Chapter 4: Kini Giliran Female Shinigami Association Beraksi!
Words count: 669
Summary: Karena pembacanya berkurang, Female Shinigami Association mengadakan polling di antara anggotanya.
Disclaimer: BLEACH bukan milik saya. Danny Phantom juga bukan. Just saying.
"Ini bencana!" seru Matsumoto Ran'giku dengan wajah horror. "Bagaimana mungkin pembaca kita berkurang 50%? Apa yang terjadi? Ini bencana!" serunya sambil memandangi grafik di hadapannya yang garisnya menurun hingga setengah.
"Ran'giku-san! Tenanglah! Akhirnya aku tahu apa yang menyebabkan para pembaca kita kabur! Lihatlah!" Ise Nanao menyodorkan sebuah majalah berjudul "Male Shinigami Association", namun dengan cover bergambar Ichigo, Inoue, Ishida, dan Sado berpose bersama dengan baju khas dunia manusia. "Ini semua gara-gara Asosiasi Shinigami Pria! Mereka sengaja merekrut Ichigo dan kawan-kawannya untuk jadi cover majalah!"
"Kuchiki!" Mendengar namanya disebut, Rukia menciut. Soi Fong menggeram padanya, "Kau tahu tentang ini semua, bukan? Kenapa tidak memberitahu kami?" serunya.
Rukia tergagap, "Anu… Ichigo memintaku untuk tidak memberitahukan hal ini pada siapapun." Katanya, lalu berdeham.
"Sial! Kalau begini, kita harus mengambil beberapa foto ecchi lagi untuk cover majalah depan." Kata Nanao.
"Eh? Ecchi lagi?" Ran'giku mengerucutkan bibirnya. "Aku sudah bosan jadi cover majalah terus. Sekali-sekali, Isane fukutaicho dong. Atau Soi Fong taicho."
Mendengar hal itu, muka Soi Fong memerah, "eeh? Mana mungkin aku jadi cover majalah ecchi?" tolaknya.
Wajah Isane juga menjadi merah, "Aku tidak mau! Aku tidak mau masa depanku nanti jadi seperti Matsumoto fukutaicho!"
Nanao terlihat berpikir ketika tiba-tiba sang Presiden Kusajishi Yachiru meloncat keluar dari balik bahunya, "Aku tahu! Kenapa tidak memotret Icchi dan Ruki-ruki bersama saja?" serunya dengan polos.
Mendengar itu, semua orang di ruangan tersebut menarik napas dan menoleh ke arah Rukia. Mengetahui semua mata memandang ke arahnya, Rukia hampir menyembunyikan dirinya di balik meja. "Itu sebenarnya ide yang bagus, Presiden." Kata Nanao. "Oke! Kalau begitu, kita ambil voting saja. Siapa yang setuju Ichigo dan Rukia jadi cover majalah depan, angkat tangan." Setelah Nanao berkata begitu, semua orang—kecuali Rukia yang berwajah merah—mengangkat tangannya tanpa ragu. "Kalau begitu, silakan tulis di secarik kertas, kalian ingin Ichigo dan Rukia berpose dalam tema apa. Itu termasuk kamu, Kuchiki-san." Mendengar itu, Rukia merasa ingin bersembunyi di balik meja lagi.
Tak lama kemudian, di sisi Nanao sudah terdapat beberapa lembar kertas kecil. "Baiklah," Nanao berdeham. "Saya akan membacakan isinya. Yang mendapatkan voting paling banyak akan menjadi tema cover kita." Isane di belakangnya bertugas menulis berapa banyak hasil votenya di atas papan tulis. "Baiklah, pertama. Romance." Terdengar suara decit spidol di atas papan tulis. "Kemudian, romance. Romance. Horor?" Nanao mengangkat alis. "Tak apalah. Sebentar lagi juga bulan Oktober. Kemudian, kissu?" Nanao kembali mengangkat alis melihat kertas di tangannya, sementara Rukia yang sedari tadi hanya mendengarkan merasa ingin menggali lubang dan loncat ke dalamnya. "Tapi kissu itu bukan tema. Maaf, tapi kissu ini dianggap out of topic dan tidak akan dihitung. Selanjutnya, romance lagi. Kemudian, ecchi?" Rukia sekali lagi merasa ingin keluar dari tempat itu dan tidak menunjukkan batang hidungnya lagi. Nanao membetulkan posisi kacamatanya. "Siapa yang menulis ini?"
Ran'giku dengan percaya dirinya mengangkat tangan. "Ah, sudah kuduga pasti Ran'giku." Kata Nanao dengan pasrah. Ran'giku sendiri hanya cekikikan dan menjulurkan lidahnya. "Yah, baiklah. Karena ecchi itu tema, jadi harus dihitung." Kemudian terdengar suara decit spidol yang dipegang Isane.
Nanao berdeham lagi, "baiklah, selanjutnya, Chappy the Bunny? Ah, ini pasti milik Kuchiki-san. Maaf, ya. Tapi Chappy the Bunny bukan tema, jadi tidak bisa dihitung. Selanjutnya," mendengar itu, Rukia benar-benar merasa ingin keluar dari tempat itu. "Hentai rape?" Mendengar itu, semua orang di tempat itu menjadi kaku dan memerah. Nanao berdeham untuk mencegah dirinya kaku juga, "si-siapa yang menulis tema ini?" tanyanya.
Kurotsuchi Nemu dengan tenang dan tanpa ekspresi mengangkat tangan. "Kurotsuchi fukutaicho. Tolong dijelaskan maksud dari tema yang anda tulis." Kata Nanao, meski dalam hati ia merasa tidak perlu mengetahuinya.
Wajah Nemu masih datar ketika ia membuka mulut untuk menjelaskan, "saya membayangkan Kurosaki-san dan Kuchiki-san dalam tema hentai rape, dengan banyak rantai, dan senjata-senjata lainnya, juga tidak lupa dengan mainan-mainan. Kurosaki-san akan menjadi yang dominan dalam tema tersebut dan dia akan mengikat Kuchiki-san—"
"Sudah cukup, Kurotsuchi fukutaicho!" seru Nanao yang wajahnya memerah membayangkan apa yang dikatakan Nemu, sambil menutup kedua kuping Presiden Yachiru yang hanya tersenyum polos dengan tanda tanya di atas kepalanya.
"Oh, Kuchiki-san?" Unohana kaget mendapati Rukia yang tergeletak di lantai kayu dengan hidung yang berdarah.
.
.
.
.
Author's note:
*massive nosebleed* Sebentar, readers. *ambil tissue, nyumbat idung pake tisu*
Okeh! Begini lebih baik. Nemu, kamu benar-benar hentai... Karena adanya hint hentai di fic ini, saya mengubah ratingnya jadi T, to be safe. Uhh, kalo ichigo dan rukia di cover majalah dgn pose hentai rape, kurasa Ichigo bakalan tamat riwayatnya di tangan Kuchiki Byakuya...
