*
Author POVLuhan membuka kelopak matanya perlahan. Objek pertama yang ia lihat adalah tirai jendela kamarnya yang masih tertutup. Padahal, cahaya matahari sudah mulai memasuki kamarnya melalui celah-celah jendela. Ini sudah pagi, tapi belum ada yang membukakan tirai jendela untuknya.
Tak terasa, air mata Luhan meleleh. Ia sedih. Dulu, waktu ibunya masih hidup, beliau selalu membangunkannya di pagi hari dan membuka tirai jendela kamarnya. Namun sekarang, sangat berbeda dengan dulu. Tak ada lagi sapaan selamat pagi, tak ada lagi pukulan agar bangun dari tidur, tak ada lagi seorang wanita tua yang dengan senang hati membuka tirai jendela kamarnya. Semuanya telah berubah sekarang, dan Luhan sangat merindukan masa-masa itu.
Luhan lalu bangkit dari tidurnya. Menghapus air matanya kasar dan segera beranjak menuju kamar mandi. Dia sedikit lega, karena semalam, Kai tidak membawanya ke rumah sakit dan malah membawanya pulang. Dia pasti sudah menyusun strategi untuk kabur sekarang seandainya Kai semalam membawanya ke rumah sakit.
*bad*
Luhan terlihat keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah yang sudah lengkap. Sama seperti hari-hari biasanya, tak ada senyum ataupun ekspresi bahagia di wajahnya. Gadis itu kemudian berjalan menuju dapur, hanya sekadar untuk minum.
Gadis cantik itu melirik ke arah meja makan. Di sana, ia melihat ayah, ibu, dan saudara tirinya tengah sarapan bersama. Tanpa adanya dirinya. Dan pemandangan seperti itu sudah biasa Luhan lihat setiap pagi. Ada perasaan sedih dalam diri Luhan. Harusnya yang ada di sana adalah ayah, ibu, dan dirinya, bukan Choi Shin Yeoung atau pun Byun Baekhyun.
Luhan langsung menaruh gelas yang sudah kosong ke atas meja begitu ia setelah menghabiskan air minumnya. Dia lalu melangkah pergi dari sana.
"Luhan-ah! Kau tak mau sarapan dulu?"
Langkah Luhan pun terhenti saat dia mendengar suara ayahnya menginterupsi. Tanpa berbalik, gadis itu menyahut dengan dingin, "Tidak. Aku masih kenyang." Dia lalu melanjutkan langkahnya kembali. Tidak berniat untuk bergabung bersama keluarganya.
Keluarga? Bahkan mereka tidak ada yang peduli padaku.
Luhan menghela napas panjang begitu dia keluar dari gerbang rumahnya. Seperti biasa, dia harus menunggu bus yang lewat di halte yang terletak tak jauh dari rumahnya. Dia tidak seperti Baekhyun yang setiap hari diantar oleh sopir pribadi keluarganya. Ingat! Luhan bukanlah anak manja. Dia tidak pernah meminta fasilitas lebih kepada ayahnya. Luhan kemudian melangkahkan kedua kakinya menuju halte tersebut.
*bad*
Luhan POVKaki mungil ini terus kugunakan untuk melangkah, karena memang itulah fungsinya yang sesungguhnya. Bukan menuju kelasku berada, bukan. Melainkan menuju perpustakaan.
Bel masuk baru saja berbunyi. Namun, seperti biasa, aku sedang tidak mood untuk mengikuti pelajaran di jam pertama itu, yaitu Olahraga. Pelajaran yang harus lari-lari keliling lapangan dulu sebelum masuk ke pelajaran inti. Hh! Aku lemah. Aku tidak mau pingsan hanya gara-gara berlari-lari keliling lapangan. Karena kalau aku pingsan, tak ada yang peduli padaku.
Aku lalu memasuki ruangan yang dipenuhi oleh banyak buku tersebut. Tempat yang tenang dan mungkin saja bisa membuat kepala menjadi rileks. Aku berjalan menuju tempat buku-buku novel berada. Membaca judulnya satu persatu, dan akhirnya aku mengambil sebuah novel yang dilihat dari judul sepertinya menarik. Sebuah novel dengan judul Jonathan Livingston Seagull karya Richard Bach.
Aku kemudian membawa novel tersebut ke tempat duduk yang telah disediakan. Membaca buku sebenarnya bukan termasuk hobiku. Saat ini, aku sedang merindukan eomma-ku. Dulu, eomma sering membacakanku sebuah buku. Membaca buku mampu mengobati rasa rinduku dengan eomma, walaupun sedikit.
Eomma ... aku sangat merindukanmu.
Beberapa jam telah berlalu. Aku mendengar bel tanda istirahat berbunyi. Kenapa waktu begitu cepat berlalu? Padahal, aku masih ingin berada di sini. Sebenarnya, aku bisa saja membolos pelajaran selanjutnya. Namun, pelajaran selanjutnya adalah Matematika, pelajaran yang sangat eomma sukai dulu waktu masih muda.
Eomma sangat melarangku bolos pada saat pelajaran Matematika. Ck, aku kangen eomma. Maka dari itu, selama ini, aku tidak pernah sekalipun membolos pada saat pelajaran tersebut sedang berlangsung.
Aku kemudian bergegas pergi dari sini. Melangkahkan lagi kaki mungil ini menuju seorang wanita penjaga perpustakaan. Aku belum menyelesaikan novel yang barusan kubaca. Baru sampai setengahnya. Makanya, aku ingin meminjamnya untuk aku baca lagi di rumah atau di mana pun aku ingin.
Pluk
Aku meletakkan novel tersebut ke atas meja tepat di depan penjaga perpustakaan itu. "Aku mau meminjamnya," ucapku.
Penjaga perpustakaan itu mengambil novelnya. Lalu, ia menulis sesuatu di sebuah buku agenda. "Kau membolos lagi, Luhan-ssi?" tanyanya tanpa menatap ke arahku. Tsk, bahkan dia tahu namaku. Padahal, aku sama sekali tidak tahu namanya.
"Ya, seperti biasanya," jawabku santai.
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin saja dia heran melihat kelakuanku selama ini. Dia lalu memberikan novel itu kepadaku. "Besok lusa, kau harus mengembalikannya."
"Ne." Aku lalu melangkah pergi dari sana.
Author POV
Gadis bersurai abu-abu itu berjalan dengan santai menuju kelasnya, 2-1. Ekspresi wajahnya datar dan terkesan dingin. Pandangannya lurus ke depan. Seluruh pasang mata yang melihatnya mulai membisik-bisikkan sesuatu yang terdengar tidak jelas. Namun, gadis itu terlihat mengabaikannya. Terlalu malas rasanya untuk mengacuhkan hal tersebut. Tak ada untungnya baginya.
Begitu sampai di kelasnya, gadis itu langsung melangkah menuju bangkunya yang terletak di urutan paling belakang.
Bugh
Namun, dia langsung melempar novel yang dibawanya ke atas meja saat dilihatnya ada seorang murid laki-laki yang menempati bangkunya tengah menelungkupkan kepalanya ke atas meja. "Neo! Hanbal mulleoseola(minggir)!" seru gadis itu, Luhan.
Sontak saja murid laki-laki itu terkejut, dan langsung menegakkan kepalanya.
"Neo ...," lanjut Luhan.
Murid laki-laki itu mengerjapkan kedua matanya imut saat dilihatnya ada Luhan yang sedang berdiri di depannya. Jari telunjuknya kemudian terangkat, menunjuk Luhan yang menatapnya dingin. "Kau kan yang semalam ..."
"Oh Sehun-ssi!" Luhan meninggikan volume suaranya. Sontak saja seluruh pasang mata yang ada di dalam kelas tersebut langsung menatap ke arahnya, termasuk Baekhyun. Gadis itu heran, dari mana Luhan bisa tahu nama murid laki-laki tersebut. Padahal, murid laki-laki tersebut adalah anak baru dan tidak memakai name tag.
"K-kau tahu namaku? Woah ...," murid laki-laki yang bernama Oh Sehun itu berdecak kagum.
Brak!
Luhan menggebrak meja di depannya. Dan itu mampu membuat Sehun terlonjak kaget. "Aku bilang minggir! Pergi dari bangkuku sekarang juga!" usir Luhan. Tidak boleh ada yang menempati bangkunya, sekalipun dia tidak hadir di kelas.
"Jadi, ini mejamu?"
"Menurutmu?"
"Baiklah, aku akan pindah tempat duduk." Sehun lalu bangkit dari duduknya. "Ekhm, salam kenal. Namamu?" Pemuda itu mengulurkan tangannya ke hadapan Luhan. Namun, Luhan langsung menepisnya.
Luhan lalu mendudukkan diri ke bangku miliknya begitu Sehun sudah pindah tempat duduk tepat di sampingnya. Dia kemudian menelungkupkan kepala ke atas meja. Mengabaikan bunyi bel yang baru saja berbunyi, serta beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya dengan tatapan sinis, termasuk Baekhyun yang duduk di bangku paling depan.
"Hei, siapa namamu?" Sehun sedari tadi terus mencolek lengan Luhan, berharap gadis itu tak bergeming. Sungguh, Sehun sangat ingin tahu nama gadis tersebut. Tidak ada papan nama yang tertempel di dadanya.
Sampai akhirnya, Luhan baru bangun saat Yunho Saem datang memasuki kelas mereka untuk mengajar Matematika.
Luhan menatap sinis ke arah Sehun. Pemuda itu telah mengganggunya. Sehun yang ditatap hanya nyengir lebar.
"Hari ini saya akan mengadakan ulangan harian." Yunho Saem tiba-tiba saja berujar. Yang mana mampu membuat seluruh isi kelas jadi pada mengeluh. Kecuali Luhan. Gadis itu kelihatan biasa saja.
Yunho Saem kemudian membagikan kertas yang berisi soal-soal Matematika kepada seluruh murid yang ada di kelas tersebut. "Kerjakan dengan benar."
"Ne, Saem!" sahut para murid.
Luhan mulai membaca soal-soal Matematika tersebut. Ekspresi wajahnya masih tetap datar. Tangannya kemudian bergerak untuk mengambil pulpen dari dalam tas, lalu mulai mencorat-coret lembar soal tersebut. (Lembar soal dan jawaban digabung).
Lima belas menit kemudian, Luhan telah selesai mengerjakan soal-soal Matematika tersebut. Gadis itu menggeletakkan lembar kertas itu ke atas meja. Membiarkannya terbuka, tanpa khawatir jika ada yang menyonteknya.
Sehun yang duduk di sebelah Luhan mengerutkan dahinya heran. Pemuda itu lalu mencondongkan tubuhnya ke samping, mendekati Luhan. "Kau sudah selesai?" tanyanya tak percaya. Jumlah soalnya ada lima belas nomor, dan Luhan bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu lima belas menit saja.
"Ne," jawab Luhan singkat. Pandangan matanya terus lurus ke depan, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sehun.
"Um ... bisa kau ajari aku soal nomor empat?" pinta Sehun dengan nada pelan.
Luhan yang mendengarnya mendengus, lalu dengan malas dia mengambil jawaban miliknya dari atas meja. "Aku adalah orang yang paling malas jika harus mengajari orang lain tentang Matematika," ujarnya. Gadis itu kemudian menatap wajah Sehun datar.
"Lalu?" tanya Sehun tak paham.
Tanpa menjawab, Luhan lalu menyerahkan kertas jawabannya tadi kepada Sehun.
"Jadi kau menyuruhku menyontek jawabanmu?" tanya Sehun memastikan. Masih dengan volume suara yang pelan, takut dimarahi oleh Yunho Saem.
"Ne," jawab Luhan.
Sehun tersenyum lebar. "Terima kasih," ucapnya, lalu mulai menyalin jawaban Luhan.
.
.
.
Tbc ...Maafkeun alurnya yang absurd. Otak radak buntu soalnya.ada yg punya ide buat kelanjutan chapter selanjutnya?Oke, ditunggu krisarannya..
