My Precious Woman
.
.
.
A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
Annyeong~~~~ aku minta maaf chap ini publishnya ngareeeett banget dan juga beberapa typo di chap kemaren T.T
Juga makasih banget yang uda review, follow dan favorite cerita ini, lafyu to the moon pokoknyaa~~
Enjoy~~
Kyungsoo mengantar Luhan ke bandara dan kini kedua gadis itu duduk di kursi tunggu. Masih ada beberapa orang anggota staff yang belum datang, bahkan sang kepala divisi pun belum datang.
"Apakah Sehun batal berangkat?" tanya Kyungsoo.
Luhan mengerutkan alis. "Tidak mungkin, Soo. Bahkan tadi malam ia meneleponku, bertanya apakah sebaiknya ia membawa pakaian renangnya atau tidak. Di London juga sedang musim panas, kau tahu."
Kyungsoo tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Dasar konyol. Apa yang ada di pikirannya itu hanya air dan ikan? Dia benar-benar."
Luhan ikut tertawa. "Yeah, mungkin nanti aku bisa menemaninya mencari ikan hias. Untuk menambah koleksinya."
Kyungsoo menyipitkan matanya memandang Luhan. Sudut bibirnya tersungging naik.
"Waeyo?"
Kyungsoo menatap jahil pada Luhan.
"Kau tahu, Luhannie. Aku bertanya-tanya apakah sekembalinya kalian dari London nanti aku akan mendapat keponakan?"
Luhan yang sedang menyesap cappuccino icenya sampai tersedak.
"Uhuk uhuk! Uhuk!"
"Hei sayang, kau kenapa?" Sehun yang baru datang segera menepuk-nepuk pelan punggung Luhan saat gadis itu terbatuk-batuk.
Kyungsoo yang sedang tertawa melihat reaksi Luhan menolehkan kepala ke sumber suara. Sementara Luhan hanya menggeleng dan menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Ah, tersangka utama sudah datang."
"Ya! Do Kyungsoo! Kau apakan Luhan, hah?"
Kyungsoo hanya tertawa lagi dan menjulurkan lidahnya kepada Sehun.
"Tidak apa-apa, Sehun. Dia hanya bercanda." Luhan yang sudah tenang menyahuti pertanyaan Sehun.
"Aku hanya mengatakan, apakah setelah kalian pulang dari London kalian akan memberiku keponakan."
Luhan tidak terbatuk seperti tadi. Namun wajahnya yang putih perlahan memerah, bahkan hingga ke telinganya.
Sehun mengerutkan alisnya dan terdiam sejenak.
"Hei, kupikir itu bukan ide buruk. Bagaimana Luhannie?" tanyanya pelan sambil menatap menggoda pada kekasihnya.
Luhan diam tak menjawab dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Kini Kyungsoo dan Sehun tertawa bersama, membuat Luhan merengut kesal.
"Kita ini pergi ke London untuk bekerja, bukan untuk hal lain yang-"
Ucapan Luhan terputus saat Sehun mencium bibirnya. Hanya beberapa detik, tapi sanggup membuat gadis blonde itu terdiam. Wajahnya semerah kepiting rebus sekarang.
Kyungsoo hanya tersenyum melihatnya.
"Dasar bodoh! Ini tempat umum!"
Luhan tampak cemas dan ketakutan. Kepalanya menoleh kesana-kemari. Siapa tahu mata-mata Kim Jongin melihat kejadian barusan.
"Hei, tenanglah Luhannie. Di London nanti kalian bebas melakukan apapun. Bahkan melakukan olahraga ranjang jika kalian mau." Goda Kyungsoo.
"YA!"
Suara panggilan untuk keberangkatan penumpang ke London berbunyi. Sehun bangkit dan mengecek semua staffnya, memastikan tak ada yang tertinggal. Luhan memeluk Kyungsoo erat.
"Soo, kau baik-baiklah disini selama aku dan Sehun pergi. Berjanjilah kau akan baik-baik saja." Gumam Luhan pelan.
"Ya, kau tenang saja. Kenapa kau jadi cemas begini? Aku akan baik-baik saja, aku jamin itu."
Luhan melepas pelukannya di tubuh Kyungsoo, menatap dalam-dalam gadis yang lebih pendek darinya itu.
"Jujur saja Soo, aku merasa sangat tidak tenang meninggalkanmu. Aku juga tidak tahu kenapa. Apa aku berlebihan?"
Kyungsoo malah tertawa kecil menanggapinya.
"Kau aneh, Luhanie. Kau dan Sehun sama saja, selalu bersikap berlebihan kepadaku. Atau… ini tanda-tanda kau sedang hamil ya?"
Luhan memukul kepala Kyungsoo pelan. Membuat gadis itu meringis sambil mengusap kepalanya.
"Apa yang ada dipikiranmu hanya itu, eoh? Kau ingin sekali melihatku hamil, hm?"
"Tentu saja, chagi. Terlebih aku. Aku janji Soo, begitu pulang nanti Luhanie akan memiliki kehidupan lain di perutnya."
Luhan terkejut mendengar suara kekasihnya tiba-tiba di belakangnya, kemudian pelukan erat didapatnya dari pria tinggi itu.
Kyungsoo terkikik geli. Kemudian Sehun maju dan ganti memeluknya. Sangat erat.
"Jaga dirimu baik-baik, Kyungsoo. Aku dan Luhan pergi tidak hanya sehari dua hari, kami tidak bisa menemanimu. Jadi, usahakan jangan sampai terjadi sesuatu, oke?"
"Oke bos." Kyungsoo menyahut lantang.
Luhan memperbaiki letak cardigannya, kemudian menyampirkan tasnya di bahu.
"Kau mau oleh-oleh apa, Soo?" tanyanya.
"Hei, 'kan kubilang kita akan memberinya keponakan sepulangnya kita nanti." Sehun menjawab pertanyaan Luhan.
Kyungsoo hanya tertawa. "Kalian pulang dengan keadaan selamat saja sudah cukup."
Sehun dan Luhan tersenyum menatap Kyungsoo.
"Baiklah, kami berangkat ya. Jaga dirimu baik-baik. Aku dan Luhannie akan menelepon begitu kami sampai disana."
Kemudian mereka beriringan berjalan bersama staff lain menuju pintu keberangkatan. Baru beberapa langkah Luhan berbalik dan menghampiri Kyungsoo sekali lagi. Memeluknya erat.
"Luhannie, sudahlah. Nanti kau ditinggal."
Luhan melepas pelukannya dan menatap Kyungsoo. kemudian menghembuskan nafasnya pelan.
"Oke, aku pergi sekarang."
Luhan berbalik dan melangkah menuju Sehun yang masih menunggunya, lalu menyambut uluran tangan pria itu. Mereka melambai kepada Kyungsoo, sebelum akhirnya melewati petugas pemeriksa tiket.
Kyungsoo menghela nafas. Lebih baik ia pulang sekarang. Diliriknya jam besar yang ada di ruang tunggu bandara itu.
Pukul 09.15
Masih pagi, Kyungsoo memutuskan pulang untuk membereskan rumah. Bandnya ada pertunjukan sekitar jam tujuh malam. Jadi masih ada banyak waktu tersisa, tanpa Kyungsoo tahu apa yang akan terjadi nanti malam.
.
.
.
How do I live? How do I breathe?
When you're not here I'm suffocating
I want to feel love, run through my blood
Tell me is this where I give it all up
For you I have t risk it all
'Cause the writing's on the wall
Suara lembut Kyungsoo mengalun indah menutup penampilan terakhirnya malam itu. Setelah lima lagu beat yang enerjik dinyanyikan, sebagai penutup Kyungsoo dan bandnya membawakan lagu ballad yang sarat arti tadi.
"Kerja bagus, Kyungsoo-ya. Suaramu benar-benar anugerah untuk kita semua."
Kyungsoo hanya tersenyum mendengar ucapan Ken, teman satu bandnya. Ia membereskan tasnya dan berniat pulang. Leo mengerutkan kening melihat Kyungsoo bersiap-siap.
"Hei, kau tidak bergabung dengan kami, Kyungsoo-ya? Kami mau makan-makan setelah ini."
Kyungsoo menggeleng. "Tidak, aku tidak ikut. Entahlah, kepalaku sedikit pusing."
"Pusing? Kau kecapekan?"
"Mau kami antar pulang?"
"Kau sudah minum obat?"
Kyungsoo mengibaskan tangannya mendengar rentetan pertanyaan itu dari teman-temannya. Ia malah tertawa, sikap mereka mengingatkannya pada Sehun dan Luhan. Berlebihan.
"Hey guys, tenanglah. Satu-satunya obat hanyalah tidur, dan aku masih sanggup pulang sendiri. Bungkuskan saja makanannya untukku." Ucap Kyungsoo setengah bercanda.
Ken memandang sangsi pada Kyungsoo.
"Kau yakin bisa pulang sendiri?"
Kyungsoo memutar bola matanya, kemudian melangkah keluar dari ruang ganti café itu.
"Sudah ya, nikmati pesta kalian. Aku duluan."
Kyungsoo melambaikan tangannya sambil meniupkan ciuman jauh, kemudian menghilang dibalik pintu ruang ganti.
Kyungsoo ingat ia belum berbelanja sesuatu untuk dimasak. Ia pun membelokkan langkahnya menuju minimarket yang tak jauh dari café tempatnya bekerja. Baru saja Kyungsoo hendak menyebrang, sebuah mobil SUV hitam-bahkan kaca mobilnya pun hitam- tiba-tiba berhenti mendadak didepannya dengan suara decitan ban yang cukup keras.
Kyungsoo terkejut, tentu saja. Jantungnya berdebar tidak karuan, mengingat sebuah SUV nyaris saja menabrak dirinya. Tetapi sejumlah pria berbadan besar yang keluar dari mobil itulah bahaya yang sesungguhnya. Kyungsoo mendelik ngeri saat empat orang pria itu menarik tubuhnya kasar. Mendorongnya masuk dengan paksa ke dalam SUV serba hitam itu.
Kyungsoo tidak sempat membuka mulutnya untuk menjerit minta tolong, salah satu pria tadi sudah membungkam mulut dan hidungnya dengan sapu tangan yang lembab berbau tajam.
Pusing dan sesak, hampir tak bisa bernafas. Itulah yang dirasakan Kyungsoo sebelum pandangannya berubah gelap dan ia tak sadarkan diri.
.
.
.
Jongin berjalan mondar-mandir di halaman mansionnya. Kedua tangannya bersedekap di dada, kedua alis gelapnya sedikit mengernyit.
Deru halus sebuah mobil terdengar di telinganya. Jongin menoleh dan melihat sebuah SUV hitam meluncur memasuki halaman mansionnya. Sudut bibirnya terangkat, tanda ia senang. Tapi begitu pintu mobil terbuka dan salah satu orang suruhannya turun keluar, Jongin dengan cepat memasang wajah datar tanpa ekspresinya.
"Kami sudah membawanya, Tuan."
Jongin mengangguk nyaris tidak kentara. Kemudian melangkah mendekati pintu SUV yang terbuka. Melongok ke dalam dan –nyaris– tersenyum lagi. Targetnya ada disana, terbaring lemas tak sadarkan diri.
"Sesuai perubahan rencana, Tuan. Kami hanya membawanya kesini."
Lagi, salah satu pria kekar itu membuka suara.
"Hm." Jongin hanya menggumam kecil.
Kemudian tanpa berkata apapun, ia menjulurkan tangannya dan menarik –pelan–tubuh lemas Kyungsoo. Menaruhnya di salah satu bahunya dan melangkah masuk ke dalam mansionnya.
Jongin melangkah menaiki tangga menuju kamarnya dengan tenang. Mengunci pintu kamarnya dan mendekati ranjang besarnya. Tubuh Kyungsoo dilemparnya diatas ranjang. Jongin menyeringai puas menatap Kyungsoo.
.
.
.
"Uh…"
Gadis itu membuka matanya sebentar, kemudian mengerjapkannya berkali-kali agar pandangannya menjadi jelas. Kedua alisnya sedikit mengernyit. Ia terdiam sejenak sambil matanya menelusuri ruangan ini.
'Sebenarnya apa yang terjadi? Ruangan ini terasa… asing, dimana aku?'
Kyungsoo –gadis itu – berusaha menggerakkan tangannya untuk mengusap matanya yang terasa berair. Tapi aneh, tangannya bergeming. Kyungsoo tercekat, ia menoleh ke atas dan mendapati seutas tali sudah tersimpul cantik membelit kedua pergelangan tangannya.
"A-apa-apaan ini?!"
Kyungsoo merasa panik, ia menarik tangannya dan langsung meringis merasakan gesekan antara tali dan kulitnya. Rupanya simpul yang mengikat tangannya tersambung hingga ke besi kepala ranjang. Membuat Kyungsoo tak berkutik.
Kyungsoo menurunkan pandangan matanya dan baru menyadari jaket panjang yang dipakainya sudah raib entah kemana. Kedua tangannya polos tanpa tertutup apapun. Kyungsoo mencoba mengira-ngira, dan ia merasa kalau tubuhnya juga naked dibalik bedcover tebal ini.
Astaga! Siapa yang melakukan ini kepadanya?!
Orang gila mana yang sudah menculiknya, kemudian mengikatnya di ranjang dalam keadaan naked? Kyungsoo tampak ngeri, ia tidak berani memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
Cklek!
Bunyi pelan pintu yang terbuka terdengar, membuat Kyungsoo menoleh ke asal suara. Namun karena tangannya terikat membuatnya sulit mengangkat wajah agar bisa melihat lebih jelas.
"Sudah bangun rupanya, hm? Apa kau menikmati tidurmu, Cantik?"
Kyungsoo menegang mendengarnya. Suara itu… suara bass yang khas itu… seolah menjadi mimpi buruk untuk Kyungsoo.
Dan sekejap kemudian sosok Jongin tampak dalam pandangan Kyungsoo, sedang tersenyum lebar menatapnya. Tetapi senyuman itu lebih terasa mengejek untuk Kyungsoo.
Kyungsoo melotot tajam kepada Jongin.
"KAU! Dasar brengsek, sebenarnya apa maumu, hah? Kenapa kau lakukan ini kepadaku?!" jerit Kyungsoo.
Jongin merunduk menaiki ranjang dan setengah menindih tubuh Kyungsoo.
"Sssstt, tenang sayang. Jangan gaduh, aku tidak suka percintaan yang 'berisik'." Bisik Jongin sambil mengelus bibir Kyungsoo dengan jemarinya.
Kyungsoo memalingkan wajahnya, menghindari sentuhan Jongin pada kulitnya.
"Kau gila! Hentikan semua ini dan biarkan aku keluar!"
Jongin berdecak melihat Kyungsoo masih saja memberontak. Ia menarik dagu Kyungsoo hingga mau tak mau gadis itu kembali menghadapnya.
"Kau berisik, Do Kyungsoo. Tak akan ada yang bisa keluar dari sini tanpa kemauanku, termasuk kau! Sekarang kau diam dan aku akan menunjukkan sesuatu padamu!" ucap Jongin dengan nada rendahnya yang tajam.
Kyungsoo membelalak saat Jongin mengeluarkan sehelai sapu tangan dan melilitkan kain itu mengikat mulutnya. Kyungsoo berusaha menggelengkan kepala, tetapi tetap saja ia kalah. Kain tipis itu terjepit diantara bibirnya dan ujung-ujungnya sudah terikat kencang di belakang tengkuknya.
"Nah, sekarang lihat. Aku punya sesuatu untukmu."
Jongin menyeringai licik melihat Kyungsoo terengah dibalik sumpalan mulutnya. Pria itu mengambil amplop coklat diatas nakas disamping ranjangnya.
Dengan perlahan Jongin mengeluarkan isi amplop itu dan mulai memperlihatkannya kepada Kyungsoo.
"Lihat, kau tampak menggoda sekali bukan?"
Kyungsoo bisa melihat jelas apa yang ada ditangan Jongin. Dua lembar foto dirinya dalam keadaan naked! Tubuhnya yang sedang tak sadarkan diri itu diposisikan dalam pose yang sangat menggoda. Wajah Kyungsoo memerah, campuran antara rasa malu dan amarahnya yang memuncak.
Kim Jongin keterlaluan! Dia benar-benar tidak punya hati!
"Bagaimana? Kau setuju dengan pendapatku?" Jongin bertanya sambil menyunggingkan senyumnya.
Kyungsoo menggeram marah. Hatinya sungguh sakit diperlakukan dengan rendah seperti ini oleh pria yang dibencinya.
"Aku masih punya lebih banyak lagi foto seperti ini. Jadi sekarang, nasib hidupmu ada di tanganku. Kau mengerti itu?"
Kyungsoo tidak bisa menjawab, karena memang kondisinya tidak memungkinkannya untuk berbicara. Ia menatap Jongin dengan benci yang berkilat di matanya. Selamanya ia akan membenci pria itu, Kyungsoo sudah menancapkan rasa itu dalam-dalam di hatinya.
.
.
.
Kini Kyungsoo sudah benar-benar tampak naked diatas ranjang itu. Jongin sudah menyingkirkan bedcover yang tadi sempat menutupi tubuhnya. Kyungsoo menggeliat saat Jongin berusaha menyentuh tubuhnya yang terekspos. Ia menggelengkan kepalanya, bahkan hingga menatap memohon pada Jongin.
"Sudahlah, kau tak akan bisa lepas lagi. Dengar itu baik-baik!"
Jongin mengucapkan itu dengan cuek sebelum ia memulai petualangannya menjamah tubuh mulus Kyungsoo. Pertama ia merunduk mendekati leher Kyungsoo. Menenggelamkan wajahnya disana dan mengendus wanginya. Sesaat Jongin terhenyak. Wangi tubuh Kyungsoo yang alami –Jongin tahu itu bukan parfum– membuatnya memejamkan mata. Harumnya memang samar-samar, tetapi itulah yang membuat Jongin seperti ketagihan. Bibirnya mulai menciumi daerah leher Kyungsoo.
Tidak puas dengan menciumnya, bibir Jongin membuka dan menjulurkan lidahnya diatas kulit putih itu. Menyusurinya pelan-pelan, meninggalkan jejak salivanya. Dan Jongin ingin melakukan yang lebih lagi, ia menjepit kulit leher Kyungsoo dengan giginya. Kemudian menghisapnya, lembut tapi kuat. Jongin melepas gigitannya dan bibirnya beralih turun ke dada Kyungsoo.
Sedangkan Kyungsoo sudah memejamkan matanya. Membuat dua bulir airmatanya turun dari celah kelopak matanya, mengalir ke samping membasahi pelipis dan rambutnya.
Kenapa Kim Jongin melakukan ini kepadanya? Dia bukan siapa-siapa, dan masih banyak yang bisa diajak Jongin untuk bercinta.
Entahlah, Kyungsoo pikir hatinya sudah tidak sanggup lagi membendung rasa bencinya pada Jongin.
Kyungsoo tersentak dan refleks membuka mata saat Jongin mencium kelopak matanya yang tadi terpejam. Tangan pria itu terulur dan membuka ikatan sapu tangan yang menyumpal mulutnya.
"Kenapa diam? Kau menikmatinya bukan?"
Kyungsoo menggeleng.
"Hentikan…"
Tetapi Jongin tidak mendengarkannya. Ia malah menyeringai sinis menatap Kyungsoo. Ia sudah dalam posisi bersiap untuk memasuki inti permainan ini.
"Dengar, Do Kyungsoo. Kau tidak perlu memasang wajah seolah kau teraniya seperti itu. Kau menikmati ini semua 'kan? Aku bisa lebih memuaskanmu dibandingkan adikku. Kau bisa bandingkan perbedaannya nanti, adikku atau aku yang lebih unggul. Bersiaplah…"
Setelah berkata seperti itu, Jongin langsung menghujamkan miliknya ke dalam liang hangat Kyungsoo. Gadis itu baru saja akan mencegah Jongin, tetapi semuanya terlambat. Ia menjerit saat sesuatu yang keras menumbuk bagian bawah tubuhnya.
Kyungsoo tidak mengerti nikmat seperti apa yang dimaksud Jongin, ia masih awam dalam hal seperti ini. Karena yang dirasakannya sekarang adalah sakit. Panas. Perih.
Kyungsoo merasa tubuhnya remuk, nafasnya tersengal menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya. Yang perlahan-lahan rasa sakit itu mulai menyebar. Kakinya sudah terasa kebas. Selangkangan dan daerah inti tubuhnya perih. Berdenyut-denyut sakit.
Tetapi semuanya tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit hatinya. Jongin sudah berhasil mengalahkannya. Kyungsoo yang pernah bertekad tidak akan menangis di hadapan Jongin, kini terisak tanpa suara disaat pria itu sedang menyetubuhinya. Giginya mengatup bibir bawahnya, hingga menimbulkan luka dan darahnya merembes keluar.
Jongin tidak sadar Kyungsoo sudah tidak menggeliat seperti tadi. Ia fokus mencari kenikmatan untuk dirinya, sekaligus menikmati lekuk tubuh lembut Kyungsoo. Matanya terpejam rapat saat ia berhasil mencapai puncaknya. Ia ambruk menindih tubuh Kyungsoo.
Jongin mengatur nafasnya seraya menghirup aroma kulit Kyungsoo. Membuatnya rileks. Perlahan Jongin membuka matanya saat nafasnya sudah teratur kembali.
Ia terkejut melihat keadaan Kyungsoo. Pipi gembil gadis itu basah karena aliran airmatanya. Kyungsoo tampak menahan isakannya dengan menggigit bibirnya sendiri hingga terluka. Jongin bisa melihat setitik darah menodai bibir berbentuk hati itu.
Jongin mengernyit tidak mengerti. Mengapa Kyungsoo menangis? Ia sudah sering 'kan bercinta dengan adiknya? Apa bedanya bila sekarang Kyungsoo bercinta dengan dirinya?
Jongin melepas ikatan tangan Kyungsoo dan menggenggam tangan yang terasa dingin itu. Jongin mengernyit lagi. Lantas ia menggerakkan pinggulnya dan mengeluarkan kejantanannya dari liang senggama Kyungsoo. Jongin menatap kaget pada bagian bawah tubuh Kyungsoo.
Daerah kewanitaan gadis itu basah, bukan hanya karena cairannya. Ada cairan lain disana yang berwarna merah segar. Jongin mengangkat wajahnya kembali menatap Kyungsoo.
"Kyungsoo…? Kau…?"
Jangan katakan darah itu adalah darah keperawanan Do Kyungsoo. Jongin mengguncang lengan Kyungsoo yang digenggamnya.
"Do Kyungsoo! Kau… kau masih virgin?"
Kyungsoo diam, ia masih memejamkan matanya. Alisnya mengkerut menahan sakit, baik di tubuh maupun dihatinya. Didengarnya Jongin mengguncang lengannya lagi.
"Do Kyungsoo!"
Kyungsoo membuka matanya dan menatap Jongin dengan pandangan terlukanya. Terluka sekaligus benci.
"Kau puas 'kan sekarang, Kim Jongin? Kau senang? Akhirnya kau mendapatkan apa yang kau inginkan."
"Aku tanya, apa benar kau belum pernah melakukannya?"
Kyungsoo menatap Jongin lelah. "Kapan aku bilang aku sudah pernah melakukannya?"
Jongin terhenyak sesaat.
"Lalu… kau dan Sehun belum pernah…"
Kyungsoo menjawab lirih. "Semuanya hanya sandiwara. Sehun hanya sahabatku, bukan tunanganku. Kuharap kau puas dengan semua ini."
Suara Kyungsoo bergetar saat berbicara. Ia menarik tangannya dari genggaman Jongin. Sambil menahan sakit Kyungsoo beranjak bangun dari ranjang dan melihat ke sekeliling lantai dimana pakaiannya berserakan. Memakai pakaiannya kembali dan mengabaikan Jongin yang mematung seperti batu, setelah itu Kyungsoo melangkah ke pintu kamar Jongin dan memutar kuncinya. Pergi dari mansion mewah itu, tanpa menoleh ke belakang lagi.
Jongin berdiri di balkon kamarnya memandang sosok mungil itu melangkah pelan, sedikit terseok-seok, menuju pagar rumahnya. Ia sudah memerintahkan anak buahnya agar memberi Kyungsoo jalan keluar.
Jujur saja, ia masih sedikit shock dengan kenyataan tadi. Jadi selama ini ia tertipu? Mengapa adiknya itu membohonginya?
Jongin memijit pelipisnya yang berdenyut. Jadi… ia sudah merenggut ke-virgin-an Kyungsoo? Ia ingat semuanya, masih terasa segar dalam pikirannya. Wangi tubuh Kyungsoo yang seperti candu untuknya, lembut kulit seputih susu itu, dan semua bagian tubuh Kyungsoo yang membuatnya melayang.
Ia juga ingat tatapan mata bening itu. Tidak ada lagi sorot menantang disana. Jongin mengusap wajahnya. Aneh. Mengapa ia merasa… bersalah sekarang?
Ia ingat tatapan Kyungsoo tadi. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?
.
ToBeContinue
