hosh.. hosh.. hosh.. *capek dikejar ujian dan TO*
terpaksa(?) ulangan nanti harus SKS (Sistem Kejar Semalam) belajarnya.. *di lempar ke lava pijar sama kaka-sensei*
saya tidak ingin banyak bercakap-cakap(?) ria, nanti aja di bawah.. =o=b
okee.. silahkan baca fic saya yang sangat abal dengan mencari tempat yang nyaman untuk membaca.. ^^
WARNING: AU, OOC, LEMON, GAJE SANGAT!
DISCLAIMER: Masashi Kishimoto
PAIR: KAKASAKU
DLDR
.
.
.
-o-o-o- My Fathers is My Love chapter 4 -o-o-o-
.
.
.
Kini bibir Sakura dan Kakashi sudah basah akibat lumatan bergairah dari Kakashi. Sakura masih belum melakukan perlawanan. Sesaat ketika Kakashi menggigit lembut bibir bawah Sakura dengan lembut, untuk memudahkannya memakan Sakura dengan kenikmatan dan keliaran lidah Kakashi.
Sakura kini melakukan perlawanan. Dia tidak ingin Kakashi melakukan lebih dari ini.
Kakashi terus mencium liar bibir Sakura dan melahapnya. Tetapi lidahnya masih belum diperbolehkan masuk.
Kakashi mulai meraba bagian menggoda Sakura yang berupa gunung kembar.
.
.
.
.
"dimana Kakashi? dia tidak ada dikamar.". Tsunade bertanya entah pada siapa kemana Kakashi pergi pada tengah malam berhujan itu.
Tsunade yang masih ada dikamarnya, mulai beralih menuju kamar Sakura. Untuk melihat apa Sakura sudah tidur apa belum.
Kini langkah kakinya menuju kamar dimana kedua orang itu sedang berkecup mesra.
.
.
.
Tangan nakal Kakashi sudah meraba masuk ke dalam baju tidur Sakura yang berwarna sama dengan rambut milik orang yang ia jamah.
"ah! jangan! Kakashi.. sensei.. kau.. ayahku..". Sakura melepas ciuman panas mereka berdua dan memalingkan wajah, serta menghentikan gerak tangan Kakashi yang sudah mencapai benda lembut dan menonjol kembar milik Sakura.
"..." Kakashi terdiam.
Sakura masih memalingkan wajahnya dar wajah Kakashi.
Akhirnya dengan perlahan tangan Kakashi keluar dari baju dalam Sakura dan tubuhnya pun ikut menjauh.
Sakura masih tertunduk menyesali perbuatannya pada orang yang kini telah menjadi ayahnya.
Sakura melihat ke arah Sakura dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti.
Kakashi beranjak dari tempat tidur Sakura dan menuju arah pintu.
"maaf.".
Setelah mengatakan itu, Kakashi keluar dari kamar Sakura.
'blam' terdengar debaman pintu yang membuat Sakura menyesal. Entah kenapa.
Sakura lalu memendamkan kepalanya di bantal empuknya.
Pipinya menerawang merah dan ada sedikit rasa bersalah di hatinya.
Sakura POV
Aku merasa bersalah telah melakukan penolakan tadi. Pasti Kakashi sensei marah padaku.
Tapi kalau yang tadi itu diteruskan, apa yang akan terjadi? aku tidak ingin membuat mama Tsunade kecewa.
Aku memang anak yang tak tau diri. Sudah diadopsi malah membuat ayahku kini berselingkuh dengan anak adopsinya.
Aku hina! aku sudah mengecewakan mama Tsunade.
Aku menyesal telah berbuat seperti tadi.
End of Sakura POV
Butiran bening dari mata Sakura kini mengalir membasahi bantal dan membuat ceplakan bulat disisi terjatuhnya.
Air matanya tak kunjung berhenti dan tangannya mengepal membuat seprei yang ia pegang mengerut.
Ia juga tidak tau apa yang seharusnya ia tangisi.
Dia menangis karna merasa bersalah oleh Tsunade. Atau, menangis karna takut dibenci oleh Kakashi?.
.
.
.
.
Di luar ruangan sesaat Kakashi baru keluar dari kamar Sakura.
"bodoh! apa yang kulakukan tadi?". Kakashi terduduk di dinding lorong dengan menjambak rambut peraknya sendiri.
Kepalanya tertunduk. Keringat yang sedari mengalir di dada kekar milik Kakashi ia biarkan begitu saja.
Tiba-tiba tangannya mengepal dan cepat ia membanting tangannya menghantam dinding.
"sial! apa yang tadi kulakukan!". Kakashi masih dalam posisi terduduk dengan kepala menunduk di lorong itu.
"Kakashi?".
Serentak Kakashi langsung menengok kaget dengan suara yang ia kenal.
"Tsu-Tsunade? kau sudah pulang?". Wajah Kakashi kini sedikit kalut.
Kakashi bangkit berdiri lalu menghampir Tsunade.
"apa yang kau lakukan di depan kamar Sakura?". Tanya Tsunade dengan tatapan dingin yang mengarah langsung pada mata Kakashi.
"aku.. hanya sedang berkeliling saja. Tadi ada perampok yang masuk ke rumah ini." kata Kakashi mencoba berbohong dengan tatapan serius. Hingga Tsunade pun tak menyangkal bahwa dia berbohong.
"perampok?". Tsunade mengernyitkan dahinya.
"ya. dia hendak membunuh Sakura." Kakashi menatap tajam wajah Tsunade.
"membunuh? diamana perampok itu?". Oktav suara Tsunade naik dan wajahnya menjadi geram.
"sudah dibawa polisi kok. Sebaiknya kita kembali ke kamar saja.". Kakashi langsung melangkahkan kakinya menuju kamar meninggalkan Tsunade yang masih berdiri di depan kamar Sakura.
"jadi, dia gagal ya. Dsar pembunuh amatir."
.
.
.
.
.
Sakura terbengong melihat pemandangan luar sekolahnya dari jendela disamping ia duduk.
Tatapannya tak menentu menuju ke mana.
Tapi pikirannya hanya terpusat pada kejadian malam tadi.
Berkali-kali ia menghela nafas panjang.
"Sakuraa~"
Tepukan Ino yang mendarat di punggung Sakura tepat membuat Sakura melonjak kaget.
"I-INO! kau ini, mengagetkanku saja!". Sakura berbalik teriak-teriak marah pada Ino.
"ahaha, maaf~". Kata Ino sambil membentuk jarinya "V".
"kau melihat apa sih?". Ino langsung ikut-ikutan melongok dari jendela.
"aku tidak sedang melihat apa-apa kok." Tatapan Sakura beralih lagi ke pemandangan luar sekolah. Rambut seindah kelopak bunga sakura nya melantun indah naik turun seirama dengan angin sejuk yang terus mengayunkan rambutnya.
"wa-waa.. itu kan.. si rambut ayam dengan pacarnya Naruto senpai!".
tunjuk Ino yang mengarah pada gudang bawah belakang taman yang bisa terlihat dari lantai tiga tempat Sakura dan Ino sedang melihat dari arah jendela.
"a-ah! apa yang sedanh mereka lakukan?". Wajah Sakura menjadi merah dan tengannya menutup wajahnya.
"sstt.. Ini pasti seru Sakura. kau jangan tutup mata dong.." Ino memerhatikan dengan teleskop ditangannya. (hee? dari mana tuh?)
Perlahan tangan Sakura turun dan matanya mengarah pada sesosok dua manusia yang sedang..
.
.
.
Pemandangan yang sedang silihat Sakura dan Ino seperti ini..
"Sasuke..kun.. jang..ngh.."
Sasuke yang tadi di panggil rambut ayam(?) (digampar sasuke) oleh Ino, sedang mencium liar seorang gadis bermabut indigo panjang yang merupakan kekasih dari Naruto senpai Sakura dan Ino.
Hinata sudah mendorong-dorong tubuh Sasuke menjauh, tapi sayangnya. Sasuke lebih kuat dan tagannya sudah merogoh masuk ke dalam pakaian olahraga Hinata.
Lidah Sasuke sudah menjelajahi mulut Hinata dan kini lidahnya mengajak lidah Hinata berdansa.
Hinata hanya bisa mengerang. Dengan sigap Sasuke meremas dada kanan Hinata sehingga Hinata mengeluarkan suara mendesah.
"ah.. Sasuke.. ku..n.."
Sasuke terus melanjutkan aksinya menuju ke leher putih, halus, lembut, dan jenjang milik Hinata.
Dia menjilatinya dan sesekali menggigit lembut bagian itu hingga meninggalkan hasil merah mengecap di kulit leher mulus nan putih milik Hinata.
Hinata mendesah kecil.
Tangan Sasuke kini berpindah ke bagian bawah Hinata yang ditutupi buruma dan celana dalam manis milik Hinata.
Tangan Sasuke merogoh masuk ke dalamnya, dan menyentuh bagian paling tersensitiv Hinata yang mulai basah.
Hinata tambah mengerang dan mendesah nikmat.
Sasuke menyeringai.
"kau sudah mulai basah ya Hinata.". Hinata tidak dapat menjawab, karna wajah memerah hinata telah menjawabnya.
Kini Sasuke melucuti pakaian bawah Hinata beserta celana dalamnya.
Jari telunjuknya masuk ke dalam lubang Hinata dan membuat Hinata tambah mendesah.
"aaah.. Sasuke.. kun... ahn.. aahh..."
Suara desahan Hinata menambah kebuasan Sasuke yang segera memasukan sekaligus tiga jarinya ke dalam liang Hinata dan memundur majukan ketiga jarinya itu.
"hyaa... aaaahh... nghh.. hah..ah.." Hinata menjerit nikmat ketika dirasaknnya jari Sasuke mempercepat gerakan maju mundur jarinya.
Hinata sudah mencapai klimaks pertamanya.
Tangan Sasike kini dibanjiri oleh cairan manis Hinata.
Sasuke mencicipi cairan itu dan dengan cepat ia bersihkan cairan di jari-jarinya itu dengan emutan lidahnya.
Hinata terduduk lemas.
Sasuke tak cukup puas kalau hanya itu.
Sasuke membuka kedua paha Hinata lebar-lebar dan memasukan lidahnya ke dalam liang sempit Hinata.
"aaahh... Sa..su... hyaa..aaaaaahhh.." Hinata menjerit nikmat ketika lidah Sasuke memasuki dan menggeliat di bawah tempat sensitivnya.
Cairan Hinata dibersihkan dan dicicipi sempurna oleh Sasuke membuat Sasuke ingin mencoba lebih. Dia memundur majukan lidahnya di liang Hinata. Menghisap biji vagina Hinata yang membuat Hinata melenguh nikmat sampai terjadi klimaks kedua.
"Hinata, kau sudah siap?". Tanya Sasuke yang mulai membuka celananya dan memperlihatka punyanya yang sudah menegak sedari tadi.
Hinata mengangguk.
Sasuke mulai memasukkan benda besar dan tegaknya di awang vagina Hinata.
"ngh..". Hinata merasa sakit ketika benda besar itu menyentuh masuk lubang vagina nya.
Kini benda itu sudah tertanam sempurna di liang Hinata.
Dengan sigap Sasuke lalu memaju mundurkan bendanya yang berada di dalam vagina Hinata dengan tempo perlahan dan kemudian bertambah cepat.
Hinata hanya bisa mendesah pasrah menikmati kenikmatan yang ia rasakan.
"aaah.. ngh.. aaah.. shh.. aah.." berapakali hingga ia mendesah dan sampai saat keduanya mengalami klimaks.
"Hina..ta.. aku sudah.." "a..aku.. juga.. aahh.."
Akhirya keduanya merasakan kenikmatan yang mencapai sampai ke ubun-ubun meninggalkan cairan hangat d tubuh Hinata.
Mereka berdua terduduk lemas setelah itu.
.
.
.
Sedangkan yang melihat dari tadi..
"Sa-sakura.. aku.. jadi..".
Sakura sedari tadi menatap kejadian itu dengan wajah memerah.
"tak kusangka.. si rambut ayam itu.." Ino masih melihat ke arah sosok dua sejoli yang habis melakukan adegan itu.
Sakura menengok ke arah Ino dan..
"I-INO?".
Tangan Ino sudah masuk ke dalam roknya sendiri dan tangannya mengaduk-aduk vaginanya yang sedari tadi basah melihat adega itu.
"Sa-sakura, aku ke kamar mandi dulu ya.." Ino langsung berlalu dan meninggalkan Sakura yang masih terkejut.
"Ino.. dia terangsang ya?". Tanya Sakura dengan wajah merah entah pada siapa.
Untungnya pada waktu mereka brdua melihat adegan itu, kelas sepi dan hanya ada mereka berdua.
Sakura melangkahka kakinya yang hendak keluar dari kelas.
Tapi saat ia keluar menuju pintu.
'BRUK' Seseorang menabraknya hingga ia jatuh.
"aduh.. kalau jalan lihat-lihat dong..". Sakura mendongakkan kepalanya ke atas.
"maaf, Sakura.".
Sakura bertambah merah padam ketika melihat siapa yang menabraknya.
"Kakashi sensei?".
Kakashi dengan tatapan datar mengulurkan tangannya membantu Sakura berdiri.
"ti-tidak usah, aku bisa sendiri!". Sakura langsung berdiri dan hendak berlari.
Tapi tangan Kakashi menarik lengan Sakura hingga kini ia ada didekapannya.
"Kakashi.. sensei? lepaskan aku!". wajah Sakura memerah sejadi-jadinya.
"maafkan aku, tadi malam aku.." Kakashi lagsung melepaskn dekapannya dan keluar dari kelas itu.
Sakura hanya terdiam melihat punggung Kakashi yang lama kelamaan menghilang dari penglihatannya.
.
.
.
.
Sehabis pulang dari sekolahnya. Sakura langsung membanting tasnya sembarangan tempat.
Tubuhnya langsung rubuh di kasur empuknya.
"kenapa sih aku ini?". Tanya Sakura entah pada siapa.
Tiba-tiba Sakura teringat tentang peristiwa tadi.
Saat Kakashi mendekapnya hangat, dan saat mereka berciuman tadi malam.
Peristiwa yang ia lihat tadi pun melayang di otaknya.
"a-apa sih yang aku pikirkan.."
Walau Sakura menyangkal peristiwa tadi, namun hal itu kini malah menghantuinya.
Sakura POV
Kalau tadi malam aku tak menghentikkannya, apa aku akan melakukan yang seperti Sasuke dan Hinata lakukan tadi ya?.
Aku masih bisa merasakan bau tubuh Kakashi yang menempel di kasur ini.
Keringatnya yang menetes di kasur ini ketika tadi malam ia bertelanjang dada.
Aku masih bisa merasakan ciumannya yang liar pada mulutku.
Aku.. tidak tau apa yang aku pikirkan. Tapi setiap kali melihat wajah Kakashi, aku jadi..
End Of Sakura POV
Sakura membayangkan apa mungkin Kakashi dapat menyentuhnya seperti kejadian yang ia lihat tadi disekolah.
Perlahan tangan Sakura masuk ke dalam celana dalamnya sendiri.
Sambil memikirkan Kakashi, ia merogoh masuk jarinya ke dalam lubangnya sendiri.
"ah.. Kakashi.."
Sakura mendesah membiarkan jari-jarinya memasuki lubangnya dan memundur majukannya.
Sambil mengingat-ingat rengkuhan, serta ciuman yang ia lakukan dengan Kakashi. Hingga tangannya bergerak sendiri mengikuti nafsunya.
"ah.. aahh.. Kakashi.. sensei.."
Jari-jarinya terus mempercepat gerakannya membuat ia klimaks dan mendesah panjang.
Nafas Sakura menderu.
Jari-jarinya dipenuhi oleh cairannya sendiri.
Tiba-tiba air mata menetes di pipinya.
Tangannya melipat di balik wajahnya.
"hiks.. aku.. perempuan hina.. aku ingin.. merasakannya.. dengan Kakashi.. aku.. mencintaimu.. Kakashi.."
Akhirnya Sakura sadar betapa ia mencintai Kakashi.
Apa yang harus ia lakukan dengan status 'ayah dan anak'..
-To Be Continued-
hyaahahahaha... apa ini? fic ku lebay sekalii.. XD
apa lemonnya terasa?
kalau belum.. mohon dimaafkan.. m_,_m
oh iya, terimakasih untuk
Merai Alixya Kudo dan Akiko Cassiopeia sarannya~
Merai Alixya Kudo boleh kok, panggil saja sesukamu... :D boleh kupanggil Alixya-chan? *dibantai*
terimakasih juga atas semua yang telah meriview~ TT_TT *nangis bahagia,* *lebay on*
okeey, kita bertemu di next chapter~
keep ripyu~ XD
