Assassination Classroom © Yuusei Matsui

.

The Second Job

.

Warning:

AU, Typo, OOC, EYD 404, Action kurang kerasa, Gaya bahasa amburegul, dan segala kekurangan yang ada di cerita ini.

.


.

Sekumpulan orang terlihat berada di dalam ruangan serba putih ini, ketegangan nampak di air muka mereka. Air mata terus menggantung di sudut bawah kelopak sang istri, dan beberapa putera dan puterinya melingkari ranjang yang terdapat seorang pria tua yang terlihat sangat lemah. Selang infus terpasang di urat nadi tangannya, dan pandangannya menerawang keatas.

"Waktu ku tidak lama lagi."

Tatapannya teduh, seakan tahu bahwa ajalnya kian mendekat. Kepala itu menoleh, menatap mata sang putera tertua yang berada di samping ranjangnya. Pandangannya lurus. Semua orang yang berada disana terdiam, menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Merasa ditatap, ia mendekati kepala keluarga itu.

"Ayah ingin kau meneruskan perusahaan, sebagai kakak tertua." ucapnya sambil berusaha menggapai pundak anaknya, ingin menepuknya seakan memberi kekuatan –yang seharusnya merekalah yang memberi kekuatan pada sosok pria tua itu.

Pemuda itu tersenyum seraya mengangguk mantap, menerima beban yang diberikan oleh ayahnya. "Baik, ayah. Aku sayang ayah."

Dan setelah itu, suara monoton yang panjang dan tak berujung serta garis horizontal yang tampil di layar EKG membuat semua orang yang berada disana panik dan menangis tersedu-sedu. Semua orang bersedih, termasuk Jeff Thompson.

.


[Satu tahun setelah hari kelulusan SMP Kunugigaoka, keesokan harinya setelah Ritsu memanggil Chiba dan Hayami.]


.

Suara cicitan burung gereja mengawali pagi hari yang cerah. Dua orang –laki-laki dan perempuan– terlihat berjalan bersisian dengan santai namun raut wajah keduanyanya tetap datar dan sulit ditebak.

Sebuah AI muncul di layar smartphone Hayami, membuat lagu jazz yang sedang ia dengarkan terhenti sesaat. Headset yang ia kenakan dilepas, agar suara Ritsu bisa terdengar oleh Chiba juga.

"Kalian berdua pagi sekali. Apa tidak apa-apa merelakan waktu belajar kalian di sekolah?"

"Tenang saja, Ritsu. Kami sudah minta izin kepada wali kelas kami." ucap Chiba disertai anggukan dari Hayami.

Setelah pintu kaca Kementrian Pertahanan Jepang bergeser secara otomatis, mereka mendatangi resepsionis dan menanyakan perihal kedatangan mereka untuk bertemu dengan Manajer Umum Karasuma. Wanita itu mengantar Chiba dan Hayami menuju ke sebuah ruangan, yang mereka yakini bahwa itu adalah ruangan Karasuma-sensei. Diketuknya pintu itu tiga kali, dan suara berat terdengar dari dalam ruangan.

"Persilahkan masuk."

Sang resepsionis membuka pintu itu, dan mempersilahkan Chiba dan Hayami masuk ke ruangan Manajer Umum Karasuma. Setelah mereka berdua berada di dalam, pintu ditutup dan atensi mereka pertama kali tertuju pada Karasuma-sensei yang duduk di sofa bersama seseorang yang terlihat asing bagi mereka.

"Chiba-kun, Hayami-san, ada orang yang ingin bertemu dengan kalian." ucap Karasuma-sensei sembari menunjuk pemuda tinggi disebelahnya.

Orang asing itu segera berdiri, lalu membungkuk hormat kepada Chiba dan Hayami. Kedua insan itu sedikit terkejut juga gugup, dan mereka segera membalas salam orang itu.

"Perkenalkan, nama saya Samuel Thompson. Saya sudah mendengar kehebatan membunuh kalian di usia yang masih belia ini, dan saya memutuskan untuk menyewa jasa kalian."

Hayami tersenyum seraya membungkuk kembali. "Kami tersanjung."

Mata yang tertutup poni itu beralih menatap Karasuma-sensei, berusaha serius dan bersikap professional.

"Jadi, siapa yang akan menjadi target kami?"

Karasuma-sensei menaruh sebuah berkas di meja, menyodorkannya kearah Chiba dan Hayami. Ada sebuah foto diatasnya, seorang pria dengan rambut hitam tertata rapi yang sangat tampan, bahkan Hayami sampai terpana beberapa saat kalau saja Chiba tidak mengeluarkan hawa membunuhnya.

"Target kalian adalah Jeff Thompson, seorang anak dari perusahaan asing Thompson Petroleum Company di Dubai, Uni Emiral Arab. Besok pada pukul 2 siang waktu Uni Emiral Arab ia akan dilantik menjadi penerus perusahaan. Aku ingin kalian membunuhnya sebelum pelantikan. Lokasinya akan diberitahu oleh Ritsu."

Hayami mengernyitkan dahinya ketika mendengar nama targetnya, agak ganjil dan sempat membuatnya penasaran. Namun ditepiskan pemikirannya barusan, saat ini yang terpenting adalah fokus.

"Kami mengerti."

Manajer umum itu melanjutkan. "Kalian akan pergi ke Dubai bersama Samuel-san. Sekarang bersiaplah, kalian akan berangkat pukul 10 malam."

"Roger!"

Mereka berdua menatap kliennya, lalu kembali membungkuk. Sementara sang klien hanya bisa tersenyum.

"Mohon bantuannya, Samuel Thompson-san."

.


Bagian 3;

Jatuhkan Target!


.

"Terima kasih sudah menyempatkan datang kemari, Karma."

Seorang pemuda berambut merah terlihat berada di depan pintu rumah Chiba, dan ia masih mengenakan seragam SMA Kunugigaoka. Kini sang empunya rumah telah membukakan pintu, dan mempersilahkan Karma agar masuk ke rumahnya.

"Hm? Tidak masalah. Kebetulan aku sedang membolos. Biar ku tebak, tentang 'misi' lagi?"

Sepatunya ia lepas, lalu berjalan masuk ke dalam. Dilihatnya gadis bersurai oranye telah duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tengah sembari memegang sebuah kertas dan pensil.

Chiba tetap bersuara, "Ya. Dan aku ingin meminta saranmu untuk membuat strategi pembunuhan."

Karma langsung menyambar sekotak pocky yang berada di meja ruang tamu, lalu memakannya dengan santai.

"Oke. Boleh ku tahu dimana kalian menjalankan pekerjaan ini?"

Kali ini Hayami yang menjawab pertanyaan Karma.

"Di Dubai, Uni Emiral Arab. Kurasa akan sulit karena jika kita ketahuan, kita akan dianggap sebagai teroris.."

"Benar. Dan penjagaan disana sangat ketat. Penegak hukumnya juga tidak main-main." tutur lelaki berponi sambil menatap Karma dengan penuh harap. Hayami pun melakukan hal demikian.

"Jadi, bagaimana?"

Lama sang pemuda terdiam, dan dengan tiba-tiba ia mengambil handphone yang berada di saku celananya, membuat pandangan Chiba dan Hayami mengikuti gerak-geriknya.

"Ritsu, bisa tetap standby untuk mencari informasi yang akan ku paparkan kali ini?"

Gadis AI muncul di layar handphone Karma, dan langsung memasang pose hormat seakan sudah menjadi kebiasaanya.

"Ha'i, Karma-kun!"

.


[17:15; Pemakaman Umm Harir, Bur Dubai, Uni Emiral Arab.]


.

Suasana kelam terasa saat mendiang pemilik perusahaan Thompson Petroleum Company harus dimakamkan pada sore hari ini. Sang istri tiada henti-hentinya menangis, sementara puterinya berusaha menenangkan ibunya agar mengikhlaskan kepergian ayahnya. Putera tertua hanya bisa menahan air matanya, sambil berusaha tegar agar menjadi contoh bagi adik-adiknya. Namun raut kesal nampak di wajahnya saat ia teringat adik pertamanya yang tidak berada disini sampai saat ini.

"Disaat seperti ini dia tidak ada.." ucap pemuda itu sambil mengepalkan tangannya, melampiaskan kekesalannya pada tempurung lututnya.

Asistennya menghampirinya, lalu mengucapkan sesuatu. "Tuan Samuel akan tiba besok di bandara pukul 11 pagi."

Mendengar nama adiknya, kelopak matanya melebar lalu berganti dengan kepalanya yang menunduk.

"Baiklah. Beritahu kabar duka padanya bahwa ayah telah dimakamkan setelah ia tiba di rumah."

"Dimengerti, tuan muda."

.


.

Setelah merencanakan segala hal dengan Karma dan Ritsu, serta mempersiapkan semuanya dengan matang, akhirnya pada malam hari mereka berangkat ke Bandara pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Di depan bandara telah menunggu seorang pria tinggi, dan mereka yakini bahwa orang itu adalah Samuel Thompson.

Setelah menunjukkan tiket dan visa palsu, mereka bertiga kini telah berada di dalam pesawat, dan kali ini khusus klien mereka yang membayar segala transportasi dan sarana lainnya.

Chiba dan Hayami merasa beruntung mendapat klien kaya raya seperti dia.

Berhubung pemilik codename Adult Game Protagonist berada duduk di dekat jendela, ia bisa melihat lampu-lampu gedung yang bersinar terang, menambah keindahan malam hari ini.

"Dubai, yah?"

Hayami menoleh kearah teman lelakinya. "Ada apa?"

Merasa direspon, pemuda berponi itu juga menoleh kearah Hayami. Walau matanya tertutup poni dan gadis itu tidak bisa melihat matanya, sih.

"Tidak, aku hanya senang karena aku bisa melihat bangunan pencakar langit tertinggi di dunia. Bagi seorang arsitek, Dubai adalah salah satu surga dunia." jelas Chiba, tanpa sadar bibirnya membentuk sebuah kurva.

"Kau selalu suka yah, yang seperti ini."

Mereka tertawa, agak bingung juga karena tawaan mereka terdengar seperti tawa orang dewasa. Mendengar percakapan kedua pembunuh itu, Samuel Thompson bermaksud ikut dalam pembicaraan itu.

"Kalian bisa memanfaatkan gedung-gedung disana, kalau kalian mau. Dan maaf, setelah sampai di Bandara Internasional Dubai kita harus berpisah."

Mendengar tawaran dari kliennya, Hayami langsung tersenyum manis. "Ah, terima kasih banyak bantuannya."

"Sekarang, ayo kita nikmati perjalanan ini."

.


[10.45; Keesokan harinya, di kediaman Jeff Thompson, Dubai, Uni Emiral Arab.]


.

Seorang pria tergesa-gesa memasuki ruang kerja keluarga Thompson. Ditangannya terdapat handphone dan raut wajahnya nampak lelah, mungkin efek berlarian di kediaman yang super megah ini.

"Tuan muda, adik anda sudah kembali dari liburannya. Apa anda punya waktu luang untuk sekedar bertemu dengannya? Mengingat hari ini adalah hari pelantikan anda.."

Pemuda yang sedari tadi terus berkutat pada berkas dokumen yang menumpuk, menghentikan kegiatannya sejenak lalu menatap asistennya dengan raut wajah menyesal.

"Tolong sampaikan permintaan maaf ku untuknya. Aku harus mengurus dokumen-dokumen ini, dan bilang padanya bahwa kita bisa bertemu di acara pelantikan ku nanti sore."

Mendengar pernyataan atasannya, sang pria mengangguk paham lalu segera undur diri dari hadapannya.

"Baiklah, tuan muda."

.


.

Setelah sampai di Dubai International Airport, Chiba dan Hayami memandang takjub dengan pemandangan di sekelilingnya. Gedung-gedung pencakar langit nampak megah, dan orang-orang berlalu lalang dengan memakai semacam pakaian khas Arab. Saking senangnya, Chiba mulai berlarian dan mengamati lekat-lekat gedung-gedung tinggi yang mereka lalui. Maklum, calon arsitek.

Hayami berdehem keras, sengaja agar mengembalikan kewarasan Chiba yang sempat hilang.

"Pasir. Akan sulit untuk berlari dan pasti meninggalkan jejak.."

Merasa diajak berbicara, pemuda itu langsung menoleh kearah gadis tsundere itu. Wajahnya kini kembali serius. "Ya, dan kita harus mempertimbangkan cahaya matahari dan struktur bangunan di sekitar sini."

"Apa kalian butuh hotel untuk beristirahat?"

Ah, mereka melupakan kliennya ini.

"Tidak perlu, kami hanya butuh tempat strategis untuk melancarkan misi kami." ucap Hayami sambil tersenyum manis, persetan dengan OOC yang penting kliennya ini senang.

"Chiba-kun, Hayami-san, aku telah mendapat peta geografis dan spot-spot yang bagus. Mari kita berjalan-jalan sebentar!"

Suara elektronik berasal dari handphone Chiba. Buru-buru ia mengambil smartphonenya, lalu tersenyum tipis kala ia melihat sebuah peta yang sudah dikemas secara sederhana oleh Ritsu.

"Terima kasih Ritsu. Ayo kita segera bergegas."

Sebelum Chiba dan Hayami berjalan lebih jauh, suara dari kliennya ini kembali terdengar, membuat mereka kembali menghentikan langkahnya.

"Ah, aku lupa memberitahu sesuatu pada kalian."

Ditatapnya sang klien dengan pandangan menuntut, menunggu dengan sabar. Padahal didalam hati mereka meraung-raung ingin segera bergegas dan menyelesaikan misi ini secepatnya.

"Target kalian ini lumayan tangguh. Jadi semoga sukses! Ini uang jajan untuk kalian!" ucap Samuel sambil memberikan segepok uang di masing-masing telapak tangan mereka, yang berarti ada empat gepok uang yang mereka terima.

Dubai memang menakutkan.

Dengan wajah berseri-seri, Chiba dan Hayami membungkuk sedalam-dalamnya sembari menyimpan uang-uang itu kedalam tas mereka.

"Terima kasih, Samuel Thompson-san!"

Mereka tidak jadi sebal dengan kliennya itu.

.


.

Di ruangan Manajer Umum Kementrian Pertahanan Jepang, terlihat seorang pria sedang mengetikkan sesuatu pada komputernya. Suasana begitu hening, sampai sebuah gadis berambut ungu muncul di layar komputernya dan menghalangi pandangannya.

"Karasuma-san!"

Alisnya bertaut. "Hm? Ada apa, Ritsu?"

Gadis AI itu terlihat sedang berjalan-jalan di layar, memainkan ikon-ikon yang berada pada layar dekstop. Raut wajahnya tidak dapat di prediksi, namun Karasuma tahu kalau Ritsu sudah berada di layar komputernya berarti ada hal yang dia inginkan.

"Bisakah anda mengirim beberapa orang lain agar menjadi pengalih perhatian?"

"Misi kali ini memang sulit, dan apakah Chiba-kun dan Hayami-san mengalami kendala?" ucap Karasuma-sensei, ada nada khawatir di ucapannya.

Kini Ritsu berputar-putar. "Sejauh ini belum. Namun sebaiknya kita berjaga-jaga saja."

Karasuma-sensei menghela nafas.

"Baiklah. Akan ku kirim Fuwa-san dan Hara-san untuk menjadi turis disana."

Raut wajah gadis AI kembali cerah. "Terima kasih, Karasuma-san!"

.


[13:30; Jalan Al Sa'ada, Dubai, Uni Emiral Arab.]


.

Jalan tol lumayan lancar, hanya terdapat beberapa kendaraan yang melaju di jalanan ini. Di sekitarnya terdapat beberapa rumah penduduk, dan tujuan mobil lamborghini ini adalah Burj Khalifa, sebuah menara tertinggi di Dubai dan tempat melaksanakan pelantikan penyerahan jabatan kepada penerus perusahaan, Jeff Thompson.

Mobilnya dikelilingi empat mobil pengawal, dan Jeff sendiri sekarang sedang berleha-leha di dalam mobil sembari meminum sebuah wine seharga mobilnya ini.

Dor!

Suara senapan mengenai mobil pengawal yang berada di belakang, membuat supir yang mengendarai mobil Jeff sedikit panik.

"Tuan!"

Tentu saja Jeff panik, namun sepertinya itu tidak berpengaruh pada kecerdasannya.

"Arah dari jam tujuh! Belok kanan! Panggil penjaga untuk berjaga di sekitar jalan Al Sa'ada!"

"Siap!"

Di gedung tinggi tiga puluh lantai, terlihat seorang gadis berambut oranye yang sedang memegang M4 assault rifle dengan raut wajah kesal. Ia berusaha membidik mobil yang berada di tengah –yang ia yakini adalah mobil si target– namun ia meleset.

"Cih."

Suara Ritsu terdengar dari headset yang ia pasang, sengaja agar ia bisa berkomunikasi dengan Chiba dan Ritsu.

"Hayami-san, simpan rifle-mu dan berjalanlah seperti kerumunan orang itu! Lalu, keluar dari gedung ini dan berlarilah ke gedung selanjutnya!"

Buru-buru ia memasukkan senjatanya ke dalam tas khusus. Dilihatnya sekumpulan orang berada di lantai dua puluh delapan yang sepertinya turis asing. "Oke, Ritsu."

Sementara Hayami terus berlari dari satu gedung ke gedung lainnya dan terus menembaki target, terlihat Chiba sedang memposisikan dirinya dari arah jam tiga di atap gedung sebuah restoran yang berhasil ia pesan secara VVIP.

"Chiba-kun, mobil itu akan segera terlihat di jarak pandangmu. Tembaklah bagian badan mobil, persentase keberhasilanmu 99,8 persen!" perintah Ritsu sambil memonitor keadaan dengan menggunakan drone Itona.

Chiba sangat berkonsentrasi kali ini. "Baiklah."

1000 m

Mobil lamborghini terlihat masih jauh.

700 m

Gerakannya oleng, Chiba yakin pengemudinya sengaja agar sniper terkecoh dan sulit membidik.

400 m

Tapi maaf saja, sniper kali ini tingkatannya berbeda.

100 m

Ini hal yang biasa bagi Chiba.

50 m

Mobil lamborghini itu semakin mendekat...

"Dan nol!"

Dor!

DUARRR!

Sebuah ledakan terdengar begitu nyaring, sampai-sampai mobil yang sedang berlalu lalang di jalan Al Sa'ada berhenti dan menoleh ke satu titik. Sebuah mobil lamborghini yang terbakar!

Chiba tersenyum puas, sedangkan Hayami berhenti sejenak untuk menstabilkan nafasnya. Akhirnya misi kali ini berhasil dengan cepat.

Namun, suara Ritsu yang terdengar panik terdengar di masing-masing headset, membuat yang mendengar begitu penasaran dan menunggu kata yang terucap.

"Ini gawat, Chiba-kun, Hayami-san! Target berhasil lolos dan terlihat berada di sekitar sentral perbelanjaan The Dubai Mall!"

Hayami beserta Chiba syok berat.

"Ap– bagaimana bisa?!"

Drone Itona yang dikendalikan Ritsu terlihat melayang diatas tempat parkir mall itu. Gerakan target terlihat tergesa-gesa, berlari kedalam mall dan penjaganya mengekori dari belakang.

Bagaimana kalau seperti ini, sniper-san? Pikir Jeff dalam hati. Ia sedikit menyunggingkan senyum mengejek.

Keringat imajiner nampak di pelipis Ritsu.

"Sepertinya mereka bertukar penumpang saat sebelum mereka menaiki kendaraan itu! Aku berhasil mengikuti gerak-gerik target ini! Ayo cepat!"

Chiba menggertakan giginya. "Cih, dia licik juga."

"Serahkan padaku."

Gadis sniper itu mengambil motornya, lalu menyusul targetnya. Chiba pun demikian, pokoknya ia tidak ingin kehilangan targetnya.

"Hayami-san! Ternyata orang yang berada di dalam mall bukan Jeff Thompson! Dia hanya berpakaian seperti target dan mengecoh kita!"

Manik zamrud Hayami melebar.

Kalian takkan bisa membunuhku!

Sang target tengah berlari dengan para pengawalnya, menuju sebuah gang yang gadis AI itu yakini lebih mirip dengan sebuah labirin.

Ritsu mulai panik, sedangkan yang memberi perintah sekarang sedang menggigit kukunya. Di ruangan gelap serta beberapa komputer terpasang disana-sini, perintah itu terucap oleh seseorang yang sedang mengawasi pergerakan Chiba dan Hayami dari Jepang. Siapa lagi kalau bukan Akabane Karma!

'Tak ku sangka ini benar-benar sulit..' ucap Karma dalam hati, ia sangat kesal sampai ia ingin membunuh target itu dengan tangannya sendiri.

Perintah Karma dikonversi oleh Ritsu sehingga terdengar seolah-olah sang gadis AI itu yang memberi perintah.

"Chiba-kun, segeralah berlari ke gedung tinggi arah jam sebelas! Disana jangkauan pandangmu semakin luas!"

Chiba segera merapihkan R93 sniper riflenya. "Roger!"

Drone sebanyak dua belas terlihat memonitor secara acak sampai ke sudut-sudut kota. Tentunya drone-drone itu sudah diberi efek kamuflase mirip seperti langit agar tidak mudah diketahui musuh.

"Target terlihat berada di pusat perindustrian! Dia mengambil jalan pintas untuk pergi ke gedung Burj Khalifa!" ucap Ritsu, sambil menghitung kalkulasi dengan peta geografi Dubai agar Chiba mudah membidik target.

Suara Hayami terdengar di headset Chiba. "Cih, membingungkan saja."

Gadis surai jingga itu berlari kesana-kemari, tentunya ia tidak memegang rifle ataupun handgun. Jika ia melihat target, baru ia keluarkan senjatanya itu.

Dor!

'A-apa?! Mereka menyerangku?!' Hayami panik.

Dor! Dor! Dor! Dor!

Dan terdengar suara tembakan beruntun, membuat Hayami tidak bisa bergerak dan memilih untuk berlindung. Ia yakin bahwa asal dari peluru-peluru itu adalah dari bawahan sang target.

Dor! Dor! Dor! Dor!

'Eh? Suara peluru itu bukan berasal dari depan..' dilanda kebingungan, gadis tsundere itu mendengar dari headset suara teman lelakinya yang berbicara.

"Hayami-san, aku sudah memusnahkan mereka semua. Kau kejar saja si target menyebalkan itu."

Hayami langsung bergerak, mengejar sang target yang berlari kearah gang belokan kedua.

"Terima kasih, Chiba-kun."

Gadis itu mengambil jalan memutar tatkala Chiba terus menembaki target dari belakang, bermaksud mengecoh target agar ia pikir sang penembak berada di belakangnya. Setelah menggunakan lari bebas agar cepat sampai di ujung gang, Hayami melihat sang target –Jeff Thompson yang tampan– lalu langsung melompat ke depan sambil menodongkan M1911 handgun di tangannya. Jarak mereka hanya berkisar sepuluh meter, dan Hayami menyunggingkan senyum membunuhnya.

"Skak mat, tuan."

Sang target hanya tersenyum tampan sembari berkacak pinggang. "Hey, kau manis juga."

Tentu saja Hayami langsung memerah dipanggil 'manis' oleh pria tampan seperti dia. Manik zamrudnya melebar, terkejut. Emosinya benar-benar tidak stabil sekarang. Hayami tetaplah wanita, ingat?

Namun, bukan Hayami namanya kalau ia tidak bisa menembak target se-dekat ini.

"B-baka!"

Dor!

Tak disangka-sangka, gadis surai jingga itu malah menembaki kepalanya, membuat wajah tampan itu dipenuhi oleh darah. Ekspresi targetnya kaget, tentu saja. Semuanya berjalan begitu cepat. Tembakannya tepat di tengah-tengah. Wew.

Ritsu panik saat mendengar teriakan –bisa dibilang hal yang lumrah– dari seorang Hayami Rinka.

"Kau tidak apa-apa, Hayami-san?"

Ia masih syok, namun tidak se-kaget tadi. "Ya, dan sebaiknya kita pergi dari sini."

"Chiba-kun, disini!"

Mereka bertemu, dan Chiba langsung menautkan telapak tangannya ke tangan gadis yang gemetar itu. Ia sadar bahwa ada mayat di sini, dan reflek sang lelaki menjauhkan diri dari target yang telah terbunuh itu.

Pertama kali pemuda berponi itu melihat darah, dan rasanya ia mual. Senapan serta pistol mereka buru-buru ia simpan, takut ada seseorang yang melihat mereka.

Namun sesaat kemudian terdengar suara hentakan kaki yang begitu banyak dan segera menuju tempat Hayami dan Chiba berada, sepertinya mereka aparat kepolisian Dubai. Dengan segera mereka bersembunyi dan jika ada kesempatan mereka akan menggunakan lari bebas untuk kabur.

Beberapa polisi terlihat sedang mengurus jasad Jeff Thompson, dan darah masih mengalir dari kepala korban, yang berarti pembunuhnya masih berada di sekitar kawasan sini.

Seorang polisi mengecek tiap-tiap gang, dan terkejut ketika menemukan Hayami dan Chiba sedang bersembunyi di balik tembok.

"Tunggu sebentar!"

Sumpah, Chiba dan Hayami saat ini benar-benar panik.

Polisi Dubai itu mendekati mereka, lalu menatap curiga Hayami lalu bergantian ke Chiba. Ia mengeluarkan sebuah borgol –entah mengapa lidah mereka kelu.

"Maaf tuan, nona, bisa ikut kami ke kantor polisi?"

"Ah, kalian disana!"

Ketiga orang itu menoleh, mendapati dua orang perempuan berlari dengan tergesa-gesa menuju tempat mereka.

"Hori-kun, Nanase-chan! Akhirnya kami menemukan kalian!" ucap Fuwa sambil memeluk Hayami, sementara yang dipeluk kaget dan tidak mengerti dengan kondisi saat ini. Ia sengaja memanggil nama samaran mereka, bisa gawat kalau mereka tahu identitas asli kedua pembunuh ini.

Sementara Hara –disini ia berdandan menor layaknya seorang ibu– menyalami pak polisi itu sambil menangis haru, sampai-sampai polisi itu bingung dan menenangkan Hara dengan mengelus-elus punggungnya

"Terima kasih sudah menemukan anak saya! Kami sempat berpisah karena terjadi baku tembak tadi!"

Fuwa mengeluh, ia belajar memprovokasi dari Karma. "Yang benar saja! Kami datang kesini bukan untuk terbunuh!"

"Ma-maafkan kekacauan tadi, sekarang kalian segera pergi ke tempat aman. Kawasan ini segera dikepung demi keselamatan warga dan turis asing." ucap polisi itu sambil menunjukkan arah ke lokasi yang sudah diamankan oleh pihak berwajib.

Setelah mereka menuruti perintah polisi tadi, buru-buru mereka pergi dengan mobil sewaan Fuwa dan melaju cepat menuju Bandara Internasional Dubai. Kedua orang sniper ini pun hanya bisa menghela nafas lega dan terkapar di belakang mobil. Mereka capek.

"Kami berhutang budi pada kalian." ucap Hayami dengan senyum lelah.

Dari depan, Hara menoleh kearah mereka. "Tidak apa, kami hanya menerima e-mail dari Ritsu. Seharusnya kalian berterima kasihlah padanya!"

Merasa terpanggil, gadis AI itu muncul di handphone Hara. Chiba yang masih bersandar pada jok mobil, kini menoleh kepada Ritsu yang sudah berpindah ke handphonenya. Tangannya menggenggam smartphone itu dan diangkatnya tinggi-tinggi, agar sejajar dengan pandangannya juga Hayami.

"Terima kasih banyak, Ritsu."

Teman AI-nya itu tersenyum manis. "Senang sekali melihat kalian berhasil lolos!"

Chiba teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, kenapa yah Samuel Thompson ingin membunuh Jeff Thompson?"

"Aku agak curiga dengan marga mereka berdua. Apa kau tahu sesuatu, Ritsu?" tanya Hayami seraya melirik kearah ponsel Chiba.

"Ya. Samuel Thompson adalah adik dari Jeff Thompson. Ia ingin membunuh kakaknya karena ia tahu kalau kakaknya sengaja meracuni ayahnya, George Thompson, untuk bisa mengambil alih perusahaan. Samuel-san sengaja pergi ke luar negeri berkedok liburan untuk menemui kalian, Chiba-kun, Hayami-san."

Fuwa menimpali. "Drama banget."

Keheningan tercipta. Mereka terlalu lelah untuk berbicara, dan Fuwa maupun Hara pun memaklumi. Namun nampaknya Fuwa tidak menyukai keheningan, ia terus mengoceh tentang apa saja.

"Berbicara tentang Dubai, aku jadi teringat tentang pembunuhan kita di pulau Okinawa.."

Hayami mendengar sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian itu, dan ia menimpali. "Ya, dan kami gagal membunuhnya.."

Suara kekehan dari Chiba terdengar begitu miris. Bernostalgia nih, ceritanya?

Hara tertawa. "Dan kalian mengalahkan Gastro, si pembunuh pengguna pistol aneh itu kan?"

"Hahaha, benar!"

Mereka mengobrol dengan asyik, sampai mereka tidak menyadari wajah Ritsu yang tampak bingung. Ia tidak mengerti arah pembicaraan ini, jadi ia memutuskan untuk diam.

.


.

Setelah sampai di Bandara, Hayami terus saja diam. Bahkan sampai didalam pesawat pun, mulut itu masih saja bungkam. Mungkin kalau diamnya itu dengan mimik wajah yang datar, Chiba sudah biasa melihatnya. Kalau ia terdiam dengan wajah yang merona? Chiba tidak bisa tinggal diam.

Dan ia memberanikan diri untuk bertanya.

"Kenapa wajahmu?"

Hayami menoleh, lalu buru-buru memalingkan wajahnya. "Tidak, jangan khawatirkan aku."

'Ekspresinya sama seperti saat ia bertemu dengan targetnya tadi..' ia berusaha mengingat-ingat kejadian tadi. Cukup lama, sampai ia menemukan keganjilan.

Sekarang Chiba mengerti.

Aura kelam menguar dari tubuhnya, membuat Hayami sedikit merinding.

"Seharusnya aku yang membunuhnya.."

Gadis surai jingga itu kembali menoleh, tanpa rona merah di wajah cantik itu tentunya.

"Apa maksudmu?"

Chiba semakin menundukkan kepalanya. Aura membunuhnya bertambah. "Bukan apa-apa."

.


To Be Continued


.

A/N:

Maafkan saya yang sudah lama tidak meng-update cerita ini. Beberapa hari ini saya sakit dan saya jadi tidak bisa menulis fict apalagi saya sempat stuck di tengah-tengah cerita. Sekali lagi mohon maaf! /bungkuk

Untungnya kondisi saya sudah membaik, jadi saya bisa ke warnet! :'3

Saya merasa fict The Second Job ini kurang kerasa feel kriminalnya, dan dari chapter pertama saya lupa kalau waktu di Jepang dan waktu di luar negeri itu berbeda. Sekali lagi mohon maaf atas ketidakmampuan saya! :'D

Terima kasih sudah membaca! Seperti biasa, ada spoiler untuk chapter depan! o.o/

(... Kali ini nggak dikasih tau cast selanjutnya, huahahaha!)

.


[Dua tahun setelah hari kelulusan SMP Kunugigaoka]


.

Malam ini terjadi sebuah insiden terbunuhnya seorang wanita di sebuah perumahan terkenal di daerah Tokyo. Korban dibunuh dengan menggunakan kapak. Tersangka berhasil tertangkap saat hendak kabur dan kini sudah diringkus oleh aparat berwajib.

"Kau ditahan."

Suara sirine polisi berbunyi nyaring, memekakan telinga. Beberapa orang mengerubungi tempat kejadian perkara, dan keluarga korban menangis histeris ketika mengetahui anak perempuan satu-satunya telah berpulang. Sang ibu, berhasil terlepas dari orang-orang yang tadi menahannya, berlari menuju pria yang menjadi tersangka dan menonjok pipinya dengan raut kesal.

"Dasar kau pembunuh! Aku takkan memaafkanmu atas apa yang kau lakukan pada anakku!"

Polisi segera menahan ibu korban yang amarahnya sudah tidak terbendung lagi. Sedangkan mimik wajah tersangka itu masih sama seperti sebelumnya; kosong.

Sebelum mobil polisi itu pergi, sang ibu berteriak dengan lantang, membuatnya terlihat lebih menyedihkan.

"Lihat saja nanti! Aku akan membuatmu merasakan siksa yang teramat sakit sampai kau memohon untuk mati saja!"

.


Mind to Review?