-Terlalu Manis-
Disclaimer : Saint Seiya © Masami Kurumada.
Saint Seiya LC © Shiori Teshirogi.
The OC belongs to me, so, don't like don't read.
.
.
.
.
Rate : T
.
.
.
.
XXX
.
.
[Kamu tahu apa yang lebih nyesek dari kuota abis?]
[Seseorang yang pergi meninggalkanmu tanpa mengucapkan pamit.]
.
.
.
"Tatap mata saya."
He..
"Konsentrasi.."
"Mil? Sehat?" tanya Kanon.
"Masuk... masuk... masuuuk!"
"Milo! Bolanya direbut sama Sagaaaa!" teriak Kanon. Milo terkaget. Saga sudah melesat ke ring milik tim mereka dengan bola basket di tangan. Dribble dalam kecepatan penuh. Refleks rambut megar ungu dan surai biru laut langsung mengejar Gemini Kakak itu.
Saga berkedip. Dia dihadang Aldebaran sebagai Center di tim sebelah. Mata hijau pria itu menoleh ke samping, tak jauh darinya ada Kanon sebagai power forward. Dia mendecih, langsung mengoper bola pada Camus.
Aldebaran langsung menggeser posisinya saat tahu bola berpindah pemain. Camus menyipitkan mata. Dia mundur. Melakukan ancang-ancang tembakan three point dengan garis yang cukup jauh. Taurus itu bersiap menghalangi, tangannya teracung tinggi. Tapi sesuatu yang besar menekannya dari depan.
Saga. Mata hijau pria itu berkilat mengintimidasi. Meski dia lebih pendek, ternyata ketahanan fisiknya tidak bisa dianggap remeh. Aldebaran tersentak sejenak. Kanon dihalangi oleh Mu. Sementara dari belakang Camus ada Milo. Ini tembakan penentuan!
Camus sudah melepaskan tembakan jarak jauhnya dengan melompat. Milo bereaksi. Langsung menolakkan kaki untuk melesetkan tembakan sahabatnya.
Aldebaran dan Saga saling menekan. Penonton terdiam horror. Itu adalah adu kekuatan paling serius di lapangan. Banteng dan manusia super. Kanon berusaha lolos dan membantu, tapi defense Mu sempurna. Tidak bisa dihindari. Dirinya seakan dihalangi oleh dinding kristal tak kasat mata.
Milo terkekeh. Dia hampir mencapai bola Camus yang dilempar tinggi. Tapi sesuatu tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia tersentak.
"JUMPING STONE!"
Bola basket itu langsung melesat dengan kecepatan cahaya ke ring. Masuk. Tiga angka tercetak. Semua orang melongo. Milo tersedak.
"SHURAA! SEJAK KAPAN KAMU BISA MELOMPAT SETINGGI ITU!"
"Saya hanya rajin latihan.."
"NGGAK MUNGKIN! KAMU PASTI BUKAN MANUSIA! NGGAK ADA SEORANG PUN YANG BISA MELOMPAT JAUH DI ATAS KEPALA! –lagian apa-apaan itu nama jurusnya. Batu meloncat. Nggak bisa kerenan dikit apa!-"
Camus menghela nafas. Melihat kelakuan sahabatnya yang ricuh di tengah pertandingan. "Mereka ramai seperti biasa heh.."
Saga mendengus. Mengendurkan pinggangnya. "Ya."
Pria berambut ungu itu termenung. Mu terduduk bersama Aldebaran. Sementara Kanon mangkel. Dirinya nggak berguna di saat-saat terakhir. Saga menaikkan alis.
"Camus.. murid kelas 3 SMP yang namanya Rosemarie itu.. hari ini dia tidak masuk sekolah. Kau kenal dengannya kan?"
"Hm?" Camus menaikkan alis. "Dia memang hanya sementara di sekolah ini. Murid pertukaran pelajar, negaranya mengambil gadis itu kembali," jawab pria itu.
"Oh.." Saga mengelap keringat yang membanjiri rambut serta wajahnya. Kaos olahraganya basah total. Beberapa teriakan di kursi penonton mewarnai suasana. Milo kipas badan.
"Tidak biasanya kau peduli pada adik kelas.. he.. Saga?" tanya Shura yang ada di belakangnya. Melempar handuk pada kembar kakak itu. Saga hanya meliriknya. Dia menangkap kain panjang yang datang dan menghela nafas. Dia melirik tribun penonton. Memang yang biasanya mengintip mereka saat olahraga adalah siswi SMP –mereka sedang jam istirahat-.
Ya.. semuanya..
"Dia hanya sedikit berbeda.."
Karena di barisan penonton itu. Selalu ada satu gadis yang tidak bereaksi apapun.
Dan gadis itu selalu Rose.
XXX
Kelas kimia tidak pernah seayem dan setentram ini sebelumnya. Beberapa kelompok murid melakukan praktik dengan teliti dan terpelajar. Entah apa alasannya, pokoknya Asgard belum kena badai salju tahunan lagi.
Baldr pun dengan tenang mendengarkan penjelasan Bu Partita soal percobaan yang akan mereka lakukan kali ini. Sesekali tangan kurusnya bermain di sela-sela gelas kaca kecil. Sigmund dan Surt bisa puas-puas tidur di belakang si pria manis karena orang yang bersangkutan adalah penggila kimia.
Tentu saja.
Butuh tenaga ekstra untuk membujuk si lelaki biarawati agar mau menjadi bagian dari kelompok mereka –Surt menjanjikan Vanilla Milkshake. Sementara Sigmund memberi jilid alkitab yang baru pada Baldr-.
"Percobaan bisa dimulai dari sekarang."
Surt menguap pelan. Sesekali matanya melirik keluar jendela. Kalau diperhatikan ternyata beberapa duta Asgard datang ke sekolah mereka. 'Mengawasi' pembelajaran barangkali. Matanya pun menangkap sosok pria tinggi berambut merah dengan ikat rambut di bagian depan sama seperti dirinya. Berbincang-bincang dengan Pak Degel di depan kelas. Kelihatan aneh..
Atau perasaannya saja yang terlalu curiga ya?
"Kalau gak salah itu Pak Andreas kan?" tanya Frodi. Surt menaikkan alis. Dia menyipitkan matanya. "Oh ya..."
Rambutnya merah terang. Pasti dokter merangkap psikolog yang agak aneh itu. Surt seakan bergidik. Aura yang dikeluarkan Andreas kadang-kadang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ada isu kalau dia merupakan teman lama Delta Megrez Alberich, murid jenius yang masuk Universitas Asgard di usia 15 tahun.
Pokoknya mau dilihat dari sisi manapun, dokter gagah itu tidak ada baik-baiknya.
Surt menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memilih mengusili Sigmund yang chatting-an dengan adiknya di kelas sebelah daripada kurang kerjaan.
"Oi.. Surt.."
Suara panggilan Frodi. Rusa api biru itu tertegun. Dia menoleh. Frodi memandangnya dengan tatapan aneh. Seakan merasa was was...
"Pak Andreas memerhatikanmu loh..."
DEG!
CRRRRRTTT!
Seakan tersetrum 'Lightning Plasma' temuan Aiolia. Yang konon katanya mampu memasok listrik ke hampir seluruh ruangan laboratorium. Surt langsung menoleh. Dan benar kata Frodi. Mata merah marun dokter cantik itu mengamatinya dari sudut. Sedikit tertutupi poni yang ampun-ampunan.
Surt menelan ludah. Dia berusaha kembali normal. Berdoa panjang-panjang agar mata Andreas lepas darinya. Sumpah. Horror diperhatikan seperti itu.
"Yr... Yr.."
Surt menoleh ke arah Baldr. Dia tertegun sejenak. Jari jemari pria manis itu seakan melakukan satu dua gerakan. Yang kemudian diakhiri dengan membuat tanda salib di dada. Mata merahnya melirik ke arah teman mataharinya. Tersentak karena baru sadar diperhatikan.
"Kau kenapa?" tanya Surt.
Baldr hanya tersenyum. "Hanya membuatmu terlihat lebih baik.." kata pria itu sambil menuliskan hasil pengamatannya ke kertas laporan. Dia lalu menoleh pada teman sekelompoknya. "Kamu sedang merasa cemas dan takut kan?"
"Oh.. ya.. ehehe.. makasih.." kata Surt. Dan benar kata Baldr. Dirinya jauh lebih tenang. Berkah orang suci mungkin. Dibandingkan teman-temannya, pria berambut putih itu memang yang paling polos –pokoknya jangan bandingkan dengan siapapun. Terutama Fafner-. Belum banyak dosa, mungkin karena itu Tuhan cepat mendengar doanya.
"Jadi kalau gelisah itu ada doanya ya?" tanya Surt sambil menopang dagunya ke meja. Baldr menaikkan alis. Lalu mengangguk.
"Ya.. Yr tadi untuk beberapa peristiwa. Bisa dikatakan memanggil malaikat pelindung. Kalau untuk keadaan terparah katakan Ansur. Itu bukti kemurkaan de-"
PRANG!
Suara gelas pecah.
Baldr terdiam.
Surt cengo.
Frodi kedip-kedip.
Gelas kaca hasil percobaan zat-apalah-itu-yang-dipakai Baldr pecah berserakan di lantai. Tangan Sigmund tak jauh darinya. Artinya Sigmund yang menyenggol gelas Baldr.
Artinya percobaan mereka gagal.
Artinya mereka harus mengulang kembali dari awal.
Surt langsung telan ludah. Mata Baldr melotot. Merah menyala. Dimensi waktu berhenti. Ruangan tiba-tiba menjadi panas.
"AAAAANSUUUUUUURRRR!"
.
.
.
"Anu.. Pak Andreas?"
"Ya?"
"Saya rasa tadi ada gempa kecil sebentar. Kok sepertinya dari laboratorium kimia ya?"
"Oh.. anda merasakannya juga? Saya pikir Cuma perasaan saya saja.."
.
.
.
Andreas menaikkan alisnya. Dia melepaskan jas dokter putih dan menyisakan kemeja biru muda dengan dasi biru tua yang sempurna untuk penampilan pria itu. Menatap bergantian tiga siswa yang digiring masuk ke UKS.
"Ada apa?"
"Sigmund babak belur, Baldr memar karena ditahan Hercules, Surt kena pecahan kaca di telapak tangan. Tolong urus mereka ya.." kata Partita sambil tersenyum miris. Dia menunduk.
Andreas hanya tersenyum. "Sigmund dan Baldr silahkan ke tempat suster. Surt, karena kamu Cuma dapat luka ringan. Saya akan obati disini saja.."
KOK KEBALIK -_-.. batin ketiga orang itu. Normalnya dokter akan mengurus luka serius sementara suster membantunya. Lah ini?
"Sebentar.. jadi gue.."
Surt menatap sekeliling. Dan entah kenapa Sigmund juga Baldr seakan ngacir ke tempat tujuan mereka. Meninggalkan rusa api biru itu sendiri. Si kepala merah tersentak. Jadi dirinya akan terjebak dengan Andreas?
Dosa apa murid dari Asgard ini Ya Tuhan..
"Yr.. Yr.." gumam Surt. Dia melirik dokter berambut merah bata itu di sudut mata. Sedang mengeluarkan kotak P3K untuk mengobati lukanya. Andreas tampak normal. Dia bahkan sedikit mengulum senyum cantik.
Nggak, Surt.. santai saja.. ini Cuma sebentar kok.. batin pria itu dalam hati. Surt menarik nafas. Lalu duduk di kursi depan meja Andreas. Menunjukkan telapak tangannya yang berdarah. Dokter itu berkedip. Dengan segera membersihkan luka si murid tahun ajaran akhir sebelum terkena infeksi.
"Namamu Surt kan?" tanya Andreas tanpa menoleh. Surt mengangguk pertanda ya. Kemudian dia menggelengkan kepalanya sendiri, berusaha mengusir angan-angan aneh dari kepalanya.
"Kamu tetangganya Rose?"
DEG.
Mata Surt membelalak.
"Er.. darimana anda tahu?"
Andreas hanya tersenyum. Senyuman yang kecewekan. Senyuman yang membuat semua orang bergidik. Begitu juga dengan Surt. Kepala merah itu gemetaran aneh. Seakan berusaha bertahan.
"Saya pernah menanganinya di bidang psikologi.." kata Andreas sambil menatap keluar. Lalu memangku wajahnya dengan tangan. Pria itu mengulum senyum yang dilemparkan keluar jendela sana.
"Eh?"
XXX
[Flashback.
Rose sedang berjalan di depan ruang UKS. Dia melirik kanan kiri. Gaun putih tipisnya sangat tidak memungkinkan untuk menahan hawa dingin. Tapi memang sejak awal gadis itu memiliki sistem pertahanan khusus untuk musim dingin. Lagipula Kanada bisa benar-benar beku saat badai salju datang. Lebih beku dari Athens tentu saja.
"Loh? Kamu murid sekolah ini?"
Gadis itu menoleh. Menatap siapa yang datang.
Seorang pria berjas dokter dengan mata dan rambut merah marun cantik menatapnya dalam diam. Dia memasang ekspresi netral. Lalu tersenyum beberapa saat kemudian.
"Datang untuk mengambil sesuatu?"
"Anu.. iya Pak.. berkas teman saya ketinggalan.." kata Rose tanpa rasa curiga sedikit pun. Oh ya. Sebenarnya gadis itu masih sangat polos. Bahkan untuk ukuran bocah SMP. Andreas menaikkan alis.
"Kamu.. masuk siswa yang punya 'kebutuhan khusus'?"
DEG.
Rose tertegun. Lalu dia mengangguk sejenak. Dilihat dari pakaiannya, pria ini seorang dokter. Sekolah mereka tidak jarang mengundang dokter atau psikolog untuk menangani masalah kesehatan. Baik fisik maupun mental. Tidak mengherankan.
"Aku Andreas Lise.. kamu bisa panggil saya Pak Andreas.. atau Dr. Andreas.." kata pria itu. Masih mengulum senyum yang sama. "Saya pernah lihat wajahmu di dokumen sekolah. Ternyata kamu memang... manis.." lanjutnya.
Gadis itu hanya melirik ke arah lain. Tersenyum sopan. "Saya tidak semanis itu kok.."
Andreas menarik sudut bibirnya ke atas. Diikuti kelopak matanya yang menyipit tulus membentuk eyesmile. Begitu menawan dan sempurna untuk ukuran wajah seorang manusia. Seperti porselen. Rose berkedip. Ada dua kemungkinan bagi seseorang yang memiliki fisik yang begitu 'sempurna'.
Pertama, ada kelemahan besar di fisiknya.
Kedua, ada kelemahan besar di 'bagian dalam'nya.
Baiklah. Dirinya tidak salah kan kalau waspada?
"Tidak mau masuk ke dalam ruangan saja? Diluar dingin.. nanti saya temani mencari barang yang kamu maksud.."
Dan rasa-rasanya rerumputan menggeleng, berkata 'jangan'.
.
.
.
Andreas menatap berkas kondisi mental Rose dari bulan ke bulan. Lalu menatap si empunya. Gadis ini nampak baik-baik saja saat diluar jam sekolah begini. Atau mungkin tingkat stress nya meningkat saat dirinya dalam pelajaran ya? Pria itu menggeleng.
"Sejak kapan kepribadianmu yang lain muncul?" tanya pria itu.
Rose menoleh. "Sejak aku.." gadis itu terdiam. Dia mengingat-ingat dengan jari telunjuk di pipi. Kepalanya dia miringkan.
"Aku lupa.."
"Beberapa tahun yang lalu? Belasan tahun?"
"Nggak... nggak sejauh itu.."
"Baiklah..." Andreas hanya tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di bantalan kursi yang empuk.
Gadis ini benar-benar tidak sadar kalau gelagatnya bisa mengundang 'bahaya'.
"Saya tidak bermaksud lancang menyinggung soal masa lalumu. Tapi apa menurutmu yang membuatmu kambuh?" tanya Andreas. Dia mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas ekspresi Rose.
Gadis berambut pirang itu tersentak. Lalu dia menatap ke samping sedikit, memikir-mikir kenapa semuanya bisa seperti ini. Dirinya yang kalem dan pendiam bisa menjadi sangat berbahaya saat penyakit 'itu' kambuh. Rose menyandarkan punggungnya di kursi.
"Masalah remaja? Kamu memang sedang dalam masanya memberontak."
"Mungkin saja Pak.."
"Ditolak laki-laki yang disukai?"
DEG.
"Nggak! Sedikit pun enggak!" kata Rose sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dia tersenyum tipis. Kata-kata itu, jujur sangat mengenai hatinya yang paling dalam. Meski tidak seluruhnya. Andreas hanya menarik kedua sudut bibirnya ke atas dengan anggun seperti biasa.
"Saya tidak tahu apa masalah yang menimpa kamu. Tapi masalah ini, semua manusia pasti mengalaminya.."
Pria berambut merah seperti wine berkualitas tinggi itu berdiri. Dia berjalan mendekati Rose, kemudian berhenti di belakang kursi gadis itu.
"Kamu tahu? Merokoklah, dan kau akan mati lebih cepat beberapa tahun. Minum saja alkohol, dan kau akan mati lebih cepat puluhan tahun... dan.."
Mendadak dua tangan besar menjulur dari belakang gadis itu. Dengan wajah Andreas yang mendekat sampai mulutnya ada di samping telinga Rose. Kepala pirang itu konslet mendadak. Baru sadar kalau dirinya ada di dalam bahaya.
"Cintai saja orang yang tidak mencintaimu, dan kau akan merasa mati setiap harinya.."
"GYYAAAAAAAAAAAAH!"
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi pria dua puluh tahun itu. Rose bahkan sampai menendang kursi dan mengambil jarak 5 meter dari Andreas. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. Menggigil ngeri seketika.
Pak Andreas positif pedofil.
POSITIF.
Underline, italic, bold, capslock. Biar makin jelas.
Dokter berambut merah itu memegangi pipinya. Lalu dia menaikkan alis menatap gadis itu. "Kenapa?"
"Kok 'kenapa' sih! Pak Andreas itu yang 'kenapa' sama saya!" kata Rose tidak tahan saat pertanyaan itu dilontarkan dalam nada watados. Begitupun dengan mukanya.
Ya, sekalipun wajah Andreas masih tetap penuh dosa.
"Saya hanya menjelaskan."
"Kalau menjelaskan gak usah main peluk segala Paaaaaaak!"]
.
.
.
Surt menelan ludahnya. Andreas mendenguskan nafas perlahan. "Bahkan tamparannya masih terasa sakit sampai sekarang. Memang benar kalau rahang pria didesain khusus untuk menerima yang seperti ini."
YA GIMANA KAGAK DITAMPAR COBA KALO MAINNYA PELUK ANAK ORANG BEGITU!- batin si rambut merah ngejreng yang merasa nasibnya semakin di ujung tanduk. Gila, guru ini positif pedofilia.
POSITIF (edisi dua).
Meskipun Surt sama sekali tidak masuk ke kriteria imut, -nggak. Nggak sedikit pun-. Umurnya pun sudah 18 tahun. Tubuhnya juga menjulang tinggi. Rahangnya tegas dan jakunnya tubuh sempurna. Tidak ada nyerempet-nyerempetnya sama anak kecil meski dilihat dari ujung Monas yang dipindahkan ke air terjun Niagara. (apa yang kita bicarakan?)
"Kamu kenapa? Kok pandanganmu seperti curiga sama saya?"
Dan seketika Surt terhenyak lagi. Dia menatap Andreas, hendak menjawab dengan wajah watados. Tapi saat melihat ekspresi lawan mainnya, rusa api biru doyan manisan itu langsung bungkam.
Andreas melirik dirinya dengan pandangan horror. Aura merah menguar. Sedikit tercampur dengan warna biru, entah ini semacam ilusi optik atau uji coba fatamorgana kelas sebelah mendadak nyasar begitu saja ke ruang UKS. Rambut dokter merangkap dosen itu tiba-tiba berubah menjadi ungu. Benar-benar berubah pemirsa. Surt terdiam. Dia semakin terpojok dalam situasi ini.
"Kamu tidak berpikir dan akan ngomong macam-macam soal saya kan?" tanya Andreas dengan nada yang tidak ada lunak-lunaknya. Ternyata Andreas Lise memang seorang dosen. Dan Surt yang calon mahasiswa mengkeret dibuatnya.
"Nggak sama sekali kok Pak.." kata murid tahun ajaran akhir itu dengan senyum cerah yang biasa dia tunjukkan. Tapi air muka Andreas tidk membaik sedikit pun. Masih setia dengan alis bertaut, sorot mata mengintimidasi, aura gelap, juga rambut ungu. Dia mendongakkan kepalanya. "Kamu bilang apa?" tanyanya garang.
DEG!
Surt tersentak kaget. Ini bahaya! Kelulusannya tinggal sebentar lagi dan berurusan dengan calon dosen universitasnya ini sama sekali tidak bagus. Pria itu berusaha memutar otak, dirinya panik. Pembicaraan ini harus segera berganti topik. Dan yang paling penting adalah bagaimana Andreas tidak jadi marah.
Matanya menatap apa saja yang bisa membantu idenya lancar.
Oh iya.
Andreas kan terkenal dengan wajah cantik ya?
Bagaimana kalau membesarkan hatinya dengan mengatakan kalau pria ini terlihat tampan?
Surt menaikkan alis.
Hei... Ide yang tidak buruk.
"Anu... Pak Andreas.." Surt menatap pria itu. Lalu dia berusaha mengucapkan kalimat berikutnya dengan nada senormal mungkin.
"Bapak hari ini ganteng dan manly loh.." lanjutnya dengan senyum ceriwis.
Andreas tersentak. Sorot matanya mendadak melunak. Aura gelap itu sirna perlahan-lahan. Semuanya kembali seperti biasa. Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya yang marun. Lalu dia menatap Surt.
Bahkan tersenyum tipis.
"Surt.."
Andreas tersenyum kecut, jujur dirinya agak merasa aneh.
"Kamu homo ya?"
XXX
"Ga..."
Kanon menempelkan wajahnya ke meja kantin. Menatap kakak kembarnya. Dia memutar-mutar tutup botol disana. "Saaaagaaaaaa..." panggilnya lagi. Menempelkan semangkuk sup tepat di depan bibir pria bersurai ungu itu. Saga tersentak. Refleks dia mengelak.
"Kanon.. apaan sih?"
"Kamu itu yang apaan sih. Udah tahu makanan di depan hidung, kagak dimakan.. aneh.." kata Kanon. Dia meluruskan punggungnya. "Coba kuperiksa ya, beberapa hari lalu kamu masih baik-baik saja. Lalu besoknya kau mulai lirik kanan-kiri tidak jelas, aku nggak paham. Dan besoknya lagi lewat di depan gedung sekolah anak SMP. Dan hari ini ngelamun kagak mau makan. Di kelas Pak Shion kamu juga ngelamun. Naksir cewek ya?"
"Cukup Kanon," kata Saga. Pria itu menghela nafas. Dia menyandarkan punggungnya di kursi. Kantin itu agak sepi. Saga dan Kanon memang sengaja cari makan saat jam kosong.
Pria itu melirik sudut kanan. Dan dia tersentak, matanya membelalak. Sesosok gadis yang belakangan ini menghilang muncul lagi wajahnya di pojokan sana. Saga berkedip. Dia langsung menggelengkan kepala.
Tidak. Itu Frederik.
Pria Denmark 'tercantik' yang juga datang karena prosesi pertukaran pelajar. Mereka satu angkatan, dan Frederik memang kakak Rose.
Tunggu.
Kakak Rose?
DEG.
Kembar kakak itu menepuk jidatnya.
KENAPA DIRINYA BARU INGAT?
Saga mendecih dalam diam. Tapi pria itu tetap bertahan di posisinya. Tidak menunjukkan perubahan apapun. Untungnya Kanon juga sibuk bersapa dengan teman-temannya dari kelas sebelah, -atau yang konon katanya disebut kelas Marina-.
"Hei."
Frederik menyapanya ramah, disertai senyuman cantik (entah kenapa sejak tadi kita selalu membahas lelaki cantik). Suaranya ternyata tidak berbeda sedikit pun dengan Rose, sangat mirip. Rambut oranyenya bergerak saat pria itu duduk di sampingnya, lengkap dengan nampan makanan.
"Kau melamun, Saga-san.."
"Hm.."
Saga hanya menjawab singkat. Dia membolak-balik buku kecil berisi catatan rumus fisika dan kimia. Dirinya juga baru sadar kalau ternyata Frederik dulunya adalah anggota OSIS yang menjabat seksi kebudayaan dan sastra. Pria cantik itu aktor hebat. Tidak ada yang meragukan kemampuannya.
"Adikmu itu.. dia sama sekali tidak berminat jadi anggota OSIS pada akhirnya.." kata Saga.
Frederik mengangguk. Dia menghela nafas. "Padahal Rose juga sangat berbakat, dia bisa mewarisi posisiku. Tidak ada yang meragukannya, Hyoga selalu menyeretnya ke ruang sidang dan pemilihan kabinet dua tahun berturut-turut."
Tapi bukan namanya Rose kalau tidak licin. Lepas dengan mudah.
"Kau tidak bisa memaksanya.."
"Hm... kau peduli ya.. Saga-san.." kata Frederik dengan mata mendelik. Tersenyum tipis. Senyuman yang aneh, yang memiliki maksud lain. Sementara Saga tidak mau berpikir macam-macam soal arti lekukan bibir itu. Dirinya masih punya banyak urusan. "Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku.." ucap pria itu tenang.
Frederik tersenyum. Dan demi petir Zeus, caranya tersenyum jauh lebih lembut dan gemulai dibandingkan perempuan tulen. Kanon sampai melongo menatapnya, salah satu pria tercantik di sekolah selain Aphrodite dan Pak Albafica memang hebat.
"Kenapa kau menyimpan jepit rambut adikku?" tanya pria itu.
DEG.
Saga tersentak. Dia menegakkan punggungnya kemudian. Lalu menatap Frederik tak habis pikir. "Apanya?"
"Seorang pria takkan mau menyimpan jepit mawar selain Aphrodite di sekolah ini.." kata pria itu sambil menurunkan kelopak matanya. Dirinya berhasil mendapati sebuah jepit rambut mawar yang terselip sebagai pembatas buku Saga –entah antara ceroboh atau memang tidak mau hilang-. Frederik melonggarkan dasi merahnya. Agak sumpek saat Aldebaran dan Pak Hasgard tiba-tiba masuk. Seperti kedatangan 10 orang sekaligus. "Lagipula aku tahu pasti barang-barang milik 'adikku'..."
Saga hanya melihatnya. Lalu dia menatap ke arah lain. "Aphrodite memintaku untuk memberikannya pada adikmu."
"Kenapa tidak aku? Kenapa kau yang dia minta?"
"Mana kutahu. Dia kurang akrab denganmu mungkin."
Bulu mata lentik pria itu menurun sejenak. Dia menyipitkan manik biru esnya. Aphrodite akrab dengannya.
"Hei.." panggil Saga. Frederik mengerjap. "Ya?"
"Jadi.. Rose sudah kembali ke Kanada?" tanya pria itu tanpa menoleh ke arahnya. Pandangan mata Saga kosong. Agak aneh, seperti memikirkan sesuatu. Tidak, pikiran siapapun pasti bisa kemana-mana kalau sedang senggang seperti ini. Apalagi kalau ada di kantin.
Pria cantik yang ada di sampingnya terdiam. Seminus-minusnya ketidakpekaan Frederik –dan sama seperti adiknya juga-. Dirinya bisa merasakan kalau selama beberapa bulan ini. Saga menaruh 'perhatian berlebih' pada adiknya sendiri. Oh, bahkan remaja asal Denmark itu sangat jarang menghubungi Rose.
"Hm..." Frederik tersenyum tipis. Sedikit demi sedikit prasangka polosnya terkelupas dan rasanya curiga menjadi sesuatu yang umum. Pria itu berdiri. Lalu berbisik pada Saga.
"Vancouver, nomer-..."
-TBC-
Author Note :
Halo. Halo. Maaf menunggu lama. Ada banyak kendala saat saya mengupdet cerita ini.
Khusus buat requestnya Mbak Mim. Gimana kak? :''
Salam Kompor Gas,
Shakazaki-Rikou
See you next chapter!
