Room 07
Author :
Hidariwa
Casts :
Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kai ( akan bertambah sesuai alur )
Genre :
Yaoi/Boys Love, Comedy, Fluff/Romance, Yadong (?), Mistery ( yang ini gak yakin )
Rated :
M
Length :
Chaptered
Pairing :
Hunhan, Chanbaek
.
.
Disclaimer :
Semua cast yang ada di FF ini milik Tuhan Y.M.E. dan orangtua mereka masing-masing. Tapi Oh Sehun milik Luhan dan Luhan milik Oh Sehun dan mereka berdua milik saya.
Semua yang ada pada FF ini berasal dari otak saya. Jadi, jika ada kesamaan itu hanya kebetulan belaka.
WARNING!
TYPO(s), YAOI, WEIRD!
ENJOY!
.
.
.
Chapter 4 : Move to Room 07
.
.
.
Sejak pulang dari rumah Baekhyun kemarin, Luhan langsung mengepak barang-barangnya di apartemen lamanya. Luhan bahkan belum memberi tau apapun pada Baekhyun tentang kepindahannya yang secara tiba-tiba ini. Luhan ingin memberi kejutan pada Baekhyun. Sulit bagi Luhan untuk meminta izin pada Jung Ahjumma untuk pindah apartemen. Jelas saja Jung Ahjumma sangat berat untuk membiarkan Luhan pindah, Luhan sudah banyak membantu Jung Ahjumma selama ini. Walaupun Luhan bukan siapa-siapa tapi Jung Ahjumma sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
Dan disinilah Luhan sekarang, terbaring di atas sofa ketika ia baru saja selesai mengepak barang-barangnya. Ya walaupun tidak banyak barang yang ia bawa pindah tapi tetap saja melelahkan. Luhan melihat langit-langit ruang tamu apartemennya, sedikit merenung, mengingat-ingat semua kejadian yang pernah terjadi di apartemennya ini selama ia tinggal 2 tahun disini.
Dimulai dari ketika ia pertama kali menginjakkan kakinya di apartemen ini, berkenalan dengan Jung Ahjumma dan keluarganya, mendapatkan teman baru, belajar bahasa Korea, menonton dan bergosip dengan Jung Ahjumma, dan sampai ketika ia mengalami kecelakaan satu tahun lalu. Ya, Luhan pernah mengalami kecelakaan tahun lalu. Ia ingat bagaimana Jung Ahjumma menangisinya dan merawatnya setiap hari, walaupun hanya luka ringan tapi Luhan merasa sangat terharu dengan perlakuan Jung Ahjumma padanya. Ia sudah menganggap Jung Ahjumma seperti bibinya sendiri ahh atau lebih tepatnya seperti ibunya sendiri. Luhan benar-benar akan selalu mengingat semua memori itu.
Luhan melihat jam pada ponselnya. Jam menunjukkan pukul 9.28 malam. Luhan segera beranjak dari sofa dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Setelah mandi dan bersiap-siap, Luhan menyambar tas punggungnya dan memakainya, ia juga membawa dua koper lagi. Setelah mengunci pintu apartemennya, ia memberikan kunci itu pada Jung Ahjumma sekalian berpamitan. Jung Ahjumma adalah pemilik apartemen yang Luhan tinggali selama ini.
Setelah acara mari-berpelukan-bersama dengan Jung Ahjumma, Luhan melangkahkan kakinya keluar apartemen dan menaiki taksi. Dan taksi pun melesat dengan kecepatan sedang menuju lokasi yang sudah Luhan beri tau.
Dan disinilah Luhan sekarang, berdiri di depan pintu masuk Yanggu Apartment dengan dua koper yang ia bawa di masing-masing tangannya dan tas punggung yang melekat di punggungnya. Ia mengamati tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai hari ini hingga hari-hari berikutnya. Tempat yang nyaman dan bersih. Apartemen ini tergolong cukup besar untuk tujuh ruangan yang ada di setiap lantainya. Cocok untuk ditinggali bersama keluarga besar, tidak seperti apartemennya dulu yang hanya dikhususkan untuk mahasiswa. Yanggu Apartment terdiri dari lima lantai dengan tujuh ruangan di setiap lantainya.
Luhan memakai topi jaketnya, bertujuan agar jika ia bertemu Baekhyun ia dapat menutupi wajahnya dengan topi jaket ini. Setelah ia rasa rambutnya telah tertutup dengan sempurna, barulah ia langkahkan kakinya menuju pintu kaca otomatis apartemen itu. Ketika ia memasuki lobby apartemen, Luhan tak menemukan seorang wanita muda yang biasanya selalu duduk di balik meja resepsionis apartemen itu. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri tapi hasilnya tetap nihil. Akhirnya Luhan memutuskan untuk menunggu Sang Resepsionis saja. Luhan duduk di bangku yang tersedia di lobby apartemen itu.
Luhan mengeluarkan ponselnya dan memainkannya. Ia bosan menunggu Sang Resepsionis yang tak kunjung muncul.
Tap.. tap.. tap…
Suara langkah kaki terdengar di lobby itu. Luhan sekarang sudah asyik sendiri dengan ponselnya sehingga ia menghiraukan bunyi langkah kaki yang berjalan mendekatinya itu. Hawa di ruangan itu terasa sangat dingin menusuk, ditambah sekarang juga sedang musim dingin. Luhan merapatkan jaket yang ia kenakan, masih focus pada ponselnya. Perhatian Luhan benar-benar terpusat pada ponsel sekarang.
Seorang Pria pucat yang tadi berjalan mendekati Luhan tiba-tiba menghentikan langkahnya pada jarak sekitar 10 meter dari tempat dimana Luhan duduk. Ia mengamati Luhan dengan seksama, lalu ia mengernyitkan dahinya heran. Dan ia kembali melangkahkan kakinya menuju tempat Luhan berada. Lalu ketika ia berada di dekat Luhan.. " Hey." Sapanya.
Luhan mendongakkan kepalanya, ingin melihat siapa yang baru saja menyapanya tadi. Ia seketika terdiam, gugup. Luhan menelan ludahnya kasar. Luhan mimpi apa semalam? Bagaimana bisa seorang Pria super tampan dengan penampilan kerennya sedang berdiri tepat di depan Luhan? Ahh.. Luhan rasanya ingin melayang.
" Halo." Sapa Pria pucat itu lagi karena orang yang ia sapa tadi sepertinya tak kunjung ingin menjawab sapaannya dan malah menunjukkan ekspresi seperti sedang melongo. Luhan yang sadar dengan suara Pria itu lagi dengan cepat merubah ekspresi melongonya.
" H-hai." Luhan menjawabnya dengan gugup. Jujur saja, jantung Luhan sedang menggila sekarang. Pria pucat yang mendengar jawaban dari orang yang ia sapa itu segera menyunggingkan senyum manisnya. Ohh.. Luhan benar-benar merasa seperti melayang sekarang. Jantungnya serasa seperti ingin meledak melihat senyum dari Pria tampan itu.
" Boleh aku duduk?." Tanya Pria pucat itu. Ia pegal juga berdiri lama-lama.
Luhan segera menggeser badannya untuk Pria itu duduk. Sekarang Pria pucat itu telah duduk di samping Luhan sekarang. Tak taukah Pria itu bahwa jantung Luhan sudah siap meledak kapan saja?. Setelah menyamankan posisi duduknya di bangku itu, Sang Pria pucat kembali menatap Luhan.
" Kau kenapa sendirian disini?." Tanya Pria itu.
" A-aku sedang menunggu Resepsionis."
" Ada apa? Kau baru pindah?." Pria pucat itu menebak setelah ia melihat koper-koper yang dibawa Luhan.
" Y-ya."
" Ahh.. Kulihat Noona sedang makan malam di café apartemen ini." Pria pucat itu menunjuk ke arah pintu kaca otomatis yang bertuliskan 'café' itu.
Luhan mengangguk-angguk mengerti. " Tunggulah sebentar lagi." Tambah Pria pucat itu.
" Ngomong-ngomong, kau berani sekali malam-malam sendirian."
" M-memangnya kenapa?."
" Tidak. Hanya saja apa kau tidak takut dengan bahaya yang sering terjadi di malam hari? Lagipula kau seorang gadis, banyak orang jahat di luar sana."
Luhan seolah tak bisa berpikir sekarang. Ia hanya menatap wajah Pria pucat itu tanpa menyimak dengan benar apa yang Pria itu katakana. " A-ah.. Aku bisa jaga diri." Jawab Luhan sekenanya.
Hening.. Tak ada percakapan lagi di antara mereka dan tiba-tiba….
Drrtt.. drrttt..
Ponsel Pria itu bergetar. Dengan cepat Pria itu mengangkat ponselnya lalu berdiri dan melangkahkan kakinya menjauh dari Luhan. Luhan hanya menatap punggung Pria itu yang sekarang telah keluar dari pintu masuk apartemen itu. Luhan mendengar suara langkah kaki yang lain sedang menuju ke arahnya.
" Ahh.. Luhan-ssi? Maaf sudah membuatmu menunggu."
Luhan ingat dengan wajah ini. Ya, wanita ini adalah orang yang ia tunggu sejak tadi, Sang Resepsionis. " Tak apa. Lagipula aku belum lama disini." Luhan tersenyum.
" Baiklah, ini kunci apartemenmu." Resepsionis Noona itu memberikan kunci dengan gantungan bertuliskan '07' pada Luhan.
" Terima kasih err.."
" Hee Jung. Panggil saja aku Hee Jung."
" Ahh.. Baiklah, Hee Jung Noona." Luhan tersenyum pada Hee Jung.
" Hmm.. ngomong-ngomong, kau benar-benar sudah yakin ingin tinggal di apartemen 07? Masih ada 4 ruangan kosong yang ada di lantai 3 dan 4."
" Ya aku yakin. Lagipula temanku tinggal di apartemen 06. Ada apa Noona?."
" Ah.. Tidak apa-apa. Tapi apa kau tak ingin tau cerita tentang kamar 07?." Resepsionis Noona itu setengah berbisik pada Luhan.
" Cerita? Kurasa aku pernah menonton film Apartment 07." Jawab Luhan tak nyambung.
" I-iya.. Kurang lebih ceritanya seperti itu."
Luhan terkikih pelan. " Noona, itu hanya ada di film."
" Bagaimana kalau benar-benar ada?."
" Aku tak percaya."
" Kau harus percaya." Resepsionis Noona itu kekeh dengan pendapatnya.
" Ya.. terserahlah. Aku lelah Noona, aku ke kamar ya?."
Hee Jung mengangguk-angguk dengan takut. Luhan dengan cepat berdiri dari bangku Lobby itu dan menggenggam koper-koper miliknya.
" Baiklah, sampai jumpa Noona." Luhan tersenyum pada Hee Jung dan ia pun pergi menuju lift. Namun, sebelum Luhan memasuki lift, suara terdengar dari arah tempat duduknya tadi. " Luhan-ah, Kau harus berhati-hati ya!." Seru Sang Resepsionis.
Luhan hanya mengacungkan jempolnya sebagai respon dari perkataan Hee Jung dan Luhan segera masuk ke dalam lift.
Ting..
Luhan sudah sampai di lantai dua. Luhan melihat ada 6 ruangan di lantai dua ini. Dimulai dari ruangan dengan tulisan 03, 04, 05. Dan di seberangnya ada tiga ruangan lagi yang bertukiskan 06, 07, 08. Well, apartemen Luhan diapit oleh ruang 06 dan 08. Luhan tentu tau siapa penghuni dari apartemen 06 dan 08. Ya siapa lagi kalau bukan Chanbaek couple. Baekhyun yang ada di apartemen 06 dan Chanyeol yang ada di apartemen 08.
Luhan berjalan mendekati pintu apartemennya dan membuka kuncinya.
Kriiiieeeettttt…
.
.
.
Sehun baru saja mematikan ponselnya. Ia kembali lagi masuk ke gedung Yanggu Apartment. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia sedang mencari adik kecil yang manis tadi. Seketika pandangan Sehun terarah pada orang yang berada di balik meja Resepsionis. Sehun melangkahkan kakinya menuju Hee Jung. Sehun menunggu Hee Jung yang sepertinya sedang ditelepon oleh orang yang ingin membooking ruangan di apartemen ini.
" Ya, terima kasih. Selamat malam." Ujar Hee Jung ramah pada orang yang berada di seberang sana. Lalu ia pun menutup telepon itu.
" Ya. Ada apa Sehun?."
" Noona, siapa yang menelepon barusan?."
" Ohh.. Dia Kyung Soo. Dia bilang ingin pindah ke sini."
" Ah.. Kyung Soo. Bukannya ia sudah lama tak tinggal di sini lagi?."
" Iya. Sepertinya ia ingin memberi kejutan pada Tuan Kim."
" Ah.. arasseo. Hmm.. Noona apa kau melihat gadis yang duduk disana?." Sehun menunjukkan bangku lobby yang diduduki oleh Luhan tadi.
Hee Jung terlihat berpikir. Gadis? Bukankah dari tadi tidak ada gadis di sini? Memikirkan hal itu membuat Hee Jung berpikiran macam-macam. Bulu kuduknya berdiri sekarang.
" Sehun, tak ada gadis disini." Jawab Hee Jung takut-takut.
Sehun terdiam, terlihat sedang berpikir. Apa benar yang ia lihat tadi sama seperti yang orang-orang sering katakan? Sehun pun bergidik ngeri. " Benar Noona?." Sehun ingin memastikan.
" Ya, benar. Hanya aku satu-satunya gadis di apartemen ini." Hee Jung bertambah ngeri ketika ia menyebutkan hal itu.
Sehun seketika sadar. Bagimana mungkin ada seorang gadis yang berani datang ke sini sendirian malam-malam seperti ini? Ahh.. bodohnya Sehun, ia tak sempat melihat apakah kaki gadis tadi menapak tanah atau mengawang seperti yang orang-orang bicarakan?
Sehun benar-benar bodoh. Padahal ia ingin sekali melihat itu. Ia ingin melihat kaki yang mengawang dengan mata kepalanya sendiri.
" Baiklah Noona, aku pergi dulu ya."
" Hey! Kau mau kemana?!." Hee Jung berteriak histeris ketika Sehun menjauh darinya dan hendak memasuki lift. " Aku ingin tidur, Noona!." Sehun juga sedikit berteriak. Jujur saja, Sehun merasa ngeri ketika ia mendapati dirinya yang baru saja melihat penampakan yang sering orang-orang katakan.
" Aish.. bocah itu. Pergi seenaknya setelah menakuti orang." Hee Jung berbicara pada dirinya sendiri. Hee Jung melihat jam super besar yang ada di lobby apartemen itu. Jam menunjukkan pukul 11.17. Hee Jung menelan ludahnya ketika ia melihat jam yang hampir menunjukkan tengah malam. Ia melihat ke sekelilingnya dengan tatapan waspada. Ia takut pada apa yang dibicarakan oleh Sehun tadi.
Tap.. tap.. tap…
Terlihat seseorang yang baru saja masuk ke apartemen itu. Hee Jung segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu dan ia pun tersenyum lebar.
" Ahh.. Kau rupanya."
" Ya. Apa kabarmu Noona?."
.
.
.
Krriiiiiiiieeeeeettttt…..
Bunyi pintu apartemen itu terdengar jelas ketika Luhan membuka pintunya. Luhan segera menghidupkan saklar lampu dan…
Ting…
Luhan seketika terperangah ketika mendapati bagaimana bentuk apartemen barunya ini. Apartemen ini benar-benar mewah untuk sebatas Mahasiswa. Barang-barang yang ada di apartemen itu sungguh menyilaukan mata, barang-barang branded . Luhan melihat ke sekelilingnya, ia memerhatikan lampu hias yang begitu indah. Dan tiba-tiba….
Wusssss….
Entah angin dari mana yang berhembus ke ruangan ini. Luhan seketika merasa kedinginan. Ia melihat ke belakang dan menutup pintu apartemennya. Lalu mata Luhan tertuju pada jendela besar yang ada di ruang tamu itu. Bukan apa-apa, tapi bukankah apartemen ini sudah lama tak berpenghuni? Tapi bagaimana bisa jendela besar itu terbuka dengan lebarnya? Luhan cepat-cepat pergi menuju jendela itu dan menutupnya.
Luhan tiba-tiba teringat pada apa yang dikatakan oleh Resepsionis Noona tadi. Ahh.. Luhan jadi merinding sekarang. Buru-buru ia tepis semua pikiran anehnya yang telah memikirkan hal yang tidak-tidak. " Ah.. tenang Luhan." Katanya pada dirinya sendiri.
Samar-samar Luhan mendengar suara orang. Dengan hati-hati, ia tempelkan telinganya pada dinding. Ia dapat mendengar suara seseorang. Sepertinya orang itu sedang marah atau mengomel tak jelas. Luhan menyimak suara itu. Ahh… Luhan tau satu hal. Suara itu, suara sahabatnya, suara Baekhyun. Luhan terkikih geli mendengar omelan Baekhyun.
Dengan senyuman jahil, Luhan mengambil ponselnya yang ada di saku jaketnya. Ia mengetik sebuah pesan pada Baekhyun.
' Baek, kau jangan marah-marah.' Tulis Luhan dan ia berhasil mengirimnya pada Baekhyun. Lalu Luhan tempelkan lagi telinganya pada dinding, ia mendengar Baekhyun berhenti mengomeli orang itu.
Drrttt… drrrttt..
Luhan mendengar getaran dari ponselnya. Satu pesan masuk.
' Ya! Kau jangan sok tau!.'
' Aku tau.'
' Ishh.. Memang kau paranormal?.'
' Sepertinya begitu kkk~. Kau tidak sedang bercinta dengan Chanyeol kan?.'
' Tidak. Memang kenapa?.'
' Aku kira kau sedang bercinta dengannya.'
' Bokongku sakit, bodoh!.'
' Ya! Tak usah mengataiku!.'
' Kalau aku mau :p Oiya, bagaimana dengan kissmark di lehermu?.'
' Terserah saja :p Masih terlihat dengan jelas, Baek -_-'
' Ahh.. Sepertinya orang itu sangat bernafsu padamu, Luhan :D'
' Mana ada orang yang tidak bernafsu melihatku, Byunbaek :p'
' Ishh.. kau sungguh percaya diri. Beruntung orang itu sedang mabuk, kalau ia sadar pasti ia akan ketakutan melihat nenek sihir di hadapannya.'
' Ya! Kau mengataiku nenek sihir?! Kau nenek gayung, bebek!.'
' Terserah. Yang penting nenek gayung ini sudah memiliki kekasih :p'
' Ya! Kau mengejekku lagi, eoh?!.'
' Siapa yang mengejekmu? Lihatlah nenek sihir ini sedang marah-marah, ia terlihat sangat tua ckckcck.. mana ada lelaki yang ingin mendekatinya.'
' Ya! Ya! Ya! Aku bukan nenek sihir! Yasudah, aku mau tidur.'
' Hahahaa.. Mimpi indah nenek sihir '
' Dasar nenek gayung!.'
' Oiya, kenapa kau belum tidur? Tumben sekali :/'
' Aku sedang belajar, bodoh!.'
' Belajar? Kau bercanda. Jujur padaku, kau sedang menguras bak mandi ya?'
' Ya! Bak mandi? Kau gila. Oiya, Baek aku ingin bercerita padamu.'
' Kau yang gila :p Cepat ceritakan!.'
' Hahh.. bukankah aku tadi bilang ingin tidur? Kau kenapa memaksaku bercerita? -_-'
' Ya! Kau bilang ingin cerita?!.'
' Sayang sekali tapi aku mengantuk Baek. Ceritanya di dalam mimpi saja ya, jaljayo :*'
' Mana bisa di dalam mimpi, Dasar Bodoh!'
' Bisa saja.'
' Bagaimana caranya? Cepat beri tau aku.'
' Bukankah aku bilang ingin tidur? Kenapa kau selalu memaksaku? -_- heoll'
' -_-'
' Bibirmu panjang sekali, Baek.'
' Kau yang panjang!'
' Apanya yang panjang?'
' Apalagi? Menurutmu?'
' Aku ingin tidur bodoh. Kenapa kau terus-terusan bertanya padaku? Ckckckc..'
' YA! LUHAN! KAU AWAS SAJA ! KAU TAK AKAN SELAMAT BERTEMU DENGANKU!'
' Hey aku mau tidur, kau kenapa mengancamku? -_-'
' YAAAA! KAU KALAU MAU TIDUR, TIDUR SAJA! KAU KENAPA MEMBALAS PESANKU TERUS!'
' Terserahku.'
' Yasudah, aku capek.'
' Aku tidak.'
' Lalu kau mau apa?.'
' Kenapa kau bertanya terus? Bukankah sudah kukatakan aku ingin tidur? -_-'
' TERSERAH KAU SAJA LUHAN! KAU! JANGAN MEMBALAS PESAN INI LAGI. AKU INGIN TIDUR TITIK.'
' Kenapa malah kau yang tidur duluan Baek? Bukankah aku duluan yang ingin tidur?'
' Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz'
Luhan menghempaskan ponselnya di sofa. Luhan kesal dan senang bisa mengerjai Baekhyun. Bisa-bisanya Baekhyun mengatai rusa cantik sebagai nenek sihir. Luhan melihat jam di dinding. Pukul 11.48 malam. Hahh.. hampir tengah malam. Luhan tidak pernah tidur selarut ini. Ia langkahkan kakinya menuju kamar dan….. Luhan terperangah melihat apa yang ada di kamar itu..
.
.
.
To Be Continued….
.
.
~ Author's Note ~
Heehehe maaf lama updatenya.. Lagi banyak kerjaan/ceileh/
oiya, saya mau lomba dance cover Hyuna-Red. Mohon doanya ya readersnim :) wkwkw
Ntar UN online readersnim.. hikss.. saya khawatir
Yaudah, abaikan curhatan saya hohoho saya lagi stres berat
Makasih buat semua readersnim yang udah bersedia baca
Last,
Revie Jusseyo~~
