Chance

By : Mikazuki_Hikari

Disclaimer : Cerita asli dan Anime-nya sama sekali bukan punya saya.

This Fic belongs to Mikazuki_Hikari

Rate : M

Genre : Romance

Pairing : Makoto x Haruka Nanase | Rin x Nitori

Warning : Yaoi, Shonen-Ai, Typo(s), EYD tidak sesuai aturan, Male x Male, Alternate Universe (AU), Out of Character (OOC) Lemon

Don't Like Don't Read

I have warned you

.

.

.

-=Author Section=-

Bapak bapaak Ibu ibuu semuaanyaaa *shot

Sesuai permintaan Aden aden, Agan agan, Nona Nona semuanya maka berevolusilah fic ini menjadi rating M

*dibekap Rin* *dibuang*

.

.

.

"Senpai aku... setidaknya izinkan aku menjadi milik senpai sepenuhnya malam ini, dan biarkan senpai menyentuhku lebih banyak lagi, sehingga tubuh dan hati senpai dapat mengarah kepadaku sepenuhnya."

"Kusoooo!"

Rin mulai membuka resleting jaket Nitori dan membekap mulut anak itu untuk meredam suara desahan dan teriakannya agar tidak terdengar oleh yang lain.

Nitori merasa tidak ada yang salah dengan tindakan senpainya, Nitori merasa, apa yang membuat senpainya itu senang membuat dirinya senang, meski itu berarti kehilangan keperjakaannya pada senpainya itu, dia akan memenuhi keinginan senpainya walaupun hal yang paling buruk sekalipun.

Rin merebahkan tubuh Nitori ke tempat tidur dan membuka sweater dan bajunya dalam sekali tindakan.

Pria berambut putih itu bergidik saat angin malam menerpa kulitnya. Seketika itu juga ia merasakan pedih yang amat sangat pada lehernya. Rin menghisap perpotongan leher dan bahunya kuat kuat yang membuat Nitori menggelinjang dan mendesah kuat

Nitori mengeluarkan decitan kecil dari mulutnya namun dengan cepat Rin memasukkan 2 jarinya kedalam mulut Nitori untuk membuat anak itu diam.

Nitori mengemut jemari yang dimasukkan kedalam mulutnya dengan lihai membuat si pemilik mengerang hebat, Nitori mengemut jemari itu bagaikan sedang mengemut sebuah permen lollipop.

Pria berambut merah itu sekarang telah menurunkan celananya hingga sebatas lutut, nampaklah kejantanannya yang sudah mengeras menyembul keatas untuk memberi salam.

"Lepaskan milikmu!" perintah Rin dengan segera.

Seperti yang Rin perintahkan seperti itu pula yang Nitori kerjakan, Nitori menjilati cuping telinga Rin dan membuat erangan dahsyat kembali keluar dari mulut pria yang lebih tinggi daripadanya itu.

"S-senpai aaanhhh..." dengan sekali hentakan, tanpa lubrikasi apapun, Rin menghentakkan kejantanannya ke dalam lubang Nitori.

"Diam kau, kau yang minta! Pertanggung jawabkan ucapanmu!" ucap Rin geram.

"Tapi senpai.. aaaaah..."

"Diaam! Yang harus kau lakukan sekarang hanyalah menuruti segala tindakanku." Rin mempercepat tempo permainannya.

"Senpaaai..." desah Nitori saat Rin meremas kejantanannya kuat kuat.

Sebagai teman satu kamar Rin sudah lama Nitori mendambakan hal seperti ini, namun tidak seperti ini yang ia inginkan, Rin hanya ingin melepaskan emosinya, hatinya tidak tertuju padanya, walau demikian anak itu menyukai apa yang Rin perbuat terhadap dirinya.

Friksi yang ditimbulkan oleh kejantanan Rin dan dinding rektum Nitori membuat tubuh keduanya mengejang sempurna dan membuat Rin mencapai klimaksnya.

Nitori mengaitkan kedua kakinya kepunggung Rin, dan dengan kedua kakinya itu ia membantu Rin menghujamkan kejantanannya lebih dalam hingga berkali kali mengenai titik sensitif didalam dirinya itu..

"B-baka! Aku mau aaaarghh!" bersamaan dengan lolongan kuat dari Rin sebuah tembakan cairan kenikmatan menembak dahsyat kedalam rektum Nitori.

"S-senpaii atsuiii aaannhh..." dengan ekspresi wajah yang sudah tak berdaya Nitori menciumi bibir senpainya itu, dan dengan senang hati disambutnya ciuman itu hingga menjadi sebuah ciuman yang panas sampai akhirnya Rin terkulai lemas dipelukan Nitori.

"Oyasumi senpai." Nitori mengecup kening senpainya itu.


-=SMU Iwatobi=-

'Siapa anak berambut abu abu kemarin itu yah' batin Haruka yang kemudian menghela nafas panjang.

"Namanya Nitori." Ucap Makoto yang seakan bisa membaca pikiran Haruka.

"Makoto!" Haruka terkejut dengan kedatangan Makoto yang mendadak seperti itu.

"Sudah kubilang lupakan Rin dan berpalinglah kepadaku." Makoto memeluk Haruka dari belakang.

"Demo..." wajah Haruka mengeluarkan semburat kemerahan.

"Apa hmm?" Makoto menaikkan sebelah alisnya.

"T-tidak bisa secepat itu.." Haruka memegang tangan Makoto.

"Hmm? Apa artinya kau memberikanku kesempatan?" Makoto menggenggam tangan Haruka erat.

"T-tidak j-juga.." wajah Haruka menjadi merah padam.

"Suki da.." Makoto membisikan dengan lembut ketelinga Haruka.

"Makoto.. hentikan.. apa yang kau laku.. aaanhh..." Haruka mendesah saat Makoto mengusap lembut tengkuknya.

Makoto sekali lagi mencium anak itu, namun kali ini dengan ciuman yang berbeda lebih emosional, dan kali ini Haruka tidak melawan seperti sebelumnya.

'Jadi kau sudah membuka pintu hatimu untukku? Aku senang sekali Haru..' batin Makoto.

"Nnnhhh... mnnhh..." desah Haruka saat Makoto mulai mengabsen tiap gigi yang ada di mulutnya.

"Haru-chan, Mako-chan... aah! M-maaf mengganggu..." wajah Nagisa merah padam saat melihat apa yang dilakukan kedua sahabatnya.

"Nagisa! Ah tak apa." Makoto tersenyum sementara Haruka tidak bisa memperlihatkan wajahnya didepan Nagisa karena malu.

"Anuu.. aku tadi mau bilang kalau sekarang kita kan mau mengajari Rei-chan berenang... ingat tidak?" Nagisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

"Ah! Gomen gomen... ayo Haru." Makoto menarik tangan Haruka.


-=Keesokan Harinya=-

"Kenapa Ama-chan sensei tidak ikut memilih pakaian renang?" tanya Makoto.

"Sudah kuusahakan tapi ia selalu punya alasan untuk tidak ikut." Nagisa menghela nafas panjang.

"Soukaa..." Makoto menundukkan kepalanya.

"Haru, kau lihat lihat saja dulu aku mau membantu Rei memilih yang cocok untuknya." Ucap Makoto yang kemudian pergi menuju Nagisa dan Rei.

Sesaat Haruka keluar dari ruang ganti ia menjumpai Rin yang keluar dari ruang ganti yang ada disebelahnya.

"Haruka!" mata Rin terbelalak.

"Rin..." Haruka juga terkejut melihat Rin yang tiba tiba muncul disebelahnya.

"Sini! Ikut aku..." Rin menarik tangan Haruka.


"Rin.." ucap Haruka pelan.

"Kenapa kau masih menatapku dengan tatapan seperti itu hah?" tanya Rin.

"Aku... tapi Rin.." Haruka menundukan wajahnya."

"Tapi apa?! Jawab!" bentak Rin.

"Aku... aku..."

"Kisamaaa!" Rin mendekatkan wajahnya ke wajah Haruka.

"Senpaii!"

"Haruu!"

Sedikit lagi sampai kedua bibir itu berpagutan Nitori dan Makoto muncul dari belakang mereka.

"Haru apa yang kau..." ucap Makoto.

"Makoto.. ini.. aku bisa jelaskan.." jawab Haruka.

"Senpai... jadi selama ini dia yang membuatmu tidak bisa melihat kearahku?" Nitori menatap kearah Haruka.

"Omaee!" Rin berjalan kearah Nitori.

"Riin!" Haruka mencobah mencegah Rin.

"Hentikan!" Rin menepis tangan Haruka yang hendak menyentuhnya.

"Sudah kubilang! Aku tidak pernah lagi melihat kearahmu, dan apa yang kau perbuat hanya membuatku geli!"

"Tapi, aku... aku menyukaimu Rin... bahkan sejak dulu.." dari mara Haruka menetes sebulir air mata.

"Che... kau bilang kau suka padaku? Menggelikan.." Rin menatap sinis ke arah Haruka.

"Rin! Hentikan! Kalau kau memang tidak bisa membahagiakan Haruka, biarkan aku yang menggantikanmu untuk membahagiakannya!" tukas Makoto.

"Membahagiakannya katamu? Apa yang kau bisa untuk membahagiakannya hah? Kau hanya akan dibuat menyesal olehnya." Rin tertawa.

"Omaaee!" Makoto mengepalkan tangannya dan hendak melayangkan tinjunya kearah Rin.

Sesaat sebelum Makoto melayangkan tinjunya Haruka memeluk pinggang Makoto, mengisyaratkan untuk tidak melakukan tindakannya.

"Haru..."

"Hentikan.. jangan sakiti dia." Ucap Haruka pelan.

"Hahahahahahahaha! mengharukan sekali" Rin tertawa lantang.

"Ayo pergi Nitori.." Rin menarik tangan Nitori dan melangkah pergi.

"Haru sudah kubilang, lupakan dia itu hanya akan membuatmu sakit.." Makoto mendekap tubuh Haruka erat.

"Makoto.."

"Tak bisakah kau memberikan aku kesempatan? Aku janji aku akan membahagiakanmu Haru..." ucap Makoto

-=To be Continued=-