Kini kalian telah sampai di SMA Teiko.
Kau dan kakak tirimu—Akashi Seijuuro—membuka loker sepatu bersamaan. Kalian mendesah begitu melihat loker yang penuh dengan amplop dalam berbagai ukuran dan warna.
Akashi mengambil surat-surat itu seraya menghempaskannya dalam tong sampah—melebarkan beberapa pasang mata yang melihat aksi kejamnya.
Kau tak mendengar murid-murid yang mulai memperbincangkan kakakmu, karena perhatianmu kini teralihkan oleh sebuah surat beramplop biru kotak-kotak.
Surat paling mencolok dan lain dari sekumpulan amplop putih pink lainnya.
Kau mengambilnya dan langsung membukanya—mengeluarkan secarik kertas seraya membaca kumpulan kata di dalamnya.
Matamu melebar membaca kalimat yang tertera disana.
Kau tersenyum kecut lalu memasukkan surat itu dalam kantung seragammu. Kau juga mengambil amplop-amplop lain dari lokermu dan menjejalkannya dalam tasmu.
Setelah itu membungkuk tuk mengambil sepatu dengan pandangan kosong—meskipun sebuah senyuman masih tertampang.
Akashi telah selesai dengan 'urusan'nya. Ia kembali dan menatapmu selidik kala mendapatimu sedang membungkuk mengambil sepatu—dengan sebuah senyuman.
Pandangan Akashi menanjam. Wajahnya menggelap.
Senyuman inilah yang biasa dilihatnya, senyuman semanis madu namun memuakkan dan membuatnya merasa tak nyaman.
Akashi tak dapat melihat matamu—dikarenakan posisimu yang membungkuk. Namun jika ia mengetahui manik kosongmu, mungkin semuanya akan jelas bagi seorang Akashi Seijuuro.
Bahwa senyuman yang kau tampilkan adalah palsu.
My Stepsister!
*Chapter 3*
Story © alice dreamland
The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi
Genre: Romance, Family, Drama, Tragedy
Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, alur lambat/ngebut, AkashixStepsister!Reader
Ini jam makan siang.
Kau tengah berlari membawa sekotak bento di genggaman tangan.
Murid-murid mendelik saat melihat bento yang kau bawa. Beberapa berasumsi bahwa itu bentomu, dan kau memutuskan tuk makan di kantin.
Namun ada juga yang berpikir bahwa kau hendak memberikannya pada orang lain—dan hal tersebut sukses membuatmu dipertanyakan.
"Untuk siapa bekal itu?"
Sudah hampir sepuluh kali kau dicegat karena pertanyaan sepele itu—yang mayoritas dilontarkan oleh murid lelaki.
Kau membalas pertanyaan mereka dengan senyuman paksa tanpa mengatakan siapa lelaki beruntung itu—kakakmu.
Sesungguhnya, kau telah mempersiapkannya sejak pagi.
Namun salahkan ingatan jangka pendekmu—membuatmu lupa tuk memberikan bento tersebut pada kakakmu.
Yahh... Meskipun kau yakin banyak perempuan lain yang rela memberikan bento untuk kakakmu tersayang.
Kau menggeleng-gelengkan kepalamu.
Tidak!
Sebagai adik yang baik, setidaknya kau harus membantu sang kakak sebisa mungkin!
Pikir optimis!
Hm... Kakakmu kan orang yang kejam, apalagi tatapan mengintimidasi yang selalu ia tunjukkan saat berbincang dengan seseorang membuat nyali menciut tuk memberikan bekal padanya.
Ya! Pasti begitu!
Kau mengembangkan senyum seraya melangkahkan kaki menuju lorong kelas sebelas.
Sekilas, kau arahkan pandanganmu pada kotak bento dibungkus dengan kain merah marun pada genggaman tanganmu.
Kenangan tertimbun mengambang ke permukaan—membuatmu tersenyum miris.
"Kapan... terakhir kali aku membuatkannya bekal, ya?"
.
.
.
Sekumpulan manusia berambut pelangi tengah duduk membentuk lingkaran sambil bercengkrama ria di atap sekolah.
"Dai-chan!" Momoi Satsuki mengangkat kotak bekal berisi hidangan tak layak makan. "Aku membuatkannya untukmu!"
"Geh, Satsuki! Singkirkan itu!" Seorang lelaki berambut navy blue mundur sedikit saat Momoi mengangkat bekal tersebut ke hadapannya—Aomine Daiki.
"Tapi aku sudah membuatnya susah payah!" Momoi membantah. Ekspresinya mulai terlihat kesal.
"Tidak baik menyia-nyiakan makanan, Aomine-kun."
Suara datar khas Kuroko Tetsuya memecahkan adu argumen mereka.
"Tetsu-kun!" Momoi berbinar seraya memeluk lelaki bertubuh mungil yang duduk tenang di sebelahnya. "Sekali-kali lihatlah Tetsu-kun, Dai-chan! Ia bahkan mau memakan makananku!"
Kuroko hendak mengambil masakan Momoi, namun lelaki berambut kuning—Kise Ryota—menahannya dengan cepat.
"Jangan! Nanti Kurokocchi pingsan—ssu!" Kise berkomentar.
Telinga Momoi melebar. "Hidoi yo, Ki-chan!"
"Kalian berisik," seru seorang lelaki berambut hijau—Midorima Shintaro. Akashi di sebelahnya memilih tuk tak ikut campur dan fokus dengan papan shoginya.
Memang luar biasa dapat berkonsentrasi baik di tengah hiruk pikuk ciptaan rekan setimnya.
"Aka-chin tidak makan?—nyam." Lelaki berambut ungu—Murasakibara Atsushi—bertanya dengan nada malas.
Akashi mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari papan shoginya.
Keadaan masih ramai di lokasi tersebut. Hingga tiba-tiba—
Brak!
—kau membuka (membanting) pintu dengan keras, membuat semua pandangan teralihkan padamu.
Hening seketika.
"Ah, kurasa aku sedikit berlebihan," gumammu—terkejut karena menggunakan tenaga berlebih.
Kemudian kau menoleh—menemukan tujuh pasang mata memandangmu berbeda.
"E-Ettou...?" tanyamu canggung. Kau eratkan gengamanmu pada kotak bentomu. Sebetulnya, kau sering menjadi pusat perhatian. Namun itu di kelas—bersama dengan insan seumuran.
Dan ini?
Semuanya senpai, sukses membuatmu gugup.
Momoi yang melihatnya pun menghampirimu dengan senyuman manis. "Apa ada yang bisa kubantu?"
Kau mengerjapkan kedua mata.
Senyumannya... bercahaya.
Kau menekan kotak bento di genggamanmu seraya tersenyum pahit. "A-Aku mencari Sei-niichan."
Momoi menatapmu heran. "Sei-niichan? Siapa mak—"
"Sedang apa kau disini?"
Suara dingin khas Akashi Seijuuro membuatmu terlonjak. Kau pun menatap Akashi yang tengah menatapmu disela permainan shoginya.
"S-Sei-niichan!" serumu.
Akashi menajamkan pandangannya. "Ada perlu apa hingga kau mencariku kemari?"
Melihat respon dinginnya, kau menggigit bagian bawah bibirmu—seraya memaksakan sebuah senyuman. "A-Aku membuatkan Sei-niichan bento!"
"Aku tidak memintamu untuk membuatkanku bento."
"T-Tapi Sei-niichan kan belum makan!" bantahmu.
"Aku tidak perlu bento buatanmu. Sekarang, lebih baik kau pergi," jawabnya sengit.
Kau hendak membalas, namun suara kekanakan khas Kise Ryota mencampuri percakapan kalian.
"Huwaa, kawaii! Kau siapanya Akashicchi—ssu? Mengapa kau memanggilnya 'Sei-niichan'?"
Momoi di hadapanmu—yang sedari tadi tak kau hiraukan—ikut mengangguk. "Kau terlihat dekat dengan Akashi-kun, aku juga penasaran!"
"Hmph, sudah pasti dia adiknya—nanodayo." Midorima menimpali.
"Kan mungkin saja sepupunya, Midorimacchi!" Kise mencibir bagai anak kecil. Midorima tak menanggapi.
Sedangkan sisanya tak berkomentar—hanya diam mengamati tontonan baru yang menarik perhatian mereka. Tentunya kecuali Akashi yang terus menatapmu tajam.
"A-Aku adik tirinya." Kau tergagap. "O-Orangtua kami menikah dua hari lalu, d-dan aku mulai tinggal bersama Sei-niichan kemarin."
"Jadi—nyam—adik tirinya Aka-chin ya?"
Kau menoleh ke arah sang penanya—Murasakibara yang tengah memakan camilannya—seraya mengangguk kecil.
"Huwaa! Aku memang pernah dengar kalau ayah Akashicchi akan menikah lagi, ternyata dia bersaudara denganmu—ssu!"
"Hee, dia manis—seperti salah satu figure-ku di rumah."
Manik matamu melebar.
"Dai-chan! Jangan bicara begitu!" Momoi memukul pelan bahu Aomine. "Ah maafkan Dai-chan ya! Dia memang seperti itu."
Kau tersenyum kecut. Seperti figure ya?
Jika dipikir baik-baik, pernyataannya ada benarnya juga.
"Bagaimana kau bisa menemukanku disini?" tanya Akashi. Ia berdiri dan berjalan ke arahmu. Kau tersetak—mengerjapkan kedua mata seraya memfokuskan pandangan pada kakakmu.
"Aku dengar dari teman Sei-niichan," jawabmu singkat. "Jadi aku langsung kemari."
Akashi tak merespon ucapanmu. Namun segera merebut kotak bento tersebut dari tanganmu. Kau terkejut—apalagi melihat Akashi yang mulai membuka bento buatanmu.
Ah, ia kan belum makan semenjak sarapan. Normal kan jika ia kelaparan?
Tapi... bukankah Akashi bilang ia tak menginginkannya?
Ah, sudahlah.
Kau menggelengkan kepalamu dan bersorak dalam hati. Seharusnya kau justru gembira, bukan mempertanyakannya.
Akashi kembali ke tempatnya. Duduk, mengambil sumpit, dan memakan dadar gulung buatanmu. Kau menatapnya intens—takut mendapatkan respon negatif.
Bagaimanapun juga, kau tak ingin hubungan kalian semakin jauh.
"Enak."
Satu kata.
Namun cukup membuat hatimu bergelojak ria.
Kise menghampiri Akashi dan melihat bekal buatanmu. Manik matanya berbinar. Kau terkikik melihatnya. Sepertinya kau mulai merasa nyaman di tengah-tengah mereka.
"Apa kau mau?" tanyamu ramah. Kise menoleh ke arahmu penuh harap.
"Apa boleh—ssu?"
Kau mengangguk dengan senyuman tulus. Jarang-jarang kau dapat tersenyum sebebas ini.
Kise menatapmu girang. "Arigatou!"
Ia memelukmu dari depan—seperti anak kecil yang bahagia ketika dibelikan balon oleh ibunya. Kau menanggapinya dengan tawa kecil.
Namun tawamu memudar saat mengetahui Akashi menatapmu tajam. Akashi yang menyadari kau tengah memandangnya, melanjutkan aktifitas makan siangnya.
Kau menaikkan sebelah alis—sedikit heran.
Apa ada sesuatu yang salah?
Kise melepaskan pelukannya, berjalan ke arah Akashi seraya mengambil makanan.
"Oishiiii!"
Akashi tak memedulikan respon positif Kise mengenai makanan buatanmu. Pikirannya sedikit melantur.
Ia heran.
Kadang senyumanmu membuatnya merasa dirimu lebih sempurna—serta muak.
Namun kadang senyumanmu membuatnya merasa tenang.
Apa maksudnya? Apakah kedua senyuman itu berbeda?
Ah, Akashi tahu persis keduanya tak sama.
Namun ia tak tahu penyebabnya—faktor pasti yang membuatnya lain.
Dan...
Senyuman yang kau tampilkan pada Kise.
Entah mengapa memikirkannya membuat Akashi terusik.
Akashi mendesah disela-sela acara makannya.
Sungguh, Akashi tak mengerti.
Terlalu banyak emosi yang bercampur dalam hati.
Meskipun ia bisa mengontrolnya, sampai kapan semuanya dapat dipendam?
Ah, sudahlah.
Lagipula Akashi yakin—
—cepat atau lambat, kebenaran akan terkuak.
.
.
.
'Apa kau mau ikut pergi ke pemakaman? Jumat jam 8:30. Kutunggu depan Miami House.'
Secarik kertas itu kau baca berulang-ulang.
Sesungguhnya, kau tak ingin datang kesana. Karena kau tahu, ujung-ujungnya hanya akan memaksakan diri dan menangis sepuas hati di pemakaman.
Tapi...
Bagaimanapun juga, itu rumah baru sahabatmu.
Terlebih lagi, kau sudah lama tidak mengunjunginya—sekitar dua tahun.
"Hah.." Kau menghela nafas ringan. "Apa yang harus kulakukan?"
Kini merupakan jam pulang sekolah. Seharusnya kau sudah pulang—berbaring di kasur sambil mendengarkan lagu artis favoritmu.
Tapi sebagai adik yang baik, kau pun memutuskan tuk menunggu kakakmu—yang sedang ekstrakulikuler basket—di kelasnya.
Itulah penyebab utama dirimu kini tengah duduk santai di sebuah kursi dalam kelas 11. Kau tidak tahu kursi siapa yang kau duduki—yang pasti, tempat duduknya sangat bersih.
Kakakmu? Uh oh, tempat duduk kakakmu berada di sebelah kursi ini—dapat kau ketahui karena tas merah yang masih tergeletak di kursi.
Kau alihkan pandanganmu ke jam.
Jam tiga lebih.
Kau tersenyum simpul—mengambil setumpuk surat yang kau dapat pagi ini dan membukanya satu per satu.
Surat itu rata-rata berisi pernyataan cinta. Namun ada juga permintaan pertemanan—yang dengan senang hati kau terima.
Kau memang merupakan salah satu perempuan terpopuler di SMA Teiko—meskipun nilaimu merosot. Kau populer karena sifat dasarmu yang ceria, paras manismu, dan senyumanmu.
Ya, mayoritas pengirim surat-surat tersebut terpikat pada senyumanmu.
Senyuman yang bahkan tidak dari sepenuh hati dan kau ciptakan demi menutupi perasaanmu.
Kau menghela nafas—melipat kedua tangan di atas meja seraya menimbun wajah di dalamnya, namun masih dapat melihat melalui sela-sela tangan.
Kau gappai tanganmu menuju kertas surat dalam amplop biru—namun sebuah tangan sudah terlebih dahulu mengambilnya.
Kau terbelalak. Spontan kau tegakkan tubuhmu dan menatap langsung sang pencuri surat.
Akashi Seijuuro.
"SEI-NIICHAN?!"
Salahkan dirimu—terlalu fokus dengan pikiran, tak mendengar langkah seorang Akashi berjalan dan bahkan tengah berdiri di hadapanmu sekarang.
Tapi bukan itu masalahnya.
Surat itu!
Oh Tuhan, bahkan kini ia telah membacanya!
"Apa ini?" Akashi menaikkan kertas yang tengah kau baca ulang. Sorot matanya memerintah dirimu tuk segera menjawab.
"Hanya surat biasa, Sei-niichan." Kau tersenyum kecil—meski hatimu berteriak tak karuan. "Lagipula aku sudah membacanya."
Akashi menatapmu dengan tatapan mengintimidasinya.
"Aku tidak bertanya itu. Aku memintamu tuk menjelaskan padaku arti tulisan dalam surat ini."
Deg!
Kau mengepalkan tangan mendengar perintah Akashi.
"A-Ah, i-itu temanku... Ia mau mengajakku pergi." Kau menjawab ragu. Pandangan Akashi semakin menekanmu.
"Dan untuk apa ia mengajakmu ke pemakaman?"
Deg!
Kau membatu—tak dapat berkata-kata.
Beberapa detik Akashi menunggu dengan sabar, sementara pikiranmu melantur mencari jawaban terbaik.
"M-Menjenguk s-seseorang." Suaramu mengecil.
"Siapa?" tuntut Akashi.
Kau menggigit bagian bawah bibirmu. "S-Seseorang..."
"Siapa?"
Kau hendak menjawab nama, namun memori indah kau dengan dirinya yang telah tiada berputar kembali—menghujanimu.
Membuatmu tersenyum sedih, namun segera kau ubah menjadi senyuman manis. "S-Sudahlah Sei-niichan, itu tidak penting! Lebih baik kita pulang sekarang!"
Pandanganmu mengosong sekilas saat mengucapkannya.
Ya, hanya sekilas.
Namun Akashi mengetahuinya.
Dan itu cukup untuk menguak semuanya.
Semuanya.
Karenanya, di detik itu juga, Akashi mengerti sepenuhnya mengapa ia benci dengan senyumanmu.
Kau menggunakan topeng berupa senyuman manis.
Mempertahankan diri tuk nampak optimis, meskipun kesedihan t'lah memenuhi hati.
Karenanya, hampir seluruh senyuman yang kau tampilkan adalah palsu.
Fake.
Tidak nyata.
Tak sepenuhnya dari hati.
Senyuman memanglah senjata andalanmu—karena Akashi pun pernah merasa kalah akibat hal tersebut.
Namun kini Akashi tahu.
Kau hanya berusaha mentupi semuanya.
Menutupi dan memfantasikan hal ditumpu dengan harapan—sebuah senyuman.
Meyakinkan diri bahwa keinginan akan terkabul dan menolak realita bahwa khayalanmu merupakan rekayasa semata.
Kau telah berjuang keras, namun Akashi datang—
—menghancurkan semua harapanmu dengan sebuah kalimat fakta.
"Senyumanmu palsu. Dan kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika terus melanjutkan aktingmu."
Kau tersentak.
Perlahan, air matamu mengalir.
Setetes, dua tetes, disusul beribu tetes.
Tangisanmu pecah.
Menggema dalam ruang kelas sebelas.
.
.
.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Akashi Seijuuro, ia sadar.
Bahwa dirinya salah dan kau benar—untuk satu hal.
Akashi jauh lebih sempurna dibandingkan dirimu.
.
Oke, kenapa jadi begini alurnya? :'3
Tragedynya terasa? /plak/ Sungguh, waktu saya baca ulang saya nemuin banyak kesalahan di chap lalu *tears* Tapi sudah saya edit kok! :3
Ah! Karena tragedy sudah lewat, saya rasa fluff akan dimulai dua chap atau bahkan chap depan /lompat2/ Bagaimanapun juga, saya kan fluffy lover xD
Yoshhhh sebenernya saya mau update kemarin, tapi karena keadaan tak memungkinkan (saya banyak TO *hiks*) akhirnya saya memutuskan hari ini aja.
Btw, nembus 2k weeeeewwww /plek
Oya, makasih banyak reviewer pertama chap laluuuu :''3
-guest-sama
Iya, saya juga ngerasa begitu :'v /huweee
Makasih banyaakkkk /terharu/ Sekali lagi arigatou gozaimasu! :'D
Makasih banyak buat semua yang sudah membaca, fave, follow, dan mereview! X3
Sekian!
~alice dreamland
