Love Magic!


Chapter 4 Is it a date?


Ichigo: Minna! Ohayooo~~~!

Amoretta: Ohayo gozaimasu! *flower scene*

Rin: 'pagi-pagi udah lebay'

Ichigo: Gimana kabarnya sehat kan?

Amoretta: Pasti pingin liat kelanjutannya ya, kira-kira mereka jadi kencan gak ya~

Rin: Ukh… *blush* A-amoretta-chan! Malu tahu!

Ichigo: Maa, maa, daripada berantem mendingan baca disclaimernya dulu, Amoretta~

Amoretta: Yes ma'am… Vocaloid bukan milik Ichigo melainkan mbah Yamaha dan tuk' Crypton, dia hanya punya saya yang moe ini bersama fic yang juga moe ini~

Rin: Lebay lu Amoretta

Ichigo: Dari pada readers penasaran mendingan langsung baca aja ya~

Caution: typos, gaje, OOC de el el.


Rin POV


-masih di taman bermain hanabi-

Ne ne ne nee, ne, chotto ii

isogashii nara, gomen~~

"Moshi-moshi? Ah, Rin-chan maaf, sepertinya aku ada urusan mendadak, jadi harus pergi duluan. By the way, manfaatkan waktumu untuk berduaan dengan Len-kun ya~ Jaa~~"

DEG!

I-Ini…. Kalau begini jadinya… I-ini sama dengan kencan, kan? Hwaaaa! Bagaimana ini?

"Ri-Rin-chan… Kau… tidak apa-apa" ucap Len yang masih sweatdrop.

"Ah, L-Len-kun, aku ba-baik-baik saja… haha…" Aduh bagaimana ini? Masa' aku ditinggal berduaan sama Len-kun? Apa artinya ini… kencan?

"Amoretta-san kemana ya? Apa Rin-chan tahu?" ucap Len yang langsung membuatku kaget.

"Ah, dia katanya ada urusan mendadak… jadinya… umm… tinggal kita ber…dua…" Hwaa~ bagaimana ini bagaimana ini? Wajahku pasti merah lagi~~ _

"Begitu toh, apa boleh buat… Ayo…"

"Eh? Ke-kemana?"

"Ya… tentu saja… pergi main… ingat? Kita sedang di taman bermain sekarang…" jawab Len, wajahnya sedikit merona, apa dia… malu? Dan dia mengulurkan tangannya padaku.

"Ah, i-iya!" jawabku dengan wajah yang masih merona. Lalu dengan sangat sangat gugup kuraih tangan Len. Hwaaa~ ini benar-benar seperti kencan sungguhan!

Dan kami pun berjalan bersama, dengan tangan yang saling bertautan satu sama lain.


? POV


'Tidak apa-apa bohong begini?'

"Tidak apa-apa, ini kan demi mereka juga"

'Jadi apa rencanamu selanjutnya, Amoretta?'

"Tentu saja, aku akan beraksi sedikit. Tidak apa-apa kan Cornelius?"

'Ya.. tidak apa-apa, tapi jangan yang berlebihan…'

"Mou, Cornelius! Aku tahu itu!"

'Baiklah kalau begitu, terserah pada mu saja, nona'

"Saatnya beraksi~~!"


Rin POV


Kami pun berjalan, masih dengan berpegangan tangan. Karena Susana di taman bermain sudah mulai ramai, dan banyak orang yang berdesak-sedakan. Ukh, aku sangat malu! Amoretta, kenapa kau tinggalkan aku?

'Manfaatkan waktumu untuk berduaan dengan Len-kun ya~' Ukh, aku teringat kata-katanya di telepon. 'Apa ini maksud dari perkataannya itu!' gumamku. Wajahku masih terasa panas dan Len hanya terus berjalan kedepan.

"Hei, hei, kalian lihat tidak? Itu tuh, pasangan honeyblonde yang di sana itu. Cocok banget ya~" kata seorang pengunjung lain yang sepertinya bersama dengan teman-teman ceweknya, ucapannya tidak sengaja terdengar olehku. 'Pasangan honeyblonde? Cocok? Jangan-jangan… Yang dimaksud itu… Aku dan Len! Apa kami benar-benar kelihatan seperti pasangan?' Mendengar kata-kata itu mukaku bertambah merah.

"Rin-chan, kau baik-baik saja? Wajahmu merah"

"Ah, itu… tidak apa-apa! Aku hanya kepanasan saja! Hehe" aku berusaha mengelak, dan menyembunyikan wajah Maluku.

"Kalau begitu tunggu disini dulu ya, aku segera kembali" Len pun pergi entah kemana. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan membawa sesuatu di kedua tangannya.

"Ini! Untuk Rin-chan, kau suka jeruk kan?" dia pun menyodorkan jus jeruk padaku.

"Eh? I-ini… Te-terima… kasih…" jawabku malu-malu.

"Tidak usah malu begitu… Lagi pula kau kepanasan kan? Jadi mungkin jus jeruk dingin bisa mengurangi panasmu" jawabnya sambil tersenyum. 'Waa~ dia tersenyum~~ Manis sekali!' di sisi lain aku senang karena rupanya dia mengkhawatirkanku.

Dan kami pun duduk bersama di sebuah bangku panjang dekat air mancur. Walaupun agak menjaga jarak. Dan terjadi keheningan di antara kami.

"Jadi… sepertinya Rin-chan sudah sangat akrab dengan Amoretta-san ya?" Len bertanya, sepertinya untuk memecah keheningan.

"Ah, i-iya…"

"Ngomong-ngomong, hari ini kau kelihatan… um…manis…" ujarnya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, sepertinya wajahnya memerah. Spontan, kata-kata itu membuatku kaget dan senang sekaligus malu.

"Te-terima kasih… Ini Amoretta yang memilihkan…" ukh, aku malu sekaliii!

"Be-begitu…" jawabnya malu-malu. Tiba-tiba saja seorang gadis datang menuju arah kami.

"Permisi~… Ano… saya hanya ingin mempromosikan tempat baru di taman ini, kalau ada kesempatan datang ya~" dia lalu menyerahkan dua lembar brosur pada kami.

"Kalau begitu saya permisi dulu…" dia lalu berpamitan dengan sedikit membungkuk. Lalu kulihat sesuatu di kepalanya. Jepit rambut berwarna biru sapphire. Lho? Itu… bukannya permata di kalung Amoretta? Masa sih dia itu Amoretta. Ah.., tidak mungkin. Lagi pula gadis ini sangat berbeda dari Amoretta.

Rambutnya pendek bergelombang berwarna coklat dan iris matanya berwarna merah dan memakai kaca mata dengan bingkai merah.

"Ano… namamu siapa" tanyaku untuk memastikan.

"Eh? Itu… Margarita… apa… ada… masalah?" tanyanya dengan wajah sedikit grogi.

"Eeem.. jepit itu… di mana kau mendapatkannya?" tanyaku sambil menunjuk jepit miliknya, hanya untuk sekedar memastikan. Dan wajahnya semakin terlihat grogi.

"Ah, i-ini… umm… aku membelinya! Maaf aku sedang buru-buru, daah~" jawabnya, lalu ia berlari secepat mungkin. Satu kata. Aneh. Kenapa wajahnya grogi begitu. Ah, sudahlah, mungkin saja permata seperti itu ada banyak. Lalu kulihat brosur yang diberikannya tadi.

"Tempat… meramal, ya?" Saat kulihat tulisan di brosur itu.

Kunjungilah! Gadis peramal cantik dan berbakat akan meramalkan masa depanmu~! Masalah percintaan juga bisa~

'Percintaan? Apa aku dan Len dimasa depan bisa….' Tanpa sadar wajahku memerah.

"Hmmm… Sepertinya menarik. Rin-chan, apa kau mau kesini?" Tanya Len tiba-tiba.

"Boleh juga… Ayo!" lalu kami segera menuju ke tempat itu berdasarkan denah yang ada di brosur.


Normal POV


Kedua orang itu sudah mencari kesana kemari untuk mengunjungi tempat meramal yang tadi dipromosikan oleh seorang gadis bernama Margarita.

"Sepertinya betul lewat sini… Tapi mana tempatnya?" kata seorang laki-laki pada gadis disampingnya.

"Apa kita salah ambil jalan, Len? Mungkin bukan lewat sini" kata gadis itu pada laki-laki yang bernama Len.

"Mungkin saja, Rin. Kalau begitu, ayo." mereka pun memutar, ditengah perjalanan mereka melihat sebuah papan penunjuk jalan yang bertuliskan.

Tempat Meramal sebelah sini -

"Ah, ini dia tempatnya!" ucap Rin, sepertinya dia benar-benar ingin mengunjungi tempat meramal ini. Dan kelihatannya dia sangat senang karena telah menemukan tempat meramal ini.

Walaupun dibilang cukup menarik, namun tempat meramal ini terletak sangat jauh dari keramaian. Bisa dibilang ada di dekat hutan,kerana di belakangnya terdapat hutan yang cukup gelap dan lebat.

"Ah! Kalian datang! Ayo silahkan masuk!" seorang gadis tiba-tiba menyambut mereka. Sepertinya gadis itu memang sudah menunggu mereka berdua.

"Ara… Margarita-san! Terima kasih! Ayo masuk, Len-kun!" ucap Rin pada Margarita lalu mengajak Len untuk masuk.

"Iya.." sepertinya ia hanya bisa pasrah dengan tingkah laku Rin, lagi pula ini idenya untuk datang kesini.

Suasana dalam tenda sangat berbeda. Banyak sekali barang-barang yang berhubungan dengan hal mistis, seperti adanya tengkorak manusia di atas meja. Dan benda ini berhasil membuat Rin takut. Cahaya dalam ruangan itu juga redup. Dan ada bau yang aneh, seperti bau… mint!

"Ah! Pelanggan pertamaku, selamat datang!" kini di dalam tenda besar tempat meramal itu ada seorang gadis yang menyambut mereka dengan sangat-sangat bersemangat. Mereka berdua hanya bisa ber-sweatdrop ria melihat tingkah laku si gadis.

"Perkenalkan aku Flandre, sang peramal berbakat. Jadi, apa yang membuat pasangan berbahagia ini ingin kuramal?" ucap Remilia. Mendengar perkataannya, Rin dan Len saling berpandangan satu sama lain. Wajah mereka sama-sama memerah.

"KAMI BUKAN PASANGAN!" jawab mereka serentak, spontan mereka kaget lalu berpandagan sat sama lain lagi. Dan wajah mereka semaki merah.

"Ahaha… baiklah kalian bukan pasangan, jadi siapa yang mau kuramal duluan?" jawabnya ramah. Walaupun ia seumuran dengan mereka, sepertinya dalam hal meramal, ia terlihat lebih dewasa.

Remilia memiliki rambut berwarna blonde pendek sebahu lalu sebagian rambutnya diikat kesamping, iris matanya merah. Pakaiannya berwarna merah dan putih dan juga memakai topi yang senada, dengan pita merah besar di sampingnya.

Dalam hati Rin yang melihat penampilan Flandre berkata, 'kok rasanya penampilannya seperti tokoh game? Namanya sama pula? Ah, mungkin dia ini seorang maniak game itu.'

"Ah, biar aku saja dulu." Jawab Len yang langsung mengangkat tangannya. Lalu dengan ramah Rin disuruh untuk menunggu di luar tenda. Flandre bilang, ini rahasia.

'Ya sudah deh, toh Len sudah nunjuk duluan. Mungkin Margarita masih di luar, jadi aku bisa sedikit ngobrol sama dia' namun saat dia keluar dari tenda Margarita tidak ada. 'Aneh. Padahal 1 menit yang lalu dia masih ada,' dan dengan terpaksa dia harus menunggu di luar sendirian.

1 menit . . .

2 menit . . .

3 menit . . .

4 menit . . .

5 menit . . .

Akhirnya setelah menunggu sekitar 5 menit, Len keluar. Namun dengan wajah yang merah. Seperti baru mendengar sesuatu yang gimana... gitu.

"Len-kun… Apa kau baik-baik saja? Wajahmu merah…"

"R-Ri-Rin-chan! Ti-tidak kok!" jawab Len, dia seperti menyembunyikan sesuatu. Apa karena ramalan Flandre-san? Memangnya apa yang Len tadi tanyakan? Satu kata. Aneh.

"Hmm…. Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu ya~ Len-kun tunggu disini." Rin lalu memasuki tenda. Tapi yang paling aneh bagi Rin adalah ekspresi Flandre sangat berbeda dari saat pertama kali ia dan Len masuk ke tenda.

Kini wajah Remilia terlihat sangat serius memperhatikan deretan kartu dan bola kaca bening di mejanya. "Jadi, apa ingin kau tanyakan?" Tanya Flandre dengan ekspresi plus suara datar.

"E-etto… ehmm… sebenarnya aku… menyukai seseorang… tapi aku tidak tahu apakah orang ini menyukai ku juga atau dia sudah menyukai seseorang…" jawab Rin dengan suara yang amat pelan, ia takut pertanyaannya di dengar oleh Len yang sedang berasda di luar.

"Masalah percintaan ya, baiklah tidak masalah buatku…" setelah mengucapkan itu, ia langsung mengacak-acak kartunya lalu menyusunnya secara terbalik di atas meja. Ia lalu menyuruh Rin untuk memilih 3 dari ke 16 kartu yang ada.

Ia lalu menyingkirkan kartu-kartu yang tidak dipilih Rin lalu menyusun 3 buah kartu yang telah dipilih Rin. Lalu membalikkan salah satu kartu. Sebuah gambar anak perempuan dan laki-laki dengan gambar hati di antara mereka. Namun sang laki-laki menghadap arah lain. Bukan ke arah hati.

"Kau… menyukai seseorang, namun sepertinya laki-laki ini masih bingung dengan perasaannya padamu" ucap Flandre, setelah menganalisis kartu pertama. Lalu ia membuka kartu kedua.

Sebuah gambar dua orang anak perempuan dengan seorang anak laki-laki di antara mereka.

"Ini… sulit" jawabnya pelan.

"Maksudmu apa Remilia-san?" tanyaku, aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya.

"Cinta segitiga" jawabnya singkat. Rin merasa agak shock dengan jawaban singkat dari Flandre. Apa maksudnya Len sudah menyukai seseorang selain dirinya? Siapa dia? Apa ini yang dimaksud arti pada kartu sebelumnya?

Flandre lalu membalikkan kartu terakhir, kini wajahnya sepertinya sangat bingung dan kaget.

"Ada apa, Flandre-san?" Tanya Rin. Flandre lalu melihat ke arah Rin. Lalu memperlihatkan gambar yang ada di kartu yang tengah digenggamnya. Kosong.

"Maksudnya apa ini? Flandre-san?" Tanya Rin yang wajahnya juga sudah iku-ikutan bingung.

"Aku sendiri baru pertama kali melihat yang seperti ini… Tapi sepertinya ini tergantung padamu Rin-san" wajahnya kembali tenang. Bagi peramal professional mungkin ini sebuah kejadian yang sangat jarang.

"Maksudmu? Aku masih belum mengerti" jawab Rin, yang sepertinya sulit mencerna bahasa kiasan yang digunakan Flandre.

"Geezz… Rin-san… Maksudku, dirimu yang harus menentukan apa kau akan meraih cintamu itu atau tidak. Semuanya tergantung pada usahamu dalam mendapatkan cinta orang yang kau sukai" jawabnya dengan raut wajah sebal. "Baiklah mungkin hanya itu saja, kau boleh pergi"

"Eh, kau tidak ingin dibayar?" jawab Rin yang sepertinya merasa diusir oleh Flandre.

"Ahh~ tidak usah, aku melakukannya dengan senang hati kok~ Jaa~" Katanya lalu ia mendorong Rin dengan kedua tangannya. Dan di saat itulah Rin melihat sesuatu yang sangat familiar pada pergelangan Flandre. Sesuatu yang sama pada leher Amoretta dan jepit Margarita.

"Ah, gelang ini… dimana kau mendapatkannya"

"Eh? Etto… Tidak penting! Sebaiknya kau segera pergi Rin-san, pasanganmu menunggu~"

"Tu-tunggu dulu, Flandre-san!" belum sempat aku berbicara tapi aku di dorong oleh Remilia. Yang megakibatkanku dengan tanpa rencana sama sekali tidak mampu menjaga keseimbangan dan terjatuh.

Namun yang ia rasakan sama sekali tidak sakit. Ia seperti ada yang menahannya. Ia lalu membuka matanya dan melihat sepasang tangan tengah memegang pinggangnya. Lalu Rin melihat kebelakang dan rupanya pemilik tangan itu adalah milik Len!

Seketika, wajah Rin langsung memanas dan merah. Ia tidak menyangka bahwa Len akan menangkapnya.

"Waaaa! Len-kun!" teriak Rin sambil bergerak gak nentu.

"He-hei! Jangan gerak-gerak gak nentu gitu!" tanggap Len, lalu dengan pelan ia berusaha mendirikan (?) Rin dengan normal. "Kau itu seharusnya berterimakasih sudah di pegangin, malah teriak-teriak gak jelas, gimana sih?" omelnnya.

"Ma-maaf Len-kun" ucap Rin bersalah.

"Huuuh… Ya sudah, mendingan kita pergi dari sini, auranya gak enak" ajak Len yang sudah setengah berjalan.

"Akh! Len-kun tunggu aku!" Rin pun segera menyusul Len, dengan wajah yang masih merah. "Tunggu akuuuu!"


? POV


"Wah, wah… Sepertinya mereka baru akan mulai~ Fufu~"

'Kamu masih pingin beraksi? Aku cape tahu!'

"Maa, maa, iya-iya, Cornelius! Kali ini aku sendiri deh~ Ngomong-ngomong, aku suka kalau kamu pake wujud cewek. Manis lho~ Fufu~"

'A-Amoretta! Urusai!'

"Ara, ara, Corny-kun marah~"

'Jangan panggil aku Corny!'

"Iya-iya Cornelius, aku kan bercanda"

'Tapi aku gak nyangka kalau hasil kartu-kartu si cewek blonde itu bakal gitu. Dan sepertinya si cowok blonde itu juga kaget dengan hasilnya'

"Ya, walaupun kita yang merencanakan mereka buat diramal, tapi hasil ramalannya sama sekali bukan kita yang menentukan. Tergantung sama Rinny dan Lenny~ Ano… Cornelius?"

'Apa?'

"Kira-kira siapa si cewek ketiga itu? Aku penasaran"

'…. Nanti kamu juga tahu sendiri'

"Mou! Cornelius pelit~"


Ichigo: Yup! Segitu dulu~~

Amoretta: Kira-kira pasangan berbahagia itu bakal ngapain ya~?

Rin+Len: KAMI BUKAN PASANGAN! *blush*

Ichigo: Eh, tumben Len nongol…

Len: Aku emang gak pernah nongol kok, dan aku sama Rin bukan pasangan! *blush*

Amoretta: Hee~ tapi muka kalian berdua sama-sama blush tuh~

Rin+Len: Wha? *jaga jarak*

Ichigo: *sweatdrop* Ya sudah mending aku minta review~~ Readers! REVIEW PLEASE~~! *puppy eyes*

Amoretta: Sudah dulu ya~ Jaa ne~


.

.

REVIE OR DELETE?

.

.