"Itu tadi keren. Bagaimana caranya kau bisa membuat Chanyeol lumpuh dan mati seperti tadi. Itu cuma satu tembakan kan?"

"Aku sengaja menembak matanya supaya peluru itu tetap bisa meluncur sampai mencapai otak kecilnya dan membuat syaraf bawah sadarnya kacau. Jantungnya jadi ikut berhenti berdetak, makanya aku cepat menyuntikkan obat dari ibu supaya tubuhnya lekas mengering." Jongin dengan santai menjawab pertanyaan Sehun. Pemuda itu refleks melihat ke belakang—itu tempat tidur Sehun, dimana Kyungsoo yang tengah pingsan dibaringkan disana.

"Berapa lama lagi dia akan sadar?" tanyanya.

"Mungkin sekitar tiga jam lagi. Hei, sejak kapan kau menjadi peduli?" Sehun menoleh penasaran kepada Jongin.

"Aku cuma bertanya."

Sehun mengangguk saja, tidak berniat bertanya lebih lanjut.

"Sehun."

"Ya?" Sehun menoleh lagi kearah Jongin, "Kenapa?"

"Yang sedikit tidak kuduga adalah gadis ini sama sekali tidak ketakutan dan panik ketika aku membunuh Chanyeol." Ujar Jongin dengan suara yang terdengar ragu—yang bukan gaya Jongin sama sekali bagi Sehun, "Bagaimana menurutmu?"

"Itu—mengagetkan." Sehun sendiri tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, pemuda pucat itu menoleh ke belakang—menatap Kyungsoo. "Kupikir dia adalah gadis kutu buku, patuh, pintar, lemah dan penakut."

.

.

Two Different (same) World © darkestlake

Rating: T+

Warning: AU! OOC! Brothership!kaihun! beware of typo(s)!

.

.

Kyungsoo mengerjapkan matanya begitu ia merasa ada sebuah kilatan cahaya yang menyala ketika matanya tengah menutup—gadis itu sudah terjaga.

Rasanya badannya nyaman sekali sampai ia tertidur. Begitu bangun pun rasanya segar.

"Ah, apa ini di tempat spa ya?" pikirnya begitu melihat interior ruangan yang sangat cantik—yang Kyungsoo tahu bahwa itu bukan interior kamarnya, "Tapi, kok aku lupa?"

Kyungsoo memijat pelipisnya—berusaha mengingat.

"Ah, bukannya hari ini aku—"

"—menikah?"

Kyungsoo langsung panik—apa ia diculik di hari pernikahannya? Gadis itu segera turun dari ranjang dan berlari kearah pintu. Baru saja ia ingin menggedor pintu itu, pintu itu sudah lebih dulu terbuka dan memperlihatkan sosok Sehun. Tanpa Kyungsoo tahu, tangannya sudah lebih dulu memukuli perut Sehun dengan keras.

"Ugh! Astaga! Apa yang kau lakukan, bodoh?!" semburnya sambil menahan tangan Kyungsoo dengan cepat dan menghempaskannya, "Aku berniat baik ingin mengantarkan makanan untukmu, tapi kau malah memukulku seperti ini!"

Kyungsoo tentu saja kaget, kenapa bisa ada Sehun? Ia tahu bahwa Sehun adalah saudara Jongin, tapi kenapa malah Sehun yang mengantarkan makanan untuknya?

Sebenarnya ia dimana?

Kyungsoo yang terlalu bingung langsung saja menerobos Sehun dan berlari keluar kamar. Sehun berteriak padanya—memintanya kembali. Tapi, Kyungsoo tidak mematuhinya. Gadis itu terus berlari sampai ia melihat ada pintu rumah dan membukanya dengan cepat—rasanya ada sesuatu yang mendorongnya untuk segera lari dari sini. Begitu pintu terbuka, Kyungsoo segera berniat melangkah keluar dan teriakan Sehun yang tidak berhasil mengejarnya terdengar jauh lebih keras.

"AWAS!"

Grep.

Kyungsoo terkejut saat ia merasakan pinggangnya dirangkul dengan kuat dan segera ditarik ke dalam. Ia menoleh ke belakang dan menemukan sosok Jongin yang tengah merangkulnya.

"Jangan ceroboh." Bisiknya dingin, "Coba lihat apa yang ada di depanmu."

Kyungsoo selanjutnya sangat terkejut begitu menuruti kata-kata Jongin. Di depannya tidak ada apapun—tapi, Kyungsoo bisa melihat kota di bawah lantai rumah yang beruntungnya masih bisa ia pijaki. Kyungsoo bisa melihat puncak menara di depan rumah itu dan beberapa pesawat serta awan kecil lembut yang terasa basah saat melewati pipinya.

"Untung tekanan udara sedang stabil, kalau tidak, kau pasti sudah terbawa angin tadi."

Terdengar suara Sehun yang berucap sambil menghela nafas lega. Tapi, Kyungsoo sama sekali tidak mendengarnya. Mata gadis itu berkaca-kaca.

Karena ia tahu, ia tidak lagi berada di bumi.

"HUAAAAA~"

Kyungsoo menagis kencang di pelukan Jongin saat itu juga. Sehun yang melihat langsung menghampiri saudaranya untuk melihat keadaan 'kakak ipar' yang ternyata bisa menangis sekeras itu setelah bangun dari pingsan.

Jongin menyuruh Sehun untuk mundur dengan sebuah isyarat, ia melayangkan telapak tangannya setelah menarik Kyungsoo mundur dari tepi rumahnya itu.

Plak!

Jongin memukul bahu Kyungsoo dengan keras sampai gadis itu tiba-tiba terdiam. Sehun melotot melihatnya, "Jongin, kau apakan istri—"

"Dia tertawa, Sehun. Dia tidak menangis."

Sehun seolah tidak percaya dengan kalimat Jongin. Ia mengecek sekali lagi kondisi Kyungsoo, dan ternyata benar, gadis itu tidak menangis, melainkan tawa lirih yang mengalun dari bibirnya.

"Hihi… tidak aku sangka ternyata pria yang sudah menikah denganku ini pintar juga."

Jongin menoleh lagi kearah Sehun yang kebingungan, "Bukannya katamu kau mau menjemput Ibu?"

"Iya, Jongin. Tapi, dia—"

"Biar aku yang mengurusnya, dia sudah menikah denganku."

Sehun berpikir—ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk dan pergi meninggalkan Kyungsoo serta Jongin.

Jongin menuntun tangan Kyungsoo menuju kamarnya—yang mengejutkannya sudah disiapkan oleh Taehee utuk menjadi kamarnya dan Kyungsoo. Kyungsoo sendiri tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti Jongin dan diam.

"Sudah kuduga. Kau bukan gadis dengan psikologi normal."

Kyungsoo menatap Jongin sambil menunjukkan senyum tipis, "Lalu kenapa?"

"Sejujurnya aku tidak pernah siap untuk memiliki istri, karena aku takut dia akan mendapatkan masalah jika menikah denganku." Jongin berucap dengan datar, berdiri sambil menatap Kyungsoo yang duduk di tepi ranjang kamar mereka.

Kyungsoo tertawa kecil, "Kau sejujurnya manis juga."

Kyungsoo bisa mendengar Jongin berdecih karena 'pujiannya'.

"Beritahu aku kenapa."

Kyungsoo tidak mengerti arah pembicaraan Jongin. Mendadak gadis itu merasa pening—rasa cemas tiba-tiba mengancamnya dan Kyungsoo mendadak gelisah.

"Kenapa? Apa maksudmu?"

Kyungsoo menahan rasa pusing itu, matanya terasa pedih karena sejak tadi ia belum melepas lensa kontaknya. Tapi, ia sungguh tidak ingin menunjukkan warna matanya pada Jongin.

"Kau—" Jongin berjeda—menyadari bahwa Kyungsoo tengah gelisah, "Bahkan kau tidak sedih saat berpisah dari orangtuamu."

"Jangan ingatkan aku pada mereka!" Kyungsoo berseru, "Kau tidak tahu apa yang terjadi padaku!"

"Apa? Kau pasti penderita bipolar disorder. Aku mengetahui semua tentangmu." Jongin melirik Kyungsoo, "Lensa kontak itu tidak bisa menghalangiku untuk membaca matamu, jadi lensa itu tidak ada gunanya."

Jongin maju untuk mendekati Kyungsoo, menahan wajah gadis itu dan melepaskan lensa kontaknya dengan cara yang tidak bisa dibilang lembut. Kyungsoo memekik sakit ketika Jongin menempelkan telunjuknya ke mata Kyungsoo.

Begitu kedua lensa itu terlepas, Jongin sedikit dibuat takjub dengan warna asli mata Kyungsoo—kelabu yang nyaris biru. Warna mata yang cantik dan Kyungsoo memilikinya secara alami. Sepertinya gen asing dari Nyonya Margaret hanya memberi satu ciri dominan hanya pada warna mata putrinya. Ini berbanding terbalik dengan kakak lelaki Kyungsoo—Kris—yang hampir seluruh entitasnya dibalut dominan British, namun matanya bercitra Asia, berwarna cokelat.

"Kau ini…"Kyungsoo mencibir, "Bukan manusia biasa?"

"Seperti itulah." Jongin berujar, "Aku kan memang bukan manusia Bumi."

Kalimat Jongin seperti baru saja menyadarkan Kyungsoo. Gadis itu kembali terlihat terkejut dan gelisah. Ia bertanya pada Jongin, "Sebenarnya aku dimana?"

"Quaser." Jongin menjawab, "Planet Quaser, yang dulunya disebut 'adik' dari Bumi."

"Apa?" Kyungsoo berusaha mendengar dengan baik, "Quaser?"

"Hanya manusia Bumi yang hidup sejak setengah abad lalu yang sepertinya masih mengetahui apa yang terjadi antara Bumi dan Quaser." Ujar Jongin, "Pihak Bumi sepertinya sudah benar-benar menghilangkan hal tersebut dari seluruh ingatan individu yang tersisa."

"Tapi ada satu hal yang lebih penting, sekarang, Do Kyungsoo."

Kyungsoo merinding karena Jongin berbisik di telinganya. Namun, entah kenapa dirinya tetap merasa tenang.

"Kau harus memperbaiki mentalmu.. aku akan membantumu."

.

.

Quaser?

Kyungsoo baru saja mandi dan mengenakan gaun tidurnya. Gaun tidur itu sebenarnya lumayan tipis seperti lingerie. Ia memang tidak sempat membawa atau membeli pakaian apapun di planet ini dan yang siapkan oleh ibu mertuanya hanyalah beberapa gaun tidur. Kyungsoo sendiri mengakui bahwa keluarga Taehee cukup baik. Serta Jongin datar dan Sehun yang lumayan ekspresif akan bisa mengimbangi suasana hatinya yang berubah-ubah. Ketika Kyungsoo bertanya, kenapa Sehun bisa baik padanya, pemuda pucat itu menjawab ketus, "Kau adalah istri dari kakak kembarku yang sedingin es antartika itu, jadi tidak mungkin aku memperlakukanmu dengan buruk karena kau bukan sandera."

Kyungsoo sejujurnya juga ingin memperotes Taehee mengenai pakaiannya saat ini, gaun tidur ini terlalu tipis. Tapi, wanita yang sudah berusia hampir setengah abad itu sudah meminta Kyungsoo untuk maklum karena pakaian yang dipesan untuk Kyungsoo baru akan datang besok.

Kyungsoo berbaring di ranjangnya dan mendongak menatap langit-langit kamar. Mendadak ia teringat kamarnya di rumah dimana ia biasanya dapat melihat suasana langit malam Seoul sebelum tidur. Langit-langit kamarnya adalah kaca anti peluru, Tuan Do yang memberikan hal itu ketika Kyungsoo berulang tahun yang ke lima belas.

Ia merindukan rumahnya.

Ia merindukan... keluarganya.

Lamunan Kyungsoo buyar ketika ia mendengar suara pintu bergeser. Jongin masuk, dengan diam melepaskan mantel dan sepatunya lalu langsung memasuki kamar mandi.

Melihat Jongin membuat Kyungsoo teringat tujuan awalnya. Ia sangat ingin seperti Jongin, tidak memiliki emosi yang terlihat. Ia sangat ingin mengendalikan emosinya yang berlebihan, ia sangat ingin menghilangkan emosinya.

Emosi...

Emosi...

Marah, sedih, senang, khawatir, cemas, kecewa.

Semuanya berlebihan. Melelahkan. Di luar kendali.

Kyungsoo merasa sesak. Meratapi keadaannya hanya membuatnya iri, sedih terhadap orang yang tenang. Menyembunyikan semuanya dibalik kacamata dan dandanan kutu buku membuatnya lelah. Setiap saat ia merasa lelah. Tapi, ia tidak ingin mengecewakan keluarganya yang sudah dikenal dimana-mana. Terutama ibunya.

"Ibu..." tanpa sadar matanya berair. Sesak itu semakin mengikat dan rasa mual mendorong sesak itu untuk keluar. Kyungsoo merubah posisinya menjadi duduk melipat lutut. Tangannya memeluk kaki dan wajahnya tersembunyi di lututnya. Gadis itu terisak-isak teringat ibunya. Terisak-isak mengingat kondisinya yang tidak normal. Kenapa Tuhan memberinya penyakit jiwa seperti ini? Akan jauh lebih baik jika ia sekalian menjadi gila sehingga akalnya tidak bisa mengingat moral dan ia tidak sadar akan norma. Ia tidak akan merasa terbebani dan lelah meski ia diluar kendali atau mengamuk seperti orang kesetanan. Ia tidak perlu memikirkan citra dan harga diri karena tidak ada seorangpun yang meliril dan peduli padanya.

Bahkan mati pun terdengar lebih baik dibanding kondisinya sekarang.

Kyungsoo mendengar pintu kamar mandi terbuka, Jongin pasti sudah selesai. Tapi, ia tidak peduli, tangisnya tidak bisa berhenti. Sudah terlanjur tenggelam dalam perasaannya membuat Kyungsoo semakin terpuruk, sedih dan menyesali keadaannya sendiri.

Kyungsoo merasakan hangat di dahinya dan mengangkat kepala. Ia menatap Jongin yang menempelkan telapak tangan di dahinya. Kyungsoo mengernyit.

"Dunia ini memang kejam, Kyungsoo."

Kyungsoo terkejut dengan ucapan Jongin dan menatap Jongin begitu lurus. Iris kebiruannya melebar dan Jongin menarik tangannya dari dahi Kyungsoo.

"Jika kau merasa hampir gila karena memiliki emosi berlebihan padahal kau tidak merasa ingin mengeluarkannya," Jongin berjeda. Matanya memicing dengan iri menyipit. Lelaki itu terlihat mengagumkan dengan matanya yang memancarkan bahwa ia sedang serius. Kyungsoo mengetahuinya meski wajah Jongin tetap datar, tapi, selanjutnya mata itu memancar sedih. Kyungsoo terkejut.

"Kau... sedih?" Bisiknya serak.

"Kau mengetahuinya?" Jongin berucap nyaris terkejut.

Kyungsoo menatap Jongin dengan bingung. Jongin kini menatapnya penuh arti.

"Aku kebalikan dari dirimu. Meski aku merasakan dorongan dari dalam diriku, tapi aku tidak bisa mengekspresikan diri." Jongin berucap.

"Tidak punya emosi. Itulah aku. Jadi, jika kau tertarik karena aku tidak berekspresi. Itu adalah hal bodoh."

"Tidak!" Kyungsoo langsung menyangkal. "Aku ingin begitu!"

"Kau tidak mengerti bagaimana rasanya tidak memiliki emosi. Kau akan merasa seperti mayat. Seperti robot."

"Kau juga tidak mengerti rasanya memiliki banyak emosi berlebihan yang ingin membuatmu meledak sampai kau berpikir lebih baik mati daripada menderita seperti itu!"

Kyungsoo berteriak dengan nada tinggi. Tanpa ia sadari kemarahannya muncul. Ia menatap Jongin dengan bengis sementara Jongin tetap tenang seperti sebelumnya.

"Setidaknya orang-orang masih mengerti tuntutan yang kau inginkan. Sedangkan aku tidak bisa melakukannya." Ujar Jongin. "Memang itu tidak masalah saat ini. Tapi, aku selalu iri dengan teman-teman sepermainanku. Bahkan aku iri dengan Sehun karena dia bisa merengek dengan manja atau menangis ketika menginginkan sebuah mainan sehingga ibuku memberikan perhatian lebih padanya sejak kecil karena Sehun lebih rewel." Jongin menggeser posisi duduknya agar ia benar-benar bisa menghadap Kyungsoo. "Aku yang diam terkadang terlupakan jika aku tidak bicara."

Kyungsoo terdiam. Matanya menatap Jongin dengan penasaran, namun sisa kemarahannya masih terlihat dari bola matanya.

"Dan karena aku tidak bisa menolak atau menuntut, aku selalu dianggap main-main saat kecil. Kau hanya bisa merasa kosong di saat masa-masa paling menyenangkan saat kau masih anak-anak. Apa kau tahu bagaimana rasanya?"

Kyungsoo merasakan kesepian luar biasa yang menyergapnya saat menangkap pandangan mata Jongin. Mata itu begitu dingin, gelap, sepi. Kyungsoo tertegun dalam bawah sadarnya dan seolah melihat Jongin kecil yang menatap jauh ke keramaian sementara bocah itu sendiri berada di dalam rumah yang gelap.

"Sejujurnya kita mengalami hal yang kurang lebih sama." Jongin meneruskan dan Kyungsoo sedikit kaget dengan ketiba-tibaan itu, "Hanya cara Tuhan yang memberikannya berbeda."

Kyungsoo mendekati Jongin dengan gerakan yang sangat pelan, gadis itu menangkupkan telapaknya di rahang tegas Jongin, meniti garisnya dengan teliti dengan sedikit kekaguman begitu menyadari Jongin bukanlah pemuda dengan masa kecil biasa. Jongin begitu dingin bukan karena keinginannya. Semua itu sudah takdir dari Tuhan.

Takdir Tuhan?

Atau nasib?

Jongin memandangi Kyungsoo dengan mata yang memicing, memikirkan apa yang mungkin akan dilakukan gadis itu.

"Kita pasti bisa merubahnya." Bisik Kyungsoo.

Jongin terkejut dengan hal itu. Setahunya penderita bipolar tidak memiliki pola pikir untuk bangkit, tapi Kyungsoo berbeda. Ia memiliki keinginan untuk melemahkan kelemahannya.

"Kau mengisiku dan aku akan mengisimu. Kita pasti bisa melakukannya bersama, meski kita belum saling mengenal dan mencintai tapi kita sudah menikah." Kyungsoo berucap dengan wajah yang serius, "Kita bisa mengusahakannya bersama kan?"

Jongin sedikit menarik satu sudut bibirny keatas. Meneruskan keinginan mendadak dalam otaknya untuk mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo. Mengecup bibir gadis itu dalam gerakan lambat namun berlangsung begitu singkat. Cukup singkat untuk membuat Kyungsoo terkejut dengan mulut sedikit terbuka.

"Kau tidak perlu seterkejut itu. Bukannya kau sudah bilang kalau kita sudah menikah?" Jongin mengusap sudut bibirnya dengan gerakan yang lembut. Bahkan dengan gerakan seperti itu saja sudah hampir membuat Kyungsoo terlena.

"Kau benar-benar gadis yang menarik, Kyungsoo."

.

.

"Jadi semalam bagaimana?" Tanya Sehun pagi ini begitu ia dan Jongin berkumpul di ruangan pribadi mereka berdua. Ruangan dimana mereka melakukan aktivitas pekerjaan mereka.

"Apanya yang bagaimana?" Tanya Jongin balik.

Sehun berdecak, "Maksudku ya malam pertamamu lah. Kau tidak melakukan apapun dengan Kyungsoo?"

"Dia gadis yang polos dan menyedihkan, aku tidak tega menyerangnya." Jongin lebih memilih untuk menghabiskan waffle madu dengan teh aroma sakura di depannya. Itu semua adalah buatan Taehee. Asap waffle bahkan masih mengepul samar. Jongin memang hanya menyukai makanan buatan ibunya.

"Keren, Jongin. Kau bahkan pernah membunuh seorang kakek yang tengah menggendong cucunya ke sekolah." Sehun memberikan PC tabletnya kepada Jongin, "Itu target baru. Datanya ada beserta foto dibawah."

Jongin menggeser layar tab Sehun ke bawah, "Kakek itu mantan koruptor negara."

"Bukan masalah itu. Kau bahkan tidak peduli pada cucunya." Sehun berucap lagi, agak kesal. "Bagaimana target itu menurutmu? Terima atau tidak?"

"Nominal yang ditawarkan lumayan juga." Jongin berucap, "Dari levelnya juga sepertinya tidak terlalu sulit untuk dibunuh."

"Stephanie Hwang adalah cucu dari mantan dewan negara terkaya. Usianya 25 tahun. Dia sangat arogan dan dikenal sombong, sering terlibat dunia malam. Baru-baru ini mengancam ingin menghancurkan sebuah panti asuhan dalam waktu dekat karena ada anak panti asuhan tersebut yang bermain bola di taman kota dan menendang bola itu tanpa sengaja mengenai wajahnya."

"Cocok sekali dengan wajahnya." Komentar Jongin.

"Apa maksudmu? Menurutku wajahnya cantik."

"Ya memang cantik," sahut Jongin, "Tapi, aku tidak suka dengan matanya."

"Jangan lupakan fakta bahwa ia adalah cucu mantan dewan negara sedangkan Ibu adalah anggota dewan negara. Kita harus berhati-hati jika tidak ingin menimbulkan konflik di dalam badan negara." Sehun berucap panjang lebar.

"Memangnya siapa yang ingin membunuh Stephanie?" Tanya Jongin.

"Kau mungkin akan terkejut karena hal ini." Sehun menyeringai, "Nickhun Buck Horvejkul, kekasih Stephanie sendiri."

.

.

"Ugh..."

Kyungsoo bangun dengan rasa pedih dan berat di matanya. Gadis itu melangkah dari tempat tidur dan beranjak menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya sekilas di wastafel dan menatap matanya yang terlihat membengkak.

"Menyedihkan sekali.." gumamnya pada dirinya sendiri. Akhirnya memilih untuk mandi terlebih dulu dan begitu selesai mandi Taehee tepat memanggilnya untuk sarapan.

"Astaga, matamu kenapa, Kyungsoo?" Tanya Taehee begitu melihat mata Kyungsoo, "Pasti rasanya tidak enak. Itu bengkak sekali. Apa Jongin sudah melakukan sesuatu yang buruk, huh?"

"Tidak apa-apa, Bibi." Ujarnya.

"Mana bisa begitu! Habiskan dulu makananmu dan tunggu sampai aku kembali." Taehee berucap sama seperti Jongin, tidak bisa dibantah. Kyungsoo hanya mengangguk dan menuruti ucapan ibu mertuanya.

Taehee datang dengan membawa bedak mutiara. Menyuruh Kyungsoo untuk menutup matanya dan mulai memoleskan bedak itu pada wajah menantunya. Taehee tersenyum untuk beberapa saat ketika Kyungsoo terlihat begitu rileks. Taehee mengetuk pelan pipi Kyungsoo dengan buku jari telunjuknya.

"Rasanya dingin kan?"

Kyungsoo sedikit tersenyum karena kebaikan Taehee. Taehee mengingatkannya pada ibunya, Nyonya Margaret. Rasanya Kyungsoo ingin menangis lagi, tapi masih menghargai mertuanya yang baru saja mengompres matanya dengan bedak mutiara.

"Kau tahu, Kyungsoo? Dari dulu aku sangat menginginkan anak perempuan." Taehee mengelus rambut Kyungsoo, merapatkan kursi makan yang ia duduki untuk lebih mendekat pada menantunya, "Tapi, aku hanya punya kesempatan untuk mengandung satu kali saja. Setelah Jongin dan Sehun lahir, rahimku divonis rusak." Ujarnya meneruskan.

Kyungsoo mengernyit.

"Yah, siapa peduli. Lagipula aku juga tidak memiliki suami." Taehee tertawa. Yang kali ini membuat Kyungsoo terkejut. Jelas saja. Lalu Jongin dan Sehun itu dari benih siapa?

"Disini rata-rata perempuan yang mandiri memilih metode bayi tabung jika ingin mendapatkan keturunan. Meski mereka tidak bersuami, itu bukan aib. Karena itulah, di Quaser banyak terjadi kasus asusila karena batasan norma memang diabaikan. Manusia Quaser dibutakan teknologi, dan mereka rusak." Taehee berhenti mengusap lembut rambut Kyungsoo. Wanita yang tetap terlihat cantik itu meletakkan tangannya di meja makan dan menghela napas.

"Aku juga terlambat melindungi putra-putraku. Meski mereka tidak melanggar norma yang ada dan malah bertingkah seperti para pahlawan, aku tidak bisa menerimanya." Ujarnya dengan tawa pelan. "Mereka dikaruniai kecerdasan luar biasa, Jongin khususnya memiliki kemampuan mind-reader, dan aku ingin melindungi mereka agar mereka bisa menggunakannya dengan baik."

Kyungsoo yang masih belum mengerti arah pembicaraan Taehee akhirnya bertanya, "Lalu kenapa Anda menikahkan Jongin dengan saya?"

Taehee tertawa, "Kupikir kau bisa menyelamatkan Jongin karena aku tidak bisa mengikatnya denganku seperti yang kulakukan pada Sehun."

Menyelamatkan Jongin? Mengikat? Kyungsoo mengernyit. Berpikir keras sambil menatap mata Taehee lamat-lamat. Berusaha keras membaca ekspresi dari ibu mertuanya.

.

.

-to be continued

.

.

;; big thanks to all who left their reviews on previous chapters. Forgive me for this very short chapter and cannot write down all ur name here. I'm soooo sorry guys bcz of long update and i'm not sure with this chapter. Pls forgive me for all. But, lemme throws love for anyone who read and reviewing here;;

Banjarmasin, 12 Februari 2015

darkestlake.