Api : "WUIH... hebatnye! mampu membuat 2 chapters dalam sehari sekaligus! terbaiklah!"

Air : "ha-ah.. terbaik."

Anni : "hehehe.. makasih, makasih.. makasih ye?!" =(^0^)=

Swat : "cih, bangga amat." #ditabokAnni. *hore... #bersorak

oke.. oke.. tak usah aku buat lama-lama yah. habisnya, aku udah kehabisan kata-kata untuk meramaikan beberapa fic ini. jadi, LANJUTT!

ENJOY!~

Ditengah sebuah hutan yang rindang, dimana kicauan burung masih terdengar jelas di telinga seorang Pangeran bermata Merah menyala, layaknya api yang sedang membara-bara. Nah, Dialah Api. Pangeran dari kerajaan FireStrom. Pangeran satu ini terkenal ceria dan sangat lincah, serta tangguh di segala bidang olahraga maupun peperangan. Namun, bila dia sudah terlalu capek atau tertekan, dia tak bisa mengendalikan amarahnya dan membakar seluruh benda disekitarnya. Sekarang, Pangeran ceria ini, tidak menyunggingkan senyuman kekanak-kanaknya seperti biasa, dia sekarang sedang cemberut, kesal dan marah. Akan perintah ayahnya yang memitanya untuk menjadi pemimpin perang antar kerajaannya dan Kerajaan lain.

"ayah memang tak mau mengerti sama perasaan Api. Api gak mau pulang ah." ucapnya seperti anak kecil yang mengambek. Sembari tetap memanggang ikan hasil tangkapannya dengan tangannya yang panas.

Dia memang memiliki kekuatan untuk mengendalikan Api. Jadi, dia tak perlu repot untuk urusan masak-memasak.

'Hiks.. hiks.. Dewa Bumi...'

isak tangis seseorang dari belakangnya Api. Tentu Api segera menoleh kebelakang, Untuk mengetahui siapa yang menangis. Tapi, hasilnya nihil. Tak seorang pun ia temukan, melainkan hanya deretan-deretan pohon hijau yang indah.

"suara siapa ya?" renungnya sambil mencoba mendekati asal suara itu.

Dia terus mendekat, mendekat, dekat, hingga menemukan sesosok orang yang sedang meringkup kecil dengan bulih-bulih air disekelilingnya. Api masih mengintip orang itu dari balik pohon cemara yang besar. Memikirkan, apakah orang asing itu jahat atau bukan. Lama-lama, mata tajam milik Api, perlahan menjadi sayu. Ia tak tega melihat orang itu meringkup hingga sekecil itu di bawah pohon. Api pun mendekati orang itu dengan hati-hati.

"pe.. permisi? Kenapa anda menangis? Apa ada masalah?" ujar Api pelan-pelan mendekati orang itu.

Tiba-tiba saja, orang yang sedang meringkup itu mendangak, menatap Api secara langsung dengan mata yang masih sembab dan dirinya yang sedikit sesegukan. Api pun terkejut dengan wajah orang itu. Paras mereka nyaris sama. Hanya mata Api berwarna merah nyala sementara lawan tatapannya itu, biru laut.

Yap, dialah Air. Air masih merenungkan peperangan antara kerajaannya dan Kerajaan lain yang tidak ia ketahui. Bukannya tidak tau, tapi memang dia tidak ingin mengetahuinya. Air pun menyeka air matanya karena malu dilihat oleh Api. Api hanya menyunggingkan senyum cemas diwajahnya. Dia mendekati Air perlahan-lahan. Lalu berlutut dan duduk meyila didepan Air.

"kenapa denganmu, temanku?" tanya Api sopan. Api tampak senang melihat Air yang sedari tadi menghapus air matanya yang indah.

Air menggeleng lemah, sambil terus meyeka air matanya yang membendung dengan punggung tangannya. Api memasang senyum kecut. Ia tahu, sepertinya orang ini sedikit susah untuk dibujuk. Tapi, memangnya ada? Orang yang di tolong secara baik-baik, akan ditolak secara mentah-mentah?

"ayolah, ceritakan saja padaku.. aku janji tidak akan mentertawakanmu." Ucap Api sedikit menahan tawanya. Air menggembungkan pipinya kesal, sepintas tampak kemerahan di kedua pipi Air. Itu sukses membuat Api gemas melihat tingkah laku pemuda beriris biru laut ini, yang terlihat semakin imut.

"memangnya, bila aku menceritakan masalahku padamu, akan mendapat keuntungan? Jangan untung deh, bagaimana kalau solusi?" ucap Air sambil menatap Api penuh kekesalan. Api berhenti menahan tawa dan memandang polos Air.

"Entahlah." Ujarnya sambil menengklengkan kepalanya kekanan. "aku tak tau apa itu solusi."

Air menepuk jidatnya pelan. Dia menggeleng, apa dia masih didalam mimpi? Jika iya, 'bangunkalah aku!'.

"hei, kau sudah bangun… kenapa minta di bangunin?" kata Api berbisik. Air langsung kaget dan memundurkan posisi duduknya. Dia masih memandangi Api yang tampak biasa-biasa saja.

"dia… dia bisa membaca pikiran?" seru Air dalam hati. "kau.. bisa membaca pikiran?" tanya Air takut. Api menggeleng aneh. Itu membuat sebuah tanda tanya besar diwajah Air.

"lantas, kenapa kau berbisik seperti itu, padaku?" tanya Air sedikit mendekati Api. Api tetap memasang wajah polosnya. Dan berganti menengklengkan kepalanya ke kiri.

"Kau sendiri yang berbisik seperti itu. Tempat ini sunyi, kau berbisik pelan pun nenek-nenek juga bakal mendengarnya."

"…."

"dasar…"

Air menghembuskan nafas nya berat. Sementara, Api tersenyum lebar, karena berhasil menggoda Air. Air yang melihat senyuman hangat dari Api, langsung merona merah. Ia tak mengerti apa maksud senyuman indah dari Api. Tapi, dia tahu, kalau dirinya ikut-ikutan tersenyum.

"Apa kau pengendali air?" tanya Api antusias. Itu membuat Air tersentak pelan, dan sesegera mungkin, ia menyembunyikan senyumannya itu.

"tidak. Aku.. aku belum mengetahuinya." Ujar Air sedikit cemas.

"Hmm… kenapa ada buliran-buliran air, disekitarmu?" tanya Api sekali lagi. Air pun memandangi buliran air yang melingkarinya. "Aku…"

Tiba-tiba, getaran tanah seakan mengguncang mereka berdua. Mereka pun langsung berpelukan, karena getaran itu semakin menghebat.

"ap.. apa ini?" pekik Air ketakutan. Api bersiaga, menoleh kekanan dan kekiri. Tangannya yang besar, melindungi tubuh mungil milik Air.

Gempa yang terjadi tadi, langsung mereda. Membuat kedua pemuda tersebut sedikit lega dan melepaskan pelukan mereka. Air sedikit merona karena sadar, diriya meminta perlindungan kepada Api. Namun, Api segera berdiri, dan menyiapkan pedang pendeknya. Siapa tau, ada yang sedang mengincar mereka.

Hening. tak ada apapun yang menyerang mereka. Membuat Api sedikit kecewa. Ia pun berbalik dan menghadap Air sambil senyum sumringan. Sementara Air hanya berlutut ketakutan.

"Hehe.. sepertinya Gempa biasa. Tak perlu khawatir.." ujar Api cengengesan. Air hanya menggeleng-geleng melihat Api yang begitu cekatan terhadap serangan kecil. atau, guncangan kecil?

"jujur saja, itu bukanlah Gempa biasa…" ujar Seseorang dari balik pohon yang disenderi Air. Air segera berdiri dan berlindung dibelakang Api. Api sigap mengahdangka tangannya melindungi Air. "si.. siapa itu! Tunjukkan dirimu, jika kau punya nyali!"

"tentu aku punya." Ujar orang itu santai. Ia pun keluar dari balik pohon itu. Lalu tersenyum hangat kepada Air dan Api. "Hai Pangeran Air. Pangeran Api. apakah aku menggangu acara kalian berdua?"

Air langsung tersentak dan membelalakkan matanya tak percaya. Disusul oleh air matanya yang bening dan indah itu berjatuhan. Ia tak pernah melihat sosok ini secara dekat maupun langsung. Api hanya menatap heran Air. Sementara sosok yang dikagumi Air, hanya tersenyum hangat kepada mereka berdua.

"a.. anda kan…"

~0-0-0-0-0-0-0~

nah, ntu dia chap 4. Anni bakal bikin fanfic ini sampai tamat. tapi, sepertinya, kalau langsung tamat, ngak seru.. soalnya nanti akan ada pertarungan hebat antara Gempa, Air, Api, dan Fang. nah lo... Gempa lah yang jadi sasaran mereka semua. mengapa? nanti akan dibahas di chap yang selajutnya. oh iya... Anni sengaja, sehari bikin 2 chap sekaligus. tangan Anni gatel mau ngetik terus. hehehe... #dikejar (?)

so, buat ini, kayaknya akan terbit Part 2 (?) itu pun masih didiskusikan dengan otak (?) *abaikan. jadinya, yah.. begitu deh! kalau Anni kasih tau sekarang, nanti bukan rahasia lagi dong! jadi, masih pending yaa... gommenasaiii!

segitu aja dari Anni. thanks, yang dah mau Review, yang enggak juga ga papa (tapi nyesek tau! T^T) yang penting kalian baca Fic ini deh! apalagi terhibur. wah, senangnya, seperti dicium ama Gempa~~~ #bruaak! #dipukulin sekampung #yang dibicarain langsung kesandung angin, yang terakhir.. THX YA!.9

kata terakhirku..