Prison

-Part 4-

Disclamair : Masahi Kishimoto

By : Karayukii

Pair: NaruSasu

Rat: M

WARNING: OOC TINGKAT DEWA, BL (YAOI)

.

.

.

Chiyo berdiri di depan pintu kayu mahoni besar. Ia menghela nafas panjang, lalu mengetuk beberapa kali. Suara seorang wanita menyahut dari dalam memberikan izin padanya untuk masuk. Ia mendorong pintu itu terbuka lalu langsung bertemu dengan sang pemilik suara.

"Pagi, nyonya." Chiyo menyapa. Bibirnya membentuk sebuah senyuman sopan sementara matanya menatap sang wanita dengan penuh perhatian. "Saya dengar anda memanggil saya."

Sang wanita yang berumur sekitar awal tiga puluhan itu tengah duduk termangu di kursinya. Pada hari ini, kecantikan tak terhingga yang selama ini melekat pada diri wanita itu seakan sirna begitu saja. Mata Onyx nan indah itu bagaikan kehilangan cahayanya. Chiyo seperti melihat orang lain. Wanita itu terlihat lebih tua 20 tahun dari usianya yang seharusnya.

"Anda baik-baik saja, nyonya?" Chiyo sebenarnya sedikit mengerti, mengapa wanita itu berubah. Tapi ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.

Uchiha Naori mengibaskan tangannya kepada Chiyo seolah-olah ingin mengusir pertanyaan Chiyo. "Aku baik." Katanya dengan nada seperti tidak ingin membicarakannya. "Aku memanggilmu karena aku mendengar sebuah rumor."

Chiyo mengangguk pasti. Ia sudah tahu, Naori akan memanggilnya untuk hal ini. wanita itu sebenarnya memiliki peranan penting di tempat ini. ia adalah pemimpin ratu, tapi semenjak pengkhianatan yang dilakukan oleh Uchiha, segala kekuasaan yang ia miliki di cabut.

Sekarang dia tidak lebih dari seorang wanita yang dikurung di rumahnya sendiri.

"Saya tidak begitu mengerti tentang rumor yang anda maksudkan nyonya." Kata Chiyo sambil menundukkan kepalanya.

"Kau tidak tahu?" Tanya Naori, suaranya terdengar datar, tapi chiyo merasakan ketidaksukaan yang besar yang tersembunyi dibaliknya. "Ini mengenai seseorang yang dipanggil secara khusus oleh Naruto."

"Dia hanyalah seorang pelayan, nyonya, bisa dikatakan sebagai pelepas penat untuk Yang mu-"

"Bocah itu sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu!" Suara Naori meningkat drastis, dia menatap Chiyo dengan marah tapi kemudian dia menghela nafas dan suaranya kembali selembut para wanita bangsawan. "Bukankah Naruto tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke kamarnya selama ini. Tapi kudengar orang ini telah bertahan dikamarnya selama berminggu-minggu, benarkah itu?"

Chiyo menundukkan kepalanya dalam-dalam, "Ya, nyonya."

"Maukah kau mengatakan siapa tepatnya orang ini?" Mata Naori berkilat saat menatap Chiyo, "aku mendengar kabar bahwa dia didatangkan dari tempat yang sama denganku. Aku meragukan kabar itu, bagaimana mungkin ada seorang Uchiha yang diizinkan masuk ke kamar Naruto setelah penghianatan itu. Oleh karena itu aku ingin meminta kebenaran darimu."

"Kabar itu benar, nyonya, nama belakangnya adalah Uchiha." Jawab Chiyo.

"Benarkah?" Sebuah seringai muncul diwajah Naori. "Seorang Uchiha?"

Lagi-lagi Chiyo mengangguk, "Namanya Uchiha Sasuke, nyonya."


"Nnnnnh…"

Sasuke mencengkram seprei putih sampai bukunya jarinya memutih. Giginya bergemeletuk keras,sementara ia berusaha menahan desahan dari bibirnya. Ia bisa mendengar setiap bunyi becek dari setiap gerakan yang Naruto lakukan di tubuhnya. Ia bisa merasakan cairan panas mengalir turun ke pahanya. Ia bisa mencium bau sex dari pergulatan mereka.

Tubuhnya gemetar hebat. Kenikamatan yang luar biasa itu tak bisa lagi diabaikannya. Benda diselangkangannya berdenyut menyakitkan. Ia tahu ia tidak akan bertahan lama.

Seakan-akan sadar, Naruto meremas organ vital Sasuke . Jemarinya bergerak menutup lubang urinenya, seraya berbisik, "Kali ini aku akan keluar lebih dulu."

Sasuke mengernyit. Ia berusaha melepaskannya, tapi ia terlalu letih. Tubuhnya tak mau bergerak mengikuti perintah otaknya.

Naruto tersenyum melihat ketidak berdayaan Sasuke dibawahnya. Ia menundukkan tubuhnya untuk mendapatkan sebuah ciuman. Tapi dengan kekuatan yang tersisa, Sasuke menutup mulutnya rapat-rapat.

Mereka telah melakukan hal ini berkali-kali dan Sasuke tak pernah sekalipun membiarkan Naruto mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah. Kekeras kepalaannya kadang terasa lucu bagi Naruto.

Naruto sudah hapal kelemahan Sasuke. Ia menarik kejantanannya keluar, memberikan waktu sedetik bagi sang Uke untuk bernafas, lalu dengan tiba-tiba kembali menghantam titik prostatnya secara bertubi-tubi.

Tubuh Sasuke merespon dengan sangat baik. Benda dalam cengkraman Naruto semakin menjadi-jadi, dan bibir Sasuke langsung mengeluarkan desahan erotis yang mampu membakar gairah Naruto.

Naruto mengambil kesempatan ini untuk memperkosa mulut Sasuke. Lidahnya masuk ke mulut Sasuke, saling bergulat dengan lidah Sasuke yang basah. Ciuman penuh nafsu yang mampu melumerkannya.

"Hmmmpph! Aahhh!" Sasuke mengerang saat cairan panas Naruto menghantam dengan deras dinding rektumnya. Tangannya bergerak gemetar ke cengkraman Naruto, memaksanya untuk melepaskan penisnya yang berdenyut tak tertahankan. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi.

Naruto tersenyum, ia menarik dirinya, lalu melepaskan cengkramannya dari kejantanan Sasuke. Mata birunya tak bergerak sedikitpun saat Sasuke menyusulnya sampai pada titik klimaks. Tubuh Sasuke gemetar, ia meremas seprai dengan kuat. kedua matanya memejam sementara bibirnya terbuka tanpa suara. Kemudian tubuhnya melengkung dengan cantik saat cairan putih keluar dari tubuhnya, mencipratinya dengan sperma. Sungguh pemandangan erotis yang takkan pernah Naruto lupakan.

Dada Sasuke naik turun dalam usahanya mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Matanya masih terpejam. Ia letih, matanya terasa berat, ia ingin tidur. Tapi baru saja ia merasakan ketenangan, tubuhnya tiba-tiba diangkat dari kasur. ia membuka matanya yang langsung berbenturan dengan mata Naruto.

"Hnggh-Stop!" Sasuke mencengkram rambut blonde Naruto saat pemuda itu menghisap putingnya dengan kuat. Tubuhnya mengejang saat penis yang berukuran diatas rata-rata itu menginvasi tubuhnya lagi.

Sasuke menatap pemuda blonde itu dengan ngeri. Tidak mungkin, apa Naruto tidak merasa letih? Mereka telah melakukannya tiga kali malam ini. tapi 'benda' Naruto kembali mengeras begitu cepatnya seperti saat mereka baru akan melakukannya pertama kali.

Tubuh Sasuke naik turun dalam pangkuan Naruto, kali ini pemuda blonde itu bermain dengan tempo yang lebih cepat. Sasuke merasakan cairan precum mulai menetes keluar dari selangkagannya. Walau ia sangat letih tubuhnya masih mampu merespon sentuhan-sentuhan Naruto.

"Ahhnn-Stoppp-Ahhhk!.. Kau terlalu dalam-aaahhn!" Desahan-desahan yang tak pernah bisa dikenalinya itu meluncur keluar dari bibirnya. Dirinya telah pasrah pada kenikmatan yang diinginkannya untuk segera berakhir. Kedua tangannya hanya mampu mencengkram punggung Naruto, sementara tubuhnya terus digenjot dengan brutal. Sesekali pemuda blonde itu melayangkan ciuman-ciuman memabukkan di tubuhnya yang basah.

Sasuke mencapai titik klimaksnya lagi. Cairannya muncrat membasahi perutnya dan perut Naruto. Sasuke terengah-engah kehabisan nafas. Tapi tanpa kenal ampun Naruto menciumnya lagi, menghisap salivanya dan menutup saluran oksigennya.

Tubuh Sasuke dihempaskan ke kasur. kedua tangan Naruto bergerak membuka paha Sasuke, lalu tanpa menunggu lagi dia kembali memasukkan kejantanannya ke lubang Sasuke yang sudah sangat merah.

Sasuke menjerit entah untuk kebera kalinya. Ranjang kembali berderit sementara tubuhnya kembali disodok dengan ganas. Mata biru itu masih penuh dengan tenaga, tapi Sasuke sudah tidak tahan lagi. Ia merasakan kesadarannya mulai berkurang. Tubuhnya tak mampu lagi bertahan.

Walau melihat Sasuke yang sudah hampir tidak sadarkan diri, gelora Naruto masih membuncah. Ia tidak akan berhenti sampai ia puas.


Keesokan harinya Sasuke terbangun diatas ranjang dengan tubuh seperti habis diinjak oleh seribu kuda. Ia mengerang dengan keras seraya menendang selimutnya untuk mendapatkan udara yang lebih sejuk. Ada sesuatu yang membangunkannya, tapi rasanya terlalu berat untuk membuka matanya.

"Tuan Uchiha, ini sudah siang." Suara khas wanita terdengar tepat di telinganya.

Sasuke membuka matanya. Onyxnya menyipit menatap sekitar. Gorden merah besar telah dibuka memperlihatkan taman khusus raja yang penuh dengan bunga-bunga. Sasuke mengerjapkan matanya sekali, berusaha mengumpulkan kesadarannya, kemudian ia melihat dua mata biru balas menatapnya.

Sasuke terlompat dari ranjang saking kagetnya. Ia menarik selimutnya ke tubuhnya, berusaha membuat tameng jikalau Naruto menyerangnya lagi. Tapi ternyata dia salah, mata biru itu bukan milik Naruto. Mata itu milik Ino, pelayan yang ditugaskan untuk mengurusi segala keperluan Sasuke selama beberapa minggu ini.

"Tuan Uchiha," Pelayan itu terkikik. Mata birunya menatap bekas kemerahan di kulit Sasuke dengan geli.

Sasuke hanya menghela nafas. Ia sudah sangat terbiasa dengan kikikan sang pelayan. Ia masih ingat saat pertama kali Ino diperkenalkan sebagai pelayannya. Wanita itu tersenyum jenaka pada Sasuke dan terus mengoceh mengenai ilmu pelet yang Sasuke gunakan untuk menjerat Naruto. ia bahkan baru tahu kalau selama ini, Ino mengira Sasuke akan berakhir tragis seperti orang-orang yang sebelumnya.

"Apa maumu?" Tanya Sasuke. ia telah memerintahkan Ino untuk datang ketika ia dipanggil saja.

"Yang mulia memerintahkanku untuk membantumu bersiap-siap." Kata Ino ceria.

"Bersiap-siap?" Ulang Sasuke bingung. sebelumnya ia tidak dibiarkan oleh Naruto untuk keluar sejengkalpun dari kamarnya. Segala keperluarnya dibawa langsung ke kamar. Naruto bilang Sasuke adalah tawanannya, dia harus mengikuti segala aturan yang diterapkan padanya. Jadi ketika sang blonde itu memerintahkan Ino untuk membantu Sasuke menyiapkan diri, dia benar-benar heran. apa dia diizinkan untuk keluar sekarang?

Sesungguhnya setelah tinggal selama berminggu-minggu di kastil Uzumaki. Sasuke masih belum mengerti mengapa ia dikurung disini. Sama tidak mengertinya ketika ia dikurung di pondok Uchiha. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun, tapi orang-orang itu terus memperlakukannya dengan semena-mena.

Walau begitu Ino yang kini sedang asyik menyisir rambut Sasuke terlihat sangat ceria.

"Sepertinya rambut tuan agak susah diatur." Kata Ino yang berusaha keras menurunkan rambut bagian belakang Sasuke yang naik.

Sasuke mengernyit. "Biarkan saja." Katanya. Dulu ibunya pernah mengeluhkan hal yang sama.

"Yah baiklah," gumam wanita itu. ia kemudian mundur dan mengambil bungkusan diatas ranjang. Dia membukanya lalu memamerkannya pada Sasuke.

"Apa itu milikmu?" Tanya Sasuke menatap kimono yang dilambaikan Ino ke wajahnya dengan bersemangat. Kimono berwarna pink cerah dengan corak bunga sakura yang indah, obinya berwarna merah muda pekat.

"Tidak, tuan. Ini milik anda." Jelasnya.

Sasuke terbelalak, matanya menatap kimono itu dengan penuh terror, "tapi itu Kimono untuk wanita."

"Ya. Dan anda akan mengenakannya." Ino mengulang perkataannya.

"Aku tidak akan pernah mengenakannya!" tolak Sasuke tegas.

"Maafkan saya, tapi itu tidak mungkin, karena Yang mulia sendiri yang memilihkannya khusus untuk anda." Jelas Ino dengan tatapan penuh simpati palsu. Wanita itu sangat menikmati melihat Sasuke tersiksa. Dia menganggap hubungan Naruto dan Sasuke sangatlah romantis.

"Tolong, maafkan saya tuan." Izin Ino seraya mulai membantu Sasuke membuka pakaiannya.

Sasuke hanya bisa menghela nafas pasrah. Bagaimanapun juga dia tidak berani menentang sang raja. Walau dalam hati dia merutukinya dan berdoa agar kewarasan pria itu cepat-cepat kembali.


Dengan dikawal oleh dua orang pelayan, Sasuke tiba di depan pintu aula. Pintu itu sangat besar dan berwarna coklat gelap dengan symbol clan Uzumaki tergambar dengan jelas di badannya.

Ada dua orang prajurit berpakaian lengkap tengah berdiri dikanan kiri pintu. Saat Sasuke sampai mereka menunduk hormat dan membukakan pintu untuk mempersilahkan Sasuke masuk.

Sasuke ragu-ragu tapi akhirnya memutuskan untuk membawa kakinya ke dalam aula. Langkah yang disesalinya, karena ketika dia masuk semua mata langsung tertuju padanya. Sebagian besar adalah tatapan heran.

"Apa yang harus kulakukan disini?" Sasuke berbisik pada Ino.

"Disana tuan, kursi kosong itu milik anda." Kata Ino. Dia menunjuk sebuah kursi kosong dibalik meja panjang. Naruto tengah duduk dikursi termegah yang terletak paling tengah, dan Ino menunjuk kursi tepat disebelah kirinya.

Sasuke tidak ingin menjadi bahan tontonan lebih lama lagi. Dia berjalan kekursi kosong itu, membiarkan kimononya terseret dilantai saat dia berjalan. Saat dia telah duduk dikursi tepat disebelah Naruto, pandangan semua orang semakin bertambah heran. Tapi Sasuke pura-pura tidak memperdulikannya, dia memilih manatap jemarinya yang bertaut dibawah meja dengan pipi yang sedikit merona merah.

Disisinya Naruto duduk tegak. Dia sibuk membalik bukunya dengan wajah kaku. Tak sedetikpun dia menolehkan kepalanya pada Sasuke.

"Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan dariku." Suaranya terdengar keras dan menusuk saat ia berbicara. Mata birunya menatap tajam seorang pria berusia sekitar empat puluhan, tapi terlihat masih segar dalam balutan pakaian mahalnya.

"Anakku Yang mulia, mereka semua mati." Kata lelaki itu dengan tidak sabaran.

"Mereka mati dalam perang." Kata Naruto, "Dan aku telah memberikan sebuah medali dan beberapa keeping emas sebagai penghargaan atas jasanya."

"Saya hanya merasa ini tidak adil. Anak saya mati terlebih dulu dari saya, dia adalah orang yang selama ini menopang kehidupan saya, uang yang anda berikan tidak akan cukup-"

"Kau ingin keadilan?" Naruto memotong sambil lalu. Matanya kembali menatap bukunya. "aku akan memberimu keadilan."

"Benarkah, Yang mulia?" Mata pria itu berbinar.

"Ya." Kata Naruto. "Aku akan mengurusi semua keperluanmu, memberikanmu tanggungan hidup sampai kau mati."

"Yang mulia, anda sungguh baik hati!" Pria itu memekik senang.

"Jadi," Naruto menutup bukunya lalu meletakkannya ke atas meja. mata tajamnya menatap pria itu dengan kerlingan dingin, "bagian mana yang ingin kau singkirkan?"

Senyum sang pria menghilang, "bagian mana?" Ulangnya tidak mengerti.

"Ya. Tangan atau kakimu, kau seharusnya tahu bahwa orang-orang cacatlah yang kehidupannya akan ditanggung olehku."

Sang pria terbelalak. Disudut aula, seorang prajurit berjalan maju sambil menarik pedangnya. Sang pria langsung cepat-cepat berdiri dengan ketakutan.

"Tidak perlu, Yang mulia. Saya baru ingat bahwa saya masih memiliki kedai yang bisa mencukupi kebutuhan saya." Kata pria itu sambil menunduk dalam-dalam. "Maaf atas kelancangan saya Yang mulia." Katanya lagi lalu berlari terpingkal-pingkal keluar aula. Sempat terguling dilantai saat kaki pendeknya tersandung karpet.

Sasuke tertawa melihat pria itu, tapi cepat-cepat terdiam saat menemukan Naruto tengah menatapnya. Dia kembali menunduk, menatap jemarinya lagi.

"Berapa banyak lagi?" Tanya Naruto pada seorang pria yang tengah memegang perkamen.

"Lima orang lagi, Yang mulia." Jawabnya.

"Suruh mereka datang besok. Ada yang ingin kulakukan." Perintah Naruto.

Pria pemegang perkamen itu mengangguk lalu berjalan keluar.

Naruto menatap kesekelilingnya, "Tinggalkan aku sendiri."

Semua orang yang mengisi aula menunduk padanya lalu berjalan serempak keluar. Sasuke juga ikut berdiri, tapi Naruto menarik tangannya. "Kau tinggal." Perintahnya.

Sasuke membeku. Dia duduk kembali ke kursinya dalam diam.

"Kimono itu cocok untukmu." Kata Naruto dengan nada menggoda.

"Kimono ini sebenarnya untuk perempuan." Kata Sasuke sambil menundukkan kepalanya. "Yang mulia,"tambahnya.

"Ya, makanya itu cocok untukmu."

"Saya laki-laki, Yang mulia." Balas Sasuke dengan cemberut, tapi dia masih takut mengangkat kepalanya.

"Oh, benarkah?" Naruto berakting pura-pura kaget, "aku tidak menyadarinya."

Sasuke semakin cemberut. Dia mengangkat kepalanya dan memelototi mata biru itu. "Aku laki-laki!" Katanya keras. tapi sedetik kemudian dia menyesalinya. Naruto menatapnya dengan satu alis terangkat, tatapannya tajam dan Sasuke langsung menundukkan kembali kepalanya dengan ketakutan. "Yang mulia," dia menambahkannya cepat-cepat.

"Terserahlah." Suara dingin itu diiringi dengan tarikan di dagu Sasuke.

Beberapa detik kemudian Sasuke telah menemukan bibirnya dicium dengan penuh gairah oleh Naruto. Sasuke berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh pemuda blonde itu, tapi lengan yang melilit di pinggang Sasuke jauh lebih kuat. Alih-alih berhasil mendorongnya ciuman mereka malah semakin dalam.

"Mmmmhppp!"

Naruto mendorong tubuh Sasuke ke tembok, kursi yang tadi didudukinya terjatuh dengan bunyi keras ke lantai. Tapi Naruto tidak memperdulikannya, pria raven itu benar-benar telah memikatnya. Ia ingin terus bermain-main dengannya.

Saat Naruto melepaskannya, tubuh Sasuke sudah lemas. Dia merosot ke lantai dengan tidak berdaya.

Naruto tersenyum dengan puas, "andai aku bisa terus bermain-main denganmu." Katanya seraya menyapu saliva yang mengalir di dagu Sasuke. Ia memberi kecupan terakhir lalu bangkit berdiri. "Jangan lepaskan kimono itu sampai aku memerintahkannya." Perintah Naruto.

Pemuda blonde itu berjalan keluar lalu menghilang, meninggalkan Sasuke sendirian yang masih terpojok dilantai.


"Tuan Uchiha?" Seseorang memanggilnya, "tuan Uchiha?"

Sasuke menengadahkan kepalanya dan melihat Chiyo tengah berjongkok didepannya. Dengan wajah kaget, Sasuke cepat-cepat berdiri sambil menyeka wajahnya. dia tadi melamun hingga tidak menyadari Chiyo yang mendatanginya.

"Anda tidak apa-apa?" Tanya Chiyo.

Sasuke menggeleng, wajahnya pasti masih merah. "Aku baik-baik saja."

"Apa anda yakin?"

"Ya. Kau tidak perlu khawatir."

"Syukurlah." Kata Chiyo, "Saya sebenarnya tengah mencari anda."

"Ada apa?"

"Nyonya ingin bertemu dengan anda." Jawab Chiyo.

"Nyonya?"

"Sang ratu." Jelas Chiyo, "dia ingin bertemu dengan anda."

"K-k-k-kenapa dia ingin bertemu denganku?" Tanya Sasuke dengan terbata. Dia punya firasat buruk.

"Saya tidak tahu tuan, tapi dia memberi perintah untuk membawa anda ke kamarnya." Chiyo kemudian berbalik, "jika anda tidak keberatan, saya akan mengantarkan anda."

Sasuke tahu dia tidak punya pilihan, maka dia mengikuti Chiyo dari belakang. Jantungnya berdetak cepat dengan takut. dia berusaha menebak apa kira-kira yang diinginkan sang ratu darinya. Mereka berjalan keluar dari kastil utama, melewati jalan setapak dan menuju ke kastil paling utara. Kastil yang tersembunyi dan terkucilkan.

"Disini, tuan."

Mereka berhenti didepan pintu kamar ratu. Chiyo mengangguk pada pelayan yang menjaga. Pelayan itu masuk, mereka menunggu sebentar dan kemudian pintu tiba-tiba dibuka dari dalam.

Chiyo menundukkan kepalanya pada Sasuke mempersilahkannya masuk.

Saat Sasuke melangkah memasuki kamar, Chiyo tidak mengikutinya.

Ruangan itu besar dan sangat terbuka. Sinar matahari masuk menerangi seluruh ruangan. Kursi-kursi ditata di tengah ruangan dan ada seorang wanita yang berdiri disana, dia tersenyum ramah pada Sasuke.

"Uchiha Sasuke?" Naori berkata seraya berjalan ke Sasuke dan memeluknya.

Sasuke tidak mengerti kenapa wanita itu memeluknya tapi dia tidak berusaha melepaskan diri.

"Aku sangat senang melihatmu disini." Katanya kali ini dia mengelus wajah Sasuke dengan lembut, "setelah apa yang terjadi, kupikir hanya akulah satu-satunya Uchiha yang tersisa."

"Yang mulia juga berasal dari Uchiha."

Wanita itu tertawa, memamerkan gigi putihnya yang rata dan sempurna. "Jangan panggil aku Yang mulia." Katanya. "Ya aku dari Uchiha."

Sasuke cepat-cepat mengangguk. "m-maafkan saya."

"Oh, jangan minta maaf," wanita itu menarik tangan Sasuke lalu menyuruhnya duduk didekatnya. Dia menuangkan segelas teh lalu memberikannya pada Sasuke.

Sasuke meminumnya sebagai bentuk kesopanan. Sementara itu sang wanita terus menatapnya.

"Aku mengenal ayahmu." Ia berkata, "Uchiha Fugaku adalah pria yang sangat hebat, bijaksana, dan baik hati."

"Ayahku sudah mati." Kata Sasuke. dia menatap cangkirnya dengan muram.

"Aku tidak begitu tahu." Kata Naori sambil menuangkan segelas teh untuh dirinya sendiri. "Tapi ada beberapa pemberontak saat itu. mereka menghancurkan seluruh kastil dan membunuh ayah dan ibumu." Dia mengangkat cangkirnya lalu menyeruput isinya sedikit, "juga kakakmu."

"Kenapa dia melakukan itu?" Sasuke benar-benar tidak bisa mempercayainya, "kenapa mereka mengurungku?"

"Maafkan aku, Sasuke, tapi tidak ada yang bisa kulakukan saat itu, clan Uchiha berada pada situasi yang tidak menguntungkan. Kita dicurigai berkomplot dengan para penghianat itu."

"Aku –aku sama sekali tidak mengerti." Sasuke menggelengkan kepalanya dengan kebingungan. Kegelapan yang sempat melingkupinya dulu seakan kembali lagi.

"Aku juga tidak mengerti, Sasuke," Naori memegang bahu Sasuke, "tapi begitulah cara Uzumaki. Mereka kejam."

"Yang mulia?"

"Ya, Uzumaki Naruto adalah orang yang paling kejam yang pernah ada." Kata Naori dengan mata berkilat dengan penuh kebencian. "Dia telah membantai seluruh clan Uchiha, dia membunuh kakakku dan sekarang dia mengurung kita berdua, satu-satunya yang tersisa, seperti tawanan."

Sasuke terbelalak kaget, "Dia membantai seluruh clan Uchiha?"

Naori mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Lelaki itu sama sekali bukan manusia." Katanya. "Oleh karena itu aku ingin kau bergabung bersamaku untuk menggulingkannya. Tahta itu memberikan terlalu banyak kekuasaan padanya. Dan dia menggunakannya untuk menyebarkan kekejaman. Dia jahat!"

"Pikirkan baik-baik Sasuke," Naori melanjutkan dia menggenggam tangan Sasuke erat, "kau dan aku berada dipihak yang sama."

"Tapi, Yang mulia…"

"Aku hanya ingin kau berhati-hati." Kata Naori lagi dia mengelus wajah Sasuke dengan lembut. "Aku takut dia akan melukaimu saat dia bosan seperti para pelayan itu."


Sasuke berjalan kembali ke kastil dengan kepala sedikit pusing. Fakta bahwa Narutolah orang yang berada dibalik kejadian mengerikan yang menimpa hidupnya, membuatnya merasa marah dan takut disaat yang sama.

Sasuke tidak akan bisa melawannya, Naruto punya kekuasaan dan terlalu kuat. Sasuke membawa kakinya ke balkon, lalu menghirup oksigen banyak-banyak.

Kemudian dia mendengar suara-suara, teriakan-teriakan, jeritan dan hal-hal mengerikan lainnya. Awalnya dia berpikir itu hanya ada dalam kepalanya, tapi ketika dia melihat orang berlarian ke bagian istana yang lain, Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengikuti mereka.

Orang-orang berkumpul dibagian sudut Istana, berteriak-teriak dengan suara memekakan telinga. Dibagian lain, terlihat beberapa wanita tengah menjerit histeris, beberapa orang pengawal menahan mereka, memastikan mereka tetap pada tempatnya.

Tepat di atas podium, titik pandang semua orang, Naruto berdiri, tatapannya dingin dan tak berperasaan saat ia menatap lurus ke lima orang yang dipaksa berlutut dihadapannya. Hal yang mengerikan dari pemandangan itu adalah keberadaan lima orang prajurit yang mengangkat pedang besarnya tinggi-tinggi.

Dalam satu anggukan dari Naruto, pedang itu turun dan langsung memenggal lima kepala pria yang berlutut.

Jeritan para wanita terdengar begitu keras, beberapa diantara mereka langsung pingsan. Darah membanjir diseluruh podium. Naruto masih tidak bergerak, ia hanya terus menatap potongan kepala yang kini bergelinding bagaikan bola dibawah kakinya.

Sasuke yang melihat seluruh kejadian itu dengan penuh terror langsung berlari kembali ke kastil. Ia bergetar hebat dan sebelum ia sadar dimana dirinya berada dia telah memuntahkan seluruh isi perutnya ke tanah.

"Tuan anda tidak apa-apa?" Seorang pelayan mendatanginya dengan wajah khawatir.

Tapi dengan ketakutan dia berlari meninggalkan pelayan itu. Belari memasuki kastil lalu berjalan ke pintu gerbang istana. Dia ingin keluar dari sini. Dia tidak ingin bersama dengan monster itu.

Belum sempat Sasuke mencapai pintu gerbang, dua orang pengawal menghalanginya.

"Maaf tuan, tapi anda seharusnya tidak disini." Kata Pengawal itu. Sasuke menatapnya dengan wajah pucat.

Sasuke tidak bisa keluar. Dia seorang tawanan. Naruto tidak akan membiarkannya pergi.

.

tbc

Emang harus diingetin supaya update #hihihi

Review?