"Baby what's it gonna hurt if they don't know? Makin' everybody thinks that we solo, just as long as you know you got me."

Side to Side, Ariana Grande.


[warning: strong language, sassy!Shoyo, jika Anda merasa akan terpelatuk akibat hal-hal tersebut silakan balik kanan maju jalan]


[Side to Side]

Haikyuu © Haruichi Furudate

Kei sedang tidur-tiduran di sofa dan memindah-mindahkan saluran di televisinya asal-asalan ketika mendengar bel pintunya berbunyi. Pemuda pirang itu mengerutkan dahi, siapa yang mengebel tengah malam begini? Matanya melirik jam di dinding; pukul setengah dua pagi. Gila, orang itu tidak tahu apa kalau jam segini manusia biasanya sedang terlelap? Karena sudah cukup direpotkan dengan wartawan yang kemarin memergoki perempuan keluar dari apartemennya, Kei memutuskan untuk mengabaikan suara itu.

Namun lama-lama ia sebal juga mendengarnya. Dalam satu menit kurang lebih sudah lima belas kali suara bel itu terdengar. Kei mendengus, melempar remot TV-nya lalu bangkit dari sofa dan menghampiri pintu depan. Siapa pun itu, Kei harap urusannya bisa cepat selesai. Ia sudah capek sekali habis shooting video promosi untuk lagu terbaru band-nya.

Kei mendekatkan wajahnya ke interkom untuk melihat siapa yang mengebel. Matanya terbelalak ketika menemukan sosok pendek berambut jingga awut-awutan di layar.

Shoyo?

Tangannya bergegas meraih gagang pintu dan menariknya terbuka. Sosok pendek itu benar-benar Shoyo, menundukkan wajah dan mencengkeram tali ranselnya dengan erat. Tubuh kecil itu tampak gemetar, entah karena dinginnya suhu di luar atau hal lain, Kei tidak tahu.

Banyak pertanyaan berkecamuk di benak Kei. Mengenai apa yang terjadi, atau bagaimana Shoyo bisa sampai ke depan pintunya tengah malam begini, atau hanya pertanyaan sederhana seperti apakah ia merasa dingin atau tidak.

Belum sempat menyuarakan satu pun tanya yang bergema di otaknya, Shoyo melangkah maju. Kei masih tidak bereaksi apa-apa, menunggu. Tangan yang gemetar itu meraih lengan kaos Kei, menariknya perlahan.

"Kei..." terdengar suaranya memanggil. Kei masih membeku, tidak mengerti.

"Fuck me 'till I can't walk straight."


"Kau dikeluarkan dari tim reguler."

Shoyo mengerutkan dahi, kelihatannya Kageyama punya ancaman baru.

"Kau bercanda."

"Aku tidak pernah bercanda masalah voli."

Shoyo tertawa meskipun tidak ada yang lucu. Kepalanya mulai terasa berdenyut marah lagi. Kageyama hanya mengangkat sebelah aslinya, menunggu Shoyo mau bilang apa.

"Kau," telunjuk Shoyo mengacung ke wajah kapten tim volinya itu, "mengeluarkan aku dari tim reguler? Kalau tidak salah dengar turnamen antar universitas sebulan lagi? Mau pakai spiker mana buat main?" tanyanya. Dirinya sendiri kaget mendengar suaranya yang terdengar congkak namun jujur otaknya benar-benar macet tidak tahu mau bereaksi seperti apa.

Mengeluarkan Shoyo dari tim reguler. Kageyama memang suka kelewatan kalau bercanda.

"Oh, kalau kau belum sadar, kami sedang bekerja keras di sini," balas Kageyama. "Dan aku tidak butuh pemain dengan kemampuan bagus tapi meremehkan usaha," tandasnya.

Shoyo mengerutkan dahi, merangsek maju dan mencengkeram kaos pemuda itu.

"Meremehkan usaha?! Lalu kau anggap apa aku yang tiga tahun latihan sampai malam? Siapa yang meremehkan usaha sebenarnya di sini?"

"Koreksi, dua setengah tahun. Enam bulan terakhir ini performamu buruk sekali dan aku sudah dengar dari Izumi apa penyebabnya. Kau sudah diperingatkan berkali-kali masalah si Tsukishima apalah-itu, tapi tidak mau mendengar."

"Lalu apa hubungannya dengan voli?!" suaranya meninggi, ia melepaskan cengkeramannya dan mendorong Kageyama hingga yang bersangkutan menabrak pintu gedung olahraga.

"Dengarkan aku, Hinata bodoh! Kalau kau mau bolak-balik Miyagi—Tokyo setiap hari untuk bertemu dengan Tsukishima apalah-itu dan masih datang latihan dua kali sehari maka aku tidak akan protes apa-apa," ujarnya. "Tapi lihat dirimu sendiri, nyaris tiap hari bolos latihan pagi, latihan sore juga datang semaunya. Aku biasanya tidak mau mencampuri urusan hidup orang tapi kelakuanmu sudah kelewatan."

Shoyo tergelak.

"Persetan. Aku keluar, sudah muak mendengar semua ceramahmu, Kageyama. Silakan bersenang-senang mencari spiker baru." Lalu ia berbalik dan berjalan meninggalkan Kageyama yang terlihat kaget mendengar apa yang ia katakan barusan.

"Hinata bodoh! Kau bisa kembali masuk tim reguler kalau latihanmu sudah waras lagi, kenapa ngotot sekali melindungi hubungan tidak jelasmu dengan anak band tidak jelas itu?"

Shoyo hanya melambaikan tangan dari balik punggungnya.


"Apa?" Tenggorokan Kei terasa kering. Apa telinganya tidak salah dengar?

"Fuck me," ulang Shoyo, masih menundukkan kepala. Suaranya terdengar lirih. Kei tidak mencium bau alkohol atau apapun yang aneh dari tubuh pemuda itu jadi sepertinya ia seratus persen waras.

"Kau kena—"

"Fuck me, Kei. I need it." Kepala jingga itu akhirnya mendongak, sorot matanya sulit diterjemahkan. Kei benar-benar tidak mengerti.


"Sho-chan!"

Shoyo menghela napas, memutar tubuhnya 180 derajat untuk melihat siapa yang memanggilnya. Walau dari sebutan namanya saja ia sudah tahu.

Terlihat Izumi berlari ke arahnya, berhenti di depan Shoyo dengan napas terengah-engah. Shoyo diam menunggu.

"Kageyama bilang kau keluar dari klub?" tanya Izumi setelah napasnya teratur. Shoyo hanya mengangguk singkat. Mata Izumi membulat.

"Jadi benar?" tangannya mencengkeram bahu Shoyo. "Kenapa? Kalau perkara mengeluarkanmu dari tim reguler 'kan bisa dibicarakan lagi dengan Kageyama, kau tahu sendiri dia itu emosian. Aku yakin dia tidak bermaksud memperlakukanmu seperti ini."

Shoyo tertawa sinis.

"Sebaliknya, Izumin, aku yakin dia memang bermaksud melakukannya."

Hening melanda sejenak. Terdengar Izumi menghela napas, matanya memandang curiga.

"Apa ini gara-gara Tsukishima 'brengsek' Kei itu lagi?"

Shoyo tersengat.

"Demi Tuhan, kenapa semua orang beranggapan masalah hidupku berakar dari Tsukishima Kei?!" pemuda kecil itu meledak. "Dengar baik-baik, Izumi, kau boleh bilang aku bodoh, idiot atau semacamnya, tapi jangan seret Kei ke dalam masalahku."

"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya! Kenapa kau kukuh sekali melindungi anak band tidak jelas itu? Kalian tidak punya status apa-apa!"

"Masalahku timbul karena aku yang jadi penyebabnya! Aku yang punya niat masuk ke bar waktu itu, tanpa pengaruh siapa pun. Aku yang terjerat pesona Kei. Aku yang berulang kali datang ke hadapannya!"

Shoyo menatap mata Izumi lekat, memberikan kesan ia kecewa terhadapnya.

"Jadi lain kali kalau kau mau menyalahkan seseorang atas bagaimana kelakuanku sekarang, salahkan aku. Aku bukan pengecut yang menyalahkan batu ketika jatuh tersandung."

Shoyo berbalik dan berjalan meninggalkan Izumi.

"Kalau begitu, Sho-chan, sepertinya kita tidak bisa berteman lagi." Shoyo mendengar itu dari balik punggungnya, lalu tertawa sinis menanggapi.

"Keputusan bagus."


Bahkan setelah Shoyo mengulang permintaannya sebanyak tiga kali, Kei masih membeku. Otaknya sulit mencerna kata-kata Shoyo, seperti mencoba berbicara dengan kucing dan kau sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan.

Detik berikutnya ia merasakan tubuh kecil itu menubruknya, mendorongnya hingga jatuh terduduk di atas karpet. Semuanya terjadi begitu cepat sampai Kei tidak tahu mau bereaksi seperti apa; bibirnya ditabrak sesuatu yang empuk—yang Kei asumsikan merupakan bibir Shoyo—dan ia bisa merasakan pemuda kecil itu memaksa memasukkan lidahnya ke mulut Kei. Lengan Shoyo melingkar di leher Kei, menariknya untuk mendekat.

Cukup sudah.

Kei mencengkeram bahu Shoyo dan mendorongnya hingga pelukan Shoyo terlepas. Dahinya berkerut, mendongak mengamati wajah pemuda kecil di depannya.

"Kau ini kenapa?" tanyanya. Shoyo tertawa kecil. Kei menelusuri ekspresi yang terpantul dari wajah pemuda itu; ada yang aneh. Seperti bukan Shoyo, tapi di saat bersamaan juga terasa seperti memang Shoyo.

"Aku membutuhkanmu, Kei," Shoyo kembali mendekat, rambutnya menggelitik dahi Kei ketika ia mendekatkan wajahnya, dekat sekali sampai Kei bisa merasakan napas hangatnya di bibir.

"Aku membutuhkanmu…" bibir Shoyo menyapu ringan bibir Kei, menggoda. Nakal sekaligus malu-malu. Tangan Shoyo mulai merayap ke mana-mana; mengelus pelan dada Kei, menangkupkannya di wajah Kei lalu mendaratkan ciuman ringan di pucuk hidungnya.

Kei mengeluh, bukan salahnya jika saat ini celananya terasa sesak.


Maka malam itu Kei mengabulkan semua permintaan Shoyo. Bergumul dalam selimut, menjelajahi titik terdalam diri masing-masing. Ranjang Kei berderit menanggapi gerakan yang dua pemuda itu lakukan di atasnya.

Shoyo menyerahkan semuanya kepada Kei. Membuka diri lebar-lebar, menerima apapun yang Kei berikan kepadanya. Pun sebaliknya, Kei bertekad untuk memberikan semuanya kepada Shoyo. Sekali, dua kali, tiga kali. Shoyo merasakan bagian bawah tubuhnya mulai kebas namun ia tidak peduli. Ia butuh itu. Ia butuh segala hal yang bisa membuatnya lupa akan hidupnya yang semakin berantakan.

Satu titik, ketika mereka hampir sampai (untuk yang keberapa kali? Shoyo sudah tidak menghitung), Shoyo menangis dan tertawa di saat yang bersamaan.

Bahkan Kei yang sedang konsentrasi bergerak di dalam Shoyo pun mengangkat sebelah alisnya heran.

"Kau ini kenapa sebenarnya? Datang ke depan pintu orang tengah malam," Kei bertanya di sela napasnya yang terputus-putus, "untung aku ada di rumah, kalau tidak kau mau apa?"

Shoyo tersenyum, menarik wajah Kei mendekat, menyentuh dahi Kei dengan dahinya sediri, keringat bercampur dengan keringat.

"Bicaranya nanti saja," bisiknya pelan. Kei bahkan bisa merasakan gerakan bibir Shoyo langsung di atas bibirnya sendiri.

Kei mendengus sebal, selalu begitu. Ia mempercepat gerakannya di dalam pemuda pendek itu. Shoyo melempar kepalanya ke belakang, memejamkan mata, meneriakkan nama Kei berulang-ulang.

Dan ketika akhirnya mereka sampai, Shoyo yakin besok ia benar-benar tidak akan bisa berjalan normal.


Shoyo terbangun saat mendengar suara yang lumayan keras dari samping telinganya. Ia mengerutkan dahi, berusaha menutup telinganya dengan bantal agar bisa melanjutkan tidur. Namun sebelum usahanya berhasil suara itu sudah berhenti.

"Maaf, alarm di ponselku. Lupa aku matikan," Shoyo mendengar suara laki-laki di sampingnya. Akhirnya pemuda pendek itu membuka mata, menangkap siluet kabur wajah berkacamata yang sedang memandanginya.

"Kei?"

"Ya. Aku."

Lalu Shoyo ingat semuanya; kejadian kemarin sore dan kenekatannya pergi ke Tokyo semalam, juga seks yang mereka lakukan karena Shoyo memintanya.

Begitu kesadaran pulih sepenuhnya Shoyo langsung merasakan sakit mendera tubuh bagian bawahnya. Pegal bercampur kebas, juga ngilu yang amat sangat.

Kei menangkap ekspresi kesakitannya.

"Pasti sakit," komentarnya. Shoyo tersenyum kecut. "Gila sekali, kau seperti kerasukan setan semalam. Sudah empat kali pun masih minta lagi."

"Jangan dibicarakan," Shoyo mengeluh, pemuda ini santai sekali membicarakan hal semacam seks—eh, dirinya juga semalam begitu, deng. Sama saja dengan Kei, sebelas dua belas.

"Lalu kapan kita mau bicara?" tanya Kei, Shoyo berjengit. "Jawabanmu selalu begitu. Hal yang aku tahu tentang kau cuma nama depanmu, selesai," Kei menyentil dahi pemuda pendek itu.

Lalu hening selama beberapa saat.

Shoyo berdehem, tenggorokannya terasa kering—entah karena kurang minum atau karena saking kerasnya ia berteriak tadi malam, tidak tahu yang mana.

"Tumben kau sudah bangun," ujarnya, mencoba membuka pembicaraan, juga lari dari topik sebelumnya di saat bersamaan.

"Aku belum tidur sama sekali."

"Hah?"

Kei mendengus.

"Nanti kalau aku tidur ketika bangun pasti kau sudah kabur. Setidaknya kau berutang penjelasan soal yang tadi malam jadi aku tidak semurah hati itu untuk membiarkanmu kabur hari ini," jelasnya. Dipikir-pikir baru sekarang Shoyo mendengar Kei berbicara selama itu.

Shoyo menggigit bibirnya, bingung mau bilang apa. Ia selalu menghindari Kei jika sedang tidak dalam pengaruh alkohol karena entah kenapa canggung sekali berbicara dengan pemuda pirang itu. Shoyo selalu merasa alkohol yang menjembatani hubungannya dengan Kei, karena jika tanpa itu ia tidak akan berani mendekat barang selangkah pun kepadanya.

Namun fakta yang mengatakan semalam dirinya seks dengan Kei dengan kesadaran penuh—untuk pertama kalinya—membuat Shoyo kehilangan alasan.

"Ah, iya. Semalam itu pertama kali kita seks tanpa minum-minum dulu, ya," ujar Kei, seakan menyuarakan hal yang sedang bergema di otak Shoyo. Shoyo menggerutu, sebal karena gampang sekali buat Kei mengatakan seks. Kata itu selalu terasa asing di lidahnya.

"Jam berapa sekarang?" tanya Shoyo. Kei memutar mata, percakapan mereka sama sekali tidak beranjak ke mana-mana.

"Jam sebelas," jawabnya, "kau terus-terusan mengalihkan pembicaraan. Silakan saja, sih, tapi bakal terus aku kejar sampai kau mau membicarakannya," lanjut Kei. Shoyo memasang wajah memelas.

"Ugh," keluhnya, "baik, kau menang. Silakan ajukan pertanyaan dan akan kujawab sebisa mungkin."

"Good. Pertama, nama lengkapmu siapa?"

Shoyo mengangkat sebelah alisnya heran, tidak menyangka itu yang dipilih Kei sebagai pertanyaan pertama. Ia sudah menganggap Kei akan memberondongnya dengan pertanyaan seperti, "kau kenapa?" atau "apa yang membuatmu gila semalam?" atau hal lain yang langsung menusuk ke inti permasalahan.

Meneguk ludah, Shoyo kembali berdehem.

"Hinata Shoyo," jawabnya.

"Hmm, namamu terang sekali ya," Kei berkomentar. Shoyo hanya tersenyum canggung karena tidak tahu mau menjawab apa.

"Pertanyaan kedua, kau tinggal di mana?"

Lagi-lagi alis Shoyo terangkat, Kei kembali mengajukan pertanyaan yang tidak ia duga.

"Err, Miyagi."

"Gila, itu jauh sekali. Kau naik apa ke sini?"

"Shinkansen. Cuma dua jam, kok."

"Hee…"

Hening kembali melanda. Shoyo menundukkan pandangannya, menghindari menatap langsung mata Kei. Ia memperhatikan keadaannya sendiri, tidak jauh berbeda dari biasanya; tubuh penuh bercak merah—bahkan ada yang kebiruan, pasti Kei terlalu lama menggigitnya di bagian situ—dan meski setengah badannya tertutup selimut ia bisa menebak bagian bawahnya pun kondisinya sama.

"Pertanyaan ketiga," Shoyo tersentak saat Kei mendekatkan wajahnya, dekat sekali sampai hidung mereka bersentuhan.

"Kau lebih suka sarapan pancake atau toast?"


Shoyo benar-benar tidak bisa memercayai penglihatannya sendiri ketika Kei masuk ke kamar membawa dua piring berisi pancake, dengan guyuran sirup mapel dan taburan stroberi yang dipotong-potong semaunya. Wanginya manis sekali sampai bisa membuat mulutnya basah dan perutnya mengeluarkan bunyi keroncongan yang memalukan.

Oh, ya. Selain itu, Kei juga cuma pakai celana dalam di balik celemek warna hitamnya itu. Naked apron, sedap sekali.

"Jadi kau mau makan pancake-nya atau tidak?" pertanyaan dari Kei membuyarkan lamunannya mengenai cara berpakaian pemuda pirang itu. Shoyo mengangguk, menerima piring berisi pancake dan juga garpu dari tangannya. Kei naik ke kasur dan duduk di sebelah Shoyo, mulai melahap makanan di piringnya.

Mereka tidak bicara selama beberapa saat, hanya terdengar suara dentingan garpu beradu dengan piring dan makanan dikunyah selama kurang lebih lima belas menit.

Shoyo kembali tenggelam dalam pikirannya. Sama sekali ia tidak pernah menyangka akan ada di situasi seperti ini; sarapan bersama Kei dengan makanan yang Kei masak sendiri, dalam keadaan telanjang hanya ditutupi selimut, dan juga bisa melihat Kei pakai celemek—lebih-lebih ia hanya memakai celana dalam di balik celemek itu. Shoyo membatin ngasal; mati besok pun ia tidak keberatan.

Dan Kei sama sekali belum menyinggungnya soal kenapa ia bisa sampai gila seperti semalam.

"Anu, Kei?"

Kei mengalihkan pandangannya dari piring ke wajah Shoyo, bertanya lewat tatapan mata. Shoyo menggigit bibirnya.

"Boleh aku tinggal di sini sampai akhir pekan?"


Uh, halo, haha /ketawagaring

Maaf kalo terasa agak banyak bahasa Inggrisnya di sini soalnya saya beneran bingung, nggak bisa nentuin bahasa Indonesia yang cocok buat "fuck me" huhuhu

Eniwei, saya pernah bilang ini cuma bakal sampe 3—4 chapter, nyatanya ngaret ya, maafin /jungkir

Maafin juga saya cuma bisa update sekali seminggu, itu pun cuma satu chapter, karena saya sendiri selain baru selesai UTS (yha) juga butuh jungkir balik buat nentuin plot ceritanya, karena meski garis besarnya udah fix saya masih sering galau ngeksekusinya kayak gimana /jadicurcol

Ya eniwei makasih sudah mau membaca cerita ini, mohon bersabar dengan saya ya :"""

Sampai jumpa di chapter berikutnya!