Angel and The Beast

Himkyu's Present

SEVENTEEN fic_JungCheol / SeungHan ( SCoup x Jeonghan)

Genre : Romance Humor

Disclaimer : SEVENTEEN's cast are owned by PLEDIS, this fic by me (Himkyu as Miyu)

"Aku kalah. Dan aku minta maaf."

.

.

.

.

Terima kasih atas dukungan untuk chapter sebelumnya ^^

Slight Jihan here. prepare yourself!

Here i introduce you with some 'Love-Hate' story.

- MANSAE!

.

.

.

.

All horoscope statements here are fake. Those are officially written by me ^^

Warning! For the impolite word, bed scene(!)

.

.

.

.

.


Seungcheol

"Jeonghan, kau menangis?"

Matanya terbelakak setelah aku menegurnya demikian. Wajah nya amat memprihatinkan. Ada rasa khawatir dan kepanikan yang begitu dalam terpancar dari sana. Bibirnya yang merah agak pucat, aku tahu mungkin efek hujan dan takut itu menguras adrenalinnya.

Ia terus menerus terisak-isak, menahan emosinya yang keluar begitu saja. Ini yang kubenci darinya. Berlagak sok kuat di saat tidak tepat. Tidak tahu dia, air matanya sudah berurai semakin deras di antara pipi mulusnya. Kali ini, aku bisa melihat Jeonghan tidak pandai bersandiwara, menyembunyikan kelemahannya saja susah di samarkan.

Hal ini tidak kugunakan sebagai kesempatan emas, aku turut ingin menolongnya. Merengkuhnya. Memberikan ketenangan untuknya. Kami berdua sama-sama menjadi korban, tapi ia lebih membutuhkanku daripada aku membutuhkannya.

Aku kasihan padanya. Aku tidak bisa terus membiarkannya menangis oleh rasa takut. Bayangan kejadian tadi pasti masih menghantuinya, dan itu bisa berbahaya untuk kejiwaannya. Aku tahu dia seorang laki-laki tulen, tapi jiwa seseorang tidak bisa kita tebak akan terhempas begitu saja hingga seorang laki-laki itu tidak terlihat kuat lagi.

Kuulurkan tangan kananku, untuk menggapai kepalanya. Walaupun masih terasa sakit di bagian yang terluka, namun aku melupakan sensasi sakitnya sejenak. Kepalanya kurengkuh, lalu kutuntun ke pundakku. Aku memeluknya. Memberikan kehangatan untuk sementara waktu.

Kepalanya terbenam di atas pundak kananku, dan kutepuk-tepuk lembut punggungnya seperti menenangkan seorang anak kecil. Ia tidak melawan, dan menepis perlakuanku kali ini. Di dalam rangkulanku, aku bisa mendengar suara tangisannya berbaur dengan air hujan.

Aku tidak cemas dengan sweater merah muda milik sepupuku ini menjadi basah, atau ternoda darah. Aku lebih cemas jika Jeonghan terluka tadi.

"Menangislah jika itu bisa membuat rasa takutmu hilang."

Ia semakin menangis. Kehangatan buliran air matanya semakin meresap, dan bisa kurasakan di bagian pundakku.

"Aku minta maaf. Seharusnya aku tidak membiarkanmu pulang sendirian." Aku tidak tahu kenapa aku berkata seperti ini. Aku tidak pernah menyesal melihat orang tersakiti, atau mereka menjadi tunduk padaku. Tapi, ketegaan itu berangsur muncul dengan bayangan kejadian yang bisa dialami Jeonghan , terus tergambar di otakku.

"Kenapa kau begitu baik padaku?"

Aku terkesiap mendengarnya merespon. Kukira ia terlalu tinggi hati untuk diperlakukan terlalu manja seperti ini. Biasa sekali seorang Jeonghan tidak ingin memperlihatkan sisi kerapuhannya di hadapanku.

"Bukankah kau senang melihatku seperti ini?"

aku menghela nafas. Jeonghan semakin membuatku jengkel. Ia mengira kami masih dalam permainan yang mempertemukan kami pada bagaimana bisa menjatuhkan kekuatan satu sama lain agar bisa disebut 'menang' atau 'kalah', di suasana segenting ini.

"Bisakah kau diam dan menangis saja sesukamu. Yang kau katakan itu sangat menyebalkan." Kerut wajahku tampak tak suka, namun Jeonghan tidak perlu melihatnya. Teguranku malah membuatnya diam, dan isakannya berangsur memudar. Mungkin perasaannya sudah lebih baik.

Sambil menunggu hujan berhenti, kami berdua terkulai di dalam gang remang yang tidak lagi berbahaya dihuni iljin br*ngsk itu. Suasana dingin semakin saja menusuk, dan rasa sakit plus nyeri yang semakin tak tertahan. Aku teringat akan pelajaran Biologi, bahwa lukaku akan terinfeksi jika tidak segera ditangani. Apalagi masalahnya adalah, lukaku memiliki bekas robekan yang cukup menganga akibat sabetan pisau sialan itu.

Kugigit bibir bawahku, tidak ingin satu suara rintihan membangunkan Jeonghan dari kesadaran dan mimpinya yang bisa menutup rasa takutnya. Posisi kami dinilai terlalu membuat 'skandal' apabila ada yang melihat kami disini. Ia berada di pelukanku, aku memeluknya, dan lukaku hanya bisa ditahan oleh tangan kiriku yang bebas. Ini sangat merepotkan.

"Seungcheol?" Jeonghan tiba-tiba bangun. Wajahnya terlihat cukup terkejut. Bereaksi melihat sikapku berusaha menguasai rasa sakit ini. lagi-lagi ia panik. Aku jadi kecewa pada diriku sendiri yang tidak bisa membuatnya tenang kembali.

"E-Eh?! Apa yang kau lakukan?!" Jeonghan terlihat merobek salah satu bagian kain kausnya. Semakin lebar robekan pakaiannya. Bagian perut bawahnya, dan bahkan hampir ke dada tampak jelas di depan mataku. Pemandangan yang terlalu menakjubkan. Walaupun untuk ukuran seorang laki-laki, kulitnya terlalu mulus.

"Lukamu harus ditahan oleh ikatan kencang biar tidak ada bakteri yang masuk. Ini akan menanahannya sementara waktu."

"Ta—tapi, pakaianmu?"

Jeonghan melihat pada sekujur tubuhnya yang hampir tak sehelai pun menutupi bagian atasnya. Namun ia menggeleng. Seolah itu bukanlah perkara serius. Dan menganggap setengah telanjang tidak akan membuatnya di serang kembali oleh sekumpulan hewan buas di luar sana. Bodoh.

Aku pun bergegas melepaskan sweaterku. Sejak awal, aku membenci warna itu terpakai untuk tubuhku. Tapi, niatku membuat Jeonghan membenciku tadinya menggebu. Jadi, rela kupakai sepanjang waktu hari ini.

Namun, aku bisa bernafas lega. Sweater berwarna cerah itu kutanggalkan, dan kubantu kupakaikan di tubuh Jeonghan. Ini kali kedua aku memberikan pakaianku untuk membuatnya tetap hangat. Ia salah tingkah menerima pakaian hangat tersebut.

"Pakai saja. Kau tidak mungkin keluar dengan pamer dada, kan? Kalau kau punya abs sih, bisa dimaklumi."

Jeonghan melotot padaku. Aku hanya cekikikan saja. wajahnya yang merenggut kesal, kembali tampak dan itu membuat setengah perasaan yang khawatir itu berangsur tenang.

Ia mulai mengikatkan robekan kain kausnya di tanganku. Caranya membilit , sangat memukau. Jika kupikirkan, sangat cocok sekali ia menjadi seorang perawat atau dokter. Tapi jika seorang Jeonghan yang tidak punya perasaan dan gampang marah ini, aku jadi ragu.

Entah kenapa senyuman itu muncul. Mungkin keterpesonaanku padanya sudah diambang batas kewajaran. Aku tidak mungkin semudah ini tersenyum pada seseorang yang hanya memberikan pertolongan sesederhana ini. Aku juga tidak mungkin merasa nyaman berada di samping seseorang yang melayaniku karena suatu alasan.

Bertahan, Seungcheol. Dia Si Licik. Jangan sampai pertahananmu runtuh. Ia hanya menggodaimu.

Kali ini pikiranku berargumen dengan perasaanku. Akibatnya, ada efek yang aneh melalang di bagian tubuhku. Aku merasa ada yang tidak beres dari reaksi sensorikku.

"Cha.. selesai." Ia mengukir senyum puas dengan hasil mahakaryanya.

"Setelah hujan berhenti, kita akan segera ke rumah sa—"

Blush

Aku segera membekap wajahku. Ia menatapku intens sebelum meneruskan kalimatnya. Oh tidak! Apa dia menyadari sesuatu?

"Wa—wajahmu memerah, Seungcheol?"

SHT!

Sekarang, aku yang mulai berlagak aneh, dan ingin melarikan diri dari hadapannya.

.

.

.

.

.

.

.

.


Keesokan harinya...

Jeonghan

"ASTAGA! Kau harus melihatnya, Joshua! Kau harus melihatnya!"

Joshua mungkin sudah begitu muak merespon perlakuanku yang meronta-ronta bagai anak kecil. Aku memang sedang sangat bersemangat hari ini. Hanya pemuda ini yang bisa kubeberkan semua rahasia yang baru saja terungkap tepat di depan mataku.

Tentang kemarin.

"Wajahnya memerah ketika aku membelit lukanya. Apakah ini suatu pertanda?! Kau tahu kan maksudnya?!" aku yang duduk tepat di sampingnya, menarik-narik manja lengannya yang kokoh. Tadinya Joshua hanya sibuk dengan komiknya, tapi tugas kedua menantinya. Menenangkanku yang begitu gila hari ini.

"Ia sedang terluka, dan kau malah bahagia di atas penderitaannya, Jeonghan. Kau ini tega sekali." Aku bisa melihatnya memutar bola mata dengan sangat jengah. Lagi-lagi tak membalas tatapanku, hanya sibuk berkutat pada komik Jepangnya.

"Aku memang mencemaskannya waktu itu. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan kesempatan itu sia-sia. Waktuku begitu sempit untuk bisa memenangkan pertaruhan itu." Kuingat bahwa tinggal menghitung hari saja sebelum pertaruhan kami berakhir. Dan jika aku tidak segera membuatnya jatuh cinta padaku, ini adalah masalah besar.

"Seluruh siswa menaruh kepercayaan padaku." Aku berVictory ria, melayangkan kepalan tanganku ke udara dengan ekspresi pejuang bak tentara. Membuat Joshua merasa lucu dengan sikap kekanakanku.

"Oh ya. Aku baru saja membaca ramalan bintang hari ini." Joshua mengalihkan pembicaraan.

Aku segera menghentikan aksi , menengok padanya cepat dengan kerutan bertanya. Sejak kapan Joshua suka hal semacam itu?

"Aku iseng membaca zodiakmu. Aku rasa masalah percintaanmu bisa terjawab."

"Heh? Kau kira aku akan pakai cara 'mitos' itu untuk menyelesaikan masalahku? Yang percaya begituan hanyalah seorang idiot." Aku tertawa kecil. dan Joshua yang merasa tersinggung mengerucut bibir kesal.

"Terserah kau saja. Tapi, dikatakan dalam ramalan itu bahwa 'Cinta sang pasangan Libra, semakin kuat. Ia mulai cemburu padamu.'," Joshua melirik padaku yang sudah mulai memasang wajah stoic. Aku bungkam, ya bungkam. Seolah aku baru saja mendapat pencerahan dari ucapannya barusan. "Kau mengerti maksudku,kan?" senyumnya yang tidak ada kepicikan sama sekali, mulai menamparku. Menyudutkanku.

Aku sepertinya yang 'Idiot' disini.

"Itu dia! Membuatnya cemburu!" aku malah berseru. Bukannya malu karena aku justru menggunakan cara 'takhayul' untuk bisa menjadi jalan keluarku sendiri. Joshua berdecak. Pasti otaknya berkata , "Dasar plin plan"

Entah kenapa aku mulai memperhatikan segala penampilan yang berada di hadapanku. Joshua jika dilihat, memang cukup keren dan tampan. Lagaknya kadangkala sangat formal dan santun, seperti seorang pangeran. Pesonanya begitu terpancar, cukup membuat para gadis terbuai hanya dari melihatnya saja. Seperti karakter-karakter ikemen di anime-anime Jepang.

Sepertinya setan di pundak kiriku baru saja membisikkan sesuatu.

"Eum, Joshua. Bagaimana jika kau membantuku?"

Joshua tadinya diam saja. Bahkan meresponku hanya sebatas melirik sedikit matanya, lalu kembali pada komiknya. Tsk, dasar! Ia suka sekali membuatku kesal.

"Bagaimana jika kau jadi selingkuhanku?"

DEG

"M—MWO?!"

Aku kaget dengan responnya.

"Oh, ayolah. Ini kan hanya sementara. Aku cuman bercanda saja. Paling tidak, aku jadi tahu perasaannya dia padaku benar-benar cinta, atau tidak. Please~"

Joshua bungkam dan tampak berpikir. Aku berharap-harap cemas. Ia selama ini selalu banyak membantuku menyelesaikan berbagai masalah. Mungkin kali ini, ia tidak keberatan melakukannya.

"TIDAK! Aku tidak mau berurusan dengan kau dan preman tidak tahu diri itu." Ia membuang muka, segera beranjak meninggalkan kegiatannya dan berpaling dariku begitu saja.

"JOSHUA! KUMOHON!" dan aku yang tidak punya rencana lain, hanya bisa mengikutinya kemanapun hingga membuatnya berubah pikiran.

.

.

.

.

.

.

.


Author's POV

Seungcheol masuk dengan wajah datar dan tidak bersemangat seperti biasa. Ia tenggerkan jaket sekolahnya di pundak, memamerkan kaus hijau tuanya yang berlengan pendek. Memamerkan belitan perbannya. Wajah dipenuhi plester, dan ia masih mengacuh pada berbagai tatapan ngeri sambil mengemut sebatang permen. Duduk di bangkunya, timbulkan hentakan di meja seperti biasa dengan kedua kakinya.

"SEUNGCHEOL! TANGANMU KENAPA?!"

Yang barusan berteriak tidak sabaran itu siapa lagi kalau bukan Wonwoo. Ia adalah orang kesekian yang menatap prihatin pada belitan perban yang terpamer di bagian lengan Seungcheol. Namun, dia orang pertama yang menegur khawatir dengan oktaf tidak main-main tentang luka itu.

Seungcheol malas membalas keprihatinan Wonwoo, dan mungkin dua teman lainnya akan ikut mencemaskannya.

"Kau habis berkelahi, Seungcheol? Enak sekali! Berkelahi tidak ngajak-ngajak." Yang Super Gila dan terkenal tukang Pukul adalah si Bule. Ia paling bersemangat jika sudah berkaitan akan adu jotos apapun itu.

"Memangnya siapa yang menantangmu, Seungcheol? Kenapa tidak bantuan pada kami?" Mingyu ikut khawatir. Tapi nadanya, terdengar jengkel dan kesal. Mungkin ia marah dengan si pelaku yang telah membabak belurkan ketua nya itu. walaupun sikapnya terlihat tidak pernah respect pada siapapun, tapi ia begitu memanuti Seungcheol.

Seungcheol bungkam 1000 bahasa. Ia tidak mungkin membalas dengan jawaban 'aku baru saja berkelahi pada pasukan homo yang hampir memperkosa Jeonghan'. Orang-orang akan tahu, lalu mengasihaninya, dan memberikan tepukan kebanggaan padanya karena telah menjadi sosok 'pacar yang sangat baik'.

Itu menjijikkan.

"Aku hanya melakukan hobiku. Aku tidak perlu melakukannya bersama kalian , kan?" Seungcheol berlagak sok keren. Mengedarkan pandangan ke jendela luar dengan nada yang berwibawa seolah kecelakaan kemarin bukanlah perkara serius.

"Wah!Wah! Kau hebat! Pantas saja kau jadi ketua kami!" Wonwoo menepuk-nepuk lengan Seungcheol begitu saja, tanpa sadar luka menganga hampir saja akan terbuka lebar kembali jika ia melakukannya. Seungcheol merintih terlalu kuat, dan hampir saja ia akan membenturkan kepala Wonwoo ke dinding jika Wonwoo tidak segera menghindar dan bersembunyi di belakang tubuh besar Mingyu.

"Apa Jeonghan tahu kau berkelahi? Ia pasti akan marah padamu lagi, Seungcheol." Ucapan Vernon barusan mengingatkan Seungcheol pada pemuda yang ingin ia lupakan seharian ini. Tentu saja dia tahu. Toh, dia saksinya.

"Atau kau tidak ingin memberitahukan tentang lukamu ini?" Vernon terkikik, membuat Seungcheol kalang kabut dan rahangnya mengeras penuh emosi. Ia tidak mau dengar apapun tentangnya. Sudah cukup puas, ia dipermalukan di depan laki-laki cantik itu semalam.

"Hmm.. itu benar. Bukankah ia akan merawatmu lagi jadinya seperti waktu itu. Kalian terlihat cocok satu sama lain." Mingyu bersuara dengan wajah meremehkan. Tidak biasa ia akan ikut menggodai Seungcheol. Tapi berlagak sok bijak bagai malaikat terus menerus di depan Seungcheol, membuatnya bosan untuk hari ini.

"Ya! Seperti seorang istri!" Wonwoo masih cukup percaya diri menghentak penuh semangat deklarasinya untuk menggoyahkan hati Seungcheol. Tiga orang yang menjadi ranjau untuk hati Seungcheol saat ini malah tertawa. Tidak sadar, wajah yang berpaling dari mereka, tengah dilanda gundah.

Dirawat? Seperti seorang suami pujaan? Dimanjakan? Dilayani?

Itu adalah impian setiap pria manapun.

Namun visualisasi dari setiap kalimat itu justru digambarkan dengan seorang Jeonghan dan wajah cantiknya. Senyumannya, dan kata-kata manisnya. Kelembutan sentuhannya, dan tangisannya.

Jantung Seungcheol berdetak tak karuan.

A—ada apa ini?

"Seungcheol! Wajahmu memerah!"

"Oh astaga! Apa karena kami meledekmu tadi?!"

Seuncheol tersentak ketika ia tersadar tengah menjadi tontonan dari 3 bocah di hadapannya. Mereka mengawasi, menatapi, menelusuri dengan mata bengis mereka yang tiada ampun mencari-cari adanya kesalahan dalam sikap Seungcheol.

Seungcheol juga tidak tahu kenapa ia bereaksi seperti ini. dan kenapa ia bisa begitu mudah tersipu acap kali mengingat Jeonghan dalam pikirannya. Kenapa ia tidak jijik seperti dahulu? Seakan ingin membuang ludah kemana pun.

"Oh jadi luka ini ada kaitannya dengan Jeonghan, eum?"

BUG

"BERHENTI KALIAN BR*NGSK!"

Meja bergeser dengan brutal hingga mengejutkan satu penghuni kelas. Seungcheol dilanda muak dan emosi tinggi sampai ia membanting keras jaket sekolahnya. Wajah sangarnya dibuat mengerikan, tampak jelas bahwa moodnya sedang sangat buruk. Dan siapapun akan menghindar darinya, bahkan untuk bernafas di dekatnya.

Tubuh Seungcheol sudah tidak terlihat di dalam kelas. Dan tiga orang yang hanya bisa mengerjab polos dengan tidak sadarnya bahwa perbuatan merekalah yang membuat laki-laki brutal itu mengamuk.

"Aku rasa kita dalam masalah besar." Wajah tampan Wonwoo tampak takut-takut. Vernon mengangguk setuju. Dan Mingyu hanya menghela nafasnya yang begitu lelah menghadapi perasaan labil Seungcheol dan kekonyolan teman-temannya.

.

.

.

.

.

.


Asap rokok yang tidak sedap berhembusan dari dalam gudang. Sebatang rokok menari-nari di antara jari-jemari Seungcheol. Laki-laki itu tengah bersembunyi, dan menyesap lintingan tembakau yang memabukkan itu sembari berbicara sendiri layaknya orang sinting.

"Heh? Aku jatuh cinta pada Jeonghan? Yang benar saja?" Isapan ke sekian ia lakukan. Matanya yang lelah dan tak bertenaga karena dikuras emosinya saja, melurus pada tumpukan kursi rusak yang tersimpan lama di dalam gudang hingga termakan rayap.

Seungcheol menghentikan isapannya ketika rokok di jemarinya sudah pendek hingga seukuran 1 ruas jari. Ia membuang rokok itu sembarangan dengan sangat gondok.

"Arghhh! Tapi kenapa aku terus menerus memikirkan laki-laki itu bersikap baik padaku?! Selama ini ia pasti hanya baik untuk membuatku jatuh cinta padanya?! Kenapa aku harus mempedulikannya?!" Ia mengacak surai hitamnya. Seolah dalam dirinya harus dipersalahkan. Ia kesal, galau, dan tidak suka.

"Tinggal menghitung hari lagi, dan aku harus bisa menahan perasaan apapun itu agar aku tidak tampak jelas sedang menaruh perhatian padanya." Seungcheol bangun dari posisi berjongkoknya. Setelah puas menghilangkan stress beberapa waktu lalu, ia pun memutuskan untuk keluar dari gudang.

"Mungkin tidak melihatnya beberapa hari, bisa membuatku tidak perlu khawatir kalah darinya."

Ia pun berjalan seperti biasa seolah tidak melakukan pelanggaran apapun. Berjalan-jalan di sekitar sekolah mungkin akan membuat mood nya lebih baik. Jika ia bertemu dengan Jeonghan, ia hanya perlu berpaling dan tidak mengenalinya.

Ya, ia pikir mudah saja seperti itu.

.

.

.

.

.

.

.

.


"Oh ayolah Joshua! Satu kali saja!" Jeonghan masih bersih keras membuat pertahanan Joshua jatuh. Sedari tadi ia mengekor, mengikuti Joshua kemanapun bahkan sampai ke toilet pria pun ia rela ikut. Permintaannya sangat annoying sekali, dan Joshua tidak kuat mendengar pemuda cantik itu berkoar-koar seperti burung beo yang belum dikasih makan.

"Shut up, Jeonghan!" Joshua pada akhirnya menghentikan langkahnya dan membalas pandangan memohon Jeonghan. "Aku memberitahukanmu soal ramalan itu, bukan berarti aku mau ikut campur urusan kalian. That's not my business!"

"Hanya membantu sahabatmu saja, kok susah sekali!" Jeonghan cemberut. Joshua gemas. Ia berusaha berpaling dan menghindar lagi. Tapi pergerakannya dihentikan ketika Jeonghan tiba-tiba merampas komik favoritnya begitu saja. Joshua panik.

"Hei! Kembalikan komiknya!" Joshua mengejar kemanapun Jeonghan berlari menghindar. Malaikat yang berwatak iblis, ia sangat suka mengerjai sahabatnya itu.

"Jadi selingkuhanku dulu, lalu kukembalikan." Jeonghan melet untuk meledek Joshua yang sudah lelah mengejar. Aksi lari-berlari pun tak terelakkan. Dan beberapa siswa yang masih berada di koridor , hanya menggeleng melihat sikap kekanakan mereka. Sudah terkenal keduanya adalah sahabat sehidup semati yang sangat dekat. Soulmate.

Buk!

Jeonghan dan Joshua terkejut bersamaan. Keduanya berhenti mengejar setelah Joshua berhasil memerangkap tubuh Jeonghan ke dinding halaman belakang tempat Jeonghan melarikan diri. Mereka hanya berdua, di tempat itu.

"Kembalikan!" bukannya malah dikembalikan, tangan Jeonghan malah semakin terulur ke atas. Keuntungan bagi Jeonghan yang sedikit lebih tinggi dari Joshua.

"Tidak akan sebelum kau menjawab permintaanku!"

Joshua gregetan. Ia berpikir, apa ia mengalah saja? dan Joshua tengah akan menghindar dari Jeonghan lagi. Tangannya yang kokoh untuk memenjarakan Jeonghan, sudah terlepas bertengger di dinding.

Namun, Jeonghan tidak secepat itu melepaskan sahabatnya kembali.

Tiba-tiba, entah kenapa Jeonghan menarik kerah Joshua. Membuat laki-laki tampan itu tidak kuasa menahan keseimbangannya dan hampir saja menindih Jeonghan ke dinding. Tubuh mereka sudah sangat menempel. Bahkan hampir saja wajah mereka beradu.

"Yak! Apa yang kau lakukan, Jeonghan?!" Joshua begitu panik. Jeonghan tidak mau melepas cengkeramannya.

Dengan suara lembut, bisikan Jeonghan yang begitu geli mengalun di telinga kiri Joshua , terdengar begitu jelas. Jujur, Joshua sedikit tidak nyaman dengan posisi seperti ini. "Ada Seungcheol. Ia menatap ke arah sini."

"APA?! KAU GILA?!"

Jeonghan mengukir senyum picik. Posisi wajahnya ia biarkan terbenam di sekitar ceruk leher Joshua. Kedua tangannya yang jenjang melingkar pada leher Joshua. Semakin merekat saja kedua tubuh itu. Joshua merinding, tapi, ia tidak bisa melawan kenikmatan Jeonghan yang sedang mempermainkan orang lain pada saat ini.

Mau tak mau, Joshua ikut memeluk pinggang Jeonghan dengan sangat gentle. Posisi mereka saat ini seperti sepasang kekasih yang melepas kerinduan.

Dan Seungcheol yang tidak sengaja bertemu dengan moment tersebut, membelakak tidak percaya. Moodnya semakin buruk, jatuh terhempas hingga ia tidak sanggup menenangkannya kembali.

A Beast has came out.

.

.

.

.

.

.

.


Para siswa berkumpul, berusaha mencari ruang untuk mengintip lapangan indoor. Pada saat itu, mereka hanya bisa menonton dari luar melalui pintu masuk. Si Monster yang tengah mengamuk dan membanting bola basket dengan sangat keras hingga timbul suara seperti ledakan bom. Mana ada yang tidak tertarik untuk melihat aksi kebrutalannya yang seolah akan menghancurkan ruangan tersebut.

Seorang laki-laki mungil dan berwajah imut dengan sebuah kaca mata bulat besarnya, merinding. Kedua kakinya sudah ngilu dan bergetar-getar. Sudah ke sekian kali ia membetulkan kacamatanya yang melorot dari hidungnya. Laki-laki mungil itu berusaha menghindar dan bersembunyi di kegelapan, agar si Monster tidak menyadari kehadirannya.

Tapi sayang seribu sayang, sedari tadi Seungcheol sudah mengawasinya dan hendak menargetkan bola basket di tangannya ke arah pemuda malang itu. Laki-laki mungil itu tidak bisa melarikan diri. Melarikan diri, sama saja membuat kuburan untuknya. Ia hanya pasrah.

"Hey, Seungcheol! Kami mencarimu!"

Tiga pemuda menerobos masuk. Berjalan mendekati tengah ruangan, dengan sangat santai. Mereka harus tetap tenang agar tidak membuat Seungcheol mengamuk untuk yang kedua kalinya pada mereka.

"Oh, kau lagi si Kacamata. Mau apa kau kemari?" Vernon merangkul si laki-laki mungil. Sikap sok akrabnya justru semakin membuat laki-laki itu ketakutan. Wajahnya berkeringat dingin melihat 4 orang berandal telah menjadi satu. Pasti ingin mengerjainya dengan kekuatan mereka satu persatu. Bisa mati dia.

"S—Seungcheol sunbae memintaku kemari." Suaranya tergagap. Vernon tertawa. Ia begitu gemas dengan wajah takut-takut setiap orang.

"Siapa namamu, nak?" Mingyu, dengan wajah sok malaikatnya, bertanya. Laki-laki mungil itu menahan kerongkongannya yang kering. Sekalipun laki-laki di hadapannya berwatak gentle kepadanya, postur tubuhnya yang sangat mengancam jiwa.

"Wo—Woozi, Sunbae."

"Woozi! Kali ini kau selamat. Kami tidak akan memalakmu atau menyiksamu. Tapi besok, siapkan uang double, OK?" Wonwoo yang sedang merangkul Seungcheol, menyengir lebar. Ia memberikan thumbs up kepada Woozi. Ini adalah interuksi, bahwa Woozi harus segera melarikan diri dari kandang penuh harimau secepatnya.

Hiruk pikuk semakin hampa. Mungkin karena tak berani berurusan dengan geng sekolah mereka lebih lama. Ketiganya mulai bernafas lega, bisa menghabiskan waktu berempat saja untuk menyelesaikan masalah ini.

"Seungcheol, apa yang terjadi padamu?!"

Seungcheol tidak menjawab. Ia duduk di atas lantai, membenamkan wajah lelahnya. Menyembunyikan kerut emosinya.

"Maafkan kami. Kami tidak bermaksud menyudutkanmu waktu itu." Wonwoo mengelus lembut punggung pemuda yang sedang menenangkan kegeramannya.

"Apa yang harus kami lakukan untuk menebus kesalahan kami? Kau tidak perlu mengamuk seperti tadi, Seungcheol."

Seungcheol mendongak. Wajah berangnya tidak juga terusir. Namun, suasana hatinya bisa ia kendalikan. Ia menatap satu-satu anak buahnya. Ekspresi mencurigakan. Pasti menginginkan hal yang aneh-aneh.

"Pulang sekolah. Temani aku ke bar."

Ketiga temannya terlonjak. Dan hanya bisa bertatapan satu sama lain. Permintaan yang sangat jarang sekali diucapkan Seungcheol. Laki-laki itu hanya akan minum-minum jika ia memiliki masalah yang sangat serius.

"Sepertinya, amukannya bukan karena kita meledek tadi."Vernon berbisik kepada Mingyu yang berdiri di sampingnya. Laki-laki tampan itu mengangguk sepaham dengan jawaban Vernon.

.

.

.

.

.

.

.

.


"Aku tidak akan jatuh cinta pada laki-laki itu *Hik*"

Tangan Seungcheol sempoyongan memegangi secangkir vodka. Minuman beralkohol berkadar tinggi dan mahal itu mengendalikan seluruh inderanya. Hingga ia tidak sadar terus menerus ditatap aneh oleh ketiga temannya yang hanya meminum secangkir bir berkadar rendah.

"Kalian tahu! Aku hanya ingin memanfaatkannya *hik* , menjadikannya sebagai pelayanku suatu saat *hik* jika aku menang taruhan." Muka Seungcheol memerah. Wajahnya terantuk-antuk terus, seperti akan jatuh ke atas meja.

"Jadi, kau selama ini berpacaran karena taruhan?" Wonwoo penasaran. Dan Seungcheol tidak sanggup melawan, untuk mengangguk mengiyakan.

"Jika aku sampai jatuh cinta padanya *hik* Kita akan berakhir *hik*" Vodca kembali membasahi kerongkongannya. Jari telunjuknya menunjuk teman-temannya satu persatu.

Mingyu menatap antusias. "Jadi, bagaimana caranya agar kau menang, Seungcheol?"

"Hahaha! Pertanyaan bagus!" Kepala Seungcheol yang mengayun-ngayun mulai berhenti. Terpusat kepada Mingyu untuk menjawab pertanyaannya. "Buat dia menjauhiku *hik* dan tidak akan berani mengurusi kita lagi."

"Kalau perlu, membuatnya semakin jijik kepadamu?" Seungcheol mengangguk mengiyakan ucapan Mingyu. Entah kenapa cengiran licik Mingyu mulai terukir. Ada bola lampu mengudara di otak pintarnya.

"Aku bisa membantumu, Seungcheol." Mingyu menegak cocktail nya dengan tenang.

"Hah?! Membantu apa?!" Wonwoo dan Vernon antusias kepada ucapan Mingyu. Cara bicaranya amat serius. Sudah pasti, ia tidak dalam keadaan mabuk. Pasti ada siasat buruk yang tengah disusunnya. Temannya satu ini, wajah boleh sempurna, namun hati buruk rupa.

"Lihat saja nanti. Yang pasti sekarang, kau minumlah lebih banyak, Seungcheol. Semakin kau mabuk, itu akan memudahkanmu."

"YA! MINUM LEBIH BANYAK *hik*" dan Seungcheol pun tidak kuasa jatuh tersungkur ke atas meja. Ia sudah tidak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

.

.


"Dasar merepotkan." Jeonghan sudah berdiri depan pintu masuk rumah besar Seungcheol. Kerut kesalnya tidak bisa ditahan. Seenaknya sms asing masuk begitu saja ke HP nya dan menyuruhnya untuk melihat keadaan Seungcheol yang sedang mabuk berat di dalam bar.

"Kurang ajar. Masih dibawah umur, sudah nyari mati. Akan kuberi pelajaran nanti." Jeonghan membulatkan cengkeraman tas jinjingnya yang berisi sweater merah muda yang kemarin ia pinjam. Ia juga tidak bisa melepas rangkulannya dari Seungcheol yang setengah sadar. Ia menyeretnya sedikit demi sedikit untuk bisa memasuki rumah besar Seungcheol.

Sial sekali. Kenapa baru pulang dari sekolah, ia sudah disuruh berurusan dengan pemuda merepotkan ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Orang tua Seungcheol pasti akan langsung jantungan jika tahu putera mereka jatuh karena mabuk. Jeonghan harus secepatnya membuat Seungcheol sadar.

Kebetulan keadaan rumah akan selalu sepi. Tidak ada perawat atau pembantu rumah tangga. Seungcheol hanyalah seorang diri. Jeonghan turut kasihan dengan keadaan Seungcheol yang butuh teman di rumah besar ini.

Cklek

Pintu kamar terbuka. Suasana sunyi senyap. Diseretnya Seungcheol mendekati ranjang tidur. Tubuhnya cukup berat untuk dibawa sendiri. Tapi Jeonghan berusaha mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyelesaikan masalah satu ini. Tubuh Seungcheol ia lempar ke atas ranjang.

"Huft. Kau ini merepotkan sekali. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Jeonghan berpikir. Ia mengedarkan tatapannya untuk mencari sesuatu agar kadar alcohol di tubuhnya bisa dikendalikan. Mungkin secangkir air?

Jeonghan menuangkan air dari botol minum yang sudah bertengger di atas nakas kayu yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia terus menerus mengeluh dan mengeluh, seolah Seungcheol akan memahami ucapannya.

"Kau mungkin merokok, minum-minuman, bahkan membunuh. Apa kau tidak lelah melakukan hal seperti itu? Apa kau tidak khawatir orang tuamu akan sangat mencemaskanmu? Kau mungkin hidup bergelimang harta, tapi jangan sia-siakan masa dep—"

GREP

Sesuatu merangkul Jeonghan dari belakang. Ia shock bukan main, hingga hampir menjatuhkan cangkir minumannya. Sesuatu yang hangat meniup-niup di ceruk lehernya.

Tu—tunggu! Itu bau alcohol! Berarti siapa lagi kalau bukan si pemabuk yang sedang merangkulnya saat ini.

"S—Seungcheol!?" Jeonghan panik. Tangan Seungcheol entah kenapa bergerak bebas di sekujur tubuhnya. Sensor motorik Jeonghan membeku. Ia tegang, dan tidak bisa bergerak karena cengkeraman kuat Seungcheol.

"Kau tega berselingkuh dariku, eum?"

"SEUNGCHEOL HENTIKAN!"

Jeonghan berusaha memberontak. Tapi, apa yang terjadi? Tubuhnya ditarik mundur dan mundur. Bahkan Jeonghan seperti merasakan kakinya tidak berpijak lagi. Ia digendong, dan dijatuhkan di atas ranjang.

Begitu saja.

Tubuh Seungcheol tiba-tiba berada di atas tubuh Jeonghan. Laki-laki itu tidak sadarkan diri tengah menjelajah tubuh Jeonghan dengan brutal. Tangan kanannya masuk ke dalam kaus Jeonghan. Meraba bagian yang tidak seharusnya lelaki manapun mencapainya. Laki-laki cantik itu memberontak keras.

"Seungcheol hentikan!"

"Kau tidak mengerti perasaanku, Jeonghan!" Seungcheol berseru begitu keras tepat di wajah Jeonghan yang tidak berdaya. Jeonghan bungkam. Ia tidak paham maksud Seungcheol berucap demikian.

"A—apa maksudmu?!"

"Aku menyukaimu, brgs*k!"

DEG

Degup jantung Jeonghan semakin terasa. Ucapan Seungcheol membuat perasaan aneh yang dipendam Jeonghan semakin muncul dengan jelasnya. Air matanya berurai begitu saja. Dikendalikan perasaan aneh itu, membuatnya tidak tahan. Ia malu, dengan semburat merah tepias di wajahnya.

Seungcheol semakin tidak mempedulikan keadaan Jeonghan yang sudah dilanda takut. Ia tidak mempedulikan rasa trauma yang lagi-lagi muncul di jiwa malang Jeonghan. Perlakuannya, tidak jauh dari perlakukan 6 orang pemuda kurang ajar waktu itu. Tangannya merajai tubuh Jeonghan, dan ia menulikan pendengarannya dari teriakan memohon Jeonghan.

PLAK

Tamparan tidak sanggup ditahan. Begitu saja melayang keras di pipi Seungcheol.

"Ku—kumohon, Seungcheol. Sadarlah~ Aku ta—takut~"

Mata Seungcheol membulat. Terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Ia baru sadar. Dan entah kenapa, wajah memelas itu berada di dekatnya. Terlalu dekat.

Dan air mata itu, kembali ia lihat. Akibat kedua tangannya sendiri.

"Jeo—Jeonghan?"

Jeonghan mendorong keras tubuh Seungcheol hinga laki-laki itu terjerembab ke atas lantai. Pemuda cantik itu menangis tak karuan, dan berlari ke luar kamar Seungcheol seraya mengatupkan jaketnya semakin erat. Ketakutannya melanda. Ia tidak mau bertemu pandang lagi dengan Seungcheol, Walaupun ia sudah sadar dari keadaan mabuknya. Baginya, Seungcheol sadar dan tak sadar sama saja. Hanya akan mempermainkannya.

"Astaga! Apa yang kulakukan?!" Seungcheol mencengkeram surai kehitamannya. Ia berpikir keras, berusaha menyusun kembali memori yang tidak ia ingat. Melihat keadaan Jeonghan barusan, ia tahu, pasti ia melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada pemuda cantik itu.

"ARGHH! BODOH KAU SEUNGCHEOL!" Seungcheol mengerang dan mengamuk kembali. Membanting berbagai perkakas di kamarnya. Meluapkan rasa bersalahnya kepada apapun.

"Aku tidak ada bedanya dengan monster. Ia akan membenciku selamanya."

Bukannya merasa senang, ia justru merasa sangat kehilangan. Teringat langkah kaki Jeonghan keluar kamarnya barusan, akan menjadi langkah terakhir Jeonghan di dalam rumahnya.

Dan Seungcheol akan merindukan hal itu.

Tidak bisa dipungkiri, Seungcheol tidak bisa membohongi perasaannya yang tulus itu timbul.

"Aku kalah. Dan aku minta maaf."

Hujan pun meredam suara kekecewaan Seungcheol di dalam kamarnya yang sunyi.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Sebentar lagi FF ini tamat! huhu...

Miyu lagi bete nih, karena hasil ketikan Miyu pada ilangan -_- yang mau diupdate jadi ketunda gara gara ketikannya udah selesai malah kehapus :( Untung aja yang FF ini gak sampe kehapus *syukurlah*

Oh ya, Miyu mau ngerespon beberapa review yang nyentil nih.

Wonwoo disini bawel? Eh ? Ya? Eumm... wkwkk... Miyu minta maaf karena sudah membuat karakter our precious Wonwoo kalau begitu. Miyu jujur belum tahu semua karakter member2nya. Tapi karena saya lihat Wonwoo with *ehem* Mingyu cocok dengan posisi Wonwoo sebagai 'uke' hyperaktif , jadi ya begitulah.. biar makin gemes gitu Mingyu ceritanya *ditabok Meanie shipper*

Couple lain ada gak? Well.. ada tuh. Walaupun cuman ngeslight , itupun juga gak ampe lovey dovey kayak Jungcheol. Kita konsen aja dulu sama Jungcheol couple ok ^^ Ntar kalau mau couple lain, nantikan ff lainnya *ngiklan*

Miyu juga gak masukin semua member ya! Karena entar pusing nambah banyak karakter wkwk... (kebanyakan member sih).

Miyu masuk ke fandom SVT? Wah terima kasih tawarannya. wkwk.. banyak sekali yang dukung ya :p Tapi Miyu lagi semi hiatus di dunia kpop. Jadi nambah fandom pun juga tidak terpikirkan. Hehehe.. Miyu terlalu konsen yang baru comeback setelah sekian lama...lalalala... XD

Maaf jika hasil chapter ini tidak terlalu memuaskan. Miyu cepet-cepet banget mau update karena Miyu bakal sibuk dengan UAS TvT Ini pun juga diketik pas jam-jam belajar *dasar murid nakal*

Ditunggu chapter selanjutnya!

May to review?