Please, Look At Me
Author : BunnyJungie
Cast : Vkook, Namjin, Minyoon, Taegi, Hopekook
Genre : Hurt,Family, Romance, Friendship
Summary : Aku mohon lihat aku hyung –Jeon Jungkook ... Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu –Kim Taehyung

.

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

Preview

.

.

"Kami tak bisa memaksa kalian memberitahu kami sekarang, tapi jangan takut untuk menceritakannya pada kami. Kami pulang, jaga Jungkook Tae." Ujar Namjoon lembut dan setelahnya pergi menyisakan sang pemilik rumah.

"Taehyung-ah ...

.

.

Part 4

.

Taehyung POV

.

.

"Taehyung-ah ... aku rasa ini sudah cukup." aku menatap bingung pada pria berkulit pucat di sampingku ini saat mendengar ucapannya

"Maksudmu hyung? Aku tak mengerti?" tanyaku. Dia menatapku dengan pandangan sendunya lalu tersenyum kecil.

"Hubungan kita ... aku rasa kita tak bisa meneruskannya lagi." jelasnya membuatku membulatkan mataku terkejut.

"Hyung, kau pasti bercanda kan?" tanyaku lagi tak percaya. Yoongi hyung menarik kedua tanganku untuk digenggamnya. Dia memberikanku senyum manis yang begitu aku suka.

"Tae ... percayalah aku juga tak ingin mengakhirinya. Tapi aku harus melepasmu, aku tak ingin kehilangan Jungkook. Dia lebih berharga dari hubungan kita, jadi aku harap kau mengerti." ujarnya. Aku diam mematung mendengarnya, dadaku semakin sesak hingga membuat kedua mataku terasa perih dan air mataku siap meluncur kapan saja. Aku menggenggam kedua tangannya lebih erat dan menatapnya dengan tatapan memohonku.

"Hyung, aku mohon ... aku tak mungkin bisa melupakanmu. Aku sangat mencintaimu hyung, jangan seperti ini. Jebal." ucapku memohon.

"Aku yakin kau bisa Tae. Kau hanya perlu belajar mencintai Jungkook dan dengan seiringnya waktu kau pasti bisa membuang perasaanmu padaku." katanya dengan senyum manis namun tetap tak melunturkan gurat luka di wajahnya. Dia memelukku erat, aku segera membalasnya. Memejamkan mataku menikmati rasa hangat dari tubuhnya juga wangi vanilla dari tubuhnya.

"Selamat tinggal. Aku mencintaimu Tae." ucapnya lirih di telingaku. Aku semakin mengeratkan pelukanku tak ingin membuatnya pergi. Yoongi hyug melepaskan pelukannya lalu berbalik untuk beranjak pergi dari ruang kerjaku dan juga rumah ini. Hatiku semakin berdenyut sakit menatap tubuh pria yang aku cintai semakin jauh dari penglihatanku.

"ARGHHHH!" teriakku dengan sangat kencang seraya membanting benda-benda yang ada di sekitarku. Aku sudah tidak perduli lagi jika teriakkanku akan membangunkan Jungkook seperti tadi, karena yang sekarang aku tahu adalah membuat sedikit saja rasa sesak di dadaku menghilang. Ini benar-benar sakit rasanya seperti ribuan pisau menusuk dadaku.

.

.

POV end

.

.

Author POV

.

.

"Kuharap kau bahagia Taehyung-ah. Mianhe." gumam Yoongi tepat saat ia meninggalkan rumah milik Taehyung. Ia menatap sendu rumah itu dari dalam mobilnya, air matanya terus mengalir sedari tadi. Yoongi mengendarai mobilnya pelan dengan keadaan menangis, isakan tangisnya begitu terdengar lirih dan amat sangat penuh dengan luka. Hingga akhirnya Yoongi menghentikan laju mobilnya saat sampai di area parkir apartemennya, namun ia tetap diam di dalam mobil dan kembali terisak pelan. Ia memukul kencang dadanya yang terus berdenyut perih, suara isakannya semakin terdengar di dalam mobil yang begitu hening.

"Hikss..hik..kss...hik...ss"

"Maaf. Maaf. Maaf ... Taehyung-ah" gumamnya lirih.

.

.

.

Suara musik terus berdegung sangat keras di tempat itu seiring dengan hari yang semakin larut, bahkan tempat yang bernama club malam itu kini terlihat seperti lautan manusia. Banyak orang yang menari tidak jelas di lantai dansa bukan hanya itu bahkan tidak segan-segan mereka berhubungan intim di bangku yang tersedia di tempat itu. Hoseok hanya memandang malas gadis-gadis yang mulai menatapnya genit, ia memejamkan matanya sekedar untuk menenangkan kepalanya yang terasa pusing karena masalah yang begitu rumit.

"Kau baik hyung?" sebuah suara yang sudah dihafalnya terdengar di telinganya. Hoseok membuka matanya untuk melihat seseorang itu, wajah Jimin lah yang ia lihat saat menoleh ke samping kanannya. Hoseok hanya tersenyum kecil sebagai jawabannya lalu kembali menyenderkan kepalanya pada senderan sofa dan memejamkan matanya.

"Aku akan memesan minuman." seru Jimin lagi dan Hoseok hanya berdehem mengiyakan.

Seorang pelayan datang membawa dua botol vodka untuk mereka berdua, setelah berterimakasih dan menunggu sang pelayan pergi barulah Jimin menuangkan dua gelas vodka untuknya dan Hoseok. Jimin menyerahkan satu gelas vodka pada Hoseok yang diterima langsung oleh pria itu, mereka meminum minumannya dalam diam.

"Sebenarnya ada apa hyung?" tanya Jimin saat Hoseok dan juga dirinya berhasil meminum seteguk vodka. Hoseok menatap kosong gelas yang berada di tangannya, ia menghela napas pelan lalu menatap Jimin sekilas dan kembali menatap gelas miliknya.

"Dua keparat itu sepasang kekasih Jimin-ah." ujarnya pelan namun mampu didengar oleh Jimin. Jimin tersentak kaget mendengar ucapan Hoseok, dia masih tahu betul dua keparat yang dimaksud Hoseok namun ia tak mau salah sangka.

"Maksudmu Taehyung dan Yoongi hyung?" tanya Jimin lagi namun kini nadanya terdengar sendu. Hoseok mendesis mendengar kedua nama itu disebut-sebut oleh Jimin.

"Jangan menyebut namanya! Aku muak mendengarnya!" desisnya tajam. Jimin hanya mampu terdiam bungkam mendengar fakta itu, ia terluka mendengar segala kenyataan yang terjadi.

"Haha ... jadi ini alasan dia selalu menolakku?" tanyanya entah pada siapa seraya menertawakan dirinya sendiri karena merasa bodoh. Hoseok hanya diam mendengar petanyaan Jimin yang entah diajukan pada siapa, bukan hanya Hoseok yang terluka tapi Jimin pun terluka di sini. Hoseok tahu sebesar apa perasaan Jimin pada pria berkulit pucat itu, tidak. Tidak hanya Hoseok. Semua orang tahu bagaimana seorang Park Jimin mengejar cinta Min Yoongi, karena bukan hanya sekali dua kali Jimin menyatakan perasaannya pada pria semanis gula itu. Meskipun selalu ditolak tapi Jimin tidak pernah menyerah untuk menarik perhatian Yoongi-nya. Mungkin perasaan Hoseok pada Jungkook hanya Yoongi yang mengetahuinya karena pada dasarnya Hoseok selalu mencurahkan perasaannya pada Yoongi, Hoseok juga bersikeras untuk jangan memberitahu siapapun tentang perasaannya. Hoseok hanya tidak mau Jungkook jadi merasa tidak nyaman padanya, lagipula Hoseok tahu betul siapa yang dicintai pria kelinci itu jadi ia memutuskan memendam semuanya.

Semakin larut Hoseok dan Jimin semakin mabuk, bahkan kini mereka membiarkan tubuh mereka disentuh oleh wanita-wanita di sana. Jimin sudah sangat mabuk sedangkan Hoseok hanya sedikit mabuk tapi tetap saja kepalanya berputar-putar. Merasa tidak akan bisa membawa mobil Hoseok memutuskan untuk menelepon salah satu sahabatnya yang tentunya bukan Taehyung atau Yoongi, Hoseok menelepon Namjoon untuk menjeputnya dengan Jimin.

"Yoboseo, hyung?" sapanya. Hoseok menyandarkan tubuhnya pada sofa sembari memejamkan matanya yang terasa berat.

"Bisa kau jempu aku dan Jimin di club?" tanyannya.

"Aku akan kirimkan alamatnya. Hmm.. aku tunggu." ujarnya lalu meutup telponnya. Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Namjoon, seluruh kenangan manis persahabatan mereka melintas di kepalanya. Membuat Hoseok mendesah kecewa karena persahabatan mereka kini sudah diambang kehancuran hanya karena cinta.

"Aku mencintaimu Jungkook-ah" gumamnya pelan. Sangat pelan.

.

.

Author POV end

.

.

Jungkook POV

.

.

Aku terbangun saat suara teriakan Tae hyung terdengar hingga kamarku, aku bergegas turun dari ranjangku lalu pergi menghampiri Tae hyung. Aku berjalan tergesa-gesa hingga pintu ruang kerjannya, kuraih kenop pintu bercat cokelat itu namun saat akan kutekan ke bawah gerakanku terhenti. Air mataku terjatuh saat mendengar kaliamat yang ia teriakan. Tanganku terjatuh lemas di kedua sisi tubuhku, tubuhku terpaku di sana. Tenggorokanku tercekat mendengar isakan lirih yang kini terdengar di dalam sana, kedua kakiku melemas hingga membuatku terjatuh di lantai yang begitu dingin. Aku meremas kuat dadaku saat luka itu kembali tercetak dan semakin melebar mengerogoti hatiku, aku menangis dalam diam bersama dengan suara isakan yang terdengar begitu lirih dari Tae hyung membuatku semakin terperosok dalam luka.

"Maafkan aku hyung..." ujarku lirih.

Aku segera beranjak pergi menuju kamarku sebelum Tae hyung menyadari bahwa aku berada di sini, aku juga takut Tae hyung melihatku sedang menangis saat ini. Aku berjalan dengan sangat pelan menuju kamar, isakkanku sudah menghilang namun air mataku tetap mengalir deras dari pelupuk mataku. Aku membuka kenop pintu kamarku dengan tangan yang bergetar, lalu menutupnya pelan-pelan. Aku berjalan menuju ranjang, menelusupkan wajahku pada bantal agar tak ada yang mendengar suara isakanku. Tangisku benar-benar pecah malam ini, luka yang sudah kupendam selama tujuh tahun sekarang membuncah menjadi tangisan pilu. Aku menangis sepanjang malam tanpa seorang pun tahu, dan akhirnya terlelap karena mataku terlalu lelah karena banyak menangis.

Aku terbangun saat kurasa hari sudah pagi, aku menggeliatkan badanku yang terasa pegal karena terlalu lama menangis semalam. Aku melangkah turun dari ranjangku lalu berjalan menuju cermin yang tak jauh dari tempat aku berpijak, aku meringis pelan menatap wajahku yang terlihat begitu menyeramkan. Mata sembab dengan lingkaran mata panda yang tercetak jelas, jauh dari itu bahkan kini pipi tembamku semaki terlihat tirus. Aku benar-benar kacau. Sangat kacau.

Trass...

Kutolehkan wajahku ke arah jendela yang terbuka saat rintikkan air hujan turun semakin lebat. Kugerakan kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman seraya menatap hujan yang turun membasahi kota Seoul, kulangkahkan kaki menuju balkon kamarku. Kugeser pelan pintu balkon lalu melangkah semakin keluar hingga membuat tubuhku terkena air hujan. Aku memejamkan mataku dengan senyuman yang masih terpatri indah di wajahku, aku begitu menyukai hujan. Ya aku menyukai hujan sejak dua bulan lalu. Sejak pria itu menorehkan luka yang sudah cukup lebar menjadi semakin lebar. Aku suka saat hujan mampu meredam isakanku, aku suka hujan saat ia mampu menutupi mata merahku dan aku sangat suka saat hujan mampu menghapus air mataku.

.

.

POV end

.

.

Author POV

.

.

Yoongi melangkah cepat menyusul sosok pria bersurai orange yang tengah berjalan di lobi kantor. Yoongi mengejar karena ingin bertanya kenapa sejak pagi tadi Jimin selalu mengabaikannya. Yoongi terus mempercepat langkah kakinya untuk menyamai langkah kaki pria itu,

Grep

-berhasil. Ia berhasil menahan pergelangan tangan pria yang sejak tadi dikejarnya, dengan sekali tarikan ia mampu membuat sosok itu kini berhadapan dengannya.

"Jimin-ah? Kau ini kenapa?" tanyanya heran. Tentu saja Yoongi heran dan bertanya-tanya kenapa Jimin terus saja menghindarinya sejak pagi, padahal biasanya Yoongi selalu dibuat kesal oleh pria ini karena segala tingkah lakunya. Dan jika Yoongi perhatikan lagi Jimin terus saja menatapnya tajam namun meskipun pria ini menatapnya tajam Yoongi mampu menangkap sorot kecewa dari mata cokelat tua milik Jimin. Yoongi terus menatap Jimin yang hanya diam menatapnya malas, Jimin bahkan dengan santai melepaskan tangannya yang dipegang oleh Yoongi kasar.

"Aku baik." balasnya dingin membuat Yoongi membulatkan matanya tak percaya karena nada bicara Jimin yang begitu dingin.

"Jika memang kau baik, kenapa kau selalu menghindariku sejak pagi?" tanya Yoongi lagi. Jimin mendesis kesal mendengar pertanyaan yang diajukan oleh pria yang dicintainya setengah mati itu.

"Aku baik-baik saja. Sudahlah hyung aku ingin pergi makan." ujar Jimin kesal. Emosi Yoongi langsung tersulut mendengar jawaban ketus dari Jimin, padahal ia sudah setengah mati menahan segela emosinya karena Jimin terus mengabaikannya.

"Park Jimin! Kau itu kenapa sebenarnya?!" bentak Yoongi pada Jimin. Jimin hanya tersenyum yang begitu terlihat seperti meremehkan Yoongi. Jimin berjalan satu langkah maju semakin dekat dengan tubuh Yoongi, ia menyeriangai dengan tatapan tajam juga penuh amarah.

"Kau tanya aku kenapa?" tanya Jimin "Seharusnya aku yang bertanya padamu kenapa!" lanjut Jimin pelan namun penuh emosi. Yoongi mengerjab bingung mendengarnya. Ia tidak tahu sama sekali apa yang dimaksud oleh Jimin. Sangat tidak mengerti.

"Apa maksudmu?" tanya Yoongi tak mengerti.

"Kau jelas tahu apa yang kumaksud hyung. Berhenti berpura-pura bodoh." ucap Jimin kesal.

"Sungguh ak...

"Kau dan Kim bastar Taehyung!" ucap Jimin memotong ucapan Yoongi dan langsung membuat pria berkulit pucat di hadapannya itu diam mematung.

"Jimin aku..." Yoongi terdiam tidak mampu meneruskan ucapannya.

"Aku tak perduli! Yang jelas saat ini aku sangat 'kecewa' padamu hyung." ungkap Jimin lirih dan penuh penekanan. Jimin pergi begitu saja dari hadapan Yoongi yang terdiam menatap Jimin sendu.

.

.

.

Hoseok mengendarai mobilnya menuju kediaman Jungkook, pagi ini Hoseok memutuskan untuk tidak datang ke kantor karena pikirannya benar-benar kacau. Lagipula ia sudah berjanji akan menemui Jungkook semalam. Yah meskipun yang mengucapkannya Namjoon tapi ia tetap melakukannya. Sebenarnya Hoseok sangat malas jika harus datang ke rumah Jungkook karena ia pasti akan bertemu dengan Kim Taehyung, bukannya Hoseok takut hanya saja Hoseok masih belum bisa mengendalikan emosinya saat melihat wajah laki-laki itu. Dan jika itu terjadi sudah dipastikan Jungkook akan sangat marah padanya dan yang lebih parahnya Jungkook akan mengetahui semua perbuatan suami dan kakak sepupunya itu, bukannya Hoseok jahat karena tidak ingin memberitahu Jungkook tentang kelakuan suaminya hanya saja ia belum siap melihat pria manis itu sedih. Tak terasa Hoseok sudah sampai di depan rumah Jungkook, ia menaruh mobilnya di halaman rumah itu lalu melangkah keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Hoseok menekan bel rumah Jungkook dan tak lama kemudian terdengar seseorang yang tengah membuka kunci pintu. Setelah pintu terbuka Hoseok dapat melihat seorang wanita paruh baya yang sangat dikenalnya tersenyum ramah.

"Ah tuan Hoseok, silahkan masuk." sapanya mempersilahkan Hoseok masuk.

"Jungkook ada Han Ajumma?" tanya Hoseok sambil tersenyum.

"Tuan muda ada di kamarnya, tuan." balasnya.

Setelah mendengar jawaban Han ajumma Hoseok segera berlari pelan menuju kamar Jungkook di lantai atas, Hoseok memandang ke sekeliling rumah untuk memastikan tidak adanya Taehyung. Hoseok menghentikan langkahnya saat sudah ada di depan sebuah pintu bercat putih di depannya, Hoseok membuka pintu kamar Jungkook pelan. Ia tak mampu menyembunyikan senyumnya saat melihat sosok pria sedang berdiri di depan jendela di dalam kamar tepat setelah ia berhasil membuka pintu kamar itu. Hoseok berjalan semakin masuk ke dalam kamar menghampiri Jungkook di depan jendela, tepat ketika ia berada di belakang punggung pria kelinci itu Hoseok membatu. Senyum yang sejak tadi mengembang indah di bibirnya lenyap bergantikan tatapan kaget juga marah. Bagaimana tidak, pria manis di depannya ini tengah menangis dalam diam. Tidak ada isakan, hanya air mata yang terus mengalir deras di pipi tembam milik Jungkook. Hoseok memang ada di belakang Jungkook namun kaca jendela di depan mereka mampu memperlihatkan bayangan keduanya, jadi dengan mudah Hoseok mampu melihat bayangan Jungkook yang tengah menangis di sana.

"Jungkook-ah?" panggil Hoseok pelan.

"Hyungie." Ujar Jungkook seraya membalikkan tubuhnya menghadap Hoseok.

"Kau kenapa? Hm?" tanya Hoseok lembut lalu ia berjalan meraih Jungkook ke dalam pelukan hangatnya. Jungkook menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Hoseok, isakkannya pecah begitu saja. Terdengar lirih dan menyakitkan.

"Hyung ... dia ...

.

.

.

TBC

.

.

Yuhuuu~~~ Bunny kembali!

Bagaimana menurut para reader nih? Bunny udah panjangin ffnya seperti yang kalian minta. Tapi serius cuman segitu yang Bunny mampu, kalau untuk lebih dari ini Bunny nggak sanggup serius. Dimaklumi yah Bunny kan masih baru jadi belum bisa nulis yang panjang2. Semoga kalian suka yah sama chapter ini, tapi entah kenapa menurut Bunny chapter ini membosankan. Tapi yah nggak tahu deh menurut kalian. Bunny juga mau bilang makasih sama yang udah kasih review, demi apapun Bunny seneng bange bacanya

Last, review juseyo...