Ist es ein Happy End wird?

.

-Beerealshee-

Cast:

Cho Kyuhyun

Cho (Lee) Donghae

Super Junior members, and other

.

All cast is God's, and the story is mine

.

Alternative Universe

.

Brothership, family, Hurt/comfort

Perlahan namun pasti, segala sesuatu yang menyakitkan memang seringkali terjadi, adakah yang bisa menghalangi? Adakah sebuah tameng yang memang diciptakan untuk membentengi rasa sakit tersebut? Adakah seseorang? Ya… seseorang yang mampu melindungimu dari rasa sakit tersebut? Atau paling tidak meringankan rasa sakitnya dari dirimu? Adakah?

Chapter 3

Sinar mentari pagi perlahan merambat memasuki celah-celah tirai pada ruangan sunyi tersebut. Dua orang pemuda masih sibuk bergelung dalam selimut tebal berwarna merah tua, seolah-olah sang selimut tak membiarkan keduanya bangun dan bergegas meninggalkannya. Namun sang selimut tak dapat menahan mereka selamanya, salah seorang pemuda, dengan bola mata sewarna lelehan caramel berhasil melumpuhkan egonya, ya, ia memutuskan untuk bangun dan tidak terlalu bergantung pada selimut tersebut, meninggalkan segala kehangatan yang selimut itu janjikan, dan memutuskan untuk melangkah pergi menuju sebuah toilet yang ada di sudut ruangan.

Kyuhyun, pemuda itu kini sibuk mengamati lekuk wajahnya pada cermin yang ada di hadapannya, menatap sendu tiap bagian-bagian sempurna itu. Lebih meratapi nasibnya, ya, ia meratapi nasib wajahnya yang terlampau menyerupai sang ibu, bola mata caramel yang melekat dengan indah bagai satu kesatuan dengan milik ibunya, begitu mirip, begitu indah, dan begitu menyakitkan. Bibir merah muda yang lagi-lagi terlalu indah dimata orang lain, kembali menjadi sesuatu yang terlampau menyakitkan bagi Kyuhyun.

Kyuhyun memutuskan mengusap wajahnya menggunakan air dingin yang mengalir pada wastafel, beberapa kali ia nampak mengusap kasar wajahnya, dan sesudah itu, pemuda pucat itu kembali menatap pantulan dirinya. Helaan nafas Kyuhyun terdengar begitu berat, cermin di hadapannya benar-benar membuatnya muak.

.

.

.

.


PRANK!

Donghae terperanjat, ia terbangun dari alam bawah sadar ketika mendengar sesuatu yang pecah dari dalam toilet. Kepalanya sedikit pening, mengingat ia bangun dalam keadaan terkejut. Tanpa membuang waktu, Donghae segera melangkah mendekati pintu toilet, mengetuk beberapa kali sembari memanggil-manggil nama sang adik.

"Kyuhyun, kau didalam? Aku mendengar sesuatu yang pecah dari dalam. Apa kau baik-baik saja?"

Tidak ada jawaban, Donghae semakin khawatir terhadap Kyuhyun. Donghae mencoba membuka pintu toilet tersebut, dan benar saja, Kyuhyun tidak menguncinya. Donghae berlari menuju bagian dalam toilet, dan alangkah terkejutnya Donghae, ia melihat sebuah cermin besar yang ada di hadapannya hancur, beserta Kyuhyun yang terengah-engah di depan cermin tersebut. Donghae masih dalam masa terkejut, otaknya sedang memproses apa yang terjadi tepat di depan matanya. Hingga akhirnya, Donghae mengalihkan pandangannya pada tangan kanan Kyuhyun yang mengepal, nampak beberapa serpihan kaca menempel tepat di genggaman tangan Kyuhyun, dan beberapa aliran darah mulai tercipta dari luka-luka yang Kyuhyun dapatkan.

"Astaga Kyuhyun! Apa yang kau lakukan?!" Donghae melangkah dengan tergesa untuk menghampiri Kyuhyun, secara cekatan ia menarik Kyuhyun menjauh dari serpihan cermin yang ada di lantai kamar mandinya, takut menimbulkan luka lainnya pada Kyuhyun.

Setelah jarak mereka cukup aman, Donghae segera membalik tubuh Kyuhyun untuk menghadap wajahnya, "apa yang terjadi eoh? Kau terluka, ayo kita obati."

Kyuhyun menggeleng, wajahnya memerah, dan kedua kelopak matanya nampak terpejam dan terbuka secara cepat, menandakan seberapa keras usaha Kyuhyun untuk menghalau air matanya agar tidak turun.

"Kyu, ayo kita ke kamar, lukamu perlu diobati. Lagipula kau ini kenapa eoh? Kenapa kau memukul cermin itu? Ayo kembali ke kamar, aku takut kau infeksi."

Kyuhyun terlihat gelisah, perlahan tubuhnya turun, dan kini ia terduduk diatas lantai kamar mandi yang dingin. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya perlahan meluncur dari kedua manik karamelnya. Donghae dengan terpaksa mendudukkan dirinya dihadapan Kyuhyun, ia merengkuh kedua pundak Kyuhyun, menatap dalam manik adiknya yang nampak tak secerah biasanya.

Kyuhyun semakin terisak, kedua tangannya kini sibuk mengusap wajahnya secara kasar, sontak Donghae langsung menarik kedua tangan Kyuhyun agar menjauh dari wajahnya.

"Kyuhyun! Apa yang kau lakukan?! Ada serpihan kaca di tanganmu, wajahmu akan terluka, jangan ceroboh!" Donghae berusaha menarik kedua tangan Kyuhyun secara kasar, karena Kyuhyun benar-benar tak ingin mendengar Donghae.

"Kyuhyun dengar aku, kau melukai dirimu sendiri! Berhenti Kyuhyun, aku ingin kau berhenti!"

Kyuhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya secara kasar, ia masih sibuk menghalau banyaknya air mata yang mengalir, bahkan Kyuhyun terlihat menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan-isakan yang nyaris keluar dari bibir Kyuhyun.

"CHO KYUHYUN AKU BILANG BERHENTI!"

Berhenti. Kyuhyun berhenti mengusap wajahnya, ia bahkan berhenti menggigit bibir bawahnya. Teriakan seorang Cho Donghae terbukti sangat ampuh. Donghae menatap wajah Kyuhyun secara intens, memperhatikan beberapa bercak darah menempel di wajah putihnya,dan beberapa luka goresan tercipta di permukaan kulit wajah Kyuhyun.

"Wae? Kenapa kau begini Kyu? Ada apa?" Tanya Donghae secara lembut.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya secara cepat, bahkan berusaha untuk menghindari tatapan Donghae terhadapnya.

Donghae benar-benar khawatir terhadap sikap Kyuhyun. Perlahan, ia mulai memeluk Kyuhyun, membenamkan wajah Kyuhyun kedalam dada bidangnya, lalu menjelaskan, bahwa semua baik-baik saja. Atau, meyakinkan dirinya sendiri bahwa Kyuhyun baik-baik saja.

.

"Dia… dia berbicara padaku hyung. Dia bilang kalau aku memang tak seharusnya berada disini."

Donghae diam, pernyataan Kyuhyun yang tiba-tiba mampu membuatnya menyerengit bingung. Dia? Siapa yang dimaksud dengan 'dia', sedangkan Donghae tau, bahwa di dalam kamarnya hanya ada dirinya dan juga Kyuhyun.

"Dia? Siapa dia Kyu? Apa maksudmu?"

Kyuhyun mengendurkan pelukan Donghae, perlahan tangan Kyuhyun terulur untuk menunjuk cermin yang sudah ia hancurkan, "dia disana, aku memukulnya karena dia terlalu banyak bicara. Dia terlalu mengerikan hyung, aku… aku tidak tau harus bagaimana lagi."

Donghae terkejut, sangat terkejut. Bagaimana mungkin adiknya menganggap sebuah cermin dapat mengutarakan sesuatu. Namun Donghae hanya mengangguk pasrah, meng-iyakan apa yang Kyuhyun ungkapkan kepadanya. Lalu kembali memeluk Kyuhyun untuk menenangkannya.

.

.

.

.


"Cha, sudah selesai," Donghae tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Ia baru saja selesai membalut luka di kedua telapak tangan Kyuhyun, dan luka di wajah Kyuhyun, ia tersenyum miris saat melihat wajah Kyuhyun yang ternyata terdapat banyak luka goresan.

"Kau tidak tampan lagi Kyu. Wajahmu jadi seperti ini sekarang"

Kyuhyun tersenyum, ia kemudian membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk milik Donghae, "gwenchana hyung, setidaknya aku tidak terlalu mirip eomma jika seperti ini. Tapi… ini perih hyung."

Donghae mengacak rambut adiknya gemas, sejujurnya ada bagian dari hati Donghae yang merasa tercubit, saat Kyuhyun dengan tidak langsung mengakui bahwa ia benci memiliki wajah menyerupai sang ibu. "Ne, memang pasti perih, memangnya kau baru merasakannya sekarang eoh? Sekarang ayo ke dokter, kau harus tetap memeriksakan lukanya, yang aku lakukan ini hanya pertolongan pertama saja."

Kyuhyun menggeleng dengan cepat, "tidak perlu hyung, ini sudah jauh lebih baik. Memangnya, aku terlihat sebegitu parah? Sampai harus pergi ke dokter?" Kyuhyun nampak mengerucutkan bibirnya, sontak hal itu membuat Donghae tertawa, ia tidak pernah menyangka bahwa adiknya dapat bersikap manis seperti saat ini.

"Ne, kau nampak sudah lebih baik sekarang, tapi dokter dapat memberikanmu pain killer kalau memang sakitnya tidak dapat ditahan Kyu. Lagipula, kau butuh antibiotic, lukamu harus steril."

Kyuhyun nampak terdiam sejenak, memikirkan apa yang kakaknya tawarkan, "tidak hyung, untuk saat ini tidak perlu. Kalau memang aku tidak bisa menahan sakitnya, aku pasti bilang, dan aku akan pergi ke dokter."

Donghae akhirnya mengiyakan permintaan Kyuhyun dengan sebuah anggukan.

.

.

.

.


Hari beranjak gelap, nampak Donghae sedang membantu beberapa pelayan di rumahnya untuk menyiapkan makan malam. Ya, Donghae memang seperti itu, sudah kebiasaan sedari kecil untuk tidak duduk berpangku tangan dan menerima apapun dengan mudahnya. Walaupun ia terlahir dari keluarga yang berkecukupan itu tidak membuat Donghae maupun Kyuhyun menjadi sombong. Sang ayah selalu mengajarkan keduanya untuk mandiri dan tidak terlalu bergantung pada pelayan di rumah mereka.

Donghae nampak melirik kearah meja makan, nampak sang ayah sudah duduk dengan tegak sembari menunggu kedua putranya. Donghae tersenyum, kemudian berjalan menghampiri sang ayah.

"Appa, kau sudah pulang? Ini masih cukup awal," sapa Donghae. Sang ayah nampak tersenyum manis, menanggapi pertanyaan Donghae, "ne, appa pulang lebih cepat hari ini, mana Kyuhyun? Suruh dia turun dari kamarnya, ini sudah jam makan malam."

"Aku disini appa," nampak Kyuhyun berjalan mendekat ke meja makan, Donghae nampak tersenyum manis menyambut Kyuhyun, namun sang appa langsung berjalan perlahan menghampiri Kyuhyun. Nampak raut wajah sang appa menyiratkan kecemasan, perlahan ia menyentuh wajah Kyuhyun yang masih menyisakan beberapa luka gores. Kyuhyun sedikit meringis kala tangan sang appa tak sengaja menyentuh lukanya yang memang masih terasa nyeri.

"Apa yang terjadi? Wajahmu? Bahkan tanganmu? Apa yang terjadi Kyunnie?"

Kyuhyun menunduk menanggapi pertanyaan ayahnya, "gwenchana appa, aku…"

"Dia tidak sengaja terpleset dan memecahkan gelas appa, makannya tubuhnya luka-luka begitu. Memang anak ini ceroboh sekali, padahal itu berbahaya kan?"

Kyuhyun membulatkan matanya, ia nyaris saja menceritakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada sang appa, karena ia tidak menemukan alasan lain untuk mengelabui sang apa. Namun Donghae berhasil menyelamatkannya, dan Kyuhyun sangat berterimakasih pada kakaknya itu.

"Benarkah? Ya tuhan, Kyu, itu berbahaya sekali, kau sudah periksa ke dokter?" nampaknya sang appa benar-benar cemas mengenai kondisi anak bungsunya.

"Gwenchana appa, ini tidak parah, Donghae hyung sudah mengobati lukanya tadi. Sekarang sudah tidak begitu sakit."

"Baiklah, sekarang kita makan ne?"

.

.

.

.


Kyuhyun mengamati sepasang sumpit di hadapannya, jujur saja, Kyuhyun sangat merasa lapar, hanya saja kedua tangannya terasa sangat nyeri saat digunakan untuk memegang sumpit, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk menggunakan sendok, namun ternyata menggunakan sendok bukan pilihan tepat karena jangmyeon di hadapannya selalu saja terlepas dari sendok tersebut,

Donghae mengamati tingkah adiknya dari sebrang tempat Kyuhyun duduk, ia tersenyum geli ketika melihat adiknya yang kesusahan mengambil jangmyeon yang ada di hadapannya.

"Kyunnie, kau bisa memakan samgyetang ini terlebih dahulu, aku akan mengambilkan garpu untukmu,"

Belum sempat Donghae melangkahkan kakinya untuk mengambil garpu, Kyuhyun dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Annio hyung, aku tidak mau makan itu, aku mau jangmyeon ini saja," ujar Kyuhyun. Sang appa yang melihat interaksi kedua putranya nampak tersenyum, perlahan pria itu duduk mendekati Kyuhyun, ia mengambil sumpit dan menarik piring Kyuhyun agar mendekat padanya. Pria itu nampak menggulung jangmyeon pada sumpit di tangan kanannya, kemudian dengan sebuah senyuman, sumpit dengan jangmyeon itu berada di hadapan mulut Kyuhyun.

"Ayo, bilang 'aaaaaa' jangmyeon enak ini ingin masuk ke dalam perut tuan muda Kyuhyun,"

Donghae terkekeh geli, melihat sikap sang appa terhadap adiknya. Sedangkan Kyuhyun, anak itu sudah menahan malu, terbukti dari wajahnya yang memerah serta pipinya yang menggembung lucu. Namun sedetik kemudian, Kyuhyun mulai membuka mulutnya, membiarkan mie dengan pasta kedelai hitam yang lezat itu mengisi rongga mulutnya.

"Nah, itu baru anak appa, kalau memang kesulitan bilang saja Kyu, yang lainnya kan bisa membantumu."

Kyuhyun melipat kedua tangannya diatas meja makan, kemudian ia menenggelamkan kepalanya diatas lipatan tangan. Donghae semakin geli saja melihat tingkah sang adik, ia tidak pernah menyangka bahwa Kyuhyun bisa menunjukan sikap seperti itu dihadapan ayahnya.

"Aku malu appa! Donghae hyung terus saja mentertawakanku,"

Bukannya berhenti, Donghae justru semakin terbahak mentertawakan Kyuhyun, "kau lucu Kyu, seperti anak umur enam tahun," lalu Donghae kembali meneruskan tawanya.

Kyuhyun semakin menutupi wajahnya yang mungkin sudah semerah tomat saat ini, sang appa yang tidak tega melihat putra bungsunya, segera menegur Donghae dengan sebuah tepukan ringan di kepala. Mau tak mau, Donghae berhenti tertawa, walaupun masih menyisakan kikikan kikikan kecil.

Tanpa disadari ketiganya, seorang wanita berjalan dengan angkuh menuju meja makan tempat mereka berkumpul. Kyuhyun yang merasa tidak lagi mendengar tawa sang kakak segera mendongakan kepalanya, namun hal yang pertama kali ia lihat adalah hal yang benar-benar tidak di inginkannya. Wanita itu, ibunya, ibu kandungnya sedang berjalan mendekat kearah mereka. Sontak saja Kyuhyun menegakkan posisi duduknya. Tidak ada lagi semburat merah di wajah Kyuhyun.

Donghae menyadari arti tatapan Kyuhyun, secara perlahan pemuda itu membalikan tubuhnya, ia sama terkejutnya dengan Kyuhyun, wanita itu. Apa yang dilakukannya? Selama sepuluh tahun ini, wanita itu tidak pernah lagi menduduki meja makan keluarga hanya untuk makan bersama. Lalu apa maksudnya semua ini?

.

.

.

.


Wanita itu duduk tepat di samping kiri Kyuhyun, mengingat di samping kanan Kyuhyun telah duduk sang appa yang kini dengan erat merangkul putra bungsunya secara protektif, berusaha melindungi Kyuhyun dari segala sesuatu yang pasti akan menyakitkan jika sudah menyangkut dengan wanita tersebut.

"Wae? Ada apa dengan kalian bertiga? Takut padaku eoh? Sikap waspada kalian terhadapku sangatlah tidak sopan."

Tak ada yang menyahuti perkataan wanita itu, hingga akhirnya,Kyuhyun merasakan sebuah usapan lembut di atas kepalanya. Sontak Kyuhyun membulatkan kedua matanya. Bukan, ini bukanlah usapan dari sang ayah ataupun Donghae hyung-nya. Usapan ini terasa sangat asing bagi Kyuhyun, terakhir kali Kyuhyun merasakannya ketika ia masih berusia lima tahun. Tepatnya sepuluh tahun yang lalu.

"Eomma, apa yang kau lakukan terhadap Kyunnie? Kau membuatnya takut" Nampak Donghae berdiri dari duduknya, ia hendak mendekati Kyuhyun dan menjauhkan tangan ibunya dari atas kepala Kyuhyun.

"Wae? Memangnya tidak boleh seorang ibu mengelus kepala anaknya? Sejak kapan Donghae-ah"

"Sejak kau mengatakan, bahwa kami adalah penghalang bagimu." Ujar Kyuhyun singkat. Dengan perlahan, Kyuhyun menurunkan tangan sang eomma yang masih berada di atas kepalanya, kemudian Kyuhyun menatap mata wanita itu dengan tatapan terluka.

"Apa maksudmu dengan semua ini? Kenapa kau tiba-tiba melakukan hal seperti ini terhadapku?"

Sang eomma tertawa menanggapi pertanyan Kyuhyun. Membuat Kyuhyun, donghae dan sang ayah semakin kebingungan dibuatnya. "wae? Aku tidak ada niatan untuk melakukan hal menjijikan seperti ladi untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya jika kalian suatu saat memintanya. Aku hanya ingin memperingatkanmu Kyuhyun-ah. Jangan sekai-sekali kau keluar dengan keadaan wajah dan tanganmu luka-luka seperti ini. Jangan sampai teman atau tetangga eomma melihatnya. Aku hanya tidak ingin di cap sebagai ibu yang hobi menyiksa anaknya. Kau mengerti?"

Kyuhyun tertegun, seharusnya Kyuhyun sudah terbiasa dengan semua perkataan ibunya, semuanya pasti menyakitkan. Harusnya Kyuhyun sadar akan hal yang satu itu.

"Kyuhyun butuh sekolah, ia juga harus bergaul dengan teman-temannya di luar. Tidak hanya mengikuti ego tidak jelasmu itu." Kini sang appa yang menimpali.

"Ego? Kau bilang ego?!" terdengar nada bicara sang eomma sedikit meninggi, "ini bukan ego Tuan Cho, ini demi nama baikku, memangnya mereka percaya jika anak ini terjatuh sendiri? Memangnya ada anak limabelas tahun seceroboh itu? Mereka pasti mengira kalau aku yang memukulinya, atau apalah itu. Aku tidak ingin malu. Itu saja."

Tuan Cho nampak geram dengan semua perkataan 'istrinya', tanpa sengaja, ia semakin mempererat rangkulannya terhadap Kyuhyun, tentu saja Kyuhyun merasa sedikit kesakitan akibat perbuatan sang ayah. Donghae menyadari air muka Kyuhyun segera menghentikan tindakan sang ayah dengan menarik Kyuhyun ke arahnya.

"Mian, aku dan Kyuhyun sudah kenyang, dan sekarang kami mengantuk. Lanjutkan saja kegiatan kalian. Yang jelas aku tidak ingin dengar…lagi."

Setelah mengatakan hal tersebut, Donghae segera melangkah naik ke kamarnya, ia benar-benar tidak ingin mendengar apapun lagi saat ini. Ia sudah cukup muak. Sesampainya di dalam kamar, Donghae mendudukan Kyuhyun diatas kasurnya, "mala ini tidur disini lagi, kau mau?" Tanya Donghae.

Kyuhyun dengan satu buah anggukan sudah cukup menjawab pertanyaan Donghae. Kyuhyun merebahkan tubuhnya senyaman mungkin, berusaha melupakan apapun yang terjadi beberapa menit yang lalu. Sedangkan Dnghae, pemuda itu kini sibuk dengan buku pelajarannya, ia berusaha fokus untuk belajar, walaupun pikirannya terbelah menjadi beberapa bagian.


"Hyung…"


"Eum, wae?"


"Sentuhan eomma… hangat"

Dan saat itu juga, satu aliran air mata meluncur begitu saja dari kelopak mata Donghae, membuat sebuah bekas basah pada buku yang ada di hadapannya.

Tbc…

Yup, lama ya updatenya? Buanget kayaknya. Mianhae. Tiba-tiba ngeblank, gak tau harus ngetik apa T.T dan, sekarang sudah liburan, sudah gak mikir kuliah dan kerjaan, tapi ternyata mikir punya banyak ponakan yang butuh salam temple pas lebaran /halah.

Maaf kalau kurang atau bahkan gak greget, sempet ada rencana untuk nyelesaiin wild flower dulu, baru nerusin yang ini, tapi ternyata saya gak bisa kalau Cuma disuruh focus sama satu tulisan, harus ada tulisan yang lain yang dikerjakan juga. Feels di chapter ini absurd kayaknya, pingin bikin yang greget gitu tapi lama otak saya mikirnya, nanti kalian tambah jamuran nunggunya hehe.

Thanks buat semua yang sudah mampir dan baca, baik yang mereview maupun yang sekedar lewat terus pulang, terus bobo.

Sampai ketemu di chapter berikutnya.

_BeeRalshee_