Chapter 4.
.
.
.
.
Ramen yang ada dimulut mereka berdua semakin lama semakin pendek. Hinata pasrah, memejamkan mata, dan hanya menunggu bibir Naruto mencapa miliknya. Sedangkan Naruto, yang ingin melakukan hal ini lagi sejak terakhir mereka melakukannya di depan cahaya bulan, sangat agresif dan terus menyedot ramen itu. "kapan lagi ada momen romantis seperti ini?" Pikirnya dalam hati. Dengan sekuat tenaga ia menyedot ramen itu sampai akhirnya ramen itu hampir tidak terlihat lagi.
BOFFTT! Tiba-tiba muncul seekor katak ditengah-tengah Naruto dan Hinata. Nyaris saja mereka akan berciuman, tapi ada saja gangguan yang datang.
"Naruto-sama!" seru katak kecil bernama Gamatan.
"A—apa yang kau lakukan disini?!" jawabnya dengan kesal. Kaget bercampur kesal. Bagaimana ia tdak kesal, momen yang sudah dinantikannya sirna begitu saja.
"Naruto-sama, Kiba-sama memintaku untuk menanyakan sesuatu kepada Hinata-sama."
"yasudah apa, langsung saja!" Mood Naruto langsung buruk dalam sekejap.
"katanya, Mirai-sama ingin makan permen apel, apakah Mirai boleh makan permen?"
"Iya, boleh, bilang pada Kiba-kun belikan saja untuknya, nanti uangnya kuganti." Jawab Hinata.
BOFFFT! Katak itu pun menghilang. Suasana menjadi sunyi, Naruto sudah badmood, dia tidak tau harus berbuat apa lagi. Wajah Naruto terlihat sangat kusut. "Dasar katak sialan." Keluhnya pelan. Hinata tidak begitu mendengarnya, tapi raut wajah kesal Naruto terlihat sangat jelas.
"Naruto-kun?"
"Y-ya Hinata?"
"Kau baik-baik saja?"
"A-aku tidak apa apa kok" Dengan fakesmile, Naruto berusaha mengembalikan suasana
"Ah, kembang apinya sudah selesai, Naruto-kun."
"kau benar." Jawabnya lemas.
Hinata menyadari sikap Naruto berubah karena kejadian tadi membuatnya kecewa, mau bagaimana lagi, sudah berlalu. Hinata juga sama kecewanya akan Naruto. Rasanya ingin Hinata menciumnya begitu saja, tapi tidak tahu bagaimana caranya, dan terlalu malu untuk melakukannya.
Begitu juga Naruto, ingin mencium Hinata begitu saja, tapi ini akan janggal dan tidak seromantis tadi, pikirnya.
Hinata mencoba mengembalikan suasana, ia tahu mungkin ia tidak pandai melakukannya, tapi ia coba.
"Naruto-kun, kau tahu? Hari ini aku sangat senang."
"Benarkah?"
"Ya! Soalnya seharian aku bersama Naruto-kun, kencan yang biasanya kita lakukan.. hanya dari siang sampai sore, kan? Tapi hari ini seharian aku bersama Naruto-kun.." jawabnya dengan wajah senang sambil memandangi Naruto dengan penuh cinta.
Naruto balas memandangnya,
"Kau benar Hinata, aku juga sangat senang. Kemarilah, Hinata." Naruto merangkul Hinata, Sambil memandanginya.
"lupakan ciuman bodoh itu. Hinata benar, berduaan saja bisa membuatku sangat senang."
Walaupun kecewa, tapi hari ini Naruto sangat senang. Kalau hanya ciuman kan bisa dilakukan nanti. Lagipula, Dirinya dan Hinata baru satu bulan berpacaran.
Mereka hanya terdiam di atas bukit kecil itu sambil menikmati keramaian festival. Sudah malam, tetapi festival itu masih sangat ramai. Hinata menikmati bersandar di tubuh besar Naruto. Tubuh mungilnya sangat pas untuk bersandar ke tubuh besarnya Naruto. Wangi lavender rambut Hinatapun tercium Naruto dari jarak sedekat ini. Naruto mengelus kepalanya berkali-kali, meninggalkan jejak wangi lavender itu di tangan besarnya. Sesekali Naruto mencium puncak kepala Hinata. Tangan satunya menggenggam tangan mungil Hinata yang mulai terasa dingin karena embusan angin yang cukup kencang.
Ingin rasanya waktu ini berhenti saja.
Ingin rasanya bisa seperti ini saja selamanya.
"Naruto-kun.. rasanya aku ingin bersama Naruto-kun saja selamanya.."
"Tentu saja, aku akan menemanimu selamanya Hinata. Kita harus menikah, Hinata, supaya bisa hidup berdua selamanya." Jawabnya dengan suara berat penuh cinta
Hinata sedikit terkejut, dipandanginya wajah Naruto yang tepat berada diatasnya. Naruto membalas pandangannya dengan senyuman lebar khasnya yang menghangatkan.
"k-kau tahu, Naruto-kun?"
"Hm? Apa?"
"A-aku s-sangat suka,, kkalau Naruto-kun tersenyum lebar seperti itu."
Hinata mulai memberanikan diri untuk lebih terbuka dengan Naruto. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi, senyuman lebar Naruto memang selalu menghangatkan dirinya.
"Senyum lebar seperti apa? Maksudmu seperti ini?" Naruto mengulang kembali senyumannya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata.
"Kyaaaaa.. i—iya seperti itu.. Kami-sama, rasanya jantungku ingin meledak." Jawabnya sambil menutupi kedua wajahnya yang kini seperti udang rebus.
"eehh, kenapa kau menutupi wajahmuu? Lepaskan tanganmu Hinata, kalau begini aku tidak bisa melihat wajah cantikmu kan?" Naruto berusaha melepaskan tangan Hinata, tapi karena saking malunya Hinata entah kenapa tangannya menjadi susah dilepaskan.
Lagi-lagi ada saja hal yang membuat Hinata blushing dan salah tingkah seperti ini.
"memangnya kenapa kamu suka kalau aku tersenyum seperti ini?"
"eeeh..itu karena.." tangan Hinata yang tadinya menutupi seluruh wajahnya kini mulai memperlihatkan sepasang mata lavendernya.
"karena apa?"
"Karena se-senyum Naruto-kun yang seperti itu selalu menghangatkan diriku!"
"eeh?!" Naruto cukup kaget, senyum yang menurutnya biasa dan selalu dilakukan untuk siapa saja, bisa menghangatkan seorang Hinata?
"Padahal ini hanya senyum lebar biasa, Hinata."
"tapi.. tapi Naruto-kun, asal kau tahu saja, aku yang dulu, aku yang selalu sedih dan murung, selalu kembali semangat ketika aku melihat senyum lebar Naruto-kun! Rasanya jika aku tidak pernah melihat senyuman itu, aku menjadi pemurung sampai sekarang."
"Senyum-mu, menyelamatkanku, Naruto-kun!"
Wajah Hinata terlihat serius ketika mengatakannya. Naruto akhirnya menyadari, Hinata menyukai senyuman ini bukan hanya karena dia menjadi terlihat tampan atau semacamnya, ini tidak seperti Ino dan Sakura yang menyukai ketampanan Sasuke, tidak seperti fans-fans Naruto yang menyukai dan meneriakinya jika Naruto lewat atau memeragakan jurus.
Hinata menyukai senyuman Naruto itu, karena pengaruh yang diberikan senyuman itu kepadanya
"tidak kusangka, Hinata."
"Kenapa?"
"Senyumanku ini.. bisa menyelamatkan seseorang. Dan terlebih lagi, orang itu adalah orang special bagiku. teehee" Naruto mengeluarkan senyumannya lagi.
"Naruto-kun, Arigatou. Kau telah menjadi pahlawanku, dan kau telah menyelamatkan hidupku."
"Douitashimashite, Hinata, Aku mencintaimu." Dipeluknya Hinata dengan sangat erat.
"Aku—aku juga sangat mencintai Naruto-kun!"
….
"Naruto-kun?"
"ya?"
"sepertinya kita sudah terlalu lama disini. Bagaimana jika kita kembali? Aku khawatir pada Mirai."
"Baiklah, ayo kita pulang."
Diperjalanan pulang mereka berpapasan dengan Kiba, Shino, dan Mirai yang terlihat sangat riang menunggangi Akamaru.
"ah, kalian sudah selesai? Kami juga baru saja selesai. Lihatlah semua mainan yang dibeli Mirai!" tunjuk Shino.
"gomen ne… Shino-kun, aku merepotkan kalian ya?" Tanya Hinata dengan wajah lemas
"tidak.. tidak apa kok, Shino memang berlebihan, Hinata! Kalau begitu kita pulang dulu ya, Hinata, Naruto, Mirai-chan, jaa!"
"Kalau begitu kami juga, jaa Shino, Kiba. Ayo Mirai-chan, kita pulang!" Ajak Naruto
"Hinata, kamu gendong Mirai saja, bonekamu dan ssemua barang bawaan Mirai biar aku saja yang bawa."
"kamu tidak kerepotan, Naruto-kun? Barangnya kan banyak sekali."
"tidak kok, ayo kita pulang."
…
"fyuuh, akhirnya sampai juga." Brugh! Naruto langsung membanting tubuhnya ke sofa
"Lihat, Naruto-kun, Mirai-chan tertidur.. ah dia manis sekali. Biar kupindahkan ke tempat tidur."
Hinata membaringkan Mirai di tempat tidur. Hinata duduk di tepi kasur untuk menyelimutinya, Naruto duduk di sebelahnya.
"Benar, dia manis kalau sedang tidur, beda kalau sedang bangun, dia tidak bisa diam dan menyebalkan."
"tidak boleh bicara begitu Naruto-kun, Kan, nanti kita juga punya anak."
"Kau benar Hinata.. berkat Mirai-chan ini, setidaknya aku tahu bagaimana caranya merawat anak."
"Kau harus berterima kasih padanya, Naruto-kun hihi."
"Terima Kasih, Mirai-chan, kau telah membantuku mengetahui cara merawat anak untuk masa depan nanti."
Mereka memandangi wajah Mirai yang tertidur pulas. Rasanya damai dan tentram sekali. Hinata sesekali mengelus-elus rambut Mirai dan bersenandung kecil. Naruto yang tadinya memandangi wajah Mirai, kini memandangi Hinata dengan intens. Dipandangi wajah cantiknya yang begitu tulus, bibir kecilnya yang bergerak-gerak menyenandungkan sebuah lagu pengantar tidur, gesture tangan lembutnya yang sedang mengelus-elus rambut Mirai, semuanya terlihat begitu indah di mata Naruto.
Hinata sangat cantik.
Dia begitu keibuan.
Kasih sayangnya begitu tulus.
"Hinata?"
"Hm?"
Cup!
Naruto langsung menciumnya begitu saja, melihat keindahan yang ada di diri Hinata membuatnya refleks melakukan ciuman itu. Tangannya mulai memeluk pinggang kecil Hinata dengan erat. Memaksa tubuh Hinata untuk lebih menyatu dengan miliknya. Hinata menikmatinya, dia membalas pelukan itu dengan memeluk leher Naruto. Tidak ada dari mereka yang ingin melepaskan ciuman dan pelukan itu, baik Naruto maupun Hinata.
