PLEASE LOVE ME
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Pairing : Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata
Rated : T
Author : okta0809
Don't Like Don't Read
Diruangan yang biasa bungsu Uchiha gunakan untuk bekerja kini berantakan tak beraturan semua isi benda di meja kerjanya kini sudah tergelatak di sana-sini terlebih lagi dengan bingkai foto seorang perempuan yang dulunya tertata rapi kini pecah begitu saja. Sedangkan sang pemilik ruangan Uchiha Sasuke terduduk dengan penuh emosi.
"Damn." Teriak Sasuke frustasi.
Keesokan harinya ibu Sasuke heran melihat anaknya tak terlihat pagi ini tidak biasanya Sasuke terlambat dimeja makan, Mikoto langsung menuju ke kamar Sasuke.
"Sasuke-kun Sasuke-kun kau belum bangun ?" Panggil Mikoto sembari mengetuk pintu kamar Sasuke. Tidak ada jawaban Mikotopun membuka pintu dan masuk, saat masuk di kamar Sasuke Mikoto terkejut bukan kepalang melihat kamar anaknya yang seperti kapal pecah, Sasuke yang terbaring di tempat tidurnya masih memejamkan mata dan bekas air mata dipipinya membuat Mikoto bertanya-tanya ada apa tak biasanya Sasukenya seperti ini apalagi menangis.
"Kami-sama Sasuke-kun apa yang terjadi." Teriak Mikoto terkejut berlari menuju ke Sasuke. Sasuke yang merasakan ada yang memengang tubuhnya terbangun perlahan.
"Apa yang terjadi Sasuke-kun? Kenapa kamarmu seperti ini ?" Tanya Mikoto lagi dengan khawatir.
"Okaa-san." Ucap Sasuke samar-samar dan tampak lemah, bukan seperti Sasuke yang biasanya. Mikoto tau anaknya sedang ada masalah serius dia mengerti dan tidak menanyakan lebih lanjut memilih menenangkan putranya dulu.
"Tak apa Okaa-san ada disini, tenanglah." Kata Mikoto lalu memeluk tubuh kekar putranya yang terlihat rapuh, ia merasa seperti memeluk Sasuke kecil yang merajuk pada ibunya.
Setelah para maid membersihkan kamar Sasuke Mikoto kembali lagi kekamar putranya dengan membawa nampan berisi makan dan minum mengingat Sasuke tak sarapan pagi ini, saat sampai di kamar terlihat Sasuke masih terbaring menutup matanya, Mikoto tersenyum melihat wajah damai putranya saat tertidur.
"Sasuke-kun bangun dulu kau belum makan." Ucap Mikoto membangunkan Sasuke.
"Aku tak lapar." Balas Sasuke singkat masih memejamkan matanya.
"Bagaimana bisa kau tak lapar, kau belum makan sejak tadi malam."
"Aku tak lapar." Ulang Sasuke.
"Kau ini, baiklah Okaa-san menyimpannya disini." Lalu menyimpan nampan di meja samping tempat tidur Sasuke. Mikoto merapikan selimut Sasuke, mulutnya terasa gatal ingin menanyakan sesuatu ia sangat penasaran.
"Sasuke-kun apa yang terjadi ?" Tanya Mikoto dengan nada pelan.
"Hn ?" Tanya Sasuke.
"Kenapa kau seperti ini? Kamarmu berantakan, dan kau menangis." Ucap Mikoto berusaha santai takut-takut putranya mulai lagi.
"Tidak apa-apa dan aku tak menangis."
"Gengsi sekali. Sebenarnya ada apa Sasuke-kun? Apa karena dia ?" Tanya Mikoto lalu mengeluarkan sebuah foto perempuan dari sakunya. Untuk melihat itu Sasuke membuka sedikit matanya dan langsung terduduk melihat foto siapa yang dipegang ibunya.
"Dari mana Okaa-san dapat itu ?" Tanya Sasuke terkejut.
"Ternyata benar karena dia, apa dia kekasihmu? Hm dia cantik tapi Okaa-san tak pernah melihatnya bersamamu." Gumam Mikoto sambil memandang foto itu.
"Dari mana Okaa-san dapat itu?" Ulang Sasuke mulai geram.
"Okaa-san mendapatkannya kemarin dengan bingkai yang pecah bersama dengan barang-barang yang kau rusak, Okaa-san penasaran jadi Okaa-san mengambilnya. Dia kekasihmu ?" Ucap Mikoto santai.
"Bukan lagi." Jawab Sasuke pelan lalu menyandarkan tubuhnya. Sasuke hanya akan terlihat rapuh pada orang-orang dia cintai termasuk Mikoto ibunya.
"Bukan lagi ? apa ada masalah ? Okaa-san belum sempat mengenalnya. Dia tampak seperti gadis yang baik." Ucap Mikoto memandang foto itu lagi.
"Tch, dia tak sebaik wajahnya." Mendengar perkataan putranya Mikoto terkejut, memang Mikoto tau Sasuke kerap mengeluarkan perkataan-perkataan kasar jika ia kesal, tetapi ini adalah kekasih bukan tepatnya mantan kekasihnya yang bagaimanapun Mikoto yakin Sasuke masih sangat mencintainya.
"Memangnya ada apa dengannya Sasuke-kun ?" Tanya Mikoto makin penasaran.
"Tidak ada apa-apa Okaa-san." Jawab Sasuke. Mikoto hanya memilih diam memberi waktu untuk Sasuke.
"Tentang itu apa Sasuke-kun benar-benar serius. Okaa-san pikir kau hanya sedang emosi jadi menyetujui pilihan kami." Kata Mikoto mengubah topik pembeciraannya.
"Tentang apa ?" Jawab Sasuke bingung.
"Tentang tadi malam itu kau bilang menerima calon pilihan Okaa-san dan Otou-san." Sejenak Sasuke berpikir sedikit mengingat-ngingat kejadian tadi malam dan tentu saja yang pertama ia ingat adalah kejadian dimana hatinya dibuat hancur oleh kekasih yang dicintainya tangannya mengepal erat dibalik selimut, mengingat juga tentang perkataan terakhirnya sebelum ia menghancurkan kamarnya, dan sedikit membuatnya menyesal.
"Sasuke-kun ? kalau boleh jujur saat kau berkata mempunyai kekasih Okaa-san sedikit kecewa, tapi Okaa-san dan Otou-san tak ingin memaksamu. Tapi tadi malam saat kau bilang menerimanya Okaa-san tau kau hanya emosi Okaa-san merasakannya." Jelas Mikoto Sasuke hanya diam mencermati penjelasan ibunya. Dia sedikit merasa bersalah telah memberi harapan pada orang tuanya dia juga tak mungkin mengganti kata-katanya tentu saja karena darah Uchiha yang mengalir memaksanya untuk tidak mengubah keputusan yang telah iya tetapkan.
"Kalau aku memang menerimanya, bagaimana?" Kata Sasuke dengan tetap datar.
"Sudahlah Sasuke-kun tak usah paksakan dirimu kali ini Okaa-san rasa tidak apa-apa melanggar peraturan darah Uchihamu." Mikoto tersenyum terpaksa .
"Terserah Okaa-san, yang jelas aku sudah bilang terima. Aku ingin istirahat." Lanjut Sasuke lalu berbalik membelakangi ibunya memejamkan matanya. Mikoto lama-kelamaan tersenyum lebar mendengar penuturan putranya.
"Arigatou Sasuke-kun." Seru Mikoto lalu keluar kegirangan.
-Hyuuga Mension-
"Jadi bagaimana Hiashi apa kau menerima lamaran kami ?" Kata seorang pria yang duduk di depan tuan Rumah.
"Gomennasai Fugaku-san Mikoto-san saya belum bisa menjawabnya sekarang, karena saya belum memberitahu Hinata soal perjodohan ini. Karena saya kira Sasuke tidak setuju, saya akan memberi jawaban jika sudah mendapat kepastian dari Hinata." Jelas Hiashi.
"Baiklah, kami juga tak ingin memaksa Hinata. Hinata juga masih muda jika dia belum ingin menikah kami bersedia menunggu." Ucap Mikoto. Hiashi mengangguk mengiyakan. "Kalau begitu kami permisi dulu." Kata kedua Uchiha lalu pergi diantar oleh Hiashi.
Dimalam hari Hinata sedang bersantai diruang TV bersama adiknya Hanabi, mereka bercanda sambil menonton TV, Hinata memang paling suka menggoda adiknya apalagi jika bersangkutan dengan teman sekolah Hanabi yang bernama Konohamaru yang dicurigai Hinata mereka saling suka, Hanabi akan terus mngelak jika Konohamaru dikaitkan dengannya.
"Hinata keruangan Otou-san sekarang, ada yang ingin Otou-san bicarakan." Ucap Hyuuga Hiashi tiba-tiba muncul dipintu dan memanggil Hinata.
"Hai Otou-san." Balas Hinata lalu pergi menyusul ayahnya dengan tampang bingung. Setelah memasuki ruangan ayahnya dia duduk di kursi depan meja kerja ayahnya.
"Nani Otou-san ?" Tanya Hinata dengan nada sopan dan santun.
"Apa kau sudah punya kekasih ?" Tanya Hiashi to the point membuat Hinata semakin bingung tidak biasanya ayahnya menanyakan hal pribadinya.
"Belum Otou-san, memangnya ada apa ?" tanya Hinata sopan.
"Hinata jika Otou-san ingin kau menikah, bagaimana menurutmu?"
"Nani ? menikah ?" Hinata terkejut bukan kepalang mendengar kata menikah dari Otou-sannya sontak dia mengangkat kepalanya.
"Ya menikah."
"Tapi Otou-san bukankah terlalu cepat jika aku menikah dan aku juga masih ingin melanjutkan pendidikan." Kata Hinata tak terima.
"Otou-san sudah tau kau akan mengatakan ini, Otou-san tidak akan memaksamu. Otou-san hanya sedang mengingat Okaa-sanmu, Dia menikah dengan Otou-san diumur yang sama denganmu. Saat dia tau anak keduanya adalah seorang perempuan dia sangat senang, saat kau masih kecilpun dia sudah berjanji akan menjodohkanmu dengan putra sahabatnya, Okaa-sanmu dan sahabatnya sangat berharap perjodohan ini akan menjadi kenyataan dan mereka bisa mengatur segalanya bersama, tapi Okaa-sanmu pergi terlalu cepat." Cerita Hiashi sambil memandang ke arah jendela besar. Hinata yang mendengar tak tahan lagi ia akan lemah jika menyangkut ibunya dia sangat menyayangi ibunya.
"Siapa orang itu Otou-san?" Tanya Hinata sambil menunduk.
"Hm?" Hiashi tersadar dari lamunannya.
"Si-siapa orang yang akan mejadi calonnya Otou-san ?" Ulang Hinata.
"Sudahlah Otou-san sudah bilang tak akan memaksamu, kau boleh istirahat." Jawab Hiashi pada putrinya.
"Aku ingin tahu Otou-san." Kata Hinata lebih menuntut.
"Hn, keluarga Uchiha tadi pagi datang melamarmu tapi Otou-san belum menjawabnya. Dan yang akan menjadi calonnya putra kedua mereka Uchiha Sasuke, tapi Otou-san akan menghubungi mereka dan menolaknya." Ucap Hiashi tenang, Hinata sangat kaget saat mendengar nama 'Uchiha Sasuke' dia seakan tak percaya jantungnya terpacu kencang dia sama sekali tak percaya.
"Uc-uchiha Sasuke ?"
"Ya kau tentu sudah melihatnya tapi mungkin belum mengenalnya dengan baik, dia anak yang baik. Dan ayah merasa akan tenang jika kau bersamanya." Ucap Hiashi berharap Hinata berubah pikiran.
"Apa ini benar keinginan Okaa-san ? " Hinata sedikit ragu dengan ini apalagi perasaannya dia belum terlalu yakin dengan perasaannya.
"Begitulah."
"Baik Otou-san Hinata menerimanya." Ucap Hinata memberi hormat lalu berlalu. Hiashi tersenyum melihat Hinata pergi dan juga sedikit rasa sedih menghampirinya karena merasa memaksa putrinya 'Hitomi apa kau melihat ini, apakah kita terlalu egois. keinginanmu akan terwujud' gumam Hiashi.
Setelah kembali dikamar Hinata tidak berhenti memegang dadanya ia merasakan jantungnya ingin melompat dan dia mulai berkeringat dia tak tau apa yang sedang terjadi padanya yang lebih parah ini akan terjadi jika menyangkut dengan Uchiha Sasuke.
"Okaa-san ada apa denganku? kenapa aku jadi seperti ini." Ucap Hinata sambil memandang sebuah bingkai foto di samping tempat tidurnya. "Aku tak tau apa aku harus senang atau sedih Okaa-san tapi ini keinginan terakhir Okaa-san aku tak bisa menolaknya bukan?" Hinata berbicara sendiri memandang bingkai foto rasanya sedih permintaan ibunya tidak ia dengar langsung dari ibunya.
Sementara di kamar putra kedua keluarga Uchiha, Sasuke duduk di meja kerjanya yang nampak sudah lebih rapi dari sebelumnya ia duduk menggenggam ponselnya nampak sirat emosi muncul diwajahnya ponsel pintarnya menunjukkan sebuah foto perempuan cantik, sejak tadi Sasuke selalu memandangi foto perempuan yang tak lain mantan kekasihnya mengingat kembali kenangan-kenangan waktu-waktu yang mereka lewati selama 3 tahun lebih ini, ia mengingat senyum manis perempuan itu, sikap manja padanya, sikap kesal jika Sasuke tak menanggapinya. Tetapi jika ia mengingat semuanya bayangan wajah Sasori juga terus terbayang dipikirannya.
Lelaki yang bernama Sasori itu dia ingat sekali saat masa senior high school dulu Sasori yang selalu mengejar-ngejar Yamanaka Ino, saat itu Sasuke tak punya perasaan apa-apa pada Ino begitupun Ino malah yang tertarik pada Sasuke adalah sahabat Ino Yakumo adik kelas yang selalu tertarik pada pangeran sekolah, dan saat dia memberanikan diri menembak Sasuke didepan umum dan malah dibalas dengan makian Sasuke dan semenjak itu semua siswa terus membully Yakumo dan berujung pada Yakumo yang bunuh diri, Ino sangat terpukul atas kematian Sahabatnya dan diapun berjanji akan balas dendam.
Semenjak kematian Yakumo, Ino selalu mendekati Sasuke awalnya Sasuke merasa sangat terganggu tetapi entah mengapa Ino berhasil membuat hatinya luluh dengan sikap Ino yang sangat baik dan polos. Mengetahui itu Sasoripun kesal dan hampir berkelahi dengan Sasuke yang dihentikan Ino. Dan saat lulus sekolah Sasori mengetahui Ino akan pindah keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan diapun juga tak tinggal diam dia juga mengkuti Ino,sedangkan Sasuke yang saat itu sudah mengurusi perusahaan ayahnya tak bisa ikut pada Ino. Alhasi saat diluar negeri Ino menceritakan semua tujuannya pada Sasori, dan saat itu mereka menjalin sebuah hubungan yang di ketahui banyak orang di sana termasuk Sai sepupu Sasuke.
-Uchiha Mension-
Di pagi hari yang cerah tiga orang Uchiha terlihat sedang menikmati sarapan semua tenang menikmati sarapan masing-masing.
"Sasuke bagaimana dengan pernikahanmu ?." Tanya Fugaku tenang pada Sasuke.
"Aku serahkan pada Otou-san dan Okaa-san." Jawab Sasuke datar tak tertarik.
"Bagaimana kalau diadakan bulan depan, Okaa-san sangat tidak sabar." Sambung Mikoto bersemangat.
"Mikoto biar Sasuke yang menentukan." Mikoto langsung terdiam memandang Sasuke.
"Terserah kalian saja, aku sudah terlambat. Aku pergi." Kata Sasuke lalu beranjang dari kursinya.
"Fugaku-kun apa Hiashi-san sudah memberi kabar ?" Tanya Mikoto setelah Sasuke berlalu.
"Hn, Hiashi-san menerimanya."
"Benarkah, Hitomi-chan apa kau mendengarnya. Janji kita akan kutepati. Sayangnya kita tak bisa mengurus ini bersama, tetapi Hitomi-chan aku akan melakukan yang terbaik untukmu." Ucap Mikoto senang. Fugaku hanya diam melihat istrinya yang mulai berbicara sendiri.
-Universitas Konoha-
Seorang laki-laki berkulit pucat terlihat bimbang di sebuah bangku di taman Universitas Konoha, entah apa yang dipikirkannya sedari tadi ia duduk bimbang ditempatnya. 'Apa sekarang waktu yang tepat, tetapi bagaimana jika dia menolak. Oh shit aku sudah tidak tahan lagi, baik aku akan coba' gumam lelaki itu yang tak lain adalah Uchiha Sai. Diapun langsung beranjak dari tempat menuju kesuatu tempat. Setelah sampai disuatu rungan ia menghampiri seorang gadis yang terlihat sedang berbincang dengan temannya.
"Hinata-chan bisa kita berbicara sebentar ?" Hinata langsung berbalik mendengar suara yang dikenalnya.
"Ada apa Sai-kun kita bisa berbicara disini."
"Kenapa kau suka sekali menculik Hinata dari kami Uchiha, dia sedang berbicara dengan kami." Sambung teman Hinata yang bernama Naruto. Sai mengabaikan Naruto lalu menggenggam tangan Hinata berniat menariknya.
"Tidak ini sedikit penting." Kata Sai dan langsung menarik Hinata keluar ruangan dan menuju ke taman yang cukup sepi. Sesampainya di sana Sai langsung melepaskan tangan Hinata dan berdiri tepat didepan Hinata, sedangkan Hinata yang sedari tadi bingung hanya diam memandang laki-laki didepannya yang nampak sangat serius.
"Apa yang ingin Sai-kun bicarakan ?" Tanya Hinata memulai pembicaraan setelah terdiam lama.
"Hinata." Kata Sai singkat, kalimat yang ingin diucapkannya seakan tertahan ditenggorankannya dia terus memikirkan penolakan dari Hinata dia belum siap ditolak.
"Nani ?"
"Hinata sebenarnya aku." Sai memotong perkataannya saking gugupnya.
"Ada apa Sai-kun kau terlihat tidak seperti biasanyanya." Hinata tambah bingung melihat sikap Sai.
"Aku meyu-." "Sai ternyata kau ada disini, aku mecari dari tadi." Teriak seseorang dan sukses membuat konsentrasi dan kalimat Sai berantakan, sontak mereka berdua menoleh ke asal suara tersebut . 'Damn Kiba awas kau' gerutu Sai dalam hati.
"Eh- Hinata-chan kau bersama Sai, hm apa yang kalian lakukan disini." Tanya Kiba curiga.
"Sai-kun ingin membicarakan sesuatu padaku. Apa yang Sai-kun ingin katakan tadi ?" Ucap Hinata polos.
"Tidak-tidak ada apa-apa lain kali saja Hinata-chan aku ingin mengurus sesuatu dulu dengan bocah ini." Balas Sai lalu berpamitan menarik Kiba dengan kesal, Hinata bengong melihat mereka berdua berlalu.
Di malam hari Mikoto menghubungi Sai dan Itachi menyuruhnya ke Mension Uchiha untuk makan malam.
"Apakah Sasuke sudah benar-benar menyetujuinya Okaa-san ?" tanya Itachi yang duduk didekat istrinya setelah sampai di Mension Uchiha membicarakan soal pernikahan Sasuke.
"Ya." Jawab Mikoto mantab.
"Tapi bukannya Sasuke bilang sudah punya kekasih Oba-san ?" Lanjut tanya Sai pura-puta tidak tahu .
"Tadinya begitu Sai-kun tapi sepertinya Sasuke-kun sudah memutuskannya dan menerima tawaran kami." Itachi dan istrinya hanya manggut-manggut.
"Oh iya Okaa-san calon istri Sasuke dari keluarga mana ?" Tanya Konan istri Itachi.
"Keluarga dekat bahkan sangat dekat. Dari keluarga Hyuuga."
Deg-
Seketika jantung Sai berdetak kencang mendengar nama Hyuuga dia mulai berpikiran aneh-aneh. Tiba-tiba bayangan wajah Hinata terlintas dipikirannya. 'jangan bilang' ucap Sai dalam hati khawatir jikalau apa yang dipikirkannya adalah kenyataan.
"Ya dari keluarga Hyuuga tepatnya dengan Hyuuga Hinata."
Prakk- bunyi gelas jatuh dan pecah membuyarkan kesibukan keluarga uchiha yang sedang bercakap jangan ditanya lagi pemilik gelas itu adalah Sai yang kaget setengah mati sehingga tidak sengaja menjatuhkan gelas yang tadinya iya ingin pakai minum.
"Kau tidak apa-apa Sai ?" Tanya Fugaku yang akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Ah- Tidak apa-apa Ojii-san, tanganku tadi sedikit licin. Gomennasai." Jawab Sai masih sedikit linglung sambil berjongkok ingin membersihkan pecahan gelas tersebut.
"Sai-kun tidak usah nanti kau terluka, biar maid saja yang membersihkan." Cegah Mikoto lalu memanggil salah satu maidnya. Setelah keadaan kembali normal mereka kembali berbincang-bincang terkecuali Sai yang diam seribu bahasa pikirannya rumit sekarang sangat rumit hatinya serasa diremas 'tidak mungkin' gumam Sai. Terlintas dipikirannya untuk segera menemui Sasuke yang saat itu tidak ikut makan malam entah untuk apa padahal jika ia menemui Sasuke hatinya akan semakin sakit.
"Oba-san apa Sasuke sudah tidur ?"
"Entahlah, lebih baik Sai-kun lihat sendiri dikamarnya." Jawab Mikoto.
"Baiklah, saya permisi dulu." Lanjut Sai lalu menuju kekamar Sasuke.
Saat didepan pintu kamar Sasuke, Sai terlihat ragu-ragu mengetuk pintu kayu yang ada didepannya dia sepertinya tidak siap untuk tetap terseyum dalam keadaan hati seperti ini, tapi dia harus terlihat tenang. Dia pun mengetuk pintu itu tenang tanpa ada senyum seperti biasanya.
"Ada dengan wajahmu ?" Tanya Sasuke yang sedang bersandar membaca buku setelah mempersilahkan Sai masuk.
"Tidak apa-apa aku hanya sedikit kurang sehat." Sai tetap tenang lalu duduk disofa.
"Hn. Apa kau tahu sibrengsek itu ?" Sasuke terlihat kesal saat mengucapkan kata brengsek.
"Si brengsek ?" Sai heran dengan pertanyaan Sasuke.
"Sasori."
"Oh kekasih Yamanaka Ino." Pancing Sai seketika moodnya sedikit kembali melihat Sasuke yang menatap tajam saat menyebutnya kekasih mantannya. "Tentu saja aku mengenalnya. Bagaimana bisa Uchiha Sasuke dibohongi oleh seorang wanita selama ini." Lanjut Sai mulai memancing Sasuke, Sasuke mengepalkan tangannya kuat saat mendengar itu lalu kembali bersikap normal.
"Hn."
"Respon apa itu ? kau tak berterima kasih padaku yang sudah berbaik hati memberitahumu tentang kebusukan mantan kekasih yang sangat kau cintai itu."
"Diam Sai. Dan aku tak meminta itu darimu." Kesal Sasuke tak rela Ino dicaci seperti itu, walau dia juga mengakuinya. Dasar Sasuke.
"Kau benar-benar. Hm apa benar kau akan segera menikah ?" Tanya Sai mulai murung lagi.
"Hn." Respon Sasuke datar.
"Selamat." Sai mengucapkannya dengan terpaksa hatinya hancur.
"Kau tak cemburu ?" Tanya Sasuke yang terlihat ingin memancing Sai, ia sudah punya feeling semenjak di pertemuan keluarga Hyuuga dan Uchiha bahwa Sai menyukai Hinata walau tidak terlalu yakin.
"Sedikit." Singkat Sai tak menatap Sasuke.
"Cih. Jangan berharap aku akan membatalkannya."
"Kenapa harus dia ?" Sai mulai serius dan menatap Sasuke.
"Sudah kuduga kau benar-benar menyukainya. Entahlah yang kudengar kami sudah dijodohkan sejak kecil." Jelas Sasuke santai.
"Kenapa kau menerimanya ?"
"Aku emosi saat itu." Santai Sasuke lalu menutup bukunya.
"Apa maksudmu ? jadi kau ingin menikah dengannya karena terpaksa ? tolak jika kau tak bisa serius dengannya Uchiha Sasuke." Sai sudah sangat terbakar emosi. Sasuke terlihat santai-santai saja melihat sepupunya mulai marah.
"Sayangnya aku tidak bisa."
"Kenapa ? karena darah Uchiha ? persetan dengan itu. Batalkan jika kau tak bisa membahagiakannya." Lanjut Sai makin marah.
"Semuanya sudah diatur Sai jika kau memang punya nyali bicaralah pada Otou-san. Aku tak yakin dia akan mengatakan ya. Kau tenang saja kau tau perasaan orang bisa berubah." Seketika Sai diam memang benar ia sangat menghormati Oji-sannya dan tidak mungkin ia meminta hal-hal yang mustahil seperti itu. Dan jika ia meminta pasti tidak akan dikabulkan sampai kapanpun. Dan kalimat yang dikatakan Sasuke terakhir membuatnya terpukul. Sai sudah muak ia perlu ketenangan ia pun berjalan keluar menuju pintu "Aku menyesal" Ucap Sai lalu menutup pintu dengan keras. Didalam Sasuke terdiam menatap kepergian Sai terbesit perasaan bersalah pada Sai, tapi mau bagaimana lagi ia sudah terlanjur berkata setuju.
-Universitas Konoha-
Sai berangkat dengan wajah yang tidak seperti biasanya senyumnya hanya sesekali ia tampilkan bila perlu. Ia frustasi dengan berita pernikahan Sasuke dan Hinata. Ia ingin sekali menemui Hinata hari ini. Ia ingin dengar langsung apakah Hinata juga menyetujuinya. Disamping itu kabar jika Yamanaka Ino telah putus dengan Uchiha Sasuke telah diketahui dan Ino sendiri yang mengatakannya. Hubungan mereka memang tak banyak yang tahu hanya orang-orang yang mengenal Sasuke dan Ino yang mengetahuinya. Saat itu kebetulan Hinata sedang lewat bersama Sakura.
"Hinata-chan tunggu." Panggil Sai dengan senyum yang kali ini benar-benar palsu.
"Ada apa Sai-kun ?" Tanya Hinata saat berhenti diikuti Sakura.
"Aku ingin bicara. Bolehkah ?"
"Tidak apa-apa kalian pergi saja aku juga ingin menemui Naruto-kun, dan Uchiha senyummu sangat mengerikan." Sambung Sakura sebelum Hinata berbicara.
"Arigatou Sakura-chan."Ucap Hinata lalu berlalu bersama Sai.
"Ada apa Sai-kun ? apa tentang pembicaraan kita yang terpotong kemarin ?" Setelah mereka duduk ditempat yang tidak terlalu ramai.
"Sedikit. Tapi ada satu hal yang ingin kupastikan terlebih dahulu Hinata-chan. Apa benar akau akan menikah ?" Hinata membelalak mendengar pertanyaan Sai.
"D-da-dari mana S-sai-kun tahu ?" Hinata mulai gugup dan seketika pipinya memerah.
"Jawab saja." Senyum Sai telah hilang kini wajah datar tampak terlihat mengintimidasi.
"A-ano a-aa I-iya." Hinata menghela nafas setelah mengucapkan itu.
"Dengan Uchiha ?" Hati Sai sakit mendengar Hinata.
"Sepertinya begitu Sai-ku, ah- iya Sai-kun seorang Uchiha tentu saja mengetahuinya." Hinata mulai berhenti gugup.
"Kenapa kau menerimanya ? kau menyukai Uchiha Sasuke ?" pipi Hinata merona mendengar nama Uchiha Sasuke jantungnya mulai berdetak lagi tapi dia berusaha tetap tenang. Dia sama sekali tak curiga kenapa Sai menanyakannya dia sangat tidak peka.
"Karena Okaa-sanku, yang kutahu Okaa-sanku sangat ingin kami berdua berjodoh saat dia masih hidup jadi aku menerimanya demi impian Okaa-sanku." 'dan aku tak tau aku munyukainya atau tidak' sambung Hinata dalam hati dia tidak mungkin mengatakannya dia akan sangat malu pada Sai.
"Souka." Sai hanya manggut-manggut menyandarkan dirinya disandaran kursi ada sedikit perasaan lega bahwa Hinata tidak menyukai Sasuke tetapi tetap saja dia sama sekali tidak menginginkan pernikahan itu terjadi.
"Hinata-chan." Panggil Sai sambil menatap langit.
"Ya Sai-kun ?"
"Aku menyukaimu." Sambung Sai entah sadar atau tidak. Hinata kaget tetapi dia berusaha mengambil makna positifnya dan memang dasarnya Hinata polos.
"Aku juga menyukai Sai-kun, Sai-kun teman yang baik dan selalu mengerti aku. Sai-kun sepertinya jam kuliahku akan dimulai aku pergi dulu. Jaa-nee." Pamit Hinata lalu pergi begitu saja. Sai yang mendengar kata 'teman' membeku sejenak hatinya kosong.
"Tapi maksudku bukan itu Hinata, aku menyukaimu sebagai seorang."
"Perempuan." Sai frustasi dia menyesal tidak menahan Hinata dan mengatakan semuanya tetapi ia berpikir lagi jika ia mengatakannya ini akan mengganggu Hinata dan yang lebih parah Hinata akan mejauhinya.
'Apa sudah seterlambat ini.' Gumam Sai memegangi dadanya yang terasa perih.
TBC
Aduh terima kasih sekali atas reviewnya semua...
seneng banget ternyata ada yang baca juga fic ini.
maafkan author jika ceritanya tidak memuasakan minna author juga baru jadi mohon dimaklumi.
Arigatou ^_^
Mind to review ?
