.
Home?
Chapter 4
.
Jadenumb, 2017
Sebelumnya ada sedikit penjelasan, jadi sebenarnya dimulai dari chapter dua itu sudah tujuh tahun berlalu, otomatis Tae umurnya sekarang 22 tahun dan sudah tinggal sendiri di apartemen kemudian Kook baru berusia 17 tahun.
Selamat membacaa :)
Beberapa hari telah berlalu pada bulan pertama di musim panas tahun 2016.
Hari ini, tepatnya hari Sabtu, kampus Taehyung akan mengadakan sebuah seminar bagi para pelajar SMA dengan tujuan untuk membantu anak-anak tersebut dalam menentukan pilihan ke jenjang selanjutnya. Sehubung dengan ujian masuk unversitas yang akan berlangsung beberapa bulan lagi.
Acara ini bebas terbuka untuk umum, siapa saja boleh masuk asal tidak buat keributan.
"Kau yakin tak mau aku antar saja? Kalau memang alasannya gara-gara kau mengajak teman-temanmu juga aku tak masalah dengan itu. Walau aku tahu ketika kau bersama dengan teman-teman pasti nanti mobil akan jadi berisik sekali." Jawab seseorang dari seberang telepon.
"Iya Namjoon. Aku tak apa berangkat sendiri saja. Kau tak usah khawatir aku bukan anak umur delapan tahun lagi. Sudah ya, aku akan berangkat sekarang." Jungkook kini sedang berjalan menuruni tangga menuju pintu rumahnya menyusul Hoseok yang sudah menunggu dia sejak tadi.
Hoseok yang sedang mangkir bersandar pada sebuah mobil Mercedes Banz berwarna silver menginjak puntung rokok yang sedari tadi ia hisap ketika melihat Jungkook berjalan menuju ke arahnya.
Jungkook mendengus kasar lantas membuka pintu mobil dengan tak kalah kasar dan masuk kedalamnya. Hoseok menatap kelakuan adik sepupunya tersebut dengan sedikit bingung, namun memilih untuk langsung menanyakan apa yang telah terjadi sampai-sampai membuat suasana hatinya berlawanan dengan cuaca hari ini.
"Ada apa Kook, om-om itu mengomel lagi?" Tanya Hoseok sambil memegang alih kemudi. Jungkook membalas pertanyaan tersebut dengan dehaman mengiyakan kemudian mengeluarkan ponsel canggihnya dari saku celana jeans-nya.
Hoseok menghela nafas. "Om itu memang dari dulu tak pernah berubah ya.." Jungkook mengangguk-angguk setuju sambil terus memasukkan sepotong roti kedalam mulutnya.
Hari ini pula Jungkook dan Hoseok berniat untuk hadir dalam seminar tersebut.
Hoseok disini sebagai pendamping (supir) karena Namjoon yang berhalangan hadir tentu dengan alasan pekerjaan yang tak bisa ditinggal.
Tetangga bilang Namjoon gila kerja sampai lupa dengan anaknya sendiri. Selalu pulang ke rumah hampir tengah malam atau paling awal pukul sembilan malam. Dulu saat masih kelas tiga atau empat SD, setiap pulang sekolah Jungkook selalu singgah terlebih dahulu di rumah Hoseok yang sebenarnya berjarak tak jauh dari rumahnya. Lalu nantinya akan dijemput oleh sang ayah untuk kembali ke rumah.
Saat Namjoon dan Jungkook pindah ke Seoul tujuh tahun yang lalu orang-orang sempat bertanya-tanya, kenapa orang tua mereka tidak ikut tinggal dan pindah bersama mereka ke ibukota. Dikirinya mereka berdua adalah sepasang kakak beradik yang minggat dari rumah. Padahal sebetulnya mereka sendiri sudah pindah satu keluarga ke kota Seoul.
Namjoon menikah muda. Umurnya saat itu hanya delapan belas tahun ketika menikah dengan ibunya Jungkook yang kemudan bercerai lima tahun setelah Jungkook lahir. Menikah karena sudah terlanjur jatuh dalam aduan afeksi satu sama lain.
Cinta bisa buat lupa diri. Lupa kalau masih belia. Lupa kalau mau hidup di dunia makan cinta saja tidaklah cukup. Maklum, dahulu yang ada dipikirannya hanyalah cinta,cinta dan cinta.
Lebih dari itu, mungkin yang orang lihat memang Namjoon adalah seorang ayah yang jahat, yang telah menikah kedua kali dengan pekerjaannya, yang sehari-hari pulang tengah malam, meninggalkan anak semata wayangnya sendiri di rumah. Namun justru karena itu, Jungkook berhasil tumbuh menjadi anak yang pengertian sehingga tak mempermasalahkan ayahnya yang sering pulang malam.
Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu,
karakter Jungkook yang pengertian berubah menjadi sikap acuh tak acuh.
Mau dibilang akur juga tidak akur-akur amat, dibilang musuhan juga tidak. Mengingat keduanya juga jarang berinteraksi. Yasudahlah pikir kedua belah pihak.
Sekarang Namjoon dan Jungkook masih tinggal serumah. Kehidupan mereka masih sama. Masih hidup dan tinggal dengan dunianya masing-masing.
"Kau tahu Kookie, walau memang dia berisik seperti itu, tak ada salahnya bukan memperbaiki hubunganmu dengan ayahmu itu." Hoseok sambil memakan kentang gorengnya. Jungkook kembali mendengus.
"Sudahlah hyung. Kau tambah menghancurkan moodku." Jungkook cemberut menatap keluar kaca mobil sambil mengunyah roti dalam mulutnya. Hoseok melirik sebentar adiknya itu lantas menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.
Dua puluh menit berlalu. Sekarang Hoseok dan Jungkook sedang parkir di lapangan parkir universitas. Sudah terlihat banyak mobil berjejer disana. Hoseok memarkir kendaraannya sementara Jungkook masih sibuk dengan ponselnya.
Hoseok mengunci mobil dan menyenggol lengan Jungkook dengan sikut menyuruh Jungkook untuk membuntutinya dari belakang. Jungkook menaikkan pandangan dan memasukkan ponsel kedalam saku. Langkah si pemuda kelinci terhenti.
Dia mendongak. Terlihat langit biru terhampar luas dengan elok diatasnya. Jungkook tersenyum sambil menutup matanya. Dalam hati berdoa, agar hari ini bisa bertemu dengan sosok yang mirip dengan malaikat pemberi plester kelinci manisnya dulu.
"Jungkook cepat!" teriak Hoseok memanggil dari pintu belakang kampus. Jungkook tersentak dan berlari menyusul Hoseok.
Sekarang sudah pukul dua siang sedangkan acara dimulai pukul tiga. Jungkook dan Hoseok memutuskan untuk pergi ke kantin kampus mencari makan siang.
Mereka berjalan menyusuri lorong kampus. Dan seperti yang kalian duga, Jungkook dan Hoseok ditatap bak dewa yang sedang turun dari langit. Para wanita menghampiri keduanya dengan tatapan berbinar-binar. Jungkook menjawab segala pertanyaan wanita-wanita tersebut dengan ramah, begitu pula dengan Hoseok.
Jungkook mendapati perawakan yang sangat ia kenali. Sang gebetan berambut pendek sebahu yang sedang berdiri celingak-celinguk di pinggir jalan koridor.
"Noona!"
Eunha reflek menolehkan kepalanya dengan cepat setelah mendengar suara dari seseorang yang sedari tadi menghantui pikirannya. Bibirnya ikut mengembang pula dengan sempurna.
Kemudian Jungkook berjalan dengan sedikit berlari menghampiri Eunha. Disusul oleh Hoseok dibelakangnya. Wajahnya masih memajang senyuman kelinci khas Jungkook.
"Ada apa kesini Kookie?" tanya Eunha.
"Aku ingin melihat noona-ku memangnya tidak boleh?" Hoseok mengernyitkan wajahnya jijik mendengar pernyataan yang baru saja dikeluarkan oleh Jungkook. Tentu Eunhapun merasa begitu namun tetap saja, bibirnya tak dapat berhenti melengkungkan senyum.
Gadis itu menepuk lemah pucuk kepala Jungkook menggunakan buku yang sedang ia genggam.
"Jangan seperti itu Jungkook, fokuslah pada ujianmu.." Jungkook tersenyum dan mengangguk riang.
"Baiklah noona, justru karena itu aku datang kesini sebenarnya ingin ikutan seminar yang diadakan oleh kampusmu ini." Hoseok melipat kedua tangannya dan menggeleng dramatis.
"Haah kau tahu Eunha, kalau saja aku yang mengingatkan Jungkook. Sudah pasti dia berlagak tidak mendengar perkataanku."
Jungkook memasang ekspresi terkejut yang dibuat-buat
"Apasih yang telah kau katakan hyung, akukan selalu menuruti dan mendengarkan seluruh nasihatmu.." Hoseok mencubit lengan Jungkook pelan lantas ketiganya tertawa.
"Ah omong-omong ini Hoseok-hyung kakakku yang sering aku ceritakan itu." Keduanya tersenyum dan mengulurkan tangan seraya berjabat tangan.
"Terima kasih banyak sudah mau menjaga adikku yang kelewat manj-hei kurang ajar kau!" Jungkook mencubit pinggang Hoseok. Eunha lagi-lagi hanya tertawa melihat tingkah laku kedua saudara ini.
"Oh ya aku juga ingin memperkenalkan temanku.. Nah itu dia!"
Terlihatlah seorang laki-laki. Berpakaian lusuh serba longgar dari kaus sampai celana. Serta rambut agak acak-acakan dan kacamata bulat besar yang menggantung di hidung. Sambil berjalan memegang buku sepaket dengan tumpukkan kertas.
Jangan lupakan sandal merek Swallow yang dipakai, yang lebih cocok untuk dipakai ke kamar mandi.
"Kim Taehyung!"
Si pemilik nama awalnya menoleh namun segera membuang muka setelah tahu yang memanggil namanya adalah Eunha. Eunha cemberut karena mendapat reaksi yang tak diinginkannya. Kemudian gadis ini berlari menghampiri pemuda tersebut.
"Hei ayolah kemari sebentar, aku harus memperkenalkanmu dengan seseorang.."
"Ugh sudahlah Eun, aku sibuk banyak pekerjaan. Simpan saja 'seseorang'-mu itu untukmu sendiri."
"Ayolaah Tae.. kumohon, aku ingin kau mengenal orang ini.." Eunha menggelayuti lengan Taehyung memohon agar ia ikut bersamanya. Jungkook tidak senang. Ia kemudian menghampiri Eunha dan temannya itu.
"Aku rasa tidak sopan bukan menolak seseorang yang sudah memohon-mohon seperti itu kepadamu." Kata Jungkook sok bijak.
Taehyung mengalihkan pandangannya dengan malas kepada sosok pemuda yang agak sedikit lebih tinggi darinya.
Kedua pupil mata Taehyung membesar. Begitu pula sebaliknya dengan Jungkook. Mereka berdua sama-sama terkejut dengan apa yang sekarang telah mereka lihat
Sialan, umpat Taehyung dalam hati. Jantungnya terasa ingin berhenti.
"Oh Kookie.. tak seharusnya kamu berkata seperti itu. Lagipula memang aku yang memaksa Taehyung-ie agar mau aku kenalkan padamu."
Taehyung dan Jungkook masih saling bertukar tatap. Entahlah mungkin mereka sedang asyik tukaran kata-kata kasar didalam pikiran melalui telepati, saking fokusnya mereka beradu tatap.
Kuping rasanya tuli sesaat, penglihatan rasanya telah dikunci kepada satu figur.
Pemuda yang lebih tua dari Jungkook lima tahun itu mengenali dan sangat mengenali mata tersebut. Hanya dimiliki oleh tetangga bocahnya yang dulu pernah ditolong olehnya.
Rona mata cerah favorit Taehyung semasa dulu.
"Jadi ini adalah Kim Taehyung. Teman baikku dan asdos terbaik yang pernah ada!"
Kim Taehyung. Kim spasi Taehyung. Dua kata yang begitu berarti bagi Jungkook.
Dan seperti yang dulu-dulu, Jungkook masih saja terbengong-bengong menatap paras rupawan yang dimiliki oleh Kim Taehyung.
Serta jangan lupakan keheningan yang selalu mengisi ruang diantara mereka berdua.
Hoseok yang berdiri disamping Jungkook tentu sudah sadar dengan apa yang telah terjadi. Tapi memilih untuk diam menyaksikan dan menantikan apa yang akan dilakukan Jungkook selanjutnya.
Eunha menoleh bingung kearah Jungkook, kembali lagi kearah Taehyung.
"Apa kalian sudah saling kenal?"
Taehyung mengedikkan bahunya lantas menggeleng cepat. Sayang sekali, Taehyung nampaknya pandai bermain watak.
"Kim Taehyung, kau?" kata Taehyung sambil mengulurkan tangannya.
Hoseok meilirik Jungkook.
Ding dong!
Jungkook benar-benar kepincut untuk kesekian kalinya. Sekarang jantung hatinya serasa ingin meledak. Dia menelan ludah lamat-lamat.
Terbesit dalam benak Hoseok keinginan untuk tertawa. Benarkan dugaannya, pasti ada yang menarik diantara pertemuan kedua pihak setelah bertahun-tahun terpisah. Kemudian Hoseok menyenggol sikut Jungkook. Dan itu berhasil membangunkan Jungkook untuk kembali ke dunia.
"A-ah ya, aku Jungkook. Jeon Jungkook." Jungkook menerima uluran tangan Taehyung lalu menjabat tangannya.
Tentu dengan pandangannya masih terus terkunci pada wajah seorang Kim Taehyung.
"Sudah kan? Aku akan pergi sekarang." Taehyung beranjak ingin pergi. Tetapi.. tangannya masih digenggam erat oleh pemuda yang berdiri tepat dihadapannya ini.
"Uh Jeon Jungkook-ssi.." Hoseok menahan tawanya dengan cara menutupi mulut dengan telapak tangannya.
"Ah iya maaf, silakan pergi Taehyung." Taehyung mengernyit lalu menarik dengan kasar tangannya dan melenggang pergi dari tempat kejadian.
"Kau tidak apa-apa Kookie? Wajahmu terlihat merah.." Eunha khawatir lalu memegang kening Jungkook. Namun sebelum tangan itu sampai di keningnya, Jungkook sudah terlebih dahulu menangkapnya.
Eunha sebetulnya agak terkejut dengan perlakuan Jungkook.
"Aku tidak apa-apa noona. Apa kamu mau ikut kita ke kantin?"
"Ah tidak Kook. Aku harus pergi menemui dosen di lantai lima.. Kalau begitu aku pamit juga ya, kalau ada apa-apa telepon aku saja ok?" Jungkook mengangguk mengerti. Kemudian Eunha pamitan kepada Jungkook dan Hoseok lalu melangkah pergi menuju lift yang terletak di ujung lorong.
Hoseok tak kuasa lagi menahan tawanya. Dia tertawa cekikikan mengingat ekspresi wajah yang tadi digunakan Jungkook saat reunian dengan si tetangga.
"Astaga Kookie… wajahmu imut sekali tadi. Seperti gadis ABG yang melihat idolanya melintas tepat didepannya." Hoesok sambil melangkah menuju kantin kampus dengan Jungkook yang memimpin jalan sambil cemberut.
"Diamlah hyung.. aku juga tidak tahu kenapa bisa aku lagi-lagi terpin- maksudku bertemu dengannya setelah bertahun-tahun ini." Jungkook menggaruk-garuk kepalanya frustasi
"Sekarang kau percaya kan tentang adanya takdir..." Jungkook menghela nafas.
"Ah sudahlah terserah kau saja."
"Omong-omong wajahnya manis benar ya kalau dilihat secara langsung seperti ini. Apalagi dengan jarak dekat, astaga seperti melihat-" Perkataan Hoseok terputus saat Jungkook tiba-tiba menoleh dan menatapnya dengan ekspresi garang.
Hoseok menelan ludah. Lantas cepat-cepatlah dia menutup rapat-rapat mulutnya.
Jungkook dan Hoseok akhirnya sampai di kantin dengan Hoseok yang (akhirnya) diam.
Seorang pemuda berambut cokelat tua baru saja keluar dari lift. Kedua matanya tertutup poni karena ia sedang menundukkan kepalanya. Pemuda itu tersenyum mengingat kejadian yang baru saja ia alami.
'Aku lebih tua darimu lima tahun, bodoh.'
Pertemuan pertama (kedua) tidak separah yang dibayangkan. Keduanya memilih untuk bertindak seperti tak pernah bertemu dan kenal sebelumnya. Sama-sama mencari aman.
Sekarang sudah pukul lima, acara seminar sudah selesai. Pengunjung sudah mulai meninggalkan area kampus, sekarang lebih didominasi oleh panitia yang sedang beberes dan bersih-bersih setelah acara.
Hoseok terlebih dahulu pergi menuju parkiran. Mau merokok, katanya.
Tinggallah Jungkook yang sedang berjalan di sekitaran taman kampus dimana banyak pohon-pohon besar tempat para mahasiswa mengerjakan tugas atau sekadar santai-santai mengobrol. Namun saat ini sedang lengang. Tak banyak mahasiswa yang sedang ngongkrong disini.
Disinilah kembali ia lihat, malaikatnya sedang berjalan masih dengan membawa seberkas portofolio namun kali ini disertai juga dengan tas ransel yang hinggap di punggungnya.
Pipinya Jungkook lantas kembali memerah. Tergeraklah kakinya untuk menghampiri hyung-nya itu.
"Hyung!" teriak Jungkook sambil berlari dari arah belakang. Yang dipanggil tidak menoleh. Kedua telinganya disumbat menggunakan earphone. Jungkook menarik lengan Taehyung, barulah ia menoleh dengan wajah bingung bercampur malas.
"A-ah maaf." Jungkook melepaskan pegangannya. Taehyung masih menutup mulutnya.
"Bagaimana kabarm-" perkataannya terhenti saat melihat sesosok laki-laki separuh baya berjalan kearah mereka berdua. Memakai jas cokelat dengan celana bahan berwarna senada. Rambutnya dipakaikan gel kemudian ditarik kebelakang. Rahang serta tatapan matanya tajam. Sungguh penampilannya sangat dewasa dan tampan sekali untuk ukuran seorang pria berumur 46 tahun.
Tetapi saat menyadari ada Jungkook yang sedang berdiri di depan Taehyung pria itu menghentikan langkahnya beberapa meter darinya.
Jungkook tentu kenal dengan sosok itu. Masih teringat jelas bagaimana orang itu merebut paksa Kim Taehyungnya dulu. Ya, benar sekali. Dialah Professor Kim ayah dari Kim Taehyung.
"Taehyung." Suara bariton masuk kedalam indera pendengaran Jungkook dan Taehyung. Taehyung sontak menoleh, mendapati ayahnya yang sudah berdiri menunggu kedatangannya.
Sialan, Taehyung kembali memaki dalam hati.
Ekspresi wajah Jungkook mengeras. Dia menatap pria itu dengan tatapan sinis juga marah. Taehyung tentu sadar dengan hal itu.
"Dengarkan aku baik-baik. Mulai sekarang kau dan aku tak mengenal satu sama lain. Jauhi aku, kalau tak mau kena masalah."
Taehyung berbalik melenggang pergi menghampiri Professor Kim. Pria itu melingkarkan lengannya di pinggang Taehyung kemudian melenggang pergi bersama. Meninggalkan Jungkook yang membatu ditempat bersama daun yang berserakan di jalan.
Singkat,jelas,dan padat. Pernyataan tersebut benar-benar menohok di hati Jungkook. Mulutnya ingin mengeluarkan kata. Namun tidak ada suara yang keluar dari dalamnya. Semuanya tertahan dan terjadi begitu saja.
Dengan langkah lamban, Jungkook melangkah menuju parkiran. Terlihatlah Hoseok yang sedang bersandar di mobil seperti tadi pagi. Namun kali ini tidak pakai rokok.
"Akhirnya datang juga, sedari tadi aku meneleponmu tahu."
Jungkook tidak menjawab dan kembali diam memilih untuk masuk duluan kedalam mobil.
Hoseok lagi-lagi tak mengerti dengan adiknya itu. Kemudian ikut masuk kedalam mobil dan mulai menghidupkan mesin mobil.
Jungkook bingung harus berbuat apa. Ingin sekali rasanya kembali seperti dulu dengan Taehyung dan Namjoon. Ingin sekali ia memeluk Taehyung erat supaya dia tidak pergi lagi.
Semuanya tertahan begitu saja. Segalanya hilang direnggut begitu saja.
Pikirannya tenggelam bersamaan dengan tenggelamnya cahaya matahari di sore hari ini.
Halo saya kembali..
Ini dia.. siapa yang kemarin mencari ayahnya tae hehehehe? *ketawajahat*
Tapi jujur, saya agak merasa bersalah saat mendeskripsikan penampilan ayah taehyung TT_TT
Seperti biasaa terima kasih banyak yang sudah mau memberi review, favourite, follow dan membaca cerita inii! saya terharu.. emojilove ((karena nggak bisa kopi paste emot love))
Saya semakin semangat untuk menulis, terima kasih lagi dan sampai jumpa di chapter selanjutnyaa
