Arrow-chan3: Maaf lama T.T tapi terima kasih ya, Arrow chan selalu jadi pereview pertama di fic ini ^w^

Mikan buru-buru ngerjain fic ini jadi kalau ada kesalahan maafin Mikan

Bentar lagi Mikan UN jadi Mikan gak tau kapan bakal muncul ke fanfiction lagi

mungkin setelah UN, mungkin gak akan pernah, Mikan gak tahu... TxT

Disclaimer: Hidup akan lebih indah jika Mikan tidak memiliki Vocaloid


"Dengan monyet itu? aku tidak mau!" Rin melipat tangannya dan mencibir.

"siapa juga yang mau dengan cewek flat sepertimu." Rin mengglare orang itu. Berani sekali dia mengatakan Rin flat! Di saat-saat seperi ini membuat Rin sangat memerlukan Fluffy disampingnya.

"Sudahlah kalian berdua ini." IA memijit pelipisnya. Jelas melihat Rin dan Nero bertengkar tidak ada dalam jadwalnya malam ini.

Rin mengeram rendah. Kenapa dia harus berada di satu kendaraan bersama musuh besarnya, si anjing penurut Nero? Kenapa dia tidak bersama pria yang memakai motor besar disana? Atau anak aneh dengan berkacamata tebal dengan mobil SUV, atau seseorang berjubah hitam yang membawa scyte dan mengendarai kuda hitam di ujung sana? Rin menembak kepalanya sendiri dalam hati.

Kenapa dia harus ikut dengan mereka? Dia bahkan bukan anggota-dia tahanan, tidakkah mereka ingat? Rin yang memiliki IQ dibawah rata-rata saja ingat. Rin menghela nafas. Dia berharap dia bisa keluar dari situasi ini. Mungkin Len bisa membantunya!

Tapi…

Rin menolah ke kiri dan ke kanan. mencari pemuda berambut honey blond yang acak-acakan, dimana dia?

"Dimana Len?" Rin akhirnya bertanya.

"Dia sudah pergi lebih dulu. Ayo cepat naik atau kau akan kami tinggal." Rui berkata dari atap mobil. Dia bersandar di punggung tunangannya dan mengedipkan matanya pada Rin serta senyuman manis.

Rin menolah pada IA, menatapnya penuh harap. Tapi IA justru tertawa dan menepuk kepalanya pelan. "Sorry, dear. Meskipun aku ingin menolongmu. Aku lebih nyaman bersama didalam sana." IA menunjuk mobil berwarna merah tak jauh dari mereka.

Rin membatu di tempatnya sementara semua orang telah duduk dan menunggu di kendaraan masing-masing. Mereka menunggu Rin untuk naik ke sepeda motor milik Nero. Seseorang yang tidak sabar di barisan belakang berteriak. "Ayolah nona! Kami tidak punya waktu semalaman untuk seorang putri!"

Dan teriakan orang itu memprovokasi kemarahan orang-orang barisan belakang lainnya, dan membuat Rin dengan berat hati duduk di belakang Nero. Dengan ogah-ogahan dia memegang ujung jaket Nero.

IA berangkat terlebih dulu, melambaikan tangan dari jendela mobil. Rei dan Rui masuk ke dalam mobil dan mengikutinya. Yang lain juga mengikuti mereka secara berurutan seperti sekumpulan semut yang yang berjalan. Nero tanpa aba-aba melaju dengan cepat. Membuat Rin kaget dan mengeratkan pelukannya pada Nero sementara dia berteriak. Nero tertawa puas mendengar teriakannya.


Dan untuk yang kedua kalinya Rin kembali kesini. Ke ruang gelap di mana muda mudi berpesta, menari dan menghabiskan uangnya untuk hal yang sia-sia. Sedikit berbeda dengan yang sebelumnya, Rin kini berada di klub yang terltak di luar kota. Dari Rei Rin mengetahui bahwa klub ini dan yang sebelumnya adalah milik Len. Dibanding IA dan Rui yang menari, Rin lebih memilih duduk di salah satu sofa di sisi ruangan dengan tiga anggota mirror lainnya yang juga tidak tertari untuk menggerakkan tubuh mereka.

"Piko, berhentilah bermain dengan laptop sialan itu dan menari bersamaku." Rengak gadis manis dengan ahoge di kepalanya. Dia memakai pakaian yang sangat minim hingga kulit putih mulusnya terlihat dan tato dua harimau yang Rin lihat sebelumnya juga terpampang dengan berani di punggugnya. Rin baru menyadari kalau semua anggota mirror memiliki tato itu di salah satu bagian tubuh mereka.

Piko, pemuda berambut silver -yang menurut Rin sangat langka- hanya mengangguk, tapi matanya tidak sedikitpun teralihkan dari layar laptopnya. Dan gadis itu tetap merengek padanya.

Rin merasa bosan melihat sepasang kekasih itu dan melihat-lihat kea rah lain. Cewek dengan topi kucing yang tadinya duduk di sampingnya telah menghilang, mungkin mengambil minuman. Mungkin sebaiknya dia juga keluar dari sini. Lagipula dia sudah mengantuk.

Mata Rin terpaku pada sesuatu di sudut rungan. Dia melihat seorang pemuda yang menciumi seorang wanita yang duduk dipangkuannya. Wanita itu hampir tidak menutupi tubuhnya dengan apapun kecuali pakaian dalam yang ketat. Meskipun samar-samar dan tertutupi oleh prostitude itu Rin dapat memastikan orang itu adalah Len. Wanita murahan itu membisikkan sesuatru pada Len dan dia tersenyum . rin mengalihkan perhatiannya. Itu bukanlah pemandangan yang ingin Rin lihat.

"Kau tahu dia itu bukan milikmu." Terdengar suara dari samping.

Rin menoleh melihat pemuda berambut silver-Piko melihatnya. Meskipun cahaya yang minim Rin bisa melihat mata Piko yang berbeda warna itu menatapnya lurus.

"Aku tahu." Rin berkata pelan.

Rin tahu benar hal itu. dan alasannya mengalihkan pandangan tadi bukan karena rasa sakit hati atau cemburu. Benarkan?

Piko mengangguk, melihat laptopnya sebentar lalu kembali ke Rin. Dia menggeser laptopnya ke meja Rin. "Bisa jaga ini untukku?"

Rin berkedip beberapa kali. "Tentu."

Piko tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Rin lalu berlari menuju kekasihnya yang tengah berdansa dengan pria lain. Rin menatap mereka dengan tatapan menerawang. Kelopak matanya terasa berat sekali. Rin merasa sangat mengantuk dan gelapnya ruangan ini tidak membantu sama sekali. Tidak apa kan kalau dia tidur sebentar?

"Hey, Bitch. Menyingkir dari Len."

Wanita yang duduk di pangkuan Len menoleh, ekspresi tidak sukanya berubah menjadi ketakutan saat melihat IA mengglarenya denga aura menakutkan. Dia segera menjauh dari Len. Sangat jauh.

Len menarik nafas mengetahui wanita yang tadinya duduk di pangkuannya kini telah hilang dan kini digantikan oleh orang lain. Len bertemu mata dengan mata biru IA yang identik dengannya. Pipi IA yang biasanya selalu terangkat kini terjatuh.

"Ada apa?" Tanya Len malas. IA memukul kening Len.

"Seharusnya kau memerintahkan seseorang yang lebih bertanggung jawab untuk menjaga sang putri." IA berkata dengan muka masam.

Len melihatnya bingung. Tapi kebinguangannya tergantikan oleh kemurkaan saat IA menunjuk salah satu sofa di sisi ruangan. Disana sosok Rin duduk dan tetidur dengan pulasnya sementara didepannya seorang pria berjongkok dan melepaskan kancing kemeja Rin satu persatu.

Len mengepalkan tangannya, tanpa berkata apapun dia mendorong IA dan berjalan menuju Rin. Orang asing itu masih sibuk melepaskan kancing dan tali-tali pita yang melilit pakaian Rin dia sama sekali tidak menyadari Len dibelakangnya.

"Menjauh dari gadis itu." Len berkata dengan amarah terkumpul.

Orang itu melambaikan tangannya pada Len. Mengisyaratkan agar Len mejauh. Kesalahan besar.

Len menarik kerah baju orang itu dengan kuat hingga orang itu terjatuh ke belakang Len. Len berjalan mendekati Rin, tapi orang itu menggenggam kaki Len membuat Len tersungkur. Len mengeram. Dia berbalik dan menendang wajah orang itu. saat orang itu memegangi hidungnya yang patah Len segera berdiri dan menginjak tengkuk orang itu dan menahannya di tanah.

"Jika kau cukup pintar, jangan pernah menampakan diri di klub ini lagi. Mengerti?"

Orang itu mengangguk cepat. Dia berlari keluar dari tempat gelap itu seperti gorilla yang ketakutan. Len mendengus memandangi kepergian orang itu. Dia menoleh pada Rin dan wajah murkanya kini diganti dengan semburat merah. Rin tertidur dengan wajah damai, pakaiannya yang terbuka menampakkan branya yang berwarna pink, kontras dengan kemeja abu-abu tanpa lengan yang dipakainya.

"Aku seperti seorang pedofil," gumamnya beserta desahan nafas yang panjang.

Len mengancingkan semua kancing Rin dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkannya. Lalu menggendongnya keluar dari club. Orang-orang tanpa berkata apapun memberi jalan padanya. Setelah kejadian tadi tidak ada satupun yang berani mengganggunya. Len melihat Nero berlari dengan wajah khawatir, atau ketakutan. Dia terpaku saat melihat Len mengglarenya.

"Kali ini kumaafkan, tapi aku tidak akan mengampunimu jika terjadi apa-apa pada dia lagi." Len berkata dengan nada rendah. Suaranya mengancam.

Nero mengangguk. Dan Len pergi tanpa berkata apapun lagi. Club yang tadinya berisik sekejap berubah hening.


"ng.."

Rin membuka mata, berkedip beberapa kali saat melihat pemandangan asing didepannya.

"Kenapa banyak mobil dan lampu yang bergerak cepat?" Rin bertanya dengan bodohnya. Dia menoleh saat mendengar suara tawa.

"Itu karena kita sedang berada didalam mobil yang berjalan, Bunny-chan." Jawab Len ditengah tawanya.

Rin memerah tapi dia menyembunyikannya dengan memalingkan wajahnya ke sisi jalan dia melihat dua laki-laki tengah berciuman mesra. Rin menelan ludah dengan susah payah. Ini sama sekali tidak memebantu. Dia kembali melihat Len yang kini menyetir dengan konsentrasi.

"Kau tahu, Bunny. Kurasa keluar dari kandang bukanlah hal yang bagus. Banyak serigala di luar sana yang ingin menerkamu." Len berkata.

"Jadi kusarankan kau untuk tidak keluar dari kandangmu tanpa ditemani IA, Rui ataupun Nero. Kau juga tidak boleh tidur disembarang tempat. Itu menyusahkan kau tahu. Dan mulai malam ini kau tidur di kamarmu sendiri"

"Terserah." Rin menjawab asal meskipun dia merasa sedikit kecewa. Rin menampar dirinya sendri dalam hati saat menyadari apa yang dirasakannya. Apa yang dipikirkannya?

Sisa perjalanan itu tersa sangat hening, hanya suara mesin mobil yang halus yang menemani kesunyian mereka. Rin menemukan dirinya hampir tertidur lagi. Berkali-kali dia mencoba membuka mata tapi kelopak matanya terlalu keras kepala untuk mendengar perintahnya. Akhirnya Rin menyerah dan membiarkan dirinya terlelap.

BLAM

Rin menoleh cepat ke Len yang menggertakkan rahangnya. Dia melirik ke kiri dan ke kanan mobil. Disana dua buah sepeda motor berjalan beriringan dengan mereka dengan membawa senjata. Rin menahan nafas saat pendara sepeda motor yang berada disampingnya menembaknya. Timah panas itu meluncur dengan mulus menuju dahi Rin. Tapi peluru itu justru mengenai sandaran kursi.

"Yang tadi hampir saja." Bisik Rin lega. Berterima kasihlah pada reflek cepatnya.

Rin masih menunduk menatap kakinya. Dia tidak berani mengangkat kepalanya jika masih ada pengendara gila yang menembakinya di sana. suara tembakan lain terdengar, tapi bukan dari dua orang pengendara itu melainkan dari Len. Dia menembaki mereka di kaki dan tangan, sedikit menympah karena tidak bisa mengenai leher mereka. Dua orang itu kehilangan kendali dan terjatuh ke jalanan. Rin bersyukur karena dia tidak akan dipenjara karena tidak ada seorangpun yang berada dijalanan itu kecuali mereka.

Len berbelok 360 derajat dan melaju ke dua orang tadi. Saat mereka keluar dari mobil, Rin segera menutup mulutnya melihat dua orang itu bersama sepeda motornya telah terbakar. Terdengar suara sepeda motor lain dan Rin melihat seseorang berusaha kabur. Len mengambil tindakan cepat dengan melemparkan kapak kepada orang itu dan mengenai punggungnya. entah bagaimana Len mendapatkan kapak, Rin tidak tahu.

Len berlari menuju orang itu yang kini telah terjatuh disusul oleh Rin. Len menendangnya sehingga tubuh orang itu berbalik menjadi telentang. Len menyumpah saat orang itu telah mati. Rin hanya diam saja. Tidak berani berkomentar apapun. Dia hanya melihat tato kepala naga di leher orang itru seolah itu adalah hal terindah di dunia.

"Dragon kali ini benar-benar kelewatan." Desis Len. Dia mengambil handphonenya dan menekan tombol-tombol disana. Rin melirik handphone kuning itu dengan sedikit khawatir. Benda itu terlihat akan patah saat Len mencengkramnya. "Bawa truk kemari. Ada sampah yang harus kubawa."