Holla, sesuatu banget saya bisa update lagi ya. Sorry banget kalo seandai kata banyak typo. Waktu nulis ini saya lagi nyoba nulis gak ngeliat dan cuma dibantu ma accessibility narrator yang bakal ngeja apa yang kita tulis, ditambah karena gw pake laptop jadi keyboardnya rata jadi gw tempelin stiker Braille. So, gw nulis cuma denger apa yang dieja narrator ditambah ngeraba Braille gw.

Kalian nyangka gw anak bandung ya? Hahahah… gw sekarang lagi ngambil studi ke dua gw di filsafat theology, studi pertama gw dah beres di jurusan Kriminolog. Mumpung gw masih muda. Tapi sekarang gw lagi cuti demi kerja sebagai model majalah pria dewasa. Males kan kalo kuliah terus, sekali-kali kerja. Sorry banget lama update. Satu minggu ini saya lagi cuti dan saya lagi gila-gilaan nyobain namanya dunia malam di Bandung dari Amnesia, Mansion, Tropicana, Eden, Cesar Place, dan Night club- Night club lain di Bandung. Dah satu minggu ini saya kurang tidur. Jadi sorry ya kalau kurang prima and bagus.

Chap kemaren hampir gak ada kontak antara Jaejoong ma Kibum, sekarang ada tapi latar waktunya bener2 jauh. Masih inget kan waktu prolog bagian Kibum? Ya itu adalah a little bit of part dari sub judul ini.

Warning banget: ni ff alur waktunya gak jelas. Nanti pas di chap terakhir gw tulis alur waktunya yang bener per sub judul dan nanti kalian coba baca lagi biar jelas. Gak bosen-bosen gw ingetin baca berulang-ulang! (tanda seru , garis bawah loh)

Buat yang kemarin gak ngerti POV:

Mereka kata saya: Jaejoong.

Titik, Koma: Yunho

Warning: Bahasa yang frontal, vulgar. Mengandung unsur dewasa. Alur yang rumit. Bahasa yang sulit dimengerti.

.

.

Sang ANJING dan Sang PRESIDENT

.

"Tak ada yang lebih hebat dari saya jika menyangkut urusan lelucon Tuhan!"

.

UNTUK PEMBACA DEWASA

.

Laki-laki itu!

(Sebuah kenyataan tentang Jaejoong akan Kibum.)

.

Sudah subuh. Diluar hujan masih jatuh. Suara dentingan tongkat satpam dan tiang listrik semakin menjauh. Sementara pacar Hyung semakin gaduh.

Tapi hingga saat ini saya belum tidur. Saya semakin melesakan kepala saya kebantal. Sementara suara itu semakin keras. Saya galau. Saya risau.

Sudah lama saya disiksa bosan!

Bukan suara dari kamar Hyung yang membuat saya terganggu. Bukan juga suara dari luar. Saya suka suara hujan yang jatuh. Saya suka suara dentingan logam yang beradu dengan tongkat satpam yang sekarang menjauh. Suara dari kamar Hyung? Ah, itu bukan masalah. Saya sudah sangat terbiasa. Tiap malam saya mendengar berbagai suara. Ada yang yang mengembik seperti kambing. Ada yang mengoik seperti babi. Ada yang menggeram seperti kucing. Ada seorang yang bertriak seperti singa. Hyung? Ah, dia hanya bisa mendesah seperti jalang.

Hyung juga suka binatang. Dan binatang juga berbalik sayang pada hyung. Tidak hanya sayang, tapi juga tunduk. Beratus-ratus orang menyembah hyung demi lubangnya. Dimata saya Hyung bukan hanya seorang Hyung, tapi seorang pawang binatang. Ada beberapa binatang yang dapat diberi arahan mudah. Ada yang susah. Untuk hal ini, Hyung punya berbagai cara penakluk. Dengan cemiti. Dengan borgol. Dengan cambuk. Ada juga binatang yang rakus. Dan untuk yang ini, Hyung tinggal memasakan masakan istimewa dan menyajikan diatas badannya.

Saya kagum akan Hyung dan binatang –binatangnya. Hyung kagum akan dirinya. Hyung sayang akan binatangnya. Hyung sayang akan saya. Hyung selalu ingin, kalau saya bisa sesuksesnya. Tapi hyung juga bilang, jika keadaannya baik Ia tak ingin saya sepertinya.

Hei Kim Kibum, mengurus binatang bernama lelaki itu ya susah- ya gampang. Harus cekatan. Harus pintar. Kamu harus lihat bagaimana maunya. Lihat bagaimanan keadaannya. Jangan pasrah! Yang ada cuma mendesah. Nah, kamu harus belajar lagi. Wong penis kamu suka masih ditusukin peniti. Satu saja gak bener! Gimana banyak?

Mau tak mau. Saya terima apa kata Hyung. Memang saya hanya punya satu pacar. Sudah merepotkan. Suka main kasar. Suka menusuk penis saya dengan peniti. Suka memperkosa saya. Dikasih ati minta ampela. Disayang malah ngelunjak. Diiket malah kabur. Jadilah saya. Nama saya Kim Kibum saya adalah binatang dan seorang Choi Siwon adalah pawang.

Saya pening. Saya lihat ada sebungkus rokok dan sebotol Chivas Regal dipojok sana. Mengambil sebatang rokok dan menyulut. Mengambil botol Chivas dan menuangkannya ke gelas. Tiba-tiba pintu kamar saya terbuka. Menampilkan sesosok Hyung dibalut kemeja putih dan rambut acak-acakan.

Gimana kamu mau jadi pawang! Ngerokok? Minum? Jam segini belum tidur. Ngurus badan sendiri aja gak becus! Ngerokok gak berhenti. Minum makin jadi. Mau jadi apa kamu? TIDUR!

Seketika pintu didepan saya berdebam keras menutup. Memutus cahaya yang masuk dari luar. Saya sadar apa yang dibicarakan Hyung benar. Tapi tak semuanya benar. Saya bukannya tidak mau tidur. Saya memang tak bisa tidur. Kenapa Hyung tidak mendengar saya?

Saya kembali pening. Saya mematikan rokok saya dan menghabiskan minuman itu dalam sekali tegak. Kembali saya meringkuk diatas kasur saya. Meringkuk. Terlentang. Tengkurap. Ah! Saya tak bisa tidur! Saya butuh dia! Saya butuh pawang saya. Mendesah dibawahnya. Meneriakan namanya ketika kami berbagi nafsu. Tapi dia pawang yang kejam. Pawang yang terlalu kejam untuk saya.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Matahari hampir terbit. Tapi saya tak bisa tidur. Kepala saya pening. Badan saya kaku. Saya tak dapat berpikir. Saya pusing. Saya dirundung bosan.

Tiba-tiba pintu kamar saya terbuka. Meloloskan cahaya. Didepan pintu terbentuk sepintas bayangan yang berjalan pelan kearah saya. rambutnya basah. Bajunya basah meneteskan cairan berbau amis. Perlahan siluet itu semakin mendekat dan mengelus kepala saya lembut.

Sudah Hyung gorok lehernya! Itu adalah pembalasan karena dia sudah membunuh Yunho. Menyiksa kamu. Cuma butuh beberapa jam buat bikin dia ngemis-ngemis. Buka celanannya. Hisap penisnya. Kalau ada apa-apa lagi kamu bilang! Biar Hyung gorok lehernya sama Hyung kebiri penisnya yang suka loncat-loncat!

Perlahan siluet itu berjalan menjauh. Menutup pintu. Memutuskan kontak cahaya atas kamar saya. Perlahan kehangatan kembali ketubuh saya. Saya begitu larut akan Hyung. Dan Hyung sangat begitu larut akan dirinya.

Ini cuma lelucon Tuhan! Sebegitu cepat Ia beri seorang yang membuat saya menderita sekaligus cepat Ia beri seorang yang Hyung mulai sayang. Sebegitu cepat Ia tarik kembali orang-orang yang saya dan Hyung butuh. Ini cuma lelucon Tuhan! Hahahahahahaha….

Saya mulai menjemput mimpi, sambil menertawai lelucon Tuhan. Tak ada yang lebih hebat dari saya mengenai lelucong Tuhan!

Laki-laki itu!

Lelucon Tuhan!

Hyung hanya ongkang-ongkang kaki, sambil membersihkan katananya yang penuh darah.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Penthouse 512

(apa yang terjadi didalam kamar? Jaejoong? Yunho?)

.

"Boojae..?"

"Yunnie.." saya langsung mendekapnya hangat.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Sayalah sang Penthouse. Sebuah Penthouse bernomer 512. Sebuah penthouse mewah yang terletak di jantung kota Seoul. Sebuah Penthouse yang dibangun diatas sebuah hotel mewah. Dengan harga sewa sebesar dua ribu dolar per malam, saya rasa saya pantas memanjakan para penikmat seks dengan fasilitas saya.

Ada satu kamar utama di dalam tubuh saya. Lengkap dengan Jacuzzi tempat para tamu menumpakahkan sperma. saling mendekap hangat. Atau sekedar membasuh tubuh laknat mereka kedalam Jacuzzi hangat itu. Saya juga memliki ruang makan didalam tubuh saya. Tempat dimana para tamu juga saling bersenggama diatas meja makan. Diatas dapur. Tak jarang mereka melakukan ditempat lain. Diatas sofa empuk, dimana mereka meninggal noktah peluh atau sperma diatasnya. Saya menikmati semuanya ketika mereka mengembik sekarat seperti sapi. Ketika mereka memuaskan hasrat. Berbagi cairan. Aku sering memperhatika wajah mereka yang datang tampak familiar bagi mereka sering mucul didalam TV. Orang yang selalu berceramah tentang Agama, Moral, Kiat Bisnis, Cara hidup, Memotivasi orang, bahkan Pemimpin kita yang sering obral janji.

"Ne, BooJae ayo cepat masuk."

Ah, saya tahu suara itu!

" HAHAHAHA….. Jangan nafsuan seperti itu Yunnie-ah! Sabar!"

" Ayo cepat BooJae… waktu ku hanya 3 jam!"

"Ah, liat Yunnie kau itu ada di TV!"

Ah, saya Ingat pria yang sendari tadi menciumi seluruh bagian tubuh pria cantik yang ada dihadapannya. Dia Jung Yunho. Perdana Mentri Korea terbaru setelah Perdana Mentri Korea yang lama terbunuh oleh gank Mafia. Sejenak Yunho memperhatikan dirinya sendiri yang sedang berpidato tentang Isue perang antara Korea Selatan dan Korea Utara, lalu Ia tertawa. Dan kemudia Ia kembali mengembik seperti sapi sekarat diatas sofa. Diatas pria cantik yang tadi Ia panggil Boojae. Langsung Ia menggendong kekasihnya itu kedalam kamar.

-0-0-0-0-0-0-0-

Ah, suara itu semakin keras. Suara erangan yang keluar dari salah satu kamar yang berada di dalam tubuh saya. suara erangan yang keluar dari mulut namja cantik yang berada dibawah namja tampan bermata musang.

"Arghhh... Yunniehh…." Erang namja cantik yang tadi dipanggil Boojae oleh pasangannya. Ia hanya tebaring pasrah diatas tempat tidur. Pasanganya yang Ia tadi panggil Yunnie, kepala terlihat turun menuju dada Jaejoong yang terbuka bebas.

"Kau menikmatinya Boojae?" geram Yunho yang sedang asik menikmati nipples jaejoong yang sudah keras dan menantang.

Lihat! Yunho bukan hanya menghisap nipples itu tapi juga menghisapnya dan memainkan lidahnya diatas daging sebesar biji kacang itu.

Mata Jaejoong hanya menatap Yunho dengan mata sayu. Saya hanya melihat mereka miris. Tapi saya senang. Saya bukannya jahanam yang melihat hubungan mereka ini dengan senang. Saya hanya sendiri menatap hidup disini. Saya adalah kamar mewah tempat melepaskan nafsu sesaat. Saya senang menyambut Ting! disertai dua orang atau lebih.

"Arghh….. Yunniee faster! Faster!" Suara itu mengagetkan saya. Namja cantik itu telah tengkurap dilubangnya terisi penis dari namja tampan yang ada dibelakannya. Maju-mundur. Mengerakan penisnya.

Sepintas saya mendengar berita yang terpangpang ditelevisi KEMELARATAN. WABAH PENYAKIT. KORUPSI

KEMELARATAN. KELAPARAN. DEMONSTRASI.

BUSUNG LAPAR. SEKOLAH RUBUH.

KEMELARATAN. KEMISKINAN..

WABAH PENYAKIT. KEMISKINAN. KEMATIAN.

KORUPSI. RENOVASI KAMAR MANDI. STUDI ANGGOTA DEWAN.

KEMATIAN. KEMELARATAN.

Saya terpana mendengar ketidakadilan. Kemelaratan. Saya hanya tahu kemewahan. Satu-satunya kemanusiaan yang yang saya dapat dari seorang clening servis yang terus berguman bahwa bed cover dikamar saya jauh lebih mahal dari uang gaji Ia selama satu bulan. Saya tak pernah merasakan manusia. Manusia yang datang bersma Ting! hanyalah manusia yang hanya datang dengan nafsu dan pergi dengan mata nyalang dan muka merah bermandi peluh setelah bermain nafsu. Saya bosan! Yang saya tahu hanya kemewahan dan Seks.

Ingin rasanya saya menjadi manusia. Mengenal dunia yang lebih luas. Menikmati buah segar yang tersaji diatas meja di tubuh saya. Mencicipi seteguk Pierrier yang akan menghilangkan dahaga sesaat setelah meluncur bebas dikerongkongan saya. Menikmati fillet mignon dan membuat perut mereka berteriak kenyang. Melepas khayalan dengan dom perignon. Rasanya saya ingin menukar itu semua dengan menjadi manusia. Atau menukar dengan apa yang masyarakat rendah khayal dengan mereka yang semakin kaya dengan satu malam. Saya mau bertukar. Tapi saya takut berharap. Takut karena kemolekan tubuh saya, saya hanya bisa mendapa seks. Tak lebih. Saya takut berharap. Saya hanya layaknya babi buta yang ingin terbang. Tak tau tujuannya.

Sepintas saya mendengar, "Seperti yang kumau, seperti matahari yang ditunggu terbit setiap malam menjelang, menunggu hari yang baru."

Dan mereka pun pergi meniggalkan kamar seharga dua ribu dolar per malam.

Ting!

Sepintas saya mendengar seorang korban kemelaratan masuk sambil membawa perkakas bersih-bersih.

-0-0-0-0-0-0-0-

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Lelucon Tuhan

(tak ada yang lebih kuat dari saya, Kim Jaejoong mengenai lelucon Tuhan!)

.

.

Akhirnya Yunho pergi dengan bersimbah darah. Pergi meninggalkan kepalanya. Kembali saya sendiri. Kembali saya menjadi pengecer jasa kelamin. Tak pernah saya merasa sekosong ini seperti. Rasanya lain jika ditinggal pergi dengan tubuh bugil oleh pria lain. Rasanya Yunho lain. Walaupun secara materil dan moril saya yakin.

Entah apa yang saya harus lakukan. Entah apa yang saya perlu lakukan untuk membunuh waktu. Saya tak tahu. Satu saat saya merasa waktu berhenti. Ingin rasanya mencakar-cakar dinding. Mengigit meja. Satu sisi saya gila. Saya mencari mabuk dari night club ke night lain. Saya tak mencari cinta lain. Saya tetap menjadi pengecer jasa kelamin hanya untuk sekedar hit and run.

Apakah yang harus saya lakukan? Apakah saya harus menjadi Jaejoong yang dulu? Atau saya harus berhenti mencari hit and run? Tanpa menjadi seperti itupun, saya sudah seperti itu. Kibum bilang saya seperti pawang. Seperti jalang. Samakan? Saya sama seperti dulu menghisap penis, menungging seperti anjing. Saya tinggal merendah dan mengiklaskan telapak tangan saya demi lembaran dolar atau won.

Tiba-tiba tangan saya gatal. Saya ingat ketika pertama kali saya menungging seperti anjing. Saya yang saat itu menungging demi memenuhi perut Kibum yang sudah meronta. Saya ingat ketika saya harus menungging seperti anjing demi beasiswa sekolah adik saya. Teringat saya harus menungging. Teringat saya harus mendesah. Teringat saya harus memainkan lelucon Tuhan! Saya tak mampu.

Saya memejamkan mata. Masih ada bau Yunho disekitar kamar. Masih ada bau Yunho di kemeja yang saya pakai. Masih ada jiwa Yunho yang tertinggal dibantal yang saya peluk. Masih ada barang-barang Yunho. Semua ada kecuali Yunho. Kecuali rasa aman dan terlindungi.

Rindu ini keparat. Ini menyerang saya tanpa ampun. Ingin saya meronta-ronta memohon Yunho. Mengatakan bahwa saya mencintainya. Sangat! Padahal saya selalu berkata tidak. SAYA MUNAFIK! SAYA MUNAFIK!

Lantas kembali saya bertemu dengan teman-teman lama saya. Alcohol. Bar. Rokok. Junsu. Yoonchun. Changmin. Tawa. Ya, saya tertawa. Saya tertawa hingga perut saya kram. Hingga air mata menetes dari mata saya. Saya tak bisa diam. Saya terus tertawa. Saya terus tertawa akan lelucon Tuhan. Lelucon-Nya. Lelucon-Nya atas Junsu yang berubah kelamin. Lelucon-Nya atas Yoonchun yang mencintai seorang waria. Lelucon-Nya atas Changmin yang sudah pasrah atas AIDS yang menggerogotinya. Dan juga Lelucon-Nya atas saya yang akan mati terkena penyakit menular seksual yang terus menggrogoti saya. Hahahaha…

Bagaimana dia, Siwon membunuh Yunho demi atas nama cinta! Phuih! Cinta itu tak harus memiliki! Saya benci atas diri saya yang hanya bisa diam melihat proses pemakaman Yunho. Saya butuh dia! Saya butuh Yunho! Dengan seenak jidatnya dia ambil Yunho dari saya! Taik Anjing! Dia tidak berkepentingan dalam hubungan ini. Dia cinta saya? Bullshit! Dia terus tusuk penis adik saya dengan peniti. Dia ambil Yunho dari saya. Itu cinta?

Saya benci diri saya yang kolokan. Saya benci memainkan lelucon Tuhan. Tak ada jalan lain utuk menang selain mati. Jiwa ini harus bisa keluar dari tubuh agar bisa memainkan permainan balasan. Tapi saya bingung? Dengan apa saya membalas? Dengan memutar nomer telepon dan menelpon lelaki bangsat agar meniduri saya, atau pergi berlari mencari taxi dan mengurung diri. Tapi dengan apa? Lagi-lagi perasaan cinta ini tumbuh memperdaya. Begitu takut melihat ujung silet menggerat nadi. Begitu takut melihat tubuh meregang nyawa atas penyakit ini. Begitu takut melihat nisan dengan nama terukir. Padahal saya begitu mual melihat neraka jahanam ini.

Pasti menyenangkan kehidupan setelah mati. Maka tetap menjadi misteri. Tak peduli seseram apa mereka pergi. Jika kita tahu keindahaan apa yang disimpan keindahan, semua orang akan bunuh diri. Bumi mati. Bumi kosong tak berpenghuni.

Tawa saya berderai. Saya membayangkan tak ada seks. Tak ada yang bercinta. Tak ada kelahiran. Yang ada kematian. Mayat bergelimpangan. Tak ada yang menguburkan. Tawa saya berderai, perut saya kram. Bajingan! Orang itu alasanya. Saya ambil katana. Saya akan gorok lehernya. Saya akan mati. Tak akan jadi pelari.

Hahaha…. Lelucon Tuhan itu lucu!

Saya hanya bisa meregang nyawa bersama tawa dengan bersimbah darah seorang pembunuh.

-0-0-0-0-0-0-0-

-0-0-0-0-0-0

Kertas

(Diliang lahat hyung membuat lelucon bersama Tuhan!)

.

.

Setelah Hyung pergi ke liang lahat.

Seperti biasa saya melihat saya hingga menembus bayangan. Bayangan yang terpampang dicermin besar Hyung. Sudah dua bulan saya seperti ini. Hanya mematung memandang cermin hanya karena sebuah kertas. Sebuah kertas kematian bercetak tebal. Sebuah vonis penyakit yang dengan seenaknya sudah merenggut nyawa Hyung duluan. Sudah dua bulan hyung mati karena sebuah penyakit kelamin. Sudah dua bulan hyung meninggalkan saya yang terkadang tertawa karena lelucon Tuhan. Sudah dua bulan saya saya mensal, bahkan untuk duduk melihat pemakamannya saja saya tidak.

Sebelum seorang satpam dari sebuah hotel mewah menemukan hyung meregang nyawa sendirian di Penthouse 512. Hyung yang manis, hyung yang baik, hyung yang tegar, hyung yang kagum akan dirinya, hyung sayang akan saya, hyung cantik, hyung yang menderita. Seorang Hyung bernama Jaejoong yang diharapkan menjadi seorang yang baik dikemudian hari yang kemudian menjadi seorang pengecer jasa kelamin dan bertransformasi menjadi pengusaha jasa kelamin kelas eksekutif. Saya menemukan dua lembar kertas dimeja Hyung bertuliskan:

Nama: Jung Jae Joong

Umur: 27 tahun

Jenis Kelamin: Pria

Diagnosis:

HIV (+)

Ghonnorea (+)

Sifilis (-)

Phenomonia (+)

Gejala Kangker (+)

Diagnosis kangker (Prostat)

.

.

Lelucon Tuhan itu lucu!

Tertawala!

Sampai mati lemas

Kemudian pergi meninggalkan kehidupan

Tanpa beban

Tanpa rasa

Hanya bisa tersenyum dalam hampa

Hahahahaha…

Setelah hilangkan beban

Setelah hilangkan dendam

Tertawa lagi!

Sampai mati lemas lagi!

Kemudian tersenyum lagi dalam kesenangan.

Sambil membuat lelucon bersama Tuhan!

Beritahu kepada hamba-Nya

Aku yang membuat lelucon Tuhan!

.

Setelah itu Hyung pergi keliang lahat tanpa pernah kembali.

Dan seperti biasa, selama dua bulan ini saya hanya duduk termangu didepan cermin atau tidur dengan mata kosong dikasur milik hyung sambil memeluk dua kertas itu. Tulisan Hyung terlihat jelas dari puisi yang Ia buat. Tanpa harus menoleh, tanpa harus membaca ulang kalimat ini akan selalu tertancap pada hati saya yang dirundung pilu. Hyung adalah semangat hidup. Hyung yang selalu ada untuk saya jika pulang dengan penis penuh peniti dan berderai air mata. Hyung yang menungging seperti anjing demi beasiswa saya. Demi perut saya yang keroncongan. Hyung yang selalu bisa mengungkap cinta padahal dirinya menolak jatuh cinta. Hyung yang pada akhir hayatnya meninggalkan duka.

Dan dua bulan ini saya hanya duduk termangu meratapi lelucon Tuhan. Merenungi puisi lelucon Tuhan. Meratapi surat vonis dokter. Seiring berjalannya renungan, yang muncul hanya duka dan penyesalan. Hyung yang segalanya tapi saya terlalu goblog hingga telat sadar. Hyung yang selalu baik, tapi kenapa hyung jadi tidak baik dengan meninggalkan saya tanpa permisi? Tanpa saya tahu kenapa? Baru kau beri tahu setelah dapat akta kematian. Apakah hyung terlalu depresi ketika Yunho-hyung mati? Setahu saya hyung tetap baik ketika Yunho-hyung mati. Hyung tetap ke Night-club. Hyung tetap dengan kencan nafsunya. Hyung malah berteman kembali dengan Junsu-hyung yang menjadi Junsu-noona, Yonchuun-hyung yang kau bilang gila, Changimin-hyung yang semakin pucat dan kurus karena HIV. Bisa saja hyung baik. Bisa saja hyung bermanis-manis. Bisa saja hyung munafik. Munafik!

Tapi bukan saja baik dalam hal menginterpesikan hal baik. Kepergiannya juga dramatis. Kesakitan karena penyakit kelamin. Kematian mengenaskan di-penthouse 512. Penthouse yang selalu disewa oleh Yunho-hyung ketika ingin bercinta dengan Jaejoong-hyung. Saya hanya bisa merenungi makna puisi ini. Makna lelucon Tuhan. Takdir? Jalan hidup? Kenapa hyung? Kenapa hyung tersenyum dalam kematian? Tersenyum bertemu dengan Yunho-hyung atau tersenyum meninggalkan saya?

Apa yang dia mau? Apakah saya harus menyusul hyung? Apakah saya harus bangkit? Saya tak tahu. Beritahukan kepada dunia? Saya harus mati dan masuk koran, maksudnya? Saya tak mengerti! Kenapa harus lewat puisi? Hyung memang dramatis.

-0-0-0-0-

Mobil saya menukik tajam diaspal kelabu nan licin. Saya hanya termangu kosong menatap jalanan itu. Tapi sekarang berbeda. Tanpa kertas-kertas. Tanpa puisi. Tapi memplokamirkan lelucon Tuhan. Saya sepintas melihat bayangan saya. Tak diseperti cermin kamar hyung. Yang ini hanya menertawakan lelucon Tuhan dan mitra barunya, Jung Jaejoong.

Lelucon Tuhan itu lucu!

Tertawala!

Sampai mati lemas

Kemudian pergi meninggalkan kehidupan

Tanpa beban

Tanpa rasa

Hanya bisa tersenyum dalam hampa

Hahahahaha…

Setelah hilangkan beban

Setelah hilangkan dendam

Tertawa lagi!

Sampai mati lemas lagi!

Kemudian tersenyum lagi dalam kesenangan.

Sambil membuat lelucon bersama Tuhan!

Beritahu kepada hamba-Nya

Aku yang membuat lelucon Tuhan!

.

.

Terbaring dengan damai

Jung Yunho

Sang pemimpin bertangan besi

Pemimpin kami

Pahlawan kami

Idola kami

Sang Perdana Mentri

Oleh:

Kebiadaban sebuah pengabdian

.

.

Terbaring dengan damai

Choi Siwon

Sang pengabdi

Sang pencinta

Sang fana

Oleh:

Cinta yang tak berkorban

.

.

Terbaring dengan damai

Jung Jaejoong

Yang terbaik

Yang tersiksa

Yang selalu tersenyum

Oleh:

Kemunafikan itu sendiri

.

.

The End

.

.

Ia terlihat tersenyum. Tangan kanannya terus memainkan punting rokok yang tinggal setengah lagi. Nafasnya sesekali mengeluarkan asap yang tersisa diparu-paru. Tangan kirinya memainkan bibir gelas bir yang ada dihadapannya.

"Jadi anda menyesal, bersedih, atau apa dalam hal ini?"

Entalah. Harusnya saya bersedih karena dia meninggalkan saya sendiri. Menyesal bahkan untuk datang kepemakamannya saja tidak. Tapi saya senang, saya bisa melakukan permintaan terakhir hyung. Saya tidak menyakiti siapapun untuk melakukan permintaan terakhir hyung. Terlepas bagaimana saya menulis disini saya hanya memperhatikan veriable-variable tersisih.

"Pengalaman atau cerita?"

Ia mematikan rokonya. Menyesap segelas bir itu hingga habis. Ia menyulut lagi rokok yang baru. Ia merasa tidak pernah berhenti merokok sehingga pojok kafe tempat dimana mereka duduk pun penuh dengan asap. Asap putih terus keluar dari mulutnya.

Pengalaman dan cerita apa bedanya. Cerita ini adalah pengalaman saya. Saya hanya butuh wadah untuk bercerita tentang perasaan saya. Tanpa bermaksud menyinggung, menyakiti pihak lain. Siapa yang tidak setuju? Ini lelucon Tuhan.

"Bagaimana dengan kontra yang anda dapat?"

Kontra adalah kontra. Pro punya arti yang pangkal juga. Semuanya pasti dapat. Bahasa saya ini tercipta karena latar belakang saya yang keras. Anak dan adik seorang pelacur. Terserah orang punya presepsi seperti apa terhadap saya. toh, cara berpikir orang itu dilatar belakangi oleh masa lalu dan berbagai aspek ketika Ia kecil. Menangkapnya pasti berbeda juga donk. Mungkin mereka bakal nangis-nangis bunuh diri kali jika hal ini terjadi sama mereka. Hahahaha….

"Setiap tokoh punya nyawa?"

Ia termangu sebentar. Rokok dan birnya hanya Ia mainkan tanpa Ia nikmati.

Semua hal punya nyawa. Kamu, saya, bahkan rokok ini sekalipun. Saya adalah adik dari Jaejoong-hyung. Tapi punya kehidupan atau nyawa sendiri. Saya tak dibayangi mereka. Saya bergerak sendiri. Tak ada bisa yang mengekang saya.

"Jaejoong?"

Ia terdiam sebentar dalam diam. Ia hanya bisa menghela nafas.

Ia selamanya.

"Siwon?"

Ia beranjak dari tempatnya duduk. Memainkan korek yang ada dalam gengamannya, Ia nyalakan lalu matikan. Sebentar terang, sebentar gelap.

Seperti lampu disko. Seperti cahaya ini. Ia hanya masa lalu.

"Bagaimana dengan baru?"

Ia kembali duduk setelah menyalakan lampu diruangan itu. Ia menuangkan bir kedalam gelas yang ada didepannya dan Ia minum hingga isinya setengah.

Saya ingin bisa menerima hal baru. Tapi saya takut luka. Saya tidak ingin melupakan luka lama. Mereka tak pantas jika dilupakan. Sebagaimana pun mereka adalah bagian hidup saya. Melupakan mereka berarti lupa daratan.

"Anda menikmati atau terjebak dalam sakit masa lalu?"

Hahahaha…. Saya tak terjebak ataupun menikmati masa lalu. Saya tak menampik jika ada yang menawarkan saya kebaikan. Cinta misalnya. Tapi saya hanya berpikir dua kali sebelum maju.

"Apa yang anda lakukan untuk menjadi diri anda?"

Saya minum bir, merokok dan menulis.

Ia bagun dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan pojok kafe itu tanpa melihat kebelakang. Memberhentikan taxi. Taxi terlihat berbelok kearah bukit tempat pemakaman.

Dibelakangnya Lee Donghae sang editor hanya tersenyum sambil membaca kumpulan cerpen berjudul Sang Anjing dan Sang President.

Continue

.

Beres….

sebenernya semua a/n-nya dah di Kibum POV yang ada di bawah itu loh. Yang lagi wawancara ma Donghae. Hahaha… pada gak ngerti ya. Rencanannya end di chap depan tapi saya buat end aja sekarang. Gpp kan? Puisinya bagus ga? Kalo diperhatiin init uh kaya kumpulan cerpen yang ngebentuk satu cerita. Makanya si Donghae membaca kumpulan cerpen bukan Novel. Buat yang The End, maksudnya The end dari kumpulan cerpen itu. Buat Continue, maksudnya hidup itu tetap berlanjut. Gak the end.

Kronologis alur:

Prolog - Urusan Kelamin - Ting! – Penthouse 512 – Titik, koma – Penis dan peniti – Cermin – Lelucon Tuhan – Laki-laki itu! – Kertas

Buat yang mereka kata saya, itu hanya selipan issue.

Buat yang pada nanya kenapa akhirnya Jaejoong pake marga Jung? Soalnya semenjak kematian Yunho, Jaejoong ngerubah namannya jadi Jung.

Buat masalah lelucon Tuhan, Lelucon Tuhan tuh sama aja kaya Takdir. Tapi kalo takdir tuh diterimanya pasrah, kalo ini diterima dan dibawa enjoy.

Thx banget buat Mr. R yang ketika meregang nyawa karena AIDS dia hanya menertawai lelucon Tuhan sampai kram, sampai meninggal. Thx buat istilah lelucon Tuhan nya. Buat Mr. yang paling kuat, bahkan ketika divonis HIV+ dia cuma ngajak Tuhan cheers sambil nangkat kaleng birnya keatas langit. I love u and I always miss u.

Thx yang dah Pro ma Kontra nih ff. yang Pro makasih. Yang kontra juga makasih. Saya tetap berterimakasih atas saran anda, apapun itu.

Buat yang nunggu Spear of Destiny (mang da yg nunggu?), mungkin updatenya rada lama. Reserch-nya membutuhkan waktu. Thx.

Balesan Review:

DDD: hahaha… kamu gak ngerti ya, coba kamu baca lagi perkronologis waktu. Mungkin bisa lebih jelas. Thx da Review.

Terunobozu: untuk masalah realitas itu sendiri dipengaruhi POV seseorang sih. Realitas itu subjektifitas terhadap satu objek yang sama. Thx ya dah review. And thx dah jawab pertanyaan.

Turtle: hahaha…. Saya gak bisa komen apa-apa buat kamu. Buat masalah agama kemarin, orang-orang Majelis Uhuk-uhuk Indonesia aja gak ada implisit-implisit an. Kenapa kita harus diam-diam sunyi. Gw tipe orang yang speak up and gw dah benci liat orang yang adem ayem kaya penganten jawa padahal dalem hatinya nolak.

Jisuu Kim: ah lu review telat, dah keburu end hahahahaha… judulnya kasar ya. Tapi saya bosen ngeliat dunia per ff-an yang main implicit-implisitan. Hahahaha… Thx dah review. Btw, suka JLaw and Kirio ya? Saya juga suka.

Mizu Kim: hahahaha… berarti kita penggebrak aturan ya. Hahahaha… Thx dah review.

RaaHyun: Thx dah review. Ga isa aku bikin NC. Jangan harap-harap terlalu tinggi ya.

Girrafe: lu pengen jadi Psikolog? Lu mah bukan ngenasehatin tapi ngedikte. Gw tuh anak social jadi belajar psikologi. Psikologi mah nanya kenapa. Lu harus ngelupain lu siapa, and focus ma masalah si klien, bukan "gw tuh digedein caranya gini jadi lu musti gini". Itu mah bukan psikolog. Buat masalah bir, kopi, rokok its ok. Gak semua orang bisa nerima gaya hidup kaya gitu. Tapi nyokap gw aja gak ngelarang, siapa lu? buat masalah single perent nya, keberatan gw anak haram and gak punya bapa. Coba lu yang kaya gw, nanti yang kaya Kibum bilang "Mungkin mereka bakal nangis-nangis bunuh diri jika hal ini kejadian ma mereka." well dengan anda menjadi Psikolog anda bakal ngerasain kok ketemu kasus kaya gini. Thx dah review, and thx dah peduli ma gw.

JJ: iya JJnya dua. Maksudnya sih gampang aja. Siwon suka Jaejoong - Siwon bunuh Yunho – Jaejoong bunuh Siwon – Jaejoong meninggal kena penyakit kelamin – trus Kibum bikin kumpulan cerpen yang berdasarkan cerita itu. Thx dah review.

Nobinobi: karena kamu bingung review apa, jadi saya bingung mau bales apa. Thx ya dah review.

Pumpkin Ite: kamu suka cerita gw? Ha… tersanjung. Gw juga cerita lu. Gak masuk ya buat anak-anak SMP – SMA ya? Gimana nasib ff gw yang baru. Hahahha… Thx dah review. nanti review cerita gw yang baru lagi ya.

KMS: iya deh kemis. Thx ya dah review.

Readers: hahahaha…. Kakak yg baik. Gpp kok. Mana ada kakak yang mau adeknya jadi ga baik. Nih dah last chap. Thx ya dah review.

Rencanannya mau bikin cerita baru yang Judulnya: "Democracy still learning." Tentang kehidupan seorang aktifis lah. Atau "Babi buta yang ingin terbang." Tentang masalah social juga sih etnis. Atau "A" tentang poligami. Jadi yang mana ya?

Jakarta,

Saturday, April 28th , 2012

Review 4 last chap ok.