Chapter 4. First Kiss

~o~

Legolas keluar dari kamar Glorfindel dan berjalan menuju kamar Erestor, membawa sebuah baki berisi sarapan. Hari ini ia akan menuntaskan misinya di Imladris. Beberapa bulan yang lalu Glorfindel mengirim surat kepada Legolas, isinya adalah untuk memesan cincin yang ingin dia gunakan untuk melamar Erestor. Dan tentunya Legolas harus membawa cincin itu ke Imladris secara diam-diam.

Legolas tiba di dekat kamar Erestor, di sana berdiri Glorfindel dan Tuan Elrond yang sedang berbicara, terlalu terfokus pada pembicaraan mereka, sehingga mereka berdua bahkan tidak menyadari kehadiran Legolas.

"Selamat pagi, tuan-tuan." Sapa Legolas, dan kedua peri itu terkejut mendengarnya. Mereka menoleh dengan cepat dan menemukan Legolas berdiri di sana membawa sebuah baki sambil tersenyum.

"Selamat pagi, pangeranku." Balas kedua tuan peri itu.

"Apa ada yang bisa kubantu, Legolas?" tanya Elrond.

"Tidak, tuan Elrond. Aku ke sini untuk menemui Glorfindel." Legolas tersenyum cerah. "Aku tidak menemukanmu dan Erestor dimana pun pagi ini, dan mengingat kejadian kemarin, kurasa kalian mungkin berada di salah satu kamar kalian, aku membawakan makanan untuk kalian berdua." Si pangeran Greenwood itu menyerahkan baki berisi makanan kepada Glorfindel.

"Terima kasih Legolas. Uhm… kau tidak mengatakan apa-apa bahwa makanan ini untukku dan Erestor, bukan?"

"Aku bilang pada juru masak makanan itu untuk si kembar. Mereka masih tidur. Lagipula mereka tidak akan memerlukan sarapan."

"Si kembar masih tidur?" alis Elrond mencuat. "Mereka seharusnya sudah bangun sekarang."

"Uh… mereka sedikit mabuk. Ngomong-ngomong, kau harus mengubah tempat persembunyian arakmu, Elrond. Mereka sangat pandai untuk membukanya." Kata Legolas dengan jelas.

Elrond menggerutu, sementara Glorfindel tertawa dengan keras.

"Mengapa kau tidak mabuk, pen-neth?" tanya Glorfindel dengan penasaran.

"Aku masih di bawah umur; aku tidak minum sebanyak mereka. Lagipula, pagi ini, aku harus mengantarkan paket penting dari Greenwood." Si pangeran pirang itu meletakan sebuah paket kecil di baki yang dipegang Glorfindel.

"Oh! Legolas! Aku baru saja akan pergi ke kamarmu ketika aku bertemu Elrond. Terima kasih, pen-neth!" Glorfindel tersenyum lebar.

"Apa kau sudah bertanya padanya?" tanya Legolas ingin tahu.

"Belum."

"Kalau begitu mengapa kau masih berdiri saja di sini? Ayo cepat masuk!" Legolas membuka pintu kamar Glorfindel dan mendorong peri itu ke dalam kamar. "Semoga berhasil!" dan menutup pintu kamar dengan pelan.

"Apa itu?"

Ketika Legolas menoleh, ia menemukan Elrond sedang mengamatinya.

"Apa maksudmu?" tanya Legolas pura-pura tidak tahu, yang mana sama sekali tidak bekerja.

"Kau tahu aktingmu tidak berhasil, pen-neth. Jadi, apa yang ada di dalam paket itu?"

Legolas hanya menjawab Elrond dengan sebuah senyum.

~o~

Legolas segera menuju kamar si kembar, terlalu senang memikirkan Glorfindel akan melamar Erestor, kabar baik ini membuatnya begitu bersemangat dan sangat ingin berbagi dengan sahabat-sahabatnya. Sayangnya, si kembar masih tertidur seperti mayat.

Si pangeran mencoba untuk membangunkan si sulung, tapi percuma, Elladan menggunakan bantalnya untuk meredam suara sang pangeran.

Legolas berpaling pada Elrohir. Dia naik ke tempat tidur di sisi Elrohir dan mulai mengguncangkan tubuh si bungsu.

"Elrohir! Bangun!"

"Uhm…" Elhorir menggumankan sesuatu.

Apa Elrohir mengigau? Pikir Legolas. Wajah Elrohir merona. Dia pasti sedang memimpikan kekasihnya atau sesuatu yang nakal. Apa Elrohir punya kekasih? Legolas tidak tahu. Dia akan menanyakan hal ini pada Elladan. Pikir Legolas.

"Kau bilang apa?" Legolas beringsut lebih dekat ke wajah si bungsu, berusaha untuk menangkap apa yang dikatakan Elrohir. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dan wajah Elrohir.

"Meleth…"

Tiba-tiba, leher si pangeran diraih dan ditarik ke arah si bungsu. Mulutnya menempel pada mulut Elrohir! Mata Legolas melebar. Bibir Elrohir yang lembut dan hangat, dan Elrohir sedang menciumnya!

Panas menjalar ke kepala pangeran. Elrohir sedang bermimpi mencium seseorang, tapi dia pikir Legolas adalah seseorang itu. Ia harus membangunkan Elrohir sekarang juga!

Si pangeran memukul kepala Elrohir, dengan keras.

Hal yang paling menjengkelkan adalah Elrohir sama sekali tidak tahu apa yang dia lakukan!

"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau memukulku?" Teriak si bungsu.

"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan!" Legolas menggunakan punggung tangannya untuk menyeka mulutnya dengan penuh marah.

"Apa? Kau memukulku!" kata Elrohir.

"Kau memakan mulutku!" Bagaimana bisa dia mengatakan kalau Elrohir menciumnya?

"Apa? Aku tidak melakukannya!"

Elrohir melirik bibir si pangeran yang bengkak dan wajahnya memerah.

"Ya, kau melakukannya!" Legolas menggertakkan giginya. "Dan kau memanggil seseorang 'meleth'. Kau pasti sedang bermimpi tentang seseorang atau sesuatu yang nakal." Legolas mencibir ketika melihat wajah Elrohir yang memerah.

"Tidak, aku tidak!"

"Iya, kau melakukannya!"

"Kau masih Elfling! Kau tidak mengerti!" Teriak Elrohir penuh malu.

"Aku bukan Elfling!" Legolas cemberut sambil melipat tangannya di dada dengan jengkel. Ya, dia mengerti dengan baik. Dia punya ide satu atau dua hal yang diimpikan Elrohir, tapi bersikap polos adalah cara terbaik untuk menyembunyikan rasa malunya. "Dan aku tidak ingin tahu seperti apa kenakalan yang ada di mimpimu itu!" Teriak Legolas kembali.

"Mimpiku tidak nakal!"

"Nakal!"

"Itu tidak!"

"Itu nakal!"

"BERHENTI!"

Suara Elladan yang menggelegar membuat mereka terkejut. Saat itulah mereka berhenti berdebat dan akhirnya Legolas punya kesempatan untuk mengganti topik pembicaraan.

Tapi, kejadian dengan Elrohir terus saja mengganggunya.

~o~

Legolas dengan tidak sengaja berjalan melewati ruang musik. Dia mendengar sebuah lagu yang indah dari dalam ruangan itu. Ketika ia mengintip ke dalam, Legolas melihat seorang peri berambut perak sedang memainkan lagu yang merdu dengan kecapi.

Si peri tersebut mengangkat wajahnya menatap sang pangeran dan tersenyum lembut; jari-jarinya masih tetap bermain pada senar-senar dengan lincahnya. Legolas memasuki ruangan tersebut dan duduk di kursi di depan sang musisi, menatapnya dengan kagum.

"Itu sangat indah, Lindir!" kata Legolas saat peri tersebut menyelesaikan lagunya.

"Terima kasih, pangeranku." Lindir tersenyum bahagia. "Itu adalah lagu terbaruku. Kau yang pertama mendengarnya."

"Ini adalah kehormatan untukku!" Legolas membungkuk penuh hormat pada sang Minstrel.

"Kehormatan ini adalah milikku." Lindir membungkuk.

"Kau tampak sangat bahagia ketika kau memainkan lagu itu. Lagu tersebut bercerita tentang apa?"

"Tentang 'Ciuman Pertama'."

"Apa?!" Legolas tersedak.

"Ciuman pertama." Lindir menatap sang pangeran, bingung. "Apa yang kau pikirkan, Legolas?" Sang minstrel bertanya ketika melihat wajah merah sang pangeran.

"Aku ingin tahu tentang ciuman pertama. Mengapa kau sangat bahagia? Ceritakan padaku." Kata Legolas bersemangat.

Lindir tertawa ketika melihat tingkah si Princeling. Ya, Legolas masih Princeling, dan polos, pikirnya.

"Baiklah," Lindir memulai. "Ciuman pertamaku sangat tidak terduga. Itu termasuk kecelakaan." Dia mengingat kembali kejadian tersebut. "Aku sedang berjalan mencari daftar lagu untuk pertunjukan malam itu. Ketika aku berbelok di pojok, aku menabrak seseorang, dan kami berdua jatuh tergeletak di lantai. Aku jatuh di atas seseorang, dan bibirku ada di atas bibirnya, itu kecelakaan, kukatakan padamu. Kami terkejut. Setelah pulih dari shock, kami membuat persetujuan untuk tidak pernah membicarakan tentang kejadian ini." Tawa Lindir.

"Bisakah kau beritahu aku siapa itu?"

"Melphomian." Senyum Lindir.

"Asistennya Erestor? Si pendiam dan pemalu Melphomian?"

"Ya, yang itu."

"Apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Legolas tidak sabar.

"Cukup canggung saat kami bertemu lagi, tapi kecanggungan itu akhirnya hilang. Kami adalah teman. Kadang-kadang kami malah bercanda tentang ciuman pertama kami." Lindir tertawa lagi.

"Hal itu tidak terdengar bahagia seperti lagumu. Kurasa itu bukan inspirasi untuk lagu 'Ciuman Pertama' mu. Jika itu adalah inspirasimu, maka kupikir kamu sangat aneh, Lindir."

"Tidak, itu bukan." Tawa Lindir lagi. "Aku tidak akan menyebut kejadian itu sebagai ciuman pertamaku. Selain itu, aku tidak akan menyebut Mel adalah ciuman pertamaku! Ciuman pertamaku yang sebenarnya adalah dengan kekasihku, Lyra."

"Lyra?"

"Waktu itu, si kembar sedang mengerjaiku, mewarnai rambutku menjadi pink. Lyra menemukanku merenung di taman. Dia bilang aku terlihat manis dengan rambut pink, tapi dia menyukaiku apa adanya. Aku terkejut dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia pikir aku menolaknya, jadi aku meraih tangannya dan menciumnya." Lindir menceritakan kisah bahagia itu.

"Wow!" Legolas kagum. "Itu sangat romantis."

"Ya, tentu."

"Jadi, jika seseorang bertanya padamu siapa ciuman pertamamu, apa yang kau jawab?"

"Tentu saja Lyra." Jawab Lindir dengan cepat. "Dengan Melphomian, itu hanya saling menyentuh bibir, bukan ciuman. Tapi dengan Lyra, walaupun itu hanya ciuman kecil, itu adalah ciuman. Tidakkah kau berpikir demikian?"

"Yah." Legolas mengangguk setuju. "Terima kasih telah berbagi cerita, Lindir."

"Sama-sama, pangeranku."

~o~

Legolas meninggalkan ruang musik beberapa saat yang lalu. Setelah mendengar cerita Lindir, ia tetap tidak bisa memutuskan apakah itu adalah ciuman. Ciuman Lindir dan Melphomian tidak bisa dikatakan ciuman yang sebenarnya karena itu hanya saling bersentuhan bibir, tapi apa yang terjadi antara dia dan Elrohir, itu adalah ciuman di mulut, dan dia tidak bisa mengatakan hal itu adalah kecelakaan, benar bukan?

Yang lebih buruknya, si brengsek itu sama sekali tidak tahu kalau dia telah mencium Legolas.

Sialan kau, Elrohir!

~o~

Elvish Translation:

Meleth: sebutan untuk kekasih.

Elfling: peri yang belum mencapai kedewasaannya.

Princeling: pangeran kecil.

~o~

For Review:

Thank you for your reviews.

LUIN: Thank you yah, baguslah kalo kamu suka. Baca terus ya, hehe.

BAGGINS: Yup2, begitulah. Lucunya pas bagian Elrohir berdebat sama Elladan. Btw, iyap benar, pasti sama salah satu dari si kembar * tapi ya kalo udah baca chap ini, paling2 udah tau bakal sama sapa*. And your welcome, selamat membaca. Oh, thanks udah baca Fic aku yg lain. Hehe.

EVE LUNATIQUE: Iya keren, awalnya aku maunya translate yg Shadow, tapi g jadi, haha. Glorestor emng keren2 smua. Btw, udah baca Doren End In? Itu juga bagus banget, sayangnya masih belum diupdate lagi sampe sekarang. Uh, rasanya pernah liat deh, yang Mirrormere, aku biasanya gak hafal sitenya, soalnya biasanya ceritanya langsung aku download, haha. Yang paling ingat mungkin cuma OEAM libraryofmoria. LOM sih kebanyakan One Shot, yang berseri cumin dikit. kyknya Glorestor gak banyak deh.

Btw, see you next week J

~Angela