Koridor apartemennya sore itu sangat sepi. Aomine baru saja pulang dari maji burger ketika tetangga baru yang disebut-sebut oleh tetangganya yang lain terlihat sedang berusaha keras mengangkat semua kardus yang ada di depan pintu masuk ke apartemennya. Peluh si pemuda crimson meleleh di seluruh wajah dan lengannya yang terekspos akibat kaos tanpa lengan yang ia pakai. Aomine cukup terpana melihat tangan berisi sang penghuni apartemen baru itu. Terakhir kali ia melihat yang seperti itu, adalah milik mantannya yang sekarang bahkan ia tak tau-menahu kabarnya. Karena ia hanya tempe-menempe.

"Ah, selamat sore! Saya Kagami Taiga, penghuni baru apartemen ini," sapa si pemilik rambut merah maroon yang ada di hadapannya. Aomine tersadar dari keterpanaannya. Dia lalu tersenyum singkat dan simpul, seolah senyum itu hanya untuk formalitas. Lebih tepatnya memang hanya formalitas. Dia polisi, dan dia tahu tata krama. At least untuk sekarang. Tangan tan itu mengulur.

"Aomine Daiki," ucap suara berat itu menggetarkan udara. Author yakin Juniichi Suwabe memang tahu cara mengisi suara dengan baik dan tampan.

"SoYou're a cop?" tanya Kagami berusaha mencari bahan pembicaraan.

"As you see," jawab Aomine sambil melirik seragam yang masih ia pakai. Aomine menghela napas. "Udah, nggak usah repot-repot cari bahan pembicaraan. Gue masuk ya," tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara, Aomine sudah nyelonong masuk ke apartemennya.

Kagami Taiga, si penghuni baru itu, hanya bisa speechless mendapat perlakuan dari tetangga barunya. Sepertinya Amerika bukan satu-satunya negara yang punya banyak orang tak bertata krama. Kagami pikir, Jepang adalah negara berbudi-daya dan penuh aturan. Nyatanya? Tidak. Mungkin globalisasi di Jepang berjalan lebih cepat daripada yang ia duga.

"Wow, such an asshole," ucapnya kemudian kembali mengangkat kardus-kardusnya yang masih menunggu untuk dibawa masuk ke dalam.

.

.

Baby Face (Collab Version)

.

.

Kuroko no Basuke is Tadatoshi Fujimaki's

.

.

By: Kiriohisalmoow


Chapter 4

"Why Aomine loves Kagami"

(flashback chapter)

.

.

BRAK!

"HOLY SHIT!" Suara gebrakan dan teriakan itu cukup kencang terdengar oleh Aomine dari sofanya saat ini.

"Seriously, dude? Baru sehari dan dia udah bikin gaduh?" Aomine geleng-geleng dan bangkit dari sofanya, hendak menuntut haknya untuk mendapat ketenangan hidup. Dengan kata lain, Aomine ingin protes ke tetangga sebelah.

Aomine kini tengah menghadap ke arah pintu apartemen Kagami yang separuh terbuka. Ia kembali geleng-geleng.

Anak jaman sekarang kenapa teledor banget sih ngebiarin pinntu apartemen kebuka gitu. Kalo kemalingan baru deh minta tolong.

Aomine akhirnya memutuskan untuk mengecek Kagami. Protes lebih tepatnya. Ia membuka pintu apartemen Kagami.

"Oi, Bakagam—HOLY SHIT!" Aomine segera berlari menghampiri sang pemuda yang terlihat sedang berusaha berdiri dari tumpukan meja dapur dengan kepala meneteskan darah segar.

"Lo ngapain bisa sampe bedarah-darah gini, hah?" Aomine membungkuk dan segera merangkulkan salah satu tangan Kagami di pundaknya.

"Ta-tadi.. gue.."

"Shh! Nanti ceritanya! Lo bego banget ya, at least minta tolong kek!" pria tan itu kemudian memapah Kagami untuk kemudian ia dudukkan di sofa. Kagami yang memang takut darah hanya bisa diam dalam shock nya, tak berani berhadapan dengan darah yang mengalir dari kepalanya menuju lengannya. Aomine menggeleng pelan melihat tetangga barunya. Karena Aomine tahu detik itu juga, kalau cowok bernama Kagami, akan sangat merepotkannya.

"Bentar, gue ambilin P3K punya gue," kemudian Aomine segera berlari dan kembali dalam beberapa menit. Ia berdiri di hadapan Kagami yang duduk di sofa dan mengecek luka Kagami. "HOLY SHIT! Kita ke rumah sakit sekarang!" Aomine ikutan panik melihat luka di kepala Kagami yang menurutnya tidak bisa ditangani hanya dengan P3K.

Wajah Kagami semakin pucat. And again, Holy Shit.

.

.

"Syukurlah, Pak Aomine membawa nak Kagami secepatnya. Pendarahannya belum terlalu banyak. Mungkin kalau dibiarkan sebentar lagi, nak Kagami bisa saja kehilangan banyak darah," sang dokter menjelaskan ke Aomine keadaan Kagami yang kini berada di ruang istirahat.

"Ah, begitu ya, dok? Syukur deh kalau dia nggak papa. Kira-kira dia perlu rawat inap nggak ya, dok?" Aomine bertanya dengan harap-harap cemas. Takutnya uang yang ia bawa tidak cukup untuk membiayai Kagami.

Wait.

Kenapa dia harus membiayai Kagami segala?

'Karena Bakagami orang baik, Ahomine.'

'The heck Ahomine, lo bukan siapa-siapanya dia, ngapain repot-repot ngurusin?'

'Kamu nggak kasian sama Bakagami? Dia masih SMA! Orang tuanya di Amerika! Dia sendirian di dunia yang kejam ini!'

"Just, what the fuck, guys. Gue bakalan bayarin dulu kok," Aomine putih tersenyum. "Terus nanti minta ganti rugi." Aomine merah ketawa ngakak. Sedangkan sang dokter sepertinya ingin segera menghubungi bagian kejiwaan.

"A-ah… Nak Kagami tidak perlu dirawat inap kok. Kondisinya pulih dengan cepat. Kalau nanti dia sudah sadar, dia sudah boleh pulang," ucap sang dokter.

"Hmm… begitu ya, dok. Kalau begitu terimakasih, saya akan mengecek Kagami lagi. Permisi, dok." Aomine kemudian bangkit, bersalaman dengan sang dokter dan langsung pergi menuju tempat Kagami berada.

Aomine berjalan di koridor rumah sakit. Ia kadang tak habis pikir. Sepertinya hidupnya memang diberi banyak kesialan. Orang tua yang mengharapkannya jadi polisi, cepat menikah—mendiktenya setiap waktu, rekan kerja yang tidak begitu ramah, burger di maji burger harganya naik, dan sekarang… malah ada anak SMA yang dengan randomnya menggunakan uang tabungannya untuk biaya rumah sakit di hari pertama mereka bertemu. Iya anak SMA yang baru saja bertemu dengannya tadi sore, dan sekarang malah bermain dengan anak kecil di depan ruang istirahatnya, bukannya malah istirahat. Kalo nggak sembuh-sembuh gimana coba? Dasar bocah.

Eh…?

"Bakagami! Lo udah sadar? Lo dapet full bius kan? Kok udah bangun?" Aomine segera menghampiri Kagami yang kelihatannya memang sudah pulih, meskipun masih terlihat sedikit pucat.

"A-ah. Aomine Daiki, thanks udah mau repot-repot bawa gue ke rumah sakit," Kagami mengacak bagian belakang kepalanya sambil mengalihkan pandangannya. Sedikit merasa bersalah dan bumbu malu.

"Ya lo pikir gue bakalan ninggalin lo berdarah-darah sampe sakaratul maut gitu?" Aomine menggeleng sambil melihat Kagami yang membiarkan anak yang bermain dengannya tadi pergi. Kagami yang tadinya berjongkok, kini berdiri. Ia menatap Aomine tepat di manik matanya, dan segera membungkuk.

"Terimakasih," ucapnya. Aomine sontak kaget dengan kelakuan anak SMA di hadapannya. Jarang ada anak muda yang melakukan itu di jaman sekarang. Apalagi dengar-dengar dia adalah orang Amerika.

"Oi-oi! Udahlah, lo pengen jahitan di kepala lo kebuka lagi?" ucap Aomine dengan canggungnya menyuruh Kagami berhenti membungkuk.

Kagami menatap Aomine heran, "lho, gue pikir itu kebiasaan orang Jepang kalo ngucapin makasih?"

Aomine menghela napas.

"Kalo sama gue nggak usah. Yaudah, berhubung lo udah pulih, kita pulang sekarang aja." Tanpa berlete-lete, Aomine segera berjalan menuju parkiran. Menyuruh Kagami menunggu di lobby, dan menjemputnya di sana.

Sepanjang perjalanan pulang, mereka hanya beberapa kali berbicara. Seperti, apa dokter sudah memberi obatnya padamu, atau, ya, tadi sudah ada suster yang memberinya padaku. Sesudah itu, mobil Aomine terasa seperti kuburan bermesin—karena radio di mobilnya rusak dan belum sempat diperbaiki.

Harusnya sih, kalau ada dua orang yang diam-diaman bakalan terasa sangat canggung dan tidak nyaman. Tapi entah kenapa, diam kali ini adalah diam yang tidak membuat Aomine rikuh. Mungkin karena orang yang sedang duduk di sebelah Aomine adalah anak SMA. Yang omong-omong, punya tubuh bukan seperti anak SMA.

Justlook at those arms, man! Lengannya berisi dan minta dipegang!

"Hah? Apanya?" suara Kagami yang terdengar heran tertangkap oleh telinga Aomine.

"Huh? Apanya yang apa?" Aomine bertanya, sambil mencoba untuk fokus menyetir agar tidak terdistraksi dengan yang iya-iya.

"Apanya yang minta dipegang?" ulang Kagami. Aomine berkedip sekali dua kali. Kemudian dia memaki-maki dalam hati karena mulutnya yang bodoh dengan kurangajarnya nyeplos. Apalagi melihat ekspresi Kagami sekarang, jidatnya mengernyit lucu sekali. Ekspresinya keheranan. Bikin Aomine sedikit gemas. Kemudian alisnya bertaut jadi satu—tunggu!

Kok alisnya...

Holy shit! Kok alisnya nyabang? Bercabang jadi dua gitu. Astaga baru kali ini Aomine menemukan spesies alis seunik itu! Dan karena Aomine nggak goblok-goblok banget, maka keluarlah kata-kata penyelamat.

"Itu… megang alis lo. Bercabang gitu. Menari-nari minta dipegang."

Dan setelahnya, mereka hampir kecelakaan karena Kagami ngamuk di dalam mobil. Tapi no big deal. Karena disaat seperti itulah kegemaran Aomine menonton Fast and Furious bisa bermanfaat. Mereka pada akhirnya bisa sampai di apartemen dengan selamat sentosa.

Itu adalah hari pertama Aomine Daiki mengenal Kagami Taiga. Dalam satu hari saja, terlalu banyak kejadian yang membuat hidup Aomine yang tadinya monoton menjadi acak kadut. Bagaimana hari-hari setelah ini?

.

.

Aomine tidak salah soal hidupnya yang tidak akan pernah sama setelah kemunculan si anak SMA Kagami Taiga. Karena ternyata, Kagami Taiga bukanlah anak SMA biasa. Dia adalah anak SMA pindahan dari Amerika yang bisa bermain basket. Dan Aomine bukanlah orang yang gampang mengakui seseorang bisa bermain basket. So it counts as something right?

Dulu, setiap Aomine libur kerja, dia akan bermain basket sendirian di lapangan kosong belakang Apartemen mereka. Karena Aomine mencintai basket lebih dari apapun. Dia butuh bermain basket untuk membuat hidupnya tetap waras dari semua tekanan menjadi polisi.

Sebenarnya, itu bukanlah lapangan basket. Itu hanyalah lahan kosong penuh rerumputan yang disulap Aomine menjadi lapangan basket pribadinya. Beberapa tahun lalu, pertama kali Aomine pindah kesini, Aomine rela seharian membuang waktunya untuk membabat habis semua ilalang-ilalang liar. Kemudian membeli ring basket, lalu dipasangnya disebuah tiang yang tertancap kokoh disana. Hanya ada satu ring, sempurna untuknya bermain basket sendirian.

Bermain sendirian disana memang ngenes sekali, Aomine tahu itu. Tapi siapa lagi yang bisa diajaknya bermain, coba? Semua penghuni apartemennya itu membosankan. Kalau nggak orang tua yang ingin menikmati sisa hidupnya, paling pasangan kumpul kebo. Mana mungkin mereka suka main basket?

Tapi sekarang, Aomine tidak lagi bermain sendirian.

Semuanya bermula di suatu siang hari yang terik saat dia asik-asik bermain basket. Sesosok murid berseragam SMA tiba-tiba memandangnya sangat intens. Tatapannya menusuk sampai-sampai Aomine risih. Baru disadarinya kalau murid SMA itu tidak lain adalah tetangga barunya, si Kagami Taiga yang minggu lalu baru saja kecelakaan tertimpa meja rumahnya sendiri. Kecelakaan yang nggak elit memang, tapi gara-gara itu, Aomine sampai harus repot-repot mengantarnya ke rumah sakit.

Belum selesai Aomine melanjutkan lamunannya tentang minggu lalu, Kagami sudah berteriak setengah memekik,

"Lo kenapa enggak bilang sama gue kalo elo maen basket juga!?" Aomine yang awalnya mau melakukan formless shot kebanggaannya langsung mematung ditempat. Karena bingung mau menjawab apa, Aomine melanjutkan shot nya dan bola berhasil masuk mulus kedalam ring. Dan pekikan itu kembali muncul.

"Astaga! Kita wajib maen basket bareng!"

Aomine kaget dong!

Bukan karena pekikan bernada tinggi yang mampu diproduksi oleh laki-laki dengan badan sekekar itu, tapi karena Aomine diajak main basket bareng oleh anak SMA. Dan sudah sangat lama sejak ada seseorang yang mengajaknya bermain basket bersama.

"Emangnya lo bisa, bocah?" Aomine berniat mengolok-olok Kagami tapi dia takut sendiri karena Kagami menatapnya dengan… apa ya, agak berbinar-binar dan sedikit napsu. Bukan napsu yang aneh-aneh, by the way. Semacam, Kagami ngebet main basket sama dia, tapi berusaha untuk nggak terlihat ngebet.

Kebayang kan?

"Hah, tipikal om-om. Suka meremehkan anak kecil." Decih Kagami, sambil tiba-tiba melepas kancing bajunya.

Loh-loh.

Aomine mundur-mundur. Terlalu kaget dengan semua perkembangan ini. Tapi ternyata Kagami pakai kaus oblong berwarna putih dibalik baju seragamnya dan sekarang maju untuk menantang.

"Ayo sini lawan gue. Kalo gue menang, lo traktir gue maji burger!" teriak Kagami bersemangat.

Semangatnya boleh juga. Aomine menilainya dalam hati. Tapi tetap saja menyebalkan. Masih anak SMA sudah sok. Dikira dia siapa? Dia belum tahu siapa yang dia tantang?

"Pertama," kata Aomine, menyisingkan lengan bajunya, siap-siap menerima tantangan. "gue bukan om-om. Gue masih muda dan gue enggak nikah sama tante lo," tegasnya. "Dan kedua, kalo maji burger adalah taruhannya, lo harus siap-siap tekor duit. Karena gue nggak akan kalah siang ini."

Kata-kata Aomine terbang terbawa angin sampai ditelinga Kagami, membuat Kagami menyeringai buas dan berlari dengan manik mata tidak lepas dari Aomine. Seperti harimau yang hendak menerkam mangsanya. Aomine kaget, dan entah kenapa, Aomine punya feeling kalau dia harus melawan anak di depannya dengan sekuat tenaga.

Aomine tidak salah.

Berjam-jam kemudian, ketika matahari sudah terbenam dan hari mulai malam, terdengar suara burung hantu, suaranya merdu, mereka terengah-engah sambil duduk ditengah lapangan. Tidak ada yang kalah, dan tidak ada yang menang. Mereka bahkan sudah berhenti menghitung berapa skor masing-masing karena terlalu terhanyut dengan permainan intens mereka.

Aomine tidak berhenti menyeringai. Terlalu senang, karena akhirnya menemukan seseorang yang bisa menandinginya. Seorang anak SMA yang adalah tetangga barunya.

"Lumayan juga." Ucap Aomine masih menyeringai, sambil mencoba untuk bernafas normal. Dia duduk berselonjor, menoleh ke arah Kagami yang tidur telentang dengan tangan dan kaki terbuka lebar.

"Untuk ukuran om-om, lo juga lumayan." Kata Kagami, ikut menyeringai.

"Gue bukan om-om, bocah!" Aomine mendorong Kagami sampai Kagami berguling. Kemudian Kagami tertawa-tawa.

"Gue juga bukan bocah, setan!" Kagami balas mendorong Aomine.

Lalu mereka dorong-dorongan seperti anak kecil. Man, sungguh kelakuan yang memalukan. Untung saja lapangan sedang sepi dan tidak ada saksi mata yang melihat tingkah mereka. Kalau sampai ada yang melihat, entah akan dianggap seperti apa.

Dan itulah cerita kenapa sekarang Aomine tidak lagi bermain basket sendirian. Sudah ada anak SMA dengan skill lumayan yang mau menemaninya setiap Aomine libur kerja. Anak SMA yang dihari pertama mereka bertemu sudah sangat merepotkannya. Dan sepertinya akan terus merepotkannya

.

.

Tapi ternyata, tebakan Aomine meleset. Ketika dia sudah merasa mengenal tetangga sebelahnya berkat sesi one-on-one setiap hari minggu, anak SMA berambut merah itu masih saja mampu membuatnya terkejut.

Sejak kejadian bermain basket sampai malam beberapa minggu yang lalu itu, one-on-one berdua sudah menjadi rutinitas mereka. Nggak hanya setiap hari minggu, setiap Aomine pulang kerja dan menemukan si anak SMA sedang bermain sendirian, Aomine selalu saja ikut bermain. Kalau sudah begitu, mereka pasti akan lupa waktu dan bermain sampai malam.

Esok setelahnya, Aomine sudah harus berangkat kerja di pagi buta. Walhasil, dia tidak ada waktu untuk berhenti di warung dan membeli makanan yang pantas untuk perutnya. Ditambah sedang akhir bulan, belum gajian, kantong kering, jadilah dia setiap hari makan mi instan setiap pagi. Dan itu adalah penyebab utama tubuhnya jadi bobrok akhir-akhir ini.

"Segitu aja udah lemes? Serius lo?" Kagami mengolok-oloknya saat Aomine minta istirahat padahal mereka main basket belum sampai dua jam.

Aomine merasa tersinggung, tapi bagaimana lagi, dia sudah sangat kelaparan. Kalau permainan dilanjutkan, dia bisa terkapar. Tubuhnya sudah meraung-raung meminta tambahan karbohidrat, tapi kantung Aomine tidak mampu untuk menyanggupi. Kulkasnya dari kemarin kosong melompong. Mau beli maji burger, enggak ada uang. Mau beli makan di warung pun, uangnya masih nggak cukup.

"Lo kenapa sih?" pertanyaan Kagami menyadarkan Aomine dari suara perutnya yang meraung-raung. Entah kenapa pandangan Aomine langsung kabur, membuatnya jatuh terduduk sambil merintih.

Astaga. Aomine berpikir dalam hatinya. Dia pasti terlihat sangat lemah sekarang.

"Woi, Ahomine!" Kagami berlari ke arahnya. "Lo nggak papa, kan?" tanyanya, jongkok menyejajarkan pandangannya dengan Aomine, menatap Aomine heran campur khawatir.

"Gue…" Aomine masih merintih. Perutnya terasa seperti ditusuk-tusuk sekarang. "Aduh…"

"Perut lo kenapa? Kram perut ya?" Kagami panik. "Astaga. Jangan bilang lo punya luka tembak disana? Terus sekarang kumat, gitu ya?" Kagami makin panik.

Heh.

Aomine ingin tertawa. Ini anak kebanyakan nonton drama kriminal atau gimana sih?

"Oi, lo jangan mati dong!" Kagami berteriak. Lagi, dengan nada tinggi kasnya. Sumpah, Aomine ingin tertawa. Mati apanya sih? Tapi perutnya tidak bisa diajak kompromi. Jangan bilang deh, Aomine kena maag gara-gara makan nggak teratur akhir-akhir ini.

"Nanti siapa yang main basket sama gue, woi—" kagami mengguncang-guncang Aomine, satu tangannya merangkul Aomine seperti menumpu agar Aomine tidak jatuh. Mulutnya menceracau, sudah sampai tahap dimana Aomine tidak bisa memahaminya lagi.

Ada dua alasan kenapa Aomine tidak memahami ceracauan Kagami. Pertama, perutnya makin tertusuk-tusuk dan makin meraung-raung. Dan kedua, muka Kagami lucu sekali, membuat Aomine merintih sambil tidak bisa berhenti menatap wajah konyolnya.

"Jangan diem aja dong, plis ngomong ke gue—"

"Sshhhhhh." Aomine menutup mulut Kagami dengan satu tangannya. Kagami langsung diam seribu bahasa. Hening menyelimuti, kata-kata berhenti keluar menciptakan diam yang mencekat. Aomine, dengan sisa-sisa kekuatannya, kemudian bicara.

"Gue cuma…"

Kruyuuuuuuk.

Hening sebentar.

"… laper." Lanjutnya.

Dan Kagami langsung gondok. Aomine tertawa-tawa setelah itu, tapi perutnya tetap saja perih. Sepertinya dia benar-benar kena maag. Ibunya pernah menasihatinya bertahun-tahun lalu agar selalu makan teratur karena keluarganya turun temurun adalah pengidap maag. Jadi Aomine sangat familiar dengan gejalanya.

"Lo kapan terakhir makan?" tanya Kagami.

"Err… kemarin pagi." Jawab Aomine. Kagami mendelik. "Tadi pagi mau sarapan, tapi ternyata persediaan mi instan habis."

"Mi instan?" nada Kagami meninggi lagi. "Lo nggak masak?"

"Apa yang lo harapkan dari seorang bujangan yang belum gajian di tanggal tua?" balas Aomine, tidak ingin disalahkan.

"Jadi tiap hari lo makan mi instan?" Kagami menatapnya lamat-lamat, membuat Aomine jengah lalu membuang muka. Sambil tetap memegangi perutnya yang perih.

"Iya. Gue nggak bisa masak. Dan gue gak punya uang buat beli di warung. Kalopun gue punya uang, gue males." Jelas Aomine panjang lebar, membuat Kagami geleng-geleng kepala.

"Hidup lo nggak sehat banget sih."

"Excuse me?" nada Aomine meninggi. Berani-beraninya anak kecil menasehati dirinya tentang bagaimana cara hidup sehat. Aomine bertaruh, hidup Kagami nggak ada bedanya dari dia. Dia masih SMA, tinggal sendirian, dan seorang laki-laki. Dapat uang dari mana dia? Bisa masak darimana dia?

"Yaudah ayo buruan." Kagami berdiri tiba-tiba, mengedikkan kepalanya ke arah apartemen mereka, seolah Aomine mengerti apa maksud dari Kagami bilang begitu.

"Buruan apa?" tanya Aomine, sama sekali nggak mengerti maksudnya.

"Mau makan enak enggak?" tanya Kagami.

Aomine mengangguk ragu-ragu, tapi karena Aomine tidak kunjung beranjak, Kagami menggeretnya sampai masuk ke apartemen bernomor 202. Apartemen milik Kagami.

Itu adalah pertama kalinya Aomine masuk ke apartemen Kagami, dan saat itulah Aomine dibuat kaget. Tidak seperti apartemennya yang berantahkan—boxer dimana-mana, perabotan berdebu—apartemen Kagami tampak sangat rapi dan bersih.

"Duduk di sana." Kagami menunjuk sofa yang didepannya ada TV berukuran 29 inch. Memerintahkan Aomine untuk duduk.

"Lo mau ngapain?" tanya Aomine, masih memegangi perutnya.

"Masak." Jawab Kagami singkat.

"Lo bisa masak?!" tanya Aomine kaget, dijawab Kagami dengan berdecih.

"Males jawab. Biarin masakan gue yang jawab pertanyaan elo. Sekarang duduk manis, jangan ngapa-ngapain." Perintah Kagami. Aomine mengangguk, sudah terlalu lapar dan kesakitan untuk membantah.

Tapi kemudian, Aomine ingat kebiasaan ibunya kalau maag nya kambuh. 15 menit sebelum menyantap makanan, harus minum obat dulu. Kalau enggak, perutnya akan lebih perih dan melilit daripada ini.

"Uhm… Kagami," panggil Aomine. Kagami yang sudah akan ke dapur, kembali menoleh. "Lo ada obat maag?" tanya Aomine.

"Astaga, lo punya maag?" suara Kagami meninggi lagi. Sampai rasanya, Aomine terbiasa mendengarnya.

"Punya nggak?" tanya Aomine melemah. Kagami menggeleng, membuat wajah Aomine makin memucat. Kemudian, Aomine melihat Kagami menghela nafas berat.

"Yaudah, lo tiduran dulu di sofa. Jangan ditekuk perutnya. Gue mau ke apotik bentar, beli obat maag."

Aomine ingin protes, merasa malu harus merepotkan anak SMA. Tapi perutnya makin perih. Jadi dia hanya bisa merangkak ke sofa lalu meringkuk di sana. Sambil menggumam 'terimakasih' pelan pada Kagami yang mengambil jaketnya kemudian berjalan keluar.

Entah berapa menit setelahnya—Aomine tidak kuat untuk menghitung karena terlalu sibuk menahan perih di perutnya—Kagami kembali dengan sebotol obat maag syrup. Kagami meletakkannya di meja, mengoyak Aomine untuk bangun dan meminumnya. Kemudian Kagami menghilang lagi untuk melakukan entah apa di dapur.

Aomine kembali meringkuk sambil berkonsentrasi pada perutnya yang perlahan berangsur membaik. Tidak lagi perih seperti tertusuk-tusuk dan diperas-peras. Ketika dia memutuskan untuk duduk, baru dia menyadari bau sedap yang menghampiri indra penciumannya.

Aomine mengusap peluh hasil dari menahan sakit. Kemudian mencoba konsentrasi pada aroma-aroma yang tercium dari dapur Kagami. Baru Aomine ingin berdiri dan mengintip apa yang sedang dimasak Kagami, Kagami sudah berjalan ke arahnya dengan sebuah nampan yang kemudian dia letakkan di meja depan sofa tempat Aomine duduk.

Aomine saking penasarannya buru-buru duduk dilantai, membantu Kagami memindahkan makanan-makanan dari nampan ke meja pendek depan sofa. Dan mendapati kalau Kagami daritadi sibuk memasak…

"Holy mother of god, Kagami! Teriyaki? Lo masak Teriyaki?!" Aomine tidak bisa menyembunyikan rasa syukur dan bahagianya mendapati apa yang ada di atas piring yang kini tersaji tepat di depan matanya.

"Kenapa emang kalo Teriyaki?" tanya Kagami bingung.

"Makanan kesukaan gue, bego!" Aomine tidak tahan untuk tidak berteriak. Dia dengan tidak tahu malunya langsung mengambil sumpit, membelah sumpitnya, lalu mulai makan. Tapi belum sempat Aomine menikmati sumpitan pertama, Kagami menghentikannya.

"Minum anget-anget dulu. Maag lo habis kambuh, bukannya?" Aomine menyodorkan mug berisi teh dengan uap yang mengepul. Tampak menggoda ingin diminum.

"Buat gue?" Aomine menunjukkan dirinya sendiri.

"Siapa lagi?" tanya Kagami, memutar bola matanya.

Aomine mengangguk, lalu meneguknya. Tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Kadang gue lupa kalo lo itu orang dewasa." Kata Kagami tertawa.

"Iya, gue juga lupa." Jawab Aomine setelah meneguk teh sampai setengahnya. Ia kemudian menyeringai. "Sori ngerepotin. Boleh gue makan Teriyaki nya sekarang?" tanya Aomine, kembali bernapsu untuk menggasak semua makanan yang disiapkan untuknya.

Kagami tertawa.

"Silahkan aja."

.

.

Setelah itu, makan malam berdua menjadi rutinitas mereka yang baru. Awalnya sih, Kagami bilang sekalian sebagai ucapan terimakasih karena Aomine sudah repot-repot menyelamatkannya beberapa minggu yang lalu—yang soal membawa Kagami ke rumah sakit dan sebagainya itu. Tapi kemudian, entah kenapa jadi keterusan.

Jadi rutinitas mereka selama beberapa hari setelahnya menjadi begini, Aomine pulang kerja; one-on-one dengan Kagami di lapangan belakang apartemen mereka sampai capek; makan malam; kemudian main PS.

Aomine berasa kembali menjadi anak SMA. Padahal umurnya sudah berapa coba. Dia bahkan melupakan kasus-kasus yang dia tangani di kantor untuk sesaat supaya bisa teriak-teriak bersama Kagami. Lumayan soalnya, TV Kagami kan 29 inch, puas dibuat main PS.

Lagipula, sudah lama sejak dia menikmati hidup seperti ini. Karena jujur, menjadi dewasa membuatnya melupakan bagaimana cara menikmati hidup. Dan Aomine sampai pada titik dimana dia lelah menjadi dewasa. Dia lelah dengan semua tanggung jawab yang dipikulnya sendiri. Jadi untuk sesaat, Aomine membiarkan dirinya untuk bersenang-senang, kembali menjadi anak kecil bersama Kagami. Biarlah untuk sesaat Aomine lupa.

"Gue habis beli game baru nih. Tapi single player." Kata Kagami sesaat setelah mereka makan malam.

"Berarti gue nggak bisa main dong?" tanya Aomine, membantu Kagami mengeringkan piring yang sudah dicuci.

"Tetep seru kok. Jadi game horror gitu kan, ada ceritanya juga. Jadi entar kita main sebagai anak SMA yang terdampar di kota mati gitu." Kagami bercerita panjang lebar, sambil berjalan menuju ruang tamu dan mempersiapkan PlayStation nya.

"Horror? Bukannya lo penakut ya?" tanya Aomine, mengangkat satu alisnya.

"Kata siapa gue penakut, hah?!" Kagami ngamuk. Menatap Aomine tidak terima.

"Lah, kemarin ada trailer film horror di TV lo sampe kencing berdiri."

"Mana ada!" Kagami makin berang. Aomine tertawa dalam hati.

"Gue saksinya kok."

"S-soalnya kan trailernya emang nyeremin, bego!" Kagami melempari Aomine dengan gulungan tisu. Kemudian memilih untuk mendiamkan Aomine, sepertinya ngambek beneran.

Aomine terkekeh. Dia selalu suka menggoda Kagami. Baginya, Kagami kalau ngambek itu lucu.

"Iya deh, lo pemberani. Jadi kita mau maen game apa malem ini?" rayu Aomine, tidak digubris Kagami.

"Marah beneran ya?" tanya Aomine, mencoba peruntungannya sekali lagi. Tapi tetap nihil. Kagami masih sibuk mempersiapkan game nya. "Oh, yaudah. Gue pulang aja kalo gitu, selamat main game horror sendirian." Aomine berdiri. Sengaja menekankan kata horror untuk menakut-nakuti Kagami.

Tepat ketika Aomine melangkahkan kakinya, sebuah intro menyeramkan terdengar lewat speaker TV Kagami. Membuat Kagami melompat, memekik, dan menggelayuti kaki Aomine.

Aomine mematung. Dia menoleh dan mendapati tulisan "Dread Out" berwarna kuning dengan huruf besar-besar di layar TV Kagami, beserta seorang perempuan berambut panjang bermata kosong dengan kulit putih pucat yang menatap mereka dingin.

"Plis, temenin gue! Ternyata game nya serem!" Kagami terdengar panik, masih menggelayut pada kaki Aomine.

Aomine ingin tertawa, ingin mengolok-olok Kagami. Tapi niat buruknya itu Aomine redam karena dia tidak tega melihat Kagami ketakutan.

"Kalo takut kenapa dimainin coba?" tanya Aomine, pura-pura kesal lalu duduk disamping Kagami.

"Ya habis, katanya bagus! Game dari negara manaaa gitu. Hantunya unik-unik." Jelas Kagami, suaranya masih gemetar.

"Unik kayak gimana?"

"Kata Koganei, ada setan namanya pocong. Jadi setannya kayak guling gitu, jalannya lompat-lompat. Gue pikir unyu!"

Itu, dan Aomine tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia terpingkal-pingkal sampai puas. Kemudian Aomine minta maaf dan menemani Kagami main sampai malam. Seperti malam-malam sebelumnya, mereka sibuk berteriak kesetanan. Kalau kemarin mereka memaki-maki karena main Call of Duty, maka hari ini mereka memaki-maki karena setan yang muncul di game ini benar-benar mengagetkan.

Ternyata yang bernama pocong tidaklah seunyu deskripsinya. Jalannya melompat, seperti guling, tapi it's hella fucking terrifying! Aomine saja sampai jantungan bermain game rekomendasi teman Kagami ini.

"Gila," Kata Aomine setelah mereka menamatkan stage 1. "Lanjut besok yah? Jantung gue enggak kuat." Kata Aomine.

"Sama." Kata Kagami. Tangannya sudah gemetar mampus.

"Ini bahkan lebih serem dari TKP pembunuhan yang biasa jadi kerjaan gue." Lanjut Aomine jujur.

"Serius?" tanya Kagami tertarik. Aomine mengangguk. Tapi kemudian memaki dalam hati karena dia jadi teringat segala kasus-kasus yang arsipnya belum dia rapikan di kamarnya.

"Urggg. I hate my job." Kata Aomine merutuk. Membuat Kagami makin menatapnya tertarik.

"Susah ya jadi polisi?" tanya Kagami pelan.

"Susah," Aomine mengangguk. "Bikin males. Bikin pengen marah tiap waktu. Bikin lo sadar kalo dunia tuh penuh orang-orang jahat."

Kagami masih memandangnya, seperti menebak-nebak sebaiknya dia bertanya atau tidak. Aomine yang melihat ekspresi Kagami seperti itu jadi gemas.

"Lo mau tanya apa sih? Udah tanya aja."cetus Aomine.

"Nggak sih," Kagami mengganti posisi duduknya. "Cuma heran, kenapa lo jadi polisi? Dengan permainan basket segila itu, lo harusnya bisa jadi pemaiin profesional." Kata Kagami pelan.

Aomine diam. Pertanyaan Kagami meresap di kepalanya.

Iya, kenapa? Ulang Aomine pada dirinya sendiri lambat-lambat.

Kalau Aomine boleh jujur, itu adalah pertanyaan yang sering Aomine ajukan pada dirinya sendiri selama bertahun-tahun belakangan. Pertanyaan yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya. Tapi jauh di lubuk hatinya, Aomine tidak bisa berhenti untuk bertanya kenapa.

Kenapa dia mendaftar menjadi polisi empat tahun lalu?

Kenapa dia sengaja membuat hidupnya berjalan tidak seperti yang dia inginkan?

"Lo nggak ada cita-cita jadi pemain basket profesional gitu? Dulu pas SMA?" pertanyaan Kagami menyadarkan Aomine. Aomine mendongak lalu mendapati Kagami sedang menatapnya dengan tatapan tertariknya.

Tidak ada yang salah dengan seorang anak SMA yang selalu penasaran dengan segala hal. Tapi Aomine tidak mau membicarakan hidupnya dengan siapapun. Bahkan dengan Kagami, yang akhir-akhir ini sudah mulai menjadi temannya.

"Kalo lo? Pengen nggak?" pada akhirnya Aomine malah memilih untuk bertanya balik ke Kagami. Mendengar pertanyaannya, alis Kagami bertaut jadi satu dan keningnya mengernyit, pertanda bahwa dia tidak suka.

"Kok tanya balik?" balas Kagami. "Gue kan tanya ke elo."

Aomine mengangkat bahunya. "Anak kecil ngerti apa sih." Ujarnya.

Kagami diam mendengarnya. Aomine jadi tidak tahu harus bilang apa. Tapi mau apalagi, dia paling tidak suka ditanya-tanya tentang cita-citanya menjadi atlit yang terhenti di tengah jalan. Itu sama saja dengan membuka luka lama. Semakin diingat, semakin perih.

"Gue memang nggak ngerti apa-apa sih," kata Kagami, menyandarkan kepalanya di bantalan sofa, menatap ke langit-langit. "Tapi satu hal yang gue yakin seratus persen soal elo." Kata Kagami, memejamkan matanya.

Aomine melirik Kagami sekilas, lalu meneguk air putih untuk kemudian berbicara.

"Apa?"

"Lo cinta basket, sebesar gue mencintai basket." Kata Kagami pelan. "Aura saat lo mendribble bola? Seringai geblek lo waktu nyuri bola dari gue? Gue yakin kita sama, Aomine."

Aomine diam. Mendengarkan kata-kata Kagami dengan seksama. Kemudian menyadari kalau itu pertama kalinya Kagami menyebut namanya dengan benar. Bukan pakai panggilan Om-om, Ahomine, atau semacamnya.

"Jadi gue heran… dengan skill basket lo yang kayak gitu, kenapa malah jadi polisi? Padahal lo bisa jadi pemain basket profesional." Lanjut Kagami. Suaranya melemah, terdengar sudah lelah dan mengantuk.

Aomine mengamati Kagami yang sedang terpejam dan menatap langit-langit. Lalu dia menghela nafas. Entah apa yang dipikirkannya sekarang.

"Lo nggak bakalan ngerti." Kata Aomine.

Kemudian, persis sedetik setelah dia mengatakannya, kepala Kagami yang masih bersandar pada bantalan sofa, menoleh padanya. Dengan mata terbuka, dia menatap Aomine lurus.

"Coba aja." Katanya. Nadanya serius, membuat Aomine tidak bisa menatap yang lain selain Kagami. Entah karena tatapan Kagami, entah karena Aomine sudah terlalu lelah menyimpannya sendiri, entah karena suasana yang mendukung, Aomine menceritakan semuanya.

Tentang hidupnya yang penuh dengan ekspektasi orang tua. Tentang bagaimana mereka tidak pernah mendukungnya bermain basket. Tentang bagaimana Aomine mengecewakan mereka saat dia membuat ulah di sepanjang Aomine SMP. Tentang bagaimana Aomine kabur dari rumah dan tidak mau bertemu orang tuanya selama 4 bulan saat dia SMA. Tentang bagaimana Ayah Aomine memukulnya setelah itu, menyuruhnya pulang, memandang Aomine sebagai produk gagal.

"Menurut mereka, gue terlalu banyak mengecewakan orang tua. Mereka selalu menuntut lebih dari gue. Tanpa mau peduli apa yang gue pengen." cerita Aomine. Dia bukannya tidak sadar, selama cerita, mata Kagami tidak pernah terlepas darinya, telinga Kagami selalu terbuka untuk mendengarkannya. Tapi Aomine memilih untuk menatap ke arah lain.

"Jadi gue pikir, ngapain gue ngotot untuk jadi pemain basket profesional kalo dua orang yang paling gue harapkan untuk mendukung aja nggak setuju?" Aomine mengakhiri ceritanya.

"Dan lo mendaftar jadi polisi? Karena orang tua lo nyuruh?" tanya Kagami hati-hati.

Aomine mengangguk.

"Dan sekalipun lo nggak pernah nyesel dengan pilihan lo?" tanyanya lagi.

Itu, dan Aomine memejamkan matanya.

"Gue nyesel setengah mati, Kagami." Jawab Aomine. "Mungkin selama gue hidup, gue akan terus nyesel."

Kagami diam. Aomine membayangkan ekspresi Kagami sedang mengasihaninya, jadi ketika Aomine memberanikan diri menoleh ke arah Kagami dan mendapati Kagami balik menatapnya sambil geleng-geleng kepala, Aomine sangat lega. Karena dia benci dikasihani.

"It sucks." Kata Kagami.

Aomine tertawa.

"Iya. Tapi gue masih nyesel, men."

"I know," Kata Kagami. "Kalo gue jadi lo, gue pasti juga nyesel."

"Yup."

"Tapi lo tau?" tanya Kagami, bergeser mendekat ke arah Aomine. Aomine berkedip beberapa kali, kemudian kaget ketika satu tangan Kagami melingkari pundaknya.

"Apaan?" tanya Aomine.

"Yang lalu, biar berlalu. Hidup lo udah kayak gini, kan? Jadi berhenti menyesali karena itu hanya bakal jadiin hidup lo sengsara." Ujar Kagami. Tangannya menepuk-nepuk pundak Aomine, seolah ingin menenangkan Aomine. Aomine jadi geli sendiri.

"Iya sih. Tapi setiap ngeliat NBA, gue jadi bertanya-tanya, coba kalo gue dulu nggak daftar jadi polisi. Kayak apa hidup gue sekarang."

Kagami mengangguk. "Good point sih, tapi gimana lagi? Udah berlalu kan? Menurut gue, sekarang lo jalani apa yang ada, fokus buat jadi bahagia. dan yang paling penting... suatu saat nanti, kalo lo punya anak, jangan pernah memperlakukan anak lo kayak ortu lo memperlakukan lo."

Tangan Kagami masih melingkari pundaknya. Tapi ketika itu, Aomine tahu, kalau ucapan seorang anak SMA bernama Kagami Taiga, mampu membuat perasaan mengganjal di dada Aomine hilang tidak berbekas. Entah kenapa, Aomine merasa bisa mempercayai anak ini. Entah kenapa, Aomine merasa hidupnya tidak seburuk yang dia rasakan sebelumnya. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, Aomine merasa hatinya menghangat ketika menatap seseorang.

Kagami melepaskan rangkulannya, lalu melihat ekspresi Aomine yang berubah jadi aneh dan malah mengartikannya lain.

"Nggak usah terharu gitu dong, gue ikut nangis nih." Godanya. Aomine tertawa, lalu mendorong Kagami sampai terjungkal.

"Gue? Terharu? Sama anak SMA kayak lo? Sori ya." Kata Aomine.

Kemudian adu mulut antara Aomine dan Kagami pun terjadi lagi. Baru reda setelah lima belas menit kemudian Aomine kebelet pipis. Biasanya Aomine akan langsung pulang ke apartemen sebelah, tapi ketika dia melewati ruang tamu dan menemukan Kagami tertidur bersandarkan bantalan sofa, Aomine tidak bisa menahan senyumnya.

Aomine berjalan, memandangi anak SMA yang tertidur dengan polosnya. Tanpa suara, Aomine meletakkan tangannya dibawah leher Kagami dan tangan satunya dibawah lututnya. Dengan menghitung satu, dua, tiga, dia menggendong Kagami. Berhati-hati agar tidak membangunkannya, Aomine berjalan tertatih ke kamar Kagami.

Sial. Berat banget. Pikir Aomine. Tapi pada akhirnya, dengan selamat sentosa Aomine berhasil meletakkan Kagami di tempat tidurnya tanpa membangunkannya!

Perjalanan yang berat itu terbayarkan ketika Aomine melihat Kagami tertidur dengan ritme nafas yang damai. Wajahnya polos, seperti malaikat tanpa dosa. Dan Aomine, entah kenapa tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.

Aomine mengenal anak ini baru beberapa minggu. Tapi selama beberapa minggu ini, terlalu banyak kejadian yang membuat hidup Aomine kembali berwarna.

Dan ini semua… karena Kagami.

Jadi Aomine sama sekali tak menyalahkan siapapun ketika otaknya menyuruh tubuhnya untuk membungkuk dan mengamati wajah Kagami lebih dekat. Ketika akhirnya Aomine mencium bibir Kagami dengan lembut, saat itulah ia merasa utuh.

Dan itu membuatnya sadar, bahwa malam itu, ia jatuh cinta.

.

.

TBC

Notes : Chaper 4 is UP! Nggak bisa banyak ngomong di author notes :') authornya sibuk sendiri-sendiri. huhu.