Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuFemNaru

Rating : T+ (maybe)

Genre : Romance, Suspense, and Mystery

Warn : gender bender, totally AU, I'm newbie, misstypo.

My Doll

New Doll

Deras hujan di pagi hari membuat matahari tidak menampakkan dirinya di Kota Konoha, dan tak ada suara kicaukan burung yang bersahutan seperti kemarin, hanya ada suara bising dari air hujan yang jatuh tepat di setiap atap rumah. Kebanyakan orang akan enggan keluar rumah di saat seperti ini, dan itu juga berlaku bagi seorang gadis yang mendudukan dirinya di ujung tempat tidur sejak satu jam yang lalu—sambil menatap secarik kertas yang berada di tangannya. Kertas itu ia dapat ketika tak sengaja menyenggol buku milik gurunya yang tertinggal—berada di meja belajar, dan terjatuh, lalu keluarlah kertas yang sekarang berada di tangannya.

"Jimat keberuntungan"

Ingin orang yang kau cintai menjadi bahagia

Untuk itu, ambil keberuntungan dengan melakukan trik ini

Semua yang kau butuhkan hanya satu

Dan kau harus memiliki: 'Cinta'

Cium dahi seseorang dengan penuh kasih sayang dan katakan sesuatu

Kemudian secara ajaib mereka akan tertarik

Bukankah itu indah?

Itulah isi kertas itu, entah kenapa Naruto merasakan sesuatu saat membacanya, mungkin teringat akan kejadian kemarin malam ketika dahinya dicium Sasuke. Memang Naruto menyadari ada sedikit rasa yang tumbuh di hatinya saat itu juga—dan Naruto tidak pernah menyangkal hal semacam itu.

Tapi Naruto tidak yakin jika Sasuke melakukan itu hanya padanya saja, bisa saja dengan wanita lain yang jatuh hati pada Sasuke, atau mungkin kertas itu bukan milik Sasuke. Entah mana yang benar, yang pasti Naruto tidak ingin terlalu naif. Walau begitu, Naruto bingung kenapa ia menatap kertas itu dengan waktu yang begitu lama...

Naruto sadar dari lamunannya ketika suara ketukan pintu depan terdengar, ia pun bergegas memakai seragam sekolahnya berwarna putih lengan panjang yang digulung sampai siku dengan rok serta dasi bermotif kotak-kotak, lalu menggulung rambutnya dengan asal—membuat gulungan rambutnya berantakan dan menyisakan poni serta beberapa helaian rambut yang membingkai wajahnya. Terkadang Naruto melakukannya karena Naruto sedang malas mengkuncir rambutnya dengan rapi.

Suara ketukan pintu semakin keras karena Naruto agak lama membiarkannya, "Iya, Tunggu sebentar!" teriak Naruto—mengingatkan orang yang menurutnya tidak sabaran di balik pintu itu.

Dengan terburu-buru, Naruto segera turun ke lantai satu dan membuka pintu perlahan, "Maaf menunggu la-"

Cup

Naruto terdiam dengan mata melebar sempurna ketika pipinya telah dicium seseorang, "K-Kyuubi!" Naruto geram dengan pria yang seenak jidatnya mencium. Kyuubi hanya menyeringai senang walau ciumanya salah sasaran. Naruto berusaha mengendalikan dirinya dengan menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan gusar, "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto setenang mungkin.

"Apa aku salah mengantar tunanganku ke sekolah?" tanya Kyuubi santai melihat Naruto dengan mata rubinya.

"Tidak," jawabnya dingin sambil membalas tajam tatapan Kyuubi. Kyuubi sudah mengira jika Naruto pagi ini sedang bad mood. Ditambah dengan Kyuubi yang menciumnya, benar-benar bad mood...

Tanpa menunggu jawaban Kyuubi, dengan cepat Naruto mengambil payung dan tasnya yang tergeletak di lantai lalu meninggalkan Kyuubi yang masih berdiri di depan beranda rumahnya. Kyuubi yang menyadari itu langsung menarik pergelangan tangan Naruto menuju pintu mobil yang sudah ia buka, dan menghempaskan Naruto kedalam mobil dengan kasar, Naruto kaget bercampur kesal ketika Kyuubi memperlakukannya secara kasar, "Apa yang kau lakukan!? Turunkan aku!" Naruto meronta marah selama perjalanannya menuju sekolah, dan untungnya Kyuubi bisa bertahan dengan rontaan kasar itu.


Kyuubi, seorang pria berambut merah dengan mata rubi yang menjadi tunangan Naruto sejak Naruto dihidupi oleh kakeknya. Naruto yang mengetahui itu tentu saja marah, ia tidak diberi tahu jika sudah ditunangkan, apalagi Naruto baru mengenal Kyuubi saat ia dipertemukan dengannya. Seenaknya saja tua bangka itu menjodohkanku dengannya, memangnya dia itu siapa, gumam Naruto kesal. Mungkin hal ini juga menjadi cobaan untuk Naruto saat ini, Naruto tetap berusaha tegar menghadapinya, setidaknya ia tetap bisa mencari orang lain yang akan benar-benar menjadi jodohnya.

Sedangkan Kyuubi sendiri sejak kecil hanya diasuh di sebuah panti asuhan yang hampir bangkrut, orang tuanya tidak pernah diketahui. Namun sejak Kyuubi kuliah, Kyuubi mencoba hidup mandiri dan menjadi lebih baik lagi. Namun semua itu tidak semudah yang Kyuubi bayangkan, dan akhirnya Kyuubi berakhir di dunia hitam dan menjadi Yakuza. Kyuubi sudah terlanjur terperosok dalam, dan akhirnya ia hanya bisa berusaha menjalani dua kehidupan yang berbeda.

Sepertinya Naruto benar-benar dalam lingkaran manusia pembunuh...


Sesampainya di depan gerbang sekolah, Kyuubi turun dari mobil untuk memberi tahu Naruto sesuatu, "Seharusnya kau lebih tenang, jika bukan aku pasti orang lain akan gila mendengar semua teriakan mu itu," ucap Kyuubi dengan senyuman mengejek. Sayangnya Naruto sudah terlalu malas untuk meladeni Kyuubi lagi, akhirnya Naruto hanya melewati Kyuubi begitu saja dan beberapa murid yang masih berada di gerbang sekolah hanya melihat mereka dengan rasa ingin tahu, dan ada dua orang yang melihat mereka dari kejauhan.

"Dasar tidak sopan," desis seorang gadis yang melihat ke arah Naruto yang menjauhi Kyuubi, sebenarnya gadis itu tidak ada hubungannya dengan mereka bedua, tapi tetap saja ada hal yang membuatnya kesal.

Datang seorang lagi menghampiri gadis itu, lalu duduk berhadapan sambil ikut melihat apa yang dilihat temannya itu, "Dia? Memangnya kenapa, Sakura?"

"Tidak ada, mungkin dia tidak tahu jika Kyuubi-senpai alumni dari sekolah ini, Ino," jawab Sakura—masih memperhatikan Naruto.

"Kau tahu 'kan, jika Naruto itu tidak tertarik dengan orang populer. Aku masih ingat saat masih kelas 1 SMA, kau ikut grup FG Kyuubi. Dan saat Kyuubi lulus, kau malah ikut grup FG Sasuke-sensei, kau itu terlalu labil," jelas Ino mengejek. Sakura yang mendengar ejekan Ino, mengalihkan perhatiannya menatap Ino marah. Lalu menggebrak mejanya keras, dan menjadi pusat perhatian murid-murid di kelasnya selama beberapa detik.

Naruto dengan santainya berjalan di koridor sekolah yang masih ramai karena hari ini ia tidak terlambat. Naruto berniat membuka pintu kelas karena sudah sampai di depan kelasnya, tapi pintu itu lebih dulu dibuka oleh seorang gadis bermata hijau yang menatapnya marah. Naruto tahu gadis itu Sakura, tapi ia bingung kenapa Sakura seperti itu. tapi Naruto tidak memikirkan itu sama sekali, jadi Naruto hanya melewati Sakura dan duduk di bangkunya yang berada di samping jendela kelas. Dan Sakura entah pergi kemana.


Sepasang mata hitam tajam melihat seorang gadis yang baru diantar oleh pria yang tidak dikenali si pemilik mata onyx, yang pasti itu membuatnya cemburu, mungkin?

"Rambut merah dengan mata rubi... itu sudah biasa, lagi pula aku baru mendapatkan boneka dengan ciri-ciri yang sama, tapi... dia berbeda, kebetulan koleksi boneka laki-laki yang ku punya hanya 2," ucapnya pada diri sendiri, seperti inilah jika Sasuke sudah berpikir pada hal yang berbau boneka, ia akan berbicara panjang lebar pada diri sendiri. Tapi hal itu sudah biasa pada seorang gadis yang masuk ke lab dimana Sasuke berada.

"Apa Sasuke-sama memanggilku?" tanya gadis itu—ikut melihat ke bawah gedung dimana pria pengantar Naruto berada.

"Apa kau tahu pria itu siapa?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Kalau tidak salah, dia adalah alumni sekolah ini tiga tahun lalu," jelasnya singkat, tentu saja ia mengetahuinya dengan cara mendengarnya tidak sengaja dari murid lain yang membicarakan pria itu, ia juga tahu kalau pria itu dekat dengan Naruto, tapi ia tidak suka menanyakan hal privasi pada temannya itu.

"Menurutmu pria itu bagaimana, Hinata?" Hinata yang dasarnya pintar langsung mengerti apa yang dimaksud Sasuke. Jika dilihat saat ini, Hinata terlihat biasa saja tapi dihatinya sudah berteriak kegirangan.

"Me-menurutku pria itu cukup bagus! lagi pula Sasuke-sama hanya mempunyai 2 boneka pria, sebenarnya aku sudah membuat baju untuk boneka pria! Saya harap bajunya akan cocok dan—" Hinata sadar dia hampir kalap, untungnya Sasuke sempat menghentikan Hinata.

"Dia hanya sebagai simpananku saja," ucap Sasuke dingin—membuat Hinata merasa bersalah karena terlalu senang.

Hinata pun membungkukan badannya berkali-kali dengan rasa bersalah yang amat sangat, "M-maafkan aku Sasuke-sama!" tak ada jawaban dari tuannya, ia berharap jika tuannya tidak marah padanya. Dengan tergesa-gesa Hinata menuju pintu keluar karena mendengar suara pertanda masuk kelas, "A-aku harus kembali ke kelasku—"

"Apa pria itu pernah melakukan sesuatu padamu? Sepertinya kau terlalu terobsesi pada pria itu," tanya Sasuke mengira, tangan Hinata yang hampir membuka pintu terhenti, kepalanya menunduk dalam—sepertinya Hinata merasakan sesuatu. Rasa sakit itu kembali lagi, padahal sudah dikubur dalam-dalam, tapi kenapa kau kembali?! Bahkan rasanya lebih sakit. Aku tidak akan membiarkan kau melukai Naruto..., batin Hinata. Sasuke bisa membaca perasaan gundah yang menyelimuti Hinata dari emosi yang dikeluarkannya, "Kau boleh pergi," Hinata segera keluar dari lab itu, lalu menuju kelasnya dengan aura hitam kasat mata yang dirasakan oleh beberapa siswa di koridor yang Hinata lewati.

"Sepertinya kau tidak mau temanmu disakiti pria itu, Hinata..." Sasuke menyeringai—menyadari sesuatu. "Aku tidak salah memilih pria itu."


Sekarang Naruto terlihat tidak nyaman duduk di bangkunya—sepertinya sedang gelisah, sampai akhirnya Hinata duduk di bangkunya yang berada di depan bangku Naruto, seketika itu juga kegelisahannya hilang. Lalu Naruto memanggilnya pelan, "Hinata!" Hinata pun melihat ke belakang, yang ia lihat Naruto sedang tersenyum seperti biasa, tak lama Naruto malah kaget dengan memundurkan bangkunya hingga menabrak meja di belakannya.

"A-ada apa, Naruto?" tanya Hinata lembut, sayangnya aura hitam masih saja menyelimutnya dari tadi, Hinata malah terlihat seperti hantu.

"Kau membuatku takut.." ucap Naruto jujur. Hinata segera sadar dari aura yang ia keluarkan, rasa bersalah kembali menyelimutinya.

"M-maafkan aku, Naruto!" pinta Hinata dengan membungkukan badannya, muncul sebuah bulir keringat di kepala Naruto akibat perlakukan Hinata yang berlebihan menurutnya.

"Tidak apa. Umm... apa aku boleh meminjam PR mu? Lagipula Kakashi-sensei belum datang," tanya Naruto dengan sangat berharap.

Hinata mengambil sebuah buku dari tasnya, lalu memberikannya pada Naruto dengan senyuman khas Hinata. Naruto yang menerimanya langsung berterima kasih pada temanya ini, lalu segera mengerjakan PR-nya.


"Sasuke sialan! Kenapa aku harus mencari data orang asing?!" suara pria terdengar dari dalam sebuah ruangan, juga terdengar suara ketikan dan sumpah serapah. Pria berambut hitam jabrik dengan jambang hitam panjang yang membingkai wajahnya, serta sepasang kumis kucing di pipinya. Ternyata Menma.

Ia ditugaskan mencari data seseorang, dan hanya di beritahu Namanya saja. Dan Menma mencari data orang yang di maksud setelah di telepon Sasuke yang masih mengajar di sekolah SMA.

Sekian lama mencari, akhirnya Menma menemukannya—walau belum pasti. Menma membacanya dengan seksama, matanya menyipit melihat orang yang ia cari tertera di website yang baru dihacknya, "Kyuubi, huh?"

TBC

maaf ya... dwi uploadnya lama... tapi mau bagaimana lagi, akhir-akhir ini dwi disibukkan dengan MOS, jadi baru bisa upload sekarang. jadi maaf ya kalo review kali ini gk di bales...

tanggal 15 juli hari ini kan? jadi selamat sasufemnaru fanday XD

Review please