Dibalik tampang santai-nya

Yang memancarkan keramahan

Dia menyimpan pilu yang amat sangat

The Connect Of Two World

LalaNurrafa GemasangkalaOke

RiehanRih Blackheart

Song: Always-Bon Jovi

Warning: GaJe, Abal, OC,OOC, Typo(s), dan banyak lagi…

DON'T LIKE DON'T READ

Chap 4: The Girl Without the Sad Face.

~~oo00oo~~

Setelah Machi pulang, Riku dan Rika masih terdiam. Tak ada yang berani bersuara kecuali jangkrik yang dipelihara Rika di kamar Riku *sejak kapan Riku pelihara jangkrik? Anggap saja iya*.

"Kakak yakin mau melakukannya?" tanya Rika pada kakak satu-satunya itu.

"Kita harus menolong mereka sebisa kita." Kata Riku.

"Tapi, kak… resiko-nya sangat besar! Kemungkinan kakak gak bisa kembali lagi kemari!" kata Rika.

"Itu resiko yang harus kita ambil." Kata Riku. "Sudah. Kembalilah ke kamar. Aku tak ingin diganggu." Kata Riku. Rika akhirnya meninggalkan kakaknya yang terlarut dalam pikirannya.

~~oo00oo~~

Riku berjalan menuju kampusnya sambil terdiam. Berfikir tepatnya.

"Riku-san." Panggil seorang perempuan. Yang satu berambut hitam panjang di kepang, yang satunya lagi berambut hitam pendek dengan topi putih menempel di kepalanya.

"Ah. I… iya. Ada apa?" tanya Riku sambil berbalik.

"Kau baik-baik saja, kan?" tanya Rie.

"I… iya. Aku baik-baik saja, kok." Kata Riku. Ia melirik ke arah Machi. Machi masih menunjukan wajah dingin-nya.

"Aku duluan dulu." Kata Machi sambil berlalu. Rie dan Riku hanya memperhatikan-nya.

"Ada apa dengannya?" tanya Riku.

"Kau gak akan percaya dengan tampang cuek-nya dan sifat judes-nya itu dia menyimpan kenangan pilu." Kata Rie masih menatap Machi yang terus berjalan menjauh.

"Memang ada apa dengannya?" tanya Riku.

"Yaaahh…"

Flashback.

Sosok anak perempuan kecil berambut panjang sepunggung memegang pipinya yang memerah karena ditampar dengan keras oleh ayahnya. Meski usianya baru 5 tahun, ia sama sekali tidak menangis. Itu sudah biasa baginya.

"Kalau kau tak mau sungguh-sungguh disini, lebih baik kau pergi saja!" hardik ayahnya. Gadis kecil itu hanya terdiam. Sosok ayahnya pergi meninggalkannya.

"Memang apa salahku…" pikir anak itu.

Machi, bukan. Spica Nichola. Ya. Sejak dulu, ia selalu dididik dengan keras oleh ayahnya. Itu membuatnya tumbuh sebagai anak yang pemberontak, kasar, dan dingin. Tapi bagaimanapun, dia tetap perempuan. Hatinya bisa rapuh. Sayangnya ia selalu menutupinya. Seluruh kesedihannya ia simpan sendiri di hatinya. Justru kesedihan itu membuat hatinya semakin pilu. Ibunya pergi meninggalkan mereka sejak Spica masih 3 tahun. Sampai sekarang, semua kesedihan itu terkubur sendiri.

Sejak betemu dengan Rie, hampir seluruh kesedihannya hilang. Tapi sisa-sisa didikan ayahnya yang kasar masih berbekas di hatinya. Awalnya mereka bertemu saat masih SD. Saat itu, mereka gak sengaja menumpahkan air keran ke seorang senior dan dihukum membersihkan semua ruang kelas. *jika di SD itu 6 tahun dan kelas itu dalam bentuk A-B-C, jadi mereka disuruh membersihkan 18 KELAS!*. sejak saat itu, mereka akrab dengan sendirinya.

Sejak bertemu dengan Rachel, seluruh kesedihan di hati Spica menyusut. Tapi sejak peperangan itu terjadi dan mereka terpisah dengan Rachel, Spica merasa kehilangan. Dan kesedihan itu kembali dengan sendirinya.

Setiap kali ia ingin menangis, ia selalu menahan tangis itu. Membuat hatinya makin pilu.

~~oo00oo~~

"Begitulah. Kasihan kan dia?" kata Rie sambil mengingat masa lalu.

"Sama sekali tak kusangka…" kata Riku sambil menggelengkan kepalanya.

"Begitulah dia. Selalu berusaha tangguh di depan orang. Tak ingin dibilang lemah. Selalu ingin jadi kuat. Begitulah dia. Sifatnya yang dingin itulah hasil-nya." Kata Rie.

Riku terdiam sejenak. Riku ingat, dulu dia pernah juga merasakan pilu saat kalah di pertandingan lawan Oujo. Dan saat harapan Seibu pupus untuk maju ke final dan kembali menantang Devil Bats. Dan juga saat kalah pertandingan lawan Saikyoudai. Semua itu memang kenangan yang pahit. Tapi sama sekali tak disangka ada orang yang sampai batinnya sudah terlalu disiksa seperti Machi bisa sebegitu tahannya untuk tidak menangis.

"Dia itu perempuan, tapi bisa setangguh itu, ya." Kata Riku sambil tersenyum. Memang Machi itu berbeda dengan para gadis fans-nya yang bisanya hanya merayu Riku saja.

"Karena itu juga yang membuat dirinya semakin dewasa dan memahami keadaan apapun yang terjadi." Kaat Rie.

"Aku ingin menghiburnya." Gumam Riku tiba-tiba.

"Eh? Apa?" tanya Rie.

"Rie. Apa lagu kesukaan Machi?" tanya Riku.

"Ehh… dia ituuu…"

~~oo00oo~~

SEPULANG KAMPUS…

Riku berjalan disekitar kampus. Mencari sesosok perempuan dengan tampang sinis *dingin tepatnya. Atau yang jauh lebih tepat adalah poker face*.

Riku tak menemukan sosok perempuan berambut pendek seleher itu.

'Akkkhhh… kemana sih anak ituuuu!' jerit Riku dalam hati.

Riku yang sudah putus asa akhirnya berjalan menuju lapangan football yang selalu dipakainya saat latihan bersama teman-temannya yang lain. Dan disitu Riku menemukan sosok yang ia cari sejak tadi.

Machi masih tampak terdiam menatap lapangan football itu. Entahlah. Sepertinya ia memikirkan sesuatu.

Flashback.

Seorang gadis berambut hitam sepunggung sedang berjalan dengan santainya. Usianya baru menginjak 11 tahun. Dia melirik ke sana-kemari. 'Aku harus kemana?' batinnya.

"Hei! Kau! Awaaass!" teriak seseorang.

"Ha?" gadis itu melirik ke arah suara itu. Sebuah bola lonjong berwarna coklat dan memiliki jahitan di tengahnya melayang ke arahnya. Memang dasar gerak reflek-nya yang terlalu tiba-tiba membuat ia jadi menendang bola itu.

"Maaf! Kau gak apa-apa?" tanya seorang anak laki-laki berambut hitam.

"Iya! Gak apa-apa! Siapa kau?" tanya gadis tadi.

"Namaku Rachel. Kau?" tanya anak laki-laki tadi –Rachel.

"Spica." Kata gadis tadi –Spica alias Machi.

"Bola apa itu?" tanya Spica sambil menunjuk bola yang dipegang anak itu.

"Ini bola American Football." Kata Rachel semangat.

"American Football?" tanya Spica.

"Yaahh… itu mungkin agak asing di telingamu. Olahraga ini kasar. Tidak seperti olahraga pada umumnya, dalam olahraga ini ada 3 dasar. Yaitu speed, taktik, dan power. Ada tim yang memakai satu diantara ketiga dasar ini atau ada pula yang memakai ketiganya secara bebas. Yang membedakan olahraga ini dengan olahraga lain adalah olahraga ini diharuskan menjatuhkan lawan dengan kasar." Jelas Rachel.

"Apa tidak melanggar peraturan?" tanya Spica.

"Tentu tidak! Karena aturannya memang begitu!" kata Rachel.

"Wow! Aku tidak tau, lho." Kata Spica.

"Hehehe. Dari kecil aku suka olahraga ini." Kata Rachel sambil tersenyum.

"Hei. Kau mau mengajariku, tidak?" pinta Spica.

"Boleh! Ayo!" kata Rachel.

~~oo00oo~~

'Setiap kali melihat lapangan ini, aku teringat Rachel…' batin Machi. Ia merasa dadanya sesak.

"Nggak. Aku gak boleh menangis." Kata Machi.

Saat Machi masih terdiam, Riku menghampirinya.

"Ada apa?" tanya Machi,

"Aku mengerti perasaanmu." Kata Riku.

"Maksudmu?" tanya Machi.

"Gak salah kok kalau kau menangis. Kalau ditahan, nanti hatimu malah makin sakit." Kata Riku.

"Aaahh… tau apa, kau?" kata Machi kasar.

Riku terdiam menatap Machi. Ia menghela nafas. Riku lalu bersenandung kecil.

"This romeo is bleeding
But you can see his blood
It's nothing but some feelings
That this old dog, kicked up

It's been raining since you left me
Now I'm drowning, in the flood
You see I've always been a fighter
But without you, I give up

Now I can sing a love song, that away is meant to be
Well, I guess I'm not that good anymore
But, baby that just me

Yeah I, will love you
Baby, always…"

"Kau…" kata Machi terputus. Riku tersenyum pada Machi hingga membuat wajah Machi panas.

"I'll be there forever and a day
Always
I'll be there till the stars don't shine
Till the heaven burst and the worst don't rhyme
And I know when I die, you'll be on my mind
And I'll love you
Always…"

Riku baru membuka mulutnya untuk melanjutkan lagunya, tapi mulutnya sudah ditutup oleh Machi.

"Hei. Kenapa…" kata Riku terputus saat melihat senyum Machi.

"Terima kasih. Aku senang." Kata Machi lalu pergi meninggalkan Riku yang bengong.

Riku terdiam. Ia merasakan hatinya berdebar. Ia tadi merasa senyuman Machi manis sekali. Tanpa sadar, Riku tersenyum.

TBC.

Lala: Fuwaaahh… capek nih gueee…

Riku: Sabar, ya. Siapa suruh ide lo tanpa sadar ngumpul banyak begitu?

Lala: Ya elaaahh… lagian gue itu gak tau, gue lagi ngetik tau-tau pas lanjutin kepikir mau nulis apa hanya dengan 0.001 secon aja. -_-

Riku: Lu emang… -A-

Lala: Au, ah. Hehehe. Sori ye readers. Kali ini saya telat apdet-nya. Habis saya lemes. Bukan gegara puasa, tapi pas saya lagi damai-damainya puasa mendadak… yaaahh… kalian tau, lah. Apa yang dialami perempuan saat remaja. -_-. Dan lagi saya awal-nya gak kepikiran ide. Eehh… ternyata…

Riku: Apa? Sekali lempar dua burung kena?

Lala: Bukan. Dua kali lempar, gaakk… dapet-dapet.

Riku: Bleh!

Lala: Hehe. Gak lah. Saya emang rada bego soal begini. Mana saya lagi demam gara-gara sariawan (sialan) yang bertengger di mulut saya. Hiksu.

Riku: Menderita amat hidup lo.

Lala: Haha. Gak lucu! Yaudah lah. Review?