ini tak terlalu berlebihan, maksudku ini pasti mahal sekali"

Hinata mengulum senyum pada sakura. "Tidak apa, dengar besok malam akan ada pesta di tempat kakeknya hikari jadi kau harus berpakaian yang bagus" Hinata kemudian mengusap dua tangan kecil Sakura. "Jika gaun gaun ini membuatmu tidak nyaman, berkelilinglah cari yang menurutmu nyaman" Sakkura mengangguk dan melesat mencari gaunya sendiri.

Tak lama dan Hinata melihat sakura tengah kembali mendekap sebuah baju. Hinata lalu menyuruhnya untuk mencoba gaun itu. Saat Sakura keluar dari kamar ganti menghampiri Hinata, Hinata seperti terdepak ke masa lalu. Saat-saat kelulusannya. Saat Promnight diadakan. Seorang gadis cantik dengan balutan gaun putih panjang bermotif bunga-bunga sakura dengan sulur sulur hijau di bagian bahu kanan. Seorang gadis yang lama tak di lihatnya. Gadis yang dulu adalah sahabatnya.

Saat sadar Gadis yang dilihat hinata berubah ukuran. Ah ternyata bukanlah sosok sakura dalam ingatanya, namun itu sosok Sakura kecil yang berbalut gaun Simple dan terlihat anggun.

'mereka bahkan punya selera yang sama'

.

.

.

Saat ini nona kecil merah muda kita sedang menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. Sebuah gaun indah melekat di tubuhnya. Kini di tangan bocah ini terdapat sebuah bandana ikat berwarna hijau tosca. Perlahan tapi pasti bandana itu tersemat di surai merah mudanya. Mata bulat besarnya terpaku. Dia tampak manis. Ah andai Sai ada di sini. Sakura pasti sangat bersyukur.

Malam ini ada pesta dari keluarga Hyuga. Artinya Yoko dan yukio juga ada. Namun entah mengapa perasaan Sakura tidak enak. Dia merasa resah dan tidak siap. Merasa sudah cukup membenahi penampilannya Maka dia menyandarkan boneka beruangnya di depan kaca rias. Sedikit mengeluarkan unek-uneknya mungkin bisa membuatnya jauh lebih baik.

"Kaasan, aku merasa tidak baik hari ini"

"bagaimana jika mereka tidak menyukaiku juga" Tangan kecilnya bergerak mengusap dua bola mata milik beruangnya.

"Semua pasti akan baik-baik saja-kan"

"Ya pasti baik baik saja" Sakura menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang. Perlahan Sakura meletakan beruang kesayangannya ke tengah kasur menyesap bau khas itu lalu pergi menuju ruang tengah.

Sampai di ruang tamu semua sudah bersiap, Semua tampak menunggunya. Tampak hikari yang merengut dengan dasi kupu-kupu terpasang di lehernya. Bisa dipastikan Chiyo baasan berhasil memaksanya memakai benda itu paling tidak untuk saat ini.

"ah kita punya tuan putri di sini" Itachi menyambut sakura layaknya seorang putri di negeri dongeng. Sedikit membuat sakura geli. Sakura menyukai Itachi dengan cepat karena pada dasarnya Itachi menyukai anak-anak. Apalagi teringat ketika usianya baru lima tahun dan dia mencoba menggantikan popok adik lelakinya. Siapa yang tidak gemas melihatnya kala itu.

"Baiklah karena semua sudah siap ayo kita berangkat" Hinata menggandeng Sakura di samping kannannya dengan hikari di samping kiri menuju ke pintu depan. Dimana Sasuke sedang memanaskan mobil.

Sakura POV

Semenjak turun dari mobil semua mata menatapku. Dan sepertinya Tousan tau sehingga dia menggandeng erat tanganku. Tapi sepertinya ini malah membuat Hikari melirik tajam padaku. Selama pesta berlangsung aku selalu bersama Tousan sedang Hinata kaasan sepertinya tengah ditarik paman Neji sedari tadi. Sedang Itachi-jii sudah bergabung bersama orang orang berjas di sebrang ruangan. Yukio dan yoko juga tidak kelihatan.

Dari tadi aku hanya digandeng taousan yang sibuk dengan teman-temannya. Saat itu tiba-tiba bibi Tenten menghampiri kami. Bajunya putih becorak merah di bagian pinggirnya.

Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya bukan berita baik karena selesai pembicaraan Tousan memandangku dengan pemandangan aneh. Aku masih tak mengerti saat tousan membawaku memasuki rumah yang megah. Hingga kami tiba di sebuah pintu besar. Sebelum Tousan masuk dia mengelus rambutku sebentar

"Tetap di sini jangan pergi terlalu jauh"

"Ha'i"

Sudah hampir sekitar tiga puluh menit sejak Tousan meninggalkanku disini dan sepertinya tak ada tanda-tanda Tousan keluar dari pintu itu. Aku jadi bosan. Sekilas aku melihat Hikari baru saja lewat. Aku dengan cepat menghampirinya. "Hi.. hikari sama tu..tunggu" Ah sepertinya hikari menyadari keberadaanku.

Tanpa berbalik hikari berkata dengan dingin "Apa maumu" Sepertinya mood Hikari memang buruk sejak tadi. "Ne aku hanya ingin bertanya kenapa kau membenciku" Hikari mendekat ke arahku masih dengan tajam menatapku. Tak ku sangka dia mendorongku sangat keras sehingga aku jatuh. Aku melihat raut wajahnya ternyata dia bukan marah. Dia hanya seperti ... terluka. Dan selanjutnya bukan teriakan yang sakura dengar tapi curahan seorang anak laki-laki.

"Tousan setiap malam selalu menghampiri kamarku tapi tidak dengan kamarku. Tousan selalu tersenyum padamu tapi selalu mengacuhkan aku."

"kamu bukan bagian dari keluarga! Kamu hanya datang lalu merebut Tousan!"

"Kamu bahkan gak tau siapa ibumu!"

Sakura end POV

Normal POV

Hinata tengah duduk di hadapan sang ayah, Hiashi hyuuga. Sudah agak lama berada di ruangan itu semenjak sepupunya yang sudah di anggap kakak membawanya ke sini. Di ruang bernuansa putih dengan aroma lavender yang kentara.

"ku ulangi sekali lagi! Bagaimana bisa kau menikahi lelaki yang sudah berkeluarga!" Bentakan Hiashi membuat Hinata semakin bungkam. Menunduk semakin dalam.

"Kau mempermalukan sejarah keluarga Hyuuga!"

"Sejak dulu Haruno adalah tempat perusahaan kita bernaung, Kau bahkan tau tujuh puluh persen dari kekayaan yang kau nikmati itu milik Keluarga haruno yang diberikanya saat kita mengalami krisis besar-besaran! Lalu kau yang dianggapnya Saudara, berselingkuh dengan suaminya!"

"Hingga dia melahirkan anak lalu hidup miskin di luar sana! Demi Kami-sama Bagaimana bisa aku memiliki anak sepertimu!" Hinata merunduk menahan isakan yang sedari tadi ingin keluar. "Ini salahku ayah, aku yang salah. Saat itu dia terpuruk dan aku.. aku.." Tak kuasa melanjutkan ucapannya Tangisan hinata semakin deras.

"Uciha satu itu benar-benar mempermainkan kita!" Hiashi berdiri dari tempatnya dengan kedua tangan terkepal.

"Tidak! Ayah , ini salahku sungguh" Hinata kini tengah memeluk satu kaki Hiashi, terisak dan memohon.

Ceklek

Orang yang telah Hiashi tunggu semenjak tadi tengah memasuki ruangan dengan tenang. Sasuke yang baru datang segera menuju Hinata. Menariknya dan membawanya dalam sebuah pelukan hangat.

"Kau Brengsek!" Satu pukulan telak dari Hiashi tepat mengenai pipi mulus Sasuke. Pukulan yang amat keras membuat korban jatuh terjengkang ke belakang yang langsung disambut teriakan hinata. Hinata langsung membantu sasuke berdiri hingga akhirnya Suara Tegas Hiashi terdengar.

"Kalian harus bercerai"

"Tidak " Hinata mengangkat pandangannya ke sasuke. Ucapan sasuke sedikit membuat kelegaan untuk hinata. Tapi masih belum cukup untuk menghangaatkan hatinya.

"Apa alasanmu?" Hiashi menggeram dan memincingkan matanya.

Sejenak Sasuke terdiam sebelum dia menjawab "Karena aku punya Hikari. Dan keluargaku adalah tanggung jawabku"

Hiashi memejamkan kedua matanya, sepertinya Sasuke memang serius dengan ucapannya. Sudah sejak pertamakali Sasuke melamar Hinata, Hiashi merasa ada yang tidak beres. Tidak ada ikatan yang erat antara keduanya. Seorang Hiashi tentu tahu. Karena dia adalah seorang ayah.

Kali ini Hiashi tak bisa berbuat apa-apa. Sasuke ternyata sudah pernah menikah dan baru dia ketahui siang tadi dari Neji, terlebih Sasuke memiliki anak dari mantan istri pertamanya. Dan kehancuran rumah tangga sasuke tak akan terjadi bila bukan ulah putri sulungnya. Jika rahasia ini bocor maka hinata akan selalu di hujat di media sebagai perusak hubungan rumah tangga orang lain. Tapi Hiashi juga tidak berhak melarang anak pertama sasuke untuk menggunakan nama uchiha.

Hiashi sudah lelah.

Biarlah mereka yang menyelesaikannya sendiri.

"Aku akan mengembalikan seluruh aset Haruno padanya."

"Dia sudah memberikannya pada anda, Dia tidak akan pernah memintanya kembali" jeda sejenak "karena dia sudah tidak di dunia ini"

"Apa maksudmu!" Kata Hiashi dengan nada tinggi pada Sasuke

"Ayah dia sudah..." Hinata tak melanjutkan perkataannya dengan gelengan kepala. Membuat Hiashi menghempaskan dirinya lagi pada tempat duduk. Anak dari mendiang sahabatnya. Sahabat dari anaknya .Orang yang sama yang telah memberikan seluruh perusahaan Haruno. Sakura Haruno sudah meninggal dunia.

Hiashi benar-benar pusing saat ini. "Lalu bagaimana dengan anaknya?"

"Dia juga anakku dan dia hanya memilikiku. Keputusanku sudah bulat Dia akan menjadi uciha dan tidak ada perceraian"

Sebelum perdebatan semakin panajang Sasuke menghentikan pembicaraan "jika tidak ada lagi yang ingin anda sampaikan kami permisi" Sasuke ppergi diikuti Hinata di belakangnya. Namun sebelum Hinata melangkah keluar dari ruangan itu. Hiashi mengatakan sesuatu hal

"Hinata , apakah kau bahagia?" Pikiran hinata kini menjadi kalut atas perkataan ayahnya.

Sesaaat setelah mengekori sasuke, Hinata mendengar suara yang tidak asing sedak berteriak teriak di ujung lorong. Segera merreka berdua menghampiri sumber suara.

"kamu bukan bagian dari keluarga! Kamu hanya datang lalu merebut Tousan!"

"Kamu bahkan gak tau siapa ibumu!"

"Hikari!" hikari kaget melihat ayahnya sudah di depan mata. Dibelakangnya juga ada kaasannya yang tercengang Tak dapat menahan air matanya lagi hikari pun menangis. "Tapi semua itu benar"

"Dia bahkan tidak punya ibu!"

"jaga ucapanmu Hikari!" Sasuke yang emosi mengangkat tangannya untuk menampar.

PLAAK

Saat tangannya terayun, bukan Hikari yang menjadi sasarannya. Melainkan Hinata. Hinata ada di sana melindungi putranya. Biar bagaimanapun akan sakit bagi seorang ibu melihat anaknya sendiri akan di tampar. Sasuke menatap hinata tak percaya

"Hinata maaf aku tak ber..."

"Tidak sadarkah kau jika Hikari adalah anakmu juga!"

Perkataan Hinata menusuk sasuke. Benar selama ini Sasuke hanya memperlakukan putranya bak pajangan di pohon keluarga. Akhirnya Sasuke memilih meninggalkan Hinata. Hinata yang di tatap hikari memeluk erat putranya sambil menangis deras. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Yang jelas dirinya selama ini tak bisa menggapai kebahagiaan.

.

.

.

Sasuke yang berada di duduk di bangku taman meremas rambut ravenya. Wajahnya terlihat sangat tegang kusut dan merah. Tanpa disadarinya semenjak tadi sosok anak kecil mengikuti dari kejauhan. Sosok itu mendekat lalu naik ke bangku yang sama dari belakang. Sasuke tidak menyadarinya pikirinya masih kalut. Sedetik kemudian terciptalah dekapan hangat lengan mungil di lehernya. Seolah terbuai dengan aroma mirip dengan mantan istrinya itu tubuh Sasuke mulai rileks.

"Tousan menangislah, menangislah jika itu perlu"Sasuke menunduk tak terasa setetes air jatuh merembes ke kain yang di kenakannya. Sakura semakin mengeratkan dekapan di leher Tousannya.

"Aku juga sering menangis saat merindukan Kaasan"

mereka berdua larut dalam malam tenang. "Aku yakin Hikari tidak bermaksud seperti itu" Sasuke menaruh tangannya tepat di atas tautan jari Sakura kemudian mengelusnya perlahan. "Mungkin hikari hanya..., hanya tidak mengerti sama seperti aku" Sakura menyandarkan kepalanya di bahu kanan Tousannya. "kenapa aku bisa menjadi anak Tousan. Kenapa aku dan hikari menjadi saudara. Lalu kenapa aku memiliki Papa." Sasuke mulai merasakan bahunya basah. Ternyata Sakura juga menangis. "Kadang kadang aku sering merasa mereka berkata benar. Bahwa aku..."

"adalah... anak haram" Sasuke melepas pelukan sakura dengan kasar dan membalikan tubuhnya agar berhadapan dengan sakura. Mencengkram kedua lengan kecil di hadapannya. Sakura yang ketakutan hanya bisa memejamkan matanya. Tanpa di sangka Sasuke memeluk Sakura erat di dadanya. "Itu tidak benar. Kau adalah anak Tousan. Kau punya aku jadi kau bukan anak haram" Sakura balas memeluk erat. Keduanya menangis menumpahkan semua rasa yang mereka pendam. Ditemani heningnya malam ditemani binatang malam bersahutan yang meredam bunyi tangis keduanya

'apa yang harus ku lakukan Sakura'

.

.

.


Agak nyesel juga sih ngebuat Sai jadi sosok yang kaya begitu maunya mah di ganti sama Naruto abis gimana lagi yang lulus casting Cuma dia doang hahahaay

Ya sudah

.

.

Mind to Riview