Review:

via heartfilia:: Kan Fushimi sayang sama Yata xD yaah, ngebahagiain Fushimi sesekali laah.

haha, thank you. :)

AkuNoMeshitsukai:: iya kasian yah. tapi kalau nggak gitu, nggak seru xD
fave nggak perlu ijin. malah makasiii :3

sea07:: wahaaa. baguslah kalau nggak sama kaya doujinnya. hehe. semoga nantinya nggak ngecewain! x3

Nisa Piko:: mungkin di chapter ini dicium sama monyet apesnya. hahaha
aih, sampe dibaca ulang. sankyuuuu 3
naas lagi? okeh! siap. kalau buat fushimi, pasti ada dong. fufufufu. tinggal tunggu tanggal mainnya.

duuh yaa, reviewnya bikin gemes. sini dapet hadiah cubit dari Misaki. xD

makasiiiii 3

ayakLein:: aww makasiiii :3 untuk kesalahan fushimi, bener itu nggak yaaa. :D
eehh, jangan, nanti fushimi ngamuk! xD

senengnya masih ada yang nunggu fic ini~~ Makasii semuanyaa~~ *pelukcium #dilemparsandal. Berikutnya adalah chapter 4, Day Three. Dipersembahkan untuk semua SaruMi fans, yang sudah baca diam2 #pede, dan spesial buat yang telah meninggalkan jejak (?). Lalu untuk bikin penasaran, di paling bawah ada cuplikan chapter 5. :3

.

.

Memory of Yata Misaki
a SaruMi fanfiction
Disclaimer
K Project – GoRa and GoHands
Memory of Yata Misaki – Ice-cy
Picture – 藍區 アイク
Inspired by
【紫】 - 19歳と15歳【猿美】【19 and 15 years old [SaruMi]】

.

.

Chapter 4: Day Three

.

.

"Misaki!"

Fushimi bergegas berlari saat melihat Yata tersungkur jatuh dari skateboardnya. Saat ia sedang berpatroli, ia mendengar suara berisik tak jauh dari tempatnya dan ternyata yang didapatinya adalah Yata yang tersungkur di tepi jalan. Khawatir akan ada kendaraan lewat, ia segera menghampiri Yata.

"Misaki! Oi, Misaki!" Fushimi sedikit panik saat melihat Yata meringis kesakitan dengan suhu tubuh yang sangat tinggi. Yata demam.

Hal yang Yata lihat di sisa kesadarannya adalah wajah Fushimi yang tampak khawatir. Namun karena ia sudah tak bertenaga, ia menyerah dan tak sadarkan diri.

Fushimi meminta teman patrolinya untuk melanjutkan tugas, sedangkan ia membawa Yata ke rumah sakit. Fushimi mungkin tega melukai Yata. Tapi melihat Yata dengan keadaan seperti sekarang ini, jangan pikir Fushimi akan tak menghiraukannya. Panas Yata begitu tinggi, dan wajahnya juga pucat.

Sesampainya di rumah sakit, ia berteriak memanggil tenaga medis yang ada. Dua orang suster datang dan segera menangani pemuda bertubuh tinggi 167 sentimeter itu. Fushimi diminta untuk menunggu di luar ruangan.

"Tch. Ada apa dengan bocah ini."

Tentu saja ia kaget karena Yata jatuh di tengah jalan tanpa sebab dan tak kunjung bangkit lagi. Ada apa dengan anak ini?

Anggota SCEPTER 4 ini tak bisa diam di tempat, dan terus mondar-mandir di depan pintu kamar Misaki. Menunggu hingga pintu itu terbuka dan sang dokter mempersilahkan ia masuk untuk melihat Misakinya. Ia tak peduli menjadi pusat perhatian di tempat itu, dan mendapat tatapan kagum dari beberapa suster yang lewat. Tch. Rumah sakit masih ada orang genit. Pikirnya.

Lima belas menit berlalu dan tak ada seorang pun yang keluar dari kamar yang ada di depannya ini. Memang seberapa parah demam Misaki? Oh ayolah, dia pasti hanya demam, dan Yata bukanlah anak lemah yang akan sampai segitunya hanya karena panas. ...Fushimi harap.

"Aku sepertinya tak bisa pulang hari ini."

Fushimi lalu mengambil PDA-nya untuk menghubungi Yata yang ada di apartemen Fushimi.

["Hai, Fushimi desu."]

"Misaki, ini aku. Malam ini-"

["Saru...bisakah kau pulang...uuhhhh..."]

Fushimi terkejut mendengar napas Yata yang terdengar berat di seberang sana.

"Misaki? Ada apa denganmu?"

["Entahlah. Tapi tiba-tiba aku tak enak badan..."]

"Tunggu, aku kembali sebentar lagi!"

Shit. Fushimi terus mengumpat selama perjalanannya pulang ke apartmen. Yata dan Yata dari masa lalunya, kedua sakit bersamaan. Apa-apaan ini? Apa mereka janjian membuatnya sport jantung? Belum selesai khawatirnya dengan Yata yang kini ada di rumah sakit dan ia belum tahu bagaimana kondisinya, sekarang ia malah mendengar kalau Yata yang di apartemennya juga sakit.

Tap tap tap

Fushimi mempercepat jalannya setelah ia keluar dari lift. Tak perlu mengetuk, ia memiliki kunci apartemennya sendiri. Begitu masuk, yang dilihatnya adalah Yata yang sedang meringkuk di balik selimut di atas tempat tidur.

"Misaki!"

Pemuda bersurai spike itu menghampiri Misaki-nya yang ada di sana. Fushimi lalu mengecek suhu tubuh Yata dengan tangannya. Demam. Yata benar-benar demam, meskipun panasnya tak terlalu tinggi.

"Saru...hikss..."

"Oi, kenapa kau bisa panas seperti ini, hah?"

"Aku tak tahu, saru! Tiba-tiba saja aku tak enak badan."

"Tsk! Kalian memang merepotkan."

"Apa maksudmu dengan 'kalian'?"

"Misaki yang sekarang juga sedang sakit. Dia tadi kubawa ke rumah sakit. Tsk. Kalian sepertinya sudah berencana untuk membuatku mati muda. Kau selalu saja membuatku repot."

Fushimi yang tadi sempat mengalihkan perhatiannya dari Yata, kini terkejut melihat Yata tersenyum lebar penuh arti padanya. Fushimi mengerutkan kening.

"Biar kuambilkan kompres. Lalu kau juga harus minum obat." Ucap Fushimi yang lalu beranjak dari tempatnya.

"Oi, Saruhiko."

"Hn?"

"Meski kau bilang aku meninggalkanmu, kau tak membenciku ternyata."

"Aku membencimu. Aku membenci kau yang sekarang."

"Pembohong. Buktinya kau menolongku. Hehe."

"Diam, atau demammu tak akan sembuh."

"Tak ada hubungannya, Saru."

"Ini, minum obatmu."

"Sankyu."

"Kau baru saja melakukan apa?" Tanya Fushimi yang sekarang duduk di samping Misaki. "Kenapa kau tiba-tiba bisa sakit begini?"

"Entahlah. Tadi aku hanya sedang memikirkanmu yang seumuran denganku, lalu aku tertidur. Saat bangun, aku tak enak badan."

"Kau memikirkan apa?"

"Aku hanya...aku hanya ingin bertemu denganmu...lalu aku ingin berkata bahwa kita akan terus berteman walau apapun yang terjadi..."

"Tsk. Kalau begitu jangan pikirkan lagi. Sekarang istirahatlah."

"Ehm."

"..."

"Oi, Saru."

"Hn?"

"Kuharap kau tak menyesal bertemu denganku."

"..."

"..."

Fushimi menoleh saat Yata tak lagi mengoceh. Rupanya pemuda itu sudah terlelap. Mungkin karena efek dari obat yang baru saja ia minum. Ia mengulurkan tangannya pada Yata. Jemarinya menyingkirkan helai-helai oranye yang menutupi wajah Yata. Ia menunduk, lalu meninggalkan sebuah kecupan lembut di keningnya.

"Suki..."

.

.

"Fushimi, aku minta laporan kejadian kemarin."

"Hai."

"Taichou sudah memintanya dari kemarin, tapi kau malah bolos di tengah patroli."

"Gomenasai." Ucap Fushimi malas-malasan.

Sungguh, hari ini ia malas sekali berangkat kerja dan masih khawatir dengan keadaan dua Misaki-nya. Tapi karena kemarin ia bolos di tengah jam kerja, akhirnya pekerjaannya menumpuk. Tapi bukan bukan Fushimi jika lebih peduli pekerjaan ketimbang Misaki. Di sisi lain, memecat Fushimi adalah hal yang sangat disayangkan bagi SCEPTER 4. Paling jauh, Fushimi hanya akan dipanggil ke hadapan Munakata Reisi sang pimpinan.

Suara-suara pegawai yang saling membicarakan pekerjaannya dan bunyi ketikan keyboard komputer terus memenuhi ruangan, dan juga mengusik konsentrasi Fushimi. Meskipun sebenarnya ia sudah tak bisa berpikir jernih sejak mulai kerja tadi.

"Fushimi." Tegur seorang wanita yang dua jam lalu memerintahkan Fushimi untuk mengerjakan sebuah laporan.

"Hai."

"Kenapa laporanmu belum selesai juga? Biasanya kau bisa mengerjakannya dengan cepat."

"Tsk. Ano, fukuchou, aku sebenarnya ingin mengajukan izin. Setengah hari kerja saja tak apa-apa."

"Kenapa kau mau mengajukan izin?"

"Ada hal penting...ya hal penting."

"Sebaiknya kau menemui taichou."

"Haaa. Baiklaah." Dan Fushimi beranjak dari meja kerjanya, menuju ruangan sang pimpinan. Seperti biasa. Saat ia di sana, sang pimpinan yang nyentrik itu sedang menyusun puzzlenya yang entah kenapa tak selesai-selesai. Ia sengaja, atau memang tak bisa menyelesaikannya? Ah, itu bukan hal penting.

"Ada apa Fushimi-kun?"

"Taichou, aku ingin minta izin absen kerja."

"Hm. Tak biasanya kau meminta izin. Ada keperluan apa, Fushimi-kun?"

"Hn...hanya hal yang harus aku selesaikan."

"Apa ini ada hubungannya dengan bocah dari HOMRA itu?"

"Ha?"

"Aku dengar dari teman patrolimu kemarin, kau meinggalkan tugas setelah melihat seseorang yang mereka kenali sebagai salah satu bawahan Suoh."

"Uhmm.. ya seperti itu lah."

"Ya, karena kau sendiri tak pernah mengajukan izin sebelumnya, sekarang aku akan mengabulkan izinmu, satu hari libur."

"Arigatou, taichou." Fushimi berbalik, dan hendak membuka pintu.

"Semoga dia baik-baik saja."

"..." Fushimi tak membalas dan segera meninggalkan ruangan.

Tempat kerjanya cukup jauh dari rumah sakit tempat Yata dirawat. Ia harus menggunakan taksi untuk ke sana. Kereta? Tsk. Ia malas berdesak-desakan meski kereta tak pernah terlambat. Tadi pagi ia sempat mengecek kembali keadaan Yata yang ada di apartemennya, dan untungnya ia sudah sedikit baikan meski belum pulih. Sungguh ia sendiri masih heran kenapa Yata bisa sakit bersamaan. Kemarin, ia yakin kalau Yata yang sekarang bersamanya tak menunjukkan gejala sakit apa-apa.

Dua puluh menit kemudian Fushimi sudah sampai di rumah sakit tempat Yata kemarin. Ia melepaskan jubahnya. Pedang? Ia meninggalkannya di kantor, menitipkannya pada fukuchounya. Ia sempat dimarahi karena sebenarnya tak boleh meninggalkan pedangnya sembarangan. Tapi ke rumah sakit dengan membawa benda seperti itu? Cukup sekali kemarin saja ia mengundang perhatian.

Fushimi langsung menuju ke kamar terakhir kali ia melihat Yata. Sayangnya tak ada pasien di sana. Ia lalu menuju ke pusat informasi.

"Ya. Namanya. Yata Misaki. Dia kemarin masuk pukul 2 sore, dan terakhir di periksa di kamar nomor 139. Tingginya 167cm, berambut oranye gelap, dan kemarin ia memakai baju hitam dan jaket merah."

"Ada. Yata Misaki-san dirawat di kamar nomor 102. Di ujung tangga sana, silahkan belok kanan, dan kamarnya ada di sebelah kiri."

"Terimakasih."

"Tuan, maaf."

"Ada apa?"

"Kami belum punya data penjamin dan keluarganya. Apakah Tuan tahu siapa yang bertanggung jawab atas pasien ini?"

"Ah. Aku yang akan bertanggung jawab dan menanggung biaya perawatannya."

"Kalau begitu, mohon diisi dulu keterangan ini."

"Tsk."

Fushimi sedikit jengkel dengan urusan administrasi barusan. Ia ingin segera bertemu Yata, tapi harus dicegah untuk hal tak penting yang bisa diurus nanti.

Ia berbelok di koridor, dan segera mencari kamar yang dimaksud.

"101...ah, 102." Gumam Fushimi yang lalu berbelok ke sebuah kamar bertuliskan nomor 102, tanpa keterangan nama. Fushimi sempat mengernyitkan alisnya karena kamar Yata tak diberi keterangan nama. Apa Yata tak dimintai data dirinya? Ia lalu membuka pintu. Benar adanya kalau memang Yata yang ada di kamar itu. Fushimi mempercepat langkahnya ke tempat Yata berbaring. Yata hanya demam kan, kemarin? Kenapa sekarang...

"Misaki?" Fushimi memanggil Yata yang jelas-jelas tak sadarkan diri.

Di tangan pemuda itu terpasang sebuah jarum yang terhubung dengan selang infus. Lalu...Yata juga memakai alat bantu pernapasan.

"Ada apa ini? Memang separah apa demammu?" Ia seperti orang gila yang menanyai orang yang tak mungkin menjawabnya. Fushimi lalu menemui dokter yang bertanggung jawab menangani Misaki.

"Kami kira awalnya pasien ini juga hanya demam biasa. Setelah membalut kembali dan mengobati lukanya, kami meninggalkan dia dengan hanya selang infus. Tapi sejam kemudian suster yang menjaganya mengatakan bahwa kondisinya menurun."

"Jadi sebenarnya dia sakit apa?"

"Saya hanya bisa bilang kalau dia sakit demam saja."

"Tapi tak ada yang parah, kan?"

"Sejauh ini, tidak."

"Terimakasih kalau begitu."

Kini pemuda itu sudah kembali ke samping partnernya. Terus dan terus. Kedua matanya tak pernah lepas dari Yata yang biasanya bak kutu loncat, kini lebih diam daripada batu. Fushimi jengah menunggu. Ia beranjak, lalu duduk di ranjang Yata, di sampingnya. Tangannya terulur untuk menyibakkan helaian oranye pendek di kening Yata. Sedikit berbeda saat ia melakukannya pada Yata yang ada di apartemennya kemarin.

"Kenapa kau selemah ini, Misaki? Bukannya kau mengatakan kalau dirimu hebat, eh? Kau bahkan selalu menantangku."

Mata Fushimi lalu beralih ke beberapa bekas luka Yata yang terbalut perban. Damn. Fushimi kenapa sekarang malah merasa bersalah? Bukannya kemarin ia masih bahagia-bahagia saja menyakiti Misaki? Ia merendahkan tubuhnya, dan mensejajarkan wajahnya mereka.

"Misaki..."

Raut wajah itu akhirnya terpasang juga di paras tampan Fushimi. Mimik rasa bersalah dan penyesalan, serta rasa sakit. Ia marah, dan ia benci pada Yata karena telah meninggalkannya demi HOMRA dan Suoh. Yata telah mengkhianati persahabatan mereka, tak memperdulikannya, dan tak mengacuhkannya. Fushimi benci...ya...benci...

"Sialan kau, Misaki. Jangan anggap karena kau lemah sekarang, aku akan kasihan padamu. Bangun kau, Misaki!"

Fushimi tiba-tiba frustasi.

"Misaki..."

Pii Pii Pii

PDA Fushimi berbunyi. Ia lupa mematikannya padahal ia harus mematikan semua gadget. Apalagi di ruangan Misaki ada beberapa alat elektronik. Fushimi keluar kamar, dan segera mengangkat panggilan.

"Moshi moshi."

["Saru... Bisakah kau pulang sekarang...hikss..."]

"Misaki? Kau kenapa?"

["Uuu...Saru."]

"Misaki! Oi, Misaki! Ada apa denganmu?!"

Piiiiipp

Belum sempat Fushimi mendapatkan jawaban dari Yata yang tadi terdengar seperti sedang merengek, sambungan itu sudah terputus. Fushimi menggigit kesal bibirnya sendiri. Kedua Misakinya sedang berencana untuk membunuhnya di usia muda!

"Kau selalu saja membuatku repot, Misaki!"

Baru satu jam Fushimi di rumah sakit ini, sekarang ia harus meninggalkan Yata untuk Yata yang satunya lagi. Oke lah kalau kalian mau sakit. Setidaknya, gantian! Jangan bersamaan seperti ini!

Taksi.

Oh, hari ini Fushimi sedang merampok dirinya sendiri. Memangnya mau bagaimana lagi? Harus ke stasiun dulu dan menunggu? Tidak, demi Yata.

Saat Fushimi turun, ia meminta sopir taksi itu untuk menunggunya. Fushimi bergegas ke apartemennya yang ada di lantai 3. Lift yang ia naiki masih seperti biasa. Tapi bagi Fushimi, lift ini lamban sekali!

"Cepatlaaahh. Tsk!"

Tap tap tap.

Klik.

Fushimi sampai di kamarnya. Tebak apa yang menyambut kedatangannya.

"MISAKI!"

Yata tergeletak tak sadarkan diri di lantai.

Fushimi berlari menghampirinya. Suhu tubuhnya kali ini panas sekali. Hampir sama seperti Misaki tempo hari. Tanpa pikir lagi, ia membawa Yata keluar. Rumah sakit.

Sepanjang jalan makhluk berkacamata itu tak melepaskan perhatiannya dari Yata. Habis sudah kesabarannya. HABIS! Dua Misaki itu benar-benar berniat membunuhnya perlahan dengan melihat kedua Misaki itu sakit, tanpa alasan dan sebab yang jelas. Kami-sama, sungguh tak bisa dipercaya. Wajah Fushimi yang biasa selalu tenang dan tak peduli itu, kini berubah drastis. Tak ada ekspresi lain selain sirat khawatir dan ketakutan. Satu Misaki belum sadar, kini Misaki yang satunya menyusul.

Ia membawa Misaki di kedua lengannya, dan segera berlari ke dalam. Ia berteriak sepanjang koridor, memanggil para tenaga medis yang sibuk. Tak peduli bahwa tindakannya akan mengganggu pasien-pasien lain.

Mereka bertindak segera. Setelah ruangan tertutup dan mengusir Fushimi, Yata diperiksa oleh mereka yang berpengalaman. Fushimi menunggu. Lagi. Sepatunya terus-terusan berisik mengetuk lantai. Bibirnya tak absen dari bunyi decakan kesal. Penampilannya berantakan. Oh, yang itu ia sama sekali tak peduli.

"Kau harus membayar semuanya nanti kalau kau sudah sadar, Misaki."

Detik jam terus berlalu, dan kini sudah lewat lima belas menit. Dokter yang ada di dalam ternyata sudah selesai. Lebih cepat dari saat memeriksa Yata kemarin. Fushimi dipersilahkan masuk untuk menemui Yata. Ternyata pemuda itu juga sudah siuman meski wajahnya masih sayu.

"Kenapa lagi kau ini, Misaki?" Selidik Fushimi yang kini sudah duduk tepat di samping Yata. Ia malah menunjukkan giginya seolah meremehkan kekhawatiran Fushimi.

"Aku tak apa-apa."

"Terkapar di lantai tak sadarkan diri di lantai kau pikir tak apa-apa? Kau gila!"

"Nee, Saru. Bolehkah aku pulang? Aku ingin bertemu Saruhiko-ku yang sebenarnya."

"Hah? Jadi kau tak suka bersamaku?"

"Bukan begitu. Ini salah, Saru. Ini bukan waktuku, dan aku punya firasat buruk tentang ini. Kumohon izinkan aku pulang."

"Tidak. tidak. seperti perjanjian kita sebelumnya. Satu minggu."

"Saruhiko. Kau ada aku yang memiliki waktu yang sama denganmu. Kenapa kau harus memberatkan aku, eh?"

"Itu urusanku."

"Saru, dengarkan aku. Semakin lama aku di sini, aku semakin punya firasat buruk."

"Itu hanya perasaanmu saja. Lagipula kau bodoh. Aku tak percaya firasatmu."

"Saru..."

"Diam!"

Fushimi tiba-tiba memeluk Yata yang masih terbaring di tempat tidurnya. Membuat teman SMAnya itu kebigungan.

"Kumohon, Misaki. Hanya satu minggu. Tak akan terjadi apa-apa. Aku tak mau lagi kau tinggalkan lagi."

"Saru, kau sudah punya Misaki-mu sendiri."

"Diamlah Misaki."

"..."

"...suki."

Dan Yata menoleh, melihat Fushimi yang hanya bisa ia lihat surai gelapnya yang mecuat berantakan. Ia lalu mengulurkan tangannya, melingkarkannya di punggung Fushimi.

"Kalau kau tak membenciku, katakan, baka Saru."

.

.

Omake

Buat yang menunggu scene Yata ketemu Misaki dan Fushimi ketemu Saruhiko, angkat tangan! xD Karena chapter 5 dan 6, saya akan membuat itu menjadi kenyataan.
Chapter berikutnya adalah klimaks dengan jumlah words paling banyak di antara chapter lainnya, yaitu 3k words. Diperkirakan fanfiksi ini akan berakhir di chapter 7 atau 8 saja. Hai. Sampai jumpa di chapter berikutnya~~

.

.

Chapter 5: Day Four

"Misaki?"

"Terimakasih, Saruhiko."

"Misaki!"

"Haha. Aku memang bodoh, sudah ceroboh merusak waktu."

"MISAKI!"

.

.

"Di mana pasien yang kemarin dirawat di sini?"

"Maaf, Tuan. Tapi sejak satu minggu yang lalu kamar ini kosong dan belum ada yang menempati."

.

.

"Misaki, jawab aku, Misaki!"

"Jangan bercanda, Misaki!"

.

.

"Saru...hiko?"

"Selamat tinggal, Misaki."

"Oi, Saru!"