Kau tak akan pernah bisa lepas Kuchiki, karena sejak awal kau milikku. Tak peduli seberapa besar usahamu tuk berlari, meski peluh mu kalahkan lautan sekalipun, takdir hanya akan berucap
"Kuchiki Rukia belongs to Kurosaki Ichigo"
- … -
Bleach milik Tite Kubo sama
AU, OC, typo, klik back sebelum menyesal T.T
.
.
.
.
Chapter 3 : Concern
.
.
.
.
Ichigo keluar dari kamar Rukia dengan amarah yang menumpuk, di kamar itu, Rukia, hanya dapat berharap caramel tak akan jatuh. Sebelum Ichigo masuk ke mobilnya, kepalan tangan telah berhasil menghantam rahangnya dengan keras hingga meninggalkan lebam. Grimmjow tanpa kata-kata hanya menatap sengit lawannya, tapi lawan itu hanya tersenyum meremehkan, dan memilih untuk meninggalkan tempat sebelum baku hantam kian parah.
Tergesa Grimmjow menuju kamar Rukia, hingga tanpa sadar ia hampir saja mematahkan tangkai lily yang tergenggam.
"Grimmie," Tak sempat Rukia melanjutkan kata, Grimmjow langsung memeluknya dengan erat. "Gomen lily nya hampir patah." Lirih Grimmjow berbisik di telinganya. Tak tahan lagi, ia pun menangis, mengotori kemeja mahal Grimmjow yang memang tak beraturan lagi karena tergesa mengambil penerbangan awal dari Las Noches ke Soul Society hanya untuknya.
Hanya Grimmjow, yah seharusnya hanya dia yang berhak memiliki hati Rukia, tapi bukankah gelas yang pecah tak akan utuh kembali? Adilkah jika pangeran mendapatkan gelas yang tak sempurna karena sebelumnya telah pecah? Tidak. Rukia tidak setega itu, ia tak ingin memberikan hal yang tak sempurna untuk malaikat penolongnya, Grimmjow tak pantas mendapatkan hatinya yang telah hancur.
.
.
.
"Masalah lagi nee?"
"Urusai quincy!"
"Kau terlalu jauh menyiksa dirimu sendiri Zangetsu, tegaslah!"
"Aku hanya ingin bermain, dan aku pastikan permainan akan berakhir seperti yang aku inginkan." Ungkapnya angkuh.
"Permainan huh? kau munafik, memerintahkanku baik tapi kau menjadi sisi gelapnya. Kau berkata tak peduli tapi kau selalu mengawasi. Kau tak akan pernah menang Zangetsu." Dengus pria berkacamata seraya pergi.
munafik huh? andai aku masih bisa jujur, sungguh ini semua membuatku muak, kenapa hari ini harus datang?
.
.
.
Setelah memastikan pengawal biru a.k.a Grimmjow, benar-benar mau menurutinya untuk membersihkan diri. Perlahan kaki mungil yang masih lemah itu melangkah menjauhi pintu yang terlihat sama dengan sisi dan hadapannya. Tubuhnya mungkin masih lemah, tapi bukan Kuchiki namanya jika hatinya tak sekeras batu dan sedingin es, Ia nekat melintasi taman rumah sakit dan menumpangi taxi di seberang jalan.
Belum sempat ia melangkah, sebelah tangannya tergenggam jemari kokoh namun dengan gerakan lembut.
"Akh,"
"Vorsicht"
Violet itu mengerjap perlahan, dan bibirnya membentuk huruf O besar saat menyadari kecerobohannya. Lampu untuk pejalan kaki masihlah menandakan keberanian, namun ia dengan lancangnya hendak menantang balik.
"Arigatou," Namun hanya dibalas tangan kanan yang terangkat dari jarak 3 meter, cukup jauh dengan posisi mereka yang seperti barisan.
Ia takut salah sangka, namun postur itu begitu akrab pada kedua netra, meski logat Jerman terasa kental.
.
.
.
Mesin beroda empat itu telah sampai pada tujuan. Kini rautnya tak sedingin sebelumnya, ia benar-benar terlihat rapuh. Sosok wanita bertubuh mungil berdiri menghadap bentangan bebatuan yang menjulang dari tanah berlapis permadani hijau. Dengan background taxi yang masih terlihat mengkilap. Terpakir rapi dibawah naungan pohon sakura yang nampak kokoh. Siluetnya terbentuk sempurna dengan biasan langit senja. Warna yang begitu dikaguminya sekaligus menyakitinya dalam waktu bersamaan.
"Baa-san, apakah aku sedosa itu?"
Terus ia menangis pada nisan bertulis "Kurosaki Masaki". Setelah sebelumnya ia juga menghabiskan belasan menit di kedua gundukan lain. Tanpa lelah ia terus berlutut dengan iringan tangis yang terdengar begitu pedih, seolah ia sedang dihakimi oleh gundukan tanah dihadapannya.
Lagi. Tubuh itu terguyur ribuan tusuk air yang berjatuhan dengan ganasnya dari langit, seolah sedang melakukan penyerangan dalam arena perang. Namun ia masih bergeming, tak menghiraukann tubuhnya yang kian memprihatinkan. Hingga sebelum kedua netra itu tertutup, ia masih menangkap amber yang menatapnya dengan sama, seperti 3 tahun lalu.
.
.
.
"Astaga, berhentilah memarahiku Nee-san, aku tadi hanya meninggalkannya sebentar untuk mandi."
"Kau bodoh Grimm! Ruru-chan itu masih sakit!"
"Jangan teriak-teriak Nee-san!"
"Kau lah yang jangan teriak-teriak baka!"
"Hei... hei, tenanglah kalian berdua, kalian sudah membuat kehebohan disini." Tegur Gin berusaha sabar. Meski jauh di lubuk hati ia juga kesal mendapati dua orang dihadapannya yang bertindak bodoh dalam keadaan seperti ini.
Masih dengan bersungut-sungut, mereka memutuskan berpencar mencari keberadaan nona Kuchiki. Rasanya kepala biru itu akan meledak layaknya balon menghadapi ini semua. Rukia yang menghilang, kakak perempuan cerewet yang menyalahkannya, calon kaka ipar yang tak mendukungnya, omelan dari kedua orangtua yang paling ia cintai. Dan mungkin puncaknya adalah sekarang. Saat azure menangkap tubuh gadisnya terbaring lemah dalam gendongan lelaki bertubuh jangkung dengan rambut mencolok.
"Kau apakan Rukia, Kurosaki." Geram Grimmjow tertahan.
Namun pemilik marga Kurosaki tetap berjalan lurus, sebelum dengan paksa kaki itu terhenti karena kerah bajunya yang ditarik kuat dari belakang, sebelum hantaman lagi-lagi ia dapatkan masih pada hari yang sama.
"Engh,"
Segera saja, tubuh mungil itu berpindah tempat, dikedua tangan kokoh pemilik rambut mencolok lainnya yang begitu posesif. Dan langkah kaki menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Hati itu terasa kosong, sangat kosong. Namun ia tepis beragam prasangka baik, kala emosi memegang kekuasaan tertinggi.
.
.
.
2 hari telah Rukia habiskan di rumah sakit, meskipun Nell telah memastikan bahwa ia mendapatkan pelayanan terbaik, tapi ini tetap lah rumah sakit dengan beragam virus yang memenuhi partikel-partikel di dalamnya dan aroma racikan obat yang pekat. Rukia tetap tidak tahan terlalu lama di rumah sakit, sehingga ia memastikan agar Nell merayu dokter agar ia diijinkan pulang, toh demamnya sudah turun.
Rukia pulang diantar oleh Grimmjow karena Nell dan Gin harus segera menyiapkan pesta pernikahan mereka yang tersisa 1 hari lagi. Sungguh Rukia merasa bersalah karena kondisinya yang payah menghancurkan rencana orang yang ia sayangi.
"Nee Grimmie... what do you think about Loly?" Tanya Rukia tiba-tiba, mencoba memecah keheningan.
"Maksudmu wanita cerewet berkuncir dua itu?"
"Ya... ia menarik kan? Great man should get the great lady huh!"
"Are you kidding me dear? Kau ingin aku tuli karena harus selalu mendengar ocehannya itu!" Seru Grimmjow histeris yang hanya dibalas dengan tawa renyah Rukia.
"May i dear?" Tanya Grimmjow serius seraya mengunci tatapan Rukia hanya kepadanya.
"Sorry, barang yang pecah tak semudah itu diperbaiki." Balas Rukia lantas beranjak meninggalkan Grimmjow termenung di dalam mobil, namun ia hanya tersenyum dan secepatnya menurunkan tas Rukia dari bagasi lalu menuju apartement mereka.
"If it was easy, i won't love you Kuchiki-sama." Bisik Grimmjow tepat setelah Rukia berhasil membuka pintu apartement. Rukia hanya memutar kedua bola matanya bosan, sedangkan Grimmjow memasang seringai mengerikan yang terkesan pedih.
.
.
.
Sore menyambut, Rukia bersiap karena sahabat-sahabatnya akan berkunjung. Sebagai pengganti ketidakhadiran mereka saat menjemput kepulangan Rukia dari rumah sakit. Grimmjow sibuk memasak beberapa menu yang sempat ia pelajari saat perjalanan bisnis ke Las Noches.
Ya, memang ia jago memasak, seringnya memang ialah yang berperan di dapur dan menyediakan sajian bermutu untuk Rukia dan Nell, oh terkadang Gin jika memang ia berkunjung. Sedangkan kedua wanita penting di hidupnya selain ibu tercinta, hanya membantu menyiapkan bahan, terakhir kali Grimmjow mengijinkan mereka memasak, ia nyaris mati kelaparan karena mereka memasak omelet membutuhkan waktu setengah jam.
Bukan... bukan karena mereka payah memasak, atau soal rasa, masakan mereka sangatlah lezat, namun mereka selalu meributkan hal yang tidak penting seperti komponen yang tepat, kalori dll. sebelum mereka memasak, dan itu benar-benar memakan waktu.
Bunyi bel apartement berdenting tepat setelah Grimmjow dan Rukia menyelesaikan semuanya.
"Okaeri... RUKIA! hei Kuchiki-sama!" Astaga menyesal rasanya membuka pintu dan harus berhadapan dengan ketiga manusia ajaib. Oops wait kenapa hanya tiga? Oh ayolah... sejak kapan Inoue termasuk manusia ajaib? She's normal, mungkin yang ajaib hanya makanannya yang entah terinspirasi darimana.
"Astaga... apa kalian tak merasa sakit tenggorokan hah!" Sahut Grimm dari arah dapur.
"Oh ayolah Grimm-kun sayang, kau sungguh berlebihan." Sahut Rangiku sembari bergelayut manja pada Grimm. Setelah sebelumnya dengan begitu cerobohnya melempar paperbag berisi kue ke sembarang arah. Untung saja, mereka memiliki Senna sebagai penangkap handal dalam permainan baseball.
"Astaga Nell... mau kau kemanakan Shuhei, kalau sekarang kau begitu manjanya pada Grimm!" Ketus Senna.
"Eh... dimana Inoue?" Tanya Rukia setelah menyadari temannya yang super duper lembut itu tak ikut meramaikan suasana.
"Ah... dia terlalu senang dengan ajakan kencan Kurosaki, mungkin akan menyusul kesini nanti malam... mmmm atau mungkin tidak, oh ayolah Ru, yang penting kami bertiga ada disini." Jawab Momo tanpa menyadari raut Rukia yang menegang sesaat.
"Hei Kuchiki-sama, kau seperti zombie huh," Ledek Senna.
"Ru," Baritone itu tampak sedikit lebih berat dari biasanya, menandakan bahwa ia akan memulai perbincangan yang serius.
"Ah... bagaimana ceritanya? Sepertinya aku ketinggalan gosip." Tanya Rukia mencoba antusias dan menenangkan kekalutannya, mencoba menghindari Grimmjow yang menatapnya dengan sendu dari arah dapur.
"Ehem ehem... biar Lady Rangiku yang menceritakan detilnya," Rangiku bersiap untuk menjadi pembicara ulung.
.
.
.
Soul Café
Dua surai terang itu nampak kian bersinar dengan setting warm lamp yang mengarah ke tempat duduk mereka tepat di sudut ruang, tersamarkan oleh beberapa sekat yang sengaja diatur secara artistik. Suasana sangat nyaman, alunan musik klasik mengalun lirih. Kedua mata saling memancarkan keseriusan. Kesepakatan telah di dapatkan, hanya menunggu semua berjalan sesuai alur yang telah di rancang sang penulis. Karena sejak benang itu terputus, ia lah pemegang kekuasaan.
.
.
.
"Mereka jadian... mendadak memang tapi menurutku mereka sangat serasi." Ujar Momo semangat.
"Huh seriously? aku lebih suka Hime dengan Uryu, jauh lebih baik orang itu daripada rambut aneh?" Senna tak mau mengalah.
"Ah biarlah, lebih baik kita ikut goukon lagi, aku bosan dengan Hisagi." Jawab Rangiku asal, ia telah mabuk dengan sake-sake nya... hei! Ia berencana mengadakan pesta sake untuk menyambut kesembuhan sahabatnya... wanita gila.
Ketiga wanita itu asyik membahas tentang Inoue dan Kurosaki, atau mungkin pasangan mereka masing-masing.
Momo yang hanya tertarik dengan bosnya sendiri, Hitsugaya, meskipun mereka tidak mungkin pacaran karena Hitsugaya adalah saudaranya sendiri,yah meski sepupu jauh. Itulah mantra penenang kegalauan hatinya selama ini, meski Izuru Kira, teman kantornya telah lama memberikan perhatian khusus yang tak jua ia tanggapi.
Senna yang mengeluh migrain karena Renji yang terlalu sering menghubunginya untuk masalah sepele, dan Rangiku yang makin asal berbicara karena pengaruh sake.
Mereka tidak menyadari bahwa pemilik apartement telah meninggalkan ruang santai. Menepi ke balkon, sekedar menikmati angin sore sembari menatap senja. Mencoba mengenang kah? Entahlah.
"Ru... i'm here dear."
"I know Grimmie."
"Apa yang aku lewatkan?"
"Ia ingin meremukkanku Grimm...entah apa alasannya, hah, apa ia tak lelah?
"Itukah orang yang kau harap akan mengerti? Bahkan ia selalu bertingkah tanpa tahu yang sebenarnya!" Geram Grimmjow menahan emosi.
"That's our business, kenapa jadinya melibatkan Inoue, harusnya cuma kami berdua kan,"
"Dan aku tak akan biarkan bajingan itu mendekatimu sedikitpun Ru... not after all."
Sejak lama sebenarnya Grimmjow menyimpan kemarahannya, kemarahan atas nasib yang menimpa gadis mungil bermata violet. Marah karena cahaya itu meredup, namun ia tak akan menyerah, redup akan dapat bersinar kembali jika ia menemukan energy baru kan?
Grimmjow rela melakukan apapun agar cahayanya kembali lagi, bahkan senyum itupun tak sehangat dulu, baginya yang telah mengenal Rukia dari kecil, senyum itu masih terasa dingin meski selebar apapun bibir berusaha tertarik, ah lupakan senyum 2 cm, bahkan senyum ala joker pun tetaplah dingin yang terasa.
Oh jangan lupakan kemarahannya pada satu sosok lagi, sosok yang akan selalu ia awasi semenjak kehadirannya. Memastikan cahayanya tetap aman di tengah beragam kepura-puraan. Namun belum saatnya ia mengungkap tabir, sedikit bersabar, sekedar mengikuti alur, tapi jangan remehkan, karena ia pun telah menyiapkan permainannya sendiri.
.
.
.
"Grimm, kau belum menceritakan kenapa kau bisa membawaku kembali ke kamar waktu itu." Ucap Rukia tiba-tiba dengan pancaran mata yang nampak sengit. Sedangkan lawan bicara nampak tegang, terlalu malas untuk kembali menyampaikan kabar yang akan menambah luka. Akhirnya ia hanya memberikan cengiran bodoh seraya berteriak mengajak seluruh wanita itu untuk menyantap masakannya.
Gadis Kuchiki itu tahu, ia adalah keturunan Kuchiki yang dibekali insting tajam. Namun ia hanya ingin sebuah kejujuran, bukanlah sosok sahabat birunya yang harus terus menerus menguatkannya padahal ia sendiri begitu rapuh. Yah, siapa sangka wajah sangar itu memiliki hati layaknya bongkahan es. Yang sangat mudah hancur jika terhempas dengan keras. Namun es itu berusaha ia bangun merangkak, menggantikan retakan yang selalu terbentuk kala melihat gadisnya terluka.
.
.
.
Ruchia active
Ruchia : "jika kau berani menghadapi percikannya, maka kau harus terima konsekuensinya saat kemudian hari ia melahapmu. tapi jika kau tanya tentangku, aku tak pernah berada di posisi itu, karena sejak awal, aku hanyalah setumpuk abu"
- TBC -
RnR ya minna san
Vorsicht : Hati-hati dalam bahasa jerman, kalau tidak salah .
Arigatou untuk Eonnichee835, Ichiruki HF, dan Nozoki yang masih mau baca Akai Ito meskipun ngulang hehehe.
