Yap, bikin Kyuhyun version dari chap 3.. Semoga suka^^

Awalnya aku nggak pernah merasa kalo kehadiran Siwonnie oppa dalam hidupku akan mengganggu hubunganku dengan Changminnie. Oppa? Iya, aku memanggilnya oppa karena ia lebih tua setahun dariku, namun kami sekelas.

Semuanya berawal dari Siwonnie oppa yang terlihat kebingungan di koridor kampus kami. Aku menolongnya dan ternyata kami sekelas. Sejak saat itu, Siwonnie oppa jadi sering berkumpul denganku dan teman-temanku. Ia tahu aku sudah punya Changminnie, jadi ketika ia mendekatiku, aku mengira ia cuma menganggapku sahabat.

Hari itu, untuk kesekian kalinya aku nggak bisa pulang bareng Changmin, soalnya Siwonnie oppa minta diantarkan ke toko buku. Ia lahir dan besar di Jepang, jadi belum hafal jalanan Seoul. Saat itu, aku meminta izin pada Changminnie. Dia terdiam dari tadi, entah kenapa.

"..Minnie? Changminnie?" panggilku.

"Hehehe, ne?" jawabnya.

"Gwenchana?" tanyaku khawatir.

"Ah ne.. Waeyo?" ia bertanya balik.

"Hari ini aku nggak bisa pulang bareng soalnya Siwonnie oppa minta dianterin ke toko buku.." jelasku sambil menunduk.

"Aaah, gwenchana.." sahutnya santai.

"Beneran nih?" tanyaku ragu. Changmin yang tanpa emosi di saat seperti ini.. Apa benar ia baik-baik saja?

"Ne, hati-hati ya. Jangan lupa kabari aku," jawabnya.

"Kalau begitu, kamu juga hati-hati ya?" ucapku lalu mengecup pipinya sekilas. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku saat aku meninggalkan parkiran bersama Siwon oppa. Aku jadi khawatir..

Sesampainya di toko buku, aku memilihkan beberapa buku yang kuanggap menarik untuk Siwonnie oppa. Setelahnya, kami makan bersama di sebuah kafe. Kami mengobrol dan tanpa sadar hari sudah malam. Aku menggigit bibir bawahku, aku takut Changminnie marah.. Semalam ini pergi bersama pria lain, apakah Minnie akan baik-baik saja?

"Kyunnie, gwenchana?" tanya Siwonnie oppa.

"Ah ne, nan gwenchana," jawabku sambil tersenyum paksa.

Setelah tiba di rumahku, aku pun turun dari mobil Siwonnie oppa.

"Gomawo ne oppa sudah mengantar pulang.." sahutku sambil tersenyum manis.

"Ah gwenchana, ini sudah menjadi kewajiban oppa. Nanti antarkan lagi ne, kamu tau buku yang bagus-bagus.." jawab Siwonnie oppa.

"Aniya oppa, itu semua kan cuma buku yang kurasa bagus aja.." elakku.

Tiba-tiba Siwonnie oppa mencium tanganku. Aku terkaget-kaget dibuatnya.

"Oppa berlebihan!" ujarku sambil menarik tanganku.

"Kalau di luar negeri, mengucapkan terimakasih seperti itu sudah biasa.." kata Siwonnie oppa menjelaskan. Tapi kan kita berada di Korea..

Setelah Siwonnie oppa pergi, aku mencoba menelepon Changminnie karena sedari tadi ia tak membalas pesanku. Aku sungguh khawatir. Changminnie selalu begini kalau marah padaku.

Saat masuk ke rumah, aku mendengar celetukan Umma.

"Diantar siapa, Kyunnie? Siwon lagi?" celetuk Umma.

"Ne, umma.. waeyo?" tanyaku.

"Aniyo, awas lho Changminnie cemburu," goda Umma.

"Tapi ia terlihat biasa aja kok, Umma. Masa aja cemburu?" tanyaku.

"Namja macam Changmin kan marahnya suka terpendam," jawab Appa.

"Benar Hannie, hati-hati lho chagi.. Changminnie nanti marah. Kamu ada rasa sama Siwon?" tanya Umma serius.

"Nggak umma, aku cuma sahabatan sama dia. Aku kan udah punya namjachingu, umma.." jelasku.

Setibanya di kamar, aku melihat ke arah balkon kamar. Tumben pintu balkonnya tertutup.. Aku jadi makin khawatir. Jangan-jangan benar kata Appa, kalo namja macam Changmin itu marahnya suka terpendam.. Iya sih. Apalagi kalo Changminnie udah nyuekin..

Haaah. Lebih baik sekarang aku mandi lalu tidur. Besok aku harus ke rumah Changminnie.

Keesokan harinya, aku melihat ponselku. Changminnie benar-benar tidak membalas pesanku ataupun menelepon balik..

Tiba-tiba terdengar suara bel.

"Kyunnie, buka pintunya! Umma lagi kagok ini.." seru Umma. Pasti lagi dandan lagi. Appa lagi masak. Hmm..

"Ne.." jawabku lalu dengan malas berjalan ke arah pintu. Siapa yang bertamu jam segini?

"Minnie?" panggilku heran saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

"Ne?" jawabnya. Aku langsung memeluknya erat. Dia nggak marah?

"Aku kira kamu marah Minnie, aku pulang malam kemarin.. Aku telepon kamu tapi nggak diangkat.." jelasku sambil memeluknya. Memeluk Changmin dan mendengarkan suara debaran jantungnya menjadi hal favoritku semenjak menjadi kekasihnya.

"Gwenchana.. Aku percaya kok kamu nggak akan aneh-aneh sama dia, aku nggak mau ngelarang kamu temenan sama orang, ne?" ucapnya sambil balik memelukku. Pelukan Changmin terasa sangat nyaman.

"Gomawo ne.." sahutku sambil terus memeluknya.

"Ehem, dramanya mau sampai kapan ya?" tanya Umma jahil yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat pintu.

"Ah, Chullie kayak nggak pernah muda aja. Udah yuk, masuk?" ajak Appa. Jadi daritadi mereka memperhatikan kami?

Dan dapat ditebak, Changmin ikut sarapan di rumah kami. Aku tahu, dia pasti sudah sarapan di rumahnya. Setelahnya kami pun berangkat ke kampus. Di kampus, Siwonnie oppa sudah menungguku. Kami dan beberapa teman kami pun berjalan menuju ke kelas, sedangkan Changminnie menghampiri teman-temannya. Pasti mau battle game. Tadi kulihat Changmin tersenyum pada Siwonnie oppa. Ia sungguh dewasa.

Saat pulang kuliah, aku menunggu Changminnie untuk pulang bersama. Sambil menunggunya, aku mengobrol dengan beberapa temanku. Waktu berlalu begitu cepat. Tadi Changminnie mengirimiku pesan, ia agak terlambat. Hmm, kekasihku memang sibuk. Dengan tubuh tingginya, ia dengan mudah bergabung dengan tim basket kampus dan menjadi pemain inti. Changmin itu charming. Beneran deh..

"Kyunnie, beneran loh. Masa kamu nggak minat sih sama Siwonnie?" tanya CL, atau Chaerin temanku yang berambut pirang.

"Ah aniya.. Kalo aku nggak punya Changminnie sih boleh.." jawabku ringan. Siwonnie oppa okey juga sih, cuma Changminku lebih okey di mataku.

"Aku juga sama, kalo aku nggak punya Minho, aku pasti udah ngejar Siwonnie oppa!" sahut Taemin.

"Beneran nih? Dari sekian banyak yeoja kan kamu yang paling dideketin Siwon oppa.. Apalagi sampai ngasih coklat, nganter pulang, minta dianterin kemana-mana.. Ayo ngaku, kamu sering kan makan bareng dia?" tanya Ryeowook padaku.

"Hey kalian apa sih, itu biasa kan? Lagian kalian ditawarin suka nggak mau ikut.." jawabku. Memang benar, mereka selalu menolak sehingga aku selalu pergi berdua dengan Siwonnie oppa.

"Kita sih sadar sikon aja hehehe. Lagian memang Changminnie oppa nggak marah?" tanya Taemin.

"Aniya, dia nggak tau kalo Siwon suka ngasih coklat atau makan bareng aku.." sahutku lirih. Siwonnie oppa memang sering memberikan coklat padaku. Changminnie nggak tau itu. Aku takut dia marah. Waktu itu, ada seorang mahasiswa bernama Kris yang memberi bunga mawar padaku. Aku menerima mawar tersebut dan Changmin hanya tersenyum lalu berkata, "Kamu boleh nyimpen bunga itu, tapi di tong sampah," dengan nada datar.

Sejak saat itu aku nggak bilang kalo aku menerima barang pemberian namja lain.. Walaupun sepertinya Changmin tau (emang dia tau cuma nggak bilang-bilang, Kyu -_-)

"Kyunnie?" panggil seseorang. Aku terkejut.

"Changminnie? Sejak kapan kamu disitu?" tanyaku panik. Changmin pasti marah kalo tau aku menyembunyikan sesuatu darinya. Aku menggigit bibir bawahku.

"Baru aja, ayo kita pulang!" sahutnya ceria sambil menggandeng tanganku. Changminnie.. Nggak ngedenger yang tadi kan?

"Minnie?" kataku sambil memandangnya lekat.

"Apa?" sahutnya singkat.

"Aniya.." jawabku sambil menunduk.

"Kenapa kamu? Kayak maling ikan aja. Kamu nyembunyiin apa?" tanyanya padaku.

"Aniya.." kataku sambil tersenyum agar ia tidak curiga. Mianhae Minnie, aku takut kamu marah..

Setelahnya, kami bergandeng tangan menuju ke parkiran untuk pulang. Aku lega banget Changminnie nggak marah..

Beberapa hari kemudian, aku nggak pulang bareng Changmin, soalnya katanya Siwonnie oppa ada perlu sama aku. Kami berjalan ke taman kampus. Tiba-tiba Siwonnie oppa menggenggam tanganku erat.

"Kyunnie, jadilah yeojachinguku.." kata Siwonnie oppa.

"Oppa, aku nggak bisa.." jawabku sambil menunduk. Aigoo, mengapa jadi begini..

"Kenapa? Karena Changmin? Tinggalkan dia, Kyu. Mulailah kisah baru bersamaku.." pintanya.

"Aniya oppa, aku nggak bisa.." kataku masih dengan menunduk.

Tiba-tiba ia mengangkat daguku dan mengecup bibirku. Aku kaget, tak bisa menghindar. Tiba-tiba ada yang menarikku dan menonjok muka Siwon oppa.

"Changminnie jangan!" kataku sambil menahannya untuk memukul lagi.

"Terserah kalian, aku mau pulang," katanya sambil berjalan dengan wajah dingin ke parkiran.

"Changminnie!" panggilku lirih. Ia tidak merespon, ia terus berjalan. Aku mulai menangis, namun Changmin tak merubah pikirannya..

"Oppa gwenchana?" tanyaku pada Siwon oppa.

"Kyunnie, mianhae.." sahut Siwon oppa sambil menghapus air mataku.

"Oppa, kalo oppa berharap jadi namjachinguku, lebih baik jauhi aku. Aku nggak bisa, aku udah punya Changminnie.. Tapi kalo oppa mau jadi sahabat aku, aku masih bisa kok.." jelasku.

"Apa oppa nggak punya kesempatan lagi, Kyu?" tanyanya.

"Aniya, oppa.. Mianhaeyo.." jawabku lalu berlari untuk pulang. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang naik taksi.

Sore harinya, aku pergi ke rumah Changmin untuk menjelaskan semuanya.

"Changminnie, mianhaeyo.." kataku.

"Untuk apa?" balasnya.

"Aku.. Siwonnie oppa.." sahutku, namun Changmin memotongnya.

"Jangan sebut namanya di depanku, aku muak. Kamu mau apa? Lebih baik kamu pulang, bukan maksud mengusir hanya saja moodku lagi jelek," katanya acuh. Muka tanpa ekspresi itu, nada yang datar itu.. Aku nggak suka Changminnie yang seperti ini.

"Minnie.." panggilku. Aku mulai menangis.

"Jangan nangis, Kyu. Jangan ngerasa bersalah sama aku. Kamu cuma nggak mampu ninggalin aku? Kalo mau, kejar aja Siwonmu itu. Untuk apa kamu kesini?"

"Changminnie, dengerin. Aku nggak nerima dia soalnya aku sayang sama kamu.."

"Sayang? Aku tau. Kamu mau aku ngebeliin aku coklat dan makan bareng kamu? Aku juga bisa. Kamu aja yang nggak ngerti cara aku gimana untuk nunjukinnya ke kamu!" bentaknya.

Aku tercengang. Ia membentakku? Jae Ahjumma langsung berlari ke ruang tamu dan memelukku. Aku terisak di pelukannya.

"Terserahlah, aku pusing. Pulanglah Kyu, aku nggak mau yang lebih parah dari ini," katanya lalu berjalan ke lantai atas. Changminnie yang dingin seperti ini..

"Kyunnie? Uljima, gwenchana.." kata Jae ahjumma masih memelukku.

"Ahjumma.. Maksudku bukan begitu.." isakku.

"Ne, ahjumma mengerti. Sekarang kamu pulang ne? Biar Changminnie menenangkan dirinya dulu.." bujuk Jae ahjumma.

"Aku takut, ahjumma.." kataku.

"Semuanya akan baik-baik saja.. Tunggu sampai Changminnie nggak emosi lagi ne?" sahut Jaejoong ahjumma sambil tersenyum.

Aku hanya mengangguk lalu berjalan ke rumah. Sesampainya di rumah, Umma langsung memelukku.

"Kyunnie?" panggil Umma khawatir.

Aku menceritakan semuanya dan menangis di pelukan Umma sedangkan Appa hanya mendengarkan semuanya sambil meminum teh.

"Ah ne, ini diminum dulu tehnya biar agak tenang, setelah itu mandi. Kamu yang sabar, ne?" sahut Appa sambil mengelus rambutku.

"Hannie ngaco! Lagi sedih kok dikasih teh, apa hubungannya. Tapi bener chagi, kamu harus sabar.." ujar Umma.

"Hahaha, aku kan berusaha menghibur Kyunnie, yeobo. Tapi kalo aku jadi Changminnie.." perkataan Appa terputus. Aku dan Umma melihat ke arah Appa, menunggu lanjutannya.

"Aku juga akan melakukan hal yang sama," ujar Appa sambil tersenyum.

Aku melihat ke arah Umma dan Umma tersenyum padaku.

"Kyunnie pasti bisa," kata Umma. Aku mengangguk ragu.

Di malam hari, aku duduk di balkon kamarku, melihat ke balkon kamar Changminnie. Aku rindu dengan Changmin yang sering menjahiliku.

Flashback:

"Kyunnie!" panggilnya dari balkon kamarnya.

"Ne?" jawabku.

"Jeongmal saranghaeyo!" celetuknya jahil.

"Kalian kalo mau pacaran nggak usah antar balkon! Disini juga boleh," goda Umma yang tiba-tiba keluar rumah.

"Umma ih!" protesku.

"Beneran ya ahjumma, hehehe," cengirnya.

"Minnie nggak usah teriak-teriak, ke rumah Kyunnie sana! Appamu mukanya makin mirip musang nih di depan TV!" sahut Jae ahjumma. Hahaha Yunho ahjussi pusing sepertinya mendengar teriakan Changmin yang melengking.

"Ah ne!" sahut Changmin lalu berlari menuju rumahku.

Flashback end.

Changminnie.. Jeongmal bogoshippeo.. Tanpa sadar aku menyanyikan sebuah lagu dengan lirih.

If I don't need you then why am I crying on my bed?
If I don't need you then why does your name resound in my head?
If you're not for me then why does this distance maim my life?
If you're not for me then why do I dream of you as my husband?

I don't know why you're so far away
But I know that this much is true
We'll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you're the one I build my home with
I hope I love you all my life

I don't want to run away but I can't take it, I don't understand
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?

Aku menunggu jawaban dari lagu itu. Waktu itu, aku menyanyikan lagu yang sama dan Changminnie menyambung liriknya dengan nyanyiannya. Sekarang? Hanya hening yang kurasa.

Sudah beberapa hari ini Changminnie mendiamkanku. Wajah datarnya terus terpampang. Aku mencoba memanggilnya, namun malah tatapan dinginnya yang kudapat. Aku menangis, namun ia pergi menjauh. Aku rindu Changmin yang memelukku. Untungnya, keluarga dan sahabatku menguatkanku.

Saat ini, aku sedang duduk sambil mengamati kolam ikan di taman kampus. Aku rindu Changmin. Namun tiba-tiba aku menangkap sosok Changmin yang berjalan ke arahku. Apa dia akan memutuskanku? Aku memutuskan untuk menghindarinya.

Namun saat aku akan berlari menghindarinya, ia memelukku erat. Aku merindukannya..

"Minnie.." lirihku.

Ia hanya bernyanyi lembut di telingaku.

And I remember that fight
Two-thirty AM
As everything was slipping right out of our hands
You ran out crying and I followed you out into the street
Braced yourself for the "Goodbye."
'Cause that's all you've ever known
Then I took you by surprise
I said, "I'll never leave you alone."

I said, "I remember how we felt sitting by the water.
And every time I look at you, it's like the first time.
I fell in love with a careless man's careful daughter.
She is the best thing that's ever been mine."

Aku hanya bisa mengucap, "Minnie mianhaeyo.."

Ia membalikkan tubuhku sehingga sekarang aku menghadap ke arahnya. Ia menunduk dan menatap mataku. Aku takut melihat matanya, aku takut tatapan dingin itu lagi yang akan kudapat.

"Kyunnie? Gwenchana.." sahutnya.

"Minnie.." panggilku ragu.

"Kyunnie, jangan menangis lagi. Kamu tahu? Setiap tetes airmata kesedihan dari matamu itu membuatku sakit disini.." katanya sambil menempelkan telapak tanganku di dadanya.

Aku memeluknya erat. Aku nggak mau dia pergi lagi.

"Aku takut kamu ninggalin aku.." ucapku lirih.

"Nggak.. Mian ne kemarin aku emosi? Aku nggak suka dia kayak gitu.. Aku memang bukan namja yang ngasih kamu coklat setiap hari atau ngajak kamu makan siang setiap hari bersama. Aku percaya kita bakal ngalamin itu di masa depan kita nanti, makanya aku nggak mau ngekang kamu karena suatu saat aku pasti bakal mengikat kamu dalam ikatan pernikahan. Hubungan kita nggak butuh coklat ataupun makan siang bareng.." jelasnya sambil mengelus rambutku.

Benarkah Changminnie berpikir seperti itu? Sejauh itu.. Changminnie sungguh sempurna di mataku.

Akhirnya, aku memeluknya erat sambil berbisik..

"Minnie, you are the best thing that's ever been mine."

-end-

qyu said : aha! Ini diliat dari sisi Kyuhyun.. Hahaha. Entah kenapa aku lebih dapet feel di chap ini, bener ngga sih -_- kalo kalian melting dan semacamnya, review ya. Hahaha (maksa)

Yap, masih mengucapkan terimakasih yang berlimpah buat kalian yang udah ngefave, ngefollow, ngereview apalagi.. Bisa ngga ya pas aku buka email, reviewers ada 100 biji. Bisa, dalam khayalan :)) #abaikan

Yap, semoga kalian suka dan nggak bosen sama tulisan aku ne? ^^~

Balasan review..

- SeenaPark : lanjutan? ada, semoga. Ntar deh, sekarang ini dulu yaaa :D

- FiWonKyu0201 : hahaha, iya nih gimana sih Siwonnie. Ya gimana, abisnya Kyu kan adorable ;;)

- Vic89 : hahaha bener, ya gimana, namanya juga modal nekat kayanya Siwon :))

- siimalind : udah, nanti kita bikin behind the scene lagi ya mihihihi :)) iya syemangaaat, jadi beta readers aku trs yah :D

- minniechangkyu56 : wah kenapa baru tau? Gwenchana, sekarang udah tau kan hihi. Gomawo udah review :)