Jongin mengusap-usap perutnya yang keroncongan. Inginnya sih makan, bibi juga sudah memasak lauk pauk yang teramat banyak untuk keluarganya. Tapi nafsu yang hilang entah kemana akibat pernikahan sialan itu membuatnya malas. Bukan hanya makan sebenarnya, hangout bersama teman, main video game, bahkan mandi pun Jongin juga malas.
Dia bisa bersumpah demi Tuhan kalau ini adalah the worst look nya. Karena biasanya ia akan tampil swaggy dan bad boy dengan pakaian trendi yang ia biasa beli di distro-distro bersama Chanyeol. Namun hari ini Jongin malah terlihat seperti gelandangan yang di asuh oleh keluarga kaya.
Astaga.
"Aduh ya ampun, Jongin! Kamu kenapa dekil sekali sih? Sudah mau punya suami tapi kamu malah semakin bergajulan" Ibunya marah-marah saat melihat kedatangannya yang seperti mayat hidup dari arah tangga. Sedangkan Jongin hanya menghiraukannya dan melanjutkan perjalanannya kearah kulkas. "Mandi dulu Jongin, dari kemarin belum mandi. Kalau calon suami mu yang mirip orang british itu tahu bagaimana? Bisa-bisa dia membatalkan pernikahan kalian–"
"Biar saja, aku juga tak mau menikah dengannya"
Wanita paruh baya itu melongo saat mendengar perkataan Jongin yang sangat enteng diucapkan. Sudah susah-susah ia dengan suaminya menjodohkan sang anak dengan si CEO tampan perusahaan sebelah, tapi anaknya malah bicara seperti itu?
"Apa kau bilang? Tidak mau menikah? Oh baiklah, akan ku majukan tanggal pernikahan kalian jadi 2 hari lagi"
"What?!" Jongin terkejut setengah mati.
Duh, kenapa ibunya jadi makin seenaknya begini sih?
"Mom, empat hari saja aku sudah se stress ini, apalagi dua hari?!" Jongin merengek. "Oh ayolah, ibu tak merasakan apa yang aku rasakan!"
"Bagaimana jika ibu jadi aku? Pasti ibu akan lebih stress dari ku. Menikah dengan orang yang tidak ibu kenali, melihat wajahnya juga tidak pernah. Terlebih lagi sesama jenis! Apa yang kurang?!"
Hati wanita paruh baya itu sedikit mencelos akibat mendengar curahan hati sang anak. Ia sebenarnya agak kasihan dengan Jongin yang sudah ia paksa untuk dijodohkan. "Jadi ini yang membuatmu malas untuk melakukan apapun?" Ibunya menarik kursi makan dan duduk di depan Jongin kemudian mengelus pundak anaknya pelan. "Bukan tanpa alasan ibu menjodohkanmu dengan pria, Jongin. Ibu hanya tidak suka dengan wanita-wanita yang pernah kau bawa ke hadapan ibu. Mereka terlihat jahat, dan terlihat hanya memanfaatkanmu saja"
"Mereka tidak jahat, ibu. Mereka memang suka sekali dengan dunia malam dan sebagainya, tapi mereka tidak seperti yang ibu bayangkan!"
"Aku ibumu, Jongin. Aku tahu mana yang baik dan yang buruk untukmu. Bayangkan saja jika mereka sudah menikah denganmu, apakah kau mau mengurus anak di rumah sedangkan mereka asyik bersenang-senang di klub malam? Apakah kau mau di beri cibiran sebagai suami yang tidak becus oleh tetangga-tetanggamu saat melihat istrimu selalu pulang larut sedangkan kau mengurus anak?"
"Mereka bisa berubah" Ucap Jongin dengan agak ragu.
"Memang kau bisa meramal apa yang terjadi setelah kau menikah dengan mereka?"
Skakmat.
Jongin benar-benar tak bisa berkata apa-apa saat ibunya bicara seperti itu.
Dan apa yang telah ibunya ucapkan memang ada benarnya. Kemungkinan besar mantan-mantannya itu akan selalu berkeliaran jika seandainya saja mereka sudah berumah tangga, mengingat aktivitas itu sudah menjadi kebiasaan mereka di setiap malam.
"Hhh.. kalau kau mengurus anakmu dengan Sehun nanti, ibu akan dengan sangat senang hati merelakannya"
Jongin segera kembali pada kesadarannya saat mendengar perkataan sang ibu yang seakan-akan yakin dengan dirinya yang akan menjadi ibu(?) rumah tangga nanti.
"Apa?! Tidak! Aku tidak mau mengurus anak! Dialah yang akan mengurus anak saat kami menikah nanti dan aku yang akan mencari uang!"
Jongin's mom looks so done with her son. Membuat Jongin menatapnya bingung.
Kenapa? Memang ucapannya ada yang salah?
"Kau lah yang mengurus anak. Jika kau yang kerja, pasti keluargamu akan melarat" Wanita paruh baya itu berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Jongin yang masih shock.
"All the girls in here, if you feelin' thirsty~
Come and take a sip, cuz you know what I'm servin'
Woo~
Shimmy shimmy yay, shim–"
Drrt! Drrt!
Chanyeol agak kesal karena acara bernyanyinya terganggu oleh suara getaran dari ponsel pintarnya.
Sebenarnya ia sudah tahu kalau sedari tadi ponsel itu bergetar, tapi ia terlalu menikmati lagu yang sedang ia setel kencang-kencang di dalam kamarnya ini. Karena lama-lama jengkel, akhirnya Chanyeol memilih untuk mengangkat saja.
Mengecilkan suara musiknya, Chanyeol terkejut saat mendapati nama kontak 'Ibu Jongin' yang sudah menelponnya sebanyak empat kali.
Ugh sial, harus berkata apa ia nanti jika di tanya oleh ibu Jongin kenapa lama mengangkat teleponnya?
"H-halo, tante?"
"Ah ya Chanyeol, kenapa telepon tante tidak di angkat?"
Tuhkan, batinnya.
"Err, anu tante. Tadi habis buang air, jadi lama. Maaf ya, tante"
Mentok sekali..
"Ya sudah tak apa," Hening sebentar, kemudian ibu Jongin melanjutkan. "Eum Chanyeol, mau tidak mengantarkan-"
"Ish ibu jangan minta antar sama Chanyeol! Aku bisa berangkat sendiriiii!"
"Kamu kenapa sih Jongin? Duduk aja yang manis!"
"Ck!"
Chanyeol berfikir, apakah benar suara pria yang sedang merengek tadi adalah Jongin? Dalam seumur hidup ia berteman bersama Jongin, baru kali ini Chanyeol mendengar pria itu merengek.
Dan kalau boleh jujur, suaranya imut juga.
Eh?
"Maaf ya Chanyeol, tante jadi berkelahi dengan Jongin. Jadi begini, tante mau minta bantuan sama kamu. Bisa tidak kamu mengantarkan Jongin ke salon? Berhubung Jongin ingin menikah beberapa hari lagi, tante pikir Jongin harus melakukan perawatan mulai dari sekarang. Dan tante sedang tidak bisa mengantar Jongin karena tante ingin membagikan undangan pernikahan Jongin kepada teman-teman tante"
"Jongin benar-benar ingin menikah?" Tentu saja ia akan berkata seperti itu.
Siapa yang tidak kaget saat sahabat yang masih bermain-main denganmu tiba-tiba akan melangsungkan sebuah pernikahan?
Tidak masuk di akal.
"Tentu saja," Ibu Jongin terdengar yakin. "Nanti tante juga akan memberikannya kepadamu. Beritahu orang tuamu juga ya untuk datang?"
"Baik, tante. Oh iya, memangnya kalau boleh tahu supir tante kemana ya? Bukannya tidak ingin mengantar atau bagaimana, aku hanya bertanya"
"Kalau pakai supir, tante takut Jongin kabur saat sudah sampai salon. Kamu mau kan membantu tante? Nanti tante beri list supaya kamu tidak bingung apa saja yang harus di lakukan Jongin di sana"
"Oh baiklah, jadi jam berapa aku bisa datang ke rumah?"
"Jam setengah tiga. Tentang salon, tante sudah beri tahu Jongin. Nanti tanya saja kepadanya, okay? Tante tutup ya? Terima kasih, Chanyeol"
"Ya, sama-sama tante"
Pik
Setelah menaruh ponselnya di atas meja nakas, Chanyeol memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Ia lelah sekali akibat pulang larut semalam. Lagipula katanya jam setengah tiga kan?
Sebelum pergi ke alam mimpi, Chanyeol melirik ke arah jam dinding dan matanya melotot saat itu juga.
02.20
Gila, berarti harus sekarang juga!
Pria tinggi itu dengan cepat berlari ke arah lemarinya dan mengganti setelannya menjadi lebih layak karena tadi hanya mengenakan kaus hitam belel juga bokser superman.
Chanyeol agak kesal dengan ibu Jongin, kenapa beliau tidak to the point saja untuk bilang padanya datang sekarang? Kalau begini kan jadinya tidak enak jika datang terlambat.
Chanyeol yang berjaket kulit itu telah sampai di kediaman Jongin. Setelah mengendara cepat dengan waktu hanya selama 10 menit, ia turun dari mobilnya kemudian menghampiri gerbang keluarga Kim yang tinggi menjulang.
'Dengan siapa dan ada keperluan apa?''
Dirinya berdeham sedikit, "Chanyeol, aku ingin menjemput Jongin"
Dan gerbang yang super tinggi itu terbuka dengan lebar. Chanyeol kembali masuk ke dalam mobil sport nya dan memarkirkannya di halaman rumah Jongin. Ia masuk kedalam rumah itu setelah memberi sedikit bungkuk pada maid yang berjaga di luar pintu utama dan langsung mendapati Jongin yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Hey, Jong. Ayo!" Chanyeol memanggil hingga mengejutkan Jongin yang tengah menonton animasi We Bare Bears.
Sedangkan Jongin memutar bola matanya malas. "Kenapa kau harus benar-benar datang?"
"Aku di perintah oleh ibumu, stupid. Memangnya aku bisa menolak?"
"Kalau aku yang perintah?"
"Tentu saja aku menolak, memangnya kau siapa?"
"Ck! Ku santet kau!" Jongin kembali fokus pada layar televisinya, mengabaikan Chanyeol yang terkejut.
"Aku tidak mau pergi ke salon!"
"Siapa yang tidak ingin ke salon? Apakah itu kau, Jongin sayang?" Keduanya menoleh ke belakang saat mendengar suara wanita paruh baya, siapa lagi kalau bukan ibu Jongin?
Jongin merutuk dalam hati, kenapa bisa ibunya ada dimana-mana? Kan rencananya untuk tidak pergi ke salon jadi benar-benar gagal total.
"Aish, ibu! Aku kan bukan wanita, kenapa harus pergi ke salon segala?"
"No, Jongin. Kau harus. Ibu ingin melihat dirimu tampil dengan sempurna di pernikahanmu nanti" Ibunya tersenyum manis lalu duduk di sofa tunggal di samping Jongin. "Aku juga tidak mau di saat malam pertama kalian, bulu di kakimu masih ada. Sehun itu suka yang mulus, sayang"
Shit, Jongin ingin berkata kasar jika saja perempuan paruh baya di sampingnya ini bukanlah ibu yang mengandungnya.
Dan haruskah ibunya berbicara hal memalukan seperti itu di depan Chanyeol? Terlebih itu adalah persoalan pribadi milik orang.
Sedangkan Chanyeol yang mendengar perkataan ibu Jongin merasa ingin tertawa terbahak-bahak.
Gila, mendengarnya saja Chanyeol sudah geli, apalagi membayangkan si Jongin yang bad boy dan garang itu menjadi seperti wanita?!
Haha!
"Okay, jadi mau sampai kapan kalian hanya terdiam di sini? Ibu tidak akan pergi dari sini jika kalian belum benar-benar berangkat"
Akhirnya dengan terpaksa Jongin bangkit dan mengajak Chanyeol untuk cepat-cepat pergi dari rumahnya akibat kesal dengan sifat sang ibu yang semakin hari semakin pemaksa.
Di dalam mobil sunyi. Hanya terdengar suara musik yang terputar di radio mobil Chanyeol.
Yang satu sedang membuang pandangan ke arah luar sambil menahan rasa malu, sedangkan yang satunya lagi sedang menahan tawanya yang siap meledak kapan saja.
"Kenapa kau tertawa?!" Marah Jongin tanpa menoleh ke arah Chanyeol.
Chanyeol menengok sebentar ke arah Jongin yang wajahnya sudah memerah. "Nothing,"
"Oh, aku tahu kau sedang menertawakan apa"
"Kalau tahu kenapa bertanya, bodoh?" Chanyeol masih saja berusaha menahan tawanya yang sangat susah untuk di kendalikan. "Wow, aku sedang berpikir bahwa kau nanti benar-benar jadi feminim dan girly setelah keluar dari salon, Jong. Apakah kau cantik, atau kah menyeramkan?" Kemudian pria itu tertawa, membuat si pria tan semakin badmood.
"Kau gila? Tentu saja aku tidak akan jadi girly seperti yang otak kecil mu itu pikirkan"
"Ya, ya terserah padamu. Aku juga meragukan" Chanyeol memberi sen ke kanan dan ia memarkirkan mobilnya di tempat yang telah di sediakan. "Tapi, jika suamimu berhasil membuatmu seperti itu, aku akan sangat terkejut, Jong"
"Di dalam mimpimu, Yoda. Ayo turun"
Jongin sedang merebahkan tubuhnya di sebuah tempat tidur khusus. Dadanya berdebar karena, fuck, ia baru menyadari kalau ia akan di wax!
Shit shit shit shit shit! Adakah yang lebih buruk daripada wax?!
Jongin's swear to God, siapapun orang yang menciptakan wax adalah orang yang paling sadis di dunia ini.
"Chanyeol, aku takut" Ucapnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Chanyeol. Sedangkan Chanyeol hanya tertawa remeh mendengar sahabatnya ini ketakutan.
Astaga, seorang Kim Jongin takut di wax..
"Takut? Wah wah, belum menikah saja kau sudah ketakutan layaknya wanita, apa lagi sudah? Bisa-bisa aku melihatmu sudah mempunyai payudara dan berambut panjang, Jong"
"What the fuck are you saying?! Aku tidak segila itu untuk mengganti kelam–"
SRET!
"AAAAAA!" Tangan Jongin refleks mencari-cari benda yang bisa ia remas sebagai pelampiasan rasa sakit di kulit kakinya saat kertas berkaramel itu di tarik. Dan matanya hanya tertuju pada satu tujuan,
Yaitu rambut gulali Chanyeol.
Grep!
"Aduh Jongin jangan jambak rambutku!" Tubuh Chanyeol jadi langsung bungkuk saat Jongin dengan tiba-tiba menarik rambutnya. Kaget, kesal, sakit, dan perih sedang Chanyeol rasakan sekarang.
SRET!
"ADUH SAKIT SEKALI, YODAAA!"
Kepala Chanyeol bergerak kesana kemari karena tangan Jongin yang semakin brutal menjambak rambut indahnya. Chanyeol jadi kesal saat merasa tatanan rambutnya semakin hancur, sudah begitu ia juga melihat helaian rambut miliknya berguguran ke atas lantai.
Oh tidak, rambut ku yang indah..
"YA TAPI JANGAN JAMBAK RAMBUT KU JUGA, BRENGSEK! ADUH KEPALAKU!"
Satu ruangan itu penuh dengan teriakan Jongin dan Chanyeol yang saling bersahutan, hingga akhirnya proses waxing selesai. Kaki Jongin pun sudah mulus tanpa adanya bulu-bulu keriting khas anak laki-laki, dan keduanya langsung menghela nafas lega.
Jongin lega karena wax sudah berakhir, dan Chanyeol lega karena aksi jambak-jambakannya sudah berakhir.
"Kulit kepalaku sakit dan serasa ingin lepas, sialan!" Chanyeol mengaca di layar ponsel sambil merapihkan rambutnya yang sudah seperti sarang burung. "Hanya di waxing tapi kau malah terlihat seperti ibu-ibu yang sedang melahirkan. Aku jadi merasa seperti mengikuti program simulasi sebagai suami yang baik"
"Kau bicara seperti itu karena tidak merasakan bagaimana sakitnya bulu kakimu di tarik begitu saja, bastard! Coba ku tanya! Kau pernah tidak di wax?! Tidak kan?!"
Cklek
"Permisi tuan-tuan, maaf. Tapi ini giliran pelanggan selanjutnya"
Suara pelayan salon itu mengintrupsi perkelahian antara Jongin juga Chanyeol hingga membuat mereka berdua merasa malu.
"Oh iya, maaf. Ayo keluar!" Ucap Chanyeol sambil menarik paksa Jongin yang masih menekuk wajahnya.
Kedua pemuda itu telah keluar dari ruangan. Kemudian Chanyeol memeriksa kertas list yang telah ibu Jongin beri untuk melihat apalagi yang harus Jongin lakukan di salon ini.
"Di sini ibumu menuliskan kalau kau harus mengganti warna rambutmu menjadi warna cokelat tua, mengganti gaya rambut, juga selanjutnya kau harus manicure and pedicure"
Jongin jadi melas, "Hah.. kenapa aku di perlakukan seperti anak gadis begini?"
"Come on, this is your fucking mommy. Kenapa kau curhat kepadaku?"
"Hah.." Dengan helaan penuh rasa terpaksa yang kedua kalinya, akhirnya Jongin menjalani semua perawatan tubuh seperti yang ibunya suruh.
A few minutes later. Chanyeol masih dengan anteng memainkan gadget nya. Menunggu Jongin yang mengganti warna rambut, potong rambut, juga manicure plus pedicure membuatnya seperti ingin lumutan.
Tidak anteng juga sih sebenarnya, bete sekali lebih tepat. Dari tadi ia hanya bolak-balik membuka Instagram, membuat story, menscroll home, stalking mantan dan berbagai hal membosankan yang lainnya. Kemudian beralih ke Line, Whatsapp, Path dan Twitter. Begitu terus hingga suara Jongin yang sedang marah-marah membuatnya mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Chanyeol, ayo pulang!"
Matanya terbuka lebar saat melihat penampilan baru Jongin yang berubah 180 derajat dari penampilan awal.
Rambut silver cepak milik Jongin, kini berubah menjadi warna dark brown dengan poni panjang yang sangat halus.
Lalu kumis serta janggut tipis yang tadi tumbuh di area sekitar mulut kini sudah menghilang, wajah Jongin benar-benar jadi mulus sekarang.
Begitu pula dengan alis, bulu mata yang bertambah lentik, kuku-kuku yang rapih, juga kaki mulus bebas bulu.
Oh God, is this Jongin?
Si bocah bergajulan yang ia kenal itu berubah jadi sangat manis dalam waktu kurang dari satu hari.
"Wah, Jong. Aku benar-benar speechless.." Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya karena masih ada rasa tidak percaya atas perubahan Jongin yang begitu drastis.
"Speechless kepalamu. Ayo cepat antar aku pulang ke rumah!" Jongin berjalan mendahului Chanyeol sambil telapak tangannya menutupi setengah wajahnya karena merasa malu dengan dirinya sendiri.
D-DAY
Jongin sedang berada dikamarnya yang telah di sulap menjadi ruang makeup. Di sini hanya ada dirinya seorang dan Jongin bersyukur akan hal itu, karena ia sedang membutuhkan waktu untuk sendiri sekarang.
Walaupun Jongin masih agak tidak rela kalau ia akan menikah dengan seorang pria, dirinya tetap saja merasa gugup.
Ini adalah acara sakral, so dia takut sekali jika melakukan hal-hal yang dapat merusak pernikahannya sendiri dan berakhir mengecewakan banyak pihak, walaupun sebenarnya itu merupakan tujuan awal Jongin.
Ya, Jongin sedikit mengurangkan kadar keegoisannya untuk sekarang. Masa hanya gara-gara kepentingan diri sendiri, keluarganya dan orang lain merasa kecewa?
Oh tidak, Jongin sudah cukup merasa dosa dengan menonton video porno. Tidak dengan yang lainnya.
Belum lagi dengan memikirkan mentalnya yang harus siap menerima apapun setelah pernikahan ini. Entah ia bisa kehilangan Bill, teman nongkrong, penggemar, bahkan ia bisa jadi di benci oleh warga-warga kampus.
Baiklah persetan dengan penggemar, aku tak peduli lagi dengan mereka!
Cklek
"Hey, Jongin. Ayo keluar. Tamu undangan sudah datang semua dan acara akan segera di mulai" Jongin menoleh kearah pintu dan mendapati Ibunya yang sudah sangat cantik mengenakan gaun bermotif mawar berjalan ke arahnya.
"Apakah kau gugup?" Tanyanya.
Jongin mengangguk. "Ya," Tangan ibunya yang halus itu menarik dirinya untuk berdiri, lalu beralih merapihkan setelan putih miliknya yang sedikit kusut.
"Ibu juga gugup saat menikah dulu. Gugup ini hanya sebentar, nanti jika kau sudah mengucapkan janji pasti gugup itu akan hilang" Ibunya hanya tersenyum saat melihat dirinya terdiam tanpa bisa berkata-kata. "Mari keluar, nanti kau akan di antar oleh daddy sampai ke altar"
Suara musik ala-ala pernikahan menggema di halaman belakang rumahnya. Jongin yang mendengar itu malah merasa semakin gugup. Ayah yang berada di sampingnya mengeratkan pegangan saat merasakan tangan Jongin yang basah akibat keringat. Berusaha untuk meyakinkan sang anak kalau semua akan baik-baik saja.
"Mempelai dari keluarga Kim, di harapkan berjalan menuju altar" Dengan perlahan-lahan Jongin dan sang ayah berjalan di atas karpet merah menuju altar. Setelah sampai, ayah Jongin meninggalkannya dan pergi duduk di samping sang ibu.
Mata Jongin melirik kearah tempat di mana keluarga intinya duduk sambil tersenyum dan sedikit melirik ke arah keluarga calon suaminya.
Bahagia sekali mereka.
"Mempelai dari keluarga Oh, di harapkan berjalan menuju altar"
Jongin tidak menoleh kebelakang untuk melihat bagaimana rupa si Sehun-Sehun itu. Malas, walaupun sebenarnya ia sudah sangat penasaran.
Namun Jongin merasa aneh saat mendengar suara tarikan nafas akibat terkejut dari arah belakang. Sang pendeta yang tadi sedang serius, kini ikut terkejut dengan rupa si calon mempelai.
Setampan itu kah hingga membuat mereka terkejut? Aku juga pakai setelan terbaik dan mempunyai wajah yang tampan, tapi kenapa respon mereka begitu berlebihan terhadapnya?, Jongin membatin.
Lama-kelamaan Jongin jadi makin penasaran dan berakhir ikut melihat ke belakang. Dan siapa yang ia lihat benar-benar membuat rahangnya ingin jatuh, karena..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
APA-APAAN INI?!
CALON SUAMINYA ADALAH SEORANG KAKEK-KAKEK?!
To Be Continued
.
.
.
SURPRISE!
#krikkrik
Ya, ini adalah surprise yang gue bilang waktu itu. Eh, tapi gk tau deh ini termasuk surprise apa nggak, hehe
Maaf ya kalo kalian kecewa, entah itu akibat surprise yg ternyata bukan maupun tentang updatean chapter yang super jelek ini T3T
Ps: Iri sama kak cindy yg diingetin sholat sama suaminya nini :')
Ps(2): Nini makin unyu a n j
