True Love chapter 4 (Sekuel If a Little bit Sooner)

Disclaimer: Masashi Kishimoto

SasufemNaru dengan orang ke tiganya Sai.

Sasuke, Naruto, Sai, Naruko, Sakura (33 tahun)

Itachi (35 tahun)

Kurama (34 tahun)

Kitsune, Sasori (15 tahun)

Perkenalkan, saya integraleksponen. Ini cerita saya, silahkan membaca dan enjoy:D

Uzumaki Prince Dobe-Nii: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, sangat rumit senpaiiiii_

Park Hikaa: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D

Aya695: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D

Esya27BC: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, saya lebih milih narunya diem aja, soalnya nanti biar Sai yang bilang hehehehe:D

Blueonyx Syiie: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, benar senpai! Naru adiknya Kurama heheh:D

Adelia437: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D

Kaname(guest): Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D

Kuma Akaryuu: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, tidak apa-apa senpai hehehe, senpai benar, naru harus jaga perutnya (kalo hamil anak sasu hihihihi:D)

Aiko Vallery: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D

yuki akibaru: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D

Arum Junnie: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, ada hubungannya senpai, ceritanya rada bersumber dari fakta-fakta kenyataan hehehehe:D

Sasunaru(guest): Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, harus senpai heheheh, sasunaru alwayss:D:D:D:D

Wildyningsih34 : Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, sakura tidak usah diitung senpai hihihiihih *ditinju sakura*

Dewi15: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D,

Noe Hiruma: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, tebakan senpai benar heheheh:D, cuman nikahnya palsu xD

Tsumehaza-Arief: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D,

Nohara Rin chan: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D,

agness siahaan 3: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, yah maaf senpai:( tapi gimana chap ini senpai? Udah maksimal belum?(._.) naruko istri palsu Sai, ntar ada penjelasannya di chap depan senpai heheheheh

SapphireOniyx Namiuchimaki: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D,

Esya 27 BC: Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D, saya milih ntar Sai aja yang kasih tau Kitsune senpai atau palingan ntar Kitsune nemuin sendiri sosok bapaknya hehehehe, biar naru tetep sama pendiriannya yang ─naggung semua luka sendiri─ hiks... hehehe:D

devi murdhaningrat Terimakasih senpai sudah mau membaca dan mereview:D,

Gelang perak beli di Kenya
Belinya lewat di pedagang mahir
Senpai makasih atas reviewnya
Semoga tetap review sampai akhir

Selamat membaca senpai:D

Banyak Typo!

WARNING: implisit Yaoi? Shonen-ai? ItachixKurama!

Terdapat bahasa kasar tanpa sensor


"Sebenarnya...pria di sampingku ini adalah pacarku?" kata Sakura terdengar sedikit ragu-ragu. Itu membuat Naruto terkejut, mulutnya menganga, matanya tidak berkedip. Apa yang dia dengar bagaikan sebuah bom atom meledak di hadapannya. Bulu kuduk tiba-tiba merinding semua. Perut Naruto terasa berputar-putar.

Malapetaka bagimu Naruto Uzumaki

Sakura melihat Naruto yang tekejut merasa menyesal sendiri. Sakura menarik napasnya untuk meredakan debaran jantungnya. Tangan Sakura bergerak untuk menggenggam punggung tangan Naruto. "Maaf baru memberitahumu sekarang...aku melihatmu selalu sibuk dan juga kau tidak dalam kondisi bagus (masih terlihat terluka karena ulahnya Sai), jadi aku terus menundanya..maafkan aku ya" kata Sakura menyesal. Ekspresi Sakura dibuat sedikit memelas sampai bibirnya melengkung ke bawah dan dagunya sedikit berkerut. Naruto menutup mulutnya, membisikan dirinya sendiri untuk menyimpan semuanya ─hal yang terjadi diantara Naruto dan Sasuke─

Sementara Sasuke memberikan SMS kepada wali kelas Kitsune untuk menyuruh Kitsune segera masuk dan berikan alasan jika memang dia masih tidak bisa masuk. Pelajaran untuk besok adalah pengambilan nilai bonus point yang sangat membantu nilai rapot.

"Kau curang kan, harusnya kau memberitahuku dari awal. Aku memang sibuk tapi kan tidak berarti waktuku untuk mengobrol denganmu berkurang" kata Naruto, bibirnya mengerucut. Naruto memainkan akting ngambek-ngambekan karena Sakura tidak memberitahunya sejak awal. Sementara Sasuke menatap Naruto sedih. Sasuke tidak mengerti kenapa Sasuke merasakan sebuah nyeri di hati karena bola mata biru itu tidak bersinar cerah

"Maaf.." kata Sakura menurunkan nadanya, "─tapi kan sekarang kau sudah tau, iya kan? Jangan marah yaaaa" kata Sakura, membujuk. Genggaman tangan Sakura semakin dieratkan, matanya memancarkan sinar memelas, alisnya melengkung ke atas. Naruto memberikan tatapan curiga ─pura-pura─, seolah ucapan Sakura tidak terbukti kepercayaannya. Namanya juga Naruto, tidak tahan yang namanya pura-pura, jadi dia menarik bibirnya untuk tersenyum.

"Baiklah, sebagai gantinya kau harus memberikanku kursi VVIP saat pernikahanmu nanti" kata Naruto. Setelah mengucapkan kalimat itu, Naruto merasakan sesuatu yang aneh terjadi dalam dirinya. Dalam kalimat yang telah dia lontarkan, hati kecil terdalamnya memaki-maki dirinya bagaikan hal itu tidak boleh terjadi. Bibir Sakura tersenyum, lalu tertawa kecil sampai kedua bola matanya tenggelam.

"Siap putri cantik" kata Sakura, bibirnya tersenyum. Naruto menarik bibirnya untuk tersenyum juga. Dirinya benar-benar merasa brengsek. Bagaimana tidak, tubuh Naruto sudah dimasuki oleh kekasih dari sahabatnya sendiri. Naruto juga keheranan, bagaimana bisa dirinya yang sudah lima belas tahun anti terhadap aroma-aroma asmara bisa melakukan hal seperti itu. Selain itu, wajah kekasihnya Sakura seakan pernah bertemu sebelumnya tapi entah dimana dan kapan. Naruto tidak mau Sakura mengetahui hal ini, tapi akankah Naruto bisa terus bertahan membohongi Sakura? Semoga saja bisa

xxxxx

Restoran prancis yang berdiri di sisi jalan, terpakir mobil sport hitam milik Itachi Uchiha. Di dalam restoran, duduk Itachi dan Kurama yang menunggu pesanan mereka. Kurama duduk di depan Itachi, menatap mata Itachi karena mereka berbincang-bincang, membicarakan bagaimana kerinduan Itachi pada Kurama dan banyak hal lainnya. Kurama memakai kaos ketat yang berleher panjang dan berlengan panjang berwarna coklat tua, terdobel dengan jas berwarna merah bata. Di lehernya terdapat kalung berbentuk spiral melingkar ─simbol lambang Namikaze─. Itachi memakai kemeja putih terdobel sweater rajut coklat muda dan jaket tebal hitam bertudung bulu.

Wajah Kurama merengut-rengut kesal, dirinya selalu diejek ─modus─ oleh Itachi. Itachi begitu menikmati rengutan wajah Kurama, itu sangat lucu baginya. Mereka berdua sudah lama menjalin sebuah kasih. Pertemuan mereka berdua tidaklah romantis, seperti halnya Sasuke dan Naruto. Saat itu, di sisi jalan Itachi (17) sedang memundurkan mobilnya keluar dari parkir. Namun tiba-tiba mobil Itachi ditubruk oleh mobil merah menyala yang datang ─dalam kecepatan lumayan tinggi─, jadi mobil Itachi penyok, mobil Kurama (15) depannya pecah plus penyok ─ringsek─. Kurama jelas teriak-teriak. Meminta pertanggung jawaban Itachi. Diantara keduanya tidak ada yang merasa bersalah, sehingga mereka berdua terus terlibat dan terlibat. Dari situlah Itachi dan Kurama mulai menaruh perasaan masing-masing.

"Berhenti mengejekku atau kujahit mulutmu itu dengan benang tembaga!" kata Kurama kesal, telunjuknya menunjuk-nunjuk wajah Itachi, sementara Itachi terus terkekeh kecil menikmati keisengannya ini. Orang temperamen seperti Kurama, tidaklah membuat Itachi takut, melainkan membuatnya semakin ingin mengejek dan mengejek. Orang temperamen sangat menyenangkan jika emosinya dipancing keluar. Tapi bagi orang temperamen sendiri, sangat berkeinginan untuk menutup mulut orang iseng seperti Itachi. Atau mungkin menggantungnya di atas genangan lava gunung api

"Kau tau, orang sepertimu itu sangat menyenangkan untuk diejek. Wajahmu terlihat lebih lucu ketika terpancing" kata Itachi, senyuman Itachi itu cukup membuat hati Kurama tesipu malu bercampur kesal. Kurama mencibir kesal, sudah merasa lelah meladeni sikapnya Itachi. Pandangannya diarahkan keluar jendela, Itachi masih tersenyum-senyum. Kepala Kurama diacak-acak oleh Itachi, menunjukan kesenangan Itachi pada Kurama yang lucu ini.

"Tidak heran kau telah menarik hatiku Namikaze" kata Itachi setelah mengacak-ngacak sebentar rambut Kurama, tangan Itachi meraih punggung tangan Kurama untuk dikecup lembut.

"Brengsek" gumam Kurama, kata-kata kasar bukanlah sebuah penghinaan ataupun ejekan, tapi mensimbolkan dia senang dengan perlakuan Itachi ─tsundere─.

"Haha" Itachi tertawa kecil, "Kurama kapan kau kembali nanti?" tanya Itachi

"Aku tidak tau. Mungkin masih tiga bulan lagi" kata Kurama

"Begitu. Berarti hanya Naruko yang akan menetap di sini, iya kan?" kata Itachi

"Sepertinya. Hey Itachi" panggil Kurama

"Hm?"

"Apa menurutmu...dunia benar-benar akan menerima kita? Maksudku, kita sama-sama mempunyai nama dan berada di rangking atas pada posisi dunia, dan..kita lelaki" kata Kurama mencemaskan masa depan hubungan mereka.

Itachi tersenyum, tangan Kurama digenggam oleh Itachi, "Tidak apa-apa. Sasuke dan Naruko saja bisa menerima, maka duniapun iya. Memang tidak semua, tapi setidaknya masih ada yang mau menerima, terutama keluarga. Dan lagipula, proyek baru kita akan mendobrak pasar dunia. Jangan khawatir, aku akan selalu ada di sisimu dan selalu mencintaimu" Itachi tersenyum lagi, tangannya tergerak untuk membelai lembut pipi Kurama.

"Apa hanya aku saja yang merasa senyumanmu itu semakin terkesan mesum bagiku" kata Kurama, memasang wajah ngeri

Itachi malah tertawa kecil lagi, "Apa hanya aku saja yang merasa sikapmu yang tsundere semakin tsundere" balas Itachi

"Mau mati?" ancam sebal Kurama tidak terima dirinya dibilang tsundere

"Di tangan pria tampan menggemaskan sepertimu tidak masalah bagiku" goda Itachi.

Kurama memutarkan matanya. Lalu secara tidak sengaja mata Kurama melihat sesuatu sampai membuat mata Kurama membelak lebar. Kurama melihat seorang wanita datang bersama pria. Wanita itu mempunyai wajah yang membuat Kurama murka. Wanita yang telah menghancurkan kebahagiaaan Kurama, wanita kurang ajar yang pintar bersembunyi dari kejaran keluarga Namikaze. Kurama langsung berdiri dilanjut berjalan mendekati wanita itu. Itachi heran sekaligus bingung, memperhatikan dulu kemana Kurama melangkah.

"Wanita bajingan!" teriak Kurama sambil mendekati wanita itu yang baru saja akan duduk di kursi. Wanita itu terkejut melihat Kurama datang menghampirinya. Wajah Kurama terlalu seram untuk dihadapi, wanita itu memilih kabur melarikan diri cepat-cepat. "Berhenti! Bajingan jangan kabur kau!" teriak Kurama lagi, seluruh perhatian pelanggan restoran itu terarik pada Kurama yang mengejak membabi buta wanita itu. Itachi pun tidak diam saja, reflek dia mengejar Kurama secepat dia bisa. Dari kejauhan sana, tiga orang lelaki yang dua diantara mereka memakai seragam polisi, segera mengikuti arah kejaran Kurama ketika melihat Kurama mengejar seorang wanita.

Di jalan, Kurama mengejar wanita itu, di belakang Kurama dikejar oleh Itachi. Wanita itu menyebrangi jalan dan berlari berbelok ke arah jalan perumahan, Kurama mempercepat larinya supaya tidak ketinggalan jejak. "Berhenti! Keparat berhenti!" teriak Kurama di malam hari ini. Kepala wanita itu menengok-nengok ke belakang, berharap jarak diantara dirinya dengan Kurama menjauh. Kenyataannya tidak, Kurama semakin mendekat, wajahnya yang tampan terlihat seram. Wanita itu semakin ketakutan, tidak memikirkan kemana dia melangkah, asal mengambil arah belokan. Sialnya, wanita itu terjebak dalam jalan buntu.

Wanita itu berbalik badan, Kurama sudah datang dengan nafas terengah-engah. Tubuh wanita itu bergetar sampai ke kaki, ditengah kegemetaran tubuhnya, kakinya mundur-mundur ke belakang ketakutan, wajah wanita itu memucat. Wanita itu ingin mengucapkan sesuatu, tapi mulutnya terlalu kaku untuk bergerak. Lidahnya seolah dipaku oleh rasa ketakutannya. Kurama langsung mendekat dan menjepit tubuh wanita itu dengan kedua tangannya.

"Dimana adikkku?. Dimana kau menjual ADIKKU!" bentak Kurama sampai wanita itu meloncatkan bahunya dan matanya berkedip cepat. Sinar mata yang merah itu menunjukan kemurkaan Kurama.

"A─Aku─"

"KATAKAN DIMANA ADIKKU WANITA JALANG!" bentak Kurama lagi. Mata Kurama melotot seram, tubuh wanita itu semakin bergetar ketakutan. Pikiran wanita itu tidak bisa merangkai kata-kata

"A─Aku tidak tahu...aku tidak tau.." kata gemetar wanita itu. Kepalanya menggeleng-geleng untuk mendukung kalimatnya, walaupun gelengan kepalanya itu terputus-putus. Kurama semakin menjepit tubuh wanita itu.

"TIDAK MUNGKIN KAU TIDAK TAU! KAU TELAH MENJUAL ADIK BERHARGAKU! KAU HARUS MEMBERITAHUKU DIMANA KAU MENJUALNYA!" bentak Kurama lagi, tubuh wanita itu sedikit digoyangkan kaku sampai kepala Kurama haampir mempertemukan mata dengan mata.

"A-Aku sunggu tidak tau..aku benar-benar tidak tau..." kata wanita itu semakin bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca karena ketakutan

"Tidak tau..? Kau tidak tau..?" kata Kurama, kata-katanya rendah tapi tajam bercampur bergetar, "APA KAU MAU MATI?! SEBESAR ITUKAH KAU MEMBUTUHKAN UANG BANYAK SAMPAI MENJUAL ADIKKU?! GARA-GARA KAU BANYAK MASALAH YANG TIMBUL! MATRE DIMANA ADIKKU!" bentak Kurama lagi. Urat-urat leher Kurama menembus kulitnya, teriakan Kurama cukup membuat wanita itu hampir sakit telinga.

"Kurama!" Itachi akhirnya menemukan Kurama. Gara-gara ada truk lewat ketika Kurama dan wanita itu telah menyebrang jalan, membuat Itachi kehilangan jejak Kurama. Kaki Itachi langsung melangkah, memisahkan Kurama dengan wanita itu. Wajah wanita itu sudah memucat, besar kemungkinan akan menimbulkan rasa gemetaran dan air mata melihat bagaimana seramnya Kurama. "Kurama sudah hentikan" kata Itachi, mencoba untuk menarik kedua tangan Kurama yang menjepit tubuh wanita itu dengan sangat erat. Kurama tidak mendengarkan Itachi, terus mempertahankan kedua tangannya

"Apa kau mau mengalami mimpi buruk? Apa harus aku mencambuk dirimu dulu baru kau buka mulut ha?" kata Kurama menajam kembali nadanya.

"Su-sungguh...aku tidak tau..aku benar-benar tidak tau.." kata wanita itu, matanya meneteskan sebuah air mata, "─aku menjualnya begitu saja...hanya mengadakan sebuah pertemuan di dalam mobil...setelah itu aku tidak tau lagi..."

"Berapa nomor plat mobilnya?" kata Kurama tajam, "CEPAT JAWAB AKU!" kata Kurama, tidak sabaran untuk mengetahui info dari wanita itu

"Kurama sudah hentikan Kurama, ayo hentikan!" kata Itachi, jepitan kedua tangan Kurama terlalu erat, membuat Itachi sulit memisahkan mereka berdua.

"A-Aku tidak memperhatikan hal itu...maafkan aku...aku benar-benar menyesal..." kata wanita itu, Itachi tidak tega melihat wanita itu terus dipaksa oleh Kurama untuk mengatakan dimaan adiknya. Hati Itachi berteriak untuk mengungkapkan semuanya, namun Itachi tidak bisa mengatakannya. Itachi mengepal erat-erat kedua tangannya, sebelum dia ikut campur lagi dalam urusan Kurama.

"Kurama hentikanlah..huh? Jangan gegabah begini Kurama" kata Itachi, masih berusaha memisahkan Kurama

"Ikut aku kau. Akan langsung kujebloskan ke penjara. Bukan, hukum mati bagimu dari diriku sendiri" kata tajam Kurama.

"Tu-tunggu! Tuan Muda!" wanita itu tidak bisa protes maupun memberontak. Kurama menyeret tanpa pandang kelamin, kaki wanita itu sempat terseret sampai berjalan tergopoh-gopoh. Itachi terus memanggil-manggil Kurama dan mencoba melepaskan tangan Kurama, tapi tangan Itachi selalu dihempas kasar bahkan terkena semprotan Kurama. Wanita itu sudah menangis ketakutan, dia terlihat seperti tidak mau mengambil sanksi atas apa yang telah dia perbuat. Seretan Kurama berhenti ketika melihat pria berkucir kuda dengan tanda luka di hidungnya. Di belakangnya, ada dua polisi berseragam.

"Selamat malam Tuan Kurama" kata pria itu, membungkuk hormat, "─saya Iruka, detektif yang mendapat tugas tentang masalah penculikan adik Anda" Iruka menyerahkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya, "─saya datang untuk menangkap wanita tersangka. Saya tadi melihat tersangka dikejar oleh Anda, tapi karena saya melihatnya dari kejauhan jadi saya sempat kehilangan jejak" kata Iruka.

"Lalu tunggu apa lagi! Cepat borgol!" kata Kurama emosi, kedua orang polisi melangkah maju untuk segera memborgol wanita itu. Wanita itu hanya terdiam pasrah, merasakan rasa takut yang luar biasa. "Jika adikku ditemukan dalam kondisi mayat, aku menuntut bayaran nyawamu" kata Kurama tajam ketika wanita itu sudah terbogol kedua tangannya, wanita itu menatap Kurama untuk menolongnya tapi Kurama mengabaikannya.

"Saya permisi Tuan" kata Iruka, membungkuk hormat lalu pergi membawa wanita itu ke kantor polisi. Itachi melangkah mendekati Kurama, tangan Itachi yang hampir menyentuh pundak Kurama tertepis kasar oleh gerakan tangan Kurama. Itachi tidak terkejut, melainkan menatap sendu Kurama.

"Apa yang kau pikirkan tadi huh? Kenapa kau tidak membantuku tadi? KENAPA KAU MALAH BERUSAHA UNTUK MENGHENTIKANKU!" kata Kurama berteriak tepat di wajah Itachi.

"Kurama" kata Itachi dengan sikap tenangnya, "─hal yang kau lakukan tadi itu adalah hal gegabah. Lagipula, dia tidak tau sepenuhnya letak adikmu─"

"Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?" tanya tajam Kurama memotong ucapan Itachi, "─gara-gara wanita itu, adikku menghilang, kedua orangtuaku meninggal kecelakaan karena mencari adikku, dia sudah menghancurkan kebahagiaan keluargaku, sebenarnya kau ini berada di pihak siapa huh?" tanya tajam Kurama, Itachi tetap memandang Kurama dalam ketenangannya, "Jangan menjadi sok penengah sementara kau bersikap seperti orang yang membeli adikku. Lama-lama kubelek isi perutmu itu" kata tajam Kurama. Itachi tersentak dalam hati. Jantung Itachi kembali berdebar kencang, perut Itachi berputar-putar, bola mata Itachi bergerak ke kanan kiri, memperhatikan satu persatu bola mata merah yang mengeluarkan sinat amarah.

"Kurama─"

"Aku tidak akan berdiam diri. Siapapun yang terlibat, entah itu hanya dalangnya ataupun orang suruhan, akan kubuat hidupnya menderita" kata Kurama tajam.

Kurama jika sudah murkanya keluar, dia tidak terhentikan. Mau salah apa benar, dia tidak peduli. Hanya mengikuti nafsu amarahnya saja. Tidak takut dengan hukuman penjara ataupun di hukum mati. Yang paling mengerikan lagi, Kurama adalah orang yang paling terkuat di grup Akatsuki (Itachi juga termasuk). Kurama memang bukan ketua, tapi Kurama memiliki kekuatan tertinggi melebih leader di Akatsuki. Sehingga Kurama mendapat julukan Kyuubi karena sifatnya yang tidak pandang situasi dan tempat jika menghajar ataupun membunuh seseorang. Dan juga orang yang paling brutal di grup Akatsuki.

Berbicara tentang grup Akatsuki, grup ini adalah grup pembunuh bayaran yang hanya diketahui oleh orang-orang pengakses deep weeb. Dan orang-orang pengakses deep web bukanlah kalangan umum. Untuk mengakses deep web, membutuhkan sebuah situs tertentu yang dimana google pun tidak bisa menelusuri situs gelap tersebut. Untuk menghubungi Akatsuki, kita perlu memiliki akun di deep web, untuk memiliki akun tersebut banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi. Para Akatsuki bisa membedakan mana data-data asli dan mana data-data palsu karena mereka memiliki seorang hacker yang mampu menerobos semua situs tanpa terkecuali sekaligus terdapat penganalisa yang sangat hebat. Selain itu, kita tidak mengetahui siapa saja para anggota Akatsuki dan berapa jumlah orangnya, karena grup ini sangatlah tertutup. Jadi jika seseorang ingin meminta sesuatu dari Akatsuki, cukup mengirim pesan pada situs yang disediakan oleh Akatsuki sendiri, entah dengan siapa kita berinteraksi tapi yang pasti keinginan kita akan dikabulkan oleh mereka. Tentu saja tagihan yang harus dipenuhi tidaklah sedikit.

Kembali ke cerita utama.

"Aku minta maaf" Itachi mengalah daripada membuat Kurama semakin emosi, "─Aku tidak memihak siapapun, aku tidak bermaksud untuk menjadi sok penengah, aku hanya bersikap supaya kau tidak gegabah. Apapun yang dilakukan gegabah, pasti akan main hakim sendiri. Jika main hakim sendiri, maka kau ikut dijebloskan ke penjara. Di sisi lain, dia wanita. Kau akan terkena pasal ganda karena main hakim sendiri sekaligus melakukan kekerasan pada wanita" kata Itachi. Mata Kurama yang marah, mengkalem karena menemukan kebenaran dari kalimat Itachi. Arah matanya dialihkan ke arah bawah, lalu membuang wajahnya ke samping bersamaan dengan pandangan matanya. Kekesalan Kurama tidak bisa hilang begitu saja. Itachi melangkah lebih dekat, memberikan pelukan untuk Kurama. "Takdir itu ada. Jika takdir sudah memanggilmu untuk bertemu dengan adikmu, maka kau akan bertemu. Tunggulah waktu, jangan putus harapanmu. 33 tahun memang waktu yang sangat lama, tapi kita tidak tau kedepannya nanti masih sama atau berubah" kata Itachi, telapak tangannya mengelus-elus lembut rambut Kurama.

Hal yang diucapkan Itachi, berlaku juga bagi dirinya. Bukannya Itachi mementingkan egonya, tapi Itachi mementingkan sesuatu yang memungkinkan bisa terhindar dari sebuah mimpi buruk. Hanya metode ini yang mendatangkan kebaikan, meskipun Itachi sudah tau akhir cerita ini tidak akan mendapati kesan happy ending.

Setelah mengantar Kurama kembali ke hotel, Itachi kembali ke rumahnya. Di kamar, Itachi melepas jaketnya. Jaket itu kembali di gantung dalam lemari. Itachi lalu melihat sebuah kotak kaca yang isinya sebuah plester bekas luka. Orang yang tidak tau apa arti plester itu, akan memandang rasa jijik dan geli. Bukannya dibuang malah dipajang. Tentu kuman, bakteri dan segala sumber penyakit bersarang di plester itu. Siapa peduli bagi Itachi. Selama benda itu memiliki kesan, Itachi akan menghargainya melebihi benda apapun.

"Naah sekarang sudah kuobati. Maaf ya, burung itu memang suka mematuk orang asing.." kata seorang gadis manis (10) yang mempunyai 3 garis seperti kumis di pipinya. Matanya bersedih "─lain kali kau harus hati-hati, dia tidak terlalu menyukai orang yang baru dia lihat" bibirnya tertarik tersenyum manis pada Itachi

Mengingat kata-kata itu, Itachi tersenyum. Apalagi wajah manis itu, matanya yang biru, rambutnya blonde bercahaya seperti matahari. Kotak kaca yang diletakan khusus ─mirip tempat terpajangnya mahkota raja─ di samping lemari, sedikit tersentuh oleh ujung telunjuk Itachi.

Apa kau baik-baik saja sekarang? Bisakah kita bertemu lagi? Aku semakin mengkhawatirkanmu

xxxxx

Di apartemen, kamar nomor 1446, ruangan kamar, duduk Naruko yang bersandar di atas kasur. Kedua tangannya memainkan sebuah tablet, kedua telinganya terpasang sebuah headset berwarna putih, di tablet itu terputar video keluarga yang dia burn dari rekaman asli. Dalam video itu, ada dua anak balita kembar identik (10bulan) yang sedang bermain. Hal yang membedakan mereka adalah kedua pipi mereka. Yang satu terdapat kumis tiga seperti kucing, satunya lagi tidak.

"Narutoooo Narukoooo" kata suara Kushina yang merekam kegiatan anak kembar mereka yang memakai baju kodok. Naruko bermain boneka beruang, sedangkan Naruto bermain miniatur ninja dan robot-robotan. Kushina mendekati kedua anak balitanya, menzoom wajah malaikat mereka berdua. "Ini anakku, namanya Naruko, lihat lucu kan dia" Kushina menzoom wajah Naruko, Naruko diam saja, mata bulat birunya sangat lucu, kepolosannya masih sangat jelas. "Eh?" tiba-tiba, Naruto muncul tanpa ada aba-aba. Kedua tangan Naruto memegang kamera Kushina/

"Bababababa, bu ba, da du du ba da tu tu tu" Naruto seolah mengikuti gaya Kushina yang setiap hari mereka kegiatannya dengan kamera handycam. Wajah Naruto menggemaskan, cara berbicaranya selalu mengikuti gaya orang dewasa, meskipun tidak ada yang tau apa yang dia katakan.

"Haha, Naruto, kau menghalangi adik kembarmu sayang. Nanti kamu juga ibu rekam kok" Kushina tertawa melihat aki lucu Naruto

"Baba duduba tutuba" Naruto melepaskan genggamannya, berbalik badan, merangkak lucu untuk duduk di samping adik kembarnya. Naruto mengangat kedua tangannya, "Baaaa! Baaa! Daa!" Naruto bersorak riang lalu menurunkan kedua tangannya, sementara adik kembarnya diam saja memperhatikan kakak kembarnya yang memang sangat atraktif.

"Hahaha, baiklaaah, ayo ucapkan salam Naruto"

Naruto mengangkat kedua tangannya, "bubaaa!" suara Naruto mampu membuat Kushina tertawa. Naruko diam saja, memperhatikan diam Naruto yang duduk di sampingnya.

"Naruto, ayo peluk adik kembarmu"

Peluk

"Bubu..dada tutu" kata Naruto memeluk Naruko. Naruko mengedip-ngedipkan matanya lucu. Kushina tidak bisa berhenti tertawa melihat malaikat kembar kecilnya ini. Naruto semakin bersorak riang saat melihat ayahnya datang bersama kakaknya, Kurama. "Nyanyan dadadudaaa!" teriak Naruto gembira sambil merangkak cepat mendekati ayahnya.

"Dada!" Naruko akhirnya bersuara, seolah tidak mau ayahnya dipeluk oleh Naruto duluan. Naruko mulai menggerakan kaki dan tangannya, menyusul kakak kembarnya.

"Kemarilah anak-anak" kata Minato tersenyum senang, tubuhnya berjongkok, tangannya terbuka lebar siap menangkap Naruto yang merangkak ke arahnya.

"Budaaabuda" kata Naruto, ketika berhasil digendong ayahnya.

"Ayah pulang" kata Minato tersenyum

"Badaduuu!" kata Naruto mengangkat kedua tangannya lagi

"Budada..dabutuu..." kata manja Naruko, matanya mau menangis karena hanya Naruto yang digendong ayahnya. Minato tetawa kecil,

"Sini, sini sayang, ayo ayah peluk" kata Minato sambil bergerak jongkok. Alhasil, Naruto dan Naruto duduk di gendong oleh masing-masing kedua tangan Minato. Kushina tidak bisa berhenti tertawa. Naruko dan Naruto memang selalu berebut untuk minta gendong Minato. Ayahnya yang super sabar, baik hati, lembut, gentle tapi tegas, benar-benar idola suami yang diincar semua wanita. Kushina bersyukur dalam hati, mendapatkan sosok Minato. Tidak hanya paras yang tampan, tapi hatinya juga tampan.

"Budada, tudabu, bububu" kata Naruto, kedua tangan bergerak-gerak ke bawah seolah minta di turunkan kembali.

Firasat seorang ayah atau mungkin memang sudah mengerti apa keinginan Naruto, "Ayah turunkan" Minato dengan senang hati menurunkan Naruto.

Saat turun, Naruto merangkak lucu menuju letak mainannya lagi. "Babababaaa!" Naruto berteriak ke arah Kurama sambil mengangkat miniatur ninjanya. Maksud Naruto adalah mengajak main kakaknya. Kakaknya yang mau berumur dua tahun ini, berjalan mendekati Naruto. Kurama mengambil miniatur makluk legenda yang bernama Kyuubi. Duduk di depan Naruto

"Oaaaa! Oaaaa!" Kurama memainkan mainan miniatur Kyuubi

"Bubu da tuya!" Naruto menggunakan mainan miniatur ninjanya. Mereka berdua bermain bersama. Selama ini, Naruto selalu bermain dengan Kurama, seleranya pun sama persis dengan selera anak lelaki. Naruto terkadang dipandang terlahir salah kelamin. Suka bertengkar, tidak mau kalah, terlalu atraktif dan suka menjambak, menggigit ataupun memukul-mukul jika keinginannya salah dikabulkan.

"Aku rasa sampai di sini dulu, aku akan merekam lagi hari-hari yang menyenangkan. Sampai jumpa" kata Kushina, mengakhiri videonya.

End

Ini sudah kesepuluh kalinya Naruko memutar video kenangan ini. Betapa bahagianya suasana video ini. Naruko kembali memutar, lalu mempause video itu saat Naruto tiba-tiba muncul di depan kamera. Wajahnya begitu dekat, hampir menutupi seluruh layar. Naruko memandang sedih wajah kakak kembarnya. Meskipun kembar identik, hanya pembedaan pipi, sifat mereka bertolak belakang. Naruto attraktif, Naruko kalem. Naruto asal maju, Naruko pikir pikir dahulu.

"Kau masih hidup. Aku membutuhkan bukti untuk membawamu kembali. Kuharap kau tidak segera menghilang lagi" kata Naruko, berbicara sendiri melihat wajah Naruto balita. Hatinya benar-benar sepi, kedua orang tua mereka meninggal setelah 2 tahun Naruto menghilang. Kedua orang tua mereka, seluruh klan Namikaze dan Uzumaki, mencari keberadaan Naruto sana sini. Namun sampai sekarang tidak ada tanda-tanda keberadaan Naruto. Hanya ketika waktu itu, Naruko mencurigai seseorang bahwa gadis kecil yang mempunyai wajah mirip dengannya dan kalung kristal biru yang kanan kirinya terdapat satu butir mutiara asli, adalah kakak kembarnya yang hilang

xxxxx

Di kedai, Naruto masih asik berbincang-bincang dengan Sakura. Tidak ada yang menyadari jika Sasuke terus melirik ke arah Naruto. Di balik wajah dingin Sasuke, hati Sasuke memuji-muji Naruto bagaimana hebatnya dia menyembunyikan semuanya. Begitu juga pemandangan wajah Naruto jika dilihat dari dekat. Naruto bersikap baik-baik saja padahal hancur di dalam, bersikap ceria padahal menangis di dalam, apalagi Naruto berakting seolah tidak mengenal Sasuke. Baru kali ini ada wanita yang tidak tertarik berurusan dengannya. Dia juga tidak membocorkan bahwa dirinya telah ditiduri oleh Sasuke. Padahal jika wanita lain, pasti terus mengganggu Sasuke dan mengancam akan menyebarkan melalui publik. Dengan kata lain, memeras Sasuke

Gagang gelas bir dipegang oleh Sasuke, diangkat untuk di teguk bir dinginnya. Air dingin mengalir di tenggorokannya. Pikiran Sasuke belakang ini tidak bisa berhenti membayangkan dan memikirkan nyonya pengutang. Apa Sasuke mulai menyukainya? Tidak. Tidak boleh. Sasuke tidak mungkin menyukai wanita yang berisik, temperamen, penggerutu, tukang asal tuduh, dan berbicara seenak jidat tanpa pandang bulu. Tipe wanita Sasuke adalah Sakura, feminim dan penyabar dan selalu memperhatikan kata-katanya.

Ya, benar. Sasuke harus berhenti memikirkan nyonya pengutang. Sasuke juga bisa mendapat cap berselingkuh, itu akan membawa bencana. Itachi akan murka, nama klannya yang terkenal berwibawa, berpendidikan, pride tinggi, jenius dan mampu menguasai suatu hal, bisa tercoreng sebagai cap tukang selingkuh. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selama nyonya pengutang bersikap semestinya maka semuanya akan baik-baik saja

"Naruto, apa kau masih tidak mau kuliah?" tanya Sakura, mengganti topik pembicaraan mereka

Naruto menggeleng. "Tidak, aku memilih mengurus Kitsune" mata Sasuke membelak lebar sekaligus menengok ke wajah Naruto. Ekspresinya terkejut bukan main. Sasuke merasa seolah waktu berhenti, perut Sasuke seperti dikelilingi kupu-kupu. "─Kuliah pun harus mendapatkan biaya yang tinggi. Bagiku untuk sekarang ini, Kitsunelah yang paling kuutamakan. Masalah diriku, tidak terlalu kupikirkan" kata Naruto, tersenyum menutupi kesedihannya. Sakura melihat iba Naruto. Hatinya mengutuk-ngutuk Sai, teganya dia meninggalkan seorang wanita yang mempunyai hati berlian ini. Sampai saat ini, Naruto terus tutup mulut atas dasar keinginannya, padahal jika Sakura berada di posisi Naruto, Sakura pasti akan menuntut Sai, membiarkan dunia tau, betapa brengseknya anak pewaris Grup Root.

"Aku akan menjadi sponsormu. Kitsune bisa tinggal di rumahku, jika kau kuliah kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik" kata Sakura bertutur kata lembut. Naruto tersenyum lagi

"Aku sudah terlalu tua" tertawa hambar "─Aku tidak bisa lagi menerima bantuanmu. Aku ingin mandiri sekarang" kata Naruto, senyuman yang menyembunyikan kesedihan. Sasuke tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti, kenapa Sasuke ingin sekali menghapus air mata yang menangis dalam hatinya itu. Sasuke ingin sekali memberikannya pelukan dan memberitahunya untuk mengeluarkan perasaannya yang sebenarnya. Sasuke meneguk gelas bir dingin lagi.

"Kuliah tidak ada batasan umur, lagipula wajahmu kan seperti anak SMA, jadi tidak akan ada yang menyangka jika kau sudah ibu-ibu" kata Sakura,

"Terimakasih, tapi aku tidak mau. Hey, kenapa jadi serius begini? Ayolah kita cerita-cerita lagi!" kata Naruto, menghindari suasana yang memungkinkan dia bisa meneteskan air mata. Sakura menghembuskan nafasnya yang semakin iba melihat Naruto. Tubuh Naruto dicondongkan ke arah Sakura, kedua tangannya terlipat di atas meja.

"Dimana anakmu sekolah?" tanya Sasuke yang akhirnya membuka mulut untuk bertanya. Selama acara perbincangan ini, Sasuke selalu diam dan tidak pernah berbicara duluan

"Konoha, SMA Konoha" kata Naruto, jujur.

Sasuke semakin membelakan matanya. 'Crap. Dunia sempit sekali' pikir Sasuke menggerutu. Jelas sekali itu adalah SMA yang dia ajar. Jadi selama ini, murid yang selalu dipuji oleh Sasuke dan satu-satunya murid kebanggaan bagi Sasuke karena kepintarannya dalam bahasa inggris meskipun bukan terlahir dari anak kaya, hanya belajar dari lagu. film barat, dan membaca buku, adalah anak nyonya pengutang?. Yah, memang ada kemiripan dari wajahnya, hanya saja matanya berbeda dan rambutnya. Hanya garis pipi bentuk kumis yang merupakan turunan dari nyonya pengutang

"Kau mengenalnya?" tanya Sakura, keheranan melihat ekspresi Sasuke yang terkejut. Sasuke langsung menarik dirinya untuk sadar dan bersikap seperti semula. Jangan sampai ada gelagat mencurigakan, Sakura lumayan pintar dalam menganalisis seseuatu. Sasuke menarik pandangannya yang terkejut ke gelas birnya, dilanjut meneguk gelas birnya. Sementara Naruto memandang Sasuke curiga, dalam pikiran Naruto, penyita KTP sedang berusaha untuk menstalker dirinya. Dasar anak orang kaya, apa-apa suka menstalker kehidupan orang

"Dia anak muridku" kata Sasuke, tenang. Tapi..

"APA?!" Naruto berteriak terkejut sampai tubuhnya berdiri. Naruto kelepasan. Sasuke meliriknya dengan tajam, Naruto langsung panik gelisah tegang dan kikuk sendiri. Sakura meloncatkan kedua bahunya karena terkejut atas suara Naruto yang menggelegar. Naruto dengan gugup bercampur tegang, berusaha untuk bersikap normal dan kembali duduk. Naruto berdeham membersihkan tenggorokannya lalu menelan ludahnya, ketegangannya berusaha untuk diselipkan dalam-dalam. "Ma-Maksudku kebetulan sekali! Iya hahaha kebetulan sekali" kata Naruto tertawa hambar. Sasuke membuang lirikannya dengan sini ke depan sana.

'Sial sial sial! Kenapa dunia ini begitu sempit! Mana aku keceplosan lagi! Argh!' gerutu Naruto dalam hati.

Bibir Naruto tersenyum kikuk, kedua tangan Naruto diletakan di atas pahanya, meremat-remat bajunya, sebelah kakinya bergetar naik turun dengan cepat, tubuhnya tegap menegang.

"Kau tidak apa-apa Naruto?" tanya Sakura. Sakura menebak jika Naruto sedang tegang.

"Ha? Tentu saja hahahahha!" tertawa semakin hambar dan garing "─Aku tidak apa-apa!" kata Naruto, kepalanya bergerak-gerak sampai miring sana sini, jelas sekali Naruto salting. "─aku hanya tidak menyangka anakku merupakan murid kekasihmu ini" senyum senyum diatas ketegangannya. Sasuke mengedip-ngedipkan kelopak matanya, menetapkan dirinya untuk percaya pada kalimat Naruto.

"Sasuke, ayo bantu Naruto membereskan kedainya sebelum kita pulang" ajak Sakura sambil berdiri

"Tidak usah tidak usah!" kedua tangan Naruto di melambai-lambai tanda menolak ajakan Sakura "─Sendiri juga bisa, kau pulang saja" lanjut Naruto

"Tuh kan aku tidak boleh lagi...kau sudah tidak menganggapku sahabat lagi ya?" kata Sakura cemberut ─pura-pura─

"Bukaaan!" Naruto berdiri, buru-buru memeluk lengan Sakura, "Bukan begitu..hanya saja─"

"Sudah diputuskan!" kata Sakura main memutuskan sendiri, wajahnya cerah ceria sementara Naruto cemberut, "─ayo Sasuke" kata Sakura mulai berjalan ke dapur untuk mengambil peralatan bersih-bersih.

"Sakura tunggu duluuu!" Naruto mengejar Sakura ke dalam. Sasuke masih duduk diam. Nyonya pengutang, kenapa dia harus berlari-lari kecil seperti itu? Sasuke hampir berpandangan sikap nyonya pengutang cute.

"Sasukeeee!" teriak Sakura. Sasuke menghela nafasnya sebelum bangkit berdiri melakukan apa yang Sakura inginkan.

Mengelap sana mengelap sini. Memalukan. Kenapa Sasuke harus melakukan pekerjaan bersih-bersih? Ini kan pekerjaan perempuan. Lagipula ini tidak ada urusannya dengan Sasuke. Gerakan tangan Sasuke yang mengelap meja terkesan terpaksa. Hatinya tidak berhenti menggerutu. "Aaah benar-benar!" gerutu pelan Sasuke sambil melemparkan kain lap itu ke atas meja, kedua tangannya berkacak pinggang. nafasnya terhela. Dirinya adalah seorang produser ternama, tidak cocok melakukan pekerjaan pembantu seperti ini.

Sasuke berbalik badan, awalnya mau protes ke Sakura karena dia tidak mau melakukan hal bersih-bersih ini, ketika melihat Naruto niatnya berubah. Di pojok sana, Naruto menyilangkan tangan kanannya di depan leher untuk menempuk-nepuk punggung belakang kirinya. Pasti nyonya pengutang itu pegal. Lalu pinggangnya di maju-majukan. Lalu pinggangnya di putar-putar ke kenan dan kiri secara bergantian. Lalu kepalanya di gerak-gerakan ke kanan kiri secara bergantian yang dilanjut dengan memutar kepalanya sambil memegang lehernya. Dadanya terangkat ke atas lalu turun bersamaan dengan helaan nafasnya. Nyonya pengutang itu kembali mengangkat kursi yang telah dia bersihakan

Sasuke tidak bisa berdiam diri. Kakinya melangkah mendekati nyonya pengutang. Kedua tangan Sasuke main rebut kursi (ala kantin-kantin sekolah) yang sedang diangkat oleh nyonya pengutang. Naruto malah terheran kebingungan, 'Ada apa dengannya? Kenapa dia membantuku?' pikir Naruto. Sasuke membantu tanpa melirik ataupun mengeluarkan sepatah kata. Bagi Sasuke tidak masalah jika saling membantu. Benar, sesama manusia memang saling membantu. Risih atas tatapan heran Naruto, Sasuke terpaksa menengok Naruto yang berdiri di sampingnya.

"Apa?" tanya Sasuke ketus

"Kau aneh" kata Naruto, memasang ekspresi ngeri

"Apa kau bilang?" tanya Sasuke tersinggung. Naruto semakin memasang eskpresi ngeri bercampur ngilu. Naruto sampai bergidik-gidik sendiri sambil melangkah menjauhi Sasuke. Sasuke berdecih kecil di belakang Naruto. Baru kali ini ada orang yang menatapnya bagaikan orang idiot sedunia.

Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Setiap Naruto akan mengangkat kursi, Sasuke selalu merebutnya seenak jidat. Semakin lama Naruto semakin kesal dan tidak tahan lagi. Naruto menengok ke arah Sakura, dia sedang menerima telpon di luar sana, Naruto memajukan langkanya untuk lebih mendekati Sasuke. Dagunya diangkat penuh percaya diri. Mata yang tajam dingin beradu dengan mata biru kristal yang emosi. "Penyita KTP, kau ini sebenarnya mau apa?" kata Naruto, menggertakan giginya. Naruto berbicara di dengan gigi-gigi yang dirapatkan, "─Jangan suka merebut apa yang sedang kukerjakan kenapa. Kau benar-benar membuatku jengkel!"

Mata Sasuke bukannya fokus ke mata Naruto, tapi malah fokus ke bibir Naruto. Sasuke ingin sekali mengecup bibir itu, lalu melumat bibir itu, mengemut bibir itu. Lalu Di saat Sasuke menikmati bibir itu, kedua tangannya bebas meremas kedua buah bola kenyal itu...

Shit!

Sasuke tidak fokus lagi jika harus berdekatan dengan nyonya pengutang. Jantung Sasuke berdebar cepat hingga bunyinya tertangkap daun telinga Sasuke. Sasuke menjadi gugup, menelan ludah bagaikan menelan sebuah biji salak. Sasuke tidak bisa menahan nafsunya lagi, kerasionalan Sasuke mulai memudar. Sasuke harus mengambil keputusan sebelum membawa dirinya masuk ke dalam jurang bencana. "Jangan dekat-dekat denganku!" Sasuke mendorong Naruto untuk menjauh darinya. Untung saja Naruto membuat kuda-kuda penahan jadi dirinya tidak jatuh ke lantai. "Kau bau minyak, aku tidak mau tubuhku bau minyak, itu bisa merusak reputasiku!" kata Sasuke protes.

Naruto langsung naik darah. "HEY!" teriak Naruto."─Jangan mendorong-dorongku begitu kenapa! Aku tau kau ini penuh dengan wewangian mahal tapi jangan memperlakukanku seperti barang bau! Tubuhku juga tidak bau minyak!"

"Tubuhmu itu bau minyak!" protes Sasuke, "─penciumanmu saja yang rusak sampai tidak mencium bau menyengat ini" tangan Sasuke menutupi hidungnya untuk memperkuat alasannya

"Aku tidak bau! Brengsek kau mati?!" Naruto menunjuk-nunjuk wajah Sasuke, kemerahan wajahnya dikarenakan emosi semakin menjalar, "─Jangan seenak jidat menghinaku penyita KTP!"

"Makanya pakai parfum!. Aku sangat anti dengan orang-orang yang berbau tidak sedap" kata Sasuke. Naruto mendesis kesal

"Dasar orang kaya menyebalkan!" teriak Naruto, "─Aku tidak akan pernah mau dekat-dekat denganmu satu incipun!" Naruto menggebuk-gebuk Sasuke "─Menyebalkan menyebalkan menyebalkan!" gebukan Naruto semakin kencang, "─KAU ORANG YANG SANGAT MENYEBALKAAAAN!" Naruto menjambak-jambak rambut Sasuke

"Hey hentikan! Rambutku bisa rontok! Nyonya pengutang! Hey!" kata Sasuke protes, berusaha untuk melepaskan jambakan Naruto yang begitu sulit

"Memangnya aku peduli! Biar saja kau botak seumur hidup! Biar sekalian jadi kembaran lampu taman!" kata Naruto semakin menjambak keras rambut Sasuke

Jambak jambak jambak

"Aduh sakit! A A Aaa!" Sasuke merintih kesakitan tapi tidak kunjung dilepaskan. Tenaga nyonya pengutang luar biasa kuatnya. Sasuke merasakan akar-akar rambutnya hampir mau terlepas, begitu juga dengan kulit kepalanya terasa nyeri. "A aa!" Sasuke semakin merintih kesakitan, kepalanya semakin menrunduk-runduk ke bawah. Tangan Sasuke berusaha untuk memisahkan jemari nyonya pengutang, namun terlalu kuat.

Sakura telah selesai berkomunikasi dengan ibunya tadi. Ibunya memang suka protektif jika pulang terlalu malam. Saat membalikan badan, Sakura melihat Naruto menjambak-jambak rambut kekasih Sakura. "Naruto hentikan!" kata Sakura saat masuk ke kedai. Sakura berusaha keras untuk melepaskan jambakan Naruto. "Naruto lepaskan kekasihku yaampun Naruto!". Suasana ribut sekali, Naruto yang berteriak-teriak mengomeli Sasuke, Sasuke merintih kesakitan, Sakura berusaha untuk melerainya, benar-benar membuat sakit telinga. Sakura tidak tahan lagi, tangan Sakura dikepal erat-erat lalu

TAK

Sakura menjitak kepala Naruto. Naruto baru melepaskan jambakannya, kepalanya terasa sangat sakit, nyut-nyutan menggerutu sakit. Sementara rambut Sasuke acak-acakan kemana-mana. Sebelah tangan Sasuke mengusa-ngusap kepalanya, rasa nyeri dan berdenyut masih terasa. "Kenapa kau menjitakku?!" protes Naruto, sebelah tangan Naruto memegangi kepalanya

"Kau menyerang kekasihku! Apa masalamu sebenarnya!" omel Sakura

"Dia bilang tubuhku bau!" Naruto menujuk wajah Sasuke dengan telunjuknya, "─Aku tidak terima itu!"

Sakura menghela nafasnya. Bisa-bisanya Sasuke dan Naruto bersikap kekanak-kanakan begini. Ini juga membingungkan, baru kali ini Sasuke kehilangan ketenangannya. Selama ini, Sasuke tidak pernah merespon orang lain, selalu dingin dan berkata seperlunya saja. Kalau Naruto sih, memang tidak berubah dari dulu. Temperamental.

"Tapi kau tidak usah menjambaknya begitu, itu namanya kekerasan!" kata Sakura

"Aah, kenapa kau lebih membela kekasihmu! Aku kan sahabatmu dari SMP! Tidak adil!" protes Naruto

"Aku tidak membela siapapun! Kau memang melakukan kekerasan Naruto!" Sakura ikutan emosi

"Kau bohong! Dia juga salah! Kenapa aku saja yang kena batunya!"

"Kubilang kau melakukan kekerasan! Jangan keras kepala cepat minta maaf!"

"Dia duluan yang mulai! Masa aku yang minta maaf! Penindasan ini namanya!"

"Iiih!" Sakura semakin emosi, sebelah kakinya dihentakan ke lantai. Sasuke bolak balik melihat Sakura dan Naruto yang adu mulut. Mereka berdua ternyata setipe. Tapi nyonya pengutang lebih berisik dan temperamental. "─CEPAT MINTA MAAF NARUTO!" Sakura berteriak kesal

"DIA DULUAN AKU TIDAK SALAH!" Naruto menunjuk-nunjuk Sasuke "─DIA SUDAH MEMANCINGKU! JANGAN PANDANG BULU KALAU MAU MEMBELA, SAKURA!"

"KAU MELAKUKAN KEKERASAN! DIA KAN HANYA BERMAIN KATA! HARUSNYA KAU BALIK MAIN KATA KALAU GITU!"

"TAPI DIA SUDAH KETERLALUAN! KENAPA KAU TIDAK MAU MENGERTI DIRIKU! AARRGHHHH!" Naruto mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

Sakura sudah memerahkan wajahnya karena emosi. Naruto terengah-engah nafasnya karena emosi. Jika sudah adu mulut begini, harus ada yang mengalah. Dari dulu memang Sakura dan Naruto suka sekali berdebat, sampai mereka harus saling jambak karena tidak ada satupun yang mau mengalah. Naruto melihat Sakura, lalu Sasuke. Si penyita KTP ini benar-benar membuat tangan Naruto gatal untuk meninjunya keras-keras. Mentang-mentang kekasih Sakura, dia bertindak seenaknya. Tidak ada pilihan lain lagi bagi Naruto selain mengalah.

"Aku akan minta maaf jika orang ini" Naruto menunjuk wajah Sasuke "─juga mau minta maaf!" kata Naruto, wajahnya cemberut

Sakura menarik napasnya, Naruto sungguh anak keras kepala. Sakura memutar badannya ke Sasuke, memberikan ekspresi lembut, "Sasuke, kau juga salah, jangan menghina sahabatku begitu"

Mata Naruto melotot, bibirnya mencibir kesal 'Apa-apaan dengan sikap lembut itu! Giliran aku saja diomel-omelin! Dasar pilih kasih!' gerutu Naruto dalam hati

"─dia agak temperamen, makanya dia bertindak sembrono"

'Aku tidak bertindak semborono Sakura! Aish benar-benar!' gerutu Naruto dalam hati lagi

"─Tolong minta maaf padanya ya Sasuke.." kata Sakura bertutur kata lembut.

Sasuke melihat Naruto, wajah Naruto mencibir kesal ke arah Sasuke dengan pelototan mata yang penuh kejengkelan Naruto. Sasuke menduga nyonya pengutang sudah siap untuk melahap Sasuke hidup-hidup. Sementara wajah Sakura terlihat 180 derajat berbeda. Sakura memberikan pandangan lembut dan keibuan kepada Sasuke. Sasuke melihat Naruto lagi, lalu Sakura lagi secara bergantian. "Oke" kata Sasuke akhirnya memutuskan. Sasuke yakin, telinganya mendengar dengusan kesal nafas Naruto.

Dalam pikiran Sakura, Sasuke dan Naruto akan menggerakan tangannya untuk berjabat tangan dan menyatakan penyesalan dari pihak masing-masing. Dalam kenyatannya, tidak demikian. Sasuke dan Naruto menggerakan tangannya hanya menyentuh kecil bagaikan gerakan menepis. Mereka enggan untuk berjabat tangan, wajah mereka pun dibuang jauh-jauh. Sakura menghela nafasnya. Mulut Sakura terbuka untuk mengatakan sesuatu, sudah terlanjur terpotong dengan gerakan kaki Naruto yang berjalan cepat ke arah belakang Sakura dan Sasuke, meletakan kedua tangannya di pinggang belakang Sakura dan Sasuke

"Sudah malam sudah malam! Ayo pulang pulang pulang!" Naruto mendorong-dorong tubuh Sakura dan Sasuke untuk keluar dari kedainya. Naruto tidak tahan lagi berlama-lama melihat penyita KTP yang selalu mendapat posisi untung.

"Naruto tunggu dulu!" Sakura berusaha untuk protes tapi Naruto tidak dapat dihentikan. Sepertinya Naruto sudah benar-benar emosi. Sakura dan Sasuke didorong penuh sampai tubuh mereka sedikit berbungkuk karena menahan tubuhnya supaya tidak mencium tanah.

"Terimakasih sudah berkunjung selamat malam!" kaat Naruto berkata tempo cepat. Kedua tangannya buru-buru menutup pintu kedai lalu menguncinya. Sakura tidak mendapat kesempatan lagi untuk berbicara pada Naruto. Sakura hanya bisa melihat Naruto yang buru-buru masuk ke dapur yang terdapat pintu belakang. Sakura menghela nafasnya. Naruto tidak berubah dari dulu, sama sekali. Sementara Sasuke diam saja, tidak mengerti kenapa hatinya menikmati melihat sikap kekanak-kanakan Naruto.

Sambil beres-beres dapur, Naruto menggerutu. "Apa-apaan Sakura, bisa-bisanya dia bersikap pandang bulu begitu! Memangnya sehebat apa si penyita KTP itu huh!? Apa dia sekaya itu sampai Sakura bertekuk lutut! Aish menyebalkan!" Tangan Naruto menggosok kasar piring yang sedang di cuci "─Padahalkan dia duluan yang mulai! Siapa suruh menghina tubuhku bau minyak! Jelas-jelas aku selalu pakai parfum!" Naruto membilas piring-piring setelah disabuni, "─tapi apa tubuhku memang bau minyak?" Naruto mulai terpengaruh perkataan Sasuke, alisnya berkerut penasaran. Sebelah tangannya diangkat, hidungnya didekatkan ke ketek Naruto untuk dicium baunya.

Snif snif

"Tidak bau" kata Naruto, "Tuh kan memang penyita KTPnya aja yang kurang ajar!" Naruto emosi lagi, tangannya kembali ke piring untuk menata di tempat seharusnya, "─jika aku zombie akan kumakan otaknya itu!" Naruto menekuk-nekuk semua jarinya bagaikan orang mau menerkan sesuatu, "─akan kupotong tubuhnya lalu kujadikan sup daging!" suara Naruto meninggi di akhir kata

Setelah semua beres dan memasukan uang hasil penjualannya ke dalam dompet, Naruto keluar dari kedai melalui pintu belakang lalu menguncinya. Kunci itu dimasukan ke dalam jaket lepis Naruto yang gombrong. Sambil berjalan pulang, Naruto memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Hari ini dingin sekali, bahu Naruto sampai terangkat-angkat karena angin menusuk leher Naruto yang tidak mengenakan syal.

Di jalan, Naruto melihat TV papan iklan di gedung sana. Iklan tersebut menampilkan promosi gedung hotel baru milik perusahaan Grup Root. Bintang utama iklan tersebut tidak lain adalah Sai. Mata Naruto terasa pedih setiap saat melihat Sai. Naruto berdiri diam memperhatikan iklan itu. Naruto pernah berpikir seandainya saja Naruto berasal dari kalangan kaya, mungkin dirinya tidak akan ditinggal oleh Sai. Naruto menarik ingusnya masuk ke dalam lagi ketika mata Naruto sudah berkaca-kaca. Naruto tidak boleh meneteskan air mata lagi.

"Naruto aku hanya ingin memberikan penjelasan..."

Ucapan Sai kembali terngiang di otak Naruto. Tatapan mata Naruto yang nanar menatap ke arah aspal sana. Hati yang sudah terlanjur terluka, sangat sulit untuk berkompromi. Apalagi luka yang ditimbulkan semakin melebar karena melihat seorang gadis kecil tidak berdosa terus dibully karena tidak mempunyai seorang ayah. Naruto kembali menarik ingusnya masuk ke dalam lagi, kelopak mata Naruto berkedip-kedip mencegah tetesan air mata keluar dari bendungannya. Naruto menarik napas sampai urat lehernya menembus kulit tan-nya. Kaki Naruto kembali melangkah meskipun iklan hotel itu masih berlanjut.

Di tengah jalan, sebuah mobil sedan putih menepi ke arah Naruto. Kaca hitamnya terbuka, sosok Iruka telihat di mata Naruto. "Paman!" kata Naruto menyapa. Wajahnya senang sekali melihat Iruka.

Iruka adalah orang terdekat Jiraya. Iruka merupakan orang yang baik, pengertian meskipun suka mengomel-ngomel karena sikap Naruto susah diatur, terlalu tomboy dan berulah sana-sini. Semenjak Jiraya meninggal ketika ulang tahun Naruto yang ke 10 tahun, Naruto tinggal dan dirawat oleh Iruka. Naruto mulai hidup mandiri ketika menginjak masa SMP. Banyak sekali jasa yang diberikan oleh Iruka, Naruto sendiri sudah menganggap Iruka adalah paman kandungnya. Semenjak Naruto hidup mandiri, Naruto jarang bertemu dengan Iruka karena kerja part time Naruto ada di mana-mana, selain itu juga Iruka sibuk kasus sana sini yang setiap hari semakin bertambah banyak

"Kau mau kemana?!" tanya Iruka, suaranya sedikit ditinggikan

"Aku mau pulang!"

"Masuklah, aku antar!"

"Tidak usah-tidak usah!" Naruto melambai-lambaikan kedua tangannya tanda penolakan, "─aku bisa jalan sendiri kok, tidak usah repot-repot paman!"

"Sudahlah ayo naik" kata Iruka, menggidikan kepala berkode masuk ke dalam mobil, "─tidak bagus wanita manis berjalan sendirian di tengah malam begini" kata Iruka

"Tapi.."

"Ayolah. Paman mohon" kata Iruka. Bibir Iruka tersenyum kepada Naruto. Bibir bawah Naruto sedikit digigit, matanya bergerak ke arah samping kanan tanda Naruto berpikir.

"Baiklah!" kata Naruto tersenyum senang. Setelah Naruto masuk mobil dan memakai sabuk pengaman, Iruka menjalankan mobilnya kembali. Sambil menyetir, Iruka mengobrol dengan cucuk dari Jiraya ini. "Nanti setelah pertigaan ambil kanan ya paman, lalu ambil jalan yang namanya Konoha" kata Naruto

"Iya. Kau sudah sangat besar Naruto, waktu berlalu begitu cepat" kata Iruka

"Ini karena paman jarang mengunjungiku dan aku juga susah menghubungi paman" kata Naruto cemberut. Iruka melirik Naruto sehingga melihat wajah manis itu cemberut. Iruka tersenyum dibuatnya karena wajah Naruto masih terlihat lucu seperti dulu

"Banyak sekali kasus yang kutangani" Iruka menyalakan lampu sen untuk menyelip mobil di depannya, "─zaman sekarang kejahatan semakin dimana-mana. Bahkan banyak kejahatan yang tidak bisa terungkap─"

"Karena uang" kata Naruto, bisa menebak kalimat Iruka. Iruka menoleh sekilas, Naruto memang tidak melihat wajahnya tapi dirinya mendengar baik-baik ucapan Iruka.

"Tepat" kata Iruka ketika kepalanya kembali fokus ke depan, "─Manusia semakin banyak uang, semakin menggunakannya dalam hal kejahatan. Di dunia ini, hanya segelintir orang yang memiliki hati nurani. Banyak sekali yang memakai topeng, mereka berpura-pura amal hanya karena diri mereka akan dicap sebagai orang dermawan. Banyak mereka yang awalnya terlihat baik, diakhir cerita berbeda 180 derajat. Lama-lama uang akan disembah oleh kaum manusia"

"Aku sih tidak mau" Naruto menggelengkan kepalanya dan Iruka melirik sebentar Naruto, "─Jika aku banyak uang nanti, akan kugunakan untuk kebaikan. Aku juga akan mengatakan salah jika itu memang salah dan benar jika itu memang benar. Ataupun ketika aku melakukan sebuah kesalahan, aku akan menanggung resikonya. Memakai uang untuk perlindungan diri, merupakan tindakan pengecut"

Iruka tersenyum, "Yaampuuuuun." poni Naruto diacak-acak oleh telapak tangan Iruka, "─Cucu Jiraya ini sudah begitu dewasa dari kelihatannya ya" Iruka tertawa kecil, "Padahal dulu kau itu benar-benar anak yang bandel dan sulit diatur. Aku sampai kewalahan menjagamu ketika kakekmu pergi bekerja" kata Iruka, mengingat betapa tomboynya Naruto waktu kecil. Iruka sampai berpikir bahwa Naruto lahir dengan salah kelamin. Bukan mirip lagi, tapi memang sikap anak laki-laki bandel!

"Itukan masa lalu, jangan dibahas paman" kata Naruto cemberut melihat wajah pamannya. Iruka malah semakin berniat untuk menggoda Naruto

"Mari diingat lagi, "kepala Iruka sedikit miring bertanda memutar kembali kenangan Iruka bersama Naruto kecil saat itu, "─waktu itu kau pernah melemparkan satu ember kotoran sapi ke rumah tetanggamu kan? Kau sungguh bandel Naruto" Iruka sedikit memajukan wajahnya ke arah Naruto, memasang wajah meledek

"Itu salah mereka sendiri!" protes Naruto, "─mereka sudah menghina kakek! Mereka bilang kepribadian kakek sama buruknya dengan tingkah lakunya! Kan itu tidak benar!" tangan Naruto bergerak-gerak seolah mengekspresikan kekesalannya, apalagi mimiknya, mendukung. "─Kakekku memang tukang mabuk dan dipikirannya mesum kemana-mana, tapi kakek orangnya jujur dan bertanggung jawab! Hati kakek juga dermawan dan baik hati! Mereka hanya mengenal kakek dari luar saja tidak dari dalam! Kan itu keterlaluan, jika memang tidak tau apapun lebih baik jangan berkomentar!" Naruto berakhir emosi sendiri

Iruka tertawa-tawa melihat emosi Naruto yang keluar. Entah karena Iruka memang mengetahui sifat temperamental Naruto atau memang Naruto yang cute, setiap kali Naruto emosi. Naruto tidak terkesan seram atau tegang. Melainkan terkesan lucu. Sifat kekanak-kanakan Naruto masih menempel utuh pada kepribadiannya. "Paman kenapa tertawa?" gerutu Naruto melihat Iruka malah tertawa tidak jelas.

"Haha, aku juga tidak mengerti kenapa aku tertawa" kata Iruka di sela tertawanya, "─dari dulu, ketika kau sedang emosi sampai mengomel seperti ini, dimataku kau tidaklah galak ataupun menjengkelkan karena temperamenmu, tapi lucu. Dirimu begitu ekspresif dan menjiwai, jadi sikapmu terkesan kekanak-kanakan"

"Paman jangan mengejekkuuu!" protes Naruto, sebelah kakinya dihentakann, "─hari ini aku sudah kalah telak, jangan menambah emosiku paman!" gerutu Naruto. Mengingat dirinya tidak diperlakukan adil oleh Sakura dan selalu berada di posisi bawah dari penyita KTP

"Haha baik baik, aku minta maaf Naruto" kata Iruka, memberikan senyuman saat melirik ke Naruto. Naruto menggembungkan pipinya sebal. "Omong-omong, apa kau sudah mengingat masa kecilmu sebelum kecelakaan?" tanya Iruka

Naruto menggeleng pelan, "masih sama seperti dulu, semakin aku mengingatnya kepalaku semakin sakit dan pening. Seolah kepalaku akan pecah sampai aku terjatuh pingsan" kata Naruto sedikit mengecilkan suaranya yang bersedih. Padahal Naruto ingin sekali tau bagaimana wajah kedua orangtuanya dan juga bagaimana kehidupannya sebelum kecelakaan itu. Yang hanya bisa Naruto ingat adalah dia berada di rumah sakit tanpa ada memori sedikitpun.

Iruka mendengar ucapan Naruto merasa iba. Naruto sebenarnya bukanlah cucu kandung Jiraya. Naruto hanya ditemukan oleh Jiraya di tengah jalan saat tengah malam dengan hujan yang deras. Naruto mengeluarkan banyak sekali darah, terutama kepalanya. Jiraya bilang, hampir saja Naruto terkena geger otak karena benturan di kepalanya yang lumayan keras. Jiraya tidak tau apapun tentang Naruto saat itu, tapi dipastikan bahwa anak kecil ini bernama Naruto, karena terdapat sebuah gelang aluminium terukir nama NARUTO

Iruka menarik napasnya, Iruka ingin menceritakan semuanya tapi Jiraya melarangnya. Jiraya ingin memorinya yang hilanglah yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam dirinya. "Bersabarlah, nanti juga ingatanmu kembali" kata Iruka, tersenyum ketika menoleh ke Naruto, "Aku yakin cepat atau lambat, jika memang sudah saatnya kau pasti menemukan potongan puzle dari memorimu untuk bisa menjawab pertanyaan yang berada dalam dirimu"

"Aku juga berharap begitu" pandangan Naruto teralih ke jalanan yang gelap, "Aku ingin sekali tau bagaimana wajah kedua orangtuaku, siapa mereka, dimana mereka, bagaimana kondisinya. Kakek sangat pelit memberitahuku siapa kedua orangtuaku, padahalkan diantara ayah dan ibuku adalah anaknya kakek, iya kan paman?" Naruto memasang wajah mencari dukungan atas pendapatnya.

Sayangnya, Iruka hanya bisa tersenyum. "Oh ya Naruto" kepala Iruka maju-maju kebingungan melihat atas karena tidak menemukan nama jalan Konoha. "─Kok tidak ada nama Konoha ya?"

"Masa? Ada kok paman" Naruto ikut-ikutan memajukan kepalanya. Naruto memincingkan matanya, ada sebuah papan penunjuk jalan bertuliskan nama yang asing bagi Naruto.

"Apa masih jauh kali ya?" kaat Iruka

"Seharusnya sudah dari tadi paman, soalnya habis ambil kanan langsung kelihatan nama jalan Konoha" kata Naruto

"Ambil kanan?" Iruka menoleh ke Naruto, "Bukan lurus?"

Naruto melongo, "Paman jangan bilang ambil lurus" kata Naruto tersenyum kecut

"Paman ambil lurus, katamu lurus tadi" kata Iruka memasang wajah lugu

"Ih pamaaaaaan!" Naruto merengek kesal, "Aku bilang kan ambil kanan bukannya luruuuuuus!"

"Yang benar?" tanya Iruka malah memasang wajah pongo, "Yah berarti kita salah jalan dong!" kata Iruka mulai panik

"Ah paman bagaimana! Kan tadi jelas-jelas aku bilang ambil kanan! Aduuuuuh!" kaki Naruto dihentak-hentakan kesal. Ekspresi Naruto merengut-rengut kesal. Ini sudah malam, Naruto juga tidak kenal daerah ini.

"Terus kita harus bagaimana?" tanya Iruka kebingungan bercampur panik. Naruto jengkel kepada Iruka. Beginilah akibatnya jika mengobrol dengan Iruka, suka salah jalan!. Naruto mengambil ponselnya dari dalam tasnya, mencari jejak GPS-nya Kitsune.

"Kita ikuti saja peta di map ini, aku melacak GPS Kitsune" kata Naruto, memberikan instruksi kepada Iruka. Iruka pun tanpa ada basa-basi lagi mengikuti instruksi Naruto untuk berbalik arah.

Setelah memakain waktu dua kali lebih lama, akhirnya Naruto tiba di rumah. Setelah mengucapkan terimakasih pada pamannya, pamannya melaju pergi untuk kembali pulang ke rumah sendiri. Naruto masuk ke dalam, suasana sepi semakin terasa sepi ditambah sunyi. Naruto membuka kamar tidur Kitsune dengan kunci serep, malaikat kesayangannya sudah tertidur pulas dibalik selimut yang menutupi dirinya sampai setengah wajahnya tenggalam. Naruto tersenyum lembut, mengusap kepala Kitsune lembut lalu mencium lembut kepala Kitsune. "Mimpi Indah tuan putri" bisik lembut Naruto tidak melepaskan senyumannya

Naruto melihat jam, sudah jam setenga dua. Ini semua gara-gara pamannya itu, jika tidak salah mengambil jalan mungkin Naruto akan sampai di rumah sekitar jam 1an. Naruto merasakan pegal-pegal di ototnya. Sebelah tangan Naruto memegang belakang lehernya dan memutar-mutarkan lehernya. Naruto berpikir mandi air hangat pasti akan merasa lebih baik.

Kamar mandi Naruto terdesain begitu sederhana. Hanya ada bak mandi, gayung, toilet duduk dan kaca kecil menggantung di dinding. Naruto harus menunggu 15 menit dulu untuk mandi air hangat. Sambil menunggu, Naruto tiduran di kasur sambil memainkan ponselnya. Bukan seperti orang kebanyakan yang sibuk mengecek jejaring sosial, Naruto sibuk bermain Clash of Kings. Naruto suka gregetan sendiri jika seseorang telah menyerang kastilnya dan membuatnya kalah telak. Bahkan sampai Naruto mengutuk siapapun yang membuatnya kalah telak tersebut.

Setelah menunggu sampai 15 menit, Naruto mulai membuat air panasnya untuk mandi di ember. Naruto pun mandi keramas untuk menghangatkan badan.

xxxxx

Waktu Naruto mandi, sama dengan waktu Sasuke mandi. Jarak rumah Sasuke sangatlah jauh dari kawasan umum. Kawasan rumah Sasuke adalah kawasan perumahan-perumahan super elit yang jarang berkomunikasi satu sama lain dan sangat terjaga keamanannya. Jika Naruto harus mengguyur seluruh tubuhnya dari ujung kepala dengan gayung, Sasuke hanya membutuhkan shower. Kepala Sasuke terdongak ke atas dengan mata yang terpejam, menikmati guyuran shower yang hangat.

Setelah selesai, Sasuke segera mengeringkan tubuh. Keluar dari kamar mandi, Sasuke hanya menggunakan sebuah handuk untuk menutupi bawahnya. Dada bidangnya yang sempurna terekspos kemana-mana. Tangannya bergerak mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil melangkah menuju lemari untuk berpakaian.

xxxxx

Selesai mandi, Naruto malah hanya memakai dalaman saja ketika keluar dari kamar mandi. Mentang-mentang tidak ada orang, Naruto berpakaian sesuka hatinya. Dada yang sempurna, bokong yang ideal, kaki yang jenjang, perut yang masih ramping (meskipun sudah melahirkan), membuat setiap pria yang melihatnya ngiler untuk menyetubuhi Naruto. Tubuh Naruto masih terlihat tubuh-tubuh anak gadis SMA. Bagaimana bisa begitu?

Naruto tidak melakukan namanya diet ataupun perawatan. Yang hanya Naruto lakukan adalah lari sekencang-kencangnya setiap pagi karena selalu saja ada orang mesum yang menjahili Naruto dan bertarung dengan seorang pria atau preman yang mencari gara-gara maupun membela seseorang yang sedang dipalak ataupun tertindas oleh mereka. Karena itulah tubuh Naruto masih terlihat sempurna meskipun sudah pernah melahirkan dan makan banyak.

Ketika membuka lemari pakaian, Naruto melihat jas penyita KTP, "Oh iya aku lupa mengembalikan ini" Naruto mengambil jas penyita KTP yang digantung. Naruto melangkah menuju kasur, meletakan jas itu di atas kasur. Setelah memakai kemeja kebesaran dengan hot pants, Naruto merangkak ke atas kasur. Duduk di dekat jas penyita KTP. Kakinya tersilang sambil mensilangkan kedua tangannya juga, tanda otak Naruto berpikir keras.

"Hmmm..." gumam Naruto, "─Bagaimana aku mengembalikannya?. Tidak mungkin aku menitipkannya ke Sakura, dia bisa curiga. 'Naruto, kenapa jas Sasuke ada di tanganmu'" Naruto mengikuti gaya bicara dan mimik wajah heran Sakura, "─pasti dia menanyakan begitu. Sakura itu orangnya kan gampang curigaan. Aaargghhh! Bagaimana iniiii!" Naruto mengacak-ngacak rambutnya yang masih basah, "─apa aku langsung datangi dia secara pribadi?. Tapi aku kan tidak tau dimana rumahnya. Kantornya? Apalagi, aku tidak tau." Naruto semakin berbicara sendiri, "─apa yang harus kulakukan?... apa yang harus kulakukan?...hmmm..." mata Naruto bergerak melihat sekeliling kamarnya. Pandangannya terkunci di sebuah gulungan kertas kado sisa di samping lemarinya. "Itu dia!" Naruto menunjuk gulungan kertas sisa kado di depan sana, "─aku gunakan saja sebagai kado! Naruto...kau memang cemerlang!" Naruto senyum-senyum bangga sendiri.

Tanpa basa-basi lagi Naruto membungkus jas itu dengan kertas kado. Setelah membungkus dengan kertas kado, Naruto mencari sosok Sasuke di google. Banyak sekali hasilnya. Naruto pindah ke image untuk mencari wajah―dingin―brengsek―minta―ditinju.

Scroll

Scroll

Scroll

Ketemu!

Naruto langsung masuk ke website yang mengupload foto Sasuke. Ditemukan sebuah profil Sasuke. "Dia seorang produser?" kata Naruto melihat jabatan yang dipegang Sasuke. "Hah. Pantas saja dia sombong sekali" gerutu Naruto, wajahnya cemberut total. Naruto tidak membaca banyak, hanya membaca dimana tempat Sasuke bekerja. Naruto masih belum sadar jika tempat bekerja Sasuke sama dengan tempat bekerja Sakura dan mempunyai marga yang sama dengan teman semasa kecilnya dulu, oleh karena itu Naruto main mencatat alamatnya di note ponselnya.

xxxxx

Keesokan paginya seperti biasa Kitsune berangkat tanpa membawa makan siang yang sudah dibuatkan oleh ibunya. Kitsune harus masuk sekolah karena tadi pagi seitar jam 7 wali kelasnya SMS untuk masuk hari ini jika memang tidak sakit. Kitsune sudah hampir mempunyai niat untuk berhenti sekolah, sudah tidak tahan lagi dibully oleh satu sekolahan. Alasan Kitsune untuk terus berjuang hanyalah karena guru favoritnya, Sasuke Uchiha. Entah kenapa Kitsune sangat menyukai Sasuke, meskipun pengajarannya tegas dan tanpa ampun jika memberikan sanksi. Sasuke juga selalu memperhatikan nilai Kitsune dan bahkan memberikan Kitsune soal cuma-cuma untuk memperdalam kemampuan Kitsune.

Sampai di kelas, Kitsune duduk diam memandang luar jendela dengan kepala tersanggah telapak tangannya. Sebelah telinganya dipasang headset yang memutar musik. Suasana kelas yang ribut, tidak terdengar oleh telinga Kitsune karena Kitsune terlalu mengabaikan keadaan sekelilingnya. Kelas Kitsune padahal sibuk membicarakan anak baru yang merupakan pindahan dari SMA elit. Mereka membayangkan pasti anak baru itu tampan, tubuhnya proposional, otaknya oke, sikapnya sempurna dan orang kaya.

Telinga Kitsune merasakan seseorang mencabut headtsetnya begitu saja. Saat ditengok siapa pelakunya, tidak lain tidak bukan adalah geng tukang bully. Kurotsuchi. Kitsune memandang kesal Kurotsuchi, kedua alisnya ditekuk tanda marah. "Pagi Kitsune" sapa Kurotsuchi dalam nada sok baik, "─kemarin kau kemana? Aku kira kau sakit jadi aku mengkhawatirkanmu" Kurotsuchi memasang senyum mencemooh. Kitsune mengabaikan Kurotsuchi dengan membuang lirikan sins lalu memasang headsetnya lagi. Baru saja headset dalam perjalanan untuk menancap ke telinga Kitsune, tangan Kurotsuchi menarik kasar headset Kitsune sampai ponsel Kitsune terjatuh ke lantai. Suara aduan ponsel dengan lantai membuat seluruh perhatian kelas terpusat pada Kitsune dan geng bully. "Hey, jangan mengabaikanku. Aku bertanya padamu anak sialan!" kata Kurotsuchi sinis sampai mentempeleng kepala Kitsune.

Kitsune jelas marah, tubuhnya berdiri dari duduknya, menghadap Kurotsuchi terang-terangan, memberikan tatapan amarah, mengeraskan rahang-rahang Kitsune, memberikan wajah menantang. Kurotsuchi hanya memandang meremehkan Kitsune, kedua temannya pun berdiri di samping kanan Kitsune. Jadi Kitsune terkepung oleh geng bully. Kurotsuchi tersenyum mencemooh.

"Apa kau? Mau menantangku?" kata Kurotsuchi sombong.

Kitsune menarik napasnya. Kedua tangannya terkepal erat-erat, ingin sekali meninju wajah Kurotschi. Tapi hal itu tidak bisa dilakukan oleh Kitsune. Kedua orang tua Kurotsuchi merupakan donatur tertinggi di sekolah SMA Konoha. Maka dari itu, Kitsune tidak berani mencari masalah, karena Kitsune tidak mau berpisah dengan guru bahasa inggrisnya.

Bel penyelamat menyelamatkan Kitsune. Suara bel membuat semua anak buru-buru kembali ke tempat karena jam pertama merupakan pelajaran bahasa inggris. "Kuurus kau nanti" kata Kurotsuchi sinis. Kitsune menarik napasnya lagi, mengatur emosi yang sudah menguap-nguap di pagi hari. Setelah mengambil ponselnya, Kitsune kembali duduk dan menaruh ponsel di laci. Untung saja saja layar ponsel Kitsune tidak pecah.

Seluruh murid menunggu dengan senang kedatangan guru tampan. Bahkan yang wanita pun buru-buru berdandan secantik mungkin pada kaca yang mereka bawa masing-masing, berharap bisa mendapatkan hati guru tampan. Tap tap tap. Suara langkah kaki sudah mulai terdengar. Tapi suara langkah kaki tersebut terdengar lebih dari satu orang. Para murid itu semakin menaruh harapan tinggi bahwa guru tampan membawa anak baru yang digosipkan mempunyai wajah tampan.

Greek

Pintu terbuka. Sosok yang terlihat adalah...

...

...

...

...

Guru Gai

"Yaaaaaaaaah!" seluruh murid kecewa. Beberapa murid ada yang memukul meja kecewa. Yang wanita memutarkan kedua bola matanya. Kecuali Kitsune, biasa saja.

Guru Gai berdiri di mimbar membelakangi muridnya. "Mammamiaaaaa! Guten Morgen Kids!" Gai memutar tubuhnya, kedua tangannya terbentang seperti di film Titanic. Wajahnya memberikan ekspresi bahagia konyol, menampilkan giginya yang bersinar kinclong kemana-mana. Murid-muridnya malah memasang wajah masam semua.

"Kenapa sensei di sini?! Kan bukan pelajaran sensei!" celetuk Konohamaru menggerutu. Gai malah tersenyum ─semakin menunjukan gigi-giginya yang kinclong kemana-mana─.

"Hahahaha!" Gai malah tertawa tidak jelas. "Apakah kalian semua merindukan sosokku yang keren ini?" Gai menyisir rambutnya ke belakang dengan kelima jemarinya dan setengah berkacang pinggang. Giginya juga masih dipamerkan

"TIDAK SAMA SEKALI!" kompak seluruh kelas emosi

Guru Gai memelas sedih, bibirnya melengkung ke bawah, tubuhnya membalik sehingga membelakangi murid-murid, sebelah tangannya menutupi kedua matanya, "Huhuhu...salah apa sensei kepada kalian..." Gai menjadi dramatis sendiri. Murid wanita memutarkan bola matanya lagi, beberapa ada yang bersender dengan lipatan tangan di depan dada sambil berdecih kesal, muid pria malah memasang wajah bete. "─selama ini sensei sudah memberikan yang terbaik...hiks..."

"ARRRGHHH! BERHENTI MAIN-MAIN SENSEI!" teriak emosi Tanishi sampai berdiri, "─SEBENTAR LAGI KAMI UTS, JANGAN MEMBUANG WAKTU!"

"Oh benar, UTS" Guru Gai kembali serius, badannya kembali menghadap murid-murid dan tegap serius. Murid-murid banyak menggerutu tidak jelas.

'Dasar gila' batin Kitsune

"─Sensei hanya memberitahu kalian bahwa hari ini ada pendatang baru" lanjut Gai

"Woooooo" sorak sebagian anak murid lelaki

"Yesss haha" beberapa murid wanita girang sampai ada yang saling tos

"Segala hal yang ada di sini pasti masih asing baginya, jadi tolong kerjasamanya. Oke kids!" kata Gai kembali bersemangat

"Haaa'i!" kompak seluruh murid

"Silahkan masuk" kata Gai. Sosok pria rambut merah, wajah tampan seperti dugaan, membuat para wanita dan lelaki terkagum-kagum. Pria rambut merah ini tinggi dan mengumbarkan senyuman saat berdiri di depan. Kitsune mengkerutkan kening, pra itu adalah pria yang melempar bola basket ke kepalanya kemarin siang.

"Sasori, tinggal di jalan Kirigakure blok B nomor 67. Pindahan dari SMA Kirigakure, salam kenal dan mohon bantuannya" Sasori sedikit tersenyum. Seluruh wanita senyum-senyum genit, bahkan saling colek-colek. Sasori memandang satu persatu calon teman sekelasnya, pandangannya terkunci pada seorang gadis berambut hitam dengan kumis di pipi. Gadis manis yang dia ditemui kemarin sore. Sasori memberikan senyuman gentle, tapi gadis manis itu hanya memasang wajah dingin.

"Selamat datang selamat datang!" prok prok prok. Sambut Konohamaru. Tepukan tangan Konohamaru diikuti oleh seluruh kelas.

"Silahkan duduk di tempat yang kosong tampan" kata Gai. Sasori membungkuk hormat sebelum melangkah duduk di samping Kitsune yang memang duduk sendiri. Sasori terkagum dalam hati, wajah gadis ini jauh lebih manis jika dilihat dari dekat. "Kita bertemu lagi, maaf ya atas─"

"Dalam KBM dilarang berbicara" kata Kitsune tanpa menoleh ke Sasori. Sasori terdiam ketika ucapannya di potong, tapi berubah tersenyum kecil lagi. Sasori tidak mempermasalahkannya. Padahal biasanya Sasori akan marah jika ucapannya dipotong oleh orang lain. Yah mungkin karena wajah gadis ini sangat manis di mata Sasori

"Sensei rasa, sudah saatnya sensei pergi. Baik-baiklah dengan anak baru. Ini agak mengharukan harus ber─"

"SUDAH CEPAT PERGI SENSEI!" usir kompak seluruh murid.

"Baik baik" kata Gai cemberut. "Sampai jumpa lagi see you next tiiiime~" kataGai melambai tangan sok selebritis sambil melangkah ke luar kelas. Masuk anak baru membuat beberapa siswa penasaran dengan sosoknya. Meja Sasori dikelilingi oleh anak-anak, ini membuat Kitsune risih. Kitsune kembali memasang headsetnya untuk menghindari kebrisikan dari kumpulan anak-anak kepo terhadap Sasori

"Sasori, kenapa kau pindah ke sini? Kan SMA Kirigakure sudah bagus" tanya Konohamaru, duduk di atas meja.

"Aku hanya bosan" kata Sasori

"Bosan?" kompak semuanya yang menggerubungi Sasori

"Kau bisa bosan terhadap SMA dan pindah dengan mudah?" tanya Kurotsuchi

"Hm" kata Sasori singkat

"Wah...Sasori kau memang sesuatu" kata Tanishi memuji kagum. Sasori dilontar pertanyaan ini itu bagaikan berhadapan dengan para wartawan pers. Sasori tidak mendengar sedikitpun suara dari calon teman sebangkunya. Gadis ini sepertinya cuek dan pendiam. Padahal bisa saja gadis ini paling banyak menanyakan hal pada Sasori karena merupakan calon teman sebangku.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara bariton yang berdeham. "Ehem!" semua anak panik kelabakan untuk duduk di bangku masing-masing. Guru itu tidak lain adalah Sasuke. Sasuke masuk berdiri di mimbar setelah menaruh sebuah laptop di meja guru.

"Attention" kata ketua kelas. Semua orang berdiri tegap. "Greeting" lanjut ketua kelas

"Morning sir" kompak seluruh kelas sambil membungkuk hormat

"Morning. Sit down please" kata Sasuke sambil membuka buku absen. Seluruh murid kembali duduk. "Who's absent?" tanya Sasuke lagi sambil mengambil pulpen di saku luar jasnya yang sengaja di cantelin

"Complete sir" kata ketua kelas

"Alright" kata Sasuke memberikan tanda centang di samping tanggal bertanda seluruh murid nihil. Sasuke melihat sekeliling, Kitsune akihurnya masuk. Tapi di samping Kitsune terdapat wajah baru. "You the red hair. Stand up and introduce yourself to me please" kata Sasuke. Sasori berdiri dari bangkunya. "In english. Speak in english" tambah Sasuke sebelum Sasori memperkenalkan diri.

"My name's Sasori. The newbie from Kirigakure's high school. Nice to meet you sir" kata Sasori membungkuk hormat

"The address?" tanya Sasuke

"Kirigakure street blok B number 67 sir" kata Sasori.

"Alright. Thanks" kata Sasuke, tidak peduli alasan apa yang membuat Sasori pindah ke SMA Konoha. Sasori membungkuk hormat sebelum kembali duduk. "Class president, the report please" kata Sasuke sambil berjalan menuju meja guru untuk duduk. Setelah Sasuke dalam posisinya, ketua kelas memberikan sebuah kertas binder berisi nama-nama anggota seluruh kelompok. Sasuke membaca setiap nama yang ada di kelompok. Aah, ini membuat Sasuke kesal. Lagi-lagi Kitsune menjadi di orang yang berpresentasi, mentang-mentang Kitsune lancar berbahasa inggris. Sasuke tidak protes ataupun menegur, melainkan Sasuke memberikan poin banyak di rapot Kitsune.

"Untuk anak baru" kata Sasuke, melihat Sasori sambil berdiri, "─pengajaran saya mungkin sedikit berbeda dengan gurumu di sekolah sebelumnya. Therefore, kamu harus bisa beradaptasi dengan pengajaran saya. Saya tidak berdasarkan buku. Saya memberikan sedikit catatan dan sisanya latihan soal dari saya sendiri. Jika kamu ingin mendapatkan nilai tinggi di rapot, turuti apa yang saya katakan. Saya tidak memaksakan kamu untuk patuh pada aturan saya. Jika kamu tidak senang, saya mengizinkanmu untuk keluar dari pelajaran saya. Got it?" kata Sasuke memberikan penjelasan pada Sasori

"Yes Sir" kata Sasori, menganggukan kepala

"Alright. Kembali ke kelompok. For the newbie, kamu akan masuk ke dalam kelompok yang kurang satu orang yaitu kelompok 5. Dalam laptop saya, sudah tersedia lima cerita berbeda untuk masing-masing kelompok. Cerita yang dibawakan berdurasi sekitar 10 menit. Tugas kalian menceritakan kembali cerita yang telah diputar dalam laptop saya. Saya akan menguji pendengaran kalian dan sampai mana kalian menangkap informasi dari apa yang kalian dengar. Catatan untuk kalian: cerita yang disiapkan bukanlah cerita anak-anak, cerita novel ataupun cerpen. Ini adalah sebuah cerita singkat yang merupakan kisah nyata dari setiap tokoh di dunia. Hear and pay attention carefully. Just once, no reply. Got it?" kata Sasuke menjelaskan peraturannya

"Yes sir..." kata seluruh murid melesu. Semua merasa berat untuk menjalaninya. Jika guru tampan bilang Just once, no reply berarti ini bukanlah pengambilan nilai biasa seperti kemarin, ini adalah pengambilan nilai untuk bonus poin. Jika mendapatkan bonus poin yang tinggi, maka nilai rapot akan tinggi. Contohnya saja jika nilai rapot aslinya hanya mendapat 60, sementara setiap pengambilan bonus poin bisa mengumpulkan poin sebanyak 20, maka di rapot akan mendapat nilai 80. Namun sayangnya sangat sulit mendapatkan bonus poin dalam jumlah yang tinggi.

xxxxx

Di restoran, baru saja Naruto melangkah masuk Genma langsung menyerbu Naruto. Kedua tangan Genma langsung menjepit tubuh Naruto. "Kau tidak apa-apa? Dimana rasa sakitmu?" tanya Genma khawatir. Naruto kedip-kedip kebingungan

"Aku baik-baik saja manager" kata Naruto polos

"Ayolah tidak usah berbohong" Genma menurunkan kedua tangannya, "─Kemarin seorang pria datang langsung kepadaku, dia bilang kau anemia dan pingsan. Pulanglah..aku tidak ingin menyiksamu" kata Genma memegang bahu Naruto.

Naruto berpikir, seorang pria? Kemarin?. Bola mata Naruto bergeser-geser melihat atas, mengingat kejadian kemarin.

"Kau libur" kata Sasuke sambil menarik Naruto menuju mobilnya

Aaah, si penyita KTP. Lagi-lagi membuat masalah dengan Naruto. Naruto memasang wajah sebal mengingat berita ngaco ini ulahnya penyita KTP. Benar-benar membawa masalah si teme orang kaya itu. "Aah kemarin itu saya ada sedikit masalah yang membuat perasaan saya kacau. Saya tidak menderita anemia kok manager, jangan mendengarkan perkataan pria itu kemarin. Dia itu cowok gila yang keluar dari rumah sakit jiwa, makanya saya ditarik keluar olehnya di jam kerja dan dipaksa suruh pulang... Hiiih! Saya sampai merinding bagaimana dia berbicara pada saya waktu itu. Untung saja saya tidak diapa-apakan olehnya. Benar-benar gila pria itu!" Mimik dan gestur gerakan tangan Naruto terlalu ekspresif dan menjiwai kata-katanya, sehingga Genma percaya cerita karangan Naruto "─Saya ini baik-baik saja manager, sungguh!" Naruto menggangguk sekali untuk mendukung perkataannya. "Maaf ya manager, saya bersikap semena-mena. Tidak izin pada manager terlebih dahulu... Maafkan saya maafkan saya" Naruto membungkuk-bungkuk meminta maaf

"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, tapi apa memang kau yakin bahwa kau baik-baik saja?" tanya Genma khawatir

"Tentu saja! Saya ini Uzumaki Naruto, orang terkuat sepanjang sejarah!" kata Naruto bersemangat. Genma tersenyum, wanita ini memang selalu meluluhkan hatinya. Genma sudah tidak sabar menantikan hari festial kembang api lusa nanti. Genma ingin membuat wanita ini menjadi miliknya dan hidup bersamanya. Genma ingin wanita ini memberikan sebuah keturunan yang sangat manis dan periang serta pekerja keras setiap saat. Membayangkan betapa bahagianya rumah tangga Genma dengan Naruto membuat Genma semakin semangat menjalani hari-harinya.

"Dasar kau ini" kata Genma tertawa kecil sampai mengacak-ngacak poni Naruto. "─Jika kau memang berkata begitu aku izinkan. Ceritakan saja apa keluhan masalahmu, aku siap mendengarkannya" Gena tersenyum

"Siap kapten!" Naruto bersemangat sambil hormat bendera. "Terimakasih banyak!" Naruto membungkuk hormat

"Selamat bekerja Nyonya Uzumaki" kata Genma memberikan senyuman

"Ha'i!" Naruto masih bersemangat. Genma memberikan senyum lagi lalu melangkah menuju kantornya. Di belakang Genma, Naruto menghela nafasnya. Jantungnya berdebar-debar jika harus mengatakan kebohongan. Naruto berharap dia bisa bertemu dengan penyita KTP secara personal, supaya Naruto bisa menghajar penyita KTP yang telah membuat berita ngaco ini.

Naruto setelah ganti baju dan menaruh paper bag yang berisi jas Sasuke di dalam loker, kaca jendela seperti biasa Naruto bersihkan dengan kain lap dan penyemprot kaca. Tangan Naruto mengelap kaca berputar-putar sampai kaca itu bening.

xxxxx

Di kelas..

Setelah 4 kelopok telah mendapatkan bonus pointnya, sekarang giliran kelompok paling akhir. Kelompok 5. Kelompok ini terdiri dari Kitsune, Sasori, Tanisi, Konohamaru dan Kurotsuchi. Sasuke yang duduk di bangku guru, tinggal memencet tombol play di sebuah video. Sepanjang video itu diputar, Sasuke duduk bersandar sambil memainkan pulpen yang pandangannya terpaku pada sosok Kitsune. Gadis kecil itu, mendapatkan paras mirip wajah ibunya dan juga tinggi badannya. Hanya saja mata dan rambutnya bukan milik Naruto. Mata dan rambut Kitsune berwarna hitam.

Tunggu dulu

Ada yang mengganjal di sini. Kitsune diperkirakan berumur 15 tahun, dan Naruto pasti berumur sama dengan Sasuke, 33 tahun. Ini mempunyai arti bahwa Naruto sudah memiliki anak saat umur 18 tahun. Mata Sasuke memandang arah bawah, bepikir menganalisa. Otak Sasuke mengingatkan diri Sasuke terhadap suatu hal.

"Penjelasan..? Apa kau berniat meminta ku kembali padamu dari penjelasanmu..? Kau pikir aku ini apa..? Kau sudah meninggalkanku..! Kau sudah memberikanku kehidupan yang menyakitkan..! Kau bahkan telah memberikan luka pada seseorang yang tidak bersalah..!"

Benar. Sai kemungkinan adalah mantan kekasih Naruto. Mata dan rambutnya memang mirip dengan miliknya Sai. Tapi sebuah kemiripan tidak menjamin adanya hubungan darah. Sasuke kembali memperhatikan Kitsune. Di sekolah ini beredar rumor jika Kitsune tidak memiliki seorang ayah. Sementara gerak gerik Sai waktu itu jelas sekali ingin membuat nyonya pengutang kembali padanya. Ada dua kemungkinan bisa terjadi.

1. Jika Kitsune kehilangan ayahnya karena meninggal, berarti Sai bukanlah sosok ayahnya. Sai hanyalah mantan nyonya pengutang yang hanya menginginkan kembali cinta nyonya pengutang karena menyesal telah memutuskan hubungannya dengan nyonya pengutang

2. Sosok ayahnya Kitsune, memang orangnya adalah Sai. Sai mungkin meninggalkan nyonya pengutang yang sedang mengandung karena perbedaan derajat mereka.

"Apapun yang kau dengar..., apapun yang kau lihat..., anggaplah semuanya tidak terjadi. Kau tau kan maksudku? Status sosial dan reputasi"

Kalimat itu, adalah kuncinya. Tapi...apa?

Sasuke mengspekulasi hal ini 30:70. Tapi meskipun ucapan itu menjurus ke nomor 2, Sasuke belum bisa begitu saja men-judge Sai. Terkadang hal yang kemungkinan kecil adalah jawabannya.

Memikirkan hal ini, membuat Sasuke frustasi. Sudahlah. Bukannya Sasuke sudah bertekad untuk tidak memikirkan nyonya pengutang?. Jadi untuk apa Sasuke pusing-pusing menganalisa sosok ayah Kitsune. Yang terpenting bagi Sasuke adalah Kitsune terus berkembang dalam bakatnya dan mampu memenuhi kriteria calon mahasiswa beasiswa yang akan disponsori langsung oleh Sasuke serta mendapatkan Kitsune di perusahaan klan Uchiha supaya klan Uchiha bisa terus meraih posisi teratas dengan bakat dan otak cemerlang Kitsune.

Video pun berhenti. Durasi selama 10 menit telah habis. "Ten minutes" kata Sasuke yang artinya, memberikan kelompok waktu 10 menit untuk bersiap-siap. Semua kelompok hanya mengandalkan Kitsune seorang. Mereka semua berdiskusi.

"Ayo Kitsune fighting! Kau bisa Kitsune!" bisik Konohamaru

"Pasti pasti! Gunakan otak cemerlangmu Kitsune!" bisik Tanishi

"Aku akan membantumu jika kau mengalami kesulitan nanti" kata Sasori

"Semangat" kata Kurotsuchi acuh tak acuh.

Kitsune mengabaikan semua ucapan satu kelompoknya. Ini memang menyebalkan, di grup kelas tiba-tiba saja namanya dimasukan ke dalam kelompok 5 dan mendapat bagian presentasi tanpa seizinnya terlebih dahulu (padahal sebelum ditentukan, banyak yang rebutan untuk menjadi satu kelompok dengan Kitsune). Tapi di sisi lain, Kitsune mendapat sebuah keuntungan besar. Dirinya hampir selalu mendapatkan nilai 100 di rapot oleh guru tampan. Kitsune yakin, Sasuke sensei telah mengetahui jika Kitsune selalu mendapatkan ketidakadilan dari pembagian tugas ini. Kitsune hanya sibuk membaca poin-poin penting yang dia catat saat mendengarkan tadi.

"Times up" kata Sasuke.

Kistune segera bangkit dari duduknya. Melangkah ke depan untuk mempresentasikannya tanpa membawa catatan apapun. "Kitsune from the 5th team. I'll retell the story but i wont make it as same as the original. I just make it become like a summary.

Microsoft cofounder and world's richest man Bill Gates is universally revered today as one of the greatest philanthropists. But it wasnt always that way. Gate's public persona has undergone a huge transformation in the 39 years that Microsoft has been around. At first..." Kitsune menjelaskan semuanya. Poin poin yang dia catat, dirangkai dengan kata-katanya sendiri. Sangat lancar dan tidak terbata-bata, bagaikan orang yang sudah terbiasa melakukan hal spontan dalam berbicara bahasa inggris. Kemampuan Kitsune membuat Sasori terpukau. Tidak hanya manis, tapi juga berbakat dan pintar. Sasori tersenyum, sepertinya gadis kecil itu telah membuat Sasori jatuh cinta pada pandangan kedua. "...when Redditor briannnf asked him a question, Bill Gates just said: "I do the dishes every night─ other people volunteer but i like the way i do it". That's the 4 great stories about Bill Gates that Show what it was really like to work with him" Kitsune mengakhiri presentasinya dengan bungkukan hormat.

Prok prok prok. Tepuk tangan meriah menjalar ke seluruh ruangan. Sang jenius berhasil menjalankan misinya.

"Perfect. Good Job, thank you so much" kata Sasuke memuji. Kitsune memberi hormat pada Sasuke sebelum melangkah ke tempat duduknya lagi. Sasuke memberikan poin kelompok 5 sebanyak 8 poin, sementara Kitsune mendapat poin 10 sendiri.

"Alright" Sasuke berdiri setelah membereskan barang-barangnya. "─Besok akan membahas sebuah kalimat. Lalu pertemuan berikutnya akan ada latihan soal untuk UTS nanti. Jangan sampai ada yang tidak masuk kecuali sakit, jika ingin mendapatkan nilai UTS tinggi"

"Yes sir!" kompak seluruh kelas

Teeet teeet teeeet

Bel tepat berbunyi. "Kelas bubar" kata Sasuke dilanjut melangkah pergi meninggalkan kelas

"Thank you so much sir!" kompak seluruh murid sebelum Sasuke benar-benar keluar

"You're welcome" kata Sasuke sambil terus melangkah. Anak-anak kembali ribut karena perut mereka berdendang untuk diisi makanan. Kitsune tanpa membereskan barang-barangnya langsung menyusul Sasuke.

"Sasuke sensei!" panggilnya. Sasuke berhenti melangkah lalu menoleh ke belakang. "Sensei, apakah sensei ada waktu? Ada beberapa soal yang ingin aku tanyakan" kata Kitsune.

"Kalau kau mau menunggu besok, aku bersedia. Sekarang aku harus mengunjungi suatu tempat" kata Sasuke

"Begitu, baik sensei. Terimakasih banyak, besok sensei bisanya jam berapa?" tanya Kitsune

"Setelah aku pulang kerja. Palingan sekitar jam 5" kata Sasuke

"Tapi sensei, di jam segitu perpustakaan hanya boleh dipakai oleh murid yang kelasnya mendapatkan pelajaran tambahan. Selain itu tidak boleh ada yang memasukinya" kata Kitsune

"Aku bisa ke rumahmu atau kau bisa ke rumahku. Lihat besok saja" kata Sasuke

"Baik sensei" kata Kitsune mengangguk mengerti

"Aku duluan" kata Sasuke

"Ha'i. Hati-hati di jalan sensei dan terimakasih banyak" kata Kitsune membungkuk hormat.

"Hm" Sasuke menganggukan kepala lalu melanjutkan langkahnya.

xxxxx

Sepperti biasa, jam istirahat Sasuke dan Naruko sama-sama keluar sekolah untuk menjalani profesi asli mereka. Berbeda dengan Sai, dia keluar sekolah untuk menemui kekasih hatinya. Sai menunggu Naruto di pinggir jalan depan restoran Genma. Sai tersenyum melihat betapa ceria dan semangatnya Naruto melayani para pelanggan. Sai akan menunggu Naruto keluar dan memberitahu Naruto untuk menghilangkan kesalahpahaman Naruto terhadap dirinya

Jarum jam tangan Sai menunjukan angka 14:00. Di waktu inilah Naruto keluar dari restirannya. Di tangan Naruto, Sai melihat sebuah paper bag. Paper bag itu diabaikan oleh Sai, tangan Sai langsung mematikan AC dan turun dari mobil. "Naruto!" panggil Sai saat kakinya melangkah mendekati Naruto yang berjalan menuju halte bis. Kepala Naruto menoleh, ekspresinta terkejut melihat Sai, Naruto langsung mempercepat langkahnya. Sai buru-buru mendekati Naruto, menangkap lengannya, "Naruto─"

"Jangan sentuh aku!" tepis kasar Naruto langsung dilajut langkah kaki yang cepat untuk segera meninggalkan Sai.

Sai mengira Naruto masih tidak mau mendengarkannya. Sai tidak punya waktu lagi untuk menunggu Naruto supaya dia mau mendengarkan penjelasan Sai. Sai memutuskan untuk berbuat nekat. Sai membuat dirinya menghalangi jalan Naruto untuk berlutut di hadapan Naruto. Aksi nekat Sai mampu membuat Naruto menghentikan langkahnya, matanya membelak lebar karena terkejut. Orang-orang yang berlalu lalangpun berbisik-bisik sampai ada yang berhenti melangkah memperhatikan Sai dan Naruto

"Naruto...aku benar-benar mohon padamu...tolong dengarkan aku...aku tidak akan berdiri maupun berhenti sampai kau mendengarkan sebuah penjelasanku" kata Sai, kepalanya terdongak untuk melihat wajah Naruto. Naruto hanya diam membeku syok. "Aku tidak peduli apapun hasilnya...aku hanya ingin kau mendengarkannya. Aku sungguh memohon padamu...dengarkan penjelasanku yang kusimpan selama 15 tahun" kata Sai melembut.

Naruto bingung, apa yang harus Naruto lakukan?

TBC


Senpaaaaai, maaf baru update sekarang:(, wifi lagi gaada, jadi saya gak update, sebenernya saya update juga di wattpad, tapi saya gabisa buka ff di hp:(, mohon maaf senpai:(, sebagai gantinya saya update dua chap sekaligus hehehe:D

Anak rajin beli tupai
Nama Tupainya adalah Tini
wahai para senpai
Bagaimaan cerita ini?:D

Mau review senpai:D

See you next time senpai:D