Yu-Gi Oh~
Rated: T
Genre: romance, fantasi, persahabatan
Disclaimer: Semua karakter milik Kazuki Takahashi. Aku tidak membuat keuntungan apa pun dari cerita ini. Ups.. tapi aku suka menggambar adegannya. LOL~
Catatan Pengarang:
Thank you kine bLood: hehe, Kaiba memang imagenya jadi seperti itu yah? ^o^ untung Mokuba enggak. Makasih udah review~
That-Ukeish-Puppy: kita jumpa lagi XD aku juga suka fluff(roleplay) lol, met belajar~ biar dapat nilai yang bagus!
Nesia Eg Yufa: wow, makasie dah review ketiga chapter! ^u^ iya chibi Jou dan Kaiba jadi agresif di fic ini. Maaf typonya U_U
cHizzu drarryo: ini baru pada belajar XP, semangat~ iya Kaiba jadi pervert(aaaw..yg bikin cerita juga pervert)haha. Raep? ? uh*nerves*
"Sekarang, aku akan mulai mencuci rambutmu.." Kaiba mengambil shampo yang ada di sebelah kirinya. Shampo dengan wangi vanili yang biasanya Kaiba pakai. Jou sekarang berada di dalam bathtub dengan Kaiba. Ya, ini memang bukan pertama kalinya mereka mandi d kamar mandi bersama, tetapi ini pertama kali setelah seminggu lamanya mereka tidak bertemu. Dan Jou dengan tubuh yang berbeda.
"Mm.."
Kaiba tahu ketika puppy-nya mempunyai pikiran. Kaiba hanya ingin Jou rileks dan menikmati apa yang akan dilakukannya.
"Katsuya.." Kaiba menyentuh pipi Jou dan menyadarkannya. Jou memandang Kaiba. "Aku menjadi teringat ketika aku dan Mokuba masih berada di panti asuhan.." Dia kemudian berhenti berbicara menunggu reaksi.
"Eh, benarkah?" Jou jarang mendengar cerita ketika Kaiba masih anak-anak. Kadang Mokuba bercerita kepadanya. Tentu saja hanya tentang yang dia ingat.
"Ya, kami mandi bersama. Aku selalu membersihkan rambutnya. Kemudian menggosok punggungnya. Kemudian dia ganti menggosok punggungku."
Jou tersenyum. Dia menjadi teringat dengan adiknya sendiri, Shizuka. "Aku juga kadang melakukan hal itu sewaktu aku kecil.." Kaiba menjadi agak lega karena Jou mulai merasa rileks. "Shizuka juga kadang tidak sengaja membuat mataku terkena busa. Aku langsung menangis." Jou tertawa.
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan membasuh rambutmu.." Kaiba membuka shampo itu dan menuangkannya di telapak tangannya. Ketika dia memandang di depannya. Dilihatnya Jou menutup kedua matanya. Kepalanya agak mencondong ke depan. Rambutnya telah basah dan air menetes melewati pipinya kemudian menetes dari dagunya.
'SPLASH' terdengar sesuatu jatuh ke dalam air. Jou mengerutkan keningnya. Dia belum merasa ada sesuatu di rambutnya. Ketika dia akan membuka sebelah matanya, tiba-tiba terdengar suara Kaiba.
"Tutup matamu.. aku hanya menjatuhkan botol shampo-nya." Terjadi jeda yang cukup lama. Tetapi akhirnya Kaiba dapat menggerakkan tangannya dan mulai membersihkan rambut Jou. "Berpikirlah seperti saat membersihkan rambut Mokie sewaktu kecil, berpikirlah seperti saat membersihkan rambut Mokie sewaktu kecil... sial, dia bukan Mokie.." Kaiba mulai membuat busa.
"Kaiba?"
"Jangan bertingkah menjadi aneh... pikirkan hal yang biasa. Oh. Blue Eyes, lalu tiga Blue Eyes, err... kenapa muncul Red Eyes? Hn... Jou sedang bermain dengan Red Eyes. Itu sangat manis.. Ah... Red Eyes menjadi bentuk komikal, he? Jou juga berubah menjadi chibi..." Kaiba terdiam. Apa yang yang ada di dalam pikirannya tidak membantu dengna kondisinya saat ini. Dia masih suka bermain duel moster dengan Jou. Walaupun mereka sepasang kekasih, Kaiba tetap melawan Jou dengan sungguh-sungguh. Lagipula Jou tidak akan suka jika Kaiba mengalah. Kaiba dapat melihat binar mata Jou saat dia dapat mengalahkannya.
"Hn…" Jou menjadi tidak sabar. Kaiba akhirnya mengguyurkan air ke atas kepala Jou.
"Baiklah, ingat saat musim panas kemarin. Harus menyelesaikan pekerjaan di dalam kantor, musim panas, AC rusak.. Mmngh... Jou tiba-tiba dating dan membawa dua buah es krim yang entah darimana. Dia memberiku satu, rasa cokelat. Aku tidak begitu suka. Jou makan yang berasa vanila, dia menjilatinya. Aku suka rasa vanila. Dia makan seperti anak kecil.. menggemaskan, apa dia tidak sadar es-nya ada yang menempel di pipinya dan meleleh di tangannya? Dia sadar yang ada di tangannya tetapi dia tidak menyadari yang ada di pipinya. Benda putih yang agak kental itu.." Mata Kaiba menyipit. Dia malah teringat sesuatu yang seharusnya tidak diingat untuk saat ini. Dengan berat, akhirnya dia dapat menyelesaikan membersihkan rambut Jou.
Jou kemudian membuka matanya. Tetapi belum sampai sepenuhnya, dia menjadi tidak dapat melihat karena tiba-tiba ada handuk yang menutup di kepalanya. "Hei, apa yang kau lakukan?" Belum sempat dia mengambil handuk yang ada di kepalanya dan menutup sebatas matanya, handuknya ditarik beserta dirinya. "Mmpf..?" Mata Jou yang tidak tampak karena tertutup handuk mulai menyipit. "Nn?Nn!NN.. !"
Kaiba tetap meneruskan yang dia lakukan. Akhirnya setelah beberapa menit dia melepaskan pegangannya dan menarik handuk itu dan membuat wajah Jou dapat terlihat. Dia berusaha bernafas menggunakan hidung dan mulutnya. Wajahnya sangat merah dan dia memandang dengan ekspresi seperti bingung. Melihat itu, Kaiba tersenyum.
"Haa.. Ka-u," Dia masih berusaha menenangkan diri. "Menyerang..uh, secara tiba-tiba" Jou menatap Kaiba. "Apa kau tidak bisa menahan hormonmu Kaiba!" Jou dapat berteriak sekarang. Nafasnya mulai menjadi normal.
Kaiba terlihat berpikir. "Maaf pup, khayalan dan pikiranku sudah diluar batas.."
"Diluar batas? Penjelasanmu tidak logis Kaiba!" Jou mendesis.
"N.. yah, seperti memikirkan sesuatu yang dewasa?"
"?"
"Sudah satu minggu.."
"?"
"Kuharap kau segera kembali seperti semula.." Kaiba mengangguk sendiri.
"KAU!" Dia menjadi merasa pusing dan merasa aliran darahnya mengalir di kepala dan wajahnnya. Itu juga mungkin karena karena suhu di dalam kamar mandi mulai terasa cukup panas. Kaiba memperhatikan hal itu.
"Apakah aku sudah terlalu jauh?"
Ketika Kaiba melihat Jou mulai merosot di dalam bathtub, ditariknya tubuh Jou agar tidak tenggelam .
"Aku... kau..." Suara Jou sangat pelan, Kaiba sampai harus mendekat untuk dapat mendengarkannya. "Um... rasanya terlalu panas, aku jadi pusing.." Tangan Jou kemudian memegang pundak Kaiba. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Kaiba pun mendekatkan telinganya. "Ka Ka-iba..." Dia berbisik di dekat telinga CEO itu dan terasa hembusan nafas yang hangat. Kaiba menjadi sedikit lengah dan terlena ketika tiba-tiba dia merasakan gigi Jou menggigit bagian telingan Kaiba yang sensitif dan membuatnya tersentak kaget dan menarik kepalanya sehingga sedikit membekas luka garukan dan keluar darah.
Jou tertawa lebar melihat wajah Kaiba dan dia mengagumi hasil kerjanya. "Bukan hanya kau yang dapat menyerang secara tiba-tiba." Walaupun dia tertawa, Jou benar-benar merasa pusing dan Kaiba menyadari itu.
"Baiklah Katsuya... aku pikir itu cukup adil." Kaiba tidak memperdulikan telinganya yang masih berdarah dan menyelesaikan yang belum terselesaikan dengan cepat tetapi dengan lembut. Pertama Mokuba, sekarang pup-nya.
Setelah beberapa menit, mereka pun telah keluar dari kamar mandi. Jou memakai pakaian milik Mokuba. Kaos lengan panjang yang berwarna cokelat dan celana jeans. Kaiba mengenakan kemeja berwarna biru dengan celana warna hitam.
Ketika Jou menoleh kesamping, dilihatnya Mokuba yang bersandar di dinding di dekat kamar mandi itu. Dia tersenyum. Jou langsung terkejut dan berteriak dalam hati. "Sejak kapan Mokuba ada disana?"
Seperti mendengar pertanyaan dari raut wajah Jou, Mokuba langsung menjawab. "Hei, aku baru saja disini.." Mokuba melirik kakaknya. "Aku hanya ingin memberitahu kalau Yugi sudah datang."
Jou yang wajahnya tadinya pucat langsung berubah ceria.
"Benarkah?" Mokuba mengangguk.
"Dia ada di ruang depan-" Belum sempat Mokuba selesai berbicara, Jou sudah lari. "Dia bersama Anzu dan Honda." Jou sudah tidak dapat mendengar yang Mokuba katakan. Mokuba hanya menghelai nafas. "Jou benar-benar seperti anak-anak." Kaiba hanya tersenyum mendengar kata-kata adiknya. Dia memudian menepuk-nepuk kepala Mokuba penuh kasih sayang.
"Seperti kau dulu Mokie." Mokuba tertawa geli kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tapi sekarang aku bukan anak-anak lagi." Mokuba kemudian memandang kakaknya dan melihat ada sesuatu di telinga kakaknya. "Hm... aku harap kakakku tidak benar-benar menjadi pedophilia~" Mokuba bicara dengan nada bernyanyi. Kaiba hanya menatap adiknya itu.
"Yah, siapa yang bisa menolak melakukan sesuatu kalau orang yang disukainya ada di dekatnya, walaupun seperti apapun jadinya mereka." Mokuba hanya tersenyum dan mengangguk.
Ketika mereka akan mulai berjalan, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari arah depan.
"Jooouu.~ ! !"
TBC~
Catatan: Terimakasih kepada yang telah membaca dan memberi review~ XD
Apakah ceritanya cukup menarik? Ataukah ada yang perlu ditambah?
