Another disclaimer: I don't own "London Bridge is falling down" song, everything in this fic is just for entertainment.


Previous chapter:

Belum sampai suasana kembali tenang jeritan yang lain mulai terdengar dari berbagai penjuru ruangan. Dapat kulihat satu persatu murid-murid yang lain juga mengalami hal yang sama seperti teman Gumi tadi. Karena mulai ketakutan aku meraba-raba sebelahku, berharap menemukan lengan Gakupo, tapi ternyata dia tidak ada di kursinya. Ketika aku menoleh aku melihatnya sudah berdiri, tapi sedetik kemudian…

Gakupo jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri…


Chapter 4

Gakupo's POV

Gelap dan dingin. Hanya dua hal itu yang kurasakan sejauh ini. Hal terakhir yang kuingat hanyalah sensasi panas di tenggorokanku yang tak kunjung sirna sehingga aku tak bisa bernafas. Aku masih ingat ketika jatuh terjerembab di lantai granit yang dingin, saat itu aku tak bisa merasakan tubuhku lagi.

Yappari, aku begitu aku meminum apple juice itu walau hanya sedikit saja, cairan itu sudah terasa membakar seisi mulutku. Lalu aku mendengar teriakan Gumi, setelah itu aku merasa sangat mual dan hendak pergi ke toilet. Lalu duniaku menjadi gelap.

Setidaknya kali ini aku berhasil menghindarkan Luka-chan dari bahaya yang tidak ia sadari. Sayang sekali, aku masih ingin memecahkan misteri ini dan membuktikan pada orang-orang bahwa kutukan itu tidak ada, tapi mungkin aku sudah tidak bisa melakukannya lagi. Aku mulai terbunuh oleh racun yang mulai membakar diriku perlahan-lahan.


Rin's POV

Sesaat setelah mendengar teriakan gadis berambut hijau itu, aku mendengar teriakan Luka-sempai di depanku. Kami berlima sama-sama terkejut karena Gaku-sempai tiba-tiba jatuh ke lantai dengan wajah pucat pasi. Berapakalipun Luka-sempai memanggil namanya, Gaku-sempai tidak memberikan respon balasan yang kami semua harapkan. Dengan sigap Luka-sempai meminta tolong pada Miku-sempai untuk menuangkan sisa air kelapa yang belum dihabiskan oleh Gaku-sempai tadi ke gelas kosong, sementara Luka-sempai sendiri sibuk menekan-nekan dada Gaku-sempai dengan harapan dapat membuatnya bernafas kembali. Lalu Luka-sempai berhenti sejenak ketika Gaku-sempai tiba-tiba terbatuk, ia mengambil gelas air kelapa dari tangan Miku-sempai lalu berupaya meminumkannya pada Gaku-sempai.

"Ayo, Gaku, telan, telan! Kumohon telanlah!"

Sepertinya upaya itu tidak sia-sia. Luka-sempai berhasil membuat Gaku-sempai menelan air kelapa itu. Beberapa saat kemudian Gaku-sempai mulai sadar kembali.

"A…pa.."

"Gakkun, jangan banyak bicara dulu! Tenangkan dirimu!" sergah Kaito-sempai yang kemudian menoleh ke meja panjang yang berisi makanan tadi. "Akan kuambilkan kelapa hijau lagi, bertahanlah, Gakkun!"

Aku hanya bisa diam ketakutan sambil menutup kedua telingaku rapat-rapat agar aku tidak dapat mendengar teriakan histeris yang sudah memenuhi ruangan. Len-nii menghampiriku dan memelukku erat-erat, mencoba menenangkanku. "Shh, semuanya akan baik-baik saja, Rin-chan!"

Tak lama kemudian Kaito-sempai datang membawa 2 buah kelapa hijau dan langsung menuangkan isinya ke gelas kosong. Gaku-sempai yang sedang tidur di pangkuan Luka-sempai hanya diam saja, wajanya yang masih pucat sudah sedikit terlihat cerah walaupun ia tampak letih sekali. Miku-sempai segera pergi mencari guru UKS yang ikut datang bersama kami. Untuk saat ini hanya inilah yang dapat kami lakukan. Teriakan berbagai siswa yang hadir saat itu tidak kunjung sirna, justru semakin menjadi-jadi. Mereka terus menjerit kesana kemari seperti orang gila.

"Kutukan! Kutukan itu terjadi! Matilah kita!"

"Tidaaak! Aku tak mau kena kutuk! aku mau pergi dari sini!"

"AAAAAAHHH!"

Sungguh mengerikan.


Miku's POV

Saat sedang berlarian di koridor, aku bertabrakan dengan Haku-sensei, si guru UKS satu-satunya yang ada di mansion ini. Haku-sensei terlihat sama terburu-burnya denganku.

"Sensei, gawat! Tolong, kumohon tolong Gakupo-san sekarang juga! kondisinya kritis!" kataku secepat mungkin, entah Haku-sensei mengerti ucapanku yang seperti kereta express atau tidak. Haku-sensei hanya mengangguk lalu ikut berlari di belakangku kembali menuju ke ballroom.

Ketika kami tiba di ballroom, keadaan panik masih belum mereda. Mayoritas siswa mulai berlarian menuju ke pintu keluar yang satunya, ada juga yang masih menangisi teman-teman mereka yang sudah tidak bernyawa malam itu. Haku-sensei mempercepat langkah kakinya menuju ke gerombolan Luka-chan dan Meiko-sensei yang kini sedang bergerombol di dekat Gakupo-san.

"Minggir minggir! Beri aku jalan!" perintahnya sambil berusaha menembus kerumunan orang banyak. Begitu tiba, Haku-sensei segera berlutut di sebelah Gakupo-san dan mulai mengecek detak nadi di lehernya. Lalu ia segera menyalakan center kecil dan mengarahkan cahaya yang dipancarkan benda itu ke mata Gakupo-san. Tenu saja, Gakupo-san langsung mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau. Dapat kudengar Haku-sensei mendesah lega.

"Untunglah keadaannya tidak terlalu parah. Sepertinya, racun yang ada di dalam tubuhnya mulai ternetralisir oleh kelapa hijau itu. Tapi untuk berjaga-jaga aku ingin agar ia dibawa ke ruang kesehatan, tolong panggilkan Hiyama-sensei dan guru laki-laki yang lain untuk membawa Kamui-san ke ruang kesehatan segera."

Dengan begitu Haku-sensei segera bergegas kembali ke ruang kesehatan sementara Hiyama-sensei dan guru laki-laki yang lain membopong Gakupo-san.


Kaito's POV

Tick…tock..tick..tock..tick…tock…, sudah satu jam lebih berlalu sejak Gakkun masuk ke ruang kesehatan. Kami semua, begitu juga dengan Hiyama-sensei dan Meiko-sensei menunggu dengan cemas di luar. Luka-san hanya bisa diam sambil terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan Gakkun, sedangkan Hiyama-sensei tampak frustrasi.

DUG!

"Sial, kenapa semua ini bisa terjadi? Padahal aku sudah memastikan bahwa kondisi di sekitar mansion benar-benar aman!" keluhnya sambil memukulkan tangannya yang terkepal ke dinding terdekat. "Semua ini salahku!"

"Kiyoteru-sensei, jangan berkata begitu. Semua ini bukan salahmu. Tidak ada yang bisa tahu kalau malam ini akan jadi seperti ini." Kata Meiko-sensei mencoba menghibur Hiyama-sensei yang terlihat depresi karena merasa gagal melindungi kami.

"Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri…aku berjanji akan melindungi setiap siswa di sini agar tidak ada yang jatuh korban oleh kutukan tidak masuk akal itu! Kusso!"

"Kiyoteru-sensei…"

Setelah melihat reaksi Hiyama-sensei yang diluar dugaan itu barulah aku bisa mengerti seperti apa Hiyama-sensei sebenarnya. Walaupun ia cukup terkenal sebagai guru yang sangat galak, disiplin berlebihan dan tegas, semua itu ia lakukan untuk kebaikan kami semua tanpa kami sadari. Mungkin baginya julukan kejam, Oni-sensei, dan masih banyak lagi itu tidak begitu penting baginya. Mungkin alasan kenapa ia mengikuti wisata tahun ini itu karena ia sendiri ingin mengakhiri kutukan yang orang-orang ributkan tersebut. Aku dapat mengerti apa yang dirasakan sensei, perasaan gagal melindungi murid-murid yang ia kasihi. Seandainya terjadi sesuatu dengan Miku-chan dan aku tak bisa berbuat apa-apa, mungkin aku akan melakukan hal yang sama sepertinya. Merasa bersalah seumur hidup.

Aku sungguh lelah sekali karena insiden tak terduga hari ini, sungguh aku ingin istirahat. Tapi entah kenapa pikiran dan hatiku menolak untuk istirahat walau untuk sejenak tidak mengkhawatirkan Gakkun. Entah kenapa pemuda yang baru kukenal selama setengah tahun lebih itu kini sudah seperti menjadi bagian dari hidupku, aku sendiri tidak menyadari hal itu.

Ini adalah kesekian kalinya aku merasakan 'menunggu itu sangat lama dan melelahkan'. Harus kuakui, penantian kali ini jauh lebih parah daripada ketika aku menunggu Miku-chan yang tiba-tiba harus membatalkan kencan kami karena ada urusan mendadak namun lupa memberi kabar, membuatku menunggu di café seharian. Oya, mengenai Miku-chan, kulihat ia sedang merangkul Luka-san yang sedang kalut sambil berusaha menghibur sahabatnya itu. Diam-diam aku bersyukur Miku-chan tidak jadi korban malam ini, walaupun sebenarnya tak pantas bagiku berpikir seperti itu.

Kejadian hari ini membuatku bertekad untuk melindungi Miku-chan semampuku, walaupun nyawaku sendiri yang akan jadi taruhannya. Seperti yang dilakukan Gakkun malam ini. Sungguh nekat! Tapi harus ku akui Gakkun cukup cerdik menyembunyikan maksud sebenarnya dibalik tingkah anehnya tadi. Alasan ia meminta Luka-san menyuapinya adalah untuk mengetes apakah ada racun yang dioleskan di sendok yang akan digunakan Luka-san. Lalu sengaja ingin mencoba apple juice Luka-san juga untuk mengetes apakah gelas yang dipilih Luka-san secara random di counter minuman sudah diolesi racun atau tidak. Dasar Gakkun, kurasa dia sendiri lega berhasil menghindarkan Luka-san dari maut.

Awas saja ya, begitu ia sudah kembali sehat aku akan membuat perhitungan dengannya karena sudah bertindak gegabah dan membuatku cemas seperti ini!

BRAK! Suara pintu terbuka terdengar jelas oleh telingaku. Dalam sekejap semua yang telah lama menunggu disana segera mengerumuni Haku-sensei yang baru keluar dari ruang kesehatan.

"Sensei, bagaimana dengan Gaku-chan?" Tanya Luka-san langsung tanpa basa basi mendahului yang lain. "Ia tidak apa-apa kan?"

Lalu Haku-sensei tersenyum, "Ia tidak apa-apa. Justru entah kenapa ia lebih cepat pulih dari orang-orang biasanya. Apa sebelumnya ia sudah minum air kelapa?"

Kami semua mengangguk, kecuali Hiyama-sensei dan Meiko-sensei yang tidak tahu karena meja kami terpisah jauh.

"Baguslah kalau begitu, hal itulah yang mempercepat proses netralisir racun di tubuhnya dan cepat memulihkan kondisinya sekarang. Kusarankan ia istirahat di sini untuk malam ini, aku ingin ia istirahat total. Jika perhitunganku tidak meleset, dengan kondisnya yang semakin membaik seperti sekarang, besok ia akan sehat seperti semula. Bisa tolong bawakan kelapa hijau lebih banyak lagi? Ia butuh minum kelapa hijau sebanyak-banyaknya."

Kami semua menghela nafas lega. Dalam hati aku tertawa mendengar Haku-sensei minta dibawakan lebih banyak kelapa lagi. Aku penasaran keluhan macam apa yang akan Gakkun ceritakan besok karena dipaksa terus-terusan minum kelapa.

Meiko-sensei menepuk-nepuk tangannya, menandakan ia meminta perhatian dari kami semua."Nah, sekarang kalian harus segera kembali ke kamar masing-masing. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan kalian. Tidak perlu khawatir, malam ini aku dan Haku-sensei akan menjaga Gakupo-san di ruang kesehatan. Kalian istirahatlah yang cukup." Karena kami sudah kelelahan maka kami mengikuti perintah Meiko-sensei. Jadi kami mulai berjalan menjauh dari ruang kesehatan dan kembali ke kamar masing-masing.

"Aku akan kembali ke ballroom untuk menyelidiki siswa-siswa yang meninggal malam ini. Jagalah dirimu baik-baik, Meiko-sensei. Permisi." Setelah selesai berpesan agar hati-hati, Hiyama-sensei segera pergi dan melakukan hal-hal yang sudah direncanakan di kepalanya. Aku yakin malam itu tidak seorangpun diantara kami dapat tidur nyenyak.


London bridge is falling down…falling down…falling down… London bridge is falling down, My fair lady…

Everyone is falling down…falling down…falling down…Everyone is falling down, just wait and see…


Keesokan harinya… (the second day)

Normal POV

Karena sepanjang malam tidak ada yang bisa tidur dengan tenang, Luka dan Miku memutuskan untuk ngobrol saja sepanjang malam, sementara Rin tetap terlelap. Banyak sekali yang dibicarakan oleh mereka berdua, mulai dari dorama favorit mereka hingga gossip seputar kelas mereka. Karena Miku tipe yang hyper aktif dalam hal berbicara, Luka tidak terlalu pusing mencari topik pembicaraan untuk membuat mereka berdua tetap terjaga sepanjang malam.

"Eh eh, sudah dengar gossip baru tidak? Katanya tepat sebelum kita berangkat kemari ada senpai yang menyatakan perasaannya pada Akaito-san! Coba tebak apa yang terjadi selanjutnya."

Luka duduk di kasurnya sambil berpikir. Kerut-kerut di dahinya mulai nampak ketika ia semakin serius berpikir.

"Umm…melihat sifat Akaito-san yang dingin dan super-cool seperti itu kecil kemungkinannya senpai itu diterima."

"Bingo! Senpai itu justru ditolak mentah-mentah lalu ditinggal pergi olehnya. Jahat sekali dia! Benar-benar tidak berperasaan! Kalau aku jadi senpai itu akan langsung kuberi bogem mentah!" keluh Miku sangat menjiwai, padahal ia tidak ikut merasakan apa yang dirasakan kakak kelasnya itu.

"Hm, kalau diingat-ingat lagi, pertamakali aku bertemu dengan Akaito-san ya waktu di perpustakaan itu."

Miku langsung melotot, ia segera menajamkan telinganya untuk mendengar kelanjutan cerita Luka.

"Tapi waktu itu ia tidak sejahat seperti yang kau ceritakan tadi kok, Miku-chan. Ya walaupun dia hanya diam dan buang muka saja waktu kami bertabrakan."

"Heee…sombong sekali dia! Memang ia pikir dia itu siapa? Entah kenapa aku selalu berapi-api kalau membahas dia. Cowok macam itu kenapa bisa banyak ditaksir orang sih?"

Luka tertawa pelan melihat reaksi Miku. "Hihihi, tentu saja, kau kan sudah punya Kaito-san. Eh ngomong-ngomong bagaimana kau bisa jadian dengan Kaito-san? Ayolaaah, ceritakan padaku!"

"Ehm, percaya tidak kalau semua itu dimulai karena sebuah es krim?"

"E-es krim?" lalu Miku mengangguk-angguk.

"Waktu itu aku baru saja beli es krim vanilla di kantin sekolah, hingga tiba-tiba ia datang dan langsung mencomot es krim ku. Tentu saja aku marah-marah. Walaupun waktu itu kami belum saling mengenal, dalam waktu singkat seperti itu kami langsung akrab. Ya jadilah kami seperti ini sekarang hehehehe…"

Luka hanya terus memandang Miku takjub dengan mata berbinar-binar. Walaupun cerita bagaimana Miku dan Kaito bisa saling dekat tidak terlalu romantis tapi tetap saja rasanya seperti…spesial begitu.

"Lalu apa yang dilakukannya ketika menyatakan perasaan padamu, Miku-chan? Apakah romantis?"

Luka sih mengharapkan jawaban 'tentu romantis' dari Miku. Sayangnya apa yang kau inginkan seringnya terkabul kebalikannya, bukankah begitu? Miku hanya sedikit melengos dan sedikit cemberut.

"Sama sekali tidak!"

"Eh?"

"Dia tidak memberiku bunga atau boneka dan semacamnya. Tapi ia malah memberiku sebuket ES KRIM dan memaksaku memakannya. Aku masih ingat betapa sakitnya perutku malam saat kami jadian karena kebanyakan makan es krim…" ketika Miku menoleh melihat lawan bicaranya, ia justru melongo melihat Luka yang balas menatapnya masih dengan tatapan berbinar-binar sambil memeluk bantal.

"La-lalu ternyata ada cincin perak ini," Miku menunjukkan cincin pemberian Kaito pada Luka. "Cincin ini terletak di dasar buket es krim. Lalu ketika aku berhasil menghabiskan sebuket penuh itu, Kaito-kun…me-me-…."

Sekarang wajah Miku sudah sangat-sangat merah!

"Menciummu?"

Miku mengangguk-angguk cepat. "Katanya sih mulutku belepotan dengan es krim…"

"Gyaaaaa! So sweet!"

Sekarang Luka malah sudah berguling-guling di lantai masih sambil memeluk bantal.

"O oi, Luka-chan, wah gawat, kebanyakan mendengar yang manis-manis. Saat pulang nanti kau harus segera ke dokter, siapa tahu kau diabetes karena kebanyakan mendengar yang manis-manis dariku? Hahahaha."

Tak terasa matahari sudah terbit. Miku dan Luka segera membangunkan Rin dan mengajaknya gosok gigi dan bersiap-siap.

Acara mendaki gunung yang seharusnya diadakan pagi itu dibatalkan karena insiden kemarin. Seluruh guru beserta wakil kepala sekolah berkumpul di ballroom untuk melakukan penyelidikan disana, sehingga pagi ini mereka diberi jam bebas hingga nanti siang. Setelah selesai bersiap-siap ketiga gadis itu pergi ke kamar Kaito untuk mengajak penghuni kamar tersebut jalan-jalan.

Knock…knock…knock…tak lama kemudian pintu dibuka oleh Len sambil mengusap-usap mata.

"Hmm, ada apa, Miku-senpai?"

"Itu, Kaito-kun ada tidak?"

"Oh, baru saja dia pergi. Katanya dipanggil Meiko-sensei. Masuklah dulu." Lalu Len meninggalkan mereka untuk bersiap-siap.


Len's POV

Setelah selesai gosok gigi dan mandi, aku kembali ke kamar dan hanya menemukan Rin-chan di sana.

"Lho, Miku-senpai dan Luka-senpai kemana, Rin-chan?"

"Miku-sempai menemani Luka-sempai menjenguk Gaku-sempai di ruang kesehatan. Len-nii, ayo kita susul mereka!"

Karena tidak tahu mau berbuat apa lagi maka aku mengikuti ajakan Rin-chan. Selama berjalan aku hanya diam saja karena tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Tapi aku memaksa otakku untuk mencari topik pembicaraan yang kira-kira pas untuk pagi ini. Dan beruntung aku menemukannya.

"Jadi, apa kau tidur nyenyak kemarin, Rin-chan?"

"Hu uh, sangat nyenyak! Kemarin Miku-sempai dan Luka-sempai begadang sampai subuh, aku yakin mereka tidak tidur sepanjang malam. Nii-nii sendiri bagaimana?"

"I slept like a log!"

"Yokatta, kukira Nii-nii kesulitan tidur karena kejadian kemarin."

Tentu saja aku bohong, Rin-chan. Mana ada yang bisa tidur nyenyak karena insiden kemarin? Aku yakin sebenarnya kau sendiri tidak benar-benar tidur. Kalau kau memang tidur, bagaimana kau bisa tahu Miku-senpai dan Luka-senpai begadang sampai subuh? Tapi ya sudahlah biarkan saja.

"Nii-nii, aku masih bingung. Kenapa kau ketiduran karena obat tidur di gelasmu sementara aku tidak? Padahal menurut Gaku-sempai seluruh gelas-gelas itu ada obat tidurnya."

"Kau kan tidak minum pakai gelasku, Rin-chan."

"Oh iya. Terus kenapa Gaku-sempai keracunan sementara kau tidak? Padahal kalian kan meminum apple juice yang sama."

"Hee, kau mendoakanku supaya keracunan juga ya, Rin-chan?" kataku pura-pura marah. Rin-chan langsung mengerutkan dahi, terlihat takut.

"Bu-bukan begitu, aku hanya heran saja. Ja-jangan marah ya, Nii-nii!"

Wajahnya ituu…Kawaii….

"Tentu saja tidak, Rin-chan. Aku kan hanya ingin menikmati wajah takutmu yang menggemaskan itu. Hehehe.."

PLAAK!

"Aw, aduh kenapa kau memukul lenganku, Rin-chan?"

"Nii-nii no BAKAAA!"

PLAAAKKK!

"Hmm? Kau memukulku lagi?"

"Tidak kok."

PLAAAKKK! BUK! BUK!

"GAKUPO NO BAKAAAAAAAAAA!"

Ah, sekarang aku tahu dari mana Rin-chan belajar berkata 'baka'.


Miku's POV

Belum sampai kami masuk ke ruang kesehatan kami sudah berpapasan dengan orang yang kami cari. Luka-chan langsung memeluk Gakupo-san erat-erat. Mungkin karena sangat khawatir akan apa yang terjadi pada pemuda itu kemarin.

"Lu-Luka-chan!"

"Bodoh, jangan bikin aku cemas lagi!"

"Hmmm, maaf maaf. Aku sudah tidak apa-apa kok," Lalu senyum Gakupo-san berganti menjadi senyum om om mesum. "Wah, kelapaaaa!" serunya kemudian.

Wajahku langsung memerah begitu mengerti apa maksud Gakupo-san. Sementara Luka-chan masih memunculkan tanda Tanya di sekeliling kepalanya.

"Kelapa?"

Setelah beberapa saat mencerna ucapan Gakupo barulah Luka-chan mengerti. Dengan sekuat tenaga Luka-chan mendorong pemuda mesum yang dipeluknya tadi jauh-jauh lalu mengeluarkan Tuna beku entah dari mana asalnya.

"Gawat, matilah aku…"

"BAKAAAAA! BAKA BAKA BAKA BAKA BAKA BAKAAAAA!" teriak Luka-chan selama menghajar dan memukuli Gakupo-san tanpa ampun dengan tuna bekunya. Dan untuk final hit nya Luka-chan berseru, "GAKUPO NO BAKAAAAAAAAAA!"

Dalam hati aku bersykur Kaito-kun tidak seperti itu.


Luka's POV

Grrrr, Gaku-chan memang keterlaluan! Bisa-bisanya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti itu! Setelah puas menghajarnya sampai babak belur aku segera meninggalkannya terkapar begitu saja di koridor. Kalaupun dia tidak mati karena racun kemarin mungkin kali ini dia benar-benar mati karena serangan bertubi-tubi Tuna beku dariku. Heumph, masa bodoh, buat apa aku peduli.

Dengan masih berapi-api aku berjalan cepat melewati koridor menuju lounge yang terletak di lantai satu tepat di tengah mansion untuk menenangkan diri. Baka-Gakupo dan Miku-chan ikut berjalan cepat di belakangku, berupaya mengejar tapi gagal. Saat hendak menuruni tangga tanpa sengaja kakiku terselip karena aku buru-buru turun dan tidak hati-hati. Saat jatuh tergelundung aku menabrak seseorang yang hendak naik dengan tangga yang sama. Kami berdua akhirnya jatuh tergelundung bersama hingga akhirnya berhenti di tengah-tengah lantai 1 dan 2. ( itu lhoo, tangga yang biasanya ada di mansion-mansion tua terletak di tengah lalu ada cabang kanan dan kiri. Author gak tau harus menyebut tangga itu apa O_O)

Saat kami sudah berhenti terguling-guling, aku menyadari posisiku berada di atas orang yang kutabrak tadi. Haduuu bagaimana kalau orang yang kutabrak sampai luka parah karena kecerobohanku sendiri? Dengan memberanikan diri aku membuka kedua mataku pelan-pelan.

Hal pertama yang kulihat adalah sepasang mata merah seperti warna ruby yang terus menatapku lekat-lekat tanpa berkedip. Hatiku langsung berdebar kencang!

Lalu si kembar Kagamine, miku-chan dan Baka-Gakupo datang menghampiriku yang masih terpaku melihat kedua mata yang mempesona itu.


One of you is going down…going down…going down…One of you is going down, Just wait and see…


To be continued


A/N: hueee, yang mengenai kelapa hijau itu, jujur saja sebenarnya author nggak terlalu tahu tentang penetralisiran racun dengan menggunakan kelapa hijau. Author juga nggak tahu entah dengan minum kelapa hijau sebanyak-banyaknya itu bisa membantu penetralisiran racun atau tidak. yang author tau Cuma kelapa hijau itu memang bisa menetralkan racun-racun yang ada di dalam tubuh. Maklum maklum, author bukan anak IPA tapi anak IPS jadi nggak belajar biologi lagi O_o.

Terima kasih ya buat readers dan reviewers sekalian, alasan utama kenapa author ngebut bikin ceritanya itu karena libur sekolah author mau habis (dan nggak bisa diisi ulang karena nggak ada vouchernya). Dengar-dengar bakal ada try out sebentar lagi, makanya author ngebut hehehehe (ditendang karena curhat melulu). Oke, sekian dari author si chapter ini, chap selanjutnya akan segera author post secepatnya, so stay tuned~ :)


Author's little corner

Shizuka: mwahahahahaha! Luka selingkuuuhhh Luka selingkuuuhh!

Gakupo : nangis di ujung*

Luka : Hyurusai!

Miku: ini cerita pembunuhan atau romantika ala opera sabun sih?

Shizuka: pembunuhan dong, tapi ada romance nya juga sih, kenapa memang?

Kaito : perasaan sejauh ini pembunuhannya baru satu kasus deh, romance nya sudah bejibun. Jangan-jangan bikin sinetron nih!

Shizuka: enak aja! Ini kan masi awal-awalnya aja. Semua kasus pembunuhan selanjutnya sudah ada di kepala nih. Tinggal mikirin aja siapa yang mati selanjutnya. Mwahahahaha!

Kagamine twins: Oni!

Kaito: author curang! Kenapa kok hanya gakupo saja yang kesannya pintar walaupun tapang nya blo-on spt itu. Aku kan juga mau! Apa harus kubuktikan kalau aku lebih pintar?

Shizuka: silahkan. Ayo, tebak siapa pembununya kalau kau memang pintar!

Suasana hening seketika, lalu Kaito, Miku, Luka, Gakupo dan si kembar Kagamine menunjuk author.

Semua: kamu pembunuhnya!

Shizuka: he? Kenapa begitu?

Semua : karena kau pengarangnya! (mengejar author dengan aura membunuh sambil bawa parang)

Shizuka: gyaaaaaaaa! (kabur)


Yappari = seperti yang kuduga

Kusso = sial

Oni = demon/evil

Yokatta = syukurlah

Kawaii = lucu/imut

Hyurusai = diam