Title : Tangled
Cast : Kai, Sehun, Others
Warning : This is REMAKE!
Typo, susah dimengerti/?
Disclaimer : Original story is belong to TANGLED By EMMA CHASE
Yang ku punya hanya nama cast/? XD
GS, buat keperluan dan kenyambungan/? cerita :3
.
.
.
Here it is chapter 4 :D
Happy Reading
.
.
.
Ternyata aku tidak terkena blue balls sama sekali. Aku menemui gadis yang kukenal di coffee house malam itu-untuk menuntaskan hasrat. Dia adalah seorang instruktur yoga. Puas.
Apa? Ayolah, jangan seperti itu. Aku menginginkan Sehun, tidak diragukan lagi. Tapi jangan berharap aku bersikap seperti biarawan sampai hal itu terjadi. Yang tidak di pahami wanita adalah bahwa seorang pria bisa menginginkan seorang wanita tapi masih meniduri wanita yang lain. Bahkan, seorang pria bisa mencintai seorang wanita dan masih bisa meniduri sepuluh wanita lainnya. Begitulah kenyataannya. Seks adalah sebuah pelepasan. Fisik semata. Itu saja. Setidaknya bagi pria seperti itu.
Oke, Oke—tenang dulu—jangan mulai melempar sepatu atau benda apapun kearahku. Setidaknya pria seperti aku, lebih baik, kan? Mungkin kalian akan memahami sudut pandangku jika aku menjelaskannya seperti ini: kalian menyikat gigi, kan? Misalkan pasta gigi favorit kalian adalah Aquafresh. Tapi di toko habis. Yang tersedia hanya Colgate. Apa yang akan kalian lakukan? Kalian akan menggunakan Colgate, kan? Kalian mungkin ingin menyikat gigi dengan Aquafresh, namun pada akhirnya kalian menggunakan apa yang kalian punya untuk membuat gigi tetap bersih seputih mutiara. Paham cara berpikirku? Bagus. Sekarang, kembali ke kisah duka dan penderitaanku.
.
.
.
Aku tidak pernah merayu seorang wanita sebelumnya, tidak dalam arti yang umum. Biasanya, aku hanya melihat, mengedipkan mata, tersenyum. Sebuah sapaan yang ramah, satu atau dua gelas minuman. Setelah itu satu-satunya pertukaran verbal yang terlibat hanyalah satu kata pendek seperti lebih keras, lagi, lebih rendah...kalian pasti mengerti maksudnya.
Jadi, segala hal tentang percakapan dengan seorang wanita untuk mengajaknya ke ranjang merupakan konsep yang cukup baru bagiku, kuakui. Tapi aku tidak khawatir. Kenapa tidak, jika kalian tanya? Karena aku bermain catur. Catur adalah permainan strategi, perencanaan, berpikir dua langkah ke depan untuk langkah berikutnya. Mengarahkan lawanmu tepat dimana kalian menginginkannya.
Selama dua minggu setelah pertemuan hari pertama, berhubungan dengan Sehun, bagiku persis seperti bermain catur. Beberapa kata sugestif, belaian biasa tapi menggoda. Aku tidak akan membuat kalian bosan dengan setiap detil percakapan. Aku hanya akan mengatakan semua berjalan dengan baik, segalanya berjalan sesuai rencana. Kurasa semuanya akan memakan waktu satu minggu—maksimaldua minggu—sampai aku dapat mengklaim harta diantara paha kenyalnya. Aku sudah tahu bagaimana nanti hasilnya. Pada kenyataannya aku telah menghabiskan waktu berjam-jam, membayangkannya, berkhayal tentang itu. Ingin mendengar khayalanku?
Ini terjadi di kantorku. Suatu malam ketika kami berdua bekerja lembur—satu-satunya orang yang masih di kantor. Dia pasti lelah, kaku. Aku akan menawarkan memijit lehernya. Dan dia akan mengizinkanku. Kemudian aku akan menunduk dan menciumnya, mulai dari bahunya, naik sampai lehernya, merasakan kulitnya dengan lidahku. Akhirnya, bibir kami akan bertemu. Dan itu akan menjadi panas—membara. Dan dia akan melupakan semua alasan tentang kenapa kami tidak seharusnya: tempatnya bekerja kita bersama, tunangan bodohnya. Satu-satunya hal yang akan dia pikirkan adalah aku dan apa yang akan dilakukan oleh kedua tangan ahliku padanya. Aku punya sebuah sofa di kantorku, sofanya dari bahan suede—bukan kulit. Apakah suede bisa bernoda? Semoga tidak. Karena di sanalah kami akan berakhir—pada sofa terbengkelai yang menyedihkan itu.
Sekarang biarkan aku menanyakan ini pada kalian: apakah kalian pernah melihat iklan yang mengatakan bagaimana kehidupan bisa berubah dalam sekejap? Ya, ya aku menuju ke suatu tempat—bersabarlah denganku. Kalian tahu apa yang sedang kubicarakan, bukan? Di mana keluarga bahagia mengemudi di Main Street pada hari yang cerah dan kemudian...BAM. Tabrakan dengan semi trailer. Dan sang ayah terbang keluar jendela karena dia tidak mengaitkan sabuk pengamannya.
Cerita itu dirancang untuk menakut-nakuti kita. Dan memang begitu. Tapi kenyataannya tetap penuh kebenaran. Tujuan kita, prioritas kita dapat berubah seketika—biasanya ketika kita tidak menduganya. Jadi, setelah dua minggu menyusun strategi dan berkhayal, aku yakin Sehun akan menjadi kencan satu malamku berikutnya. Aku tak ingat pernah menginginkan seseorang sebanyak aku menginginkan dia. Aku pasti belum pernah menunggu seorang wanita selama aku menunggu Sehun.
Dan kemudian, pada Senin sore, ayahku memanggilku ke kantornya. "Duduklah, nak. Ada beberapa urusan yang ingin kubahas." Ayahku sering memanggilku di sini untuk membicarakan hal-hal yang dia belum siap untuk bagikan dengan seluruh staf. "Aku baru saja selesai bicara lewat telepon dengan Kwon Jaehee. Dia mencari diversifikasi. Dia akan datang ke kota ini bulan depan untuk berkeliling mencari ide."
Kwon Jaehee adalah taipan media, kaya raya. "Bulan depan? Oke, aku bisa mengerjakannya. Tidak ada masalah."
Aku merasakan kegembiraan memompa di pembuluh darahku. Pasti beginilah yang hiu rasakan setelah seseorang membuang seember daging cincang ke dalam air. Keriuhan.
"Jongin..." ayahku menyela, tapi pikiranku terlalu sibuk berputar dengan ide-ide untuk bisa mendengarnya.
"Ada petunjuk apa yang dia cari? Maksudku kemungkinannya tidak terbatas."
"Nak..."
Ayahku mencoba lagi. Kalian bisa menduganya, bukan? Namun aku terus mengoceh, "Stasiun tv kabel adalah mesin penghasil uang. Media sosial ada di toilet sekarang, jadi kita bisa mengambil beberapa penawaran yang nyata. Produksi film selalu menjadi taruhan yang aman, dan itu akan mengurangi biaya tambahan ketika mereka memutar ulang pada jaringannya sendiri."
"Jongin. Aku ingin memberikan klien itu pada Oh Sehun."
Tunggu sebentar! "Apa?"
"Dia bagus, aku sudah bilang padamu, dia sangat bagus."
"Dia di sini baru dua minggu!"
Anjing adalah binatang teritorial. Kalian tahu itu, kan? Itulah sebabnya kenapa di taman mereka tampaknya tidak pernah kehabisan pasokan urin, mereka bersikeras berhenti setiap empat detik untuk mendistribusikan urinnya di area sekitar. Itu karena mereka percaya itu adalah taman mereka. Dan mereka ingin anjing-anjing lain mengetahuinya, supaya tahu bahwa mereka yang pertama ada di sana. Ini adalah cara non verbal yang artinya sama dengan, "Pergi dari sini—cari tamanmu sendiri."
Begitu juga laki-laki. Bukan berarti aku akan kencing di sekitar mejaku atau apapun, tapi perusahaan ini adalah milikku. Aku sudah membina klien-klien ini sejak perusahaan mereka masih kecil. Aku memandang perusahaan itu seperti ayah yang bangga, saat mereka tumbuh menjadi konglomerat yang kokoh. Aku menjamu mereka dengan minuman dan makanan mewah, aku telah menghabiskan jam demi jam, bertahun-tahun tanpa tidur nyenyak. Tugasku adalah bukan hanya apa yang aku lakukan—itulah siapa aku. Dan aku akan sangat tidak rela jika Oh Sehun berjalan ke sini dan mengambilnya dariku. Tidak peduli seberapa bagus pantatnya.
"Ya," kata ayahku. "dan apa kau melihatnya beberapa hal yang dia hasilnya selama dua minggu ini? Dia adalah yang pertama datang dan terakhir meninggalkan kantor—setiap hari. Dia segar dan berpikir di luar kebiasaan. Dia mengembangkan beberapa investasi yang paling inovatif yang pernah aku lihat. Naluriku mengatakan untuk memberinya kesempatan dan melihat apa yang akan dia lakukan."
"Dia akan meraba-raba—itulah yang akan dia lakukan!" Teriakku.
Tapi aku tahu dari pengalaman bahwa bersikap dramatis tidak berpengaruh apapun dengan ayahku, jadi aku memijit hidungku berusaha untuk menenangkan diri.
"Baiklah, Dad, aku mengerti apa yang kau katakan. Tapi Kwon Jaehee bukanlah klien yang kau berikan kepada seseorang hanya untuk mengetahui apakah dia bisa melaksanakan tugasnya. Dia
adalah klien yang kau berikan kepada orang terbaik dan tercerdas. Seseorang yang kau tahu bisa membawa sampai ke zona akhir. Dan itu adalah aku."
Bukankah begitu? Aku bertanya-tanya saat ekspresi ketidakpastian menyelimuti wajahnya.
Saat ayahku terus terdiam, perutku menggeliat dengan cemas. Ini bukan karena aku memiliki Daddy complex* atau semacamnya, tapi bohong kalau kubilang aku tidak menikmati kebanggaan ayahku dalam kinerjaku di kantor. Aku adalah tangan kanannya. Aku adalah orang yang dapat mengatasi masalahnya.
Saat jam menunjukkan pukul dua kurang lima menit, aku sangat yakin aku satu-satunya orang yang akan mendapat kepercayaan dari Kim Jongwoo-ayahku. Atau setidaknya aku dulunya begitu. Aku terbiasa mendapatkan kepercayaan penuhnya. Fakta bahwa kepercayaan ayahku sepertinya goyah adalah...Well,...sungguh menyakitkan.
"Begini saja." Dia mendesah. "Kita punya waktu satu bulan. Datanglah dengan sebuah presentasi. Sehun juga melakukan hal yang sama. Siapapun yang bisa membuatku terkesan akan segera bekerja
pada Kwon Jaehee."
Seharusnya aku benar-benar merasa tersinggung. Apa yang ayahku minta sama saja mengatakan kepada seorang pemenang Oscar bahwa dia harus mengikuti audisi untuk menjadi pemain figuran. Tapi aku tidak membantah. Aku terlalu sibuk merencanakan langkah selanjutnya. Jadi, kalian mengerti apa yang kukatakan tentang kehidupan? Dengan demikian, Oh Sehun telah berubah dari seorang wanita yang tidak sabar ingin kuajak dansa secara mesum menjadi seseorang yang tidak sabar ingin aku remukkan di bawah sepatuku. Lawanku. Sainganku. Musuhku. Itu bukan salah Sehun. Aku tahu. Sekarang tanyakan padaku apakah aku peduli. Tidak—tidak sedikitpun.
.
.
.
Dalam mode siap tempur, aku kembali ke markas—yang juga dikenal sebagai kantorku. Aku memberi Krystal beberapa perintah dan bekerja di sisa sore hariku. Sekitar pukul enam sore, aku meminta Krystal memanggil Sehun datang ke kantorku. Selalu memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah. Bermain di kandang sendiri. Ingat itu. Dia datang dan duduk, ekspresinya tak terbaca.
"Ada apa, Jongin?"
Rambutnya terurai. Membingkai wajahnya dalam tirai panjang yang mengkilap. Untuk sesaat, aku membayangkan bagaimana rasanya jika rambut itu menggelitik dadaku. Menyebar di pahaku. Aku menggelengkan kepala. Fokus, Jongin, fokus.
Dia mengenakan setelan burgundy gelap dengan sepatu yang cocok. Sehun suka memakai sepatu hak tinggi, cocok dengan kaki jenjangnya, tinggi yang diberikan oleh sepatunya membuat Sehun merasa semakin percaya diri di kantor.
Pria menyukai wanita yang memakai sepatu hak tinggi. Kami mengasosiasikan mereka dengan segala jenis posisi seksual yang fantastis. Jika kalian ingin seorang pria memperhatikanmu, kalian tidak akan salah kalau memakai sepatu stiletto mengkilap setinggi empat inchi, aku bersumpah.
Saat mataku berkeliaran di tubuhnya dari ujung kepala sampai kaki, satu masalah muncul. Meskipun pikiranku mengakui kalau Oh Sehun sekarang sainganku, ternyata kejantananku belum mendapat memo. Dan kejantananku, dilihat dari reaksinya, masih ingin membuat pertemanan.
"Kwon Jaehee akan datang ke kota ini bulan depan," Kataku akhirnya.
Sehun mengangkat alis. " Kwon Jaehee? benarkah?"
"Benar." Kataku padanya dengan serius. Tidak ada lagi kesenangan untuknya.
"Ayahku ingin kau menyusun contoh presentasi. Sebuah praktek, seolah kau benar-benar akan mendapatkan klien. Dia pikir itu akan menjadi latihan yang bagus untukmu."
Aku tahu. Aku tahu...Kalian pasti berpikir aku seorang bajingan. Aku bahkan tidak memberikan kesempatan yang adil untuknya. Well, lupakanlah. Ini adalah bisnis. Dan dalam bisnis—seperti halnya perang—segalanya adil.
Aku mengira dia akan bersemangat, aku mengira dia akan berterima kasih. Reaksinya bukan salah satu dari keduanya. Sehun menekan bibirnya menjadi satu garis ketat, dan ekspresinya berubah menjadi serius. "Praktek, hah?"
"Benar sekali. Ini bukan urusan besar, kau jangan terlalu khawatir. Berikan saja suatu proposal untuknya. Secara hipotesis."
Dia melipat tangannya di depan dada dan memiringkan kepalanya kesamping. "Sungguh menarik, Jongin. Mengingat ayahmu baru saja mengatakan padaku ia belum memutuskan siapa yang mendapatkan Kwon Jaehee, klien itu akan jatuh ke kamu atau aku, tergantung siapa yang dapat menyusun strategi yang lebih mengesankan. Cara dia menjelaskan, kedengarannya seperti urusan yang sangat besar."
Oh...Uh.
Ketika aku berusia dua belas tahun, Moonkyu dan aku mengambil majalah Hustler dari sebuah toserba. Ayah memergokiku di kamar membaca majalah itu sebelum aku punya kesempatan menyembunyikannya di bawah kasur. Ekspresi wajahku saat ini mirip sekali dengan kejadian waktu itu. Tertangkap basah.
"Kita bermain sedikit kotor, ya?" Dia bertanya, matanya menyipit dengan curiga.
Aku mengangkat bahu. "Jangan terburu-buru, sweetheart. Kwon Jaehee akan jadi milikku. Ayahku hanya melemparkan tulang padamu."
"Tulang?"
"Ya, bibirnya praktis melekat pada pantatnya sejak kau mulai kerja. Aku heran kalau dia masih bisa berdiri tegak. Dia berpikir ini akan membuatmu lepas dari gangguanmu untuk sementara waktu."
Selalu menyerang terlebih dulu—ingat itu. Tim mana yang mencetak skor lebih dulu? Mereka hampir dipastikan menjadi tim pemenang. Cari tahu kalau kalian tidak percaya padaku. Ya, aku mencoba mengguncang kepercayaan dirinya, aku berusaha membuat dia keluar dari persaingan. Tuntut aku. Aku menceritakan pada kalian tentang sejarahku. Aku beritahu kalian bagaimana aku tumbuh dewasa. Aku tak pernah berbagi mainanku. Aku tak berencana untuk berbagi para klienku. Tanyakan pada setiap anak yang berumur empat tahun—Berbagi itu menyebalkan.
Ketika dia berkata, nadanya sangat mematikan, setajam golok. "Kalau kita akan bekerja sama, Jongin, kurasa kita harus meluruskan beberapa hal. Aku bukanlah sweetheart-mu. Namaku Oh Sehun. Camkan itu. Dan aku bukan orang yang suka menjilat. Aku tidak harus melakukannya. Pekerjaanku bicara dengan sendirinya. Kecerdasanku, tekadku—itu yang membuat ayahmu memperhatikanku. Dan jelas dia mengira kau agak kurang dalam bidang itu karena itulah dia mempertimbangkanku untuk Kwon Jaehee."
Oh. Tentu saja dia menyerang dengan sengit untuk memastikan kemenangan, benar, kan?
"Dan aku tahu wanita mungkin akan saling berebut untuk mendapat perhatian dan senyum menawanmu," ia melanjutkan, "tapi, itu tidak akan terjadi padaku. Aku tidak berencana untuk menjadi salah satu dari para penggemarmu atau takik pada tiang ranjangmu, jadi kau bisa memberikan rayuanmu, senyummu dan omong kosongmu untuk orang lain."
Dia berdiri dan tangannya bertumpu di tepi mejaku, membungkuk. Hei, kalian tahu kalau aku duduk sedikit tegak, aku bisa melihat tepat di bawah blusnya, aku suka titik itu pada wanita. Lembah diantara— Hentikan!
Secara mental, aku menampar diri sendiri, dan Sehun melanjutkan. "Kau terbiasa menjadi nomor satu di sini, terbiasa menjadi anak kesayangan ayahmu. Well, ada pemain baru di kota ini. Hadapilah. Aku telah bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan ini, dan aku berencana untuk membangun reputasiku sendiri, kau tidak suka berbagi ketenaran? Sayang sekali. Kau bisa juga berbagi ruang untukku, atau aku akan menginjakmu kalau kau menghalangi jalanku. Apapun yang terjadi, aku jamin aku akan ada di sana."
Dia berbalik untuk pergi tapi kemudian dia menoleh kearahku, bibirnya melengkung membentuk senyum manis sekali. "Oh, dan aku akan bilang semoga beruntung dengan Kwon Jaehee, tapi aku tidak mau repot-repot. Semua keberuntunganmu tidak akan membantumu. Kwon Jaehee adalah milikku...sweetheart."
Dan dengan begitu, dia berbalik dan berjalan keluar dari kantorku, melewati Moonkyu dan Chanyeol, yang berdiri di depan pintu dengan mulut ternganga.
"Well...Sialan," kata Moonkyu.
"Ok. Apakah ada orang yang terangsang sekarang?" Chanyeol bertanya, "serius, aku mengalami ereksi sekarang karena—" dia menunjuk Sehun yang baru saja berlalu. "tadi sangat panas."
Itu memang panas. Oh Sehun adalah seorang wanita cantik. Tapi ketika dia marah. Dia spektakuler.
Sunwoo berjalan masuk dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Melihat ekspresi di wajah kami, dia bertanya, "Apa? Apa aku lewatkan sesuatu?"
Moonkyu dengan senang hati mengatakan padanya, "Jongin kehilangan sentuhannya. Dia baru saja diomeli habis-habisan. Oleh seorang cewek."
Sunwoo mengangguk muram dan berkata, "Selamat datang di duniaku, Bro." Maksudnya dia juga sering diomeli Yuri dan menyelamatiku karena sekarang aku tahu rasanya.
Aku mengabaikan three stooges-sebuah grup komedi. Perhatianku masih terfokus pada tantangan yang baru saja Sehun berikan. Testosteron terpompa melalui tubuhku meminta kemenangan. Tidak saja menang, tapi menang telak—tidak ada yang lebih memuaskan kecuali menang KO tanpa perlawanan.
.
.
.
Dan dimulailah—Olimpiade investasi perbankan. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini adalah kontes dewasa antara dua rekan profesional dan sangat cerdas. Aku ingin mengatakan ini penuh persahabatan. Aku ingin menga...tapi aku tidak ingin. Karena aku pasti bohong. Ingat komentar ayahku? Komentar bahwa Sehun menjadi orang yang pertama datang ke kantor dan orang terakhir yang pergi? Komentar itu menempel dalam pikiranku sepanjang malam. Mendapatkan kontrak dari Kwon Jaehee bukan hanya tentang melakukan presentasi terbaik, menemukan ide-ide terbaik. Itulah yang dipikirkan Sehun—tapi aku lebih tahu. Toh, pria itu adalah ayahku; kita memiliki DNA yang sama. Ini juga tentang penghargaan. Siapa yang lebih berdedikasi. Siapa yang akan mendapatkannya. Dan aku bertekad untuk menunjukkan pada ayahku bahwa aku adalah orangnya.
Jadi, hari berikutnya aku datang satu jam lebih awal. Selanjutnya saat Sehun tiba, aku tidak mendongak dari mejaku, tapi aku merasakannya saat ia berjalan melewati pintuku. Lihat ekspresi wajahnya? Langkahnya sedikit terhenti saat ia melihatku? Cemberutnya muncul ketika menyadari bahwa dia adalah orang kedua yang masuk? Lihat tatapan keras di matanya? Jelas, aku bukan satu-satunya orang yang melakukannya dengan sangat serius.
Pada hari Rabu, aku datang pada waktu yang sama dan melihat Sehun sedang mengetik di mejanya. Dia mendongak ketika melihatku. Dia tersenyum riang. Dan melambai. Sial.Hari berikutnya, aku datang setengah jam lebih awal...dan seterusnya. Apa kalian bisa melihat polanya di sini? Saat Jumat
berikutnya datang, aku mendapati diriku berjalan ke depan gedung jam setengah lima pagi. Setengah-lima-pagi! Sekarang masih gelap. Dan saat aku sampai ke pintu gedung, tebak siapa yang kulihat di depanku, datang pada waktu yang sama? Sehun.
Dapatkah kalian mendengar desisan dalam suaraku? Kuharap kalian bisa. Kami berdiri di sana saling beradu pandang, mencengkeram kafein berisi cappuccino double-mocha ekstra besar di tangan kami. Sedikit mengingatkan kalian tentang salah satu film koboi lama, bukan? Kalian tahu yang kumaksudkan—di mana dua orang berjalan menyusuri jalanan kosong di siang bolong untuk saling baku tembak. Jika kalian mendengarkan dengan cermat, mungkin kalian bisa mendengar panggilan kesepian burung pemakan bangkai sebagai latarnya.
Secara bersamaan, Sehun dan aku menjatuhkan minuman kami dan lari bergegas ke arah pintu. Di lobi, dia menekan tombol lift dengan mati-matian sementara aku menuju tangga. Betapa jeniusnya diriku, kupikir aku bisa melangkah tiga undakan sekaligus. Tinggiku 182 cm—kakiku panjang. Satu-satunya masalah, tentu saja bahwa kantorku ada di lantai empat puluh. Idiot.
Ketika aku akhirnya mencapai lantai tempat kerja kami, terengah-engah dan berkeringat, aku melihat Sehun sedang santai bersandar di pintu kantornya, mantel sudah ditanggalkan, segelas air di tangan. Dia menawarkannya padaku, diiringi dengan senyum mempesonanya. Itu membuatku ingin mencium dan mencekiknya pada saat yang sama. Aku tidak pernah suka masokis. Tapi aku mulai melihat manfaatnya.
"Di sini kau rupanya. Sepertinya kau bisa menggunakan ini,Jongin." Dia memberiku gelasnya dan pergi dengan langkah yang dibuat-buat. "Semoga harimu menyenangkan."
Benar. Tentu, aku akan melakukannya. Karena sejauh ini sudah mulai bagus.
.
.
.
Aku yakin aku pernah menyebutkan ini sebelumnya, tapi aku akan mengulanginya lagi agar kita bisa lebih jelas. Bagiku, bekerja mengalahkan seks. Setiap saat. Selalu. Kecuali untuk malam Minggu. Sabtu adalah malam pergi ke klub. malamnya cowok. Malam berkencan-dengan-gadis-cantik- dan bercinta- habis-habisan. Kendati ketekunan baruku di tempat kerja saat aku bersaing dengan Sehun untuk mendapatkan kontrak Kwon Jaehee, malam Mingguku tak pernah berubah. Malam Minggu adalah sakral.
Apa? Apa kalian ingin aku menjadi gila? Hanya bekerja dan tidak bermain akan membuat Jongin menjadi cowok yang gampang marah. Jadi, malam Minggu aku bertemu seorang janda berambut cokelat di sebuah bar bernama Rendezvous. Aku mendapati diriku tertarik pada wanita berambut cokelat untuk beberapa minggu terakhir. Malam yang hebat. Seorang janda memiliki banyak kemarahan yang tertahan—banyak frustrasi yang terpendam —yang tak pernah gagal untuk ditafsirkan ke dalam percintaan yang lama, keras dan nikmat. Ini persis dengan apa yang kucari dan satu-satunya yang kubutuhkan.
Tapi, untuk alasan tertentu, hari berikutnya aku masih tegang. Gelisah. Ini seperti aku telah memesan bir pada pelayan, dan dia membawakanku soda. Seperti aku makan sandwich ketika apa yang kuinginkan adalah steak basah yang lezat. Aku kenyang. Tapi jauh dari puas. Pada saat itu, aku tak tahu kenapa aku merasa seperti itu. Tapi kuyakin kalian tahu, kan?
.
.
.
Untuk melakukan pekerjaanku dengan baik, aku perlu buku— banyak buku. Buku hukum, kitab undang-undang, dan peraturan yang terkait dalam pekerjaan yang kulakukan adalah rinci dan sering berubah. Untungnya bagiku, perusahaanku memiliki koleksi paling lengkap dari bahan referensi yang bersangkutan di kota ini. Well, kecuali mungkin perpustakaan kota. Tapi apa kalian sudah melihat tempat itu? Perpustakaan kota seperti sebuah kastil. Dibutuhkan waktu yang lama untuk mencari tahu di mana suatu buku seharusnya berada, dan ketika kalian mengetahuinya, kemungkinan besar bukunya sedang dipinjam.
Perpustakaan pribadi perusahaanku jauh lebih nyaman. Jadi, Selasa sore, aku berada di mejaku sedang mengerjakan salah satu referensi tersebut ketika aku mendapat kehormatan atas hadirnya seseorang. Ya—Oh Sehun yang cantik. Dia terlihat sangat lezat hari ini. Suaranya ragu-ragu. "Hei, Jongin? Aku sedang mencari Technical Analysis of the Financial Markets, dan itu tidak ada di perpustakaan. Apa kau kebetulan meminjamnya?"
Dia menggigit bibir dengan cara yang menggemaskan setiap kali dia gugup. Buku yang di maksud sebenarnya tergeletak tepat di mejaku. Dan aku hampir selesai membacanya. Aku bisa menjadi orang yang lebih baik—lebih berjiwa besar—dan memberikan buku itu padanya. Tapi kalian pasti berpikir bahwa aku tidak akan melakukannya, kan? Apa kalian tidak belajar apa pun dari percakapan kita terdahulu?
"Ya, memang aku meminjamnya," kataku padanya.
Sehun tersenyum. "Oh, bagus. Kapan menurutmu kau akan menyelesaikannya?"
Aku menatap ke langit-langit, seolah sedang berpikir keras. "Tidak yakin. Empat...mungkin lima...minggu."
"Minggu?" Dia bertanya, menatap ke arahku. Dapatkah kalian lihat bahwa Sehun kesal? Aku tahu apa yang kalian pikirkan. Jika aku pada akhirnya menginginkan—setelah seluruh urusan dengan Kwon Jaehee selesai—berhubungan seks dengan Sehun, kenapa aku tidak mencoba bersikap sedikit lebih baik padanya? Dan kalian benar. Itu tidak masuk akal. Tapi urusan dengan Kwon Jaehee belum selesai. Dan seperti yang telah kukatakan sebelumnya—kawanku, ini adalah perang. Aku sedang membicarakan tentang siap siaga perang, lepas sarung tangan, perang yang menyatakan aku-akan-merobohkanmu-meski-kau-seorang- wanita.
Kalian takkan memberikan peluru kepada penembak jitu yang membidikkan senjatanya ke dahimu, kan? Ditambah, Sehun sangat cantik ketika dia marah dan tak akan kulewatkan kesempatan untuk melihat dia marah lagi, hanya untuk kesenanganku sendiri. Aku mengamatinya dari atas sampai ke bawah penuh apresiasi ketika aku bicara, sebelum memberinya senyum khas kekanak-kanakanku yang hampir semua wanita tidak akan berdaya menghadapinya. Sehun, tentu saja, bukan salah satu dari wanita-wanita itu. Sungguh menakjubkan.
"Ku kira jika kau memintanya dengan baik...dan memijit bahuku saat kau mengatakannya...Aku mungkin akan terbujuk untuk memberikannya padamu sekarang."
Kenyataannya adalah, aku tak akan pernah menuntut apapun yang menyerupai dengan kenikmatan seksual sebagai imbalan untuk sesuatu yang terkait dengan pekerjaan. Aku dapat berarti banyak hal. Yang pasti aku bukanlah seorang bajingan oportunis yang mengambil keuntungan dari orang lain. Tapi komentar terakhirku pasti dapat ditafsirkan sebagai pelecehan seksual. Dan bagaimana jika Sehun mengatakan kepada ayahku apa yang kuucapkan padanya? Demi Tuhan, ia akan memecatku lebih cepat daripada kalian pengucapan kalimat, "Kau berada dalam kondisi terburukmu dan tanpa ada harapan untuk mendapat pertolongan." Lalu kemungkinan besar ia akan mengomeliku habis-habisan sebagai tambahan.
Saat ini aku berada dalam situasi yang sangat serius. Namun, meskipun ada kemungkinan, aku yakin 99,9 persen bahwa Sehun tidak akan melaporkannya. Dia terlalu mirip denganku. Dia ingin menang. Dia ingin mengalahkanku. Dan dia ingin melakukan semuanya sendirian. Dia bertolak pinggang dan membuka mulutnya untuk mengumpatku —paling mungkin akan mengatakan ke lubang tubuh bagian mana aku bisa memasukkan buku itu, kurasa. Aku bersandar sambil tersenyum geli, penuh semangat mengantisipasi ledakan...yang tidak pernah datang.
Dia memiringkan kepalanya ke samping, menutup mulutnya, dan berkata, "...sudahlah."
Dan dengan itu, dia berjalan keluar pintu. Huh. Sedikit antiklimaks, kan? Kupikir juga begitu. Tunggu saja.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, aku pergi ke perpustakaan mencari buku referensi yang sangat besar berjudul Commercial and Investment Banking and the International Credit and Capital Markets. Semua novel Harry Potter sama tebalnya dengan satu bab buku ini. Aku mengamati susunan untuk mencari dimana buku itu seharusnya berada—tapi tidak ada. Orang lain pasti sedang meminjamnya.
Aku mengalihkan perhatianku ke buku yang jauh lebih kecil, tapi sama pentingnya, volume yang berjudul Investment Management Regulation, Seventh Edition. Hanya untuk mendapati bahwa judul itu juga hilang. Apa-apaan ini? Aku tak percaya pada kebetulan. Aku naik lift kembali ke lantai empat puluh dan dengan sengaja berjalan melewati pintu kantor Sehun yang terbuka. Aku seketika melihat Sehun. Itu karena tumpuk buku di sekeliling mejanya, tersusun rapi seperti pencakar langit yang tinggi, adalah buku-buku. Sekitar tiga lusin. Untuk sesaat, aku membeku, mulutku terbuka dan mata terbelalak karena syok. Kemudian, dengan konyol, aku bertanya-tanya bagaimana bisa dia membawa semuanya ke sini. Paling banter Sehun beratnya seratus sepuluh pon. Pasti ada beberapa ratus pon buku di ruangan ini.
Kemudian rambut hitam mengkilapnya muncul dari bawah. Dan, sekali lagi, dia tersenyum. Seperti kucing yang mulutnya penuh dengan burung. Aku benci kucing. Mereka terlihat agak jahat, kan? Seperti mereka hanya menunggumu untuk terlelap sehingga mereka dapat menutupimu dengan bulu atau kencing di telingamu.
"Hai, Jongin. Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanyanya dengan keramahan yang palsu. Jari-jarinya mengetuk dengan ritmis pada dua hardcover raksasa. "Kau perlu...bantuan? Saran? Arah menuju ke perpustakaan umum?"
Aku menahan jawabanku. Dan mengerutkan kening padanya. "Tidak. Aku baik-baik saja."
"Oh. Oke, bagus. Bye-bye." Dan dengan itu, dia menghilang kembali di balik segunung literatur.
Sehun—dua.
Jongin—nol.
2-0. Sial.
.
.
.
Setelah kejadian itu, keadaan jadi semakin parah. Aku malu untuk mengatakan bahwa baik Sehun dan aku tenggelam ke posisi terendah dalam sabotase profesional-kami sangat tak profesional, konyol. Suatu hari aku datang ke kantor mendapati semua kabel hilang dari komputerku. Ia tidak memberikan kerusakan jangka panjang, tapi aku harus menunggu satu setengah jam sampai petugas IT muncul dan menyambungkannya kembali. Keesokan harinya, Sehun datang ke kantornya mendapati bahwa "seseorang" telah menukar semua label pada disk dan file. Tidak ada yang terhapus, asal kalian tahu. Tapi dia harus melihat satu demi satu jika dia ingin menemukan dokumen yang dia butuhkan. Beberapa hari setelah itu pada rapat staf, aku secara "tidak sengaja" menumpahkan segelas air pada beberapa informasi yang telah Sehun susun untuk ayahku. Pekerjaan yang mungkin membutuhkan waktu lima jam atau lebih untuk menyusunnya menjadi satu.
"Ups. Maaf," kataku, membiarkan seringai di wajahku menjelaskan padanya betapa tidak menyesalnya aku.
"Tidak apa-apa, Mr. Kim," dia meyakinkan ayahku saat ia menyeka kekacauan. "Saya memiliki salinan lain di kantor."
Betapa siap siaganya dia, bukankah begitu? Kemudian—sekitar pertengahan rapat—kalian tahu apa yang dia lakukan? Dia menendangku! di tulang keringku, di bawah meja.
"Hmph," aku mengerang, dan tangan mengepal secara refleks.
"Kau baik-baik saja, Jongin?" Tanya ayahku.
Aku hanya bisa mengangguk dan memekik, "Ada sesuatu di tenggorokanku." Aku batuk dengan dramatis. Lihat, aku juga tak akan menangis melapor pada ayahku. Tapi demi Tuhan ini terasa sakit. Apa kalian pernah ditendang di tulang kering dengan hak sepatu runcing sepanjang empat inci? Bagi seorang pria, hanya ada satu daerah yang lebih menyakitkan untuk ditendang. Dan itu adalah tempat yang tidak berani aku sebut namanya. Setelah denyutan rasa sakit di kakiku sedikit berkurang, aku menyembunyikan tanganku di balik beberapa kertas dokumen sementara ayahku bicara. Lalu aku mengacungkan jari tengahku kearah Sehun. Tidak dewasa, kutahu, tapi rupanya kami berdua sekarang sudah bertingkah layaknya anak TK, jadi kuduga itu tidak apa-apa. Sehun mencibir kearahku. Lalu dia berucap tanpa suara, rasakan itu!. Well—sekarang dia membuatku tak bisa menjawab, ya kan?
.
.
.
Kami berada dalam tahap akhir perlombaan. Sebulan pertarungan hidup mati telah berlalu, dan besok adalah tenggat waktu yang diberikan ayahku. Sekarang sekitar jam sebelas malam, dan Sehun dan aku adalah satu-satunya orang yang tersisa di dalam gedung ini. Aku sudah punya fantasi ini beratus kali. Meskipun, harus kukatakan, itu tidak termasuk tentang kami berada di kantor masing-masing, saling melotot dari seberang lorong—disertai sesekali gerakan tangan yang tidak senonoh. Aku melirik dan melihat dia sedang meninjau grafik miliknya. Apa yang dia pikirkan? Apakah ini Jaman Batu? Masihkah ada orang yang memakai papan poster jaman sekarang? Kwon Jaehee pasti jadi milikku.
Aku baru saja memberikan sentuhan akhir pada presentasi PowerPoint yang mengesankan milikku ketika Moonkyu berjalan masuk kedalam kantorku. Dia akan pergi ke bar. Tak peduli bahwa ini adalah malam Kamis, begitulah Moonkyu. Beberapa minggu yang lalu, aku juga begitu. Dia menatapku dengan lama, tidak mengatakan apapun.
Lalu ia duduk di tepi mejaku dan berkata, "Sobat, sudahlah lakukan saja."
"Apa yang sedang kau bicarakan?" Tanyaku, jari-jariku tak pernah berhenti di atas keyboard.
"Apa kau mengamati dirimu sendiri belakangan ini? Kau hanya perlu berjalan kesana dan menyelesaikannya."
Dan sekarang dia membuatku jengkel. "Moonkyu, apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
"Apa kau pernah menonton film War of the Roses? Apa kau ingin berakhir seperti itu? "
"Aku punya pekerjaan yang harus dilakukan. Aku tak punya waktu untuk ini sekarang."
Dia mengangkat tangannya ke atas sebagai tanda putus asa. "Baik. Aku sudah mencoba. Saat kami mendapati kalian berdua di lobi di bawah lampu gantung yang jatuh, aku akan memberitahu ibumu bahwa aku sudah berusaha."
Aku berhenti mengetik. "Apa sebenarnya maksudmu?"
"Maksudku, kau dan Sehun. Sudah jelas kau punya perasaan tertentu terhadapnya."
Aku melirik kantornya ketika Moonkyu menyebutkan namanya. Sehun tidak mendongak. "Ya, aku punya 'perasaan tertentu' untuknya. Rasa benci yang hebat padanya. Kita tidak bisa mentolerir satu sama lain. Dia gadis yang sulit ditangani. Aku tak akan menidurinya dengan dildo yang panjangnya sepuluh kaki."
Oke, itu tidak benar. Aku ingin menidurinya. Meskipun aku tidak akan menyukainya. Ya—kalian benar. Itu juga tidak tepat.
Moonkyu duduk di kursi di seberang mejaku. Aku bisa merasakan dia menatapku lagi. Lalu ia mendesah. Seperti mau mengatakan sesuatu yang menakjubkan, "Yoon Sohee, kau ingat?."
Aku menatap kosong kearahnya. Siapa?
"Yoon Sohee," katanya lagi, lalu menjelaskan, "waktu kita kelas tiga."
Gambaran seorang gadis kecil yang berkuncir dengan rambut berwarna coklat muda dan kacamata tebal melintas dalam benakku. Aku mengangguk. "Ya, kenapa dengan dia?"
"Dia adalah gadis pertama yang pernah kucintai."
Tunggu. Apa? "Bukankah kau dulu biasa memanggilnya Sohee si Bau?"
"Ya." Dia mengangguk dengan serius. "Ya, aku memanggilnya begitu. Dan aku mencintainya."
Aku masih bingung. "Bukankah kau membuat seluruh anak kelas tiga memanggilnya Sohee si Bau?"
Dia mengangguk lagi dan, berusaha terdengar bijak mengatakan, "Cinta membuatmu melakukan beberapa hal yang konyol."
Kurasa begitu, karena... "Bukankah Sohee harus pulang lebih awal dua kali seminggu untuk pergi ke terapis karena kau terlalu banyak mengejek dia?"
Dia merenungkan ini sejenak. "Ya, itu benar. Kau tahu, ada garis tipis antara cinta dan bencii, Jongin."
"Dan bukankah Yoon Sohee pindah sekolah akhir tahun itu karena—"
"Dengar, intinya, bahwa aku menyukai gadis itu. Mencintainya. Kupikir dia mengagumkan. Tapi aku tidak bisa mengatasi perasaan itu. Aku tak tahu bagaimana mengekspresikan perasaanku dengan cara yang tepat." Moonkyu tidak biasanya bersentuhan dengan sisi lembutnya.
"Jadi kau sebaliknya malah mengganggunya, kan?" Aku bertanya.
"Sayangnya, ya."
"Dan ini ada hubungannya antara Sehun dan aku karena...?"
Dia berhenti berdetak dan kemudian memberiku...tatapan itu. Sedikit gelengan kepala, meringis kekecewaan dan sedih. Tatapan yang ia berikan padaku lebih buruk dari rasa bersalah seorang ibu, aku bersumpah.
Dia berdiri, menepuk lenganku, dan berkata, "Kau orang yang cerdas, Jongin. Kau akan memahaminya." Dan bersamaan dengan itu, dia pergi."
Yeah, yeah, kutahu apa yang Moonkyu ingin sampaikan. Aku mengerti, oke. Dan aku bilang—terus terang—dia gila. Aku tidak memperdebatkan soal Sehun karena aku menyukainya. Aku melakukan itu karena keberadaannya mengacaukan jalur lintasan karirku. Dia adalah gangguan. Seekor lalat dalam supku. Bisul di pantatku. Sama sakitnya dengan sengatan induk lebah di pipi kiriku saat perkemahan musim panas ketika aku berumur sebelas tahun. Tentu, dia pasti menyenangkan di ranjang. Tapi itu tidak akan pernah lebih dari sekedar seks yang nikmat. Itu saja, kawan.
Apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Kalian tidak percaya padaku? Kalau begitu kalian sama gilanya dengan Moonkyu.
.
.
.
TBC
.
.
.
Review jutheyoo~
